MAYA MENANG HADIAH 500 MILIAR RUPIAH DAN BERGEGAS KE KANTOR UNTUK MEMBERI KEJUTAN KEPADA SUAMINYA.

Mbak Dewi tidak langsung berteriak.

Ia juga tidak memanggil satpam.

Perempuan itu menutup pintu perlahan dari belakang, lalu memutar kuncinya.

Suara klik kecil itu justru membuat jantung Maya berdegup semakin keras.

“Cabut flashdisk itu,” katanya.

Maya menelan ludah.

“Mbak Dewi, saya bisa jelaskan.”

“Saya bilang cabut.”

Proses penyalinan sudah mencapai 97 persen.

Maya menatap layar.

Dewi ikut melihat angka itu.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya berdiri dalam keheningan.

98 persen.

99 persen.

100 persen.

Dewi berjalan mendekat.

Maya bersiap jika perempuan itu merebut flashdisk atau memanggil Rendy.

Namun Dewi justru mematikan monitor komputer.

“Sekarang kita bicara.”

Maya menggenggam flashdisk di dalam telapak tangan.

“Kalau Mbak mau melaporkan saya, silakan. Tapi sebelum itu, saya ingin Mbak tahu kenapa saya melakukan ini.”

Dewi tertawa pendek.

Anehnya, tidak ada kemarahan dalam suaranya.

“Bu Maya, saya tahu persis kenapa Ibu melakukannya.”

Maya terdiam.

Dewi menarik kursi lalu duduk.

“PROJECT ASTER bukan folder milik Pak Rendy.”

“Apa?”

“Itu folder saya.”

Maya menatapnya tidak percaya.

Dewi lalu mengeluarkan sebuah harddisk kecil dari tasnya.

“Semua dokumen yang Ibu salin tadi hanyalah sebagian.”

Maya merasa seluruh tubuhnya merinding.

Dewi menghela napas panjang.

“Empat tahun lalu, ketika perusahaan mulai berkembang, Pak Rendy meminta saya membuat dua laporan keuangan. Satu untuk pajak dan investor. Satu lagi laporan sebenarnya.”

“Kenapa Mbak menurut?”

“Karena saat itu anak saya sedang menjalani operasi jantung.”

Suara Dewi melemah.

“Saya butuh pekerjaan. Saya takut kehilangan asuransi perusahaan. Saya pikir hanya akan terjadi sekali. Ternyata semakin lama semakin parah.”

Rendy mulai mengalihkan keuntungan proyek.

Membuat vendor fiktif.

Mengirim dana ke perusahaan milik ibunya.

Bahkan menggunakan identitas beberapa pegawai untuk membuat transaksi yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Ketika Dewi mencoba mengundurkan diri, Rendy mengancam akan menjadikannya kambing hitam.

“Semua dokumen memakai akses saya,” katanya. “Kalau kasusnya terbongkar tanpa bukti lengkap, saya yang pertama masuk penjara.”

Karena itulah Dewi diam-diam menyimpan salinan setiap transaksi.

Bukan untuk membantu Rendy.

Melainkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri jika suatu hari semuanya runtuh.

Maya duduk di kursi di hadapannya.

“Apakah Mbak tahu dia juga mau menjebak saya?”

Dewi tidak langsung menjawab.

Lalu ia membuka salah satu folder di harddisk.

Di dalamnya ada rancangan perjanjian pinjaman senilai delapan miliar rupiah.

Nama Maya tercantum sebagai penjamin pribadi.

Tanda tangannya bahkan sudah ada.

Padahal Maya tidak pernah melihat dokumen tersebut.

“Itu bukan tanda tangan saya.”

“Saya tahu.”

Dewi membuka file lain.

Ada hasil pemindaian tanda tangan Maya dari dokumen lama.

Maya merasa mual.

Rendy tidak hanya berencana membohonginya agar menandatangani sesuatu.

Jika Maya menolak, ia sudah menyiapkan tanda tangan palsu.

“Kenapa Mbak menunjukkan semua ini kepada saya?”

Dewi menatapnya lama.

“Karena saya melihat Ibu setiap hari membuat kopi untuk perempuan yang tidur dengan suami Ibu.”

