Keesokan paginya, pukul delapan lewat dua puluh menit, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Doni.
Haris turun dari kursi belakang bersama Bu Ratna.
Wajah Haris tampak jauh lebih tenang dibandingkan sehari sebelumnya. Justru ketenangan itulah yang membuat Bu Ratna tahu bahwa sahabat lamanya sedang menahan sesuatu yang sangat besar.
Semalam, Haris hampir tidak tidur.
Bukan karena marah.
Ia menghabiskan malam dengan membaca satu demi satu hasil mutasi rekening Ningsih yang dikirim Bu Ratna.
Setiap angka terasa seperti tamparan.
Selama tujuh bulan, uang pensiun Ningsih masuk secara rutin ke rekeningnya.
Namun hampir seluruhnya langsung ditarik atau dipindahkan pada hari yang sama.
Awalnya tiga juta rupiah.
Lalu empat juta.
Kemudian enam juta.
Ada pembayaran cicilan kartu kredit.
Pembelian barang elektronik.
Tagihan restoran.
Uang muka perjalanan ke Bali.
Dan transaksi sebesar lima belas juta rupiah di sebuah toko jam tangan.
Haris berhenti cukup lama ketika membaca transaksi terakhir itu.
Ia teringat jam yang melingkar di pergelangan tangan Doni.
Namun yang paling mengganggunya justru bukan angka-angka tersebut.
Bu Ratna menemukan tiga transfer dengan nilai jauh lebih besar.
Masing-masing dua puluh lima juta rupiah.
Semuanya dikirim dari deposito milik Ningsih yang seharusnya tidak pernah disentuh tanpa tanda tangannya.
“Pak Haris,” kata Bu Ratna malam sebelumnya melalui telepon, “ada kemungkinan tanda tangan Bu Ningsih dipakai untuk pencairan.”
Haris langsung duduk tegak.
“Dipalsukan?”
“Saya belum mau menyimpulkan. Tapi ada dokumen yang perlu kita cek.”
Itulah sebabnya pagi itu mereka tidak datang sendirian.
Di belakang mobil mereka ada seorang petugas bank dan seorang notaris yang dulu membantu proses hibah rumah kepada Doni.
Haris berdiri di depan pintu.
Ia menekan bel.
Tidak ada jawaban.
Ia menekan sekali lagi.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.
Maya muncul mengenakan pakaian tidur mahal. Wajahnya langsung berubah ketika melihat Bu Ratna dan dua orang lain di belakang Haris.
“Ada apa ini?”
“Saya mau bertemu Ningsih,” jawab Haris.
Maya menghela napas.
“Bapak bikin masalah lagi?”
Haris menatapnya datar.
“Panggil Doni.”
Suara dari dalam rumah terdengar.
“Siapa, Ma?”
Doni berjalan keluar sambil mengenakan kaus dan celana pendek. Jam tangan mahal itu masih ada di tangannya.
Begitu melihat Bu Ratna, ekspresinya menegang.
“Ngapain bawa pengacara?”
Bu Ratna mengeluarkan map hitam.
“Karena hari ini kita tidak bicara sebagai keluarga.”
Doni tertawa kecil, tetapi suaranya terdengar dipaksakan.
“Ini soal apa?”
“Pertama,” kata Haris, “keluarkan ibumu.”
Doni melipat kedua tangan di dada.
“Ibu mau tinggal di sini.”
Haris menatap ke arah dalam rumah.
“Ningsih!”
Tidak ada jawaban.
Doni segera berkata, “Ibu sedang istirahat.”
Haris berbalik ke petugas bank.
“Pak, tolong jelaskan.”
Petugas itu membuka berkas.
“Bapak Doni, kami sedang melakukan pemeriksaan terhadap beberapa transaksi dari rekening atas nama Ibu Ningsih.”
Wajah Doni berubah.
“Hah?”
“Ada pencairan deposito dan pemindahan dana yang perlu dikonfirmasi langsung oleh pemilik rekening.”
“Semua atas izin Ibu.”
“Kalau begitu tidak akan ada masalah,” jawab petugas bank dengan tenang.
Doni mendadak tidak berkata apa-apa.
Haris memperhatikan wajah anaknya.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke Surabaya, ia melihat sesuatu selain kesombongan.
Ketakutan.
Bu Ratna kemudian menyerahkan fotokopi beberapa dokumen.
“Ini formulir pencairan deposito.”
Doni tidak mengambilnya.
“Terus?”
“Tanda tangan pada formulir ini berbeda dengan contoh tanda tangan Bu Ningsih yang tersimpan di beberapa dokumen lama.”
Maya menoleh cepat kepada suaminya.
“Doni?”
“Jangan dengarkan mereka.”
Haris melangkah maju.
“Panggil ibumu.”
Doni kembali menghalangi jalan.
“Bapak tidak punya hak masuk.”
Kali ini notaris yang sejak tadi diam membuka suara.
“Pak Doni, saya rasa sebaiknya Anda juga membaca dokumen ini.”
Ia mengeluarkan salinan akta hibah.
Doni tersenyum sinis.
“Saya tahu dokumen itu. Rumah ini sudah diberikan kepada saya delapan tahun lalu.”
“Benar.”
“Jadi selesai.”
“Belum.”
Notaris menunjuk salah satu halaman.
“Dalam akta hibah terdapat klausul khusus atas permintaan kedua orang tua Anda.”
Doni mengernyit.
Haris sendiri baru mengingat klausul itu setelah Bu Ratna membacanya semalam.
Dulu, ketika rumah itu dihibahkan, Ningsih yang meminta satu syarat sederhana dimasukkan.
Ia takut suatu hari Doni menjual rumah ketika bisnisnya sedang bermasalah.
Syarat itu berbunyi bahwa selama Haris atau Ningsih masih hidup, rumah tidak boleh dialihkan tanpa persetujuan tertulis keduanya.
Selain itu terdapat hak tinggal seumur hidup bagi Haris dan Ningsih.
Doni memang pemilik rumah.
Namun secara hukum, ia tidak berhak mengusir kedua orang tuanya.
Wajah Doni semakin pucat.
“Jadi apa maksud kalian?”
“Maksudnya,” jawab Bu Ratna, “tindakan Anda mendorong Pak Haris keluar kemarin dan mengunci Bu Ningsih di dalam rumah bisa menjadi masalah yang jauh lebih serius jika Bu Ningsih menyatakan bahwa ia ditahan atau ditekan.”
Doni tertawa keras.
Namun kali ini tawanya terdengar gugup.
“Ditahan? Ibu saya sendiri?”
Tiba-tiba terdengar suara dari lorong belakang.
“Pak.”
Semua menoleh.
Ningsih berdiri beberapa meter dari mereka.
Ia mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin.
Namun sesuatu berbeda.
Di tangannya terdapat sebuah tas kain kecil.
Matanya bengkak karena menangis.

Doni langsung mendekatinya.
“Ibu masuk dulu.”
Ningsih tidak bergerak.
“Ibu bilang masuk.”
Haris menatap istrinya.
“Ningsih, kemari.”
Ningsih melangkah perlahan.
Doni meraih lengannya.
Haris langsung maju.
“Lepaskan.”
“Bapak jangan ikut campur!”
“Lepaskan tanganmu dari ibumu.”
Nada suara Haris tidak tinggi.
Namun Doni akhirnya melepaskannya.
Ningsih berjalan mendekati suaminya.
Ketika sudah berdiri di samping Haris, tubuhnya bergetar.
Petugas bank kemudian bertanya dengan suara lembut.
“Bu Ningsih, apakah Ibu pernah memberikan izin kepada Pak Doni untuk mencairkan deposito Ibu?”
Ningsih menunduk.
Ruangan mendadak sangat sunyi.
Doni menatap ibunya tajam.
“Ibu ingat kan? Ibu yang setuju.”
Ningsih masih diam.
Maya ikut mendekat.
“Ibu, waktu itu kan untuk kebutuhan rumah.”
Ningsih perlahan mengangkat kepala.
“Tidak.”
Satu kata itu membuat Doni membeku.
Petugas bank bertanya lagi.
“Ibu tidak pernah menandatangani dokumen pencairan?”
Ningsih menggeleng.
“Tidak pernah.”
Maya menatap Doni.
“Kamu bilang Ibu yang tanda tangan.”
Doni langsung membalas, “Aku cuma bantu. Ibu sendiri yang suruh.”
Ningsih kembali menggeleng.
Air mata jatuh di pipinya.
“Saya tidak pernah menyuruh.”
Haris merasakan dadanya sesak.
Namun ia tetap diam.
Ia ingin Ningsih berbicara sendiri.
Dan akhirnya, setelah tujuh bulan bungkam, istrinya mulai menceritakan semuanya.
Awalnya memang benar.
Doni kehilangan pekerjaan.
Ia malu memberi tahu teman-temannya bahwa ia tidak lagi memiliki penghasilan.
Sementara gaya hidup keluarganya tetap tinggi.
Cicilan mobil.
Kartu kredit.
Sekolah Leo.
Pertemuan bisnis Maya.
Doni lalu meminta Ningsih membantu kebutuhan rumah.
Ningsih memberikan uang pensiunnya dengan sukarela.
Namun hanya untuk dua bulan.
Setelah itu, Doni mulai mengambil kartu ATM dan menyimpan sendiri PIN-nya.
Ningsih protes.
Doni marah.
Ia mengatakan bahwa seluruh hidupnya menjadi sulit karena orang tuanya tidak pernah memberinya modal yang cukup.
Kalimat itu menghancurkan hati Ningsih.
Bertahun-tahun ia dan Haris merasa telah memberikan terlalu banyak.
Namun Doni justru merasa tidak pernah diberi cukup.
Ketika uang pensiun tidak lagi mencukupi, Doni menemukan buku deposito ibunya di tas.
Ia mulai memaksa Ningsih mencairkannya.
Ningsih menolak.
Doni tidak memukulnya.
Ia melakukan sesuatu yang menurut Ningsih jauh lebih menyakitkan.
Ia membawa Leo ke hadapan neneknya.
“Kalau Oma tidak bantu,” kata Doni waktu itu, “Leo bisa berhenti sekolah.”
Ningsih menyerah.
Ia setuju mencairkan satu deposito kecil.
Namun pencairan berikutnya dilakukan tanpa sepengetahuannya.
“Kenapa Ibu tidak menelepon Bapak?” tanya Bu Ratna.
Ningsih menangis.
“Ponsel saya diambil.”
Doni langsung memotong.
“Ponselnya rusak.”
Ningsih memandang anaknya.
“Bukan.”
Doni terdiam.
“Kamu banting ponsel Ibu ke lantai.”
Maya memandang suaminya dengan wajah tidak percaya.
“Kamu bilang ponsel Ibu jatuh.”
Doni semakin panik.
“Nggak usah dramatis.”
Ningsih melanjutkan.
Setiap kali Haris menelepon, Doni memberikan ponselnya sendiri dan berdiri di dekat Ningsih.
Karena itu percakapan mereka selalu singkat.
Karena itu Ningsih tidak pernah berani mengatakan apa-apa.
“Kalau saya bicara terlalu lama,” kata Ningsih lirih, “setelah telepon ditutup, dia marah.”
Haris memejamkan mata.
Sekarang semua jeda panjang itu memiliki arti.
Semua suara gemetar.
Semua alasan.
Semua kebohongan kecil yang dibuat Ningsih demi mencegah suaminya datang.
Bukan karena ia tidak ingin diselamatkan.
Ia takut Haris akan berkelahi dengan anak mereka sendiri.
Bu Ratna mengeluarkan satu berkas lagi.
“Ada satu hal lain.”
Doni langsung menoleh.
“Apa lagi?”
“Semalam kami memeriksa dokumen permohonan kredit usaha yang diajukan tiga bulan lalu.”
Wajah Maya berubah.
“Kredit apa?”
Bu Ratna menatap Doni.
“Pak Doni mengajukan pinjaman satu miliar rupiah.”
Maya membelalak.
“Apa?”
“Dengan rumah ini sebagai bagian dari jaminan tambahan.”
Doni langsung berteriak.
“Itu belum jadi!”
Notaris menggeleng.
“Tidak akan bisa jadi tanpa persetujuan Pak Haris dan Bu Ningsih.”
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?” Maya menatap suaminya.
Doni kehilangan kesabaran.
“Karena aku berusaha menyelamatkan bisnis kita!”
“Bisnis kita?” Maya membalas. “Bisnis yang mana? Kamu bilang kamu sedang membangun perusahaan konsultan.”
Doni terdiam.
Haris memandang Maya.
“Dia tidak punya bisnis?”
Maya tertawa pendek, pahit.
“Yang saya tahu, selama enam bulan terakhir dia bilang sedang mencari investor.”
Bu Ratna mengeluarkan lembar mutasi rekening lain.
“Sebagian uang deposito Bu Ningsih tidak masuk ke kebutuhan rumah.”
Ia meletakkan dokumen di meja.
“Lebih dari empat puluh juta rupiah masuk ke situs perdagangan aset berisiko tinggi dan permainan daring.”
Maya seperti kehilangan keseimbangan.
“Apa?”
Doni langsung merampas kertas itu.
“Ini bukan urusan kalian!”
Haris akhirnya tidak mampu menahan dirinya.
“Itu uang ibumu.”
Doni membalas dengan wajah merah.
“Aku akan mengembalikannya!”
“Dengan apa?”
“Aku sedang membangun hidupku!”
“Dengan menjadikan ibumu pembantu?”
“Aku tidak pernah menyuruh dia jadi pembantu!”
Haris menunjuk ke arah kulkas.
“Daftar pekerjaan itu siapa yang buat?”
Doni diam.
“Makanannya siapa yang batasi?”
Doni masih diam.
“Kamar belakang itu siapa yang kasih?”
“Dia sendiri yang mau tinggal di sana!”
Ningsih memandang putranya lama sekali.
Kemudian ia mengucapkan sesuatu yang membuat ruangan kembali sunyi.
“Tidak, Don.”
Doni menatap ibunya.
“Waktu Ibu mau tidur di kamar tamu, kamu bilang kamar itu untuk orang yang punya uang.”
Maya menutup mulutnya.
Doni tampak seperti baru sadar bahwa tidak ada lagi seorang pun di ruangan itu yang membelanya.
Bahkan istrinya sendiri.
Haris mendekati anaknya.
“Ayah bisa melaporkanmu hari ini.”
Doni menatapnya dengan napas berat.
“Silakan.”
“Ayah juga bisa membuat bank memblokir semua proses pinjaman.”
“Silakan.”
“Dan jika terbukti ada pemalsuan tanda tangan, konsekuensinya bukan lagi urusan keluarga.”
Doni tersenyum pahit.
“Jadi Bapak mau penjarakan anak sendiri?”
Haris menatapnya tanpa berkedip.
“Kamu salah memahami satu hal sejak kecil.”
“Apa?”
“Menjadi anak kami tidak pernah berarti kamu bebas menyakiti kami.”
Doni terdiam.
Ningsih tiba-tiba memegang lengan Haris.
“Pak.”
Haris menoleh.
“Jangan sekarang.”
Doni seperti mendapatkan harapan.
“Ibu…”
Namun Ningsih tidak melihatnya.
Ia berkata kepada Bu Ratna,
“Saya mau rekening saya diamankan. Semua kartu diganti. Semua akses diputus.”
Bu Ratna mengangguk.
“Bisa.”
“Dan deposito yang tersisa?”
“Aman.”
Ningsih menarik napas.
“Jangan biarkan siapa pun mengambilnya selain saya dan suami saya.”
Doni menatap ibunya dengan wajah yang perlahan runtuh.
“Ibu serius?”
Ningsih akhirnya menatapnya.
“Selama tujuh bulan, Ibu selalu berpikir mungkin kamu akan berubah kalau keadaanmu membaik.”
Air matanya kembali jatuh.
“Tapi ternyata setiap kali Ibu mengalah, kamu justru belajar bahwa Ibu bisa ditekan lebih jauh.”
Doni membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Maya duduk perlahan di kursi makan.
Ia tampak syok.
Lalu terdengar langkah kaki dari tangga.
Leo muncul.
Anak laki-laki itu berdiri sambil memeluk sebuah buku.
“Papa?”
Semua orang menoleh.
Haris langsung melunakkan ekspresinya.
Ningsih mengusap air mata.
“Leo, masuk kamar dulu, Sayang.”
Namun Leo tidak bergerak.
Ia menatap neneknya.
“Oma mau pulang?”
Ningsih mengangguk.
“Iya.”
Leo tiba-tiba berlari menuruni tangga dan memeluk pinggang Ningsih.
“Jangan.”
Semua orang terdiam.
Ningsih memeluk cucunya.
“Nanti Oma datang lagi.”
Leo menggeleng kuat.
“Papa bilang Oma nggak boleh pulang karena kalau Oma pulang kita nggak punya uang.”
Wajah Doni langsung berubah.
“Leo!”
Anak itu terkejut.
Haris menatap putranya dengan mata yang kini benar-benar dingin.
Jadi bukan hanya Ningsih yang dimanipulasi.
Leo juga dibuat percaya bahwa keberadaan neneknya adalah penyangga ekonomi keluarga.
Maya berdiri.
“Cukup, Doni.”
Doni menoleh.
“Apa?”
“Cukup.”
Maya menarik napas panjang.
“Saya nggak tahu semuanya separah ini.”
Doni tertawa tidak percaya.
“Kamu mau bela mereka sekarang?”
“Saya memang tahu Ibu membantu pekerjaan rumah. Saya pikir itu karena Ibu mau.”
Maya memandang Ningsih.
“Tapi soal rekening, deposito, ponsel, kredit rumah… saya tidak tahu.”
Doni mendekatinya.
“Jangan sok suci. Kamu juga menikmati uangnya.”
Maya terdiam.
Kalimat itu mengenai sasaran.
Jam tangan Doni memang dibeli dari uang Ningsih.
Namun sebagian transaksi restoran dan barang rumah juga dinikmati Maya.
Maya menunduk.
“Itu benar.”
Ia lalu melepaskan gelang dari tangannya dan meletakkannya di meja.
“Saya ikut menikmati sesuatu yang bukan hak saya.”
Doni menatapnya.
“Kamu gila?”
“Tidak.”
Maya menatap suaminya.
“Saya justru baru sadar siapa yang selama ini tinggal bersama saya.”
Pagi itu, Ningsih akhirnya keluar dari rumah membawa satu tas kecil.
Tidak ada koper.
Tidak ada barang mahal.
Hanya beberapa pakaian, obat-obatan, buku doa, dan foto lama keluarga mereka.
Sebelum naik mobil, ia menoleh ke rumah yang delapan tahun lalu ia pilih sendiri setiap warna dindingnya.
Doni berdiri di teras.
Ia tidak lagi marah.
Ia tampak kosong.
Haris membuka pintu mobil untuk istrinya.
Namun sebelum masuk, Ningsih berjalan kembali beberapa langkah.
Ia menghampiri Doni.
Semua orang mengira ia akan memeluk anaknya.
Ningsih justru memasukkan sesuatu ke telapak tangan Doni.
Sebuah kunci.
Kunci rumah itu.
“Rumah ini tetap milikmu,” katanya.
Doni menatap ibunya.
“Tapi mulai hari ini, jangan pernah mengira rumah bisa menggantikan keluarga.”
Doni menunduk.
Ningsih melanjutkan dengan suara bergetar.
“Ibu tidak akan mengambil rumah ini darimu.”
Haris tampak sedikit terkejut.
Bu Ratna juga menatapnya.
“Tapi Ibu juga tidak akan menyelamatkanmu dari akibat perbuatanmu.”
Doni mengangkat wajah.
“Bu…”
“Kalau bank atau hukum meminta pertanggungjawaban, kamu hadapi sendiri.”
Ningsih berbalik.
Mereka pergi.
Tiga minggu kemudian, hasil pemeriksaan bank keluar.
Tanda tangan pada dua formulir pencairan deposito memang dipalsukan.
Namun kejutan terbesar justru datang dari transaksi terakhir.
Transfer dua puluh lima juta rupiah yang dianggap digunakan Doni ternyata tidak pernah masuk ke rekening pribadinya.
Uang itu dikirim ke sebuah rekening atas nama seseorang bernama Sari Wulandari.
Haris mengira itu mungkin perempuan lain.
Maya juga mencurigai hal yang sama.
Namun Bu Ratna menemukan kenyataan berbeda.
Sari adalah mantan rekan kerja Doni.
Enam bulan sebelumnya, anak perempuan Sari menjalani operasi jantung.
Doni diam-diam meminjamkan uang kepada keluarga itu.
Ketika Bu Ratna menunjukkan bukti tersebut, Haris lama tidak berbicara.
Untuk pertama kalinya, kejahatan Doni tidak terlihat hitam sepenuhnya.
Ada satu perbuatan baik di antara begitu banyak kesalahan.
Beberapa hari kemudian, Doni datang ke Semarang sendirian.
Ia tidak memakai jam tangan mahal.
Tubuhnya tampak lebih kurus.
Ia berdiri di depan bengkel lama ayahnya hampir setengah jam sebelum berani masuk.
Haris sedang mengganti oli sebuah mobil ketika melihatnya.
Keduanya hanya saling menatap.
Doni akhirnya berkata,
“Jamnya sudah saya jual.”
Haris tidak menjawab.
“Mobil juga.”
Haris tetap diam.
“Saya ganti sebagian uang Ibu.”
Dari dalam kantor kecil, Ningsih keluar.
Begitu melihat ibunya, mata Doni langsung merah.
Ia berjalan maju, lalu berhenti beberapa langkah di depan Ningsih.
Untuk pertama kalinya sejak kecil, Doni menundukkan kepala kepada ibunya.
“Maaf, Bu.”
Ningsih tidak langsung memeluknya.
“Untuk apa?”
Doni menangis.
Pertanyaan itu jauh lebih berat daripada kemarahan.
“Untuk semuanya.”
Ningsih menggeleng.
“Jangan minta maaf kalau kamu cuma takut kehilangan keluarga.”
Doni terdiam.
“Minta maaf kalau kamu benar-benar mengerti apa yang kamu lakukan.”
Doni mengusap wajah.
“Saya mengerti sekarang.”
“Belum tentu.”
Ningsih menatapnya.
“Tapi kamu bisa mulai membuktikannya.”
Haris akhirnya meletakkan kunci pasnya.
“Utang tetap utang.”
Doni mengangguk.
“Saya tahu.”
“Masalah dokumen juga tetap diproses.”
Doni menelan ludah.
“Saya tahu.”
“Ayah tidak akan menyuap siapa pun, tidak akan meminta siapa pun menutup kasusmu.”
Doni kembali mengangguk.
“Saya tahu.”
Haris memandang anaknya cukup lama.
“Kalau begitu mulai dari awal.”
Doni mengangkat kepala.
“Bagaimana?”
Haris menunjuk tumpukan ban di sudut bengkel.
“Angkat itu.”
Doni terdiam.
“Apa?”
“Katamu tidak punya pekerjaan.”
Haris menunjuk ruang bengkel yang dulu menjadi tempat ia membesarkan keluarga.
“Di sini ada pekerjaan.”
Doni menatap ayahnya.
“Bapak mau terima saya kerja?”
“Bukan sebagai anak.”
Haris menyerahkan sepasang sarung tangan kerja.
“Sebagai pegawai magang.”
Ningsih menahan senyum di balik air matanya.
Doni mengambil sarung tangan itu.
Hari pertama, ia hanya dibayar seratus lima puluh ribu rupiah.
Hari kedua, tangannya lecet.
Hari ketiga, ia hampir menyerah.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada seorang pun yang memberikan jalan pintas.
Enam bulan kemudian, Doni masih bekerja di bengkel.
Proses hukum atas dokumen palsu tetap berjalan dan diselesaikan sesuai keputusan pihak berwenang.
Maya kembali ke Surabaya bersama Leo dan mulai mengatur keuangan mereka sendiri.
Rumah Citraland tidak dijual.
Tidak digadaikan.
Sebagian kamar bahkan disewakan agar cicilannya tidak menjadi beban.
Suatu sore, ketika Ningsih sedang menyiapkan teh di kantor bengkel, Haris menemukan sesuatu di laci meja.
Sebuah kereta kayu.
Hadiah untuk Leo yang tidak pernah sempat diberikan pada hari ia datang ke Surabaya.
Haris memegangnya lama.
Ningsih tersenyum kecil.
“Kirim saja.”
Haris menggeleng.
“Nanti kalau Leo datang sendiri.”
Ningsih duduk di sampingnya.
“Pak.”
“Hm?”
“Kadang saya berpikir kita gagal mendidik Doni.”
Haris menatap kereta kayu itu.
“Mungkin.”
Ningsih terdiam.
Haris melanjutkan,
“Tapi orang tua juga bisa salah tanpa harus menghabiskan sisa hidup dengan menyalahkan diri sendiri.”
Ia menggenggam tangan istrinya.
“Dulu kita terlalu banyak memberi karena takut anak kita kekurangan.”
Ningsih mengangguk.
“Sekarang?”
“Sekarang kita belajar bahwa cinta juga harus tahu kapan berkata cukup.”
Di luar ruangan, terdengar suara Doni memanggil salah satu mekanik.
Tangannya penuh oli.
Kaosnya basah oleh keringat.
Tidak ada jam mahal.
Tidak ada rumah mewah.
Tidak ada kartu ATM ibunya di sakunya.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Haris melihat anaknya bekerja untuk sesuatu yang ingin dimilikinya.
Dan mungkin, pikir Haris, itulah warisan paling berharga yang seharusnya mereka berikan sejak awal.
Bukan rumah.
Bukan uang.
Bukan kemudahan.
Melainkan kemampuan untuk memahami bahwa cinta tidak pernah berarti seseorang boleh mengambil segalanya dari orang yang mencintainya.
