Taman mendadak sunyi.
Enam ratus tamu seakan lupa cara bernapas.
Rendra perlahan menoleh ke arah Siska.
Lalu ke arah Clarissa.
Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum kemenangan di wajah Clarissa benar-benar lenyap.
“Apa maksud rekaman itu?” suara Rendra terdengar rendah, tetapi cukup tajam untuk membuat orang-orang di dekat altar mundur beberapa langkah.
Clarissa menggeleng cepat.
“Itu palsu. Pasti editan. Perempuan itu sengaja datang untuk merusak pernikahan kita.”
Rendra tidak menjawab.
Tatapannya beralih kepada Anindya yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Seorang dokter yang kebetulan menjadi tamu undangan segera berlutut memeriksa kondisinya.
“Tekanan darahnya sangat rendah,” katanya. “Ada tanda dehidrasi berat. Lebam di wajahnya juga bukan luka baru satu hari. Dia harus dibawa ke rumah sakit.”
Rendra langsung melepas jasnya dan menyelimutkannya ke tubuh Anindya.
“Siapkan mobil.”
Clarissa berdiri menghadangnya.
“Kamu mau pergi sekarang?”
Rendra menatapnya.
“Ya.”
“Di hari pernikahan kita?”
“Pernikahan ini sudah selesai.”
Kalimat itu membuat wajah Clarissa memutih.
“Rendra, pikirkan reputasimu. Ada ratusan tamu di sini. Media juga ada.”
Rendra tersenyum tipis tanpa kehangatan.
“Sepuluh tahun lalu aku menghancurkan hidup seseorang karena terlalu peduli pada apa yang orang lain lihat.”
Ia melirik layar raksasa yang masih menampilkan potongan wajah Siska.
“Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali.”
Rendra mengangkat tubuh Anindya dan membawanya menuju mobil.
Rizal mengikuti dari belakang sambil menggenggam flashdisk.
Namun sebelum mereka pergi, suara Siska terdengar.
“Kalau kamu keluar dari tempat ini sekarang, jangan salahkan kami kalau perusahaanmu ikut hancur.”
Rendra berhenti.
Ia menoleh perlahan.
“Apa maksud Ibu?”
Siska tidak menjawab.
Tetapi ekspresi wajahnya sudah cukup.
Rendra mengenal tatapan seperti itu.
Tatapan seseorang yang masih menyimpan kartu terakhir.
Ia kemudian memandang Rizal.
“Salin semua isi flashdisk. Jangan buka apa pun lagi di sini. Kirim satu salinan ke pengacara dan satu lagi ke polisi.”
Mata Siska langsung membesar.
“Jangan!”
Terlambat.
Rizal sudah berlari menuju ruang operator.
Siska mencoba mengejarnya, tetapi beberapa tamu mulai menghalangi tanpa sadar.
Suasana berubah menjadi kekacauan.
Ada yang berbisik.
Ada yang merekam.
Ada pula yang buru-buru menelepon seseorang.
Kurang dari tiga puluh menit kemudian, video pernikahan yang gagal itu mulai menyebar ke media sosial.
Namun Rendra tidak peduli.
Di dalam mobil menuju rumah sakit, ia terus memandangi wajah Anindya.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun ia membenci perempuan ini.
Sepuluh tahun ia meyakinkan diri bahwa Anindya adalah pengkhianat.
Sekarang, untuk pertama kalinya, Rendra melihat luka-luka di tangan perempuan itu.
Ada bekas garis seperti ikatan pada pergelangan tangannya.
Ada luka lama di dekat siku.
Dan yang paling mengganggu, terdapat bekas tusukan kecil berulang di lengan.
Rendra mengepalkan tangan.
“Apa yang mereka lakukan padamu?”
Anindya tidak menjawab.
Ia masih tidak sadar.
Di rumah sakit swasta di Bandung, Anindya langsung dibawa ke ruang observasi.
Rendra menunggu di lorong bersama Rizal.
Sekitar satu jam kemudian, Rizal datang membawa laptop.
“Ren.”
“Ada apa?”
“Aku sudah lihat file lain di flashdisk.”
Rendra berdiri.
“Bukankah cuma ada satu video?”
“Folder utamanya cuma menampilkan satu video. Tapi ada file tersembunyi.”
Rizal membuka laptop.
Di dalam flashdisk terdapat puluhan dokumen hasil pindai, rekaman suara, foto kuitansi, salinan transaksi bank, serta daftar nama.
Rendra mengernyit.
“Apa ini?”
Rizal menarik napas panjang.
“Danubrata Foundation.”
Nama itu tidak asing.
Yayasan milik keluarga Clarissa dikenal publik sebagai lembaga sosial yang membantu perempuan korban kekerasan, menyediakan rumah aman, beasiswa, serta rehabilitasi.
Setiap tahun, yayasan itu menerima miliaran rupiah dari donatur dan program tanggung jawab sosial berbagai perusahaan.
Rendra sendiri pernah menyumbangkan uang dalam jumlah besar.
Namun dokumen dalam flashdisk memperlihatkan cerita berbeda.
Beberapa rumah aman yang tercatat menerima bantuan ternyata tidak pernah ada.
Nama korban digunakan untuk mencairkan dana.
Rekening dibuat menggunakan identitas orang lain.
Lebih mengejutkan lagi, ada bukti bahwa salah satu bangunan yayasan di pinggiran Bandung digunakan untuk menahan orang-orang yang dianggap bisa membahayakan keluarga Danubrata.
Rendra menatap layar tanpa berkedip.
“Orang-orang ini siapa?”
Rizal menggulir daftar nama.
Sebagian diberi tanda “selesai”.
Sebagian “dipindahkan”.
Sebagian lagi “masih aman”.
Nama Anindya berada di urutan ketujuh belas.
Statusnya tertulis.
“Pengawasan khusus. Jangan dilepas.”
Darah Rendra terasa dingin.
“Sepuluh tahun?”
Rizal mengangguk pelan.
“Aku rasa setelah kamu mengusir dia, mereka mengambil kesempatan.”
Rendra menutup mata.
Kenangan sepuluh tahun lalu muncul begitu jelas.
Anindya berdiri di depan gedung kampus sambil menangis.
“Rendra, dengarkan aku satu menit saja.”
Namun Rendra tidak mau.
“Jangan pernah datang lagi.”
“Foto itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Satpam!”
“Rendra, tolong.”
Saat itu, ia melihat Anindya ditarik menjauh.

Ia bahkan tidak menoleh lagi.
Rendra menundukkan kepala.
Tangannya bergetar.
“Aku menyerahkan dia kepada mereka.”
“Ren, kamu tidak tahu.”
“Tapi aku tidak mau tahu.”
Kalimat itu keluar dengan susah payah.
“Itu yang lebih buruk.”
Pintu ruang observasi terbuka.
Dokter keluar.
“Pasien sudah sadar.”
Rendra segera masuk.
Anindya terlihat jauh lebih rapuh di bawah cahaya putih rumah sakit.
Infus terpasang di tangannya.
Saat melihat Rendra, wajahnya tidak menunjukkan bahagia.
Tidak juga marah.
Hanya lelah.
Rendra berdiri beberapa langkah dari ranjang.
“Anindya.”
Anindya menatap langit-langit.
“Kamu akhirnya lihat videonya?”
“Iya.”
“Bagus.”
Rendra mendekat.
“Apa yang terjadi setelah aku mengusirmu?”
Anindya diam cukup lama.
“Aku mencoba pulang ke Sukabumi.”
Suaranya pelan.
“Di terminal, ada dua orang yang mengaku disuruh ayahku menjemputku. Aku percaya.”
Rendra menelan ludah.
“Mereka membawa aku ke rumah di daerah Cisarua.”
Anindya tersenyum pahit.
“Awalnya mereka bilang aku cuma perlu tinggal beberapa hari supaya berhenti mengganggumu.”
“Lalu?”
“Mereka mengambil ponselku. KTP-ku. Semua.”
Anindya menoleh kepadanya.
“Aku mencoba kabur tiga kali.”
Rendra melihat bekas luka di pergelangan tangannya.
“Setiap kali gagal?”
“Setiap kali aku dipindahkan.”
Rendra tidak sanggup mengatakan apa pun.
Anindya melanjutkan.
“Aku tidak ditahan di satu tempat selama sepuluh tahun. Mereka memindahkanku dari rumah aman ke fasilitas milik yayasan. Secara administrasi, aku dicatat sebagai perempuan dengan gangguan mental yang tidak punya keluarga.”
“Ayahmu?”
“Meninggal dua tahun setelah aku hilang.”
Mata Anindya mulai berkaca-kaca.
“Dia mencariku sampai akhir hidupnya.”
Rendra memalingkan wajah.
Rasa bersalah menghantam dadanya jauh lebih keras daripada amarah.
“Kenapa baru sekarang kamu bisa keluar?”
Anindya memandang flashdisk di tangan Rizal.
“Karena enam bulan lalu mereka membawa seorang staf akuntansi ke tempat aku ditahan.”
“Siapa?”
“Namanya Bima.”
Rizal langsung melihat daftar dalam laptop.
“Ada. Bima Saputra.”
Anindya mengangguk.
“Dia bekerja untuk Danubrata Foundation. Dia menemukan transaksi palsu dan berencana melapor.”
“Lalu mereka menangkapnya?”
“Iya.”
Anindya menarik napas.
“Bima yang mengumpulkan hampir semua dokumen itu. Dia berhasil mencuri data dari server internal sebelum ditahan.”
“Di mana dia sekarang?” tanya Rendra.
Anindya menutup mata.
“Dia tidak berhasil keluar.”
Ruangan menjadi hening.
“Apa maksudmu?”
Anindya membuka mata kembali.
“Tiga minggu lalu dia dibawa pergi malam-malam. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi.”
Rizal segera berdiri.
“Aku hubungi polisi.”
Namun Anindya tiba-tiba meraih lengannya.
“Jangan polisi biasa.”
Rizal terdiam.
Anindya berbisik.
“Lihat daftar paling bawah.”
Rizal membuka dokumen yang dimaksud.
Ada nama sejumlah pejabat, pengusaha, petugas keamanan, hingga aparat yang tercatat menerima transfer rutin.
Rendra merasa perutnya mual.
Jaringan itu jauh lebih besar daripada keluarga Clarissa.
“Bima bilang,” lanjut Anindya, “kalau aku berhasil keluar, aku harus memberikan flashdisk itu kepada seseorang yang punya cukup uang dan kekuatan untuk membuat kasus ini tidak bisa dikubur.”
Tatapannya bertemu dengan mata Rendra.
“Itu sebabnya aku datang kepadamu.”
Kalimat tersebut menusuk lebih dalam daripada apa pun.
Setelah semua yang Rendra lakukan, Anindya tetap memilihnya sebagai harapan terakhir.
“Aku tidak pantas kamu percaya.”
“Aku tidak percaya padamu,” jawab Anindya datar.
Rendra terpaku.
“Aku percaya pada rasa bersalahmu.”
Untuk pertama kalinya, Rizal hampir tertawa, tetapi ia menahannya.
Anindya melanjutkan.
“Orang bersalah biasanya punya dua pilihan. Kabur atau memperbaiki.”
Rendra mengangguk perlahan.
“Aku akan memperbaikinya.”
Sore itu, tim hukum perusahaan Rendra bergerak.
Alih-alih menyerahkan bukti ke kantor polisi setempat, mereka menghubungi lembaga penegak hukum di tingkat pusat dan jurnalis investigasi dari tiga media nasional secara bersamaan.
Semua dokumen dikirim dengan sistem pelepasan otomatis.
Jika ada satu pihak mencoba menghentikan proses, data akan langsung tersebar ke publik.
Kurang dari dua puluh empat jam kemudian, aparat menggerebek tiga fasilitas milik Danubrata Foundation.
Dua belas orang ditemukan hidup di sana.
Sebagian memiliki identitas yang sudah dinyatakan meninggal.
Sebagian tercatat sebagai pasien tanpa keluarga.
Bima tidak ditemukan.
Namun di salah satu lokasi, petugas menemukan ruang server lama dan rekaman CCTV.
Kasus itu meledak secara nasional.
Clarissa dan Siska mencoba meninggalkan Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Mereka ditangkap sebelum melewati pemeriksaan imigrasi.
Saat dibawa petugas, Clarissa masih berteriak bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.
Tetapi bukti berbeda.
Clarissa memang baru berusia awal dua puluhan saat fitnah terhadap Anindya dibuat.
Namun ia bukan sekadar anak yang mengikuti perintah ibunya.
Rekaman menunjukkan bahwa Clarissa-lah yang pertama kali mengusulkan menjauhkan Anindya dari Rendra.
Motifnya sederhana.
Ia telah mengincar Rendra sejak kuliah.
Keluarganya juga mengetahui bahwa suatu hari perusahaan teknologi yang dibangun Rendra akan sangat berharga.
Mereka benar.
Sepuluh tahun kemudian, nilai perusahaan itu mencapai puluhan triliun rupiah.
Dan keluarga Danubrata hampir berhasil masuk ke dalam kepemilikannya melalui pernikahan.
Dua minggu setelah penangkapan, Anindya keluar dari rumah sakit.
Rendra menunggunya di lobi.
Tidak membawa bunga.
Tidak membawa hadiah.
Ia tahu semua itu akan terasa seperti penghinaan.
“Aku sudah siapkan apartemen untukmu,” katanya. “Atas namamu sendiri. Tidak ada hubungan dengan aku.”
Anindya menatapnya lama.
“Aku tidak butuh belas kasihan.”
“Bukan belas kasihan.”
“Lalu?”
“Utang.”
Anindya menghela napas.
“Kalau kamu benar-benar merasa berutang, bantu orang-orang yang masih belum ditemukan.”
Rendra mengangguk.
“Itu sedang dilakukan.”
Ia ragu sejenak.
“Dan satu hal lagi.”
“Apa?”
“Ayahmu.”
Wajah Anindya berubah.
Rendra menyerahkan sebuah amplop.
“Aku menemukan makamnya.”
Tangan Anindya langsung gemetar.
“Di mana?”
“Sukabumi.”
Air matanya jatuh tanpa suara.
Rendra menunduk.
“Aku juga menemukan sesuatu dari rumah lamamu.”
Di dalam amplop terdapat foto tua.
Anindya bersama ayahnya.
Di belakang foto, ada tulisan tangan yang sudah pudar.
Kalau suatu hari Anin pulang, bilang Ayah tidak pernah percaya anak Ayah pergi karena kemauan sendiri.
Anindya menutup mulut.
Tubuhnya bergetar hebat.
Rendra berdiri diam.
Ia tidak berani menyentuhnya.
Beberapa bulan berlalu.
Kasus Danubrata Foundation menjadi salah satu skandal terbesar tahun itu.
Puluhan orang ditetapkan sebagai tersangka.
Jaringan pencucian uang terbongkar.
Sejumlah korban berhasil dipertemukan kembali dengan keluarga mereka.
Namun satu misteri masih tersisa.
Bima.
Tidak ada jejak tubuhnya.
Tidak ada data perjalanan.
Tidak ada transaksi setelah malam ia dibawa pergi.
Sampai suatu pagi, Rendra menerima paket tanpa nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada sebuah ponsel murah.
Ketika dinyalakan, muncul satu video.
Seorang pria kurus dengan wajah penuh luka terlihat duduk di ruangan gelap.
Itu Bima.
Rendra langsung memanggil Anindya.
Mereka menonton bersama.
Bima menatap kamera.
“Kalau kalian melihat video ini, berarti rencana pertama gagal, tapi Anindya mungkin berhasil.”
Anindya menahan napas.
Bima tersenyum kecil.
“Aku tidak punya banyak waktu. Jadi dengarkan baik-baik.”
Layar kemudian menampilkan satu dokumen.
Bukan milik keluarga Danubrata.
Bukan milik yayasan.
Dokumen itu berasal dari perusahaan Rendra sendiri.
Rendra membeku.
Bima melanjutkan.
“Danubrata Foundation memang menjalankan kejahatan. Tapi mereka bertahan selama bertahun-tahun karena punya akses ke data identitas dari berbagai perusahaan.”
Nama perusahaan teknologi Rendra muncul jelas.
“Ada seseorang di dalam perusahaanmu yang menjual data kepada mereka sejak delapan tahun lalu.”
Rendra menoleh kepada Anindya.
Video berlanjut.
“Orang itu tahu semuanya. Tentang Anindya. Tentang Clarissa. Bahkan tentang rencana pernikahan.”
Kemudian muncul foto seorang pria.
Rendra merasa seluruh tubuhnya dingin.
Pria itu adalah Rizal.
Sahabatnya sejak kuliah.
Orang yang menjadi saksi nikahnya.
Orang pertama yang mengambil flashdisk dari tangan Anindya.
Bima berkata pelan,
“Kalau Rizal masih ada di samping kalian saat video ini diputar, jangan percaya apa pun yang dia katakan.”
Tepat saat itu, pintu kantor Rendra terbuka.
Rizal berdiri di sana.
Wajahnya tidak lagi menunjukkan keramahan.
Tatapannya jatuh ke layar ponsel.
Lalu ia tersenyum.
“Seharusnya paket itu tidak pernah sampai.”
Rendra berdiri perlahan.
“Jadi selama ini kamu?”
Rizal memasukkan tangan ke saku jaket.
Anindya mundur satu langkah.
Namun sebelum Rizal sempat melakukan apa pun, pintu di belakangnya terbuka lebar.
Beberapa petugas masuk.
Rizal terkejut.
Rendra menatapnya dingin.
“Aku memang pernah bodoh sepuluh tahun lalu.”
Ia mengangkat ponselnya.
“Tapi aku belajar satu hal dari Anindya.”
Rendra melirik perempuan di sampingnya.
“Jangan pernah percaya hanya pada satu bukti.”
Ternyata sejak paket itu tiba, Rendra telah meminta tim keamanan memeriksa semua rekaman akses gedung.
Mereka menemukan Rizal mencoba masuk ke ruang server malam sebelumnya.
Bukti itu cukup untuk membuat aparat menunggu di ruangan sebelah.
Rizal ditangkap hari itu juga.
Penyelidikan kemudian membuktikan bahwa dialah penghubung pertama antara keluarga Danubrata dan sejumlah oknum di perusahaan Rendra.
Ia tidak pernah menyukai hubungan Rendra dengan Anindya.
Namun alasannya bukan cinta atau iri.
Rizal telah menerima uang dari keluarga Danubrata sejak masih kuliah.
Ia membantu memantau Rendra selama bertahun-tahun.
Ironisnya, ketika Anindya datang membawa flashdisk di hari pernikahan, Rizal mengira semua bukti mengenai dirinya telah dihapus.
Ia justru menjadi orang pertama yang membuka jalan bagi kehancurannya sendiri.
Setahun kemudian, Anindya berdiri di depan sebuah bangunan baru di Sukabumi.
Di depannya terpasang papan sederhana.
Rumah Pulang.
Bukan panti.
Bukan yayasan mewah.
Tempat itu dibangun untuk membantu korban yang kehilangan identitas, keluarga, dan kesempatan hidup akibat eksploitasi.
Rendra membiayai seluruh pembangunan, tetapi namanya tidak dicantumkan di mana pun.
Ia datang sore itu tanpa rombongan.
Anindya sedang menanam bunga di halaman.
“Kamu terlambat,” katanya tanpa menoleh.
“Macet.”
“Kamu miliarder. Harusnya punya helikopter.”
Rendra tertawa kecil.
Itu pertama kalinya dalam sebelas tahun Anindya berbicara kepadanya dengan nada seperti dulu.
Rendra berdiri di sampingnya.
“Aku tidak akan bertanya apakah kita bisa kembali seperti dulu.”
“Bagus.”
“Karena kita memang tidak bisa.”
Anindya menancapkan sekop kecil ke tanah.
“Yang dulu sudah selesai.”
Rendra mengangguk.
“Kalau begitu aku boleh bertanya sesuatu yang baru?”
Anindya menatapnya.
“Apa?”
“Besok kamu mau makan siang denganku?”
Anindya diam cukup lama.
Rendra tersenyum kaku.
“Tidak apa-apa kalau jawabannya tidak.”
Anindya kembali menatap tanaman di depannya.
“Jam dua belas.”
Rendra terpaku.
“Serius?”
“Kalau terlambat, aku pergi.”
Senyum Rendra perlahan muncul.
“Baik.”
Saat ia berjalan menuju mobil, Anindya memanggilnya.
“Rendra.”
Ia menoleh.
Anindya berdiri di bawah cahaya matahari sore.
Tidak lagi bertelanjang kaki.
Tidak lagi mengenakan sweater robek.
Namun bekas luka di tangannya masih ada.
Mungkin akan selalu ada.
“Aku belum memaafkan semuanya.”
Rendra mengangguk.
“Aku tahu.”
“Tapi aku juga tidak mau menghabiskan sisa hidupku membenci.”
Rendra menatapnya beberapa detik.
“Terima kasih.”
Anindya menggeleng.
“Jangan berterima kasih dulu. Besok kamu yang bayar makan.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka berdua tertawa.
Dan Rendra akhirnya mengerti sesuatu yang dulu tidak pernah ia pahami.
Kebenaran memang bisa datang terlambat.
Kadang sepuluh tahun terlambat.
Kadang setelah terlalu banyak hidup dihancurkan.
Tetapi ketika akhirnya datang, tugas manusia bukan sekadar mencari siapa yang salah.
Melainkan memastikan bahwa setelah mengetahuinya, ia tidak lagi memilih untuk menutup mata.
