GADIS PENUH LUKA MENGHENTIKAN MOBIL TAIPAN DI TENGAH BADAI! “IBU TIRIKU MAU MENGURUNGKU!”

Hendra masih menggenggam liontin kompas itu ketika SUV memasuki jalan utama menuju Bogor.

Hujan belum mereda. Kilatan petir sesekali menerangi wajah Maya yang pucat di kursi belakang. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri, berusaha menahan gemetar, sementara Pak Maman beberapa kali memandang kaca spion dengan cemas.

“Pak, kita langsung ke rumah sakit?” tanyanya.

Hendra tidak segera menjawab.

Pikirannya dipenuhi satu nama.

Amara.

Dua puluh dua tahun dia mencari jawaban tentang adiknya. Polisi pernah menyebut kecelakaan. Keluarga menyebut kemungkinan bunuh diri. Beberapa orang bahkan menyuruhnya menerima bahwa jasad Amara mungkin terseret sungai dan tidak pernah ditemukan.

Namun malam ini seorang gadis berusia 22 tahun muncul membawa liontin milik Amara.

Dan Herman Santoso, pria yang selama bertahun-tahun tidak pernah masuk dalam daftar orang yang dicurigainya, ternyata mengetahui kebiasaannya mengunjungi makam kosong Amara.

“Ke rumah sakit,” akhirnya Hendra berkata. “Tapi bukan rumah sakit terdekat. Ke Rumah Sakit Pratama di Bogor.”

Pak Maman mengangguk.

Maya mengangkat kepala.

“Itu rumah sakit milik Anda?”

“Milik yayasan keluarga saya.”

Wajah Maya kembali tegang.

“Kalau Siska tahu aku di sana…”

“Dia tidak akan bisa masuk tanpa izin saya.”

Maya terdiam.

Hendra memperhatikan lebam di wajahnya.

“Sudah berapa lama dia melakukan ini?”

Maya menunduk.

“Sejak Ayah meninggal.”

“Memukulmu?”

“Awalnya tidak.”

Suaranya lirih.

“Dia mulai mengambil semua dokumen Ayah. Akta rumah, rekening, surat perusahaan. Lalu dia melarangku keluar sendiri. Katanya aku sedang depresi.”

Maya menarik napas.

“Dua minggu lalu aku menemukan kunci ruang kerja Ayah. Di sana ada sebuah kotak besi. Setelah kubuka, aku menemukan ponsel ini, liontin, dan surat.”

“Surat apa?”

Maya menatapnya.

“Siska mengambilnya sebelum aku sempat membaca semuanya.”

Hendra mengerutkan kening.

“Bagian yang sempat kamu baca?”

Maya mengingat-ingat.

“Hanya satu kalimat.”

“Apa?”

“Kalau Maya sudah berusia dua puluh dua tahun, kebenaran tidak boleh dikubur lebih lama.”

Hendra merasakan tengkuknya dingin.

Mereka tiba di rumah sakit hampir empat puluh menit kemudian.

Dokter menemukan memar di punggung, luka lecet di pergelangan tangan, serta bekas ikatan yang masih baru. Tidak ada cedera yang mengancam nyawa, tetapi kondisi Maya cukup untuk membantah cerita bahwa gadis itu sekadar melukai dirinya sendiri.

Hendra meminta semua luka didokumentasikan.

Kemudian dia menelepon seseorang.

“Raka, datang ke rumah sakit sekarang.”

Di ujung telepon terdengar suara mengantuk.

“Sekarang, Om?”

“Bawa laptop. Dan jangan beri tahu siapa pun.”

Satu jam kemudian, Raka Pratama, keponakan Hendra yang bekerja sebagai pengacara perusahaan, tiba.

Setelah mendengar cerita Maya, dia langsung serius.

“Kita harus lapor polisi.”

“Belum,” kata Hendra.

Raka menatapnya heran.

“Kenapa?”

“Karena Siska tadi bilang dia punya orang di kepolisian. Kita tidak tahu itu gertakan atau bukan.”

Hendra meletakkan ponsel tua Herman di meja.

“Cari semua file yang pernah dihapus dari benda ini.”

Raka menghubungkan ponsel ke laptop.

Hampir dua jam berlalu.

Menjelang pukul tiga pagi, sebuah folder tersembunyi berhasil dipulihkan.

Di dalamnya ada belasan foto lama, beberapa dokumen, dan tiga rekaman video.

Hendra membuka foto pertama.

Tangannya langsung berhenti.

Amara.

Adiknya berdiri di depan sebuah rumah kecil sambil menggendong bayi.

Foto itu bertanggal dua puluh dua tahun lalu.

Maya berdiri di belakang Hendra.

“Siapa wanita itu?”

Hendra tidak mampu langsung menjawab.

“Itu Amara.”

Maya mendekat.

Wajahnya kehilangan warna.

“Adik Anda?”

Hendra mengangguk.

Mereka membuka foto berikutnya.

Amara terlihat terbaring di tempat tidur. Wajahnya sangat pucat. Di sampingnya berdiri Herman Santoso yang masih muda.

Foto ketiga memperlihatkan Herman menggendong bayi yang sama.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Jaga Maya. Jangan biarkan mereka menemukannya.

Maya mundur selangkah.

“Tidak…”

Hendra menatap gadis itu.

Raka segera membuka salah satu dokumen.

Sebuah surat keterangan kelahiran lama.

Nama ibu tercantum jelas.

Amara Pratama.

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Maya menutup mulutnya.

Air matanya jatuh tanpa suara.

“Jadi… dia ibuku?”

Hendra tidak mampu menahan matanya sendiri yang mulai basah.

“Sepertinya begitu.”

“Tapi Ayah…”

“Herman mungkin membesarkanmu untuk melindungimu.”

Maya menatap foto Amara.

“Lalu siapa ayah kandungku?”

Pertanyaan itu membuat Hendra terdiam.

Raka membuka video pertama.

Herman muncul di layar.

Usianya tampak sekitar enam puluhan.

“Maya, kalau kamu melihat video ini, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri.”

Herman menarik napas berat.

“Dua puluh dua tahun lalu aku bekerja sebagai sopir pribadi keluarga Wiratama di Bandung. Malam Amara Pratama dinyatakan hilang, aku diperintahkan membawa mobilnya ke jurang.”

Hendra berdiri begitu cepat hingga kursinya terjatuh.

“Apa?”

Video terus berjalan.

“Amara tidak berada di dalam mobil.”

Hendra menahan napas.

“Dia masih hidup.”

Maya mulai menangis.

Herman menjelaskan bahwa Amara saat itu sedang hamil besar. Kehamilannya disembunyikan karena ayah bayi tersebut berasal dari keluarga berpengaruh yang menolak hubungan mereka.

Ketika Amara melahirkan, keluarga itu berusaha mengambil bayinya.

Herman membantu Amara melarikan diri.

Namun mereka ditemukan.

“Amara menyerahkan bayinya kepadaku,” kata Herman dalam rekaman. “Dia menyuruhku pergi dan tidak pernah kembali.”

Herman berhenti cukup lama.

“Aku membawa Maya ke Jakarta dan mengakuinya sebagai anakku.”

Hendra mengepalkan tangan.

“Siapa keluarga itu?” bisik Raka.

Video seolah menjawab pertanyaannya.

“Orang yang memerintahkan semuanya adalah Surya Wiratama.”

Hendra memejamkan mata.

Nama itu sangat dikenalnya.

Surya adalah kerabat jauh keluarga mereka.

Orang yang rumahnya ditempati Amara sebelum menghilang.

Orang yang dulu dipercaya Hendra menjaga adiknya selama satu malam.

Maya memandang layar dengan ngeri.

“Tapi apa hubungannya dengan Siska?”

Video kedua memberikan jawabannya.

Herman mengaku menikahi Siska ketika Maya berusia sebelas tahun. Awalnya Siska tidak mengetahui masa lalu Maya.

Sampai delapan bulan sebelum Herman meninggal.

Siska menemukan dokumen lama.

Kemudian dia mulai memeras Herman.

Yang membuat keadaan lebih buruk, Siska ternyata memiliki hubungan dengan keluarga Wiratama.

Dia adalah anak Surya dari pernikahan keduanya.

Maya berdiri terpaku.

“Berarti…”

“Dia tahu siapa kamu,” kata Hendra.

Raka membuka video terakhir.

Kali ini Herman terlihat jauh lebih lemah.

“Ada satu hal yang belum kukatakan.”

Dia menunjukkan dua liontin kompas.

“Liontin pertama milik Amara. Liontin kedua milik lelaki yang mencintainya.”

Hendra teringat liontin di leher Siska.

“Setelah Amara hilang, lelaki itu mencoba mencari tahu apa yang dilakukan keluarganya sendiri. Surya mengetahui hal tersebut dan membuatnya menghilang juga.”

Maya menatap Hendra.

“Siapa dia?”

Herman menyebut sebuah nama.

“Armand Wiratama.”

Hendra mengenal nama itu.

Pria yang pernah dilihatnya memakai liontin serupa.

Putra sulung Surya.

Maya terduduk.

“Jadi Armand…”

“Ayah kandungmu,” kata Hendra.

Belum sempat siapa pun berbicara lagi, telepon Raka berbunyi.

Petugas keamanan rumah sakit melaporkan seorang wanita datang bersama dua pria dan mengaku sebagai ibu Maya.

Siska.

“Jangan biarkan mereka naik,” kata Hendra.

Namun Maya tiba-tiba berdiri.

“Biarkan dia.”

Hendra menoleh tajam.

“Kamu tidak perlu menghadapinya.”

“Aku perlu.”

Beberapa menit kemudian Siska masuk didampingi dua polisi.

Dia telah mengganti pakaian dan tidak lagi membawa sabuk.

Wajahnya terlihat tenang.

“Maya.”

Dia membuka kedua tangan.

“Syukurlah kamu selamat. Ibu khawatir sekali.”

Maya tidak bergerak.

Siska menatap Hendra.

“Pak Hendra, saya menghargai bantuan Anda, tetapi anak saya memiliki masalah kejiwaan. Saya membawa polisi agar dia bisa pulang dengan aman.”

Salah satu polisi maju.

“Kami menerima laporan pencurian dan orang hilang.”

Raka berdiri.

“Saya pengacara Maya. Sebelum melakukan apa pun, silakan lihat laporan medisnya.”

Siska langsung memotong.

“Dia melukai dirinya sendiri.”

“Dan bekas ikatan di kedua pergelangan tangannya?”

Wajah Siska berubah sedikit.

Hendra mengeluarkan ponselnya.

“Bagaimana dengan rekaman kamera mobil saat Anda mengejarnya menggunakan sabuk?”

Kedua polisi saling berpandangan.

Siska mulai kehilangan ketenangan.

“Maya mencuri liontin keluarga saya.”

“Yang ini?”

Hendra mengangkat liontin Amara.

Siska terdiam.

Kemudian Hendra menunjuk lehernya.

“Dan yang Anda pakai?”

Tangan Siska refleks menutupi liontin kompas di dadanya.

Maya menatapnya.

“Itu milik Armand, bukan?”

Siska membeku.

Hendra melihat ketakutan yang nyata untuk pertama kalinya.

“Kamu sudah menonton videonya,” bisik Siska.

Maya mengangguk.

Siska mendadak tertawa kecil.

Tawa yang terdengar getir.

“Kalian pikir Herman pahlawan?”

Dia menatap Maya.

“Dia tidak menceritakan semuanya.”

“Apa maksudmu?”

Siska perlahan melepas liontin Armand.

“Ayahku memang monster. Tapi Herman bukan sekadar sopir yang kebetulan menolong Amara.”

Hendra menyipitkan mata.

Siska melanjutkan.

“Herman adalah orang yang mengemudikan mobil malam ketika Armand dibunuh.”

Maya terpukul.

“Bohong.”

“Dia melakukannya karena diperintah ayahku. Setelah itu rasa bersalah membuatnya membantu ibumu.”

Siska mengeluarkan sebuah amplop plastik dari tasnya.

“Ini surat yang kamu cari.”

Maya menatap amplop itu.

“Kenapa kamu menyimpannya?”

“Karena surat ini satu-satunya bukti bahwa ayahku memerintahkan pembunuhan Armand.”

“Kalau begitu kenapa kau mengurungku?”

Mata Siska berkaca-kaca.

“Karena aku takut.”

“Takut pada siapa?”

Siska menatap pintu.

“Pada orang yang selama ini membayar agar semuanya tetap terkubur.”

Tiba-tiba listrik rumah sakit padam.

Ruangan menjadi gelap.

Terdengar suara pecahan kaca dari koridor.

Kemudian sebuah letusan.

Semua orang refleks merunduk.

Beberapa detik kemudian lampu darurat menyala.

Salah satu polisi tergeletak di dekat pintu dengan luka di bahu.

Siska sudah tidak ada.

“Pak Maman!” teriak Hendra.

Mereka berlari keluar.

Di ujung koridor, Siska terlihat ditarik seorang pria menuju tangga darurat.

Petugas keamanan mengejar.

Pria itu akhirnya tertangkap di area parkir.

Siska ditemukan gemetar di dalam mobil.

Bukan sedang melarikan diri.

Dia sedang diculik.

Pemeriksaan berikutnya membongkar sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Hendra.

Pria tersebut bekerja untuk Surya Wiratama.

Surya masih hidup.

Selama dua puluh dua tahun, dia membayar sejumlah orang untuk memastikan kasus Amara tidak pernah dibuka kembali.

Surat yang dibawa Siska, rekaman Herman, data kelahiran Maya, serta rekaman kamera SUV akhirnya cukup untuk membuat penyelidikan resmi dimulai.

Tiga hari kemudian polisi menemukan lokasi yang disebut dalam surat Amara.

Sebuah vila tua milik keluarga Wiratama di luar Bandung.

Di halaman belakang vila terdapat dua makam tanpa nama.

Hendra datang ketika penggalian dilakukan.

Dia berdiri di bawah langit mendung sambil menggenggam tangan Maya.

Hasil pemeriksaan forensik membutuhkan waktu.

Makam pertama berisi jasad Armand.

Makam kedua bukan Amara.

Itu seorang perempuan lain.

Hendra menatap penyidik.

“Lalu Amara?”

Tidak ada yang tahu.

Sampai Raka menemukan satu kalimat di bagian paling bawah surat Amara.

Kalimat itu hampir tidak terbaca karena tintanya memudar.

Jika aku berhasil keluar dari Bandung, aku akan pergi ke tempat Ibu pernah mengajakku melihat laut.

Hendra langsung mengenali tempat tersebut.

Pangandaran.

Mereka pergi ke sana.

Bukan untuk mencari makam.

Melainkan mencari seorang perempuan bernama lain yang, menurut arsip sebuah klinik kecil, tiba dua puluh satu tahun lalu tanpa keluarga dan kemudian bekerja sebagai perawat.

Alamat terakhirnya membawa mereka ke sebuah rumah sederhana dekat pantai.

Maya berdiri di depan pagar dengan tangan gemetar.

Seorang perempuan berusia awal enam puluhan keluar membawa keranjang pakaian.

Rambutnya sudah dipenuhi uban.

Ada bekas luka panjang di pelipisnya.

Dia memandang Hendra.

Keranjang di tangannya jatuh.

“Hendra?”

Suara itu membuat lutut Hendra hampir kehilangan kekuatan.

Dua puluh dua tahun.

Dia telah menyiapkan dirinya untuk menemukan tulang-belulang adiknya.

Bukan ini.

“Amara…”

Perempuan itu menangis.

Hendra berlari memeluknya.

Maya berdiri beberapa langkah dari mereka, tidak mampu bergerak.

Amara akhirnya melihatnya.

Matanya turun ke liontin kompas di leher Maya.

Wajahnya berubah.

Dia berjalan perlahan.

“Siapa namamu?”

“Maya.”

Amara menutup mulut.

Air matanya mengalir.

“Maya…”

Dia menyentuh pipi gadis itu seolah takut sosok di depannya akan menghilang.

“Aku yang memberimu nama itu.”

Maya menangis.

“Kenapa Ibu tidak pernah mencariku?”

Pertanyaan itu menghancurkan senyum Amara.

“Aku mencari.”

Dia menunjukkan bekas luka di kepalanya.

Malam itu Amara berhasil melarikan diri, tetapi mengalami kecelakaan ketika menuju Jakarta. Dia kehilangan sebagian ingatan selama bertahun-tahun.

Ketika ingatannya mulai kembali, Surya menemukannya lebih dulu.

Dia mengancam bahwa jika Amara mencoba mencari Maya atau Hendra, Maya akan dibunuh.

“Aku memilih hidup jauh,” katanya sambil menangis. “Karena selama mereka mengawasiku, aku tahu mereka tidak sedang mencarimu.”

Maya memeluknya.

Untuk pertama kalinya setelah dua puluh dua tahun, tiga orang dari keluarga yang dipisahkan oleh kebohongan akhirnya berdiri bersama.

Beberapa bulan kemudian Surya Wiratama ditahan setelah penyelidikan mengungkap keterlibatannya dalam kematian Armand, pemalsuan bukti kecelakaan Amara, dan sejumlah kejahatan lain.

Siska juga diproses atas penganiayaan dan penyekapan Maya.

Namun kesaksiannya membantu membongkar jaringan yang selama puluhan tahun melindungi ayahnya.

Herman tidak pernah berubah menjadi pahlawan sempurna.

Dia pernah melakukan sesuatu yang mengerikan.

Tetapi dia menghabiskan sisa hidupnya melindungi seorang bayi yang seharusnya menjadi korban berikutnya.

Pada peringatan hilangnya Amara tahun berikutnya, Hendra kembali ke makam kosong yang selama dua puluh dua tahun selalu dikunjunginya sendirian.

Kali ini dia tidak membawa bunga.

Amara berdiri di sebelah kirinya.

Maya di sebelah kanannya.

Hendra menatap batu nisan yang hanya bertuliskan nama adiknya.

“Kita bongkar saja,” kata Amara sambil tersenyum.

Hendra tertawa kecil.

“Dua puluh dua tahun aku bicara sendirian di sini. Ternyata orangnya hidup nyaman dekat pantai.”

Amara menyikut lengannya.

Maya tertawa di antara air matanya.

Sebelum pergi, Hendra menyerahkan liontin kompas kepada Amara.

Namun Amara menutup kembali telapak tangannya.

“Berikan kepada Maya.”

“Ini milikmu.”

Amara menggeleng.

“Dulu Ayah memberikannya kepadaku dan bilang kompas selalu menunjukkan jalan pulang.”

Dia menatap Maya.

“Ternyata aku salah.”

Maya terdiam.

Amara tersenyum.

“Kompas itu bukan membawa pemiliknya pulang.”

Dia memasangkan liontin tersebut ke leher putrinya.

“Dia membawa keluarga kita kembali satu sama lain.”

Mereka meninggalkan makam kosong itu bersama-sama.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua puluh dua tahun, Hendra tidak menoleh ke belakang.

Sebab akhirnya dia mengerti.

Ada kehilangan yang tidak selesai ketika seseorang ditemukan.

Ada luka yang tidak sembuh hanya karena kebenaran terbongkar.

Namun terkadang, sebuah rahasia yang dikubur terlalu lama akan menemukan jalannya sendiri menuju cahaya.

Bahkan jika harus menunggu dua puluh dua tahun.

Bahkan jika harus melewati badai.

Dan bahkan jika semuanya harus dimulai dari seorang gadis penuh luka yang berdiri di tengah jalan, menghentikan sebuah mobil yang sebenarnya sudah ditakdirkan untuk berhenti di sana malam itu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang