Malam itu, Rina tidak menunggu Ibu Hartini pulang untuk memulai pertengkaran.
Dia justru membuka rantai kulkas dengan tang potong yang diambil dari gudang belakang.
Bunyi logam yang jatuh ke lantai membuat Ibu Sumiati terkejut.
“Rina…”
Rina tidak menjawab.
Dia membuka kulkas, mengambil nasi, sayur bening, ayam ungkep, dan beberapa potong buah. Setelah itu dia memanaskannya satu per satu.
“Ibu makan dulu.”
“Ibu tidak lapar.”
“Sejak siang cuma makan dua potong singkong.”
Nada suara Rina tidak tinggi, tetapi cukup membuat ibunya berhenti membantah.
Beberapa menit kemudian, Ibu Sumiati duduk di meja makan dengan semangkuk sup hangat di depannya.
Rina duduk di seberang.
Dia tidak menyentuh makanan.
Map biru masih berada di atas pahanya.
Pukul 18.25, suara mobil terdengar dari halaman.
Ibu Hartini pulang bersama Bagas, adik Dimas yang sudah berusia 32 tahun tetapi hampir setiap bulan masih meminta uang kepada kakaknya.
Begitu memasuki rumah, Ibu Hartini langsung melihat potongan rantai di lantai dapur.
Wajahnya berubah.
“Siapa yang merusak gembok saya?”
Rina berdiri.
“Saya.”
“Kenapa kamu berani merusak barang saya?”
Rina menatap mertuanya tanpa ekspresi.
“Karena Ibu memasangnya di kulkas saya.”
“Jangan kurang ajar. Itu kulkas dibeli Dimas.”
“Saya yang bayar enam puluh persen harganya.”
Ibu Hartini mendengus.
“Uang suami istri sama saja. Pada akhirnya tetap uang anak saya.”
Bagas yang sejak tadi diam ikut tersenyum mengejek.
“Sudahlah, Kak Rina. Mama cuma mengajari orang supaya tahu diri.”
Rina menoleh kepadanya.
“Orang yang mana?”
Bagas tampak salah tingkah.
Ibu Hartini langsung menjawab.
“Ibumu.”
Ruang makan mendadak terasa jauh lebih sempit.
Ibu Sumiati meletakkan sendoknya.
“Besok pagi saya pulang saja, Rin.”
Rina menoleh cepat.
“Tidak.”
“Ibu tidak mau kalian ribut.”
“Yang harus pergi bukan Ibu.”
Kalimat itu membuat semua orang diam.
Ibu Hartini tertawa pendek.
“Kamu mau mengusir saya?”
Rina tidak menjawab.
Dia hanya membuka map biru dan mengeluarkan satu lembar dokumen.
“Besok pagi jam sembilan ada serah terima rumah.”
Bagas mengerutkan kening.
“Serah terima apa?”
“Rumah ini sudah dijual.”
Keheningan yang muncul setelahnya terasa aneh.
Bahkan suara mesin pendingin udara yang baru kembali dinyalakan terdengar jelas.
Ibu Hartini menatap Rina seolah baru saja mendengar sebuah lelucon.
“Jangan membuat cerita.”
“Silakan baca.”
Rina meletakkan salinan perjanjian jual beli di atas meja.
Bagas segera mengambilnya.
Matanya bergerak cepat dari atas ke bawah.
“Mama…”
“Apa?”
“Ini ada tanda tangan Mas Dimas.”
Wajah Ibu Hartini seketika memucat.
“Tidak mungkin.”
“Calon pembeli sudah bayar tanda jadi tujuh minggu lalu,” kata Rina. “Empat hari lalu kami menyelesaikan pembelian apartemen.”
Ibu Hartini menatapnya dengan marah.
“Kalian menjual rumah tanpa bicara kepada saya?”
“Rumah ini bukan milik Ibu.”
“Saya ibu kandung Dimas.”
“Betul. Tapi itu tidak membuat Ibu menjadi pemilik rumah.”
Ibu Hartini memukul meja.
“Kamu yang menghasut anak saya!”
Untuk pertama kalinya malam itu, suara Rina naik sedikit.
“Dimas yang mengusulkan pindah lebih dulu.”
Ibu Hartini terdiam.
Bagas membaca dokumen itu sekali lagi.
“Terus Mama tinggal di mana?”
Rina menarik selembar brosur dari map biru.
“Kami sudah menyewa rumah kecil di Antapani untuk Ibu. Satu lantai, dua kamar, dekat klinik dan pasar. Biaya sewa setahun sudah dibayar.”
Ibu Hartini menatap brosur itu, lalu melemparkannya ke lantai.
“Saya tidak mau!”
“Awalnya kami pikir Ibu akan senang karena tempatnya lebih tenang.”
“Saya tidak akan tinggal di rumah kecil seperti itu.”
“Kalau begitu Ibu bebas mencari tempat lain.”
“Dengan uang siapa?”
Rina menatapnya.
Pertanyaan itu justru membuka sesuatu yang selama berbulan-bulan sengaja dia hindari.
“Bukankah selama ini Ibu bilang punya tabungan sendiri?”
Ibu Hartini tidak menjawab.
Bagas memalingkan wajah.
Rina memperhatikan keduanya.
Ada sesuatu pada ekspresi mereka yang tidak wajar.
Sebelum dia sempat bertanya, suara pintu depan kembali terdengar.
Dimas pulang.
Dia masih mengenakan kemeja kantor dan membawa tas laptop.
Begitu melihat semua orang berdiri di sekitar meja, dia langsung tahu sesuatu telah terjadi.
“Ada apa?”
Ibu Hartini bergegas menghampirinya.
“Dimas, istrimu mau mengusir Mama.”
Dimas menghela napas.
“Rina?”
Rina tidak menjelaskan.
Dia hanya mengambil ponselnya dan menunjukkan foto pertama.
Rantai di kulkas.

Foto kedua.
Catatan penghinaan.
Foto ketiga.
Sakelar listrik kamar tamu yang dimatikan.
Kemudian dia menunjukkan foto ibunya yang duduk dalam gelap dengan botol air hangat di tangan.
Dimas menatap layar cukup lama.
Wajahnya berubah.
“Mama melakukan ini?”
Ibu Hartini langsung membela diri.
“Mama hanya mau mengajari mertuamu agar tidak seenaknya.”
“Seenaknya bagaimana?”
“Dia mengambil makanan.”
“Karena dia tamu kita.”
“Dia orang luar.”
Dimas mengangkat kepala.
Untuk pertama kalinya, nada suaranya terdengar sangat dingin.
“Dia ibu Rina.”
“Dan Mama ibumu!”
“Saya tahu.”
Dimas meletakkan tas laptopnya.
“Tapi saya tidak pernah memberi Mama hak membuat orang kelaparan di rumah saya.”
Ibu Hartini menatap putranya dengan tidak percaya.
“Jadi kamu membela mereka?”
“Saya membela hal yang benar.”
Kalimat itu membuat mata Ibu Hartini memerah.
Dia menunjuk Rina.
“Sejak menikah dengan perempuan ini, kamu berubah.”
Rina tidak membalas.
Yang mengejutkan justru Ibu Sumiati.
Perempuan yang biasanya paling memilih diam itu berdiri perlahan.
“Bu Hartini.”
Semua orang menoleh.
Ibu Sumiati tersenyum tipis.
“Saya datang bukan untuk mengambil rumah siapa pun. Saya cuma ingin bertemu cucu saya.”
Ibu Hartini mencibir.
“Saya tidak bicara dengan Anda.”
“Tidak apa-apa.”
Ibu Sumiati mengambil tas kecilnya.
“Saya tetap mau pulang besok.”
Rina hendak memprotes, tetapi ibunya menggeleng.
“Bukan karena saya kalah.”
Lalu dia memandang Ibu Hartini.
“Saya pulang karena saya punya rumah sendiri. Kecil, sederhana, tapi saya bisa membuka kulkas kapan pun saya lapar.”
Bagas menundukkan kepala.
Dimas menutup mata sebentar.
Bahkan Ibu Hartini tidak mampu langsung menjawab.
Malam itu tidak ada lagi pembicaraan panjang.
Dimas membantu ibunya mengemasi beberapa barang penting.
Barang lain akan dipindahkan setelah serah terima.
Rina tidur bersama Ibu Sumiati dan Keisha di kamar utama.
Sekitar pukul dua dini hari, Rina terbangun karena mendengar suara dari ruang kerja.
Dia keluar perlahan.
Lampunya menyala.
Pintu sedikit terbuka.
Dari celah pintu, Rina melihat Bagas sedang membongkar laci meja Dimas.
“Apa yang kamu cari?”
Bagas tersentak.
Sebuah amplop cokelat jatuh dari tangannya.
Rina mengambilnya.
Di dalamnya ada beberapa bukti transfer.
Nominalnya membuat napasnya tertahan.
Lima juta.
Delapan juta.
Dua belas juta.
Tujuh juta lima ratus.
Transfer dilakukan berkali-kali dari rekening Dimas ke rekening Bagas selama lebih dari setahun.
Namun ada beberapa transaksi yang berbeda.
Uang ditransfer dari rekening bersama Rina dan Dimas ke rekening yang tidak dikenalnya.
“Ini apa?”
Bagas pucat.
“Bukan urusan Kakak.”
Rina segera membuka aplikasi perbankan di ponselnya.
Rekening bersama itu jarang dia periksa karena digunakan untuk biaya rumah tangga dan cicilan.
Setelah mencocokkan tanggal, dia menemukan belasan transaksi.
Totalnya hampir seratus empat puluh juta rupiah.
Dimas tidak pernah membicarakannya.
“Siapa Ratih Kusumawardani?”
Bagas diam.
Rina menatapnya.
“Jawab.”
Suara Ibu Hartini tiba-tiba terdengar dari belakang.
“Itu saudara Mama.”
Rina berbalik.
Mertuanya berdiri di lorong.
“Kalian mengambil uang kami?”
Ibu Hartini tidak tampak bersalah.
“Mama hanya meminjam.”
“Seratus empat puluh juta?”
“Untuk usaha Bagas.”
Bagas langsung menyela.
“Mama, jangan bilang begitu.”
Terlambat.
Rina merasakan sesuatu dalam dirinya menjadi dingin.
“Dimas tahu?”
Tidak ada jawaban.
Rina segera membangunkan suaminya.
Lima menit kemudian mereka semua kembali berkumpul di ruang makan.
Dimas membaca bukti transfer itu dengan wajah tegang.
“Saya tidak pernah transfer uang ke rekening Ratih.”
Rina menatapnya.
“Bagaimana mereka bisa masuk ke rekening kita?”
Dimas berpikir beberapa detik.
Kemudian wajahnya berubah.
“Ponsel lama saya.”
Enam bulan sebelumnya, Dimas mengganti ponsel karena layarnya rusak. Ponsel lama disimpan di laci kamar, masih terhubung ke beberapa aplikasi.
Ibu Hartini mengetahui PIN-nya.
Bagas langsung berkata, “Saya cuma ikut Mama.”
“Diam!” bentak Ibu Hartini.
Itu menjadi pengakuan yang tidak membutuhkan kata-kata lain.
Rina duduk.
Anehnya dia tidak menangis.
Amarah karena kulkas yang digembok kini terasa kecil dibandingkan kenyataan bahwa selama ini mereka juga mengambil uang diam-diam.
Dimas menatap ibunya dengan wajah yang benar-benar hancur.
“Mama mencuri dari saya?”
“Jangan bilang mencuri. Semua itu akan kembali.”
“Dari mana?”
“Usaha Bagas akan untung.”
Bagas tertawa pahit.
“Usahanya sudah tutup tiga bulan lalu.”
Ibu Hartini menatapnya tajam.
Namun semuanya sudah terbuka.
Bagas akhirnya mengaku.
Uang itu digunakan untuk membuka bisnis aksesori ponsel bersama seorang teman.
Bisnis tersebut gagal.
Sebagian uang bahkan dipakai melunasi utang kartu kredit dan cicilan motor Bagas.
Yang lebih buruk, Ibu Hartini telah berjanji kepada Bagas bahwa ketika rumah Rina dan Dimas “nanti menjadi milik keluarga”, sebagian nilainya bisa digunakan sebagai modal kedua.
Itulah alasan mengapa dia begitu marah ketika Ibu Sumiati datang.
Di kepalanya, rumah itu sudah menjadi warisan yang seharusnya hanya dinikmati keluarga kandungnya sendiri.
Dimas duduk lama tanpa bicara.
Kemudian dia berkata pelan,
“Mama besok tetap pindah.”
Ibu Hartini menangis.
“Kamu tega.”
“Saya sudah membayar rumah sewa setahun.”
“Bagaimana dengan uang tadi?”
“Kita bicarakan setelah rumah diserahterimakan.”
Pukul 08.45 keesokan paginya, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun bersama istrinya dan seorang agen properti.
Mereka adalah pembeli baru.
Ibu Hartini berdiri di ruang tengah dengan tiga koper besar.
Wajahnya sembab.
Saat agen properti mulai memeriksa kondisi rumah, Ibu Hartini masih berharap Dimas akan berubah pikiran.
Namun pukul 09.17, kunci utama resmi diserahkan.
Rina melihat tangan Dimas sedikit bergetar ketika menyerahkannya.
Dua belas tahun kehidupan mereka tersimpan di rumah itu.
Banyak kenangan baik.
Hari pertama Keisha belajar berjalan.
Ulang tahun pernikahan.
Malam-malam ketika mereka makan mi instan karena uang habis untuk cicilan.
Namun terkadang meninggalkan rumah juga berarti meninggalkan pola hidup yang sudah tidak sehat.
Sebelum keluar, Ibu Hartini berhenti di dapur.
Matanya melihat bekas goresan kecil pada gagang kulkas akibat rantai kemarin.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kesombongan pada wajahnya.
Hanya rasa malu.
Di depan rumah, dua kendaraan sudah menunggu.
Satu membawa barang Ibu Hartini menuju rumah sewa di Antapani.
Satu lagi membawa Rina, Dimas, Keisha, dan Ibu Sumiati menuju apartemen baru.
“Ibu ikut dulu ke apartemen,” kata Rina kepada ibunya.
Ibu Sumiati tertawa kecil.
“Bukannya Ibu mau pulang Wonosobo?”
“Besok.”
“Kenapa besok?”
Keisha langsung memeluk pinggang neneknya.
“Karena malam ini Nenek harus bikin klepon.”
Semua orang terdiam sesaat.
Lalu Ibu Sumiati tertawa.
Tawa pertama yang benar-benar lepas sejak tiba di Bandung.
Namun kejutan terakhir terjadi dua hari kemudian.
Rina dan Dimas mendatangi bank untuk mengurus seluruh akses rekening mereka.
Mereka berniat menutup rekening bersama lama dan membuat rekening baru.
Petugas bank memeriksa transaksi mencurigakan yang mereka laporkan.
Setelah hampir satu jam, petugas itu menunjukkan sesuatu.
Transfer seratus empat puluh juta memang dilakukan melalui perangkat lama Dimas.
Namun bukan hanya itu.
Ada satu transaksi masuk sebesar dua ratus juta rupiah ke rekening tersebut delapan bulan sebelumnya.
Pengirimnya adalah Ratih Kusumawardani.
Rina dan Dimas saling berpandangan.
Mereka sama sekali tidak menyadarinya karena dana itu ditarik dan dipindahkan kembali hanya beberapa jam kemudian.
Setelah ditelusuri, mereka baru memahami cerita sebenarnya.
Ratih bukan saudara Ibu Hartini.
Dia adalah pembeli sebidang tanah milik keluarga Hartini di kampung.
Tanah itu sebenarnya warisan yang kepemilikannya dibagi antara Dimas, Bagas, dan ibu mereka.
Ibu Hartini menjualnya tanpa pernah memberitahu Dimas.
Uang bagian Dimas sebesar dua ratus juta sempat masuk ke rekeningnya, lalu dipindahkan diam-diam.
Dengan kata lain, uang yang selama ini disebut Ibu Hartini sebagai “pinjaman” ternyata sebagian berasal dari harta Dimas sendiri yang sengaja disembunyikan.
Dimas tidak langsung marah.
Dia hanya duduk di dalam mobil setelah keluar dari bank.
Lama sekali.
“Aku selama ini pikir Mama cuma sulit menerima batas,” katanya.
Rina memegang tangannya.
“Ternyata Mama sudah lama berhenti melihat batas.”
Dimas mengangguk.
Mereka akhirnya memutuskan tidak membawa masalah itu ke polisi setelah Bagas bersedia menandatangani pengakuan utang dan menyerahkan motornya untuk dijual sebagai pembayaran sebagian kewajiban.
Namun Dimas mengambil keputusan yang jauh lebih berat bagi ibunya.
Dia menghentikan seluruh akses keuangan tanpa batas yang selama ini diberikan.
Tidak ada lagi kartu tambahan.
Tidak ada lagi transfer bulanan di luar kebutuhan dasar.
Tidak ada lagi utang Bagas yang diam-diam dilunasi.
Ibu Hartini tetap tinggal di rumah sewa yang telah disiapkan.
Bulan-bulan pertama terasa berat.
Dia sering menelepon Dimas.
Kadang menangis.
Kadang menyalahkan Rina.
Kadang berkata bahwa seorang anak laki-laki seharusnya tidak memperlakukan ibunya seperti itu.
Dimas selalu menjawab dengan kalimat yang sama.
“Saya tetap anak Mama. Tapi menjadi anak Mama tidak berarti saya harus membiarkan Mama menyakiti keluarga saya.”
Enam bulan kemudian, sesuatu yang tidak disangka terjadi.
Ibu Hartini menelepon Rina.
Bukan Dimas.
“Rina.”
Suara itu terdengar jauh lebih pelan daripada biasanya.
“Iya, Bu.”
“Apa ibumu masih suka membuat sambal teri?”
Rina terdiam.
“Iya.”
“Kalau… kalau dia tidak keberatan, Mama mau pesan dua toples.”
Rina tahu itu bukan benar-benar soal sambal.
Mereka berdua tahu.
Satu minggu kemudian, Ibu Sumiati kembali datang ke Bandung.
Kali ini dia membawa empat toples sambal.
Dua untuk Rina.
Dua untuk Ibu Hartini.
Ketika kedua perempuan tua itu bertemu di apartemen, tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tangisan panjang.
Ibu Hartini hanya berkata,
“Saya minta maaf soal waktu itu.”
Ibu Sumiati mengangguk.
“Yang penting jangan gembok kulkas orang lagi.”
Dimas tersedak kopinya.
Rina menutup mulut menahan tawa.
Bahkan Ibu Hartini akhirnya tertawa kecil.
Malam itu, mereka makan bersama.
Bukan sebagai keluarga yang sudah sepenuhnya sembuh.
Luka tidak hilang hanya karena satu permintaan maaf.
Kepercayaan juga tidak kembali dalam sehari.
Namun setidaknya, untuk pertama kalinya, setiap orang duduk di meja yang sama tanpa seseorang merasa lebih berhak daripada yang lain.
Setelah semua pulang, Rina masuk ke kamar dan membuka lemari.
Map biru itu masih ada.
Dokumen penjualan rumah sudah lama selesai.
Bukti transfer sudah disimpan di tempat lain.
Hanya dua lembar kertas yang masih berada di dalamnya.
Catatan yang dulu ditempel Ibu Hartini di dapur.
Rina membacanya sebentar.
“Orang luar dilarang makan dari rezeki anak saya.”
Dia lalu mengambil kedua kertas itu.
Merobeknya menjadi beberapa bagian.
Keisha yang berdiri di pintu melihatnya.
“Itu apa, Ma?”
Rina tersenyum.
“Barang lama yang sudah tidak berguna.”
Dia membuang potongan kertas itu ke tempat sampah.
Saat itu Rina akhirnya memahami sesuatu.
Rumah bukan sekadar nama yang tercetak di sertifikat.
Bukan soal siapa yang membayar cicilan paling besar.
Bukan pula siapa yang merasa paling berhak karena hubungan darah.
Rumah adalah tempat seseorang tidak perlu meminta izin untuk merasa aman.
Tempat seorang ibu berusia enam puluh tiga tahun tidak harus duduk dalam gelap karena takut menyalakan lampu.
Tempat seorang anak tidak tumbuh dengan melihat keluarganya saling mengukur harga berdasarkan uang.
Dan terkadang, untuk menyelamatkan sebuah keluarga, yang harus dilakukan bukan mempertahankan rumah.
Melainkan berani meninggalkannya.
