MALAM ITU, PEMILIK KLUB MENANTANGKU MELAWAN PETARUNG TERKUATNYA HANYA UNTUK…

MALAM ITU, PEMILIK KLUB MENANTANGKU MELAWAN PETARUNG TERKUATNYA HANYA UNTUK MEMPERMALUKANKU DI DEPAN SEMUA ORANG. NAMUN 14 DETIK KEMUDIAN, SEBUAH PESAN MASUK KE PONSELNYA DAN MEMBUAT WAJAHNYA LANGSUNG PUCAT!

Jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari ketika sebuah gudang tua di kawasan industri Jakarta Selatan masih dipenuhi aktivitas.

Dari luar, bangunan itu tampak seperti gudang terbengkalai. Namun di balik pintu besi tebalnya, tersembunyi klub eksklusif yang hanya diketahui kalangan tertentu.

Di lantai atas, musik berdentum dan minuman mahal mengalir tanpa henti. Di ruang bawah tanah, para pengusaha, pejabat, dan orang-orang berduit mengelilingi sebuah arena pertarungan tertutup.

Malam itu, semua mata justru tertuju kepada Sari.

Empat belas detik sebelumnya, perempuan yang sudah lima minggu bekerja sebagai pelayan itu baru saja membuat Bima, petarung andalan Aris Pratama, menyerah di atas matras.

Tidak ada lagi yang tertawa.

Sari mengenakan kembali apron hitamnya, lalu mengambil kain lap seperti tidak terjadi apa-apa.

“Saya lebih suka pernikahan tanpa bunga,” katanya santai.

Aris masih berdiri mematung ketika ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Ia membacanya.

Wajahnya seketika pucat.

Pesan itu hanya terdiri dari dua kalimat.

Jangan sentuh perempuan bernama Sari Mahendra.

Kalau dia terluka malam ini, seluruh isi server klubmu akan sampai ke tangan penyidik sebelum matahari terbit.

Aris mengangkat kepala perlahan.

“Sari Mahendra?”

Untuk pertama kalinya, perempuan itu berhenti mengelap meja.

Aris memperlihatkan layar ponselnya.

“Kamu kenal orang yang mengirim ini?”

Sari melihat nomor pengirim.

Tidak tersimpan.

Namun tiga digit terakhirnya membuat jemarinya menegang.

Sudah enam tahun ia tidak melihat kombinasi angka itu.

“Itu bukan urusan saya,” jawabnya.

Tiba-tiba seorang pria berjas abu-abu membanting tiket taruhannya ke meja.

“Saya kehilangan seratus delapan puluh juta gara-gara perempuan ini!”

Beberapa tamu lain ikut berdiri.

“Pertandingannya tidak sah!”

“Bima sengaja kalah!”

“Kembalikan uang kami!”

Suasana berubah dalam hitungan detik.

Aris mengangkat tangan.

“Tidak ada yang menyentuh dia.”

Kalimat itu justru membuat semua orang semakin heran.

Rama menatap bosnya tak percaya.

“Pak, dia cuma pelayan.”

Aris menoleh tajam.

“Mulai sekarang, siapa pun yang menyentuh dia tanpa izin saya, keluar dari tempat ini.”

Sari memandang Aris.

Lima menit sebelumnya pria itu menjadikannya bahan hiburan. Sekarang ia justru melindunginya.

Bukan karena iba.

Karena takut.

Sari membuka ikatan apronnya.

“Saya pulang.”

“Kamu tidak boleh pergi.”

Sari menatap Aris.

“Itu perintah?”

“Nasihat.”

“Bedanya?”

Aris mendekat dan merendahkan suaranya.

“Orang yang mengirim pesan ini tahu tentang server klubku. Hanya empat orang yang seharusnya tahu server itu ada.”

“Berarti keamanan Anda buruk.”

Aris hampir marah, tetapi menahannya.

“Kamu sebenarnya siapa?”

Sari tersenyum tipis.

“Pelayan yang baru saja Anda paksa bertarung.”

Lalu seluruh lampu ruang bawah tanah padam.

Jeritan terdengar.

Beberapa detik kemudian lampu darurat merah menyala.

Pintu besi menuju tangga otomatis terkunci.

Seorang staf keamanan berlari mendekati Aris.

“Pak, sistem kita diambil alih.”

“Apa?”

“Server utama terkunci. Kamera mati. Rekaman transaksi juga tidak bisa diakses.”

Aris langsung memandang Sari.

Namun perempuan itu terlihat sama terkejutnya.

Kemudian layar besar di atas arena yang biasanya menampilkan angka taruhan tiba-tiba menyala.

Muncul hitungan mundur.

00:09:59.

Sepuluh menit.

Di bawahnya tertulis satu kalimat.

ARIS PRATAMA, WAKTUNYA MEMBAYAR UTANGMU.

Ruangan berubah kacau.

Para tamu berteriak meminta pintu dibuka.

Aris bergegas menuju ruang kontrol. Sari sebenarnya bisa saja tetap diam.

Namun angka 317 terus terbayang di kepalanya.

Ia akhirnya mengikuti Aris.

Begitu tiba di lorong belakang, Rama menghadang.

“Bos, jangan percaya dia. Semua ini terjadi setelah dia naik arena.”

Aris tidak menjawab.

Sari justru memperhatikan pintu ruang kontrol.

Tidak ada bekas kerusakan.

“Orang yang mengambil alih sistem tidak masuk dari luar,” katanya.

Rama mendengus.

“Dan sekarang pelayan jadi ahli komputer?”

Sari menunjuk panel akses.

“Kalau serangannya dari luar, sistem cadangan seharusnya tetap aktif. Tapi pintu, kamera, dan server utama mati bersamaan.”

Aris langsung memahami maksudnya.

“Orang dalam.”

Sari mengangguk.

Mereka masuk ke ruang kontrol.

Seorang teknisi bernama Danu duduk di depan komputer dengan wajah berkeringat.

“Berapa lama?” tanya Aris.

“Saya tidak tahu, Pak.”

Sari mendekati monitor.

Hitungan mundur tinggal delapan menit.

Kemudian matanya menangkap sesuatu.

Sebuah kabel jaringan tambahan terpasang di belakang terminal utama.

Kabel itu menuju kotak kecil di bawah meja.

Sari mencabutnya.

Layar berkedip.

Hitungan mundur berhenti.

07:42.

Danu langsung berdiri.

“Itu bukan punya saya!”

Sari menatapnya.

“Saya belum bilang itu milik Anda.”

Danu membeku.

Aris langsung memberi isyarat kepada Rama.

Namun sebelum Rama bergerak, Danu berlari menuju pintu.

Bima yang baru keluar dari ruang medis muncul dari lorong dan menjegalnya.

Danu jatuh.

Rama segera menahannya.

“Siapa yang menyuruhmu?” bentak Aris.

Danu menutup mulut.

Sari berjongkok di dekat kotak kecil tadi.

Pada bagian bawah perangkat terdapat stiker lama yang hampir terkelupas.

Sebuah logo berbentuk lingkaran dengan angka 317 di tengahnya.

Dada Sari terasa sesak.

Enam tahun lalu, logo yang sama terpasang di pintu sebuah pusat pelatihan bela diri milik ayahnya.

Mahendra Tactical Academy.

Tempat itu ditutup setelah ayahnya, Kolonel purnawirawan Surya Mahendra, meninggal dalam kecelakaan mobil.

Setidaknya, itulah yang dikatakan semua orang.

Sari berdiri.

“Siapa yang memberikan alat ini?”

Danu menatapnya.

Wajahnya berubah ketika mendengar nada suara Sari.

“Kamu…”

“Jawab.”

Danu tertawa gugup.

“Jadi benar. Kamu anaknya.”

Aris menoleh.

“Anak siapa?”

Danu belum sempat menjawab ketika ponsel Sari berdering.

Nomor tak dikenal.

Sari mengangkatnya.

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Kemudian terdengar suara pria tua.

“Sar.”

Tubuh Sari membeku.

Hanya satu orang yang pernah memanggilnya seperti itu.

“Ayah?”

Aris menatapnya.

Sari merasa seluruh ruangan berputar.

Suara itu terdengar lebih berat daripada yang ia ingat, tetapi ia tidak mungkin salah.

“Ayah masih hidup?”

“Keluar dari gedung itu sekarang.”

“Enam tahun.”

Suara Sari bergetar untuk pertama kalinya.

“Enam tahun aku mengira Ayah meninggal.”

“Ayah akan jelaskan semuanya.”

“Kenapa sekarang?”

Di ujung telepon terdengar napas panjang.

“Karena Aris akhirnya menemukanmu.”

Sari perlahan menatap pria berjas hitam itu.

Aris menggeleng.

“Aku bahkan tidak tahu siapa ayahmu.”

Suara di telepon melanjutkan.

“Jangan percaya siapa pun di sana.”

Sambungan terputus.

Beberapa detik kemudian listrik kembali menyala.

Pintu darurat terbuka.

Para tamu langsung berebut keluar.

Aris memerintahkan staf mengembalikan seluruh taruhan pertandingan terakhir.

Namun Sari sudah tidak peduli.

Ia hanya ingin satu jawaban.

Mengapa ayahnya memalsukan kematian?

Dan mengapa semua itu berhubungan dengan Aris?

Sari mengambil tasnya.

Aris mengejarnya sampai tempat parkir.

“Tunggu.”

Sari berbalik.

“Anda sudah mendapat hiburan malam ini. Jangan ikut campur.”

“Pesan pertama masuk ke ponselku.”

“Jadi?”

“Artinya orang yang mengirimnya ingin aku terlibat.”

Sari terdiam.

Aris mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pesan kedua yang baru saja masuk.

KALI INI JANGAN GAGAL MELINDUNGI ANAK SURYA.

Sari membaca kalimat itu dua kali.

“Kali ini?”

Aris mendadak kehilangan kata-kata.

Sari langsung menangkap perubahan wajahnya.

“Anda mengenal ayah saya.”

Aris mengembuskan napas panjang.

“Dulu.”

“Katakan.”

Enam tahun sebelumnya, sebelum menjadi pemilik jaringan klub dan perusahaan keamanan, Aris hanyalah pengusaha muda yang nyaris bangkrut.

Ia terjerat utang kepada kelompok yang menggunakan bisnis keamanan sebagai kedok untuk pencucian uang dan perjudian ilegal.

Surya Mahendra adalah orang yang membantunya keluar.

Bukan dengan uang.

Dengan bukti.

Surya mengumpulkan dokumen transaksi kelompok tersebut selama hampir dua tahun.

Aris menjadi informan.

Mereka berencana menyerahkan semuanya kepada pihak berwenang.

Namun sehari sebelum pertemuan, mobil Surya ditemukan terbakar di kawasan Puncak.

Tidak ada jasad yang bisa dikenali secara pasti.

Aris mengira Surya tewas.

“Saya menunggu ayahmu malam itu,” kata Aris. “Dia tidak pernah datang.”

Sari menatapnya dingin.

“Dan setelah itu Anda malah membangun tempat seperti ini?”

Pertanyaan itu menghantam tepat sasaran.

Aris menunduk.

“Aku pikir satu-satunya cara bertahan adalah masuk lebih dalam.”

“Jadi Anda menjadi seperti orang-orang yang diburu ayah saya.”

Aris tidak membantah.

Pukul empat pagi, sebuah mobil hitam berhenti di luar gudang.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun turun.

Langkahnya sedikit pincang.

Ada bekas luka panjang di sisi wajahnya.

Sari mengenal mata itu.

Ia tidak bergerak.

Surya Mahendra berdiri beberapa meter di depannya.

“Sar.”

Sari berjalan mendekat.

Lalu menamparnya.

Suara tamparan terdengar jelas di parkiran yang sepi.

Surya tidak menghindar.

“Itu untuk enam tahun,” kata Sari dengan mata basah.

Kemudian ia memeluk ayahnya.

Surya menutup mata dan memeluk putrinya erat.

“Ayah minta maaf.”

Ternyata kecelakaan enam tahun lalu bukan kecelakaan.

Seseorang mencoba membunuh Surya setelah identitasnya sebagai pengumpul bukti terbongkar.

Ia selamat, tetapi menyadari bahwa orang-orang yang mengejarnya juga mengetahui keberadaan Sari.

Karena itulah ia memalsukan kematiannya.

Ia menghilang, berpindah tempat, dan diam-diam terus mengumpulkan bukti.

“Lalu kenapa aku harus bekerja di klub ini?” tanya Sari.

Surya menatap Aris.

“Ayah tidak pernah menyuruhmu bekerja di sini.”

Sari mengernyit.

“Lowongan itu dikirim ke emailku.”

“Bukan dari Ayah.”

Mereka bertiga terdiam.

Tiba-tiba Aris seperti menyadari sesuatu.

“Danu.”

Mereka kembali ke dalam.

Namun ruang tempat Danu ditahan kosong.

Rama ditemukan tidak sadarkan diri di lorong.

Di lantai terdapat ponsel milik Danu.

Satu pesan terakhir masih terbuka.

TARGET SUDAH BERTEMU. FASE KEDUA DIMULAI.

Sari menatap ayahnya.

“Kita dipancing.”

Surya mengangguk.

“Bukan cuma kamu.”

Ia menatap Aris.

“Kita semua.”

Tiga mobil polisi kemudian memasuki kawasan gudang.

Disusul kendaraan penyidik.

Aris tampak terkejut.

Surya justru tenang.

“Aku yang menghubungi mereka.”

Aris menatapnya tajam.

“Kamu bilang server klub akan dikirim ke penyidik.”

“Benar.”

“Jadi ancaman itu darimu?”

Surya menggeleng.

“Pesan pertama iya.”

Ia menunjuk ponsel Danu.

“Yang ini bukan.”

Aris terdiam.

Beberapa petugas masuk dan mulai mengamankan komputer serta dokumen.

Aris tidak melawan.

Ia menyerahkan kunci ruang server.

Sari menatapnya.

“Anda tahu ini bisa menghancurkan semua bisnis Anda?”

Aris tersenyum pahit.

“Mungkin sudah waktunya.”

Namun kejutan terbesar muncul dua minggu kemudian.

Danu ditemukan dan ditangkap di sebuah apartemen di Bekasi.

Dari laptopnya, penyidik menemukan bukti bahwa ia bukan dalang utama.

Orang yang mengatur semuanya adalah Rama.

Pengawal yang selama bertahun-tahun dipercaya Aris.

Rama ternyata bekerja untuk jaringan lama yang pernah memburu Surya.

Ia sengaja merekrut Sari melalui lowongan palsu setelah menemukan identitasnya.

Tujuannya sederhana.

Memancing Surya keluar dari persembunyian.

Yang tidak mereka perkirakan hanyalah satu hal.

Sari tidak pernah menjadi perempuan lemah yang perlu diselamatkan.

Sejak kecil, Surya melatih putrinya bela diri.

Setelah kematian ayahnya, Sari berhenti berlatih dan memilih hidup sederhana.

Nyeri punggung yang selama ini ia obati bahkan berasal dari cedera lama saat mengikuti kejuaraan judo nasional bertahun-tahun sebelumnya.

Empat belas detik di arena itu bukan keberuntungan.

Itu adalah refleks yang selama bertahun-tahun ia paksa untuk dilupakan.

Tiga bulan kemudian, klub bawah tanah itu ditutup permanen.

Aris bekerja sama dengan penyidik dan menyerahkan catatan transaksi yang membongkar jaringan perjudian serta pencucian uang yang jauh lebih besar.

Beberapa bisnis legalnya tetap bertahan, tetapi ia kehilangan sebagian besar kekayaannya.

Sari tidak pernah menjadi istrinya.

Setidaknya tidak seperti lelucon bodoh yang pernah ia ucapkan malam itu.

Suatu sore, Sari datang ke sebuah gedung kecil di Jakarta Selatan.

Papan baru terpasang di depan pintunya.

Mahendra Center.

Tempat itu bukan klub.

Bukan arena taruhan.

Melainkan pusat pelatihan bela diri dan pendampingan hukum bagi perempuan yang pernah mengalami kekerasan di tempat kerja.

Bima menjadi salah satu pelatihnya.

Aris membiayai renovasi gedung sebagai bagian dari upayanya memperbaiki kesalahan masa lalu.

Sementara Surya lebih sering duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan putrinya melatih peserta.

Suatu hari Aris datang membawa dua cangkir kopi.

Ia memberikan satu kepada Sari.

“Masih ingat taruhan malam itu?”

Sari menerima kopinya.

“Tiga menit melawan Bima?”

“Yang setelah itu.”

Sari menahan senyum.

“Anda bilang akan menikahi saya kalau Bima menyerah.”

Aris mengangguk.

“Saya ternyata kalah.”

“Parah.”

“Jadi bagaimana?”

Sari menatapnya beberapa detik.

Kemudian ia menunjuk matras.

“Lawan saya.”

Aris hampir tersedak kopinya.

“Untuk apa?”

“Kalau Anda bisa bertahan empat belas detik, saya pertimbangkan ajakan makan malam.”

Bima yang mendengar dari kejauhan langsung tertawa.

Aris meletakkan kopinya.

“Empat belas detik?”

Sari mengikat rambutnya.

“Takut?”

Aris melepas jas.

“Kali ini tidak.”

Beberapa menit kemudian Surya berdiri di dekat pintu sambil melihat keduanya memasuki matras.

Ia tersenyum kecil.

Enam tahun sebelumnya, ia menghilang karena percaya bahwa satu-satunya cara melindungi putrinya adalah menjauh darinya.

Namun akhirnya ia memahami sesuatu.

Melindungi seseorang bukan berarti menentukan seluruh hidupnya.

Kadang kita hanya perlu memberinya kebenaran, lalu percaya bahwa ia cukup kuat untuk memilih jalannya sendiri.

Bima mengangkat stopwatch.

“Siap?”

Aris mengambil posisi.

Sari tersenyum.

“Mulai.”

Empat belas detik kemudian terdengar suara tubuh jatuh ke matras.

Disusul tawa keras memenuhi ruangan.

Dan untuk pertama kalinya, empat belas detik tidak menghancurkan hidup siapa pun.

Empat belas detik justru menjadi awal dari kehidupan yang baru.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang