PRIA KAYA INI MEMBELI KUE DARI TOKO KECILKU KARENA LUPA ULANG TAHUN IBUNYA.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mengambil alih Pratama Megah Property, Arya Pratama tidak bisa tidur.

Dokumen proyek Cikini Grand Plaza masih terbuka di layar laptopnya. Di antara puluhan halaman analisis investasi, jadwal pembangunan, dan proyeksi keuntungan, matanya terus kembali pada satu alamat.

Jalan Cikini Raya Nomor 45.

Toko Kue Warisan Nenek.

Tempat Maya berdiri setiap pagi sejak pukul tiga. Tempat perempuan itu tertawa sambil menaburkan gula halus ke atas kue. Tempat sebuah kursi kayu kecil masih disimpan karena pernah digunakan Maya ketika belajar membuat kue bersama neneknya.

Arya menutup laptop dengan kasar.

Pukul 01.15 dini hari, dia menelepon sekretarisnya, Dimas.

“Besok pagi hentikan semua proses pengosongan Blok 41 sampai 49.”

Di ujung telepon, Dimas terdiam.

“Pak, maksud Bapak ditunda?”

“Dihentikan sementara.”

“Tapi direksi sudah menyetujui jadwalnya. Investor Singapura juga akan datang minggu depan. Kalau kita terlambat menyerahkan lahan kosong, penalti kontraknya bisa mencapai puluhan miliar.”

“Aku tahu.”

“Pak Arya, ada masalah apa?”

Arya menatap foto ibunya di meja.

“Aku baru sadar kita mungkin sedang menghancurkan sesuatu yang seharusnya tidak dihancurkan.”

Namun Arya terlambat.

Pukul delapan pagi keesokan harinya, Maya sedang mengeluarkan loyang pertama dari oven ketika tiga mobil berhenti di depan toko.

Enam orang turun.

Dua mengenakan seragam perusahaan. Seorang membawa map. Dua petugas keamanan berdiri di belakang mereka.

Rina yang sedang membersihkan meja langsung mendekati Maya.

“Mbak… mereka siapa?”

Maya belum sempat menjawab ketika seorang pria berkacamata masuk.

“Selamat pagi. Ibu Maya Cruz?”

“Saya.”

“Saya Budi Santoso dari tim pembebasan lahan Pratama Megah Property.”

Nama perusahaan itu belum berarti apa pun bagi Maya.

Sampai Budi membuka map.

“Kami datang untuk menyampaikan pemberitahuan pengosongan terakhir.”

Maya mengernyit.

“Pengosongan apa?”

“Bangunan ini termasuk kawasan pengembangan Cikini Grand Plaza.”

Darah di wajah Maya perlahan menghilang.

Budi menyerahkan dokumen.

“Seluruh blok akan dikosongkan. Berdasarkan perjanjian dengan pemilik tanah, penyewa diberikan waktu empat belas hari.”

Maya membaca lembar pertama.

Tangannya mulai gemetar.

“Empat belas hari?”

“Kami sudah mengirim pemberitahuan kepada pemilik bangunan sebelumnya.”

“Saya penyewa tempat ini hampir sembilan tahun. Tidak ada yang pernah bilang tempat ini akan dibongkar.”

“Kami memahami situasi Ibu. Perusahaan menyediakan kompensasi relokasi.”

Maya mengangkat kepala.

“Berapa?”

Budi menyebut angka.

Rina sampai menutup mulut.

Bagi usaha kecil seperti mereka, jumlah itu besar.

Namun Maya meletakkan dokumen kembali di meja.

“Saya tidak mau.”

Budi terlihat sudah terbiasa menghadapi jawaban seperti itu.

“Ibu sebaiknya mempertimbangkan dulu.”

“Tidak perlu.”

“Proyek ini sudah mendapatkan persetujuan.”

“Kalau begitu batalkan.”

Budi menarik napas.

“Itu bukan kewenangan saya.”

“Lalu kewenangan siapa?”

Budi menunjuk logo perusahaan di dokumen.

“Keputusan akhir berada di kantor pusat.”

Maya melihat nama perusahaan itu lagi.

Pratama Megah Property.

Entah mengapa, nama Pratama membuat dadanya berdebar.

Dia mengambil ponsel.

Mencari nama Arya.

Kemudian untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Maya mengetik nama lengkap pria itu di mesin pencari.

Hasil pertama muncul dalam hitungan detik.

ARYA PRATAMA, CEO PRATAMA MEGAH PROPERTY.

Foto yang terpampang di layar adalah pria yang beberapa jam sebelumnya mencium keningnya.

Maya merasa suara di sekelilingnya menghilang.

“Mbak?” Rina memegang lengannya.

Maya tidak menjawab.

Dia hanya menatap foto Arya.

Kemudian dokumen penggusuran.

Lalu kembali menatap foto itu.

Saat itulah sebuah sedan hitam berhenti mendadak di depan toko.

Arya keluar.

Begitu melihat tim perusahaan masih berada di sana, wajahnya mengeras.

“Saya bilang hentikan semuanya!”

Budi terkejut.

“Pak Arya?”

Maya perlahan menoleh.

Tidak ada senyum di wajahnya.

“Jadi benar.”

Arya berhenti.

“Maya, dengarkan aku.”

“Kamu pemilik perusahaan ini?”

“Aku CEO.”

“Dan perusahaanmu mau menghancurkan tokoku?”

Arya tidak menjawab.

Keheningan itu sudah cukup.

Maya tertawa kecil, tetapi matanya mulai basah.

“Sejak kapan kamu tahu?”

Arya mendekat.

“Malam kemarin.”

“Setelah kamu menciumku?”

Arya menunduk.

“Beberapa detik setelah itu.”

Maya menahan napas panjang.

“Lalu kenapa kamu tidak langsung bilang?”

“Aku ingin menyelesaikannya dulu.”

“Menyelesaikan?”

Nada suara Maya meninggi.

“Kamu pikir hidupku adalah masalah bisnis yang bisa kamu selesaikan diam-diam?”

Orang-orang di toko membeku.

Arya mencoba menyentuh tangannya.

Maya mundur.

“Jangan.”

Satu kata itu membuat Arya berhenti.

“Aku sudah memerintahkan proyek ini ditunda.”

“Ditunda bukan dibatalkan.”

“Aku sedang mencari jalan.”

“Karena kamu kasihan kepadaku?”

“Bukan.”

“Karena kamu merasa bersalah?”

“Bukan.”

“Lalu kenapa?”

Arya menatapnya.

“Karena aku mencintaimu.”

Maya membeku sesaat.

Kalimat yang seharusnya membuatnya bahagia justru terasa menyakitkan.

“Jangan gunakan cinta untuk membuat kebohonganmu terdengar lebih baik.”

Maya masuk ke dapur dan menutup pintu.

Arya berdiri di tempatnya.

Untuk pertama kalinya, CEO yang mampu menegosiasikan kontrak bernilai triliunan rupiah tidak tahu harus mengatakan apa.

Hari itu Arya kembali ke kantor dan langsung mengadakan rapat direksi.

Ruang rapat lantai 35 berubah panas.

“Mustahil!”

Surya Halim, komisaris utama sekaligus pemegang saham terbesar kedua, membanting dokumen ke meja.

“Kita sudah menghabiskan hampir Rp600 miliar untuk akuisisi kawasan itu.”

“Aku tidak meminta proyek dibatalkan,” jawab Arya. “Aku meminta desainnya diubah.”

“Untuk menyelamatkan satu toko kue?”

“Untuk mempertahankan satu bangunan.”

Surya tertawa sinis.

“Kamu bercanda?”

Arya menyalakan layar besar.

Denah baru muncul.

“Kita pindahkan pintu masuk utama dua puluh meter ke timur. Bangunan nomor 45 dipertahankan dan diintegrasikan ke area pedestrian.”

Direktur proyek menggeleng.

“Itu akan mengurangi luas komersial.”

“Berapa?”

“Sekitar 1.100 meter persegi.”

“Nilainya?”

“Kurang lebih Rp70 miliar.”

Surya berdiri.

“Kamu mau membuang Rp70 miliar karena jatuh cinta pada pemilik toko?”

Ruangan mendadak sunyi.

Arya menatapnya.

“Tidak. Aku mau menghentikan kebiasaan perusahaan ini menganggap setiap meter persegi hanya sebagai angka.”

Surya mendekat.

“Jangan munafik, Arya. Selama enam tahun terakhir, siapa yang menandatangani puluhan proyek pembebasan lahan?”

Arya tidak menjawab.

“Kamu.”

Kata itu menghantam lebih keras daripada bentakan.

Karena Surya benar.

Maya bukan orang pertama yang hampir kehilangan tempat karena proyek Arya.

Dia hanya orang pertama yang membuat Arya melihat wajah manusia di balik setiap titik merah dalam peta pembangunan.

Rapat berakhir tanpa keputusan.

Dua hari kemudian, keadaan memburuk.

Surya membocorkan kabar kepada media bahwa CEO Pratama Megah Property mencoba mengubah proyek bernilai triliunan rupiah karena hubungan pribadi dengan seorang pemilik toko.

Judul berita menyebar cepat.

CEO PROPERTI DIDUGA KORBANKAN INVESTOR DEMI KEKASIH.

Wartawan mulai mendatangi toko Maya.

Beberapa pelanggan mengambil foto diam-diam.

Ada yang menuduh Maya sengaja mendekati Arya demi uang.

Rina sampai menangis membaca komentar di media sosial.

Namun Maya tetap membuka toko.

Pukul tiga pagi.

Setiap hari.

Seperti biasa.

Sampai suatu pagi seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun datang sendirian.

Maya mengenalinya dari foto di meja kantor Arya yang pernah ditunjukkan pria itu.

Bu Rahmi.

“Ibu Arya?”

Perempuan itu tersenyum.

“Dan kamu pasti Maya.”

Maya mempersilakannya duduk.

Bu Rahmi memesan teh dan sepotong kue pandan srikaya.

Setelah mencicipinya, dia terdiam lama.

“Arya tidak tahu kenapa saya menangis saat pertama kali makan kue ini.”

Maya duduk di seberangnya.

“Kenapa?”

“Karena rasanya mirip kue buatan sahabat saya waktu muda.”

Bu Rahmi memandang dinding toko yang penuh foto lama.

“Lima belas tahun sebelum Arya lahir, saya kuliah di kawasan ini. Saya miskin. Kadang uang saya bahkan tidak cukup untuk makan.”

Dia tersenyum tipis.

“Ada seorang perempuan yang selalu memberi saya kue sisa dagangan.”

Maya merasakan sesuatu.

“Siapa namanya?”

“Ratna.”

Maya membeku.

Bu Rahmi mengeluarkan sebuah foto lama dari tasnya.

Dua perempuan muda berdiri di depan toko yang sama.

Salah satunya adalah Nenek Ratna.

Yang lainnya Bu Rahmi.

“Nenek saya?”

Bu Rahmi mengangguk.

“Tanpa Ratna, mungkin saya tidak menyelesaikan kuliah. Ketika suami saya mendirikan perusahaan, saya bahkan pernah meminta dia berjanji satu hal.”

“Apa?”

“Kalau suatu hari perusahaan kami membangun kawasan Cikini, toko Ratna tidak boleh disentuh.”

Maya menatapnya tidak percaya.

“Kalau begitu kenapa…”

“Karena janji itu ternyata tertulis.”

Bu Rahmi mengeluarkan salinan dokumen lain.

“Semalam saya membuka arsip lama suami saya.”

Di dalam akta pembelian saham awal perusahaan terdapat sebuah klausul khusus mengenai kawasan Cikini.

Bangunan tempat Toko Kue Warisan Nenek berdiri harus dipertahankan sebagai bangunan komunitas selama keluarga Ratna masih menjalankan usaha di sana.

Maya menutup mulut.

Bu Rahmi tersenyum.

“Surya tahu tentang klausul ini.”

“Apa?”

“Dia menyembunyikannya.”

Ternyata Surya memiliki kepentingan pribadi dalam proyek tersebut. Perusahaan konstruksi yang akan memperoleh kontrak utama dimiliki melalui jaringan perusahaan oleh adik iparnya.

Semakin cepat seluruh blok diratakan, semakin besar keuntungan yang mereka dapatkan.

Siang itu, Arya menerima telepon dari ibunya.

Dua jam kemudian, rapat darurat digelar.

Dokumen lama diletakkan di tengah meja.

Surya pucat.

Arya tidak berteriak.

Dia hanya menatap pria itu dan berkata pelan, “Kamu punya waktu sepuluh menit untuk menjelaskan sebelum tim audit dan pengacara masuk.”

Surya gagal memberikan penjelasan.

Dalam tiga minggu berikutnya, penyelidikan internal menemukan berbagai konflik kepentingan dan manipulasi proses tender.

Surya dicopot dari jabatannya.

Proyek Cikini Grand Plaza tidak dibatalkan.

Namun desainnya diubah total.

Alih-alih menghancurkan seluruh kawasan lama, Pratama Megah Property mempertahankan tujuh bangunan bersejarah dan mengintegrasikannya ke dalam kompleks baru.

Arya juga membuat kebijakan baru.

Setiap proyek revitalisasi wajib menjalani kajian sosial dan sejarah sebelum pembebasan lahan dilakukan.

Namun ada satu hal yang belum selesai.

Hubungannya dengan Maya.

Selama hampir dua bulan, Arya tidak datang ke toko.

Dia sengaja menjaga jarak.

Sampai suatu pagi pukul 04.00, ketika Maya sedang menguleni adonan, lonceng pintu berbunyi.

Arya berdiri di sana.

Tanpa jas.

Tanpa mobil mewah di depan.

Hanya kemeja putih dengan lengan digulung.

Maya menatapnya.

“Toko belum buka.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Arya mengangkat sebuah kotak kecil.

“Aku membawa sesuatu.”

Maya menghela napas.

“Kalau isinya cincin, aku akan melemparmu keluar.”

Arya tertawa.

“Bukan.”

Dia membuka kotak.

Di dalamnya terdapat sebuah papan kayu kecil.

Tulisan yang terukir di atasnya berbunyi:

DAPUR RATNA
SEJAK 1985

Maya terdiam.

“Papan lama tetap di depan,” kata Arya. “Ini untuk dapur.”

Mata Maya mulai berkaca-kaca.

“Aku tidak datang untuk meminta kamu memaafkanku,” lanjut Arya. “Aku cuma ingin mengatakan bahwa kamu benar.”

“Soal apa?”

“Uang bisa membangun gedung baru. Tapi tidak semua yang lama harus dihancurkan agar sesuatu yang baru bisa tumbuh.”

Maya menatap pria itu lama.

“Lalu sekarang kamu mau apa?”

Arya melihat adonan di meja.

“Belajar membuat kue.”

Maya hampir tertawa.

“Kamu?”

“Aku bisa mengelola perusahaan dengan lima ribu karyawan. Seharusnya tepung tidak terlalu sulit.”

Lima belas menit kemudian, seluruh bagian depan kemeja Arya penuh tepung.

Rina yang baru datang tertawa sampai harus berpegangan pada pintu.

Maya akhirnya ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, tidak ada dokumen penggusuran, wartawan, rapat direksi, atau angka miliaran di antara mereka.

Hanya dapur kecil.

Aroma mentega.

Dan dua orang yang mencoba memulai lagi.

Setahun kemudian, Cikini Grand Plaza resmi dibuka.

Di antara gedung kaca modern dan taman pedestrian yang luas, sebuah toko kecil dengan papan kayu tua tetap berdiri.

Toko Kue Warisan Nenek.

Orang-orang sering mengira toko itu sengaja dibuat bergaya vintage sebagai bagian dari konsep pusat perbelanjaan.

Mereka tidak tahu bahwa bangunan kecil tersebut justru menjadi alasan seluruh desain kompleks pernah diubah.

Pada hari pembukaan, Maya menemukan sebuah amplop terselip di bawah mesin kasir.

Di dalamnya ada fotokopi surat tulisan tangan Nenek Ratna kepada Bu Rahmi puluhan tahun sebelumnya.

Tulisan tintanya sudah memudar.

Maya membaca kalimat terakhirnya perlahan.

“Kalau suatu hari anak-anak kita punya lebih banyak daripada yang pernah kita miliki, semoga mereka tetap tahu bahwa hidup bukan tentang memiliki tempat terbesar, tetapi tentang menjaga tempat di mana seseorang pernah merasa dicintai.”

Maya menangis.

Ketika mengangkat kepala, dia melihat Arya berdiri di pintu sambil membawa dua cangkir teh.

Ponselnya tidak ada di tangan.

Maya tersenyum.

“Kali ini kamu ingat ulang tahun ibumu?”

Arya meletakkan teh di meja.

“Sudah pesan kue dari tiga hari lalu.”

“Bagus.”

“Dan ada satu hal lagi yang aku ingat.”

“Apa?”

Arya mengeluarkan kotak kecil dari saku.

Maya langsung menunjuk pintu.

“Arya…”

“Tunggu. Kali ini benar-benar cincin.”

Maya menatapnya tajam.

Arya tertawa gugup.

CEO yang tidak takut menghadapi investor, pengacara, atau proyek triliunan rupiah itu kini terlihat seperti pria paling gugup di Jakarta.

Dia berlutut.

Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, Maya menutup kotak cincin itu dengan tangannya.

Wajah Arya langsung pucat.

Maya membungkuk dan berbisik,

“Bangun dulu. Adonanku bisa gosong.”

Arya menatapnya kebingungan.

Maya berjalan menuju oven, lalu berhenti dan menoleh.

Senyumnya perlahan muncul.

“Setelah kuenya matang, kamu boleh bertanya lagi.”

Arya akhirnya tersenyum.

Dan pagi itu, di toko kecil yang hampir pernah dihancurkannya sendiri, Arya mengerti sesuatu yang tidak pernah dia pelajari dari sekolah bisnis mana pun.

Ada hal-hal yang nilainya bisa dihitung dengan rupiah.

Ada pula yang nilainya baru terasa ketika kita hampir kehilangannya.

Dan terkadang, keputusan terbesar dalam hidup bukan tentang apa yang berani kita bangun.

Melainkan tentang apa yang akhirnya kita pilih untuk tidak kita hancurkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang