DIHINA DI PESTA ULANG TAHUN KAKAKNYA KARENA DIANGGAP MISKIN, MAYA MEMILIH PERGI SAMBIL MEMBAWA AYAHNYA.

Rika menatap Maya seolah sedang berusaha memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya benar-benar adiknya sendiri.

Kemudian tatapannya jatuh pada Danu.

“Ini siapa?” tanyanya.

Nada suaranya terdengar ringan, tetapi Maya mengenal kakaknya terlalu baik. Di balik senyum tipis itu ada rasa ingin tahu, kecurigaan, dan sesuatu yang hampir menyerupai ketidaksukaan.

“Danu,” jawab Maya singkat. “Temanku.”

“Teman?”

Rika mengulang kata itu sambil menaikkan alis.

Sebelum Maya sempat menjawab, seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun datang dari ruang tengah. Ia adalah Bu Ratih, ibu mereka.

Begitu melihat Maya, wajah Bu Ratih langsung berubah.

“Kamu akhirnya datang juga.”

Maya mencium tangan ibunya.

“Selamat malam, Bu.”

Bu Ratih mengangguk sekadarnya, lalu matanya bergerak cepat memeriksa gaun Maya.

“Kamu beli gaun baru?”

“Tidak. Aku jahit sendiri.”

“Oh.”

Hanya satu suku kata.

Namun Maya tahu artinya.

Di keluarga mereka, hampir semua hal dinilai berdasarkan harga.

Harga mobil.

Harga tas.

Harga rumah.

Harga restoran tempat seseorang makan.

Bahkan kadang harga manusia pun seolah bisa diukur dari slip gaji.

Danu berdiri tenang di sebelah Maya.

Ia tidak memperkenalkan dirinya lebih jauh.

Maya juga tidak berniat melakukannya.

Mereka masuk ke halaman belakang tempat pesta utama berlangsung.

Di tengah taman berdiri meja panjang penuh makanan. Lampu gantung berwarna keemasan membentang di atas kolam renang. Seorang penyanyi membawakan lagu-lagu pop Indonesia, sementara pelayan berkeliling membawa minuman.

Pak Joko sudah berada di sana.

Lelaki tua itu duduk di salah satu kursi dekat sudut taman, mengenakan batik sederhana berwarna cokelat tua.

Begitu melihat ayahnya, Maya langsung menghampiri.

“Pak, lututnya bagaimana?”

“Masih kuat.”

Pak Joko tersenyum.

Lalu matanya bergerak ke arah Danu.

Maya buru-buru berkata, “Ini Danu, Pak.”

Danu menundukkan kepala sopan.

“Selamat malam, Pak.”

Pak Joko mengulurkan tangan.

“Terima kasih sudah menemani Maya.”

Kalimat itu sederhana.

Namun Maya tiba-tiba merasa tenggorokannya mengencang.

Selama bertahun-tahun, Pak Joko adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menanyakan mengapa Maya belum menikah, mengapa pekerjaannya hanya di binatu, atau mengapa rekeningnya tidak sebesar milik Rika.

Bagi ayahnya, Maya tidak pernah kurang apa pun.

Pesta berjalan cukup tenang selama satu jam pertama.

Sampai Arman, suami Rika, mulai berbicara.

Arman adalah seorang kontraktor yang beberapa tahun terakhir suka memperkenalkan dirinya sebagai pengusaha properti.

Ia duduk bersama beberapa kerabat laki-laki, sambil bercerita tentang proyek baru dan mobil yang baru saja dipesannya.

Ketika melihat Maya duduk bersama Danu dan Pak Joko, Arman tersenyum lebar.

“Maya.”

Semua kepala berbalik.

“Kok diam saja di pojok? Ayo gabung. Malam ini kan pesta keluarga.”

Maya tahu tidak ada ketulusan dalam ajakan itu.

Namun ia tetap berjalan mendekat.

Danu ikut berdiri.

Pak Joko juga mencoba bangkit, tetapi Maya menahannya.

“Bapak duduk saja.”

Mereka kemudian bergabung di meja besar.

Salah seorang sepupu bertanya kepada Danu, “Kerja di mana, Mas?”

Danu membuka mulut.

Namun sebelum ia menjawab, Rika sudah menyela.

“Temannya Maya mungkin satu tempat kerja.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Rika tersenyum sambil mengangkat gelas.

“Jangan salah, lho. Kerja di binatu itu penting juga. Kalau tidak ada yang nyuci seprai hotel, kita tidur pakai seprai kotor.”

Tawa terdengar lagi.

Tidak keras.

Namun cukup untuk melukai.

Maya menggenggam tangannya di bawah meja.

Danu tidak ikut tertawa.

Wajahnya justru menjadi lebih datar.

“Mbak,” kata Maya pelan, “malam ini ulang tahunmu. Tidak perlu membicarakan pekerjaanku.”

“Aku cuma bercanda.”

“Aku tahu.”

Maya tersenyum tipis.

“Masalahnya, kamu selalu bilang bercanda setelah membuat orang lain malu.”

Suasana langsung berubah.

Rika meletakkan gelasnya.

“Jangan sensitif.”

Bu Ratih yang duduk di ujung meja segera menyela.

“Maya, jangan bikin suasana rusak.”

Maya menoleh kepada ibunya.

Untuk sesaat ia ingin diam.

Seperti biasanya.

Menelan semuanya.

Seperti dua puluh tahun terakhir.

Namun malam itu ada sesuatu yang berbeda.

Mungkin karena Danu berdiri di sampingnya.

Mungkin karena ayahnya ada di dekat sana.

Atau mungkin karena Maya akhirnya terlalu lelah menjadi orang yang selalu mengalah.

“Aku tidak sedang merusak suasana, Bu.”

“Lalu apa?”

“Aku cuma minta dihargai.”

Rika tertawa pendek.

“Mau dihargai bagaimana kalau hidupmu sendiri begitu-begitu saja?”

Kalimat itu membuat beberapa orang terdiam.

Rika rupanya merasa sudah terlalu jauh, tetapi alih-alih berhenti, ia justru melanjutkan.

“Umur hampir empat puluh. Belum punya rumah sendiri. Kerja malam di binatu. Masih tinggal sama Bapak.”

Maya memandang kakaknya lurus-lurus.

“Aku tinggal dengan Bapak karena aku merawat beliau.”

“Ya, tapi jangan dibuat seolah itu prestasi besar.”

Danu langsung menoleh kepada Rika.

Namun Maya menyentuh lengannya pelan.

Ia ingin menghadapi ini sendiri.

Rika bersandar pada kursi.

“Kadang aku heran. Kita dibesarkan di rumah yang sama, tapi hasilnya berbeda jauh.”

Maya tidak menjawab.

Rika menunjuk sekeliling.

“Lihat rumah ini. Ini hasil kerja keras.”

Arman tersenyum bangga.

“Sekarang listrik rumah saja sebulan hampir dua belas juta.”

Seseorang tertawa.

“Wah, gila.”

Arman mengangkat bahu.

“Namanya juga rumah besar.”

Rika lalu menatap Maya lagi.

“Kamu mungkin nggak ngerti biaya hidup seperti ini.”

Saat itulah Pak Joko tiba-tiba berdiri.

Ia berjalan perlahan dengan tongkatnya.

“Sudah, Rika.”

Rika menoleh.

“Bapak jangan ikut campur.”

Pak Joko berhenti.

Semua orang memandangnya.

“Bapak cuma mau bilang, jangan menghina adikmu di depan orang banyak.”

Rika menghela napas.

“Bapak selalu bela Maya.”

“Karena kamu selalu menyerangnya.”

Kalimat itu membuat wajah Rika mengeras.

“Bagus.”

Rika bangkit.

“Kalau begitu Bapak ikut Maya saja.”

Bu Ratih langsung menatap putri sulungnya.

“Rika.”

Namun Rika sudah terbakar emosi.

“Bukannya selama ini Maya yang paling perhatian? Ya sudah. Bapak tinggal sama Maya saja. Biar sekalian lengkap.”

Sunyi.

Maya merasakan sesuatu seperti pisau tipis menekan dadanya.

Bukan karena dirinya.

Karena ayahnya.

Pak Joko berdiri membeku.

Lelaki tua itu menatap putrinya cukup lama.

Kemudian berkata pelan, “Baik.”

Rika tampak kaget.

“Apa?”

“Bapak akan ikut Maya.”

Maya segera memegang lengan ayahnya.

“Pak.”

Pak Joko mengangguk.

“Ayo pulang.”

Maya tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ia mengambil tasnya.

Danu membantu Pak Joko berjalan menuju gerbang.

Saat mereka melewati meja hadiah, Arman tertawa sinis.

“Jangan lupa bawa kotak makan. Sayang makanan mahal nggak dimakan.”

Maya berhenti.

Ia berbalik.

Untuk pertama kalinya malam itu, tatapan Maya benar-benar dingin.

“Tidak usah.”

Lalu ia pergi.

Di dalam mobil Danu, Pak Joko duduk di kursi belakang.

Tidak seorang pun berbicara selama beberapa menit.

Lampu-lampu Citraland berkelebat di balik kaca.

Maya menatap jalan.

Tangannya gemetar.

“Aku seharusnya tidak datang,” katanya.

Pak Joko menjawab dari belakang.

“Bukan kamu yang seharusnya malu.”

Maya menutup mata sebentar.

Danu tetap menyetir.

Setelah cukup jauh, ia bertanya, “Pak Joko tinggal di mana sekarang?”

“Rumah lama di daerah Tambaksari,” jawab Maya. “Rumah peninggalan keluarga.”

Pak Joko tiba-tiba berkata, “Besok Bapak mau bicara denganmu.”

Maya menoleh.

“Tentang apa?”

“Besok saja.”

Keesokan harinya Pak Joko meminta Maya mengambil sebuah kotak besi tua dari lemari kamarnya.

Di dalamnya ada puluhan dokumen.

Sertifikat tanah.

Surat pajak.

Beberapa buku tabungan lama.

Dan satu map cokelat tebal.

Maya mengernyit.

“Ini apa?”

Pak Joko duduk di tepi ranjang.

“Rumah Rika.”

Maya menoleh cepat.

“Apa maksud Bapak?”

“Rumah yang dia tempati sekarang berdiri di atas tanah milik Bapak.”

Maya membeku.

Pak Joko melanjutkan.

“Dulu Arman datang. Katanya mereka mau bangun rumah, tapi butuh bantuan karena bank belum mau memberi pinjaman besar. Bapak kasih izin pakai tanah itu.”

“Tanahnya belum diberikan?”

Pak Joko menggeleng.

“Tidak pernah.”

Maya membuka sertifikat.

Nama pemiliknya masih tertulis jelas.

Joko Santoso.

Maya merasa ujung jarinya dingin.

“Kenapa Mbak Rika bilang rumah itu milik mereka?”

“Bapak tidak tahu apa yang dia pahami.”

Pak Joko menatap lantai.

“Bapak cuma tahu selama bertahun-tahun mereka membayar biaya rumah dan listrik. Bapak tidak pernah meminta uang sewa.”

Maya membaca dokumen lain.

Kemudian ia menemukan sesuatu.

Tagihan listrik rumah Rika.

Nama pelanggan bukan Rika.

Bukan Arman.

Tetapi sebuah perusahaan.

PT Surya Niaga Abadi.

Maya mengernyit.

“Ini perusahaan siapa?”

Pak Joko mengangkat wajah.

“Dulu milik teman Bapak.”

Danu yang kebetulan datang membawa obat untuk Pak Joko ikut melihat dokumen tersebut.

Begitu membaca nama perusahaan itu, ekspresinya berubah.

“Pak, perusahaan ini sekarang anak usaha grup saya.”

Maya langsung menatapnya.

“Apa?”

Danu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

Kurang dari sepuluh menit kemudian ia mendapat jawaban.

Ternyata lebih dari enam tahun lalu, PT Surya Niaga Abadi membeli portofolio aset dan kewajiban dari sebuah perusahaan lama yang pernah membantu Pak Joko membangun instalasi listrik di lahan tersebut.

Karena kesalahan administrasi, meteran rumah Rika masih tercatat sebagai fasilitas operasional lama perusahaan.

Seluruh tagihan listrik otomatis masuk ke rekening perusahaan.

Arman selama ini hanya membayar sebagian melalui pembayaran manual.

Sisa tagihannya masih terus tercatat sebagai kewajiban perusahaan.

“Jadi rumah itu selama ini listriknya disubsidi perusahaan tanpa sengaja?” tanya Maya.

Danu mengangguk.

“Kurang lebih begitu.”

Maya merasa semuanya semakin aneh.

Tapi kejutan belum selesai.

Danu meminta bagian hukum memeriksa seluruh riwayat dokumen.

Dua hari kemudian hasilnya keluar.

Ternyata Arman pernah mengajukan pinjaman usaha dengan mencantumkan rumah tersebut sebagai aset pribadi.

Ia menyertakan salinan sertifikat yang sudah dimodifikasi.

Nama Pak Joko dihilangkan.

Diganti dengan nama Arman.

Danu meletakkan laporan itu di meja.

“Ini bukan kesalahan administrasi biasa.”

Maya menatap lembaran tersebut dengan napas tertahan.

“Pemalsuan?”

“Indikasinya kuat.”

Pak Joko yang duduk di kursi dekat jendela tidak mengatakan apa-apa.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua sore itu.

Maya duduk di sampingnya.

“Pak.”

Pak Joko menatap putrinya.

“Aku akan bicara dengan Mbak Rika.”

Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun, sesuatu terjadi.

Tiga hari setelah pesta ulang tahun, Rika menelepon Maya.

Suaranya panik.

“Maya.”

“Ada apa?”

“Kamu bayar listrik rumahku?”

Maya terdiam.

“Apa?”

“Tagihannya lunas.”

Maya menatap Danu yang sedang berdiri beberapa meter darinya.

Danu mengangguk pelan.

Ia rupanya sudah memerintahkan bagian keuangan perusahaannya menutup kewajiban lama agar pembukuan bersih sebelum status meteran dialihkan.

“Bukan aku,” kata Maya.

“Lalu siapa?”

“Datanglah ke rumah Bapak.”

Satu jam kemudian Rika dan Arman tiba.

Arman terlihat marah.

“Apa permainan kalian?”

Maya meletakkan sertifikat tanah di atas meja.

Arman langsung pucat.

Rika mengerutkan dahi.

“Apa ini?”

“Baca.”

Rika mengambilnya.

Beberapa detik kemudian tangannya gemetar.

“Ini… tanah rumah kami.”

Pak Joko menjawab pelan.

“Tanah Bapak.”

Rika menoleh kepada Arman.

“Kamu bilang sertifikatnya sudah dibalik nama.”

Arman tidak menjawab.

Rika memandang suaminya.

“Arman?”

“Dulu prosesnya belum selesai.”

“Jadi selama ini belum?”

Arman mulai berkeringat.

Maya kemudian meletakkan salinan dokumen pinjaman bank.

Rika membacanya.

Wajahnya kehilangan warna.

“Ini tanda tangan siapa?”

Tidak ada jawaban.

Rika membaca lagi.

Lalu menatap suaminya dengan mata merah.

“Kamu memalsukan sertifikat?”

Arman langsung berdiri.

“Jangan percaya begitu saja. Mereka mau mengambil rumah kita.”

Danu akhirnya bicara.

“Saya sudah meminta tim hukum memverifikasi dokumen ini.”

Arman berbalik.

“Memangnya kamu siapa?”

Danu mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.

Arman mengambilnya.

Wajahnya berubah total.

Rika ikut melihat.

Direktur Utama Grand Bahari Group.

Ruangan langsung sunyi.

Rika menatap Maya.

“Dia… pemilik Grand Bahari?”

Maya tidak menjawab.

Arman mulai terdengar gugup.

“Semuanya bisa dijelaskan.”

Pak Joko menggeleng perlahan.

“Bapak tidak butuh penjelasan panjang.”

Ia lalu memandang Rika.

“Bapak cuma ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kalau rumah itu bukan atas namamu, kalau uangmu hilang, kalau kamu tidak punya mobil dan perhiasan, apakah kamu masih merasa lebih tinggi dari adikmu?”

Rika membeku.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Pak Joko melanjutkan.

“Maya tidak punya rumah besar.”

Ia menunjuk Maya.

“Tapi setiap malam dia bekerja supaya siang hari bisa mengantar Bapak berobat.”

“Maya tidak punya mobil mahal.”

“Tapi dia selalu tahu kapan obat Bapak habis.”

“Maya tidak punya pesta ulang tahun mewah.”

“Tapi sejak ibumu meninggal lima tahun lalu, dia tidak pernah membiarkan Bapak makan malam sendirian.”

Rika menunduk.

Bu Ratih sebenarnya bukan ibu kandung mereka. Ia adalah istri kedua Pak Joko yang tinggal terpisah sejak beberapa tahun terakhir dan hanya sesekali datang pada acara keluarga. Ibu kandung Maya dan Rika telah meninggal lima tahun sebelumnya.

Rika mulai menangis.

Untuk pertama kalinya sejak Maya mengenalnya, tangisan kakaknya tidak terdengar seperti kemarahan.

Melainkan ketakutan.

“Aku tidak tahu soal sertifikat itu,” bisiknya.

Maya mempercayainya.

Bukan karena Rika selalu jujur.

Tetapi karena wajah kakaknya benar-benar hancur saat memandang Arman.

Beberapa minggu berikutnya mengubah semuanya.

Arman diperiksa atas dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan data aset.

Rumah itu tidak disita.

Pak Joko membuat keputusan lain.

Ia memanggil kedua putrinya ke kantor notaris.

Tanah tempat rumah Rika berdiri akan tetap diberikan kepada Rika, tetapi melalui mekanisme hibah resmi dengan perlindungan hukum sehingga tidak dapat digunakan sebagai jaminan tanpa persetujuan tertentu.

Sementara rumah lama keluarga di Tambaksari diwariskan kepada Maya.

Maya terkejut.

“Pak, aku tidak pernah minta.”

Pak Joko tersenyum.

“Karena itu Bapak kasih.”

Namun kejutan terbesar justru terjadi setelah semuanya selesai.

Suatu sore Danu datang ke rumah Maya membawa toples pecahan kaca laut yang pernah diberikannya.

Maya tersenyum.

“Kesepakatan kita sudah selesai.”

Danu mengangguk.

“Benar.”

“Jadi kamu mau ambil kembali toplesnya?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Danu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Bukan cincin.

Melainkan sebuah batu sungai kecil berwarna abu-abu.

Maya tertawa.

“Kamu sekarang koleksi batu?”

Danu duduk di sampingnya di teras.

“Sepertinya begitu.”

Mereka terdiam beberapa saat.

Kemudian Danu berkata, “Dua acara sudah selesai. Berarti secara teknis kita harus kembali ke hidup masing-masing.”

Maya memandangnya.

“Secara teknis.”

Danu tersenyum kecil.

“Tapi saya sedang berpikir untuk melanggar kesepakatan.”

Maya mengangkat alis.

“Bahaya. Pengusaha besar melanggar kontrak.”

“Saya siap menanggung risikonya.”

Maya tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa hidupnya tidak sedang diukur oleh siapa pun.

Beberapa bulan kemudian Maya berhenti dari shift malam.

Bukan karena Danu memberinya uang.

Ia menolak itu.

Sebaliknya, dengan tabungan yang dimilikinya dan pinjaman usaha kecil, Maya membuka jasa laundry sendiri di dekat kawasan kampus.

Pak Joko duduk setiap sore di kasir, meski lebih sering mengobrol dengan pelanggan daripada benar-benar bekerja.

Rika kadang datang.

Hubungan mereka belum sepenuhnya pulih.

Ada luka yang tidak bisa hilang hanya karena sebuah permintaan maaf.

Namun setidaknya kini Rika belajar satu hal yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia pahami.

Kemiskinan tidak selalu terlihat dari jumlah uang seseorang.

Dan kekayaan tidak selalu terlihat dari luas rumah.

Pada ulang tahun Maya yang keempat puluh, tidak ada pesta besar.

Hanya makan malam sederhana di teras rumah lama.

Pak Joko.

Rika.

Danu.

Dan beberapa orang yang benar-benar ia cintai.

Sebelum meniup lilin, Maya merogoh sakunya.

Batu hijau kecil itu masih ada.

Danu melihatnya dan tersenyum.

“Kamu masih simpan?”

Maya mengangguk.

“Benda murah.”

Danu menatapnya beberapa detik.

“Yang penting memang sering kali tidak mahal.”

Maya tersenyum.

Lalu ia memandang ayahnya yang sedang tertawa bersama Rika.

Malam itu ia akhirnya mengerti.

Selama bertahun-tahun ia mengira dirinya datang ke pesta kakaknya sebagai perempuan miskin yang butuh seseorang agar terlihat lebih berharga.

Ternyata bukan Danu yang membuatnya berharga.

Bukan rumah.

Bukan uang.

Bukan nama besar.

Ia sudah memiliki nilai itu sejak awal.

Hanya saja terlalu lama ia membiarkan orang lain menentukan harganya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang