MANTAN TUNANGANNYA MEMBAWA SELINGKUHANNYA UNTUK MEMPERMALUKANNYA DI DEPAN 300 TAMU VIP!

Nadia masih berdiri membeku ketika tepuk tangan terdengar dari sudut ballroom.

Awalnya hanya satu orang. Kemudian beberapa tamu lain ikut bertepuk tangan, entah karena benar-benar terhibur atau sekadar ingin mencairkan suasana yang terasa menyesakkan.

Devan sama sekali tidak terlihat terganggu.

Tangannya perlahan turun dari pinggang Nadia, tetapi ia tetap berdiri begitu dekat seolah sengaja membentuk dinding antara Nadia dan Aris.

Aris menatap mereka dengan wajah kaku.

“Sejak kapan?” tanyanya.

Devan mengangkat alis.

“Saya tidak ingat pernah berutang penjelasan tentang kehidupan pribadi saya kepadamu.”

Beberapa tamu yang mendengar kalimat itu menahan senyum.

Aris mengepalkan rahang.

Siska mencoba menarik lengannya, tetapi Aris tidak bergerak.

“Nadia,” katanya, kali ini langsung menatap mantan tunangannya. “Kita perlu bicara.”

“Tidak,” jawab Nadia.

“Nad, dengarkan dulu.”

“Empat tahun aku mendengarkanmu. Kurasa itu sudah cukup.”

Nadia sendiri terkejut karena suaranya terdengar begitu tenang.

Devan menoleh kepadanya.

Untuk sesaat, Nadia melihat sesuatu yang hampir menyerupai senyum di wajah pria yang terkenal dingin itu.

Aris akhirnya pergi bersama Siska setelah beberapa anggota panitia gala mendekat untuk mengalihkan perhatian mereka.

Begitu keduanya menghilang di tengah kerumunan, Nadia langsung menoleh kepada Devan.

“Kita perlu bicara.”

“Tentu.”

“Sekarang.”

Devan mengangguk.

Mereka berjalan menuju balkon pribadi di sisi ballroom. Pintu kaca tertutup di belakang mereka, meredam musik dan percakapan para tamu.

Jakarta terbentang di bawah sana, dipenuhi cahaya gedung dan kendaraan yang bergerak seperti garis-garis kecil.

Nadia melipat kedua tangannya di dada.

“Apa itu tadi?”

“Ciuman.”

“Aku tahu itu ciuman.”

“Bagus. Berarti kita tidak perlu membahas definisinya.”

Nadia menatap tajam.

Devan akhirnya menghela napas.

“Maaf.”

Satu kata itu membuat Nadia sedikit terkejut.

Ia tidak pernah membayangkan Devan Mahendra meminta maaf kepada siapa pun.

“Saya seharusnya meminta izin,” lanjutnya. “Tapi kalau saya berhenti untuk menjelaskan, Aris akan menyadari apa yang saya lakukan.”

“Apa yang sebenarnya Anda lakukan?”

Devan diam beberapa detik.

“Membuat dia takut.”

“Kenapa?”

“Karena orang yang takut akan melakukan kesalahan.”

Nadia mengerutkan kening.

“Kesalahan apa?”

Devan memasukkan tangan ke saku jasnya.

“Aris tidak berselingkuh dengan Siska hanya karena jatuh cinta.”

Nadia tertawa hambar.

“Kalau Anda ingin membuat saya merasa lebih baik, cara ini buruk sekali.”

“Saya tidak sedang mencoba membuatmu merasa lebih baik.”

Nada suara Devan berubah serius.

“Saya sedang memberitahumu bahwa hubunganmu dengan Aris sejak awal mungkin tidak pernah terjadi secara kebetulan.”

Nadia terdiam.

Kalimat itu persis seperti firasat aneh yang sejak beberapa minggu terakhir terus menghantuinya.

“Apa maksud Anda?”

“Empat tahun lalu, kamu bertemu Aris di acara investasi di Bandung.”

Nadia menatapnya curiga.

“Bagaimana Anda tahu?”

“Saya tahu banyak hal tentang Aris.”

“Kenapa?”

“Karena saya sudah menyelidikinya selama hampir setahun.”

Devan mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah foto.

Foto itu memperlihatkan dokumen transaksi perusahaan.

Nama PT Pratama Capital tercetak jelas di sana.

Di bawahnya terdapat rangkaian transfer bernilai puluhan miliar rupiah kepada beberapa perusahaan yang tidak Nadia kenal.

“Apa ini?”

“Perusahaan cangkang.”

Devan menggeser layar.

Foto berikutnya menunjukkan struktur kepemilikan perusahaan.

Salah satu nama membuat napas Nadia tertahan.

Wijaya Sentosa Holdings.

Perusahaan milik almarhum ayahnya.

“Itu tidak mungkin.”

“Sayangnya mungkin.”

Ayah Nadia meninggal lima tahun lalu karena serangan jantung. Setelah kematiannya, sebagian besar aset keluarga dikelola oleh pamannya, Hendra Wijaya, sampai Nadia dianggap siap mengambil alih hak suaranya sendiri.

Tiga bulan lagi, tepat pada ulang tahunnya yang ketiga puluh, Nadia akan memperoleh kendali penuh atas dua puluh enam persen saham perusahaan keluarga.

Saham yang nilainya jauh lebih besar daripada seluruh kekayaan Aris.

Nadia menatap Devan.

“Jelaskan.”

“Setahun sebelum bertemu denganmu, Aris sudah mencoba masuk ke perusahaan keluargamu melalui beberapa investasi tidak langsung. Gagal. Kemudian dia mendekatimu.”

“Tidak.”

Nadia menggeleng.

“Aris bahkan tidak tahu siapa aku ketika kami pertama bertemu.”

“Dia tahu.”

Devan mengucapkannya tanpa ragu.

“Dia tahu meja tempatmu duduk. Dia tahu jadwal seminar yang kamu hadiri. Bahkan kopi yang dia tumpahkan ke tasmu hari itu bukan kecelakaan.”

Wajah Nadia kehilangan warna.

Itulah pertemuan pertama mereka.

Aris menabraknya di depan ruang konferensi hingga kopi tumpah ke tas Nadia. Ia meminta maaf, membelikan tas baru, kemudian mengajaknya makan malam.

Selama bertahun-tahun Nadia menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya sebagai pertemuan paling konyol sekaligus romantis dalam hidupnya.

Ternyata semuanya dirancang.

“Dari mana Anda tahu?”

Devan menatap lampu-lampu kota.

“Karena seharusnya saya yang menemui kamu hari itu.”

Nadia membeku.

“Apa?”

“Lima tahun lalu, ayahmu menghubungi saya.”

Nadia tidak mampu berkata apa-apa.

“Beliau sedang mencurigai ada kebocoran dana di perusahaan. Dia meminta saya membantu menyelidikinya secara diam-diam. Sebelum kami menemukan pelakunya, ayahmu meninggal.”

“Dokter bilang serangan jantung.”

“Saya tidak mengatakan kematiannya bukan karena serangan jantung.”

Devan menatapnya.

“Tapi seseorang memanfaatkan kematiannya.”

Angin malam terasa semakin dingin.

Nadia memegang pagar balkon.

“Siapa?”

“Saya belum punya bukti yang cukup.”

“Aris?”

“Bukan hanya Aris.”

Pintu balkon tiba-tiba terbuka.

Seorang pria berpakaian hitam mendekati Devan dan berbisik di telinganya.

Ekspresi Devan berubah.

“Ada apa?” tanya Nadia.

“Aris pergi.”

“Biarkan saja.”

“Dia tidak pulang.”

Devan menunjukkan layar ponselnya.

Sebuah rekaman CCTV memperlihatkan Aris memasuki area parkir hotel bersama seorang pria yang sangat Nadia kenal.

Paman Hendra.

Jantung Nadia seperti berhenti sesaat.

“Kenapa Paman ada di sini?”

“Dia tidak ada dalam daftar tamu.”

Devan menatap Nadia.

“Dan sekarang kamu mulai mengerti kenapa saya mencium kamu di depan semua orang.”

Nadia perlahan memahami.

Devan sengaja membuat Aris percaya bahwa Nadia berada di bawah perlindungannya.

Aris panik.

Lalu langsung menemui seseorang.

Orang yang selama ini mungkin menjadi atasannya.

“Paman saya?”

“Saya belum mengatakan itu.”

“Tapi Anda mencurigainya.”

“Ya.”

Nadia merasa kakinya kehilangan tenaga.

Selama lima tahun, Hendra adalah orang yang paling ia percaya setelah kematian ayahnya.

Pria itu mengurus perusahaan.

Membantunya melewati masa berkabung.

Bahkan Hendra yang pertama kali menyetujui hubungannya dengan Aris.

Tiba-tiba Nadia teringat sesuatu.

“Paman yang menyuruhku menerima lamaran Aris.”

Devan tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Nadia memejamkan mata.

Potongan-potongan kecil masa lalu mulai menyatu dengan cara yang mengerikan.

Hendra selalu mendorong pernikahan mereka dipercepat.

Aris berkali-kali meminta Nadia menandatangani perjanjian pengelolaan aset bersama setelah menikah.

Dan setiap kali Nadia menolak, Aris mengatakan bahwa itu hanya formalitas.

“Kenapa pertunangan kami justru berakhir?” tanya Nadia.

“Karena kamu menemukan perselingkuhannya sebelum rencana mereka selesai.”

“Tidak masuk akal. Kalau dia membutuhkan sahamku, dia seharusnya mempertahankan hubungan kami.”

“Awalnya memang begitu.”

Devan membuka dokumen lain.

“Tapi enam minggu lalu, perusahaan Aris mendapat tawaran pendanaan dari Singapura. Nilainya cukup besar untuk membuat dia berpikir tidak membutuhkanmu lagi.”

“Lalu Siska?”

“Putri salah satu investor yang menjanjikan pendanaan itu.”

Nadia tertawa getir.

Jadi bahkan perselingkuhan Aris pun berhubungan dengan uang.

Tiba-tiba ponsel Devan berbunyi.

Sebuah pesan masuk.

Ia membacanya lalu wajahnya mengeras.

“Kita harus pergi.”

“Kenapa?”

“Orang saya kehilangan jejak Aris.”

“Lalu?”

“Dan seseorang baru saja mencoba masuk ke apartemenmu.”

Dua puluh menit kemudian, Nadia berada di dalam mobil Devan menuju kawasan Menteng.

“Kenapa kita ke rumah Anda?”

“Karena apartemenmu tidak aman.”

“Saya bisa menginap di hotel.”

“Kalau mereka sudah tahu tempat tinggalmu, hotel bukan pilihan yang cerdas.”

Nadia menoleh ke luar jendela.

“Apakah Anda selalu memerintah orang seperti ini?”

“Biasanya mereka langsung menurut.”

“Saya bukan karyawan Anda.”

“Saya sadar.”

“Bagus.”

“Kalau kamu karyawan saya, mungkin malam ini jauh lebih mudah.”

Nadia menahan diri agar tidak tersenyum.

Beberapa jam lalu ia membenci pria ini karena menciumnya tanpa izin.

Sekarang ia justru duduk di mobilnya sambil mempertanyakan seluruh empat tahun kehidupannya.

Rumah Devan jauh dari gambaran yang Nadia bayangkan.

Bukan istana penuh marmer.

Rumah itu modern, tenang, dikelilingi pepohonan, dengan interior kayu dan warna-warna hangat.

Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun menyambut mereka.

Begitu melihat Nadia, perempuan itu berhenti.

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Nadia?”

Nadia terkejut.

“Anda mengenal saya?”

Perempuan itu menutup mulutnya.

Devan terlihat tidak nyaman untuk pertama kalinya.

“Bu Ratih.”

Namun perempuan itu sudah berjalan mendekat.

“Kamu mirip sekali dengan ibumu.”

Nadia menatap Devan.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Bu Ratih mengambil sebuah foto lama dari lemari.

Foto itu memperlihatkan ayah Nadia, ibunya yang telah meninggal ketika Nadia masih remaja, dan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima belas tahun.

Anak laki-laki itu adalah Devan.

Nadia merasa dunia berhenti.

“Keluarga kita saling mengenal?” bisiknya.

Devan akhirnya duduk.

“Ayahmu menyelamatkan perusahaan ayah saya ketika keluarga kami hampir bangkrut. Beberapa tahun kemudian, ketika ayah saya meninggal, Pak Wijaya yang membiayai pendidikan saya.”

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Karena ketika saya mulai sukses, hubungan keluarga kita sudah menjauh. Ibumu meninggal. Kamu kuliah di luar negeri. Ayahmu juga tidak ingin kamu merasa punya kewajiban apa pun kepada saya.”

Nadia memandang foto itu.

“Jadi semua ini karena Anda berutang budi kepada ayah saya?”

Devan terdiam terlalu lama.

Nadia mengangkat wajah.

“Devan?”

“Saya menyimpan satu hal lagi.”

Ia berjalan ke ruang kerja dan kembali membawa sebuah amplop tua.

Di bagian depan tertulis nama Nadia dengan tulisan tangan ayahnya.

Tangan Nadia gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya hanya ada satu lembar surat.

Ayahnya menulis bahwa jika sesuatu terjadi kepadanya sebelum Nadia mengambil kendali perusahaan, Devan adalah satu-satunya orang di luar keluarga yang ia percayai untuk melindungi Nadia dari konflik bisnis.

Namun bagian terakhir membuat Nadia menangis.

Ayahnya menulis bahwa Nadia tidak boleh dipaksa mempercayai Devan.

Kepercayaan harus diperoleh.

Bukan diwariskan.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena saya gagal.”

Devan menatapnya lurus.

“Saya terlambat mengetahui Aris mendekatimu. Ketika saya tahu, kalian sudah bertunangan. Saya tidak punya bukti bahwa dia memiliki agenda lain. Kalau saya datang dan mengatakan tunanganmu penipu hanya berdasarkan kecurigaan, kamu akan menganggap saya orang asing yang ingin menghancurkan hubunganmu.”

“Itu sebabnya Anda mengawasinya?”

“Ya.”

“Selama empat tahun?”

“Ya.”

Nadia terdiam.

“Dan selama empat tahun itu Anda tidak pernah berpikir untuk menemui saya?”

Devan tersenyum tipis.

“Saya beberapa kali berpikir.”

“Lalu?”

“Saya selalu menemukan alasan untuk tidak melakukannya.”

“Kenapa?”

Tatapan Devan berubah.

Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat tidak memiliki jawaban yang mudah.

“Karena semakin banyak saya tahu tentangmu, semakin sulit bagi saya membedakan antara memenuhi janji kepada ayahmu dan alasan pribadi saya sendiri.”

Nadia memahami maksudnya.

Namun sebelum ia sempat menjawab, ponselnya berbunyi.

Paman Hendra.

Nadia dan Devan saling berpandangan.

Ia mengangkat telepon dan menyalakan pengeras suara.

“Nadia, kamu di mana?”

“Kenapa, Paman?”

“Kamu harus pulang. Ada masalah besar di perusahaan.”

“Masalah apa?”

“Devan Mahendra sedang mencoba mengambil alih perusahaan kita.”

Nadia menatap Devan.

Pria itu sama sekali tidak bergerak.

Hendra melanjutkan.

“Jangan percaya apa pun yang dia katakan. Ayahmu dulu membencinya. Devan berutang miliaran kepada keluarga kita.”

Nadia menahan napas.

“Paman bertemu Aris malam ini?”

Keheningan terdengar dari seberang.

Hanya dua detik.

Namun cukup.

“Siapa yang bilang?”

“Jawab saja.”

“Nadia, kamu sedang dimanipulasi.”

“Paman bertemu Aris atau tidak?”

Telepon tiba-tiba terputus.

Devan berdiri.

“Dia tahu.”

“Apa?”

“Dia tahu kamu sudah mencurigainya.”

Pagi berikutnya, kejutan yang lebih besar menunggu.

Tim hukum Devan menemukan bahwa tiga hari sebelumnya, Hendra telah mengajukan dokumen untuk memindahkan sebagian aset Wijaya Sentosa ke perusahaan baru.

Dokumen itu membutuhkan persetujuan Nadia.

Dan persetujuan tersebut sudah ada.

Dengan tanda tangannya.

Padahal Nadia tidak pernah menandatanganinya.

Pemalsuan itu menjadi kesalahan terbesar Hendra.

Dalam waktu empat puluh delapan jam, penyelidikan internal dimulai.

Audit menemukan transaksi fiktif selama bertahun-tahun.

Aris ternyata digunakan untuk membangun jalur investasi yang akan memindahkan aset perusahaan sedikit demi sedikit setelah ia menikahi Nadia.

Siska dan investor Singapura hanyalah rencana cadangan Aris ketika ia mulai merasa bisa berdiri sendiri.

Aris akhirnya memilih bekerja sama dengan penyidik setelah menyadari Hendra berniat menjadikannya kambing hitam.

Hendra ditangkap beberapa minggu kemudian.

Namun satu kebenaran terakhir muncul ketika Nadia menemui Aris sebelum pemeriksaan resmi.

Aris terlihat jauh berbeda dari pria angkuh di ballroom.

“Apakah pernah ada satu hari saja,” tanya Nadia, “ketika kamu benar-benar mencintaiku?”

Aris menunduk.

“Awalnya tidak.”

Jawaban itu menyakitkan lebih dari yang Nadia bayangkan.

“Tapi kemudian?”

Aris tertawa pahit.

“Kemudian justru itu masalahnya.”

Nadia menatapnya.

“Aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

“Jangan bohong lagi.”

“Aku tidak bohong.”

Aris mengusap wajah.

“Itulah sebabnya aku terus menunda pernikahan. Hendra ingin semuanya selesai dua tahun lalu. Aku yang mencari alasan.”

Nadia terdiam.

“Lalu kenapa Siska?”

“Karena aku pengecut.”

Aris menatapnya dengan mata merah.

“Aku tahu cepat atau lambat semuanya akan terbongkar. Aku pikir kalau kamu membenciku, setidaknya kamu tidak akan hancur ketika mengetahui bagaimana hubungan kita dimulai.”

Nadia berdiri.

“Jangan mengubah pengkhianatanmu menjadi pengorbanan.”

Aris tidak menjawab.

“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu punya empat tahun untuk mengatakan kebenaran.”

Nadia berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Tiga bulan kemudian, Nadia resmi mengambil alih hak suaranya di Wijaya Sentosa Holdings.

Ia merombak manajemen, membentuk komite audit independen, dan untuk pertama kalinya duduk di kursi yang dahulu ditempati ayahnya.

Pada malam ulang tahunnya, ia menemukan Devan menunggu di rooftop gedung perusahaan.

“Tidak ada pesta?” tanya Devan.

“Sudah selesai.”

“Tidak ada tiga ratus tamu VIP?”

“Trauma.”

Devan tertawa kecil.

Nadia berdiri di sampingnya.

“Waktu itu Anda bilang ciuman itu untuk membuat Aris takut.”

“Benar.”

“Sekarang tidak ada Aris.”

Devan menoleh.

“Tidak ada Hendra.”

“Benar.”

“Tidak ada penonton.”

Devan akhirnya memahami arah pembicaraan itu.

Nadia tersenyum.

“Jadi kalau ingin mengulanginya, kali ini Anda harus meminta izin.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Devan Mahendra terlihat benar-benar gugup.

“Boleh saya mencium kamu?”

Nadia membiarkannya menunggu beberapa detik.

“Boleh.”

Devan mendekat.

Namun tepat sebelum bibir mereka bertemu, Nadia menahan dadanya.

“Satu syarat.”

“Apa?”

“Tidak ada lagi rahasia.”

Devan menatapnya lama.

“Tidak ada lagi.”

Kali ini, ketika Devan menciumnya, tidak ada ratusan pasang mata yang menyaksikan.

Tidak ada mantan tunangan yang harus dibuat cemburu.

Tidak ada permainan bisnis.

Tidak ada kepura-puraan.

Hanya dua orang yang akhirnya bertemu setelah bertahun-tahun hidup mereka diam-diam dipertemukan oleh janji, pengkhianatan, dan keputusan orang lain.

Nadia pernah mengira penghinaan terbesar dalam hidupnya terjadi ketika Aris membawa perempuan lain ke hadapannya.

Ia salah.

Hal paling menyakitkan bukanlah kehilangan seorang pria.

Melainkan mengetahui bahwa selama bertahun-tahun, orang-orang di sekitarnya mencoba menentukan siapa yang harus ia cintai, siapa yang harus ia percaya, dan hidup seperti apa yang harus ia jalani.

Ayahnya ternyata sudah memahami sesuatu yang baru Nadia pahami setelah semuanya hancur.

Kepercayaan tidak bisa diwariskan.

Cinta tidak bisa dirancang.

Dan orang yang benar-benar ingin melindungimu bukanlah orang yang membuat semua keputusan untukmu.

Melainkan orang yang akhirnya berani berdiri di sampingmu ketika kamu memilih hidupmu sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang