MAS, RUMAH MEWAH YANG KUBANGUN DENGAN GAJI SEPULUH TAHUN DI DUBAI KE MANA
Budi memegang sertifikat itu dengan tangan yang bergetar hebat. Ia membuka lipatan kertas itu. Matanya membelalak. Sertifikat tanah itu bukan […]
Budi memegang sertifikat itu dengan tangan yang bergetar hebat. Ia membuka lipatan kertas itu. Matanya membelalak. Sertifikat tanah itu bukan […]
Santi tersentak, menoleh dengan mata sembab. Saat melihat saya, ia mencoba tersenyum, namun yang keluar justru isakan kecil yang tertahan.
Bisikan-bisikan tertahan mulai terdengar seperti gerombolan lebah yang terusik. Aku bisa merasakan tatapan mata para sosialita yang biasanya memandangku dengan
Malam itu, di bangsal VIP yang sunyi, Nadia tidak lagi memejamkan mata. Ia duduk bersandar, menatap pantulan dirinya di layar
Suara di seberang telepon itu tidak sekadar tenang; ia memiliki frekuensi rendah yang membuat bulu kudukku berdiri, seolah-olah Bima sedang
Keheningan yang mencekam menyelimuti lobi. Rina, yang tadi begitu angkuh, kini tampak seperti patung hidup dengan mata terbelalak. Para karyawan
Suasana di ruang tamu mendadak hening, seolah oksigen tersedot keluar dari ruangan. Di atas meja kaca yang basah itu, tinta
Malam itu, aku tersungkur di atas karpet beludru ruang tengahku. Riasan wajah yang kubuat dengan harga jutaan rupiah kini luntur,
Langkah kakiku yang mengenakan sepatu stiletto berbunyi nyaring di lantai bandara, berirama seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran mereka.
Suasana di kamar terasa mencekam, seolah oksigen di ruangan itu ikut terkuras habis bersamaan dengan hilangnya kendali finansial Santoso Nusantara