DIUSIR MERTUA SAAT HAMIL 5 BULAN DAN CINCIN NIKAHNYA DIRAMPAS, LIONTIN MURAH PEMBERIAN ALMARHUM SUAMINYA JUSTRU MEMBONGKAR RAHASIA PEMBUNUHAN BESAR!

Maya menatap kotak logam itu begitu lama sampai suara pendingin ruangan terdengar seperti dengungan yang datang dari tempat sangat jauh.

Tangannya menyentuh liontin berbentuk elang di atas meja.

“Kalau Reza sudah tahu dirinya dalam bahaya, kenapa dia tidak pernah mengatakan apa pun kepada saya?”

Harun tidak segera menjawab.

“Karena menurut suami Ibu, orang yang mengawasinya berada sangat dekat.”

Dada Maya terasa sesak.

Harun memasukkan kepala elang pada liontin ke lubang kecil di permukaan kotak. Dia memutarnya perlahan.

Terdengar bunyi klik.

Kotak itu terbuka.

Di dalamnya tidak ada perhiasan atau uang.

Hanya sebuah flashdisk kecil, kartu memori, satu amplop putih, dan kunci loker bank.

Di atas amplop tertulis nama Maya dengan tulisan tangan Reza.

Jari Maya langsung gemetar.

Dia mengenali setiap lekukan huruf itu.

Harun menyerahkan amplop tersebut.

Maya membukanya perlahan.

“Maya, kalau kamu membaca surat ini, berarti aku gagal pulang.”

Kalimat pertama saja sudah membuat pandangannya kabur.

Dia menutup mulut agar tangisnya tidak pecah.

“Aku minta maaf karena menyembunyikan semuanya. Aku melakukan ini karena aku takut orang yang sedang kuhadapi akan menjadikanmu dan anak kita sebagai alat untuk menghentikanku.”

Maya terus membaca.

Selama delapan bulan terakhir, Reza ternyata menemukan kejanggalan dalam proyek perluasan Rumah Sakit Sentosa Surabaya, proyek terbesar yang pernah ditangani perusahaan keluarga Mahendra.

Nilai proyeknya hampir satu triliun rupiah.

Namun puluhan invoice untuk baja, beton, instalasi listrik, dan alat keselamatan ternyata telah digelembungkan.

Barang yang tercatat sebagai material kelas premium diganti dengan kualitas jauh lebih rendah.

Selisih uangnya dialirkan ke sejumlah perusahaan cangkang.

Salah satu perusahaan itu terdaftar atas nama sopir yang sudah meninggal.

Satu lagi menggunakan alamat rumah kosong di Sidoarjo.

Dan perusahaan terbesar di antara semuanya memiliki hubungan langsung dengan seseorang yang sangat dikenali Maya.

Doni Mahendra.

Maya berhenti membaca.

“Nggak mungkin.”

Harun hanya menatapnya.

Maya membaca kembali bagian berikutnya.

Reza awalnya mengira kakaknya sekadar melakukan penggelapan.

Namun ketika dia menyelidiki lebih jauh, dia menemukan sesuatu yang lebih mengerikan.

Dua tahun sebelumnya, seorang insinyur struktur bernama Yudi Santoso pernah melaporkan bahwa kualitas beton yang digunakan tidak sesuai kontrak.

Tiga hari kemudian Yudi ditemukan meninggal setelah sepeda motornya menabrak pembatas jalan.

Enam bulan setelah itu, staf pengadaan bernama Kelvin Wijaya hendak menyerahkan dokumen kepada auditor.

Dia meninggal akibat kebakaran di rumah kontrakannya.

Polisi menyimpulkan kedua kejadian itu sebagai kecelakaan.

Reza tidak percaya.

Dia menemukan bahwa beberapa jam sebelum meninggal, Yudi dan Kelvin sama-sama menerima telepon dari nomor yang terhubung dengan perusahaan keamanan milik seorang pria bernama Bram Wicaksono.

Bram adalah rekan bisnis Doni.

Nama itu membuat Maya teringat sesuatu.

Bram datang ke pemakaman Reza.

Pria bertubuh besar itu berdiri tepat di sebelah Doni saat jenazah diturunkan ke liang lahat.

Bahkan Bram sempat memegang bahu Maya dan berkata agar dia “mengikhlaskan kecelakaan yang sudah menjadi takdir”.

Perut Maya seolah dipenuhi es.

Dia meneruskan membaca.

“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan percaya laporan kecelakaan sebelum rem mobil diperiksa ulang.”

Maya mendongak cepat.

“Pak Harun.”

“Saya tahu.”

“Mobil Reza sudah dihancurkan.”

Harun menggeleng.

“Belum.”

Maya membeku.

Harun menarik sebuah foto dari map cokelat.

Foto itu menunjukkan mobil hitam Reza yang ringsek parah di bagian depan.

“Suami Ibu meminta salah satu teknisi kepercayaannya menarik mobil itu dari tempat penyimpanan sebelum pihak perusahaan mengambilnya. Mobil tersebut sekarang berada di gudang milik saya di Gresik.”

Maya hampir tidak percaya.

“Kenapa Bapak mau membantu Reza sejauh ini?”

Harun terdiam cukup lama.

“Karena Yudi Santoso adalah adik saya.”

Maya tidak mampu berkata apa-apa.

Harun menunduk.

“Dua tahun saya menerima bahwa kematiannya adalah kecelakaan. Reza yang datang dan mengatakan mungkin adik saya dibunuh.”

Suara pria itu mulai berat.

“Awalnya saya marah. Saya pikir dia hanya mengorek luka lama. Tapi kemudian dia menunjukkan bukti.”

Harun mengambil laptop dan memasukkan flashdisk dari kotak.

Muncul beberapa folder.

Ada salinan rekening.

Rekaman percakapan.

Foto dokumen.

Laporan laboratorium material.

Dan sebuah video.

Harun membuka video terakhir.

Reza muncul di layar.

Dia duduk di dalam mobil, tampaknya merekam dirinya sendiri.

Wajahnya lelah.

“Kalau video ini dibuka, berarti situasinya sudah memburuk. Doni tahu aku menyimpan salinan bukti.”

Maya menahan napas.

“Dia kakakku sendiri. Aku masih berharap aku salah. Tetapi dua malam lalu dia menemuiku bersama Bram dan menyuruhku menghentikan audit proyek.”

Reza mengangkat ponselnya ke kamera.

“Aku merekam percakapan itu.”

Video berakhir.

Harun membuka file audio.

Suara Doni terdengar jelas.

“Berapa yang kamu mau?”

“Aku nggak mau uang.”

“Jangan sok suci, Za. Semua orang punya harga.”

“Kalian mengganti material rumah sakit. Kalau struktur gedung gagal, ratusan orang bisa mati.”

Kemudian terdengar suara Bram.

“Yang harus kamu pikirkan bukan ratusan orang. Pikirkan istrimu yang sedang hamil.”

Maya langsung menutup mulut.

Air matanya jatuh.

Suara Reza terdengar lebih keras.

“Jangan bawa Maya.”

Bram tertawa kecil.

“Kalau begitu berhenti.”

Rekaman selesai.

Untuk pertama kalinya sejak Reza meninggal, rasa sedih Maya berubah menjadi sesuatu yang lain.

Marah.

Bukan kemarahan yang membuatnya ingin berteriak.

Justru kemarahan yang membuat pikirannya terasa sangat jernih.

“Pak Harun, kita bawa semua ini ke polisi.”

“Kita akan melakukannya. Tapi ada satu masalah.”

Harun menunjuk sebuah folder.

“Bukti tentang penggelapan sangat kuat. Ancaman juga terekam. Tetapi kita belum memiliki bukti langsung bahwa Doni atau Bram merusak mobil Reza.”

Maya memandang foto mobil.

“Kalau rem diperiksa?”

“Itulah langkah berikutnya.”

Malam itu mereka menghubungi pengacara yang namanya sudah ditulis Reza di dalam surat.

Namanya Adrian Prakoso.

Reza ternyata telah menitipkan salinan dokumen kepada Adrian tiga minggu sebelum kematiannya, tetapi memberi instruksi agar dokumen baru dibuka apabila Maya datang membawa liontin.

Maya baru memahami betapa hati-hatinya Reza menyusun semuanya.

Bahkan uang dua miliar yang ditransfer kepada Harun bukan pembayaran.

Uang itu adalah dana darurat untuk Maya dan anak mereka.

Reza sudah menyiapkan kemungkinan terburuk.

Keesokan paginya, seorang ahli otomotif independen memeriksa mobil Reza di gudang.

Hasilnya membuat semua orang terdiam.

Selang minyak rem memiliki bekas potongan sangat kecil.

Bukan pecah karena benturan.

Dipotong.

Namun temuan paling penting justru datang dari kamera kecil di dashboard yang rusak.

Kartu memorinya selamat.

Rekaman beberapa jam sebelum kecelakaan menunjukkan seorang pria berseragam mekanik mendekati mobil Reza di parkiran kantor.

Wajahnya terlihat selama empat detik.

Harun mengenalinya.

Namanya Bayu.

Dia bekerja untuk perusahaan keamanan Bram.

Polisi bergerak cepat setelah menerima bukti.

Tetapi ketika petugas mendatangi rumah Bayu, pria itu sudah menghilang.

Doni juga menyangkal semuanya.

Dia bahkan mengadakan konferensi pers.

Dengan wajah muram dan pakaian hitam, dia mengatakan adiknya mengalami tekanan mental sebelum meninggal.

“Mungkin Reza membangun teori konspirasi karena stres kerja.”

Maya menonton pernyataan itu dari kantor Adrian.

Tangannya mengepal.

Lalu Doni mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin geram.

“Kami juga prihatin ada pihak yang memanfaatkan kematian Reza untuk menguasai aset keluarga.”

Semua orang tahu siapa yang dimaksud.

Maya.

Sore itu pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponsel barunya.

Kalau mau tahu siapa yang memotong rem Reza, datang sendiri ke parkiran lama Terminal Purabaya pukul sembilan malam.

Adrian langsung melarang Maya pergi.

Harun setuju.

“Itu perangkap.”

Namun Maya memperhatikan satu hal.

Di bawah pesan tersebut terdapat foto cincin pernikahannya.

Cincin yang dirampas Ibu Ratna.

Hanya keluarga Reza yang memiliki benda itu.

Maya kemudian membalas satu kalimat.

Siapa kamu?

Jawabannya datang beberapa menit kemudian.

Ibu Ratna.

Mereka tidak membiarkan Maya datang sendirian.

Polisi berpakaian sipil menunggu di sekitar lokasi.

Pukul sembilan malam, sebuah mobil abu-abu berhenti.

Ibu Ratna turun.

Perempuan yang dua bulan sebelumnya mengusir Maya kini tampak jauh lebih tua.

Wajahnya pucat.

Tangannya memegang cincin pernikahan Maya.

Begitu Maya mendekat, Ibu Ratna langsung menangis.

“Maafkan Ibu.”

Maya berdiri kaku.

“Kenapa Ibu melakukan semua itu?”

Ibu Ratna mengeluarkan ponsel lama.

“Doni menyuruh Ibu.”

“Tapi Ibu ikut menuduh anak saya bukan anak Reza.”

“Karena Doni bilang kalau kamu tetap di rumah, Bram akan membuatmu mengalami kecelakaan juga.”

Maya terdiam.

Ibu Ratna menangis semakin keras.

“Ibu pikir kalau kamu membenci kami dan pergi jauh, kamu akan selamat.”

“Kenapa Ibu tidak mengatakan yang sebenarnya?”

“Karena Ibu pengecut.”

Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada alasan apa pun.

Ibu Ratna kemudian menyerahkan ponsel.

“Ada rekaman di sini.”

Ternyata tiga hari setelah kematian Reza, Ibu Ratna tanpa sengaja mendengar Doni dan Bram bertengkar di ruang kerja.

Dia merekam dari balik pintu.

Suara Bram terdengar sangat jelas.

“Gue sudah bilang Bayu jangan cuma potong selang. Sekarang mobilnya malah belum dihancurkan.”

Kemudian suara Doni.

“Yang penting Reza sudah mati.”

Itulah bukti yang selama ini hilang.

Empat puluh delapan jam kemudian, Doni ditangkap saat mencoba terbang ke Singapura.

Bram ditangkap di sebuah vila di Batu.

Bayu menyerahkan diri tiga hari kemudian dan mengakui bahwa dirinya dibayar untuk merusak sistem pengereman Reza.

Penyidikan kemudian membuka skandal yang jauh lebih besar.

Kematian Yudi dan Kelvin diperiksa ulang.

Beberapa orang yang bekerja untuk Bram mulai memberikan kesaksian.

Penggelapan proyek ditemukan berlangsung hampir empat tahun.

Rika ternyata juga terlibat dalam pemalsuan sejumlah dokumen perusahaan, meskipun penyidik tidak menemukan bukti bahwa dia mengetahui rencana pembunuhan Reza.

Surat pelepasan hak yang dipaksa ditandatangani Maya dinyatakan tidak memiliki kekuatan karena dibuat di bawah ancaman dan kemudian menjadi salah satu bukti pemerasan.

Enam bulan kemudian, Maya berdiri di depan makam Reza sambil menggendong bayi laki-laki.

Dia menamainya Raka Reza Mahendra.

Di jari kirinya kembali terpasang cincin pernikahan yang pernah dirampas.

Sementara liontin elang masih menggantung di lehernya.

Ibu Ratna berdiri beberapa langkah di belakang.

Hubungan mereka tidak kembali seperti dahulu.

Maya memilih memaafkan, tetapi tidak melupakan.

Karena memaafkan bukan berarti menghapus batas antara cinta dan pengkhianatan.

Harun menggunakan sebagian dana yang pernah dititipkan Reza untuk mendirikan yayasan keselamatan konstruksi atas nama Yudi dan Reza.

Sementara saham perusahaan yang menjadi hak Raka dikelola secara independen sampai dia dewasa.

Sebelum meninggalkan makam, Maya meletakkan tangannya di batu nisan.

“Aku dulu marah karena kamu nggak cerita apa-apa.”

Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.

“Tapi sekarang aku paham.”

Maya menunduk menatap putranya yang tertidur.

“Kamu bukan meninggalkan kami tanpa perlindungan. Kamu sedang berusaha melindungi kami sampai detik terakhir.”

Saat hendak pergi, Adrian datang membawa satu amplop kecil.

“Ada satu hal yang baru saya temukan di loker bank Reza.”

Maya membukanya.

Di dalamnya terdapat foto hasil USG pertama mereka dan secarik kertas.

Tulisan Reza hanya terdiri dari beberapa kalimat.

“Kalau anak kita laki-laki, aku ingin namanya Raka. Kalau perempuan, kamu yang pilih karena selera namamu lebih bagus.”

Maya tertawa di tengah air mata.

Namun kalimat terakhir membuatnya diam.

“Dan kalau suatu hari dia bertanya seperti apa ayahnya, jangan bilang aku pemberani. Bilang saja aku pernah takut setengah mati, tetapi tetap memilih melakukan hal yang benar.”

Maya memeluk Raka lebih erat.

Selama berbulan-bulan dia mengira liontin murah itu adalah benda terakhir yang menghubungkannya dengan suaminya.

Ternyata dia salah.

Warisan terbesar Reza bukan rumah, uang dua miliar, saham perusahaan, ataupun bukti yang menjatuhkan para pembunuhnya.

Warisan terbesar Reza adalah sebuah pilihan.

Bahwa ketika ketakutan datang, manusia tetap bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari kejahatan.

Maya menatap makam itu untuk terakhir kali.

Lalu dia berjalan pergi bersama putranya.

Liontin elang di dadanya memantulkan cahaya matahari sore.

Benda yang pernah dianggap tak laku bahkan lima ratus ribu rupiah itu akhirnya membuka skandal bernilai ratusan miliar, membongkar tiga kematian yang disamarkan sebagai kecelakaan, dan menyelamatkan sebuah gedung rumah sakit dari material berbahaya.

Namun bagi Maya, nilainya tetap tidak bisa dihitung dengan uang.

Karena liontin itu menyimpan pesan terakhir seorang suami yang bahkan setelah meninggal masih berusaha membawa istri dan anaknya pulang menuju kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang