Pukul 5.47 pagi, Maya Sanjaya membaca pesan itu tiga kali.
“Jangan hadapi Hendra sendirian. Sebagian dana yang masuk ke rekening rahasia itu berasal dari perusahaanmu sendiri.”
Jantung Maya berdetak keras, tetapi wajahnya tetap tenang.
Dari balik jendela ruang kerja, langit Jakarta mulai berubah warna. Cahaya pucat menjelang pagi menyelinap di antara gedung-gedung dan pepohonan Pondok Indah.
Di lantai atas, Hendra masih tidur.
Mungkin dengan keyakinan bahwa pertengkaran semalam sudah selesai.
Mungkin juga dengan perasaan puas karena berhasil menempatkan Maya pada posisi yang menurutnya seharusnya.
Sebagai istri.
Sebagai ibu tiri.
Sebagai perempuan yang tidak boleh mencampuri urusan anaknya.
Maya menatap layar ponsel.
“Apa maksudmu berasal dari perusahaanku?” tulisnya kepada Dewi.
Balasan datang kurang dari satu menit.
“Ada beberapa transfer berkala dari vendor yang terhubung dengan anak perusahaanmu. Nominalnya tidak terlalu besar kalau dilihat satu per satu. Tapi totalnya hampir Rp3,2 miliar dalam delapan bulan.”
Maya merasakan tengkuknya dingin.
“Vendor apa?”
“PT Arunika Digital Solusi.”
Nama itu membuat Maya berhenti bernapas selama beberapa detik.
Ia mengenalnya.
Perusahaan tersebut adalah salah satu vendor pengembangan sistem pendukung yang bekerja dengan divisi operasional perusahaannya.
Nilai kontraknya cukup besar.
Namun selama ini, Maya tidak pernah mengurus pembayaran vendor secara langsung. Ada direktur keuangan, kepala pengadaan, sistem persetujuan berlapis, dan auditor internal.
Secara teori, tidak mungkin seseorang mengambil uang perusahaan tanpa meninggalkan jejak.
Secara teori.
Maya berdiri dari kursinya.
“Cari semua hubungan antara Hendra dan perusahaan itu.”
Dewi langsung menjawab.
“Sudah. Jangan ubah apa pun dulu. Kita perlu bukti lengkap.”
Maya melihat jam.
Pukul 5.58.
Enam pagi kurang dua menit.
Di luar, suara kendaraan mulai terdengar.
Lalu bel rumah berbunyi.
Maya turun ke lantai bawah.
Petugas perusahaan penyewaan kendaraan sudah datang bersama seorang pengemudi.
“Untuk BMW putih atas nama PT Sanjaya Asset Management, Bu.”
Maya menyerahkan kunci cadangan yang disimpannya.
“Ambil saja.”
Petugas mengangguk.
Belum sempat mobil itu keluar dari halaman, Clarissa muncul dari tangga dengan rambut berantakan dan wajah mengantuk.
Ia mengenakan kaus oversized dan celana pendek.
Ketika melihat BMW-nya sedang dibawa keluar, rasa kantuk di wajahnya langsung hilang.
“Eh! Itu mobil aku mau dibawa ke mana?”
Maya menatapnya.
“Dikembalikan.”
“Apa?”
“Mobil itu bukan milikmu.”
Clarissa berlari ke teras.
“Papa!”
Teriakannya menggema ke seluruh rumah.
Beberapa detik kemudian Hendra turun dengan langkah terburu-buru.
“Ada apa?”
Clarissa menunjuk ke arah gerbang.
“Mobilku diambil!”
Hendra memandang Maya.
“Kamu yang suruh?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Maya menatapnya dengan tenang.
“Karena Clarissa bukan anakku.”
Kalimat itu menghantam Hendra seperti tamparan.
Wajahnya langsung berubah.
“Maya, jangan kekanak-kanakan.”
“Bukankah itu yang kamu katakan semalam?”
“Itu beda konteks.”
“Bagiku sangat jelas.”
Clarissa menatap Maya dengan marah.
“Terus aku kuliah bagaimana?”
“Kamu punya ayah.”
Hendra menarik napas panjang.
“Sudah. Mobil bisa nanti dibicarakan. Aku akan antar dia ke Bandung.”
Maya mengangguk.
“Bagus.”
Clarissa kembali masuk sambil membanting pintu.
Hendra mendekati Maya.
“Jangan bawa masalah rumah tangga ke urusan Clarissa.”
Maya nyaris tertawa.
“Lucu. Semalam kamu justru menggunakan Clarissa untuk mengingatkanku bahwa aku tidak punya hak apa pun atas hidupnya.”
“Maya.”
“Mulai hari ini aku menghormati batas itu.”
Hendra menatap istrinya lama.
Ada sesuatu di mata Maya yang membuatnya tidak nyaman.
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Maya berbalik dan masuk ke ruang kerja.
Pukul tujuh pagi, Maya sudah mandi dan mengenakan setelan kerja berwarna krem.
Ia memesan mobil perusahaan menuju kantornya di Kuningan.
Hendra berdiri di ruang keluarga ketika melihatnya hendak pergi.
“Kamu tidak sarapan?”
“Ada urusan penting.”
“Urusan apa?”
Maya berhenti sejenak.
“Perusahaan.”
Hendra memandangnya tajam.
Untuk pertama kalinya, Maya melihat kegelisahan kecil di wajah suaminya.
Sangat kecil.
Namun cukup.
Maya tersenyum tipis.
“Kenapa?”
“Tidak ada.”
Maya meninggalkan rumah.
Satu jam kemudian, ia sudah duduk di ruang rapat kecil di lantai dua puluh tujuh gedung kantornya.
Dewi ada di sebelah kanan.
Di hadapan mereka duduk Arman, kepala audit internal perusahaan.
Di layar besar terpampang aliran transaksi PT Arunika Digital Solusi selama sembilan bulan terakhir.
Arman terlihat pucat.
“Kami menemukan pola yang tidak normal, Bu.”
“Jelaskan.”
“Vendor ini menerima pembayaran untuk beberapa pekerjaan tambahan. Nilainya selalu di bawah batas yang mengharuskan persetujuan langsung Ibu.”
Maya menyipitkan mata.
“Siapa yang menyetujui?”
Arman mengganti tampilan layar.
Dua nama muncul.
Raka Prasetyo, kepala pengadaan.
Dan Hendra Salim.
Maya menatap nama suaminya.
“Kenapa nama Hendra bisa ada di sistem perusahaan?”
Arman menelan ludah.
“Itu yang sedang kami telusuri.”
Dewi menyodorkan satu lembar dokumen.
“Tiga bulan setelah kalian menikah, ada surat penunjukan konsultan strategis eksternal untuk Hendra.”
Maya mengambil kertas itu.
Tanda tangannya sendiri tercetak di bagian bawah.
Namun Maya langsung tahu ada yang salah.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
Dewi mengangguk.
“Kami juga curiga tanda tangannya dipindai.”
Maya merasa dadanya panas.
Bukan karena jumlah uangnya.
Bukan juga karena pemalsuan itu.
Yang membuatnya marah adalah kenyataan bahwa semua ini dilakukan oleh seorang laki-laki yang setiap malam tidur di sampingnya.
Laki-laki yang berkali-kali berkata bahwa ia malu karena belum bisa berkontribusi banyak dalam rumah tangga.
Laki-laki yang beberapa kali bahkan memeluk Maya sambil berkata, “Terima kasih sudah sabar dengan keadaanku.”
Ternyata selama Maya merasa kasihan, Hendra sedang mencuri darinya.
Arman melanjutkan.
“Setelah PT Arunika menerima pembayaran, sebagian dana ditransfer ke dua perusahaan lain. Dari sana, uang masuk ke rekening pribadi Pak Hendra.”
“Raka?”
“Dia menerima komisi juga.”
“Berapa?”
“Sekitar Rp640 juta.”
Ruangan menjadi sunyi.
Maya menutup dokumen.
“Bekukan seluruh akses Raka ke sistem.”
“Baik.”
“Jangan hubungi Hendra.”

Dewi menatap Maya.
“Untuk sekarang, kita sebaiknya membuat laporan resmi setelah bukti digital diamankan. Kalau dia tahu terlalu cepat, dia bisa menghilangkan dokumen.”
Maya mengangguk.
Ia tidak terburu-buru.
Selama bertahun-tahun membangun perusahaan, ia belajar bahwa keputusan paling mahal biasanya dibuat saat seseorang sedang marah.
Maya tidak ingin marah.
Ia ingin selesai.
Menjelang siang, ponselnya dipenuhi pesan dari Hendra.
“Kartu Clarissa kenapa tidak bisa dipakai?”
“Pembayaran apartemen Bandung juga gagal.”
“Maya, ini sudah keterlaluan.”
Lima menit kemudian masuk pesan lain.
“Kita bicara malam ini.”
Maya hanya membaca.
Tidak membalas.
Namun sekitar pukul dua siang, sebuah telepon dari bank membuat situasi berubah.
“Bu Maya, kami ingin melakukan konfirmasi terkait permintaan pencairan deposito atas nama Ibu.”
Maya langsung tegak.
“Deposito apa?”
Petugas bank menyebutkan nomor rekening.
Nilainya Rp12 miliar.
“Siapa yang mengajukan?”
“Permintaan diajukan melalui surat kuasa.”
“Nama penerima kuasa?”
Ada jeda.
“Hendra Salim.”
Maya memejamkan mata.
Rupanya pencurian dari perusahaan belum cukup.
“Jangan proses apa pun.”
“Baik, Bu.”
“Blokir semua permohonan yang menggunakan surat kuasa atas nama Hendra sampai saya datang langsung.”
Setelah menutup telepon, Maya menelepon Dewi.
“Ada lagi.”
Kali ini Dewi terdiam cukup lama.
“Tampaknya dia mulai panik.”
“Kenapa sekarang?”
“Mungkin karena biaya hidupnya mendadak berhenti.”
Maya memandang gedung-gedung Jakarta dari balik kaca.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi menyakitkan.
Biaya hidupnya.
Selama delapan bulan, Maya bukan hanya menjadi istri Hendra.
Ia adalah sistem keuangan yang membuat Hendra terlihat jauh lebih kaya daripada kenyataannya.
Rumah mewah.
Mobil.
Restoran.
Liburan.
Keanggotaan klub.
Jam tangan.
Sekolah anak.
Semua membuat Hendra tampak seperti laki-laki mapan.
Padahal sebagian besar kemewahan itu berdiri di atas rekening Maya.
Malam harinya, ketika Maya pulang, Hendra sudah menunggu di ruang keluarga.
Clarissa duduk di sofa sambil menangis.
Di atas meja ada beberapa kartu kredit.
Semuanya sudah tidak aktif.
“Kita perlu bicara,” kata Hendra.
Maya meletakkan tasnya.
“Silakan.”
“Kamu sudah membatalkan uang kuliah Clarissa?”
“Pembayaran semester berikutnya.”
“Kamu sadar kuliahnya bisa terganggu?”
“Karena itu sekarang waktunya ayahnya mengambil tanggung jawab.”
Hendra berdiri.
“Aku suamimu.”
“Benar.”
“Berarti kita keluarga.”
Maya menatapnya.
“Semalam kamu yang menjelaskan batas keluarga itu.”
Hendra mengusap wajahnya kasar.
“Jangan memelintir kata-kataku.”
Clarissa tiba-tiba berkata, “Aku minta maaf soal semalam.”
Maya menoleh.
Permintaan maaf itu terdengar terlalu cepat dan terlalu kosong.
“Minta maaf karena merasa bersalah atau karena kartumu diblokir?”
Clarissa terdiam.
Hendra membentak.
“Cukup, Maya!”
Maya tidak bergerak.
Suara Hendra kembali meninggi.
“Kamu pikir karena kamu punya uang, kamu bisa mengendalikan semua orang?”
“Tidak.”
Maya membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar fotokopi.
“Aku hanya ingin tahu kenapa kamu mencoba mencairkan deposito Rp12 miliar milikku siang tadi.”
Wajah Hendra seketika kehilangan warna.
Clarissa menatap ayahnya.
“Papa?”
Hendra membuka mulut.
Tidak ada suara keluar.
Maya meletakkan dokumen lain.
“Kemudian mungkin kamu bisa menjelaskan PT Arunika Digital Solusi.”
Kali ini Hendra benar-benar membeku.
Maya tahu.
Ia tidak perlu mendengar pengakuan apa pun lagi.
Reaksi itu sudah cukup.
“Aku bisa jelaskan,” katanya akhirnya.
“Aku yakin.”
“Ini bukan seperti yang kamu pikir.”
Maya nyaris tersenyum.
Kalimat paling klasik dari orang yang tertangkap.
Hendra duduk perlahan.
“Aku punya utang sebelum menikah denganmu.”
“Aku tahu. Rp7,8 miliar.”
Hendra menatapnya tajam.
“Kamu menggeledah ruang kerjaku?”
“Aku mencari polis asuransi.”
“Maya, dengarkan. Aku terdesak.”
“Jadi kamu memalsukan tanda tanganku?”
“Aku cuma butuh waktu.”
“Dan Rp3,2 miliar dari perusahaan?”
Hendra tidak menjawab.
Clarissa mulai menangis lagi.
“Papa, sebenarnya apa yang terjadi?”
Hendra menoleh kepada putrinya.
“Masuk kamar.”
“Aku tidak mau.”
“Clarissa!”
Maya memandang gadis itu.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Maya melihat sesuatu yang berbeda dari wajah Clarissa.
Bukan kesombongan.
Ketakutan.
Maya tiba-tiba memahami sesuatu.
Clarissa mungkin menyebalkan.
Manja.
Tidak tahu berterima kasih.
Namun selama ini ia juga hidup dalam cerita yang dibangun ayahnya.
Hendra selalu mengaku kepada Clarissa bahwa rumah Pondok Indah adalah miliknya.
Bahwa mobil, kartu, dan seluruh fasilitas berasal dari keberhasilannya.
Maya hanya “istri baru Papa yang kebetulan punya bisnis”.
Clarissa tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya membayar semuanya.
Maya menatap Hendra.
“Kamu pernah memberi tahu Clarissa siapa yang membayar kuliahnya?”
Hendra tidak menjawab.
Maya menoleh kepada Clarissa.
“Biaya kuliahmu sejak awal aku yang bayar.”
Clarissa terdiam.
“BMW itu juga.”
Wajah gadis itu berubah.
“Kartu kreditmu.”
Maya melanjutkan.
“Apartemenmu. Liburan Bali. Bahkan uang bulanan yang Papa kirim ke rekeningmu setiap awal bulan berasal dari rekening rumah tangga yang aku isi.”
Clarissa menoleh perlahan kepada ayahnya.
“Papa bilang itu uang Papa.”
Hendra berdiri.
“Maya, jangan libatkan dia.”
“Kenapa? Karena kebenaran membuatmu tidak terlihat seperti pahlawan lagi?”
Hendra mengepalkan tangan.
“Kamu tidak mengerti tekanan yang aku alami.”
“Benar. Aku tidak mengerti bagaimana rasanya mencuri dari istri sendiri sambil membiarkan dia membayar makan malam.”
Hendra mendadak kehilangan kendali.
Ia meraih dokumen di atas meja dan merobeknya.
“Kamu tidak bisa menghancurkanku begini saja!”
Maya tetap tenang.
“Itu fotokopi.”
Hendra berhenti.
Maya menatap jam dinding.
Pukul 21.18.
“Bukti aslinya sudah diamankan.”
Wajah Hendra berubah.
“Dewi juga sudah menyiapkan laporan.”
“Laporan?”
“Pemalsuan dokumen, penggelapan, dan dugaan penipuan.”
Clarissa menutup mulutnya.
Hendra menatap Maya seperti baru melihat orang asing.
“Kamu mau melaporkan suamimu sendiri?”
Maya menatapnya lama.
“Pria yang menjadi suamiku seharusnya bicara kepadaku ketika dia punya utang.”
Hendra diam.
“Pria yang menjadi suamiku seharusnya merasa malu ketika istrinya membayar semuanya.”
Maya menarik napas.
“Tapi pria yang berdiri di depanku justru menggunakan kepercayaanku sebagai akses untuk mencuri.”
Hendra mencoba mendekat.
“Maya, kita bisa selesaikan ini sebagai keluarga.”
Maya mundur satu langkah.
“Tidak.”
“Pikirkan reputasi perusahaanmu.”
“Aku sudah memikirkannya.”
“Kalau kasus ini keluar, media akan tahu suamimu terlibat.”
“Lebih baik mereka tahu aku menjadi korban daripada suatu hari investor tahu aku menutup pencurian demi menjaga pernikahan.”
Hendra terdiam.
Untuk pertama kalinya, Maya melihat kesadaran muncul di wajahnya.
Ia tidak lagi berhadapan dengan istri yang bisa dibujuk.
Ia sedang berhadapan dengan CEO yang selama bertahun-tahun membangun perusahaan dengan disiplin dan keberanian.
Malam itu Hendra diminta meninggalkan rumah.
Bukan dengan teriakan.
Bukan dengan adegan dramatis.
Maya hanya memanggil petugas keamanan kompleks dan meminta mereka mendampingi Hendra mengambil kebutuhan pribadinya.
Sebelum keluar, Hendra menatap Clarissa.
“Ayo.”
Clarissa tidak bergerak.
“Clarissa.”
Gadis itu menatap ayahnya dengan mata merah.
“Papa bohong sama aku.”
Hendra menarik napas kasar.
“Kita bicara di luar.”
“Rumah ini bukan punya Papa?”
Tidak ada jawaban.
“Mobil juga bukan?”
Hendra diam.
“Uang kuliahku juga bukan Papa yang bayar?”
“Clarissa, cukup.”
Gadis itu menggeleng.
Untuk pertama kalinya sejak Maya mengenalnya, Clarissa tampak benar-benar kecil.
Bukan gadis 19 tahun yang arogan.
Hanya seorang anak yang baru menyadari bahwa ayahnya membangun harga dirinya dari kebohongan.
Hendra akhirnya pergi sendirian.
Beberapa minggu berikutnya berjalan cepat.
Audit internal menemukan kerugian perusahaan lebih besar daripada perkiraan awal.
Raka, kepala pengadaan, mengaku bekerja sama dengan Hendra setelah dijanjikan bagian dari dana vendor.
PT Arunika ternyata dimiliki oleh teman lama Hendra melalui nominee.
Skema itu sengaja dibuat menggunakan nilai transaksi kecil agar tidak memicu pemeriksaan langsung.
Kasusnya masuk proses hukum.
Hendra berkali-kali meminta bertemu Maya.
Maya menolak.
Ia menyerahkan semuanya kepada pengacara.
Gugatan perceraian diajukan tidak sampai satu bulan kemudian.
Namun ada satu hal yang tidak Maya duga.
Clarissa tidak ikut ayahnya.
Ia memilih tinggal sementara bersama nenek dari pihak ibunya di Bandung.
Sebelum pergi, gadis itu datang menemui Maya di kantor.
Tanpa riasan.
Tanpa tas mewah.
Tanpa sikap angkuh yang selama ini selalu dibawanya.
“Aku mau mengembalikan sesuatu.”
Clarissa meletakkan sebuah kotak di meja.
Jam tangan mahal yang Maya berikan pada ulang tahunnya.
Maya menatap kotak itu.
“Kamu tidak perlu mengembalikannya.”
“Aku malu.”
“Kenapa?”
Clarissa menunduk.
“Karena selama ini aku pikir aku hebat karena Papa kaya. Aku bahkan merendahkan keluarga Tante.”
Maya terdiam.
Clarissa menarik napas.
“Aku minta maaf soal Ibu Ratna.”
Kali ini nada suaranya berbeda.
Tidak ada kartu yang diblokir.
Tidak ada BMW yang perlu dikembalikan.
Tidak ada yang sedang ia butuhkan.
Maya akhirnya percaya bahwa permintaan maaf itu sungguh-sungguh.
“Aku terima.”
Clarissa menatapnya.
“Biaya kuliahku… aku akan cari cara.”
Maya tidak langsung menjawab.
“Ayahmu masih punya kewajiban terhadapmu.”
“Aku tidak mau pakai uang dia.”
Maya bersandar pada kursinya.
“Jangan membuat keputusan karena marah.”
Clarissa tersenyum pahit.
“Aku belajar itu dari Tante.”
Maya menatapnya cukup lama.
Lalu ia membuka sebuah map.
“Aku tidak akan membayar gaya hidupmu lagi.”
Clarissa mengangguk.
“Tapi jika kamu benar-benar ingin menyelesaikan kuliah, ada program beasiswa di yayasan pendidikan milik perusahaan.”
Clarissa terkejut.
“Beasiswa?”
“Seleksinya terbuka. Tidak ada perlakuan khusus.”
“Kalau aku gagal?”
“Ya gagal.”
Untuk pertama kalinya, Clarissa tertawa kecil.
“Adil.”
Tiga bulan kemudian, Clarissa mengikuti seleksi.
Ia tidak mendapatkan beasiswa penuh.
Nilainya hanya cukup untuk bantuan pendidikan lima puluh persen.
Sisanya ia bayar dengan bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan desain di Bandung.
Aneh bagi Maya melihat gadis yang dulu menghabiskan belasan juta rupiah untuk makan dan belanja dalam satu akhir pekan kini mengirim pesan kepada Ibu Ratna untuk meminta resep nasi goreng agar bisa menghemat uang makan.
Namun perubahan terbesar justru terjadi enam bulan setelah malam ulang tahun itu.
Sidang perkara Hendra masih berjalan ketika Dewi datang ke kantor Maya membawa satu dokumen tambahan.
“Ada sesuatu yang mungkin ingin kamu lihat.”
Maya membaca berkas tersebut.
Itu adalah laporan investigasi transaksi.
Di bagian bawah terdapat satu nama perusahaan yang tidak asing.
PT Samudra Karya Sentosa.
Maya mengernyit.
“Ini perusahaan apa?”
“Perusahaan tempat ibumu dulu bekerja sebagai petugas kebersihan.”
Maya langsung menatap Dewi.
“Apa hubungannya?”
Dewi menggeser satu dokumen lagi.
“Dua puluh tahun lalu, perusahaan itu punya program bantuan pendidikan untuk anak pekerja berprestasi.”
Maya membaca pelan.
Nama penerima bantuan tercantum jelas.
Maya Sanjaya.
Ia terdiam.
Selama ini Maya selalu mengira komputer bekas pertama yang diberikan ibunya dibeli dari tabungan hasil membersihkan gedung.
Ternyata sebagian uangnya berasal dari bantuan pendidikan yang diam-diam diajukan Ibu Ratna.
Dewi tersenyum.
“Lucu ya. Semua ini bermula dari beberapa juta rupiah yang ibumu perjuangkan agar kamu bisa belajar komputer.”
Maya menatap dokumen itu sampai pandangannya buram.
Malamnya ia pulang ke rumah Ibu Ratna.
Rumah kecil yang kini jauh lebih nyaman daripada tempat mereka dulu tinggal, tetapi masih dipenuhi perabot sederhana yang disukai ibunya.
Maya meletakkan dokumen tersebut di meja.
“Ibu kenapa tidak pernah cerita?”
Ibu Ratna membaca sekilas, lalu tersenyum.
“Cerita apa?”
“Program beasiswa ini.”
“Oh, itu.”
Maya hampir tertawa.
“Bu, ini yang membantu aku punya komputer pertama.”
Ibu Ratna mengangguk.
“Ya.”
“Aku pikir Ibu membelinya dari tabungan.”
“Sebagian dari tabungan.”
“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”
Ibu Ratna menatap putrinya.
“Karena waktu itu yang penting kamu punya kesempatan.”
Maya merasakan air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya sejak semua masalah dengan Hendra dimulai, ia menangis.
Bukan karena kehilangan suami.
Bukan karena uang yang dicuri.
Melainkan karena akhirnya ia memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun Hendra hidup mewah menggunakan uang Maya lalu bertindak seolah dialah sumber dari semua kenyamanan itu.
Clarissa pernah mengira ayahnya yang membiayai hidupnya.
Orang-orang mungkin melihat Maya dan menganggap dialah satu-satunya orang yang membangun semua kekayaan itu.
Padahal jauh sebelum perusahaan, rumah besar, dan rekening bernilai miliaran ada, seorang perempuan yang bangun pukul tiga pagi telah membiayai awal dari semuanya dengan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang.
Pengorbanan.
Ibu Ratna menggenggam tangan Maya.
“Jadi sekarang sudah selesai?”
Maya mengusap air matanya.
“Hampir.”
“Masih sedih?”
Maya berpikir sejenak.
Lalu menggeleng.
“Tidak.”
Ia menatap ibunya dan tersenyum.
“Aku cuma baru sadar, Hendra memang benar soal satu hal malam itu.”
Ibu Ratna mengernyit.
“Apa?”
“Clarissa bukan anakku.”
Maya terdiam sebentar.
“Tapi ternyata menjadi keluarga tidak pernah ditentukan hanya oleh darah.”
Enam bulan kemudian, pada ulang tahun Ibu Ratna berikutnya, meja makan di rumah Maya kembali dipenuhi keluarga.
Dimas datang membawa kue.
Clarissa datang naik kereta dari Bandung dengan sebuah tas sederhana dan hadiah kecil yang dibungkus sendiri.
Ketika Ibu Ratna membuka hadiah itu, di dalamnya terdapat sepasang sepatu kerja yang nyaman.
Clarissa tersenyum malu.
“Katanya Tante Maya, dulu Nenek sering sakit kaki karena terlalu banyak berdiri.”
Ibu Ratna memeluknya.
Di ujung meja, Maya memperhatikan mereka.
Rumah itu lebih sepi tanpa Hendra.
Tidak ada cerita tentang bisnis besar yang sebenarnya tidak pernah ia miliki.
Tidak ada lagi kebohongan tentang siapa yang membayar apa.
Anehnya, rumah itu justru terasa lebih penuh.
Maya akhirnya memahami bahwa kemewahan bukanlah rumah besar, mobil mahal, atau kartu tanpa batas.
Kemewahan terbesar adalah duduk di meja makan tanpa harus bertanya apakah orang yang tersenyum di hadapanmu sedang memanfaatkan kepercayaanmu.
Dan pada malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya merasa benar-benar kaya.
