PRIA KAYA INI TAK PERNAH TERSENYUM SELAMA 20 TAHUN. NAMUN SAAT TERBANGUN DAN MELIHAT PEMBANTUNYA TERTIDUR SAMBIL MEMELUK ANAKNYA, WAJAHNYA TIBA-TIBA BERUBAH!

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Rendra tidak menundukkan kepala ketika ibunya meninggikan suara.

Tatapannya tertuju lurus kepada Ratna.

Dingin.

Namun bukan dingin seperti biasanya.

Ada sesuatu yang baru di sana.

Kecurigaan.

“Ibu,” katanya pelan.

Ratna yang masih menggenggam ponsel menoleh tajam.

“Apa?”

“Batalkan panggilan keamanan.”

Ratna terdiam sejenak, seolah tidak yakin dengan apa yang baru didengarnya.

“Rendra, perempuan ini membawa anaknya masuk ke rumah kita tanpa izin.”

“Batalkan.”

Suara Rendra masih lemah karena demam, tetapi nada perintahnya membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Dewi berdiri di dekat kursi sambil memeluk Bagas yang baru terbangun dan mulai merengek pelan.

Ratna menatap anaknya dengan tidak percaya.

“Kamu membelanya?”

Rendra mengalihkan pandangan ke meja samping tempat tidur.

Termometer.

Obat.

Kain kompres.

Gelas air yang tinggal setengah.

Kemudian ia menatap Dewi.

“Semalaman dia yang menjaga saya.”

Ratna terkekeh sinis.

“Itu pekerjaannya.”

“Bukan.”

Rendra menatap ibunya kembali.

“Pekerjaannya membersihkan rumah.”

Ratna membuka mulut, tetapi Rendra belum selesai.

“Dia bisa pulang. Dia bisa membiarkan saya sendiri seperti yang saya minta. Tapi dia tetap tinggal.”

Dewi menunduk.

Ia tidak membutuhkan pembelaan.

Ia hanya ingin segera membawa Bagas keluar dari suasana yang semakin tidak nyaman.

“Saya minta maaf karena membawa Bagas tanpa izin,” katanya. “Saya memang salah. Tempat penitipannya ditutup mendadak. Saya tidak punya siapa-siapa.”

Ratna menatapnya seolah baru saja mendapat kesempatan menyerang.

“Kalau tidak punya siapa-siapa, itu bukan urusan keluarga kami.”

Kalimat itu membuat Dewi terdiam.

Namun beberapa detik kemudian terdengar suara pelan dari tempat tidur.

“Cukup.”

Ratna menoleh.

Rendra mengepalkan tangannya di atas selimut.

“Ibu keluar.”

Wajah Ratna berubah.

“Apa?”

“Ibu keluar dari kamar saya.”

Selama bertahun-tahun, semua keputusan Rendra selalu berada di bawah bayang-bayang Ratna.

Bahkan setelah menjadi seorang pengusaha yang mengendalikan puluhan proyek dan ribuan karyawan, di hadapan ibunya ia selalu kembali menjadi anak 18 tahun yang merasa bersalah.

Namun pagi itu, sesuatu telah bergeser.

Ratna tampaknya menyadarinya.

Ia memandang Rendra cukup lama sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan kamar tanpa mengatakan apa pun.

Pintu ditutup keras.

Dewi mengembuskan napas panjang.

“Saya sebaiknya pulang.”

Rendra mengangguk perlahan.

Namun ketika Dewi hendak melangkah, Bagas yang masih setengah mengantuk menatap Rendra.

Anak kecil itu menunjuk kursi roda di sudut kamar.

“Om sakit?”

Dewi langsung menarik tangan anaknya.

“Bagas.”

Rendra justru menatapnya.

“Sedikit.”

Bagas mengangguk serius.

Kemudian, tanpa diduga, ia mengambil sebuah mobil mainan kecil dari sakunya dan meletakkannya di atas meja dekat tempat tidur.

“Biar Om cepat sembuh.”

Dewi tersenyum kikuk.

“Itu mainan favoritnya.”

Rendra menatap mobil plastik berwarna biru itu.

Entah mengapa tenggorokannya terasa berat.

Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali seseorang memberinya sesuatu tanpa mengharapkan balasan.

“Terima kasih,” katanya.

Bagas tersenyum.

Rendra hampir membalas senyum itu.

Hampir.

Dua hari kemudian, kondisi Rendra membaik.

Namun pikirannya justru semakin kacau.

Pertanyaan yang muncul pagi itu tidak mau pergi.

Benarkah ayahnya meninggal karena dirinya?

Selama dua puluh tahun ia tidak pernah memeriksa kembali detail kecelakaan.

Ia tidak pernah membaca laporan polisi.

Tidak pernah menemui saksi.

Bahkan tidak pernah bertanya kepada sopir keluarga yang datang ke rumah sakit malam itu.

Ia hanya menerima cerita Ratna sebagai satu-satunya kebenaran.

Sore itu, Rendra memanggil pengacara sekaligus sahabat lamanya, Adrian.

“Aku ingin semua dokumen kecelakaan tahun 2006.”

Adrian mengerutkan kening.

“Kecelakaan ayahmu?”

“Semua.”

“Kenapa sekarang?”

Rendra tidak langsung menjawab.

Di atas mejanya terdapat mobil mainan kecil milik Bagas.

“Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Adrian mengenal Rendra sejak kuliah.

Ia tahu bahwa topik mengenai kecelakaan itu adalah wilayah terlarang.

Karena itu ia tidak bertanya lagi.

Tiga hari kemudian, sebuah map cokelat diletakkan di atas meja kerja Rendra.

Adrian duduk di seberangnya.

“Ada sesuatu yang aneh.”

Rendra membuka laporan polisi.

Tangannya berhenti pada beberapa baris.

Penyebab kecelakaan bukan karena pengemudi menoleh ke belakang.

Kendaraan ayahnya kehilangan kendali setelah sebuah truk berpindah jalur secara mendadak.

Mobil mereka berusaha menghindar, menabrak pembatas jalan, lalu terguling.

Rendra membaca kalimat itu berulang kali.

“Tidak mungkin.”

Adrian menatapnya.

“Itu laporan resmi.”

“Katanya Ayah menoleh ke belakang karena aku ribut.”

“Tidak ada keterangan seperti itu.”

Rendra membalik halaman dengan tangan gemetar.

Ada pernyataan saksi.

Seorang pengemudi mobil di belakang mereka.

Seorang petugas jalan tol.

Dan satu nama yang membuat napas Rendra tercekat.

Bambang Suharto.

Sopir keluarga Wijaya saat itu.

“Pak Bambang masih hidup?”

Adrian mengangguk.

“Sudah pensiun. Tinggal di Bogor.”

Malam berikutnya, Rendra pergi ke Bogor ditemani Adrian.

Pak Bambang kini berusia lebih dari tujuh puluh tahun.

Ketika melihat Rendra di depan rumahnya, lelaki tua itu tampak terkejut.

“Mas Rendra?”

Mereka duduk di ruang tamu sederhana.

Rendra tidak membuang waktu.

“Saya mau tahu tentang malam kecelakaan.”

Wajah Pak Bambang langsung menegang.

“Kenapa setelah sekian lama?”

“Karena selama dua puluh tahun saya percaya Ayah meninggal karena kesalahan saya.”

Pak Bambang membeku.

“Siapa yang bilang begitu?”

Rendra tidak menjawab.

Tetapi keheningannya sudah cukup.

Pak Bambang menundukkan kepala.

“Ya Tuhan.”

Rendra merasakan jantungnya berdegup keras.

“Pak. Tolong katakan yang sebenarnya.”

Pak Bambang menghela napas panjang.

“Malam itu Bapak Anda tidak menoleh ke belakang.”

Rendra memejamkan mata.

Kalimat sederhana itu terasa seperti menghancurkan seluruh fondasi hidupnya.

“Lalu kenapa Ibu mengatakan itu?”

Pak Bambang tampak ragu.

“Ada hal yang mungkin seharusnya tidak saya ceritakan.”

“Ceritakan.”

Lelaki tua itu menatap Rendra.

“Beberapa minggu sebelum kecelakaan, orang tua Anda sering bertengkar.”

Rendra perlahan mengangkat wajah.

“Soal apa?”

“Perusahaan.”

Pak Bambang menjelaskan bahwa ayah Rendra, Surya Wijaya, saat itu menemukan beberapa transaksi mencurigakan dari perusahaan keluarga.

Sejumlah besar uang dialihkan ke rekening perusahaan lain.

Perusahaan itu ternyata dikelola oleh kakak Ratna.

Surya berniat melaporkan masalah tersebut kepada dewan direksi.

“Pada malam kecelakaan,” lanjut Pak Bambang, “saya mendengar mereka bertengkar sebelum Bapak Anda pergi.”

“Siapa?”

“Bapak dan Ibu Anda.”

Rendra tercekat.

“Ibu tidak ikut ke mobil.”

“Tidak.”

Pak Bambang menggeleng.

“Bapak Anda mengajak Anda keluar karena suasana rumah sedang buruk.”

Semua ingatan Rendra tentang malam itu tiba-tiba muncul seperti potongan kaca.

Ayahnya memang tampak gelisah.

Ia memang mengajak Rendra keluar mendadak.

Namun kenangannya setelah kecelakaan terlalu kabur.

Ratna lah yang kemudian mengisinya dengan cerita berbeda.

“Kenapa Ibu menyalahkan saya?”

Pak Bambang menatapnya dengan rasa iba.

“Saya tidak tahu.”

Namun Adrian yang sejak tadi diam membuka suara.

“Mungkin supaya Rendra tidak bertanya terlalu banyak tentang apa yang terjadi sebelum kecelakaan.”

Ruangan itu menjadi sunyi.

Rendra menatap lantai.

Dua puluh tahun.

Dua puluh tahun ia menghukum dirinya sendiri.

Menolak kebahagiaan.

Menolak cinta.

Menolak siapa pun yang mencoba mendekat.

Semua karena satu kebohongan.

Ketika Rendra pulang malam itu, Ratna sedang menunggunya di ruang tengah.

“Kamu dari mana?”

Rendra berhenti di depan ibunya.

“Bogor.”

Wajah Ratna berubah sedikit.

“Ngapain?”

“Menemui Pak Bambang.”

Untuk pertama kalinya, Ratna kehilangan kata-kata.

Rendra mengeluarkan salinan laporan polisi dan meletakkannya di meja.

“Kenapa?”

Ratna tidak menyentuh dokumen itu.

“Kenapa apa?”

“Kenapa Ibu bilang Ayah meninggal karena saya?”

Ratna menelan ludah.

“Aku tidak pernah—”

“Jangan.”

Suara Rendra pecah.

“Jangan bohong lagi.”

Ratna berdiri.

“Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”

“Saya tahu Ayah menghindari truk. Saya tahu dia tidak menoleh ke belakang. Saya tahu malam itu kalian bertengkar soal uang perusahaan.”

Ratna memucat.

Rendra menatapnya.

“Dua puluh tahun, Bu.”

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Selama dua puluh tahun setiap kali saya ingin bahagia, saya merasa tidak pantas.”

Ratna tidak menjawab.

“Setiap kali saya tertawa, saya merasa mengkhianati Ayah.”

Suara Rendra semakin serak.

“Setiap kali saya melihat kursi roda ini, saya pikir ini hukuman.”

Akhirnya Ratna berbisik,

“Aku marah.”

Rendra terdiam.

Ratna menutup wajahnya.

“Setelah ayahmu meninggal, semuanya berantakan. Polisi. Rumah sakit. Perusahaan. Kakakku dituduh mencuri uang.”

“Memang dia mencuri?”

Ratna tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Rendra menatap ibunya dengan kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Ratna melanjutkan,

“Kamu terus bertanya kenapa kecelakaan terjadi. Aku… aku mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan.”

“Sekali?”

Ratna menunduk.

Rendra tertawa pendek tanpa kegembiraan.

“Ibu mengulanginya selama dua puluh tahun.”

“Aku takut kamu menemukan masalah perusahaan.”

“Jadi Ibu membuat saya percaya bahwa saya membunuh Ayah?”

Ratna menangis.

“Aku tidak tahu bagaimana menghentikannya setelah semuanya terlanjur.”

Rendra memalingkan wajah.

Untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu.

Orang yang selama ini ia pikir sedang menghukumnya sebenarnya sedang melindungi kebohongannya sendiri.

Seminggu kemudian, Ratna meninggalkan rumah Wijaya.

Rendra tidak mengusirnya.

Ia hanya mengatakan bahwa mereka perlu hidup terpisah sampai ia bisa memahami apakah hubungan mereka masih bisa diperbaiki.

Sementara itu, Dewi tetap bekerja.

Ia bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Suatu pagi, Rendra memanggilnya ke taman belakang.

Dewi datang sambil membawa keranjang cucian.

“Bapak mau ngomong apa?”

Rendra menunjuk kursi di depannya.

“Duduk.”

Dewi mengangkat alis.

“Biasanya kalau majikan bilang begitu, habis ini ada pemecatan.”

Rendra menatapnya.

Kemudian sesuatu yang jarang terjadi muncul di wajahnya.

Sudut bibirnya terangkat.

Dewi membeku.

“Pak…”

Rendra benar-benar tersenyum.

Tidak lebar.

Tidak sempurna.

Namun nyata.

Dewi menatapnya seolah sedang menyaksikan gerhana matahari.

“Bapak ternyata punya gigi juga.”

Rendra langsung kehilangan senyumnya.

“Dewi.”

Perempuan itu tertawa.

“Maaf.”

Namun kali ini Rendra ikut tertawa kecil.

Bi Asih yang melihat dari balik jendela bahkan sampai memegang dadanya karena kaget.

Rendra lalu menceritakan semuanya.

Tentang laporan polisi.

Tentang Pak Bambang.

Tentang kebohongan Ratna.

Dewi mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, Rendra berkata,

“Kalau kamu tidak memaksa tinggal malam itu, mungkin saya tidak akan pernah mempertanyakan hidup saya.”

Dewi menggeleng.

“Saya cuma bantu orang demam.”

“Kamu melakukan lebih dari itu.”

Dewi menatap taman.

“Kadang kita terlalu lama tinggal di satu cerita sampai lupa memeriksa apakah cerita itu benar.”

Rendra terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Namun tepat.

Beberapa bulan kemudian, banyak hal berubah di kediaman Wijaya.

Pintu-pintu yang dulu selalu tertutup mulai sering terbuka.

Musik terdengar dari dapur.

Bi Asih bahkan berani memutar lagu dangdut ketika sedang memasak.

Dan Bagas mulai sesekali datang pada hari Sabtu setelah Rendra sendiri mengizinkannya.

Anak kecil itu punya kebiasaan aneh.

Ia suka mendorong kursi roda Rendra meskipun sebenarnya tenaga kecilnya hampir tidak memberi pengaruh apa pun.

“Cepat, Om!”

“Ini sudah cepat.”

“Belum!”

Dewi biasanya hanya menggeleng dari kejauhan.

Namun perubahan terbesar terjadi hampir setahun kemudian.

Rendra menjalani pemeriksaan neurologis lengkap di Singapura atas saran Adrian.

Dokter menemukan bahwa cedera sarafnya memang berat, tetapi selama bertahun-tahun terapi rehabilitasi yang diberikan kepadanya ternyata tidak pernah maksimal.

Masih ada respons otot di bagian kaki yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Tidak ada jaminan ia akan bisa berjalan normal.

Namun ada peluang kecil untuk berdiri dengan bantuan setelah rehabilitasi panjang.

Ketika mendengar itu, Rendra tidak langsung senang.

Ia justru tertawa pelan.

“Dua puluh tahun saya kira hidup saya sudah selesai.”

Dokternya menjawab,

“Cedera Anda nyata, Pak Rendra. Tapi mungkin yang membuat Anda berhenti mencoba bukan hanya cedera itu.”

Rendra tahu persis apa maksudnya.

Enam bulan setelah terapi dimulai, Dewi dan Bagas datang ke pusat rehabilitasi untuk melihatnya.

Rendra berdiri di antara dua palang besi dengan kedua tangan bergetar menahan berat tubuh.

Kakinya masih lemah.

Keringat memenuhi dahinya.

Bagas berdiri di ujung ruangan sambil membawa mobil biru kecil yang dulu diberikannya kepada Rendra.

“Ayo, Om!”

Rendra mengangkat kepala.

Satu langkah.

Kakinya gemetar.

Kemudian satu langkah lagi.

Dewi menutup mulut dengan kedua tangan.

Air matanya jatuh tanpa disadari.

Rendra akhirnya berhenti beberapa meter dari mereka.

Ia belum bisa berjalan tanpa bantuan.

Mungkin tidak akan pernah bisa.

Namun hari itu bukan tentang berjalan.

Hari itu tentang seseorang yang akhirnya berhenti menghukum dirinya sendiri.

Bagas berlari mendekat dan memeluk kakinya.

Rendra tertawa.

Benar-benar tertawa.

Dan di belakang mereka, tanpa diketahui siapa pun, seorang perempuan berdiri di balik pintu kaca.

Ratna.

Ia tidak berani masuk.

Selama berbulan-bulan, ia menjalani terapi psikologis dan menjauh dari keluarga.

Di tangannya ada sebuah amplop.

Ketika Rendra kembali ke kamar rehabilitasi, seorang perawat memberikannya.

“Dari seorang wanita yang tadi datang.”

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

Tulisan tangan Ratna memenuhi halaman.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan.

Hanya permintaan maaf dan satu pengakuan terakhir.

Ayah Rendra ternyata telah menyiapkan surat untuk anaknya beberapa hari sebelum kecelakaan.

Ratna menyembunyikannya selama dua puluh tahun.

Surat asli itu ada di dalam amplop yang sama.

Dengan tangan gemetar, Rendra membukanya.

Tulisan ayahnya masih jelas.

Rendra tidak membaca seluruh surat dengan suara keras.

Ia hanya berhenti pada kalimat terakhir.

Ayahnya menulis bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup mereka nanti, ia ingin Rendra menjadi orang yang berani hidup dengan bahagia.

Rendra menutup mata.

Selama dua puluh tahun, ia mengira cara menghormati ayahnya adalah dengan menderita.

Ternyata justru sebaliknya.

Dewi berdiri di sampingnya.

“Bapak tidak apa-apa?”

Rendra mengusap air matanya.

Kemudian ia memandang Bagas, memandang kedua kakinya yang masih lemah, lalu memandang cahaya matahari yang masuk melalui jendela.

Ia tersenyum.

Kali ini tanpa rasa bersalah.

“Untuk pertama kalinya,” katanya pelan, “saya rasa saya benar-benar baik-baik saja.”

Dan sejak hari itu, orang-orang di kediaman Wijaya tidak lagi mengenal Rendra sebagai pria kaya yang tidak pernah tersenyum.

Mereka mengenalnya sebagai seseorang yang pernah kehilangan dua puluh tahun hidupnya karena sebuah kebohongan, tetapi memilih untuk tidak kehilangan satu hari pun lagi setelah mengetahui kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang