Jari telunjuk Rehan bergerak sekali lagi.
Kali ini Maya yakin matanya tidak sedang mempermainkannya.
Ia menahan napas, lalu menatap Dokter Farhan yang masih berdiri di sisi lain ranjang. Pria itu sibuk memeriksa pompa infus, sama sekali tidak menyadari gerakan kecil yang baru saja terjadi.
Tiga tahun lalu, Maya mungkin akan langsung memanggil dokter lain.
Sekarang tidak.
Pengalaman telah mengajarinya bahwa orang yang mengenakan jas putih belum tentu datang untuk menyelamatkan nyawa.
Terutama jika orang itu adalah Farhan.
Pria yang pernah menghancurkan hidupnya.
Maya menundukkan kepala seolah sedang merapikan selimut Rehan.
“Kalau kamu bisa mendengarku,” bisiknya hampir tanpa suara, “jangan bergerak lagi.”
Jantung Rehan di monitor meningkat.
Enam puluh delapan.
Tujuh puluh dua.
Tujuh puluh lima.
Maya menatap angka itu.
Lalu kembali menatap wajah Rehan.
Itu bukan kebetulan.
Rehan mendengarnya.
“Jangan membuat mereka tahu,” bisik Maya.
Denyut jantungnya perlahan turun.
Maya merasakan tengkuknya meremang.
Farhan menoleh.
“Ada masalah?”
Maya segera berdiri tegak.
“Tidak.”
Farhan mengamati wajahnya beberapa detik.
“Kamu masih suka terlalu banyak memperhatikan sesuatu yang bukan urusanmu.”
Kalimat itu membawa Maya kembali ke malam tiga tahun lalu.
Saat itu ia masih menjadi perawat ICU. Seorang pasien meninggal setelah menerima obat dengan dosis yang tidak sesuai. Maya menemukan ketidaksesuaian pada catatan pemberian obat dan melaporkannya.
Farhan adalah dokter yang bertanggung jawab.
Namun sebelum investigasi selesai, sebuah rekaman CCTV muncul.
Rekaman itu memperlihatkan Maya memasuki ruang penyimpanan obat.
Log elektronik juga menunjukkan kartu aksesnya digunakan.
Semua bukti mengarah kepadanya.
Maya bersumpah ia tidak pernah memberikan obat tersebut.
Tidak ada yang percaya.
Farhan bahkan berdiri di depan komite rumah sakit dan berkata dengan suara tenang bahwa Maya mungkin melakukan kesalahan karena kelelahan.
Lisensi Maya dicabut sementara.
Rumah sakit memecatnya.
Berita menyebar.
Tidak ada rumah sakit lain yang mau menerimanya.
Kini, tiga tahun kemudian, pria yang sama berdiri di samping seorang pasien yang menurut Maya sedang diberi obat secara tidak wajar.
Maya tersenyum tipis.
“Tenang saja, Dok. Saya sudah belajar dari masa lalu.”
Farhan membalas senyum itu.
“Bagus.”
Setelah Farhan pergi, Maya mengunci pintu.
Ia membuka lemari obat.
Tangannya bergerak cepat.
Nama obat, dosis, jadwal pemberian, semuanya ia foto dengan ponselnya.
Kemudian ia memeriksa catatan medis Rehan.
Beberapa obat memang masuk akal untuk pasien dengan gangguan neurologis berat.
Tetapi satu kombinasi membuat dadanya sesak.
Dalam dosis tertentu, obat-obatan itu dapat menekan respons motorik dan membuat evaluasi kesadaran pasien menjadi sangat sulit.
Maya tidak berani mengambil kesimpulan tanpa pemeriksaan lengkap.
Namun satu hal jelas.
Seseorang tidak ingin kondisi Rehan membaik.
Malam itu, Maya melakukan sesuatu yang sangat berbahaya.
Ia tidak mengganti obat Rehan.
Ia hanya mengamati.
Setiap kali Farhan datang, Maya mencatat jam, dosis, dan perubahan kondisi Rehan.
Tiga hari kemudian pola itu terlihat.
Beberapa menit setelah obat tertentu diberikan, respons tubuh Rehan menurun drastis.
Sebelum dosis berikutnya, responsnya mulai kembali.
Maya kemudian menciptakan sistem komunikasi sederhana.
“Kalau jawabannya iya, naikkan detak jantungmu.”
Monitor bergerak dari 64 menjadi 71.
Maya menelan ludah.
“Rendy yang melakukan ini?”
Angka naik menjadi 79.
Maya terdiam.
“Farhan bekerja untuk Rendy?”
Delapan puluh tiga.
Maya memejamkan mata sebentar.
“Apakah kecelakaanmu juga direncanakan?”
Monitor berbunyi lebih cepat.
Jawabannya iya.
Sejak malam itu, hubungan aneh terbentuk di antara mereka.
Seorang istri yang dipaksa menikah demi menyelamatkan ibunya.
Dan seorang suami yang bahkan belum pernah berbicara dengannya.
Maya mulai menceritakan hal-hal kecil kepada Rehan.
Tentang ibunya.
Tentang pekerjaannya di kafe.
Tentang Avanza tua tempat ia tidur.
Kadang-kadang ia bahkan mengeluh.
“Kalau kamu bangun nanti, setidaknya ganti kasur ini. Mahal-mahal tapi keras sekali.”
Denyut jantung Rehan naik.
Maya tersenyum.
“Kamu tertawa?”
Naik lagi.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya merasa tidak sepenuhnya sendirian.
Namun keadaan berubah pada malam keenam.
Maya sedang memeriksa laci meja ketika menemukan sebuah alat perekam kecil tersembunyi di bawah permukaan kayu.
Darahnya langsung dingin.
Kamar itu disadap.
Ia segera berpura-pura menjatuhkan obat dan membungkuk.
Dengan gerakan cepat, Maya mencabut alat itu.
Pada saat yang sama terdengar ketukan.
Rendy masuk.
“Bagaimana kehidupan pengantin baru?”
Maya berdiri sambil menyembunyikan alat perekam di balik lengan bajunya.
“Suami saya belum bisa bicara. Jadi cukup damai.”
Rendy tertawa.
Ia mendekati ranjang.
“Kamu seharusnya bersyukur. Banyak perempuan ingin menjadi Nyonya Rehan Pratama.”
“Lalu kenapa mereka tidak kamu nikahkan dengannya?”
Senyum Rendy menghilang sesaat.
Ia kemudian mendekati Maya.
“Karena kami membutuhkan seseorang tanpa keluarga berpengaruh. Tanpa uang. Tanpa kekuasaan.”
Maya menatapnya.
“Jadi gampang dikendalikan?”
“Jadi gampang dilupakan.”
Rendy pergi setelah mengatakan bahwa kondisi Rehan kemungkinan akan “memburuk” dalam beberapa hari.
Maya memahami ancaman itu.
Mereka akan membunuh Rehan.
Pernikahan itu ternyata bukan sekadar penghinaan.
Menurut dokumen keluarga yang kemudian ditemukan Maya di ruang kerja, sebagian aset pribadi Rehan tidak dapat dialihkan selama ia belum menikah atau belum dinyatakan meninggal dengan ahli waris yang sah.
Rendy membutuhkan seorang istri.
Setelah Rehan meninggal, Maya akan menjadi ahli waris sementara.
Kemudian dengan utang, ancaman terhadap Ratna, dan dokumen yang telah disiapkan, Maya akan dipaksa menandatangani pelepasan hak.
Setelah itu Maya juga bisa disingkirkan.

Malam berikutnya Maya tidak tidur.
Ia duduk di samping Rehan.
“Mereka akan membunuhmu.”
Monitor berdetak stabil.
“Aku bisa pergi sekarang.”
Tidak ada perubahan.
Maya menggenggam tangannya.
“Tapi kalau aku pergi, ibuku mungkin selamat.”
Jantung Rehan turun perlahan.
Maya tersenyum pahit.
“Aku tahu. Kedengarannya egois.”
Ia terdiam.
“Lalu kalau aku tinggal, mungkin kita berdua mati.”
Beberapa detik berlalu.
Tiba-tiba jari Rehan menyentuh telapak tangannya.
Sekali.
Sangat lemah.
Maya membeku.
Lalu terdengar suara serak.
“Pergi.”
Maya menatapnya.
Bibir Rehan bergerak.
“Selamatkan… ibumu.”
Air mata Maya langsung memenuhi mata.
Itulah suara pertama suaminya yang pernah ia dengar.
Dan kalimat pertama pria itu bukan meminta Maya menyelamatkannya.
Ia justru meminta Maya pergi.
Maya menggeleng.
“Terlambat.”
Ia menggenggam tangannya lebih erat.
“Aku sudah terlanjur marah.”
Keesokan harinya Maya menghubungi satu-satunya orang dari masa lalunya yang masih percaya kepadanya.
Dokter Aditya, mantan kepala ICU.
Maya mengirim foto catatan obat dan rekaman yang berhasil dikumpulkannya.
Dua jam kemudian Aditya menelepon.
“Maya, jangan lakukan apa pun sendirian.”
“Kenapa?”
“Karena pola obat ini hampir sama dengan kasus tiga tahun lalu.”
Maya membeku.
“Kasus yang membuat saya dipecat?”
“Ya.”
Aditya kemudian mengungkap sesuatu yang membuat seluruh tubuh Maya gemetar.
Rumah sakit baru saja melakukan audit digital terhadap arsip lama.
Log akses yang dulu digunakan untuk menyalahkan Maya ternyata telah dimanipulasi.
Ada akses administrator beberapa menit sebelum kartu Maya tercatat masuk.
Akun administrator itu terhubung ke perangkat milik Farhan.
Maya akhirnya mengerti.
Farhan bukan sekadar bagian dari konspirasi terhadap Rehan.
Farhan telah melakukan hal serupa sebelumnya.
Dan Maya mungkin dihancurkan tiga tahun lalu karena hampir membongkarnya.
Mereka menyusun rencana.
Aditya akan menghubungi pihak berwenang dan mengirim tim medis independen.
Tetapi mereka membutuhkan bukti langsung.
Kesempatan itu datang malam berikutnya.
Farhan masuk membawa sebuah ampul.
Rendy berada di belakangnya.
Maya berdiri di sisi ranjang.
“Keluar,” kata Farhan.
“Saya istrinya.”
“Justru karena itu.”
Rendy menutup pintu.
Maya melihat ampul di tangan Farhan.
Tidak tercatat dalam jadwal pengobatan.
“Apa itu?”
“Obat.”
“Namanya?”
Farhan menatapnya tajam.
“Kamu bukan perawat lagi.”
Maya tidak bergerak.
Farhan mendekati infus.
Maya langsung mencabut selang dari akses utama.
“Apa yang kamu lakukan?” bentak Rendy.
“Melindungi suami saya.”
Rendy tertawa dingin.
“Suamimu?”
Ia menarik Maya menjauh.
“Kamu bahkan menikah dengannya karena uang.”
Maya menepis tangannya.
“Saya menikah karena kamu mengancam ibu saya.”
Wajah Rendy berubah.
Kemudian ia tersenyum.
“Dan siapa yang akan percaya?”
Maya mengeluarkan ponsel.
“Saya berharap kamu mengatakan itu.”
Layar menunjukkan panggilan video yang sudah berjalan selama sebelas menit.
Wajah Rendy pucat.
Farhan bergerak hendak merebut ponsel.
Namun suara lain terdengar.
“Jangan.”
Semua orang membeku.
Suara itu lemah.
Tetapi cukup jelas.
Rendy perlahan menoleh.
Rehan membuka mata.
Untuk pertama kalinya dalam delapan bulan.
Tatapannya langsung tertuju kepada sepupunya.
Rendy mundur satu langkah.
“Rehan?”
Rehan mencoba bangkit.
Tubuhnya masih lemah.
Maya menopang bahunya.
Farhan menjatuhkan ampul.
“Kamu seharusnya tidak bisa…”
Rehan menatapnya.
“Itu masalahmu.”
Suara sirene terdengar dari luar vila.
Rendy panik.
Ia berlari menuju pintu.
Namun beberapa petugas sudah masuk bersama Dokter Aditya dan tim medis independen.
Farhan ditahan malam itu.
Rendy menyusul beberapa menit kemudian.
Investigasi yang berlangsung setelahnya membuka sesuatu yang jauh lebih besar daripada dugaan Maya.
Kecelakaan Rehan ternyata dirancang dengan merusak sistem pengereman mobilnya.
Farhan kemudian mempertahankan kondisi Rehan menggunakan kombinasi obat yang membuat kemampuan motoriknya tertekan.
Sementara itu Rendy memalsukan dokumen dan mengalihkan aset perusahaan sedikit demi sedikit.
Tetapi kejutan terbesar datang dari pemeriksaan kasus lama Maya.
Pasien yang meninggal tiga tahun sebelumnya ternyata seorang auditor internal perusahaan farmasi yang sedang menyelidiki transaksi ilegal antara Farhan dan beberapa perusahaan cangkang.
Salah satu perusahaan itu dikendalikan Rendy.
Maya kehilangan kariernya karena tanpa sengaja berdiri terlalu dekat dengan rahasia mereka.
Namanya akhirnya dibersihkan.
Lisensi keperawatannya dipulihkan.
Rumah sakit menyampaikan permintaan maaf resmi.
Namun Maya tidak kembali bekerja di sana.
Enam bulan kemudian, ia memilih bekerja di sebuah pusat rehabilitasi neurologis yang didirikan Rehan.
Ratna juga dipindahkan ke fasilitas yang lebih baik.
Kondisinya tidak sepenuhnya pulih, tetapi pada hari-hari tertentu ia masih mengenali putrinya.
Sementara Rehan menjalani rehabilitasi panjang.
Ia harus belajar berdiri.
Berjalan.
Menggenggam benda.
Bahkan menulis kembali.
Pria yang dahulu ditakuti banyak orang kini sering menghabiskan satu jam hanya untuk berjalan beberapa meter.
Suatu sore, Maya menemukan Rehan berdiri sendirian di taman rehabilitasi.
“Kamu seharusnya menggunakan tongkat.”
“Aku benci tongkat.”
“Kamu juga benci fisioterapi.”
“Aku benci banyak hal.”
Maya tersenyum.
“Termasuk istrimu?”
Rehan menatapnya.
Pernikahan mereka secara hukum masih berlaku.
Namun sejak Rehan sadar, Maya sudah beberapa kali menawarkan perceraian.
Rehan selalu menghindari pembicaraan itu.
Kali ini Maya mengeluarkan sebuah amplop.
“Aku sudah menandatangani bagianku.”
Rehan menatap surat perceraian tersebut.
“Kamu ingin pergi?”
“Perjanjian kita selesai. Ibuku aman. Kamu juga sudah sehat.”
Rehan mengambil amplop itu.
Kemudian merobeknya menjadi dua.
Maya ternganga.
“Rehan!”
“Aku belum setuju.”
“Kamu tidak bisa menyelesaikan masalah dengan merobek dokumen.”
“Aku bisa mencetak yang baru.”
“Itu bukan maksudku.”
Rehan tertawa kecil.
Lalu ekspresinya berubah serius.
“Aku mendengar semuanya, Maya.”
Maya diam.
“Selama delapan bulan, aku mendengar orang-orang membicarakan uangku, kematianku, dan apa yang akan mereka ambil setelah aku mati.”
Ia menatap perempuan di depannya.
“Lalu seorang perempuan yang bahkan tidak mengenalku datang dengan gaun pengantin tiga ratus lima puluh ribu rupiah.”
Maya mengangkat alis.
“Kamu tahu harganya?”
“Rendy menertawakannya.”
Maya mendengus.
Rehan melanjutkan.
“Semua orang yang mengenalku ingin mengambil sesuatu. Tapi orang asing itu justru berbisik bahwa dia tidak akan ikut menertawakanku.”
Maya tidak mampu menjawab.
“Aku tidak jatuh cinta ketika melihatmu,” kata Rehan.
Maya tersenyum tipis.
“Tentu saja. Matamu tertutup.”
Rehan tertawa.
Kemudian ia menggenggam tangan Maya.
“Aku jatuh cinta ketika aku bahkan belum bisa melihatmu.”
Maya menunduk.
Air matanya jatuh sebelum ia sempat menahannya.
Namun Rehan belum selesai.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
Rehan mengeluarkan sebuah map lama.
Di dalamnya terdapat dokumen rumah sakit dari tiga tahun sebelumnya.
Nama Maya tercetak di halaman pertama.
“Aku pernah melihat namamu sebelum kecelakaan.”
Maya membeku.
Rehan menjelaskan bahwa beberapa minggu sebelum mobilnya mengalami sabotase, ia telah memulai audit internal terhadap transaksi Rendy.
Dalam salah satu berkas, muncul kasus seorang perawat yang dipecat tiga tahun sebelumnya setelah mencoba melaporkan kesalahan pemberian obat.
Maya Kirana.
Rehan sebenarnya sudah memerintahkan orang kepercayaannya mencari Maya karena ia curiga kasus itu berkaitan dengan Farhan.
Namun sebelum mereka menemukannya, kecelakaan terjadi.
Maya menatapnya tidak percaya.
“Jadi Rendy memilihku untuk menikah denganmu…”
Rehan mengangguk.
“Karena dia mengira itu ironi yang sempurna.”
Rendy tahu Maya sudah miskin, kehilangan reputasi, dan mudah ditekan.
Ia sengaja memilih perempuan yang pernah dihancurkan Farhan untuk menjadi istri boneka Rehan.
Ia mengira itu penghinaan terakhir bagi mereka berdua.
Namun justru keputusan itulah yang menghancurkan seluruh rencananya.
Jika Rendy memilih perempuan lain, mungkin tidak ada yang akan mengenali kejanggalan pada infus.
Tidak ada yang akan memahami pola obat.
Tidak ada yang akan menyadari bahwa Rehan sebenarnya sadar.
Maya tertawa di antara air matanya.
“Jadi orang yang ingin menghancurkan kita malah mempertemukan kita?”
“Sepertinya begitu.”
Rehan mengambil cincin pernikahan polos yang dulu disematkan Maya ketika ia tidak bisa bergerak.
Ia melepasnya.
Maya terkejut.
Kemudian Rehan mengeluarkan cincin lain dari sakunya.
Tidak besar.
Tidak mencolok.
Sederhana.
“Kali pertama kamu menikah denganku karena tidak punya pilihan.”
Ia menatap Maya.
“Kali ini aku ingin kamu punya pilihan.”
Rehan perlahan berlutut.
Gerakan itu masih sulit baginya.
Maya refleks hendak membantu.
“Jangan,” katanya.
Dengan susah payah, pria itu bertahan pada satu lutut.
“Maya Kirana, maukah kamu menikah denganku lagi?”
Maya menutup mulut.
“Rehan, kita bahkan belum bercerai.”
“Aku tahu.”
“Jadi ini lamaran paling tidak masuk akal yang pernah ada.”
“Aku delapan bulan koma. Standarku agak berbeda.”
Maya tertawa sambil menangis.
Lalu ia mengulurkan tangan.
“Baik.”
Rehan menyematkan cincin itu.
“Tapi ada syarat,” kata Maya.
“Apa?”
“Kalau nanti kamu sakit, jangan pernah lagi memilih dokter sendiri.”
Rehan tersenyum.
“Setuju.”
Mereka menikah kembali dua bulan kemudian.
Bukan di kapel mewah.
Bukan di depan para pengusaha.
Bukan dengan ranjang rumah sakit di samping altar.
Upacara kecil itu berlangsung di taman pusat rehabilitasi.
Ratna duduk di barisan depan.
Pada awalnya ia tampak kebingungan.
Namun ketika Maya berjalan mendekati Rehan, perempuan tua itu tiba-tiba tersenyum.
“Maya.”
Langkah Maya berhenti.
Sudah hampir setahun ibunya tidak memanggil namanya.
Maya berlari memeluk Ratna.
Dan untuk beberapa menit yang sangat singkat, ingatan ibunya kembali.
Ratna menyentuh wajah putrinya.
“Kamu kelihatan bahagia.”
Maya menangis.
“Iya, Bu.”
Ratna menoleh kepada Rehan.
“Jaga anak saya.”
Rehan mengangguk.
“Dengan hidup saya.”
Beberapa menit kemudian Ratna kembali kebingungan.
Ia bahkan bertanya mengapa semua orang berkumpul di taman.
Namun bagi Maya, beberapa menit itu sudah cukup.
Saat upacara dimulai, Rehan berdiri di hadapannya tanpa bantuan tongkat.
Tangannya masih sedikit gemetar ketika menggenggam tangan Maya.
Namun kali ini hangat.
Hidup.
Dan mampu menggenggam balik.
Maya teringat malam ketika ia tidur di mobil tua karena tidak memiliki rumah.
Ia teringat kapel tempat orang-orang menertawakan mereka.
Ia teringat tangan dingin seorang pria yang dianggap tidak akan pernah bangun.
Ternyata terkadang hidup tidak menyelamatkan seseorang dengan membuka pintu yang indah.
Kadang hidup justru mendorong seseorang masuk ke ruangan paling gelap, mempertemukannya dengan orang yang sama-sama terluka, lalu membiarkan keduanya menemukan jalan keluar bersama.
Rendy ingin menjadikan Maya kelemahan terakhir Rehan.
Farhan mengira masa lalu Maya telah membuat perempuan itu tidak berdaya.
Mereka salah.
Karena perempuan yang kehilangan hampir segalanya tidak lagi mudah ditakuti dengan kehilangan.
Dan pria yang selama delapan bulan dipenjara di dalam tubuhnya sendiri telah belajar bahwa kekuasaan terbesar bukanlah membuat orang takut kepadanya.
Melainkan mengetahui siapa yang tetap menggenggam tangannya ketika ia tidak memiliki apa pun untuk diberikan.
Saat Rehan menyematkan cincin di jari Maya, ia mendekat dan berbisik pelan.
“Aku masih ingat bisikanmu di kapel.”
Maya tersenyum.
“Yang mana?”
Rehan menggenggam tangannya lebih erat.
“Bahwa kamu tidak akan ikut tertawa di atas penderitaanku.”
Maya menatap matanya.
“Lalu?”
Rehan tersenyum.
“Sejak hari itu aku memutuskan satu hal.”
“Apa?”
“Aku harus bangun.”
Maya tertawa kecil.
“Untuk membalas dendam?”
Rehan menggeleng.
“Untuk melihat wajah perempuan pertama yang memperlakukanku seperti manusia ketika semua orang lain sudah menganggapku mayat.”
Untuk beberapa detik Maya tidak berkata apa-apa.
Kemudian ia menyandarkan dahinya pada dahi Rehan.
Di belakang mereka terdengar tepuk tangan.
Dan kali ini, ketika orang-orang tertawa, tidak ada penghinaan di dalamnya.
Hanya kebahagiaan.
Karena pernikahan yang awalnya dirancang sebagai langkah terakhir dalam sebuah pengkhianatan justru menjadi kesalahan terbesar para pengkhianat.
Mereka memaksa Maya masuk ke kehidupan Rehan agar lebih mudah menghancurkannya.
Tanpa sadar, mereka justru membawa satu-satunya orang yang mampu membangunkannya.
