CALON MERTUAKU MENYODORKAN CEK RP500 JUTA AGAR AKU MENINGGALKAN ANAKNYA…

Maya menatap Rehan seolah sedang berhadapan dengan orang asing.

Laki-laki yang selama dua tahun terakhir selalu menggenggam tangannya saat menyeberang jalan, menunggunya selesai bekerja sampai larut malam, dan mengatakan bahwa ia mencintainya tanpa peduli siapa keluarganya, kini berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya dengan wajah pucat.

Bukan karena kaget.

Melainkan karena takut.

“Jawab aku, Rehan.”

Suara Maya pelan.

Namun justru karena itulah seluruh ruangan bisa merasakan kemarahannya.

“Sejak kapan kamu tahu?”

Rehan mengusap wajahnya.

“Maya, ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan semuanya.”

Maya tersenyum tipis.

“Menarik.”

Ia menunjuk cek Rp500 juta di atas meja.

“Mamamu merasa tempat ini sangat tepat untuk membeli harga diriku di depan tujuh puluh tiga orang.”

Ratna langsung menyela.

“Rehan, jangan jawab apa pun. Kita selesaikan ini di rumah.”

Hendra menatapnya tajam.

“Tidak. Biarkan dia bicara.”

Rehan menarik napas.

Pandangan para tamu terasa seperti puluhan lampu sorot yang menekan tubuhnya dari segala arah.

Akhirnya ia berkata,

“Delapan bulan.”

Maya tidak langsung bereaksi.

Hanya matanya yang berubah.

“Delapan bulan?”

Rehan mengangguk pelan.

“Aku tahu sekitar delapan bulan lalu.”

Ratna sampai mundur satu langkah.

“Kamu tahu?”

Rehan tidak berani menatap ibunya.

“Aku menemukannya secara tidak sengaja.”

“Kebetulan?” Maya bertanya.

Rehan terdiam.

Maya mengenal diam itu.

Diam yang sama seperti ketika ia ditanya tentang cek tadi.

Diam orang yang sedang memilih kebohongan mana yang paling aman.

“Bagaimana kamu tahu?”

Rehan akhirnya berkata,

“Waktu itu aku melihat dokumen di apartemenmu. Ada nama PT Samudra Prasetya di sana. Aku penasaran. Setelah itu aku mencari tahu.”

“Dokumen apa?”

“Surat kuasa.”

Maya langsung mengingatnya.

Delapan bulan lalu, ayahnya memang mengirim dokumen terkait restrukturisasi salah satu anak perusahaan.

Dokumen itu hanya berada di apartemennya selama satu malam.

Disimpan di dalam laci meja kerja.

Laci yang selalu tertutup.

Maya menatap Rehan tanpa berkedip.

“Kamu membuka laci pribadiku?”

Rehan cepat menjawab,

“Aku cuma mencari charger.”

Maya hampir tertawa.

“Charger di dalam map legal bersegel?”

Tak ada yang menjawab.

Hendra mengatupkan rahang.

Namun Maya mengangkat tangannya sedikit, meminta ayahnya tidak ikut campur.

Ia ingin mendengar semuanya langsung dari Rehan.

“Setelah tahu siapa aku, apa yang kamu lakukan?”

Rehan mulai gelisah.

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Jangan bohong lagi.”

Maya menunjuk draf perjanjian pranikah.

“Klausul tentang prioritas kerja sama itu tidak muncul sendiri.”

Ratna mendadak menoleh kepada Rehan.

Wajahnya berubah.

“Jangan bilang klausul itu idemu.”

Kali ini Rehan benar-benar tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.

Semua sudah terlalu jauh.

“Aku hanya memberi saran ke pengacara keluarga.”

Ratna membentak,

“Kamu bilang itu untuk melindungi kepentingan perusahaan!”

“Itu memang melindungi kepentingan perusahaan!”

Suara Rehan akhirnya meninggi.

Ia lalu berbalik kepada Maya.

“Maya, dengarkan aku dulu. Kusuma Group sedang dalam kondisi sulit. Proyek hotel di Makassar tertunda. Pinjaman jangka pendek membengkak. Proyek pergudangan di Gresik juga bermasalah. Kalau kita menikah, aku pikir sinergi kedua keluarga bisa menyelamatkan semuanya.”

Kata sinergi membuat Maya merasa muak.

Jadi itu alasannya.

Bukan cinta.

Bukan kesetiaan.

Bukan karena Rehan berani melawan keluarganya.

Ia bertahan karena di balik seorang perempuan dengan Avanza tua ada akses ke pelabuhan, armada kapal, jalur distribusi, dan aset miliaran rupiah.

Maya memandangnya lama.

“Jadi kamu tetap bersama aku karena perusahaan keluargamu sedang tenggelam?”

Rehan menggeleng cepat.

“Tidak sesederhana itu.”

“Kalau begitu, buat sederhana.”

Maya mendekat satu langkah.

“Kalau aku benar-benar hanya seorang konsultan lepas dengan tabungan biasa, apakah kamu masih akan menikahiku?”

Rehan membuka mulut.

Namun tidak ada jawaban yang keluar.

Dan sekali lagi, Maya mendapatkan jawabannya melalui keheningan.

Di belakang mereka, suara ombak terdengar memukul sisi dermaga.

Ratna tampak seolah baru menerima pukulan yang sama besarnya.

Ia selama ini menganggap Maya sebagai parasit.

Ternyata justru putranyalah yang diam-diam merancang pernikahan sebagai jalan penyelamatan bisnis keluarga.

Karin tiba-tiba bangkit dari kursinya.

“Jadi selama ini aku juga dibohongi?”

Semua orang menoleh kepadanya.

Ratna terlihat makin panik.

“Karin, ini bukan urusanmu.”

“Bukan urusanku?”

Karin tertawa pendek.

“Ayahku mengucurkan kredit Rp180 miliar untuk proyek hotel kalian karena Rehan meyakinkan kami bahwa setelah pernikahan, Kusuma Group akan mendapat akses distribusi melalui perusahaan besar.”

Ruangan kembali bergemuruh oleh bisikan.

Maya memejamkan mata sepersekian detik.

Sekarang potongan-potongannya mulai menyatu.

Perjanjian pranikah.

Tekanan Ratna.

Sikap Rehan yang tidak pernah benar-benar melawan ibunya.

Kedekatan mendadak Rehan dengan sejumlah bankir dalam enam bulan terakhir.

Semua bukan kebetulan.

Karin melanjutkan,

“Rehan tidak pernah menyebut nama Samudra Prasetya. Tapi ia terus mengatakan calon istrinya punya keluarga dengan jaringan logistik nasional.”

Ratna menoleh kepada putranya dengan wajah penuh ketidakpercayaan.

“Kamu menggunakan pertunanganmu sebagai jaminan?”

Rehan membela diri.

“Aku mencoba menyelamatkan perusahaan yang Papa bangun puluhan tahun!”

“Dengan menjual nama Maya?” Ratna berteriak.

Ironis.

Beberapa menit sebelumnya perempuan itu sendiri baru mencoba membeli Maya dengan cek.

Namun kini Ratna justru marah karena putranya menjadikan Maya sebagai aset.

Maya merasa lelah.

Bukan lelah karena dipermalukan.

Melainkan karena akhirnya melihat bahwa selama ini ia hidup di tengah pertunjukan yang disusun rapi.

Hendra mendekati putrinya.

“Kita pulang.”

Maya menggeleng.

“Belum.”

Ia mengambil ponselnya.

Kemudian menelepon seseorang.

“Pak Dimas, aktifkan dokumen yang kita siapkan.”

Rehan langsung menatapnya.

“Dokumen apa?”

Maya mengakhiri panggilan.

“Kamu pikir hanya kamu yang mencari tahu?”

Wajah Rehan berubah.

Maya melanjutkan,

“Tiga bulan lalu aku tahu Kusuma Group mengajukan beberapa pinjaman baru dengan proyeksi pendapatan yang mencantumkan potensi kerja sama dengan perusahaan keluargaku.”

Ratna membeku.

Maya memandangnya.

“Aku tidak mengatakan apa-apa karena aku ingin tahu sampai sejauh mana Rehan akan pergi.”

Rehan menggeleng.

“Maya, aku bisa jelaskan.”

“Tidak perlu.”

Ponsel Hendra berbunyi.

Sebuah pesan masuk.

Ia melihat layar lalu menyerahkannya kepada Maya.

Maya membaca sebentar.

Kemudian memandang Rehan.

“Efektif malam ini, Samudra Prasetya menangguhkan seluruh pembicaraan kerja sama dengan Kusuma Group.”

Ratna hampir kehilangan keseimbangan.

“Kamu tidak bisa melakukan itu begitu saja.”

Maya menatapnya.

“Bisa.”

Ia menunjuk ke arah sebelas kapal yang masih terlihat di luar.

“Tiga terminal pergudangan yang digunakan salah satu anak perusahaan Anda berjalan dengan kontrak fasilitas milik grup kami. Dua rute distribusi ekspor juga memakai jaringan mitra kami. Tidak ada kontrak yang kami langgar. Kami hanya tidak akan memperpanjang fasilitas yang memang akan berakhir.”

Ratna memucat.

Ia mulai memahami besarnya masalah.

Namun Rehan justru terlihat berbeda.

Untuk pertama kalinya, kepanikan di wajahnya berubah menjadi kemarahan.

“Kamu sengaja menjebakku.”

Maya menatapnya tenang.

“Aku memberimu kesempatan selama tiga bulan untuk berkata jujur.”

“Aku melakukan semuanya untuk masa depan kita.”

“Bukan.”

Maya menggeleng.

“Kamu melakukannya untuk masa depan perusahaanmu.”

Rehan mengepalkan tangan.

“Apa salahnya kalau pernikahan juga membawa keuntungan bisnis? Keluarga besar melakukan itu sejak dulu.”

“Tidak ada yang salah kalau dua orang tahu dan menyetujuinya.”

Maya menatapnya tajam.

“Yang salah adalah ketika satu orang mengira ia sedang dicintai, sementara orang lain sedang menghitung nilai ekonominya.”

Kalimat itu membuat Rehan diam.

Maya kemudian melepas cincin pertunangannya.

Gerakannya pelan.

Semua tamu melihat cincin berlian itu terlepas dari jarinya.

Ia meletakkannya di samping cek Rp500 juta.

Ratna menatapnya dengan napas tercekat.

“Maya, jangan gegabah.”

Maya menoleh kepadanya.

“Aneh sekali. Tadi Ibu meminta saya melepaskan cincin ini.”

Ratna tidak mampu menjawab.

“Tapi sekarang,” lanjut Maya, “saya melakukannya bukan karena uang Ibu.”

Maya menatap Rehan.

“Saya melakukannya karena saya akhirnya tahu harga hubungan ini.”

Rehan melangkah maju.

“Maya, jangan akhiri semuanya seperti ini.”

Hendra langsung bergerak, tetapi Maya kembali menahannya.

Ia ingin menyelesaikan sendiri.

Rehan berkata dengan suara lebih rendah,

“Aku memang salah. Aku seharusnya jujur. Tapi perasaanku padamu tetap nyata.”

Maya menatapnya lama.

Untuk sesaat, bagian kecil dalam hatinya ingin percaya.

Bagian yang masih mengingat Rehan datang membawa bubur saat ia demam.

Rehan yang menunggunya di bengkel ketika Avanza tuanya mogok.

Rehan yang berkali-kali berkata bahwa kehidupan sederhana bersamanya sudah cukup.

Namun kemudian Maya teringat satu hal.

“Kenapa kamu tidak pernah memintaku mengganti mobil?”

Rehan terlihat bingung.

“Apa?”

“Selama dua tahun, kamu selalu bilang kamu suka aku sederhana. Kamu bilang Avanza itu punya cerita.”

Rehan terdiam.

Maya tersenyum getir.

“Padahal kamu cuma butuh aku tetap terlihat miskin di depan keluargamu supaya mereka tidak curiga terlalu cepat.”

Rehan tidak menjawab.

Ratna memandang putranya dengan ngeri.

Dan akhirnya, kebenaran itu menjadi lengkap.

Rehan memang sengaja membiarkan ibunya meremehkan Maya.

Ia bahkan beberapa kali memperkuat cerita bahwa Maya berasal dari keluarga biasa.

Tujuannya sederhana.

Jika Ratna mengetahui identitas Maya terlalu dini, ia akan langsung mendekati keluarga Prasetya, membicarakan bisnis, dan mungkin menghancurkan rencana Rehan sendiri.

Rehan ingin menjadi orang pertama yang mengendalikan hubungan antara dua keluarga itu.

Maya tiba-tiba merasa lebih dingin daripada angin laut.

“Ternyata bukan hanya ibumu yang merendahkanku.”

Ia menatap Rehan dengan mata berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap stabil.

“Kamu juga melakukannya. Hanya dengan cara yang lebih halus.”

Rehan mencoba memegang tangannya.

Maya mundur.

“Jangan.”

Satu kata itu cukup.

Rehan berhenti.

Beberapa menit kemudian, Maya meninggalkan pesta bersama ayahnya.

Namun sebelum memasuki mobil, Hendra bertanya,

“Kamu baik-baik saja?”

Maya menatap kembali restoran yang lampunya masih terang.

Dari luar, tempat itu masih terlihat indah.

Seolah tidak ada sesuatu yang baru saja hancur di dalamnya.

“Belum.”

Hendra mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

Maya tersenyum tipis.

“Dulu Ayah selalu bilang jangan sembunyikan identitas terlalu lama.”

Hendra ikut tersenyum kecil.

“Ayah salah.”

Maya menatapnya.

“Kenapa?”

“Kalau kamu datang menggunakan nama besar keluarga sejak awal, kamu mungkin tidak akan pernah tahu siapa yang mencintai Maya dan siapa yang mencintai Prasetya.”

Maya tidak menjawab.

Namun kalimat itu tinggal di kepalanya sepanjang perjalanan pulang.

Tiga minggu setelah malam pertunangan itu, berita tentang restrukturisasi besar Kusuma Group mulai beredar di kalangan bisnis.

Salah satu bank menunda pencairan fasilitas kredit.

Proyek hotel mereka harus mencari investor baru.

Dua kontrak distribusi tidak diperpanjang.

Namun Maya tidak meminta ayahnya menghancurkan keluarga Kusuma.

Ia bahkan meminta tim hukum perusahaan memastikan semua kontrak yang masih berlaku tetap dijalankan secara profesional sampai masa berakhirnya.

“Aku tidak mau balas dendam,” katanya kepada Hendra.

“Aku hanya tidak mau dijadikan jalan pintas lagi.”

Hendra menghormati keputusan itu.

Ratna sempat mengirim beberapa pesan permintaan maaf.

Maya tidak membalasnya.

Rehan juga datang berkali-kali ke kantor Maya.

Selalu ditolak oleh resepsionis.

Sampai suatu sore, tiga bulan kemudian, Maya akhirnya setuju bertemu dengannya di sebuah kedai kopi sederhana di Surabaya.

Rehan terlihat jauh lebih kurus.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada sopir.

Tidak ada aura pewaris perusahaan besar.

Ia duduk di hadapan Maya dengan dua cangkir kopi di antara mereka.

“Aku tidak datang untuk meminta kita kembali,” katanya.

Maya menunggu.

“Aku cuma mau bilang kamu benar.”

Maya tidak bereaksi.

Rehan menunduk.

“Aku pikir aku bisa mencintaimu dan memanfaatkan kesempatan bisnis pada saat yang sama. Aku terus meyakinkan diri bahwa dua hal itu bisa berjalan bersama.”

Ia tertawa pahit.

“Ternyata saat aku mulai menghitung apa yang bisa kudapat dari keluargamu, aku sudah berhenti melihatmu sebagai pasangan.”

Untuk pertama kalinya, Maya merasa Rehan benar-benar jujur.

Sayangnya, kejujuran itu datang ketika tidak lagi bisa memperbaiki apa pun.

Rehan berdiri.

Sebelum pergi, ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Bukan cincin pertunangan.

Melainkan selembar kertas kecil.

Cek Rp500 juta milik Ratna.

Cek yang dulu Maya tandatangani di belakangnya.

“Mama membatalkannya sehari setelah pesta.”

Rehan meletakkan cek itu di meja.

“Tapi dia menyimpannya.”

Maya mengerutkan kening.

“Kenapa diberikan kepadamu?”

Rehan tersenyum hambar.

“Karena Mama bilang itu adalah barang paling mahal yang pernah dia beli tanpa benar-benar membayar.”

Maya hampir tertawa.

Namun Rehan belum selesai.

“Dia bilang malam itu harga yang harus dibayar keluarga kami bukan lima ratus juta.”

Ia menatap Maya.

“Melainkan kesombongan kami sendiri.”

Rehan pergi.

Maya tetap duduk di sana beberapa menit.

Kemudian ia membalik cek itu.

Tulisan tangannya masih terlihat jelas.

Penawaran uang agar saya membatalkan pertunangan ditolak secara terbuka di hadapan 73 saksi. Pukul 20.47.

Maya membaca kalimat itu sekali lagi.

Lalu merobek cek tersebut menjadi dua bagian.

Bukan karena marah.

Bukan juga karena ingin melupakan.

Tetapi karena akhirnya ia memahami sesuatu.

Malam ketika sebelas kapal raksasa merapat di Pelabuhan Tanjung Perak memang membuat semua orang mengetahui siapa Maya Prasetya sebenarnya.

Namun bagi Maya, itu bukan bagian terpentingnya.

Bagian terpenting adalah malam itu juga membuatnya mengetahui siapa orang-orang di sekelilingnya sebenarnya.

Dan terkadang, kehilangan satu pernikahan jauh lebih murah daripada menghabiskan seumur hidup bersama seseorang yang baru mencintaimu setelah mengetahui berapa nilai namamu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang