SUAMIKU BERSENANG-SENANG DI BALI SAAT AYAH MERTUAKU SESAK NAPAS KARENA ALAT INI.

Maya menatap layar ponsel tua itu dengan tangan gemetar.

Nama Ardi muncul berulang kali di antara puluhan rekaman suara yang tersimpan di dalamnya.

Sebagian file sudah berusia lebih dari lima tahun.

Sebagian lainnya baru direkam beberapa minggu terakhir.

Maya membuka salah satu rekaman.

Awalnya hanya terdengar suara berisik, seperti gesekan kain dan bunyi napas seseorang. Kemudian terdengar suara Ardi.

“Dokter bilang kemungkinan Bapak sadar lagi sangat kecil, kan?”

Seorang laki-laki menjawab pelan.

“Secara medis, kesadarannya memang menurun. Tapi saya tidak bisa mengatakan tidak mungkin. Pasien stroke bisa menunjukkan perkembangan yang tidak terduga.”

“Kalau begitu obatnya tetap diberikan sesuai dosis lama?”

“Harus dievaluasi berkala. Jangan menambah atau mengurangi sendiri.”

Rekaman berhenti.

Maya mengerutkan kening.

Ia segera membuka rekaman lain.

Kali ini suara Ardi terdengar jauh lebih jelas.

“Bapak tidak perlu tahu semuanya. Yang penting tanda tangan ini selesai.”

Maya merasa tengkuknya dingin.

Terdengar suara seseorang berusaha mengeluarkan bunyi dari tenggorokan.

Lemah.

Terputus-putus.

Suara Pak Hendra.

Kemudian Ardi kembali berkata.

“Kalau Bapak terus keras kepala, rumah ini nanti malah jatuh ke tangan orang lain. Saya anak Bapak. Seharusnya semua memang milik saya.”

Maya membeku.

Ia menoleh kepada Pak Hendra.

Pria tua itu masih menatapnya dengan mata basah.

Selama ini semua orang menganggap Pak Hendra tidak memahami apa pun yang terjadi di sekelilingnya.

Padahal mungkin ia mendengar.

Mungkin ia sadar.

Mungkin selama bertahun-tahun ia terjebak di dalam tubuhnya sendiri.

Maya menggenggam tangan ayah mertuanya.

“Bapak menyimpan semua ini?”

Pak Hendra berkedip sekali.

Maya menahan air mata.

“Tapi bagaimana?”

Tatapan Pak Hendra bergeser ke arah meja kecil di samping tempat tidur.

Di sana tergeletak sebuah alat bantu komunikasi lama yang pernah dibeli Maya beberapa tahun lalu. Alat itu memiliki tombol besar dan bisa terhubung dengan perangkat lain melalui kabel.

Maya tiba-tiba teringat.

Dua tahun lalu, ia pernah mencoba mengajari Pak Hendra menggerakkan satu jari untuk menekan tombol sederhana.

Saat itu Ardi menertawakannya.

“Percuma. Bapak bahkan tidak tahu kita siapa.”

Maya akhirnya menyerah setelah berbulan-bulan tanpa hasil.

Namun mungkin Pak Hendra tidak pernah benar-benar menyerah.

Ia kembali membuka isi ponsel.

Di sebuah folder bernama DOKUMEN, terdapat foto beberapa surat.

Maya memperbesar layar.

Surat kuasa.

Pengalihan saham.

Perubahan penerima manfaat polis asuransi.

Dan sebuah rancangan surat wasiat.

Nama Ardi tercantum hampir di seluruh dokumen.

Tetapi ada sesuatu yang membuat Maya semakin terkejut.

Beberapa tanda tangan Pak Hendra tampak berbeda.

Tidak sama dengan tanda tangan yang Maya kenal dari dokumen lama keluarga.

Maya pernah bekerja sebagai fisioterapis di sebuah klinik besar sebelum berhenti bekerja. Selama menangani pasien pascastroke, ia cukup memahami satu hal.

Pak Hendra tidak mungkin menghasilkan tanda tangan serapi itu setelah stroke berat yang melumpuhkan tangan kanannya.

Maya merasakan mual.

“Ardi memalsukan tanda tangan Bapak?”

Pak Hendra berkedip sekali.

Maya menutup mata.

Seluruh potongan kejadian tiba-tiba tersusun.

Enam tahun lalu, Pak Hendra adalah pemilik perusahaan distribusi bahan bangunan yang cukup besar di Surabaya. Setelah stroke, pengelolaan perusahaan perlahan diambil alih Ardi.

Awalnya hanya untuk sementara.

Kemudian Ardi mulai menjual beberapa aset.

Ia selalu mengatakan hasilnya digunakan untuk biaya pengobatan.

Maya tidak pernah mempertanyakannya.

Ia terlalu sibuk merawat Pak Hendra.

Lalu setahun terakhir, Ardi mulai semakin sering membicarakan kondisi mental Maya.

Kini Maya mengerti alasannya.

Jika suatu hari Pak Hendra meninggal dan Maya mempertanyakan dokumen-dokumen tersebut, Ardi sudah mempersiapkan satu senjata.

Tidak ada yang akan percaya kepada Maya.

Ia akan dianggap stres.

Paranoid.

Bahkan mungkin tidak stabil secara mental.

Tiba-tiba Pak Hendra mengeluarkan suara serak.

“Hh…”

Maya langsung mendekat.

“Bapak mau mengatakan sesuatu?”

Mulut pria tua itu bergerak.

Sangat sulit.

Beberapa kali hanya udara yang keluar.

Maya menunggu dengan sabar.

Akhirnya satu kata terdengar.

“Ba…li.”

Maya menegang.

“Bali?”

Pak Hendra berkedip.

Maya membuka ponsel itu lagi.

Ada sebuah pesan teks lama yang belum pernah terkirim.

Kalimatnya pendek.

BALI BUKAN BISNIS. ALYA.

Dada Maya terasa seperti dihantam sesuatu.

“Alya kenapa?”

Tatapan Pak Hendra langsung berubah panik.

Maya segera mengambil ponselnya sendiri dan menelepon Ardi.

Tidak aktif.

Ia menelepon Alya.

Tidak ada jawaban.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Tetap tidak dijawab.

Maya mulai sulit bernapas.

Ia membuka aplikasi keluarga yang dulu pernah digunakan untuk berbagi lokasi. Sudah lama tidak aktif, tetapi akun Alya masih terhubung.

Lokasi terakhir muncul beberapa jam lalu.

Bukan Bandara Juanda.

Bukan Denpasar.

Melainkan sebuah kawasan perumahan di Sidoarjo.

Maya menatap layar tanpa berkedip.

Ardi bahkan mungkin tidak pergi ke Bali.

Ia langsung menghubungi satu-satunya orang yang masih benar-benar ia percaya, dr. Raka, dokter rehabilitasi yang pernah menangani Pak Hendra beberapa tahun lalu.

Maya menceritakan kondisi Pak Hendra dan diffuser tersebut.

“Jangan nyalakan lagi alat itu,” kata dr. Raka tegas. “Simpan cairannya. Jangan dibuang. Dan bawa Pak Hendra ke rumah sakit sekarang.”

“Apakah cairan itu bisa menyebabkan sesak?”

“Saya tidak bisa memastikan tanpa pemeriksaan. Tapi kalau gejala muncul setelah paparan, itu harus dianggap serius.”

Maya tidak menunggu lebih lama.

Ia memanggil ambulans.

Di rumah sakit, kondisi Pak Hendra perlahan stabil setelah mendapatkan oksigen dan penanganan medis.

Dokter menemukan iritasi berat pada saluran pernapasannya.

Sampel cairan diffuser dikirim ke laboratorium.

Sementara itu, Maya menyerahkan ponsel tua kepada seorang pengacara keluarga bernama Bima, teman lama Pak Hendra yang sudah bertahun-tahun tidak pernah datang ke rumah karena hubungannya dengan Ardi memburuk.

Ketika Bima melihat dokumen-dokumen tersebut, wajahnya langsung berubah.

“Ini bukan sekadar masalah keluarga.”

“Apa maksud Pak Bima?”

Bima membuka salah satu foto surat pengalihan saham.

“Saya membuat dokumen asli perusahaan Pak Hendra bertahun-tahun lalu. Struktur surat ini meniru dokumen lama, tetapi nomor aktanya tidak cocok.”

“Jadi palsu?”

“Kalau dugaan saya benar, iya.”

Maya menelan ludah.

“Lalu kenapa Ardi membawa Alya?”

Bima terdiam beberapa saat.

Kemudian ia membuka satu file lain.

Sebuah foto akta yang tampaknya diambil diam-diam.

Di bagian bawah dokumen, tercantum nama Alya sebagai calon penerima kepemilikan salah satu aset keluarga apabila Pak Hendra meninggal.

Bukan Ardi.

Alya.

Bima menatap Maya.

“Pak Hendra ternyata pernah membuat pengaturan khusus. Beberapa aset tidak bisa langsung diwariskan kepada Ardi. Aset itu dialihkan ke cucunya.”

Maya merasakan darahnya dingin.

“Itu berarti…”

“Kalau Ardi ingin menguasai semuanya, ia membutuhkan persetujuan Alya setelah mencapai usia tertentu. Atau ia harus mendapatkan dokumen yang ditandatangani atas nama wali.”

Alya masih 16 tahun.

Maya langsung berdiri.

“Kita harus menemukan anak saya.”

Bima menghubungi kenalannya di kepolisian.

Karena ada indikasi pemalsuan dokumen, dugaan ancaman terhadap pasien rentan, serta seorang anak yang lokasinya tidak sesuai dengan keterangan orang tuanya, mereka menyarankan Maya segera membuat laporan resmi.

Kurang dari dua jam kemudian, lokasi terakhir Alya berhasil ditelusuri.

Sebuah rumah sewaan di pinggiran Sidoarjo.

Maya ikut dalam mobil Bima menuju lokasi, sementara Pak Hendra tetap berada di rumah sakit dengan penjagaan perawat.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi kemungkinan terburuk.

Namun ketika mobil berhenti di depan rumah tersebut, Maya melihat sesuatu yang tidak pernah ia duga.

Alya keluar dari pintu.

Gadis itu tidak tampak disekap.

Ia membawa ransel.

Di belakangnya muncul Ardi.

Dan seorang perempuan yang tidak dikenal Maya.

Ardi langsung membeku ketika melihat istrinya.

“Maya?”

Maya turun dari mobil.

Tatapannya langsung tertuju kepada Alya.

“Kamu baik-baik saja?”

Alya tampak bingung.

“Ibu ngapain di sini?”

“Kamu bilang pergi ke Bali.”

Alya menoleh kepada ayahnya.

“Papa bilang penerbangan ditunda.”

Ardi segera memotong.

“Jangan bikin keributan di depan anak.”

Maya menatap perempuan di samping Ardi.

“Siapa dia?”

Ardi diam.

Perempuan itu terlihat gugup.

Akhirnya Alya menjawab.

“Namanya Tante Karin. Katanya pengacara Papa.”

Bima yang berdiri beberapa langkah di belakang Maya langsung tertawa pendek.

“Pengacara?”

Wajah Karin berubah pucat.

Bima mengenalinya.

“Karin bukan pengacara. Dia staf administrasi kantor notaris yang pernah menangani dokumen perusahaan Pak Hendra.”

Ardi langsung berkata keras.

“Ini bukan urusanmu, Bima.”

“Kalau ada pemalsuan akta, ini justru sangat menjadi urusan hukum.”

Alya menatap ayahnya.

“Pemalsuan apa?”

Ardi menarik napas panjang.

Lalu menatap Maya.

Dalam beberapa detik, sikapnya berubah.

Ia tersenyum tipis.

Senyum yang sangat dikenal Maya.

Senyum yang selalu muncul saat Ardi ingin terlihat paling tenang di antara semua orang.

“Maya sedang kambuh lagi.”

Maya tidak bergerak.

Ardi menoleh kepada Alya.

“Kamu tahu sendiri beberapa bulan terakhir Ibu sering curiga berlebihan.”

Alya tampak ragu.

Dan itulah saat Maya benar-benar memahami betapa matang rencana suaminya.

Bahkan sekarang, ketika semua bukti hampir terbuka, Ardi masih menggunakan cerita yang telah ia bangun berbulan-bulan.

Ardi mendekati putrinya.

“Papa cuma sedang mengurus beberapa dokumen keluarga. Ibu salah paham.”

Maya mengeluarkan ponselnya.

Lalu memutar salah satu rekaman suara dari ponsel tua Pak Hendra yang sudah disalin Bima.

Suara Ardi terdengar jelas.

“Kalau Maya sampai curiga, biarkan saja. Semua orang sudah tahu dia tidak stabil. Nanti kalau Bapak meninggal, kita bilang dia lupa mematikan alat. Selesai.”

Wajah Ardi langsung kehilangan warna.

Alya membeku.

Maya memutar rekaman berikutnya.

Suara Karin terdengar kali ini.

“Kalau cairannya terlalu banyak, bisa berbahaya.”

Ardi menjawab.

“Justru itu maksudnya. Tapi jangan sampai cepat. Saya perlu waktu membawa Alya keluar dulu.”

Karin mulai menangis.

“Itu bukan kesepakatan kita. Saya cuma membantu dokumen.”

“Sudah terlambat mundur.”

Alya mundur dua langkah dari ayahnya.

“Papa…”

Ardi menatap putrinya.

“Alya, dengarkan Papa.”

“Tidak.”

Suara Alya bergetar.

“Papa mau bikin Kakek meninggal?”

Ardi mulai panik.

“Papa tidak pernah bilang begitu.”

“Suara itu suara Papa!”

Beberapa petugas yang sebelumnya menunggu di mobil mendekat.

Ardi melihat mereka dan menyadari tidak ada lagi ruang untuk mengendalikan situasi.

Ia tiba-tiba meraih lengan Alya.

Maya refleks maju.

“Lepaskan dia!”

Alya menjerit.

Ardi mencoba menariknya masuk ke rumah, tetapi Bima dan salah satu petugas segera menahan Ardi.

Dalam hitungan detik, situasi berubah kacau.

Ardi berteriak bahwa semua itu adalah fitnah.

Karin menangis sambil mengatakan dirinya tidak tahu cairan apa yang digunakan Ardi.

Alya berdiri gemetar di pelukan Maya.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, gadis itu memeluk ibunya erat.

“Ibu… maaf.”

Maya tidak menjawab.

Ia hanya memeluk putrinya lebih erat.

Beberapa hari berikutnya, hasil pemeriksaan memperkuat dugaan yang paling ditakuti Maya.

Cairan di dalam diffuser mengandung campuran bahan yang dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan berat jika terhirup dalam konsentrasi tinggi, terutama pada seseorang dengan kondisi lemah seperti Pak Hendra.

Polisi kemudian menemukan botol lain dengan kandungan serupa di mobil Ardi.

Penyelidikan terhadap dokumen perusahaan juga membuka masalah yang lebih besar.

Selama bertahun-tahun, Ardi ternyata mengalihkan aset ayahnya menggunakan surat-surat yang dimanipulasi.

Sebagian uang dipakai untuk menutup utang bisnis.

Sebagian lagi disimpan di beberapa rekening.

Perjalanan ke Bali hanyalah cerita palsu.

Ardi sebenarnya membawa Alya ke Sidoarjo untuk menandatangani beberapa dokumen dengan alasan mengurus program pendidikan dan rekening masa depan.

Karin diminta membantu menyiapkan berkas.

Dan jika Pak Hendra meninggal ketika Maya sendirian di rumah, Ardi berencana menjadikan Maya sebagai pihak yang disalahkan.

Istri kelelahan.

Lupa mematikan alat.

Mengalami gangguan emosional.

Sebuah kecelakaan tragis.

Cerita itu hampir sempurna.

Hanya ada satu hal yang tidak pernah diperhitungkan Ardi.

Ayahnya masih mendengar semuanya.

Tiga minggu setelah kejadian itu, Maya duduk di samping Pak Hendra di ruang rehabilitasi rumah sakit.

Kemampuan bicara pria tua itu masih sangat terbatas, tetapi kesadarannya semakin membaik.

Dengan bantuan terapis, ia mulai mampu menggerakkan dua jari tangan kirinya.

Maya meletakkan papan huruf di depannya.

“Bapak mau mengatakan sesuatu?”

Dengan susah payah, Pak Hendra menunjuk huruf demi huruf.

Maya membacanya perlahan.

M.

A.

A.

F.

Air mata Maya langsung memenuhi matanya.

“Jangan minta maaf.”

Pak Hendra kembali menggerakkan jarinya.

Ia menyusun kata lain.

E.

N.

A.

M.

T.

A.

H.

U.

N.

Maya menggigit bibirnya.

Enam tahun.

Pak Hendra menatapnya lama.

Kemudian menunjuk huruf lagi.

K.

A.

M.

U.

A.

N.

A.

K.

K.

U.

Maya tidak sanggup menahan tangis.

Selama enam tahun, ia merasa menjadi orang yang tidak pernah dianggap.

Tidak dipuji.

Tidak dipercaya.

Bahkan perlahan-lahan disingkirkan dari keluarganya sendiri.

Namun pria yang selama ini dianggap tidak sadar ternyata mengetahui semuanya.

Setiap malam ketika Maya mengganti selimutnya.

Setiap kali Maya membersihkan tubuhnya.

Setiap kali Maya duduk kelelahan di sisi ranjang sambil berkata pelan, “Bapak harus kuat.”

Ia mendengar.

Ia mengingat.

Dan diam-diam, dengan kemampuan tubuh yang tersisa, Pak Hendra berusaha mengumpulkan bukti.

Ponsel tua itu ternyata adalah miliknya sendiri.

Sebelum stroke, ia biasa menggunakannya sebagai perangkat cadangan.

Beberapa tahun setelah kondisinya sedikit membaik, ia berhasil mengaktifkan fungsi rekaman dengan bantuan tombol eksternal yang tersambung ke alat komunikasi di samping ranjang.

Ia tidak bisa berbicara.

Tidak bisa berteriak.

Tidak bisa menghentikan anaknya.

Jadi ia melakukan satu-satunya hal yang masih mampu ia lakukan.

Merekam.

Menunggu.

Dan berharap suatu hari Maya menemukan ponsel itu.

Beberapa bulan kemudian, kasus Ardi mulai memasuki proses pengadilan.

Hubungan Maya dan Alya perlahan pulih.

Suatu malam, Alya duduk di ujung tempat tidur ibunya.

“Aku pernah benar-benar berpikir Ibu sudah tidak waras.”

Maya terdiam.

Alya menundukkan kepala.

“Papa terus bilang begitu.”

Maya menggenggam tangan putrinya.

“Kamu masih muda. Dia ayahmu. Wajar kalau kamu percaya.”

“Tapi Ibu pasti sakit hati.”

“Tentu.”

Alya mengangkat wajahnya.

“Kenapa Ibu tidak marah sama aku?”

Maya tersenyum tipis.

“Karena marah tidak akan mengembalikan waktu yang hilang.”

Alya menangis.

Maya memeluknya.

Hari itu ia akhirnya memahami sesuatu.

Kebohongan yang paling berbahaya bukanlah kebohongan yang terdengar mustahil.

Melainkan kebohongan yang diulang sedikit demi sedikit sampai orang-orang mulai menerimanya sebagai kebenaran.

Ardi hampir berhasil menghancurkan keluarganya bukan dengan teriakan, bukan dengan kekerasan terbuka, melainkan dengan keraguan.

Ia membuat seorang anak meragukan ibunya.

Ia membuat keluarga besar meragukan seorang perempuan yang telah berkorban enam tahun.

Dan ia mengira seorang pria tua yang tidak mampu berbicara tidak akan pernah bisa menjadi saksi.

Namun justru dari kamar sunyi itulah seluruh rencananya runtuh.

Beberapa waktu kemudian, saat Pak Hendra akhirnya diizinkan pulang, Maya mengganti seluruh isi kamarnya.

Kasur lama dibuang.

Diffuser itu sudah lama menjadi barang bukti.

Namun ponsel tua berlayar retak itu tidak pernah dibuang.

Maya menyimpannya di dalam sebuah kotak kecil di lemari.

Bukan karena ingin mengingat kejahatan Ardi.

Melainkan karena benda itu menjadi pengingat bahwa seseorang yang tampak tidak berdaya belum tentu tidak melihat.

Seseorang yang tidak mampu berbicara belum tentu tidak memiliki suara.

Dan terkadang, kebenaran tidak datang dengan suara keras.

Ia hanya menunggu diam-diam di tempat yang tidak pernah terpikirkan siapa pun.

Seperti sebuah ponsel tua yang tersembunyi di dalam kasur.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang