AKU MEMBELIKAN RUMAH MEWAH SENILAI RP1,2 MILIAR UNTUK ORANG TUAKU, TAPI MEREKA MALAH MERAYAKAN …

“Maya! Maksud kamu apa membatalkan hibah rumah itu?”

Suara Bu Ratna terdengar begitu keras sampai Maya harus menjauhkan ponsel dari telinganya.

Maya memandang keluar jendela mobil. Di halaman yayasan, beberapa anak sedang membantu petugas menata meja plastik untuk makan malam sederhana. Tari terlihat berlari kecil sambil membawa tumpukan piring.

“Aku rasa pesanku ke notaris sudah cukup jelas, Bu.”

“Cukup jelas bagaimana? Rumah itu kan sudah kamu kasih ke kami!”

Maya tersenyum hambar.

“Belum, Bu. Aku baru berniat menghibahkannya. Sertifikatnya masih atas namaku. Akta hibah juga belum ditandatangani.”

Di seberang telepon mendadak sunyi.

Beberapa detik kemudian terdengar suara Pak Hendra.

“Kasih sini teleponnya.”

Lalu suara ayahnya menggantikan suara Bu Ratna.

“Kamu mau menghukum orang tua hanya gara-gara tidak diajak makan malam?”

Nada Pak Hendra masih sama seperti pagi tadi. Tegas, dingin, dan penuh keyakinan bahwa Maya pasti akan mengalah seperti biasanya.

Maya menutup mata sejenak.

“Bukan karena makan malamnya, Yah.”

“Terus karena apa?”

“Karena hari ini aku akhirnya paham posisi aku di keluarga ini.”

Pak Hendra mendengus.

“Jangan lebay.”

Kalimat itu justru membuat hati Maya semakin tenang.

Dulu, satu komentar seperti itu cukup untuk membuatnya merasa bersalah sepanjang hari.

Kini tidak lagi.

“Ayah bilang semuanya lebih tenang kalau aku tidak ada.”

“Itu cuma emosi.”

“Tapi benar, kan?”

Pak Hendra tidak menjawab.

Maya melanjutkan dengan suara datar.

“Kalau kehadiranku mengganggu ketenangan keluarga, aku rasa rumah yang kubeli juga tidak perlu mengganggu ketenangan kalian.”

“Kamu kurang ajar.”

Maya menatap halaman yayasan lagi.

Aneh sekali. Untuk pertama kalinya, mendengar ayahnya menyebutnya kurang ajar tidak membuatnya merasa takut.

“Aku cuma sedang berhenti memberi sesuatu kepada orang yang tidak menghargainya.”

Pak Hendra langsung memutus telepon.

Maya meletakkan ponselnya.

Belum sampai satu menit, pesan masuk bertubi-tubi.

Dini.

Bibinya.

Sepupunya.

Bahkan seorang paman yang hampir tidak pernah menghubunginya.

Semua menanyakan hal yang sama.

Kenapa rumah itu dibatalkan?

Tidak satu pun bertanya apakah Maya baik-baik saja.

Tidak satu pun menyinggung bagaimana perasaannya setelah sengaja disingkirkan dari acara keluarga.

Maya membaca semuanya tanpa membalas.

Sore menjelang malam, dia memutuskan pulang ke rumah kontrakannya di Surabaya.

Namun baru saja mobil memasuki halaman, Maya melihat dua kendaraan sudah terparkir di depan.

Ayah dan ibunya datang.

Dini juga ada di sana.

Begitu Maya turun dari mobil, Bu Ratna langsung menghampirinya.

“Kamu ini maunya apa, Maya?”

Maya mengunci mobil dengan tenang.

“Masuk dulu, Bu.”

“Apa yang mau dibicarakan lagi? Tinggal bilang ke notaris kalau tadi kamu cuma emosi.”

Maya membuka pintu rumah.

“Aku tidak emosi.”

Kalimat itu membuat ketiganya terdiam.

Mereka masuk.

Rumah kontrakan Maya tidak besar, hanya dua kamar dengan ruang tamu sederhana. Namun tempat itu selalu rapi.

Pak Hendra duduk dengan wajah kaku. Bu Ratna berdiri sambil memeluk tasnya. Dini tampak paling tidak nyaman.

Maya menuangkan air putih ke empat gelas.

Ayahnya tidak menyentuhnya.

“Kamu tahu rumah itu sudah kami ceritakan ke semua orang?” kata Pak Hendra. “Tetangga sudah tahu. Saudara-saudara sudah tahu. Minggu depan kami rencana mulai pindah barang.”

“Itu bukan keputusan yang aku buat.”

“Karena kamu sudah bilang rumah itu buat kami!”

“Aku bilang aku membelinya untuk Ayah dan Ibu. Karena waktu itu aku masih percaya hubungan kita berbeda.”

Pak Hendra berdiri.

“Jadi sekarang karena ada masalah sedikit, kamu tarik semuanya?”

Maya menatap ayahnya lurus.

“Masalah sedikit?”

Bu Ratna buru-buru menyela.

“Sudahlah. Ibu minta maaf soal semalam. Harusnya kami kasih tahu.”

“Kenapa tidak kasih tahu?”

Bu Ratna terdiam.

Maya menoleh pada Dini.

“Kamu tahu aku tidak diundang?”

Dini menunduk.

“Ya.”

“Dan kamu tidak bilang apa-apa?”

Dini menggenggam ujung bajunya.

“Ayah bilang jangan.”

Maya menghela napas pelan.

“Kenapa?”

Pak Hendra langsung menjawab.

“Karena setiap ada kamu, semua harus sesuai kemauanmu.”

Maya menatapnya.

“Contohnya?”

Pak Hendra terdiam sesaat.

“Lihat waktu acara keluarga dua minggu lalu. Kamu mempermalukan Ayah di depan orang.”

“Ayah mengejek perceraian Dini di depan hampir dua puluh orang.”

“Itu bercanda.”

“Dini menangis di kamar mandi setelah itu.”

Pak Hendra menoleh cepat pada Dini.

“Kamu menangis?”

Dini langsung menunduk lebih dalam.

Maya memperhatikan ekspresi adiknya.

Ada sesuatu yang selama ini tidak pernah dia lihat.

Ketakutan.

Bukan hanya ketidaknyamanan.

Ketakutan.

“Dini,” kata Maya pelan. “Ada apa sebenarnya?”

Dini menggeleng.

“Tidak ada.”

“Dini.”

Suara Maya lembut, tetapi tegas.

Dini menatap ayahnya, lalu ibunya.

Bu Ratna terlihat semakin gelisah.

Pak Hendra membentak.

“Jangan bikin drama lagi!”

Dini tersentak.

Dan pada saat itu Maya sadar.

Selama bertahun-tahun, dirinya bukan satu-satunya yang hidup mengikuti keinginan ayahnya.

Hanya saja Maya selalu melawan.

Dini tidak pernah berani.

“Aku mau ngomong,” kata Dini tiba-tiba.

Pak Hendra menatapnya tajam.

“Kamu diam.”

“Tidak.”

Suaranya bergetar.

Namun kali ini Dini tetap berdiri.

“Aku mau ngomong.”

Bu Ratna memegang lengan suaminya.

“Pak, biarkan.”

Dini menarik napas panjang.

“Aku sebenarnya bisa datang malam ini.”

Maya membeku.

“Apa?”

“Aku bilang ke Ayah dari awal kalau tanggal tiga puluh satu aku juga bisa.”

Maya perlahan menoleh pada ayahnya.

Pak Hendra tidak berkata apa-apa.

Dini mulai menangis.

“Ayah yang minta acaranya tanggal tiga puluh.”

“Kenapa?”

Dini mengusap air matanya.

“Karena Ayah masih marah sama Kak Maya.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Bu Ratna menutup wajah.

Maya menatap ibunya.

“Ibu tahu?”

Bu Ratna tidak mampu menjawab.

Maya mengangguk pelan.

Kini semuanya jelas.

Tidak ada perubahan jadwal mendadak.

Tidak ada alasan pekerjaan Dini.

Mereka memang sengaja membuat acara tanpa dirinya.

Pak Hendra akhirnya berkata, “Ayah cuma mau kasih pelajaran.”

“Pelajaran apa?”

“Supaya kamu tahu rasanya kalau selalu melawan orang tua.”

Maya tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena akhirnya dia memahami sesuatu yang selama ini sulit dia terima.

Bagi ayahnya, semua kebaikan Maya tidak pernah benar-benar dianggap kasih sayang.

Itu dianggap kewajiban.

Tetapi satu kali Maya berbeda pendapat, semua kebaikan itu seolah tidak pernah ada.

Maya berdiri.

“Baik.”

Pak Hendra mengernyit.

“Baik apa?”

“Sekarang aku sudah tahu.”

“Tahu apa?”

“Bahwa keputusan membatalkan hibah itu benar.”

Pak Hendra membanting telapak tangannya ke meja.

“Kamu pikir rumah itu cuma soal uang?”

Maya menatapnya.

“Justru Ayah yang sejak tadi bicara seolah rumah itu lebih penting daripada hubungan kita.”

Pak Hendra kehilangan kata-kata.

Maya melanjutkan.

“Sejak pagi tidak ada yang datang untuk bilang, ‘Maya, maaf kami menyakitimu.’ Kalian datang karena tahu hibah dibatalkan.”

Bu Ratna menangis.

“Maya…”

“Kalau notaris tidak memberi tahu, apakah Ibu akan datang?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Dan jawaban yang tidak keluar justru menjadi jawaban paling jujur.

Dini tiba-tiba berdiri dan berjalan mendekati Maya.

“Kak, aku minta maaf.”

Maya menatap adiknya.

“Aku pengecut,” lanjut Dini. “Aku tahu semuanya salah, tapi aku diam karena aku takut Ayah marah. Aku selalu begitu.”

Air mata Dini semakin deras.

“Aku juga selama ini sering kesal sama Kakak. Aku pikir Kakak sok ngatur. Tapi sekarang aku sadar, Kakak satu-satunya orang yang pernah bela aku waktu semua orang menertawakan perceraian aku.”

Maya tidak langsung menjawab.

Kemudian dia memeluk adiknya.

Pak Hendra memalingkan wajah.

Beberapa menit kemudian, ayah dan ibunya pergi tanpa menyelesaikan apa pun.

Namun sebelum keluar, Bu Ratna berbisik pada Maya.

“Ibu memang salah.”

Maya hanya mengangguk.

Malam Tahun Baru itu, Maya tidak pergi ke pesta.

Dia kembali ke yayasan.

Entah kenapa, dia ingin berada di tempat itu saat pergantian tahun.

Petugas yang bernama Bu Lina menyambutnya dengan heran.

“Mbak Maya balik lagi?”

“Boleh saya ikut makan malam di sini?”

Bu Lina tersenyum hangat.

“Tentu.”

Tidak ada makanan mewah.

Hanya nasi kuning, ayam goreng, mi, kerupuk, dan black forest yang tadi dibawa Maya.

Namun meja itu penuh tawa.

Tari duduk di sebelah Maya.

Saat jam menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit, anak itu menarik lengan Maya.

“Tante Maya.”

“Hm?”

“Kalau Tante enggak punya acara tahun depan, datang ke sini lagi ya.”

Maya tersenyum.

“Memangnya kenapa?”

Tari berpikir sebentar.

“Karena kalau Tante datang, rasanya kayak ada keluarga tambahan.”

Kalimat itu membuat mata Maya panas.

Keluarga tambahan.

Anak kecil yang baru mengenalnya beberapa jam memberi tempat untuknya tanpa syarat.

Sementara keluarga yang selama bertahun-tahun dia bantu justru sengaja menghapus keberadaannya dari sebuah perayaan.

Pada saat suara kembang api terdengar dari kejauhan, Maya memandangi wajah-wajah di sekelilingnya.

Lalu sebuah gagasan muncul.

Gagasan yang awalnya terdengar gila.

Tetapi semakin dia pikirkan, semakin masuk akal.

Tanggal 2 Januari, Maya datang menemui notarisnya, Pak Arief.

“Jadi hibah kepada orang tua Ibu benar-benar dibatalkan?” tanyanya.

“Benar.”

“Rumah tetap akan dijual?”

Maya menggeleng.

“Saya punya rencana lain.”

Pak Arief mengangkat alis.

Dua minggu kemudian, rumah di Sidoarjo yang awalnya dipersiapkan untuk Pak Hendra dan Bu Ratna mulai direnovasi.

Bukan renovasi besar.

Maya hanya mengubah fungsi beberapa kamar.

Ruang belakang dijadikan ruang belajar.

Salah satu kamar menjadi ruang konseling kecil.

Halaman depan dipasangi beberapa bangku dan permainan sederhana.

Rumah itu kemudian diserahkan hak pakainya kepada yayasan tempat Tari tinggal, untuk dijadikan rumah transisi bagi ibu dan anak yang sedang kehilangan tempat tinggal.

Bukan hibah permanen.

Maya tetap mempertahankan kepemilikannya agar aset itu tidak bisa dipindahtangankan sembarangan.

Namun selama yayasan menggunakannya sesuai tujuan sosial, rumah tersebut bisa dipakai tanpa biaya.

Ketika kabar itu sampai kepada keluarganya, Pak Hendra murka.

Dia datang ke kantor Maya.

“Kamu lebih memilih orang asing daripada orang tua sendiri?”

Maya meminta ayahnya duduk di ruang rapat kecil.

“Aku tidak memilih orang asing.”

“Lalu apa?”

“Aku memilih memberikan sesuatu kepada orang yang benar-benar membutuhkan.”

“Ayah dan Ibu juga butuh!”

“Ayah punya rumah.”

Rumah lama Pak Hendra memang sederhana, tetapi sepenuhnya milik mereka dan sudah lunas.

Maya membeli rumah Rp1,2 miliar itu bukan karena orang tuanya terlantar.

Dia membelinya karena ingin memberi kenyamanan lebih.

Pak Hendra menggebrak meja kecil.

“Kamu bikin Ayah malu!”

Maya memandangnya tanpa gentar.

“Itu yang paling Ayah takutkan, kan?”

Pak Hendra terdiam.

“Bukan kehilangan rumah. Tapi kehilangan cerita yang sudah Ayah bilang ke semua orang bahwa anak perempuan Ayah membelikan rumah mewah.”

Wajah Pak Hendra memerah.

“Ayah memang bangga!”

“Bangga sama aku atau bangga sama rumahnya?”

Pertanyaan itu membuat ruangan sunyi.

Pak Hendra akhirnya pergi tanpa menjawab.

Hubungan mereka menjadi dingin selama beberapa bulan.

Namun sesuatu yang tidak diduga Maya terjadi.

Bu Ratna mulai datang sendirian ke rumah kontrakan Maya.

Awalnya membawa makanan.

Kemudian duduk lebih lama.

Suatu sore, ibunya berkata pelan, “Seumur hidup, Ibu selalu berpikir menjaga keluarga berarti jangan membuat Ayahmu marah.”

Maya tidak menyela.

“Kalau Ayahmu marah, Ibu mengalah. Kalau Dini takut, Ibu suruh diam. Kalau kamu protes, Ibu bilang kamu keras kepala.”

Bu Ratna menunduk.

“Ternyata Ibu cuma menjaga ketenangan palsu.”

Maya menggenggam tangan ibunya.

Tidak ada pengampunan dramatis.

Tidak ada pelukan panjang seperti di film.

Namun sejak hari itu, hubungan mereka mulai dibangun ulang.

Perlahan.

Dini juga berubah.

Dia mulai mengikuti konseling setelah Maya mendorongnya untuk menghadapi luka dari pernikahan lamanya.

Pak Hendra tetap menjadi orang yang paling sulit berubah.

Selama hampir enam bulan, dia nyaris tidak berbicara dengan Maya.

Sampai suatu pagi, Maya menerima telepon dari Bu Lina.

“Mbak Maya, kalau sempat, bisa datang ke rumah transisi?”

“Kenapa, Bu?”

“Ada seseorang yang mencari Mbak.”

Maya datang sore itu.

Di halaman rumah yang dahulu hendak dihibahkannya kepada orang tua, beberapa anak sedang bermain.

Tari sedang menggambar di teras.

Dan di salah satu bangku, Maya melihat ayahnya.

Pak Hendra duduk sendirian.

Maya berhenti beberapa langkah darinya.

“Ayah?”

Pak Hendra menatap rumah itu.

Di dinding dekat pintu masuk tertulis sebuah papan kecil.

Rumah Pelita.

Di bawahnya ada kalimat sederhana.

Tempat Singgah Untuk Memulai Kembali.

Pak Hendra berkata tanpa menoleh, “Ayah datang karena penasaran.”

Maya duduk di sebelahnya.

Beberapa detik mereka diam.

“Ayah pikir kamu menghabiskan uang hanya untuk membuktikan sesuatu.”

Maya tidak menjawab.

“Tapi tadi Ayah ketemu seorang ibu. Suaminya meninggal, dia diusir dari kontrakan karena tidak bisa bayar. Sekarang tinggal di sini sambil cari kerja.”

Pak Hendra menelan ludah.

“Dia bilang rumah ini menyelamatkan hidupnya.”

Maya menatap ayahnya.

Untuk pertama kalinya sejak lama, wajah lelaki itu tidak menunjukkan kemarahan.

Hanya kelelahan.

“Ayah salah.”

Dua kata itu terdengar sangat pelan.

Namun Maya mendengarnya.

Pak Hendra menatap tangannya sendiri.

“Ayah terbiasa merasa sebagai kepala keluarga berarti semua orang harus hormat dengan cara yang Ayah mau.”

Dia menarik napas.

“Waktu kamu tegur Ayah soal Dini, Ayah malu. Bukan karena kamu salah. Karena Ayah tahu kamu benar.”

Mata Maya mulai berkaca-kaca.

“Tapi Ayah balas dengan menyingkirkan kamu.”

Pak Hendra menatap putrinya.

“Ayah pikir kamu pasti tetap datang. Tetap bantu. Tetap kasih rumah. Karena selama ini kamu selalu begitu.”

Maya tersenyum pahit.

“Itu masalahnya, Yah.”

Pak Hendra mengangguk.

“Ayah tahu sekarang.”

Tiba-tiba Tari berlari menghampiri.

“Tante Maya!”

Dia berhenti saat melihat Pak Hendra.

Kemudian bertanya polos, “Ini siapa?”

Maya menatap ayahnya sejenak.

Pak Hendra tampak menunggu jawabannya.

Maya tersenyum.

“Ini kakeknya Tante.”

Pak Hendra menunduk sebentar, menyembunyikan mata yang mulai basah.

Tari lalu menyerahkan sebuah kertas gambar.

Di atasnya tergambar sebuah rumah besar dengan banyak orang bergandengan tangan.

“Tadi aku gambar rumah ini.”

Maya memperhatikan gambar itu.

“Bagus.”

Tari menunjuk satu per satu figur di atas kertas.

“Ini aku, ini Bu Lina, ini Tante Maya.”

Lalu dia menunjuk satu orang yang digambar sedikit lebih tinggi.

“Yang ini belum ada namanya.”

Pak Hendra tertawa kecil untuk pertama kalinya.

“Boleh namanya Hendra?”

Tari berpikir, lalu mengangguk.

“Boleh.”

Hari itu, Maya akhirnya memahami bahwa membatalkan hibah bukanlah akhir dari keluarganya.

Justru itulah awalnya.

Rumah senilai Rp1,2 miliar memang tidak pernah menjadi milik Pak Hendra dan Bu Ratna.

Tetapi keputusan tersebut memaksa mereka melihat sesuatu yang jauh lebih mahal daripada properti.

Harga dari rasa hormat.

Harga dari batasan.

Dan harga dari kasih sayang yang selama ini dianggap sebagai kewajiban.

Beberapa bulan kemudian, pada malam Tahun Baru berikutnya, Maya kembali membawa dua kotak kue.

Satu black forest.

Satu lapis legit.

Namun kali ini dia tidak datang sendirian.

Bu Ratna membawa nasi kuning.

Dini membawa minuman.

Pak Hendra membawa beberapa kantong besar berisi mainan dan kebutuhan rumah.

Mereka merayakan pergantian tahun bersama penghuni Rumah Pelita.

Ketika Maya sedang memotong lapis legit, ayahnya berdiri di sampingnya.

“May.”

Maya menoleh.

Pak Hendra tersenyum kecil.

“Tahun lalu Ayah bilang keluarga lebih tenang kalau kamu tidak ada.”

Maya diam.

Pak Hendra memandang ruangan yang penuh suara anak-anak dan percakapan orang dewasa.

“Ternyata Ayah salah.”

“Lalu?”

“Tanpa kamu, mungkin keluarga ini memang lebih tenang.”

Maya mengangkat alis.

Ayahnya tertawa pelan.

“Tapi tenangnya seperti rumah kosong.”

Maya tidak menjawab.

Dia hanya menyodorkan sepiring kue kepada ayahnya.

Pak Hendra menerimanya.

Di seberang ruangan, Tari berteriak meminta semua orang berkumpul untuk foto.

Maya berjalan ke tengah.

Kali ini, tidak ada seorang pun yang sengaja meninggalkannya di luar bingkai.

Dan Maya akhirnya mengerti satu hal.

Kasih sayang tidak diukur dari berapa banyak uang yang diberikan, rumah yang dibelikan, atau masalah yang diselesaikan.

Kadang-kadang, bentuk cinta yang paling sulit justru adalah keberanian untuk berkata cukup.

Karena orang yang benar-benar menganggapmu keluarga tidak hanya akan mencari kehadiranmu ketika membutuhkan sesuatu.

Mereka akan memastikan kamu tetap punya tempat, bahkan ketika kamu tidak membawa apa-apa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang