Aku menatap Dimas dengan tajam, berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa harga diriku yang baru saja diinjak-injak olehnya.
Pintu mobil baru saja kututup ketika Davi langsung menatapku dari kursi belakang. “Ibu habis menangis?” tanyanya polos. Aku buru-buru mengusap










