“Sayang, yuk pulang.” Suara Bintang terdengar agak pelan, seolah takut aku masih menyimpan curiga. Aku menarik napas, menoleh sekilas. “Aku bisa pulang sendiri, Mas. Kamu teruskan aja meetingnya.”
Mentari tidak pernah benar-benar tidur malam itu. Saat jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, suara langkah Bintang akhirnya kembali










