“Kalau dia benar-benar marah besar?”
Bu Renata tertawa pelan.
“Itu justru yang kita butuhkan.”
Aku berdiri di balik dinding dengan telapak tangan sedingin es.
Untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun pernikahanku, aku mengerti bahwa perselingkuhan Adrian bukan satu-satunya pengkhianatan yang harus kuhadapi.
Mereka tidak hanya ingin menyingkirkanku.
Mereka ingin menghancurkan reputasiku lebih dulu.
“Kalau Selina ngamuk di depan keluarga, kita punya saksi,” lanjut Bu Renata. “Kita bilang selama ini dia memang emosional. Tidak stabil. Posesif. Kalau nanti urusan cerai masuk pengadilan, setidaknya orang-orang sudah punya gambaran.”
Adrian terdiam sejenak.
“Masalah saham bagaimana?”
“Nah, itu yang penting.”
Suara Bu Renata berubah semakin pelan.
Aku harus menahan napas agar bisa mendengar.
“Kalau dia keluar karena merasa dipermalukan, lebih mudah membujuk dia melepas saham. Apalagi kalau Miranda sudah masuk keluarga.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Jadi bukan hanya soal perempuan lain.
Bukan hanya soal cinta yang sudah mati.
Mereka sedang merencanakan cara mengambil bagian perusahaan yang selama ini masih menjadi milikku.
Adrian mengembuskan napas.
“Selina bukan orang bodoh, Ma.”
“Semua perempuan jadi bodoh kalau hatinya terluka.”
Kalimat itu menancap di kepalaku.
Mungkin Bu Renata benar tentang satu hal.
Hati yang terluka bisa membuat seseorang kehilangan kendali.
Namun ia salah memilih perempuan.
Malam itu aku kembali ke kamar tanpa membuat suara sedikit pun.
Adrian masuk sekitar dua puluh menit kemudian.
Ia berbaring di sebelahku seperti biasa.
“Belum tidur?”
“Belum.”
Ia memunggungiku.
Aku memandang bagian belakang kepalanya sambil berpikir betapa anehnya hidup.
Tiga belas tahun lalu, lelaki yang sama pernah menggenggam tanganku di ruang tunggu rumah sakit ketika ibuku menjalani operasi.
Ia pernah menangis di bahuku saat cabang pertama bisnisnya hampir bangkrut.
Ia pernah berkata, “Kalau suatu hari aku berhasil, semua ini milik kita.”
Ternyata yang paling mudah dilupakan manusia bukan utang uang.
Melainkan utang budi.
Keesokan harinya aku menelepon seseorang yang selama bertahun-tahun mengurus dokumen legal perusahaan.
Namanya Pak Dimas.
Ia seorang pengacara bisnis yang sudah mengenal keluargaku bahkan sebelum aku menikah.
Aku tidak bercerita panjang melalui telepon.
Aku hanya berkata, “Saya butuh tahu persis posisi saham saya dan apa yang bisa dilakukan seseorang untuk merebutnya tanpa persetujuan saya.”
Pak Dimas diam beberapa detik.
“Datang ke kantor saya.”
Siang itu aku membawa semua dokumen yang kusimpan.
Akta pendirian.
Perjanjian pemegang saham.
Bukti transfer modal awal.
Dokumen perubahan struktur perusahaan.
Serta beberapa salinan berkas yang bahkan Adrian mengira sudah hilang.
Pak Dimas membaca semuanya hampir dua jam.
Kemudian ia melepas kacamatanya.
“Bu Selina, Anda tahu berapa bagian yang secara hukum masih menjadi milik Anda?”
“Hampir empat puluh persen.”
“Bukan hampir.”
Ia menunjuk dokumen di hadapannya.
“Tiga puluh sembilan koma delapan persen. Dan ada satu klausul yang sangat menguntungkan Anda.”
Aku mendekat.
“Klausul apa?”
“Setiap perubahan kepemilikan saham strategis yang terkait dengan perceraian atau pemisahan aset harus melalui persetujuan tertulis kedua pihak. Tidak bisa dipindahkan hanya karena tekanan keluarga.”
Aku terdiam.
“Kalau mereka mencoba memalsukan persetujuanku?”
Pak Dimas menatapku.
“Kalau Anda curiga ke arah sana, kita harus berhenti melihat ini sebagai sekadar perselingkuhan.”
Aku menceritakan percakapan yang kudengar.
Ekspresinya berubah.
Sejak hari itu, aku berhenti menjadi istri yang menunggu kebohongan berikutnya.
Aku mulai menjadi pemegang saham yang sedang mengamankan asetnya sendiri.
Kami menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk.
Selama hampir delapan bulan, ada beberapa transaksi internal yang mencurigakan.
Dana perusahaan dipindahkan ke vendor pemasaran yang baru dibentuk.
Nilainya tidak terlalu besar jika dilihat satu per satu.
Namun jumlah keseluruhannya hampir empat miliar rupiah.
Direktur vendor itu adalah kakak sepupu Miranda.
Pak Dimas menunjuk layar laptop.
“Kalau ini benar seperti yang terlihat, hubungan Adrian dan Miranda mungkin juga terhubung dengan transaksi perusahaan.”
Aku menatap deretan angka itu.
Aneh.
Sakit karena dikhianati suami terasa seperti luka panas.
Namun saat melihat uang perusahaan dialirkan diam-diam, emosiku justru menjadi dingin.
Aku ikut membangun perusahaan itu.
Aku menjual tanah ayahku untuk menyelamatkannya.
Aku menghabiskan masa muda menyusun proposal, menemui calon klien, bahkan duduk di gudang sampai dini hari ketika perusahaan baru punya tujuh karyawan.
Dan sekarang Adrian menganggapnya milik pribadi.
“Jangan lakukan apa-apa dulu,” kata Pak Dimas.
“Kenapa?”
“Karena kalau mereka memang sedang menyiapkan sesuatu, biarkan mereka merasa rencana mereka berjalan.”
Kalimat itu membuatku teringat ucapan Bu Renata.
Kita buat dia memergoki kalian.
Baiklah.
Kalau mereka ingin aku memergoki Adrian, aku akan memberi mereka panggung.
Dua minggu kemudian Adrian sendiri yang memberiku kesempatan.
Ia meninggalkan laptop terbuka di ruang kerja.
Sebuah pesan masuk.
Miranda.
Hari Jumat seperti biasa? Hotel Aruna, jam delapan?
Adrian membalas hanya dengan satu kata.
Ya.
Aku menutup laptop tanpa menyentuh apa pun.
Kemudian aku menghubungi Pak Dimas.
Hotel Aruna kebetulan adalah salah satu hotel milik perusahaan rekan bisnis ayahku dulu.
Aku mengenal manajernya, Pak Hendro.
Namun kami tidak melakukan tindakan sembarangan.
Pak Dimas mengatur semuanya secara legal.
Kami menyewa ruang yang berdekatan, meminta persetujuan resmi pihak hotel untuk dokumentasi di area tertentu yang secara hukum memungkinkan, dan melibatkan pihak keamanan serta investigator profesional untuk memastikan tidak ada pelanggaran privasi ilegal.
Yang paling menarik adalah satu hal.
Aku memesan kamar yang biasa digunakan Adrian dan Miranda.
Nomor 1708.
Mereka tidak mengetahuinya karena pemesanan dibuat melalui perusahaan perantara.
Ketika Adrian meminta kamar itu melalui staf langganannya, ia hanya diberi tahu kamar tersedia seperti biasa.
Jumat malam tiba.

Pukul tujuh lewat tiga puluh, aku sudah berada di kamar 1706 bersama Pak Dimas dan dua orang investigator.
Aku memakai blouse putih sederhana dan celana hitam.
Tidak ada riasan berlebihan.
Tidak ada air mata.
Aku bahkan merasa terlalu tenang.
Pukul tujuh lima puluh dua, Miranda tiba.
Kami melihat catatan akses dari sistem hotel yang resmi disediakan untuk kepentingan dokumentasi.
Pukul delapan lewat tiga menit, Adrian masuk.
Dua puluh menit kemudian ponselku berdering.
Bu Renata.
Aku menatap layar beberapa detik sebelum menjawab.
“Halo, Bu.”
“Selina, kamu di mana?”
“Di luar.”
“Cepat datang ke Hotel Aruna.”
Aku hampir tersenyum.
“Kenapa?”
Suara Bu Renata terdengar dibuat-buat panik.
“Ada sesuatu tentang Adrian. Ibu tidak tahu harus bilang bagaimana.”
Tentu saja.
Mereka bahkan sudah menyiapkan dramanya.
“Aku ke sana.”
Sebelum menutup telepon, aku mendengar suara orang lain di belakangnya.
Mereka sudah berkumpul.
Kakak Adrian.
Dua bibinya.
Sepupu-sepupunya.
Bahkan pamannya yang tinggal di Bogor ternyata datang.
Bu Renata benar-benar mengundang keluarga besar untuk menyaksikan kehancuranku.
Aku menatap Pak Dimas.
“Mereka datang.”
Ia mengangguk.
“Sekarang Anda hanya perlu melakukan satu hal.”
“Apa?”
“Jangan menjadi Selina yang mereka harapkan.”
Sekitar pukul delapan empat puluh lima, aku turun ke lobi.
Bu Renata sudah berdiri di sana bersama hampir sepuluh anggota keluarga.
Begitu melihatku, ia langsung berjalan mendekat.
Wajahnya dibuat penuh belas kasihan.
“Selina…”
“Ada apa, Bu?”
Ia memegang lenganku.
“Ibu sebenarnya tidak tega.”
Aku hampir kagum melihat kemampuan aktingnya.
“Tidak tega apa?”
Kakak Adrian, Riko, menyela.
“Kami melihat Adrian naik bersama seorang perempuan.”
Semua mata memandangku.
Mereka menunggu.
Mungkin berharap aku menjerit.
Menangis.
Berlari ke lift.
Namun aku hanya berkata, “Kamar berapa?”
Bu Renata menjawab pelan.
“1708.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Kami naik bersama.
Di dalam lift, tidak ada yang bicara.
Aku bisa merasakan tatapan mereka.
Bu Renata berkali-kali memperhatikanku melalui pantulan dinding lift.
Mungkin ia mulai bingung karena aku terlalu tenang.
Begitu sampai di lantai tujuh belas, ia berjalan paling depan.
Di depan kamar 1708, ia berhenti.
“Selina, kalau kamu tidak kuat…”
Aku langsung mengetuk pintu.
Tiga kali.
Tidak lama kemudian, Adrian membukanya.
Ia hanya memakai kaus tipis dan celana panjang.
Wajahnya berubah saat melihatku.
Lalu ia melihat keluarganya di belakangku.
Ekspresi terkejutnya terlalu sempurna.
“Selina?”
Aku melirik ke dalam.
Miranda berdiri dekat tempat tidur dengan dress hitam.
Ia langsung menutup mulutnya.
“Ya Tuhan.”
Bu Renata berbisik keras.
“Adrian, apa yang kamu lakukan?”
Aku hampir ingin bertepuk tangan.
Drama keluarga Mahendra resmi dimulai.
Miranda mulai menangis.
“Bu Selina, saya bisa jelaskan.”
Aku masuk ke kamar.
Adrian berdiri di depannya, persis seperti yang sudah kuramalkan.
“Jangan salahkan Miranda.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Ini salahku.”
“Baik.”
Jawabanku membuatnya bingung.
Bu Renata maju selangkah.
“Selina, kamu boleh marah. Siapa pun akan marah melihat suaminya seperti ini.”
Aku menoleh kepadanya.
“Jadi Ibu ingin aku marah?”
Wajahnya berubah sedikit.
“Bukan begitu maksud Ibu.”
Adrian mulai bicara.
“Selina, hubungan kita memang sudah lama tidak baik.”
Aku mengangguk.
“Lanjutkan.”
Ia seperti kehilangan naskah.
“Aku… aku mencintai Miranda.”
Miranda terisak.
Beberapa anggota keluarga berbisik.
Aku lalu bertanya,
“Sejak kapan?”
“Sekitar satu tahun.”
“Transaksi ke PT Mira Kreasi juga sejak sekitar satu tahun?”
Wajah Adrian langsung pucat.
Tangisan Miranda berhenti.
Bu Renata menatapku.
“Apa maksudmu?”
Aku mengeluarkan sebuah map tipis dari tas.
Lalu meletakkannya di meja.
“Aku tidak datang ke sini untuk memergoki perselingkuhan.”
Adrian menatap map itu seperti sedang melihat bom.
“Aku sudah tahu enam bulan.”
Tidak ada yang bergerak.
Aku melanjutkan.
“Aku datang karena selama delapan bulan terakhir hampir empat miliar rupiah uang perusahaan dialihkan ke vendor yang terafiliasi dengan keluarga Miranda.”
Miranda langsung berkata, “Itu tidak benar.”
“Benar.”
Suara Pak Dimas terdengar dari pintu.
Semua orang menoleh.
Ia masuk bersama dua investigator dan manajer hotel.
Adrian berdiri kaku.
“Apa-apaan ini?”
Pak Dimas meletakkan beberapa salinan dokumen di meja.
“Dokumentasi transaksi, struktur kepemilikan vendor, bukti komunikasi internal, dan beberapa permintaan pembayaran yang disetujui langsung oleh Anda.”
Bu Renata mulai panik.
“Ini urusan keluarga. Kenapa pengacara ikut campur?”
Aku menatapnya.
“Karena Ibu membuat kesalahan.”
Ia mengerutkan kening.
“Kesalahan apa?”
“Ibu mengira ini urusan keluarga.”
Ruangan menjadi hening.
Aku lalu memandang Adrian.
“Padahal ini sudah menjadi urusan perusahaan.”
Adrian mengambil map itu dengan tangan gemetar.
Ia membalik beberapa halaman.
Kemudian ia menatapku.
“Kamu menjebak aku.”
Aku tersenyum tipis.
“Tidak.”
Aku menunjuk pintu kamar.
“Kamu datang sendiri.”
Lalu aku menunjuk Miranda.
“Kamu memilih sendiri siapa yang dibawa.”
Kemudian aku menunjuk dokumen di meja.
“Dan transaksi ini kamu tandatangani sendiri.”
Bu Renata berkata keras, “Selina, jangan sok suci. Kamu sengaja membuat semua ini untuk mempermalukan Adrian.”
Aku menatap seluruh anggota keluarga yang berdiri di belakangnya.
“Bukankah Ibu yang mengundang mereka?”
Wajahnya langsung kehilangan warna.
Beberapa orang mulai saling pandang.
Aku melanjutkan.
“Saya rasa sekarang mereka memang perlu mendengar semuanya.”
Riko mengerutkan kening.
“Maksudmu apa?”
Aku menatap Bu Renata.
“Ibu mau cerita sendiri atau aku?”
“Selina.”
Suaranya terdengar seperti ancaman.
Aku membuka rekaman suara dari ponselku.
Percakapan yang kudengar dua minggu sebelumnya memang tidak kurekam malam itu.
Namun setelah curiga, Pak Dimas membantu memasang sistem keamanan resmi di ruang kerja rumah yang terdaftar atas kepemilikanku, karena ada indikasi penyalahgunaan dokumen perusahaan.
Dan ternyata Bu Renata serta Adrian mengulang pembicaraan mereka beberapa hari kemudian.
Suara Bu Renata terdengar jelas.
Biarkan Selina memergoki kalian.
Kalau dia mengamuk, kita punya saksi.
Kalau dia tertekan, lebih mudah suruh dia melepas saham.
Tak seorang pun bergerak.
Adrian menutup mata.
Salah satu bibinya berbisik, “Astaga.”
Bu Renata maju ke arahku.
“Kamu merekam kami?”
“Aku mengamankan rumah dan asetku.”
“Kamu licik.”
Aku mengangguk kecil.
“Mungkin.”
Kemudian aku mendekat kepadanya.
“Tapi setidaknya aku tidak pernah merencanakan menghancurkan menantuku sendiri demi saham perusahaan.”
Wajah Bu Renata merah.
Ia menoleh ke keluarga.
“Jangan percaya semuanya. Selina memang selalu ingin menguasai Adrian.”
Tiba-tiba Riko tertawa pendek.
Semua orang menoleh kepadanya.
“Ma, cukup.”
Bu Renata membeku.
Riko berjalan masuk ke kamar.
“Selina menunjukkan beberapa transaksi ini kepadaku tiga hari lalu.”
Aku menatapnya.
Inilah bagian yang bahkan Adrian tidak tahu.
Riko memang kakak Adrian.
Namun selama bertahun-tahun ia juga menjadi komisaris pasif perusahaan.
Ia tidak pernah dekat denganku.
Tapi ia lebih membenci satu hal dibanding siapa pun.
Pencurian uang perusahaan.
Riko menatap Adrian.
“Besok pagi akan ada rapat luar biasa pemegang saham.”
Adrian tertawa gugup.
“Kamu bercanda.”
“Tidak.”
“Perusahaan itu punyaku.”
Riko menggeleng.
“Tidak pernah sepenuhnya.”
Aku mengambil satu dokumen terakhir.
“Dan mulai malam ini, hak aksesmu terhadap rekening operasional utama sudah dibekukan sementara sesuai mekanisme internal.”
Adrian menatapku seolah baru pertama kali melihatku.
“Apa yang kamu lakukan?”
Aku menatap lelaki yang pernah menjadi pusat hidupku selama tiga belas tahun.
“Aku berhenti menyelamatkanmu.”
Kalimat itu ternyata jauh lebih melegakan daripada yang kubayangkan.
Miranda mulai menangis lagi.
“Adrian, kamu bilang semua saham nanti akan jadi milikmu.”
Ruangan kembali sunyi.
Adrian menoleh cepat.
“Miranda, diam.”
Namun sudah terlambat.
Aku menatapnya.
“Semua saham?”
Miranda menyadari kesalahannya.
Bu Renata memejamkan mata.
Pak Dimas hanya mencatat sesuatu.
Dan saat itulah aku memahami gambaran terakhirnya.
Miranda bukan sekadar selingkuhan.
Ia sudah dijanjikan masa depan menggunakan sesuatu yang bahkan bukan milik Adrian.
Tiga bulan kemudian, Adrian resmi diberhentikan dari posisi direktur utama setelah audit internal menemukan pelanggaran tata kelola dan konflik kepentingan serius.
Kasus transaksi vendor masuk ke proses hukum terpisah.
Miranda mengundurkan diri sebelum investigasi selesai, tetapi namanya tetap tercantum dalam pemeriksaan terkait aliran dana.
Bu Renata menjual salah satu rumah keluarga untuk membantu Adrian menghadapi biaya hukum.
Ironisnya, rumah itu dulu juga direnovasi menggunakan uangku.
Perceraian kami selesai tujuh bulan kemudian.
Adrian tidak mendapatkan sahamku.
Aku pun tidak meminta bagian yang bukan hakku.
Aku hanya mempertahankan apa yang memang kubangun.
Pada rapat pemegang saham terakhir tahun itu, aku duduk di kursi yang selama bertahun-tahun selalu berada di ujung meja.
Riko tiba-tiba menghentikan rapat sebelum dimulai.
Ia menatap sekretaris perusahaan.
“Nama Bu Selina di struktur pendiri kenapa masih cuma tercantum sebagai investor awal?”
Ruangan terdiam.
Sekretaris itu terlihat gugup.
Riko melanjutkan.
“Ubah.”
Aku menatapnya.
“Menjadi apa?”
Ia mendorong satu dokumen ke arahku.
Di sana tertulis daftar pendiri perusahaan berdasarkan rekam kontribusi awal.
Nama Adrian ada di urutan pertama.
Namaku tepat di bawahnya.
Co-founder.
Aku membaca kata itu lama sekali.
Aneh sekali.
Setelah kehilangan suami, kehilangan keluarga yang selama ini kuanggap keluarga sendiri, dan hampir kehilangan kepercayaan kepada manusia, justru sebuah kata sederhana membuat mataku panas.
Bukan karena jabatan.
Bukan karena gengsi.
Tapi karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sesuatu yang pernah dihapus akhirnya dikembalikan ke tempatnya.
Beberapa bulan setelah itu, aku bertemu Bu Renata untuk terakhir kalinya di lobi sebuah gedung pengadilan.
Ia terlihat jauh lebih tua.
Ia menatapku dan berkata,
“Kalau malam itu kamu mengamuk seperti perempuan biasa, mungkin semuanya tidak akan sejauh ini.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Benar, Bu.”
Ia mengangkat dagu.
Aku melanjutkan,
“Karena itu Ibu seharusnya tidak pernah mengajarkan saya selama tiga belas tahun untuk selalu diam.”
Wajahnya berubah.
Aku berjalan pergi sebelum ia sempat menjawab.
Selama bertahun-tahun, mereka mengira diamku adalah kelemahan.
Mereka tidak tahu bahwa diam juga bisa menjadi cara seseorang mengamati.
Mengingat.
Mengumpulkan bukti.
Dan menunggu waktu yang tepat.
Aku memang tidak berteriak malam itu.
Aku tidak melempar gelas.
Aku tidak menarik rambut Miranda.
Aku bahkan tidak menampar Adrian.
Aku hanya membuka sebuah map.
Dan ternyata, bagi orang-orang yang hidup dari kebohongan, beberapa lembar kertas jauh lebih menakutkan daripada kemarahan seorang istri.