Maya membeku.

“Semua orang di kantor tahu?”

“Tidak semua.”

Dewi menunduk sebentar.

“Saya tahu karena saya yang membayar tagihan hotel mereka lewat kartu perusahaan.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Maya tertawa.

Bukan karena lucu.

Tawa itu keluar karena luka yang sudah terlalu penuh untuk ditampung tubuhnya.

Dewi menggenggam tangannya.

“Kalau Ibu mau melawan, jangan lakukan setengah-setengah.”

Keesokan harinya, Maya menemui pengacaranya di Malang.

Rekaman suara dari depan ruang kerja Rendy digabungkan dengan dokumen yang diberikan Dewi.

Pengacara Maya memeriksa semuanya selama hampir tiga jam.

“Ini bukan lagi sekadar masalah perceraian,” katanya akhirnya.

Ada indikasi pemalsuan dokumen.

Manipulasi pembukuan.

Penggelapan dana perusahaan.

Transaksi fiktif.

Dan kemungkinan pelanggaran perpajakan.

Namun Maya tidak ingin bergerak terlalu cepat.

Ia tahu Rendy licik.

Jika merasa terancam, laki-laki itu bisa menghapus data atau melarikan aset.

Karena itu mereka memilih menunggu sampai Rendy sendiri menjalankan langkah terakhirnya.

Dan kesempatan itu datang seminggu kemudian.

Malam Jumat, Rendy pulang membawa map berwarna hitam.

Ia duduk di meja makan dengan wajah penuh tekanan.

“May, aku butuh bantuanmu.”

Maya menaruh segelas air di depannya.

“Apa?”

Rendy membuka map.

“Ada investor yang mau menyelamatkan perusahaan. Tapi bank minta jaminan tambahan.”

Ia menggeser beberapa lembar dokumen.

“Cuma formalitas.”

Maya membacanya perlahan.

Persis seperti yang dikatakan Dewi.

Dokumen itu akan membuat Maya menjadi penjamin utang delapan miliar rupiah.

Jika perusahaan gagal membayar, aset tertentu yang tercatat atas namanya bisa disita.

Rendy mengulurkan pena.

“Tanda tangan di sini.”

Maya sengaja membiarkan tangannya gemetar.

“Aku takut.”

Rendy menghela napas kesal.

“Takut apa? Aku suamimu.”

Kalimat itu hampir membuat Maya tertawa.

Namun ia menahannya.

“Kalau terjadi sesuatu bagaimana?”

“Tidak akan.”

“Arka bagaimana?”

Rendy membanting telapak tangan ke meja.

“Kenapa selalu Arka? Aku sedang berusaha menyelamatkan keluarga kita!”

Maya menatap laki-laki yang selama lima tahun tidur di sebelahnya.

Ia teringat pernikahan mereka.

Hari saat Arka lahir.

Saat Rendy menangis sambil memegang bayi mereka.

Maya pernah percaya laki-laki itu adalah rumahnya.

Kini ia menyadari rumah bukanlah orang yang kita cintai.

Rumah adalah tempat kita tidak perlu takut dihancurkan oleh orang yang seharusnya melindungi kita.

Maya mengambil pena.

Rendy langsung tersenyum.

Namun sebelum menyentuhkan ujung pena ke kertas, Maya berkata,

“Aku ingin tanda tangan di depan notaris.”

Senyum Rendy menghilang.

“Kenapa harus notaris?”

“Delapan miliar besar, Mas. Kalau memang cuma formalitas, tidak ada masalah, kan?”

Rendy menatapnya tajam.

Beberapa detik kemudian, ia tersenyum kembali.

“Tentu.”

Dua hari kemudian mereka datang ke sebuah kantor notaris di Surabaya.

Rendy membawa Anita dengan alasan sebagai perwakilan perusahaan.

Ia tidak tahu notaris tersebut telah berkoordinasi dengan pengacara Maya.

Ia juga tidak tahu Dewi telah menyerahkan dokumen asli yang menunjukkan utang tersebut direkayasa.

Di ruangan rapat, Rendy menjelaskan bahwa perusahaannya sedang mengalami kesulitan keuangan dan membutuhkan penjaminan Maya.

Notaris bertanya,

“Apakah semua informasi dalam dokumen ini benar?”

“Benar.”

“Tidak ada transaksi lain yang disembunyikan?”

“Tidak ada.”

“Perusahaan tidak memiliki pendapatan yang belum dilaporkan dalam dokumen ini?”

Rendy mulai terlihat tidak nyaman.

“Tidak.”

Anita ikut mengangguk.

Notaris kemudian memandang Maya.

“Bu Maya, apakah Ibu ingin melanjutkan?”

Maya menutup map.

“Tidak.”

Rendy mengernyit.

“Apa?”

Maya bersandar di kursi.

“Aku tidak akan menandatangani.”

Wajah Rendy berubah merah.

“Kita sudah membicarakan ini di rumah.”

“Aku juga ingin membicarakan PROJECT ASTER.”

Ruangan mendadak sunyi.

Anita langsung menoleh kepada Rendy.

Rendy tidak bergerak.

“Apa maksudmu?”

Maya mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

Laporan keuntungan 32 miliar.

Transfer ke perusahaan milik ibu Rendy.

Vendor fiktif.

Rekening tersembunyi.

Kemudian ia meletakkan salinan rancangan dokumen dengan tanda tangan palsunya.

Wajah Rendy menjadi pucat.

“Dari mana kamu dapat ini?”

Maya tidak menjawab.

Pintu ruangan terbuka.

Mbak Dewi masuk bersama pengacara Maya.

Dewi membawa harddisk dan satu kotak dokumen.

Rendy berdiri.

“Kamu?”

Dewi mengangguk.

“Dua belas tahun saya bekerja untuk perusahaan ini, Pak. Ternyata itu cukup lama untuk belajar bahwa saya tidak boleh percaya kepada orang yang selalu meminta orang lain mengotori tangannya.”

Anita langsung mundur dari meja.

“Ren, kamu bilang semua file sudah dibersihkan.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Begitu menyadari kesalahannya, Anita menutup mulut.

Pengacara Maya tersenyum tipis.

“Terima kasih. Kalimat tadi cukup membantu.”

Rendy kehilangan kendali.

Ia menunjuk Maya.

“Kamu menjebakku!”

Maya menatapnya tenang.

“Tidak. Aku hanya membiarkanmu melakukan apa yang sejak awal memang ingin kamu lakukan.”

Rendy mencoba mengambil dokumen di atas meja, tetapi pengacara Maya menghentikannya.

Saat itulah dua petugas yang sejak tadi menunggu di ruangan sebelah masuk.

Proses hukum tidak selesai hari itu.

Bahkan baru dimulai.

Namun dalam beberapa minggu berikutnya, semuanya runtuh jauh lebih cepat daripada perkiraan Rendy.

Audit menemukan banyak transaksi bermasalah.

Rekening tertentu dibekukan untuk kepentingan pemeriksaan.

Beberapa rekan bisnis yang sebelumnya takut berbicara akhirnya memberikan keterangan.

Vendor fiktif terungkap.

Dokumen-dokumen perusahaan disita untuk diperiksa.

Ibu Rendy yang namanya digunakan sebagai pemilik perusahaan bayangan ikut diperiksa.

Yang paling mengejutkan, Anita berbalik memberikan keterangan setelah mengetahui Rendy ternyata menyiapkan dokumen yang akan membuat semua transaksi ilegal seolah-olah dilakukan atas instruksinya.

Laki-laki itu tidak pernah berniat membangun masa depan bersama Anita.

Ia hanya membutuhkan seseorang untuk dijadikan pelindung jika skemanya terbongkar.

Saat Anita mengetahuinya, hubungan mereka berakhir dalam satu malam.

Tiga bulan kemudian, Maya resmi mengajukan perceraian.

Rendy mencoba menuntut bagian dari harta Maya.

Ia bahkan mengatakan selama menikah Maya tidak bekerja sehingga seluruh kekayaan keluarga seharusnya berasal darinya.

Saat mediasi, Rendy duduk di seberang Maya dengan wajah jauh lebih kurus.

“Berapa sebenarnya uang yang kamu sembunyikan?”

Maya menatapnya.

“Kenapa?”

“Pengacaramu terlalu mahal. Kamu pindah rumah. Arka masuk sekolah bagus. Kamu pasti punya uang.”

Maya tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia mengeluarkan salinan bukti pencairan hadiah lotere.

Rendy membacanya.

Matanya berhenti pada angka yang tercetak di sana.

Rp500.000.000.000.

Tangannya mulai gemetar.

“Ini…”

“Hari ketika aku datang ke kantormu,” kata Maya, “aku sebenarnya ingin memberitahumu bahwa aku menang lotere.”

Rendy mengangkat kepala perlahan.

“Aku datang untuk menyelamatkan perusahaanmu.”

Wajah Rendy benar-benar kehilangan warna.

“Kalau pagi itu aku tidak mendengar percakapanmu dengan Anita, mungkin siangnya aku sudah menyerahkan uang sebanyak apa pun yang kamu butuhkan.”

Rendy tampak seperti tidak mampu bernapas.

“Lima ratus miliar?”

Maya mengangguk.

“Dan karena perjanjian pisah harta kita, uang itu bukan milikmu.”

Rendy menutup mata.

Untuk pertama kalinya, ia akhirnya memahami besarnya sesuatu yang telah ia hancurkan sendiri.

Bukan hanya pernikahan.

Bukan hanya keluarga.

Keserakahannya membuatnya kehilangan kehidupan yang bahkan jauh lebih nyaman daripada semua penipuan yang susah payah ia bangun.

“May,” katanya pelan. “Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”

Maya menatapnya tanpa kebencian.

Justru itu yang paling menyakitkan bagi Rendy.

Karena kebencian berarti masih ada perasaan.

Sedangkan di mata Maya, tidak ada apa-apa lagi.

“Aku pernah mencintaimu saat kita hanya punya motor bekas dan uang makan tiga puluh ribu sehari.”

Suara Maya tetap tenang.

“Kalau yang kamu cari cuma uang, sebenarnya kamu sudah menjadi laki-laki paling kaya pagi itu.”

Rendy menunduk.

Maya berdiri.

Sebelum keluar, ia berhenti di pintu.

“Oh ya, satu hal lagi.”

Rendy menatapnya.

“Uang itu tidak akan kupakai untuk membalasmu.”

Setelah perceraian selesai, Maya mendirikan sebuah yayasan untuk membantu perempuan yang terjebak dalam kekerasan ekonomi, manipulasi utang, dan sengketa aset keluarga.

Dewi menjadi direktur keuangannya.

Sebagian dana juga digunakan Maya untuk mendukung pendidikan anak-anak dengan penyakit serius, terinspirasi dari cerita putri Dewi yang dahulu membuat perempuan itu bertahan dalam ketakutan selama bertahun-tahun.

Bu Rahma tinggal tidak jauh dari rumah baru Maya.

Sementara Arka tumbuh tanpa mengetahui detail buruk tentang ayahnya.

Maya tidak pernah mengajarinya membenci Rendy.

Ketika Arka suatu hari bertanya,

“Kenapa Ayah tidak tinggal bersama kita?”

Maya memeluk putranya.

“Karena kadang dua orang harus tinggal terpisah supaya mereka bisa menjadi manusia yang lebih baik.”

Bertahun-tahun kemudian, tiket lotere asli itu masih disimpan Maya.

Bukan di brankas.

Bukan pula di bingkai mahal.

Ia menyimpannya di dalam sebuah kotak kayu kecil bersama foto lama dirinya dan Arka.

Di belakang tiket itu Maya menulis satu kalimat dengan tinta hitam.

Hari ini aku memenangkan 500 miliar rupiah, tetapi hadiah terbesarnya adalah mengetahui siapa yang tidak pantas ikut menikmatinya.

Karena pada akhirnya, uang memang bisa mengubah hidup seseorang.

Tetapi bagi Maya, uang tidak pernah menjadi senjata paling kuat.

Yang menyelamatkannya adalah keberanian untuk diam ketika ia ingin berteriak, kesabaran untuk mengumpulkan kebenaran ketika ia ingin membalas, dan keputusan untuk pergi ketika akhirnya ia menyadari bahwa cinta tanpa rasa hormat hanyalah jebakan yang diberi nama indah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang