Dokumen pertama di dalam map itu membuat tangan Maya berhenti bergerak.
Di bagian atas kertas tertulis jelas sebuah nama kantor notaris di Surabaya. Di bawahnya, terdapat salinan pencabutan surat kuasa yang pernah diberikan Pak Gunawan kepada Rendy hampir setahun sebelumnya.
Tanggal pencabutannya enam bulan lalu.
Maya membaca dokumen itu dua kali untuk memastikan dirinya tidak salah melihat.
“Ayah sudah mencabut surat kuasa ini?”
Pak Gunawan mengangguk pelan.
“Bukan cuma mencabut.”
Maya membalik halaman berikutnya.
Ada surat pemberitahuan resmi kepada kantor pertanahan. Ada salinan laporan kepada notaris yang dulu membuat surat kuasa tersebut. Bahkan ada surat pernyataan bahwa segala tindakan hukum yang dilakukan Rendy dengan menggunakan surat kuasa lama setelah tanggal pencabutan tidak lagi mendapat persetujuan Pak Gunawan.
Maya menatap ayahnya.
“Tapi Rendy bilang surat kuasa itu masih ada di tangannya.”
“Memang masih.”
Jawaban itu justru membuat Maya semakin bingung.
Pak Gunawan tersenyum tipis.
“Bapak sengaja tidak memintanya kembali.”
Maya mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena Bapak ingin tahu seberapa jauh dia berani melangkah.”
Ruangan rumah sakit mendadak terasa lebih sunyi.
Suara mesin pemantau jantung terdengar teratur di sisi tempat tidur.
Pak Gunawan memejamkan mata beberapa detik sebelum melanjutkan.
“Enam bulan lalu, Rendy datang ke Trawas sendirian. Dia bilang ingin mengurus renovasi rumah Surabaya karena ada kebocoran atap dan perlu mewakili Bapak untuk beberapa administrasi.”
Maya langsung teringat.
Saat itu Rendy memang pernah mengatakan bahwa ia akan membantu mengurus perbaikan rumah.
Ia bahkan memuji suaminya karena terlihat peduli.
“Ternyata setelah itu,” lanjut Pak Gunawan, “dia bertanya kepada notaris lama apakah surat kuasa tersebut bisa dipakai untuk menjual rumah.”
Maya merasakan tengkuknya dingin.
“Ayah tahu dari mana?”
“Notaris itu teman lama Bapak.”
Pak Gunawan menatap putrinya.
“Dia menelepon Bapak malam itu juga.”
Sejak saat itulah Pak Gunawan mulai curiga.
Ia tidak langsung memberi tahu Maya karena belum memiliki bukti bahwa Rendy benar-benar berniat menjual rumah. Ia takut jika hanya berdasarkan kecurigaan, rumah tangga putrinya justru hancur karena tuduhan yang belum pasti.
Namun Pak Gunawan memilih berjaga-jaga.
Surat kuasa dicabut.
Kantor pertanahan diberi pemberitahuan.
Notaris yang biasa menangani aset keluarga juga diminta mencatat bahwa Pak Gunawan tidak pernah memberi persetujuan penjualan rumah tersebut.
Maya membuka dokumen terakhir.
Kali ini isinya jauh lebih mengejutkan.
Sebuah perjanjian pengalihan hak melalui hibah bersyarat.
Rumah itu telah dipersiapkan untuk dialihkan kepada Maya.
Namun proses finalnya baru akan dilaksanakan ketika kondisi kesehatan Pak Gunawan memungkinkan.
“Ayah…”
Suara Maya bergetar.
Pak Gunawan memandang putrinya dengan tatapan yang jauh lebih lembut.
“Bapak tidak pernah takut kehilangan rumah itu, Maya.”
Ia berhenti sebentar.
“Yang Bapak takutkan adalah kamu kehilangan dirimu sendiri karena terlalu lama bertahan dengan orang yang tidak menghargaimu.”
Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh dari mata Maya.
Pak Gunawan mengulurkan tangan.
Maya menggenggamnya.
“Besok,” kata lelaki tua itu, “kamu jangan menghentikan Rendy.”
Maya menatapnya.
“Maksud Ayah?”
“Biarkan dia datang ke transaksi.”
“Ayah mau membiarkannya mencoba menjual rumah?”
“Ya.”
Maya hampir tidak percaya.
“Tapi kalau sampai berhasil?”
Pak Gunawan tersenyum tipis.
“Tidak akan.”
Keesokan paginya, Maya tidak pulang ke rumah.
Ia juga tidak menghubungi Rendy.
Sebaliknya, atas arahan ayahnya, Maya menelepon seorang pengacara bernama Anton Prasetyo.
Pak Anton adalah teman lama keluarga mereka.
Ketika menerima penjelasan singkat mengenai situasi tersebut, ia tidak terdengar terkejut.
“Pak Gunawan sudah menghubungi saya dua minggu lalu.”
Maya terdiam.
“Dua minggu?”
“Beliau meminta saya bersiap jika menantunya melakukan sesuatu terhadap aset keluarga.”
Jantung Maya kembali berdebar.
Berarti ayahnya tidak hanya curiga.
Pak Gunawan rupanya sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk jauh sebelum operasi dilakukan.
Pak Anton meminta Maya tidak melakukan apa pun terhadap Rendy.
Tidak menelepon.
Tidak mengancam.
Tidak menunjukkan bahwa rencananya telah diketahui.
“Kalau dia benar-benar datang membawa surat kuasa yang sudah tidak berlaku dan menggunakannya untuk transaksi,” jelas Pak Anton, “itu justru akan memberi kita bukti yang jauh lebih kuat.”
Maya mengikuti instruksi tersebut.
Sepanjang hari, ia tetap berada di rumah sakit.
Rendy beberapa kali mengirim pesan.
Barangmu masih di depan rumah.
Jam sembilan malam terakhir.
Jangan bikin masalah.
Maya membaca semuanya tanpa membalas.
Sore harinya, salah satu tetangganya mengirim foto.
Empat kardus besar terlihat tergeletak di depan pagar rumah.
Beberapa pakaian Maya bahkan tampak menyembul dari salah satu kardus.
Maya menatap foto itu cukup lama.
Anehnya, kali ini ia tidak merasa hancur.
Yang muncul justru rasa lega.
Seolah-olah kardus-kardus tersebut bukan simbol bahwa ia sedang diusir dari rumah.
Melainkan tanda bahwa ia akhirnya sedang keluar dari kehidupan yang selama ini menggerogotinya sedikit demi sedikit.
Hari berikutnya pukul sebelas siang, rencana Rendy mulai bergerak.
Pak Anton mendapat informasi bahwa sebuah pertemuan transaksi akan dilakukan di kantor notaris di kawasan Darmo.
Rendy datang bersama seorang laki-laki bernama Haris yang mengaku sebagai pembeli.
Siska juga ikut hadir.
Perempuan itu mengenakan blus krem, celana panjang putih, serta membawa tas mahal berwarna hitam.
Di jari manisnya terdapat cincin berlian kecil.
Rendy terlihat jauh lebih rapi daripada biasanya.
Kemeja putih.

Jam tangan mengilap.
Rambut ditata dengan pomade.
Ia datang seperti seseorang yang yakin akan menerima uang dalam jumlah besar dalam hitungan jam.
Yang tidak ia ketahui, notaris tempat transaksi itu berlangsung telah menerima pemberitahuan mengenai pencabutan surat kuasa.
Pak Anton bahkan sudah berada di ruangan belakang.
Maya juga datang.
Namun ia duduk di ruangan terpisah bersama ayahnya yang mengikuti pertemuan melalui panggilan video dari rumah sakit.
Dokter sebenarnya menyarankan Pak Gunawan beristirahat.
Tetapi lelaki tua itu bersikeras ingin menyaksikan sendiri akhir permainan yang sudah dipersiapkannya.
Di ruang utama, Rendy meletakkan sejumlah dokumen di atas meja.
“Ini sertifikat fotokopinya,” katanya percaya diri.
Notaris membuka dokumen tersebut.
“Yang asli?”
“Masih disimpan pemilik.”
“Pak Gunawan?”
“Iya.”
Notaris mengangguk.
“Dan Bapak bertindak berdasarkan surat kuasa?”
Rendy langsung menyerahkan lembar yang selama ini ia banggakan.
“Semuanya lengkap.”
Notaris membaca surat itu perlahan.
Siska yang duduk di samping Rendy mulai tersenyum.
Haris bahkan sudah membuka aplikasi mobile banking di ponselnya.
“Kalau semua aman,” katanya, “uang muka Rp750 juta saya transfer hari ini.”
Mata Rendy langsung berbinar.
Notaris meletakkan surat itu kembali.
“Pak Rendy, kapan terakhir kali Anda berbicara dengan Pak Gunawan mengenai penjualan rumah ini?”
Rendy tidak ragu.
“Tiga hari lalu.”
Maya yang mendengarkan dari ruangan sebelah mengepalkan tangannya.
Rendy berbohong dengan begitu mudah.
Notaris melanjutkan.
“Beliau menyetujui harga ini?”
“Tentu.”
“Secara langsung?”
“Secara langsung.”
“Di rumah sakit?”
“Iya.”
Siska menoleh sebentar kepada Rendy.
Mungkin baru kali itu ia mendengar versi cerita tersebut.
Notaris lalu menatap Rendy cukup lama.
“Menarik.”
Rendy mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Notaris membuka sebuah map biru.
Ia mengeluarkan dokumen pencabutan surat kuasa.
“Karena surat kuasa yang Bapak gunakan sudah dicabut enam bulan lalu.”
Wajah Rendy langsung kehilangan warna.
Siska berhenti tersenyum.
Haris menurunkan ponselnya.
“Apa?”
Rendy segera mengambil dokumen tersebut.
“Ini tidak mungkin.”
“Dokumen pencabutan sudah disampaikan secara resmi.”
“Tidak. Pak Gunawan nggak pernah bilang apa-apa ke saya.”
“Pemberi kuasa tidak membutuhkan izin penerima kuasa untuk mencabut kuasa.”
Rendy mulai panik.
“Pak Gunawan sedang sakit. Mungkin dia tidak sadar waktu tanda tangan.”
Pintu ruangan terbuka.
Pak Anton masuk.
“Sebaiknya Anda berhati-hati memilih kalimat berikutnya, Pak Rendy.”
Rendy langsung berdiri.
“Siapa Anda?”
“Kuasa hukum Pak Gunawan.”
Wajah Rendy semakin pucat.
Pak Anton meletakkan beberapa dokumen di meja.
“Selain surat kuasa yang sudah dicabut, kami juga memiliki rekaman komunikasi Anda dengan calon pembeli dan salinan pesan yang menunjukkan bahwa Anda menawarkan rumah ini seolah-olah milik Anda sendiri.”
Rendy membeku.
Siska menatapnya tajam.
“Kamu bilang rumah itu memang bakal jadi milikmu.”
Rendy berbisik.
“Diam dulu.”
Namun semuanya belum selesai.
Pak Anton menoleh ke arah pintu.
“Maya, silakan masuk.”
Ketika Maya muncul, wajah Rendy berubah total.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Maya melihat suaminya benar-benar ketakutan.
“Kamu?”
Maya berjalan masuk dengan tenang.
Ia tidak berteriak.
Tidak menangis.
Tidak memaki.
Ia hanya duduk di kursi seberang Rendy.
“Barang-barangku masih di depan pagar?”
Rendy terdiam.
Siska berdiri.
“Aku nggak mau terlibat urusan keluarga kalian.”
Maya memandang perempuan itu.
“Siska.”
Perempuan itu berhenti.
“Aku cuma mau tahu satu hal.”
Siska menatapnya.
“Kamu tahu rumah itu milik ayahku?”
Siska terlihat ragu.
“Rendy bilang rumah itu akan diwariskan kepadanya.”
Maya hampir tertawa mendengarnya.
“Kepada Rendy?”
Siska menoleh tajam kepada laki-laki di sampingnya.
“Dia bilang Pak Gunawan sudah setuju rumah itu nanti atas nama kami.”
Rendy langsung memotong.
“Siska, cukup.”
Namun Haris sudah berdiri.
“Saya membatalkan transaksi ini.”
Rendy mendadak panik.
“Pak Haris, tunggu. Kita bisa selesaikan.”
“Nggak ada yang perlu diselesaikan.”
Haris memasukkan ponselnya ke saku.
“Saya datang untuk membeli rumah legal, bukan ikut masalah pidana.”
Ia pergi tanpa menoleh lagi.
Siska menyusul beberapa langkah.
Rendy menahan lengannya.
“Kamu mau ke mana?”
Siska menarik tangannya.
“Pulang.”
“Kita bisa jelasin semuanya.”
“Jelaskan apa?”
Suara Siska meninggi.
“Kamu bilang rumah itu sudah pasti dijual. Kamu bilang setelah uang cair kamu akan beli rumah buat kita.”
Rendy mulai berbisik panik.
“Aku tetap bisa cari cara.”
Namun Siska menatapnya dengan jijik.
“Kamu bahkan bohong soal utangmu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Maya menoleh.
“Utang?”
Siska tersadar telah mengatakan terlalu banyak.
Rendy langsung membentaknya.
“Keluar!”
Namun Maya sudah mengerti bahwa masih ada sesuatu yang belum diketahui.
Pak Anton membuka dokumen lain.
“Ini yang dimaksud?”
Ia menggeser beberapa lembar kertas.
Maya membaca angka-angka di sana.
Pinjaman online.
Utang kartu kredit.
Pinjaman kepada beberapa kenalan.
Totalnya hampir Rp430 juta.
Sebagian menggunakan alamat rumah Pak Gunawan sebagai alamat korespondensi.
Rendy terduduk.
Semua kesombongan yang selama ini selalu diperlihatkannya hilang dalam waktu kurang dari lima belas menit.
Pak Anton memandangnya.
“Dan kami belum membicarakan Rp180 juta yang Anda pinjam dari Pak Gunawan.”
Maya melihat suaminya seperti melihat orang asing.
Kini ia paham.
Rendy tidak hanya ingin hidup bersama Siska.
Ia membutuhkan penjualan rumah tersebut untuk menutup tumpukan utangnya.
Rencana membeli rumah baru hanyalah janji lain yang kemungkinan tidak pernah akan terwujud.
Siska tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena merasa dipermainkan.
“Jadi selama ini kamu cuma mau pakai uang rumah itu buat bayar utang?”
Rendy mengusap wajah.
“Siska…”
Perempuan itu melepas cincin dari jarinya.
Ia melemparkannya ke meja.
“Kamu bilang ini cincin cicilan terakhir.”
Rendy tidak menjawab.
“Jangan pernah hubungi aku lagi.”
Siska pergi.
Rendy mencoba mengejarnya, tetapi Pak Anton menghentikannya.
“Belum selesai.”
Rendy menatap Maya.
Kali ini suaranya berubah lembut.
Nada yang selama berbulan-bulan hilang.
“May.”
Maya merasa ironis mendengarnya.
“Jangan panggil aku begitu.”
“Aku bisa jelasin.”
“Silakan.”
Rendy membuka mulut.
Namun tidak ada penjelasan yang keluar.
Karena untuk kebohongan sebanyak itu, bahkan orang sepandai Rendy pun kehabisan cerita.
Akhirnya ia hanya berkata, “Aku khilaf.”
Maya menatapnya lama.
“Khilaf itu satu keputusan buruk, Rendy.”
Ia menunjuk dokumen di meja.
“Ini rencana.”
Rendy menunduk.
“Kasih aku satu kesempatan.”
Maya tersenyum tipis.
“Kamu sudah dapat terlalu banyak.”
Dua hari kemudian, Maya resmi mengajukan gugatan cerai.
Pak Gunawan berhasil melewati operasi dan kondisinya perlahan membaik.
Begitu keluar dari rumah sakit tiga minggu kemudian, hal pertama yang dilakukannya bukan pulang ke Trawas.
Ia meminta Maya mengantarnya ke kantor notaris.
Di tempat itulah proses hibah rumah akhirnya diselesaikan.
Sertifikat rumah tersebut dialihkan secara sah kepada Maya.
Setelah tanda tangan terakhir selesai, Pak Gunawan menyerahkan map dokumen kepada putrinya.
“Sekarang benar-benar jadi rumahmu.”
Maya menahan tangis.
“Ayah nggak takut aku salah lagi?”
Pak Gunawan tersenyum.
“Rumah bisa dijaga dengan sertifikat.”
Ia menyentuh tangan Maya.
“Tapi hidupmu harus kamu jaga sendiri.”
Maya memeluk ayahnya.
Beberapa bulan kemudian, perceraian selesai.
Rendy tidak mendapat bagian apa pun dari rumah.
Ia juga tetap diwajibkan menyelesaikan kewajiban utangnya kepada Pak Gunawan melalui proses perdata yang sedang berjalan.
Usahanya mencoba menjual rumah menggunakan surat kuasa yang sudah dicabut menjadi bahan pemeriksaan lebih lanjut setelah Pak Gunawan membuat laporan resmi.
Ironisnya, kehidupan baru yang dijanjikan Rendy kepada Siska juga tidak pernah terjadi.
Siska memutuskan hubungan mereka bahkan sebelum Maya resmi bercerai.
Namun kejutan terbesar justru terjadi enam bulan setelah semuanya selesai.
Suatu sore, Maya sedang membersihkan gudang kecil di lantai dua rumah ketika menemukan kardus lama milik ibunya.
Di dalamnya terdapat album foto, beberapa surat, dan sebuah amplop putih dengan tulisan tangan Pak Gunawan.
Untuk Maya, dibuka setelah rumah ini benar-benar menjadi milikmu.
Maya membawa amplop itu ke ruang tengah.
Pak Gunawan yang sedang menginap di Surabaya setelah kontrol kesehatan duduk di sofa sambil membaca koran.
“Ayah tahu soal ini?”
Pak Gunawan melihat amplop tersebut.
Ia terdiam beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Buka saja.”
Di dalamnya terdapat surat pendek.
Tulisan itu ternyata dibuat hampir dua puluh tahun lalu.
Saat Maya masih duduk di bangku SMP.
Maya membacanya perlahan.
Jika suatu hari Maya sudah dewasa dan membaca surat ini, berarti rumah ini sudah benar-benar menjadi milikmu.
Ayah dan Ibu membeli rumah ini bukan supaya kamu menjadi kaya.
Kami membelinya supaya kalau suatu hari dunia memperlakukanmu dengan buruk, kamu selalu punya satu pintu yang masih bisa kamu buka tanpa meminta izin kepada siapa pun.
Jangan pertahankan seseorang hanya karena takut kehilangan tempat pulang.
Rumah ini memang dibuat agar kamu tidak pernah punya alasan untuk takut pergi.
Maya berhenti membaca.
Air matanya jatuh membasahi kertas.
Ia menoleh kepada ayahnya.
Pak Gunawan ternyata sedang menatap halaman rumah melalui jendela.
“Ayah sudah merencanakan semuanya sejak aku kecil?”
Lelaki tua itu tertawa kecil.
“Bukan semuanya.”
Ia menoleh kepada Maya.
“Bapak cuma belajar dari hidup.”
Maya duduk di sampingnya.
“Belajar apa?”
Pak Gunawan menarik napas.
“Bahwa cinta seharusnya membuat seseorang merasa aman.”
Tatapannya lembut.
“Kalau sesuatu yang kamu sebut cinta justru membuatmu takut kehilangan rumah, uang, harga diri, bahkan dirimu sendiri, mungkin itu bukan cinta yang harus dipertahankan.”
Maya menggenggam surat tersebut erat-erat.
Selama bertahun-tahun ia mengira warisan terbesar yang diberikan ayahnya adalah sebuah rumah dua lantai di Surabaya Barat.
Ternyata bukan.
Warisan terbesar itu adalah keberanian untuk membuka pintu dan pergi ketika seseorang sudah tidak pantas lagi tinggal di dalam hidupnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya tidur di kamar lamanya tanpa rasa cemas menunggu suara pagar dibuka tengah malam.
Tidak ada ponsel yang disembunyikan.
Tidak ada kebohongan.
Tidak ada langkah kaki yang membuat dadanya berdebar takut.
Hanya ada suara hujan tipis di luar jendela dan lampu teras yang menyala hangat.
Rumah itu masih sama seperti ketika Maya kecil.
Tetapi Maya tidak lagi sama.
Dan mungkin itulah rencana terbesar Pak Gunawan sejak awal.
Bukan sekadar menyelamatkan rumah dari Rendy.
Melainkan memastikan bahwa ketika hari paling buruk dalam kehidupan putrinya tiba, Maya akhirnya mengerti bahwa ia selalu memiliki pilihan untuk pulang.
Dan yang jauh lebih penting, ia selalu memiliki pilihan untuk memulai lagi.
