AYAH TIRINYA MEMAKSANYA MENIKAH DENGAN GELANDANGAN DEMI MEREBUT WARISAN…

“Dan orang yang memberi perintah itu… ada di ruangan ini.”

Kalimat itu menggantung di udara seperti pisau.

Tak seorang pun bergerak.

Kirana bahkan bisa mendengar suara napasnya sendiri.

Di barisan depan, wajah Hendra yang semula penuh kemenangan kini berubah kaku. Tangannya mencengkeram sandaran kursi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Jangan dengarkan orang gila itu!” bentaknya. “Dia gelandangan yang dibayar untuk membuat kekacauan!”

Pria di samping Kirana justru tersenyum tipis.

“Menarik. Delapan bulan lalu Anda sendiri yang memerintahkan orang Anda mencari gelandangan tanpa keluarga, tanpa pekerjaan tetap, dan tanpa identitas yang mudah dilacak.”

Ia menoleh kepada para wartawan.

“Karena menurut rencana Hendra Wijaya, setelah menikah dengan Kirana, pria itu akan menghilang.”

Ruangan kembali gaduh.

Kirana menatap pria itu dengan jantung berdebar keras.

“Menghilang?”

Pria itu mengangguk.

“Pernikahan ini bukan hanya untuk mempermalukanmu.”

Tatapannya melembut saat bertemu mata Kirana.

“Ini langkah kedua untuk merebut seluruh warisan keluargamu.”

Hendra langsung menyela.

“Cukup!”

Ia berbalik ke arah dua petugas keamanan yang berdiri dekat pintu.

“Keluarkan dia sekarang!”

Namun tidak satu pun bergerak.

Justru salah satu dari mereka mengeluarkan kartu identitas dari balik jas.

Beberapa detik kemudian, pintu samping terbuka.

Enam orang berpakaian sipil masuk bersama dua petugas kepolisian.

Wajah Hendra berubah semakin pucat.

Pria yang selama ini diperkenalkan sebagai Elias mengambil mikrofon.

“Nama saya Adrian Mahesa.”

Beberapa orang di antara tamu langsung saling berbisik.

Nama itu rupanya tidak asing.

Seorang wartawan senior berdiri dari kursinya.

“Adrian Mahesa? Mantan penyidik forensik kepolisian?”

Adrian mengangguk.

“Sekarang saya bekerja sebagai investigator independen.”

Kirana terpaku.

Hendra tertawa keras, tetapi suaranya terdengar dipaksakan.

“Investigator? Siapa yang menyewamu?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia mengeluarkan sebuah amplop tua dari saku rompinya.

“Baskoro Larasati.”

Kirana merasa dunia di sekelilingnya berhenti.

“Ayah?”

Adrian menatapnya.

“Tiga minggu sebelum meninggal, ayahmu menghubungi saya.”

Kirana menggeleng pelan.

“Itu tidak mungkin.”

“Ayahmu mulai curiga ada manipulasi keuangan di Nusantara Medical Group. Ada dana operasional yang dialihkan ke perusahaan cangkang, kontrak fiktif, serta pembelian alat medis dengan harga tiga kali lipat dari nilai pasar.”

Adrian menatap Hendra.

“Semua jalurnya mengarah pada satu orang.”

Hendra mendengus.

“Fitnah.”

Adrian mengangguk kecil ke arah layar.

Layar proyektor berganti menampilkan puluhan dokumen transaksi.

Nama beberapa perusahaan muncul.

PT Satria Kencana Abadi.

PT Widya Medika Prima.

PT Sentosa Lintas Global.

Sekilas terlihat seperti perusahaan berbeda.

Namun di bagian bawah dokumen terdapat satu kesamaan.

Semua rekening penerima akhirnya mengalir ke sebuah perusahaan investasi di Singapura.

Pemilik manfaat akhirnya tertera jelas.

Hendra Wijaya.

Suara kamera wartawan terdengar bertubi-tubi.

Kirana memandang Hendra dengan campuran jijik dan tidak percaya.

“Kamu mencuri uang perusahaan Ayah?”

Hendra mengangkat dagu.

“Kamu tidak tahu apa-apa tentang bisnis.”

“Lebih dari seratus delapan puluh miliar rupiah,” jawab Adrian.

Seluruh ruangan terdiam lagi.

“Dan ketika Baskoro mengetahui aliran dana itu, dia berencana melaporkan Hendra serta mencopotnya dari seluruh posisi perusahaan.”

Adrian memasukkan flashdisk ke laptop yang tersambung dengan proyektor.

Sebuah rekaman suara terdengar.

Mula-mula penuh gangguan.

Kemudian suara seorang pria muncul.

Kirana mengenal suara itu bahkan sebelum kalimat pertama selesai.

Hendra.

“Pastikan besok pagi mobilnya masuk bengkel seperti biasa.”

Suara lain menjawab.

“Kalau sampai ketahuan?”

“Tidak akan. Potong selang remnya sedikit saja. Di kecepatan tinggi, tekanannya akan hilang.”

Beberapa tamu menjerit kecil.

Rekaman berlanjut.

“Setelah itu uangmu saya transfer.”

Lalu hening.

Kirana tidak sadar air matanya sudah jatuh.

Dua tahun.

Selama dua tahun ia menerima bahwa kematian ayahnya adalah kecelakaan.

Ia berkali-kali menyalahkan jalan licin, kelelahan, bahkan nasib buruk.

Padahal pria yang setiap hari duduk di meja makan bersamanya mungkin telah merencanakan semuanya.

Kirana menatap Hendra.

“Kamu membunuh Ayah.”

Hendra tidak menjawab.

Ia justru melihat ke arah pintu, seolah menghitung peluang untuk melarikan diri.

Namun para petugas sudah berdiri di sana.

Adrian melanjutkan.

“Rekaman itu belum semuanya.”

Sebuah video baru muncul di layar.

Gambarnya berasal dari kamera tersembunyi.

Kirana melihat sebuah ruangan remang-remang seperti gudang.

Hendra duduk berhadapan dengan seorang pria yang tubuhnya kurus dan wajahnya dipenuhi bekas luka.

“Aku sudah lakukan sesuai perintah,” kata pria itu.

Hendra meletakkan amplop di atas meja.

“Lalu kenapa polisi menemukan indikasi masalah pada rem?”

“Mereka belum tahu penyebabnya.”

“Pastikan mereka tidak pernah tahu.”

Video berhenti.

Hendra tiba-tiba bertepuk tangan perlahan.

Senyumnya kembali muncul.

Namun kini tampak menyeramkan.

“Hebat.”

Ia memandang Adrian.

“Kamu menyiapkan pertunjukan yang bagus.”

Kemudian tatapannya beralih kepada Kirana.

“Tapi semua itu tetap tidak mengubah apa pun.”

Kirana mengernyit.

Hendra merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar kertas.

“Wasiat ayahmu sah.”

Ia mengangkatnya.

“Kalau kamu tidak menikah sebelum ulang tahunmu, aku menjadi wali aset keluarga.”

Adrian menjawab tenang.

“Benar.”

Hendra tersenyum puas.

“Dan pernikahan hari ini belum terjadi.”

Ia melihat jam tangannya.

“Sembilan hari lagi kamu berusia dua puluh enam tahun. Kita lihat apakah ada laki-laki lain yang cukup bodoh menikahimu setelah skandal ini.”

Beberapa orang memandang Kirana dengan cemas.

Tetapi Adrian justru tertawa pelan.

Hendra mengernyit.

“Apa yang lucu?”

“Karena sejak awal Anda terlalu yakin bahwa surat wasiat itu asli.”

Hendra membeku.

Kirana menoleh cepat.

“Apa?”

Adrian mengambil dokumen lain.

“Dokumen yang selama ini disimpan Hendra bukan surat wasiat terakhir Baskoro.”

Ruangan langsung riuh.

Adrian berjalan ke arah Kirana lalu menyerahkan sebuah map berwarna cokelat tua.

Kirana membukanya dengan tangan gemetar.

Di dalamnya terdapat surat wasiat bertanggal empat hari sebelum kecelakaan ayahnya.

Lebih baru daripada dokumen yang selama ini dipakai Hendra.

Adrian menjelaskan.

“Setelah menyadari ada ancaman terhadap dirinya, Baskoro mengubah wasiat secara diam-diam di hadapan notaris lain.”

Hendra langsung berteriak.

“Palsu!”

“Notarisnya masih hidup. Dua saksi juga masih hidup. Semua sudah diperiksa.”

Adrian menatap Hendra.

“Dan surat wasiat ini telah didaftarkan secara resmi.”

Kirana membaca klausul demi klausul.

Tidak ada syarat menikah sebelum usia dua puluh enam tahun.

Tidak ada hak pengelolaan sepuluh tahun untuk wali keluarga.

Sebaliknya, ada satu kalimat yang membuat Kirana hampir tak sanggup berdiri.

Jika terjadi sesuatu terhadap dirinya, seluruh hak pengelolaan utama diberikan kepada Kirana Larasati tanpa syarat, sementara Hendra Wijaya dilarang memiliki kendali langsung maupun tidak langsung terhadap aset keluarga.

Air mata Kirana kembali jatuh.

“Ayah sudah tahu.”

Adrian mengangguk.

“Dia curiga.”

“Lalu kenapa surat ini tidak pernah muncul?”

Pertanyaan itu justru membuat ekspresi Adrian berubah.

Ia menatap salah seorang tamu di sisi kanan ruangan.

Seorang pria berusia sekitar enam puluhan perlahan berdiri.

Kirana mengenalnya.

Surya Pranoto.

Pengacara keluarga yang sudah bekerja bersama ayahnya hampir dua puluh tahun.

Wajah Kirana langsung berubah.

“Pak Surya?”

Pria tua itu menundukkan kepala.

Adrian berkata, “Surat wasiat terakhir diserahkan Baskoro kepada Pak Surya untuk disimpan.”

Kirana merasa dadanya sesak.

“Kenapa Anda tidak memberikannya kepada saya?”

Surya menutup mata sejenak.

“Karena saya takut.”

“Takut kepada siapa?”

Surya menatap Hendra.

“Hendra mengetahui dokumen itu ada.”

Ruangan langsung bergolak.

Surya melanjutkan dengan suara gemetar.

“Dua hari setelah Pak Baskoro meninggal, dia datang ke rumah saya.”

Hendra berteriak, “Diam!”

Namun Surya tidak berhenti.

“Dia mengancam akan mencelakai istri dan anak saya. Saya menyerahkan salinannya. Saya pikir dia sudah menghancurkan dokumen asli.”

Surya menarik napas panjang.

“Tapi sebelum meninggal, Pak Baskoro meminta saya menyiapkan satu salinan lain dan menyimpannya di safe deposit box atas nama seseorang yang tidak diketahui Hendra.”

Kirana memandang Adrian.

“Siapa?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia menoleh ke arah barisan paling belakang.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan perlahan berdiri.

Kirana tidak mengenalnya.

Namun begitu melihat wajah perempuan itu, sesuatu dalam dirinya terasa aneh.

Bentuk mata.

Garis rahang.

Cara ia menahan tangis.

Semuanya terasa familiar.

Perempuan itu berjalan perlahan ke depan.

Hendra mendadak panik.

“Dia tidak boleh ada di sini!”

Kirana menatapnya.

“Siapa dia?”

Perempuan itu berhenti beberapa langkah di depan altar.

Namanya Ratih.

Selama dua puluh enam tahun, Kirana selalu diberitahu bahwa ibu kandungnya meninggal karena komplikasi persalinan.

Namun Ratih berdiri di sana dalam keadaan hidup.

“Kirana,” katanya lirih.

Suara itu pecah.

“Ibu minta maaf.”

Kirana mundur satu langkah.

“Apa?”

Ratih menangis.

“Aku ibumu.”

Kirana merasa seperti dihantam gelombang besar.

“Tidak.”

Ia menggeleng berkali-kali.

“Ibuku meninggal.”

“Tidak.”

Adrian menjawab perlahan.

“Itu kebohongan yang dipertahankan keluarga selama bertahun-tahun.”

Ratih mencoba mendekat, tetapi Kirana refleks mundur.

“Kenapa?”

Ratih menutup mulut menahan tangis.

“Karena dulu aku meninggalkan ayahmu.”

Ruangan hening.

Ratih menjelaskan bahwa ketika Kirana masih bayi, rumah tangganya dengan Baskoro retak. Ratih mengalami tekanan berat dari keluarga besar Baskoro yang menganggap latar belakangnya tidak pantas.

Ia pergi.

Baskoro, yang terluka dan marah, mengatakan kepada semua orang bahwa Ratih sudah meninggal.

Namun bertahun-tahun kemudian mereka diam-diam kembali berkomunikasi.

Tidak sebagai pasangan.

Melainkan sebagai dua orang tua yang sama-sama menyesali masa lalu.

Baskoro bahkan berencana mempertemukan Ratih dengan Kirana ketika keadaan perusahaan membaik.

Rencana itu tidak pernah terjadi.

“Safe deposit box itu atas nama saya,” kata Ratih.

“Pak Baskoro meminta saya tidak membukanya kecuali sesuatu terjadi padanya.”

Kirana menatapnya dengan mata penuh air.

“Kenapa baru sekarang?”

Ratih mengeluarkan sepucuk surat.

“Karena aku baru tahu dua bulan lalu bahwa kematiannya bukan kecelakaan.”

Adrian mengambil alih.

“Ratih yang menghubungi saya setelah menemukan dokumen tambahan dalam kotak itu.”

Hendra tiba-tiba berlari.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Ia mendorong kursi, menerobos tamu, lalu mencoba menuju pintu samping.

Namun dua petugas segera menangkapnya.

“Lepaskan saya!” teriak Hendra.

Ia meronta keras.

“Kalian tidak tahu siapa saya!”

Adrian menatapnya dingin.

“Justru sekarang semua orang tahu siapa Anda.”

Ketika borgol terpasang di pergelangan tangannya, Hendra masih berusaha mempertahankan wibawa.

Namun sebelum dibawa pergi, ia menatap Kirana.

“Kalau kamu pikir semuanya selesai, kamu salah.”

Kirana diam.

Hendra tersenyum tipis.

“Arka tidak ada di klinik.”

Wajah Kirana langsung pucat.

“Apa?”

“Aku memindahkannya tadi malam.”

Kirana hampir berlari ke arahnya.

“Kamu bawa dia ke mana?”

Hendra tertawa.

Namun Adrian justru mengeluarkan ponselnya.

“Rumah Sakit Jantung Harapan, Jakarta.”

Hendra terdiam.

Adrian menunjukkan layar.

Sebuah panggilan video sedang aktif.

Di sana terlihat Arka terbaring di kamar rumah sakit yang bersih.

Seorang dokter berdiri di sampingnya.

Arka tersenyum lemah saat melihat Kirana.

“Kak.”

Kirana langsung menangis.

“Arka.”

“Kakak cantik.”

Semua orang di ruangan itu diam.

Arka kemudian tertawa kecil.

“Cuma pengantinnya agak serem.”

Beberapa tamu spontan tertawa di tengah ketegangan.

Kirana bahkan ikut tertawa sambil menangis.

Adrian mematikan panggilan setelah memastikan kondisi Arka stabil.

“Hendra memang memindahkannya,” kata Adrian. “Tapi orang yang ia bayar untuk membawa Arka ternyata informan saya.”

Hendra akhirnya tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia dibawa keluar di tengah sorotan kamera.

Beberapa petinggi Nusantara Medical Group yang sebelumnya mendukung Hendra mulai meninggalkan kursi mereka dengan wajah pucat.

Mereka tahu penyelidikan belum selesai.

Kirana berdiri diam di depan altar.

Gaun pengantin yang tadi terasa seperti simbol penghinaan sekarang terasa hampir absurd.

Ia melihat Adrian.

“Jadi semua ini hanya penyamaran?”

Adrian mengangguk.

“Kami tahu Hendra sedang mencari seseorang dari jalanan untuk dijadikan suamimu. Saya masuk ke jaringan orang yang dia gunakan.”

“Dan kamu sengaja dipilih?”

“Tidak sepenuhnya.”

Adrian tersenyum tipis.

“Saya memastikan saya terlihat cukup menyedihkan untuk dipilih.”

Kirana menatap brewok palsu yang sebagian sudah terlepas.

Untuk pertama kalinya hari itu ia benar-benar tersenyum.

“Berhasil.”

Adrian tertawa kecil.

Penghulu yang sejak tadi berdiri kebingungan akhirnya berdeham.

“Kalau begitu… acara pernikahannya dibatalkan?”

Semua mata kembali menatap Kirana.

Ia memandang ruangan itu.

Para tamu.

Para wartawan.

Ibunya yang baru ia ketahui masih hidup.

Surya yang menundukkan kepala penuh rasa bersalah.

Dan Adrian yang berdiri di sebelahnya.

Kirana menarik napas panjang.

“Iya.”

Beberapa orang mulai beranjak.

Namun Kirana mengangkat mikrofon.

“Tapi sebelum semua pulang, saya ingin mengatakan satu hal.”

Ruangan kembali tenang.

“Dua tahun terakhir, banyak orang menganggap saya hanya putri Baskoro Larasati. Pewaris yang terlalu muda. Perempuan yang dianggap tidak sanggup memimpin tanpa bantuan seorang pria.”

Ia berhenti.

“Hari ini saya hampir dipaksa menikah hanya agar orang lain bisa mengambil hak saya.”

Tatapan Kirana menyapu seluruh ruangan.

“Tapi mulai hari ini, tidak ada seorang pun yang menentukan hidup saya lagi.”

Kamera wartawan menyala.

Kirana melepas cincin yang sejak pagi dipaksakan Hendra ke jarinya.

Ia meletakkannya di atas meja altar.

“Nusantara Medical Group akan diaudit secara penuh. Semua orang yang terlibat dalam penggelapan dana akan diserahkan kepada penegak hukum. Dan seluruh fasilitas kesehatan di bawah perusahaan kami akan menjalani evaluasi agar tidak pernah lagi menjadi alat untuk mengancam pasien atau keluarga mereka.”

Adrian memandangnya dengan kagum.

Sembilan hari kemudian, Kirana genap berusia dua puluh enam tahun.

Tidak ada pesta mewah.

Ia merayakannya di kamar rawat Arka bersama Ratih.

Hubungannya dengan ibunya belum langsung pulih.

Ada terlalu banyak tahun yang hilang.

Terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Namun untuk pertama kalinya, Kirana tidak ingin memaksakan waktu.

Beberapa luka memang tidak sembuh dalam satu percakapan.

Hendra akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Baskoro, penggelapan dana perusahaan, pemalsuan dokumen, serta pemerasan.

Penyelidikan juga menyeret dua direksi dan seorang mantan mekanik.

Sedangkan Adrian menghilang dari kehidupan Kirana hampir sebulan setelah kasus itu menjadi berita nasional.

Tidak ada pesan.

Tidak ada telepon.

Kirana mengira tugasnya sudah selesai.

Hingga suatu sore, ketika ia sedang meninjau renovasi sebuah rumah sakit milik perusahaan di Jakarta Selatan, seorang perawat menyerahkan amplop kepadanya.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya hanya terdapat secarik kertas.

Saya masih berutang satu jas yang tidak bau.

Kirana langsung tertawa.

Ia menoleh ke luar jendela.

Di seberang jalan, seorang pria berdiri di samping warung kopi kecil.

Rambutnya sudah pendek.

Tidak ada brewok.

Tidak ada jas lusuh.

Adrian mengangkat dua gelas kopi.

Kirana berjalan keluar.

“Kamu datang untuk meminta bayaran?”

Adrian menyerahkan satu gelas kepadanya.

“Sudah dibayar.”

“Dengan apa?”

Adrian memandang gedung rumah sakit di belakang Kirana.

“Dengan melihat perusahaan ayahmu kembali ke tangan orang yang seharusnya.”

Kirana diam beberapa saat.

“Adrian.”

“Ya?”

“Kalau waktu itu Hendra tidak tertangkap dan pernikahan benar-benar harus dilanjutkan… kamu akan bagaimana?”

Adrian tersenyum.

“Saya sudah menyiapkan surat pembatalan.”

Kirana memutar mata.

“Romantis sekali.”

“Saya investigator. Bukan penyair.”

Mereka tertawa.

Kirana mengira semua rahasia besar telah terbuka.

Namun sebelum pergi, Adrian menyerahkan satu benda lagi.

Sebuah foto lama.

Di foto itu terlihat Baskoro, Ratih, dan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun.

Kirana menatap foto itu lama.

“Siapa anak ini?”

Adrian tidak menjawab.

Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan Baskoro.

Untuk Kirana, jika suatu hari kamu menemukan ini, carilah kakakmu.

Tangan Kirana membeku.

Ia mengangkat wajah.

“Aku punya kakak?”

Adrian menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Dan berdasarkan dokumen yang ditemukan di safe deposit box, dia masih hidup.”

Kirana merasa jantungnya kembali berdegup kencang.

“Di mana?”

Adrian mengeluarkan sebuah kartu nama lalu meletakkannya di telapak tangannya.

Di sana tertulis nama seorang dokter spesialis jantung terkenal yang baru tiga bulan sebelumnya pindah dari Singapura ke Jakarta.

Kirana mengenal nama itu.

Bahkan Arka pernah menyebutnya.

Dr. Raka Pradipta.

Dokter yang dua minggu terakhir diam-diam membiayai seluruh perawatan Arka.

Kirana menatap kartu itu tanpa mampu berkata-kata.

Adrian menyeruput kopinya.

“Keluargamu ternyata menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang saya perkirakan.”

Kirana menatap ke arah rumah sakit, lalu pada kartu nama di tangannya.

Untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya, ia tidak merasa takut menghadapi sebuah rahasia.

Ia justru tersenyum.

Karena kini ia memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh warisan, kekuasaan, ataupun uang.

Kebenaran memang bisa menghancurkan hidup seseorang.

Namun terkadang, kebenaran juga satu-satunya jalan untuk mendapatkan hidup itu kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang