HAMIL 5 BULAN, AKU MENEMUKAN LEMARI SUAMIKU KOSONG DAN TABUNGAN KAMI LUDES! DIA KABUR MENINGGALKAN SURAT: “URUS DIRIMU SENDIRI.” TIGA MINGGU KEMUDIAN, SEORANG PENGUSAHA KAYA DATANG MEMBAWA MEDALI MILIK KAKAKKU!

Maya tidak langsung menangis.

Aneh sekali, pikirnya kemudian. Selama tujuh tahun ia membayangkan berbagai kemungkinan tentang Arya. Ia pernah membayangkan kakaknya hidup di kota lain, memiliki keluarga baru, kehilangan ingatan, bahkan sengaja memutus hubungan dengan mereka.

Namun ketika jawaban akhirnya berdiri tepat di depan matanya, tubuh Maya justru terasa mati rasa.

“Apa maksud Anda tidak ada yang bisa menyelamatkan dia?” tanyanya.

Hendra menatap tanah yang masih lembap setelah hujan.

“Tujuh tahun lalu saya belum menjadi orang seperti yang Anda lihat sekarang.”

Ia menunjuk kursi kayu di teras.

“Bolehkah kita bicara di dalam? Ceritanya panjang.”

Maya ragu cukup lama.

Lalu pandangannya jatuh pada medali di tangannya.

Akhirnya ia membuka gerbang.

Hendra tidak menyentuh kopernya. Ia hanya mengikuti Maya menuju teras dan duduk dengan jarak sopan.

Udara sore semakin dingin.

“Saat itu perusahaan saya hampir bangkrut,” Hendra memulai. “Saya mengambil terlalu banyak proyek sekaligus. Salah satunya pembangunan akses jalan menuju kawasan wisata baru di perbukitan Sukabumi.”

Maya mengingatnya.

Itulah proyek tempat Arya bekerja sebagai pengawas lapangan.

“Malam itu hujan besar,” lanjut Hendra. “Ada longsor di salah satu sisi bukit. Saya datang ke lokasi karena menerima laporan bahwa beberapa pekerja masih tertahan.”

Hendra berhenti sejenak.

“Mobil saya tergelincir.”

Maya memegang medali lebih erat.

“Mobil itu jatuh ke lereng. Arya dan dua pekerja lain turun menolong saya.”

Suara Hendra mulai serak.

“Dia berhasil memecahkan kaca dan menarik saya keluar. Tapi setelah itu terjadi longsor kedua.”

Maya menutup mulut.

“Tidak.”

“Hanya saya dan satu pekerja yang berhasil dibawa ke atas. Arya terseret bersama lumpur dan batu.”

“Tidak.”

“Maya…”

“Tidak!”

Maya berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Polisi bilang mereka tidak menemukan jasadnya!”

“Karena tubuhnya tidak pernah ditemukan.”

“Lalu dari mana medali ini?”

Hendra menunduk.

“Medali itu tersangkut di sabuk pengaman saya. Mungkin ketika Arya menarik saya keluar.”

Maya berjalan beberapa langkah menjauhi Hendra.

Dadanya terasa sesak.

Selama bertahun-tahun, ia menyimpan kemarahan kepada kakaknya.

Ia pernah berdiri di depan foto Arya setelah ibunya tertidur dan berbisik, “Kalau memang mau pergi, kenapa tidak bilang?”

Kini kalimat itu kembali menghantamnya.

Arya tidak pergi.

Arya tidak pernah meninggalkan mereka.

Ia meninggal saat menyelamatkan seseorang.

“Kenapa baru sekarang?” Maya berbalik. “Kenapa Anda tidak datang tujuh tahun lalu?”

Pertanyaan itu akhirnya membuat Hendra kehilangan ketenangannya.

Ia mengusap wajah.

“Karena saya pengecut.”

Maya tertawa pahit.

“Jawaban yang nyaman.”

“Saya koma selama hampir tiga minggu. Ketika sadar, proyek sudah dihentikan. Direktur operasional perusahaan saat itu mengurus semuanya. Dia mengatakan keluarga Arya sudah menerima penjelasan dan santunan.”

“Kami tidak pernah menerima apa pun.”

“Saya tahu sekarang.”

Maya menatapnya tajam.

Hendra mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari tasnya.

“Dua bulan lalu saya melakukan audit internal setelah menemukan penggelapan besar di perusahaan lama. Dalam arsip proyek itu, ada tanda tangan penerimaan kompensasi atas nama ibu Anda.”

Maya mengambil dokumen tersebut.

Nama Rahma Sastro tertulis jelas.

Namun tanda tangannya palsu.

“Ada pembayaran dua ratus lima puluh juta rupiah,” kata Hendra. “Uang itu tidak pernah sampai ke keluarga Anda.”

“Siapa yang mengambilnya?”

“Mantan direktur operasional saya. Surya Mahendra.”

Nama itu tidak berarti apa pun bagi Maya.

Sampai Hendra melanjutkan.

“Dan ada satu hal lagi.”

Maya mengangkat wajah.

“Surya adalah paman dari suami Anda.”

Dunia Maya seolah berhenti untuk kedua kalinya.

“Bima?”

Hendra mengangguk.

“Saya baru menyadari hubungan mereka setelah menelusuri dokumen keluarga dan transaksi.”

Maya merasa tengkuknya dingin.

Potongan-potongan kejadian beberapa bulan terakhir tiba-tiba tersusun.

Bima terus mendesaknya menjual tanah.

Bima berkali-kali mengatakan rumah tua itu tidak berguna.

Bima menawarkan diri mengurus dokumen warisan.

Bima bahkan sempat membawa seorang pria yang mengaku sebagai calon pembeli, tetapi Maya menolak bertemu.

“Apa hubungan tanah ini dengan semua itu?”

Hendra menarik satu dokumen lain.

“Lahan keluarga Anda berada tepat di batas wilayah pengembangan agrowisata baru.”

Maya menatapnya.

“Nilainya sekarang jauh lebih tinggi daripada tujuh tahun lalu.”

“Berapa?”

Hendra menyebut angka.

Maya merasa hampir tidak percaya.

Nilainya lebih dari dua puluh kali perkiraan Bima.

“Bima tahu?”

“Sepertinya iya.”

Maya perlahan duduk kembali.

Pikirannya berputar.

Bima tidak pergi karena ia merasa rumah itu beban.

Bima mungkin pergi karena gagal membuatnya menjual.

“Tabungan kami?”

“Saya belum tahu.”

Maya memejamkan mata.

Hendra kemudian mendorong amplop kuning milik Arya ke arah Maya.

“Bacalah.”

Maya sebenarnya takut.

Namun akhirnya ia membuka amplop itu.

Kertas di dalamnya hanya satu lembar.

Tulisan Arya memenuhi setengah halaman.

Bu, kalau proyek ini selesai, aku mau pulang lebih lama. Jangan jual kebun walaupun ada yang menawar. Aku dengar daerah sekitar sini akan dikembangkan besar-besaran beberapa tahun lagi. Kalau benar, tanah kita bisa jadi jauh lebih berharga. Tapi lebih dari itu, aku tahu Ibu sayang tempat itu.

Tolong jaga Maya.

Dia kelihatannya keras kepala, tapi sebenarnya gampang merasa sendirian.

Kalau suatu hari aku terlambat pulang, jangan terlalu khawatir.

Aku selalu tahu jalan kembali.

Maya berhenti membaca.

Air matanya akhirnya jatuh.

Satu.

Lalu dua.

Kemudian ia menangis tanpa bisa ditahan.

Hendra hanya duduk diam.

Tidak mencoba menghibur.

Tidak menyentuhnya.

Mungkin karena ia tahu beberapa kesedihan tidak membutuhkan kalimat apa pun.

Malam itu Maya hampir tidak tidur.

Ia membaca surat Arya berulang kali sampai kertasnya terasa hangat di tangannya.

Keesokan paginya, Hendra kembali.

Namun kali ini Maya tidak mengusirnya.

“Kenapa kemarin Anda meminta tinggal di sini?”

Hendra menatap deretan mawar yang tumbuh di sisi rumah.

“Saya pernah berjanji pada diri sendiri, kalau suatu hari menemukan keluarga Arya, saya akan tinggal beberapa hari di tempat dia dibesarkan.”

“Itu alasan Anda?”

“Sebagian.”

“Sebagian lainnya?”

Hendra tersenyum tipis.

“Saya ingin memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.”

Maya menatap gerbang, pompa air, dan gudang.

“Dengan memperbaiki rumah?”

“Saya tahu terdengar bodoh.”

“Memang.”

Hendra tertawa kecil.

Itulah pertama kalinya suasana di antara mereka tidak terasa seperti ruang pengadilan.

Maya akhirnya mengizinkan Hendra tinggal di rumah kecil bekas pekerja kebun yang berada sekitar tiga puluh meter dari bangunan utama.

Namun dengan syarat.

Tidak boleh memperbaiki apa pun tanpa izin.

Tidak boleh membawa pekerja tanpa memberitahu.

Dan tidak boleh membicarakan jual beli tanah.

Hendra menyetujuinya.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan cara yang tidak Maya duga.

Hendra ternyata sama sekali tidak seperti sosok pengusaha yang biasa muncul di televisi.

Ia bangun sebelum pukul enam.

Minum kopi hitam tanpa gula.

Dan entah mengapa sangat buruk dalam memasak.

Suatu pagi Maya mencium bau gosong dari rumah kecil tersebut.

Ketika datang, ia menemukan Hendra menatap wajan berisi telur yang bentuknya sudah tidak bisa dikenali.

“Anda punya hotel, restoran, dan katering perusahaan,” kata Maya.

“Benar.”

“Tapi tidak bisa menggoreng telur?”

“Itulah sebabnya saya memiliki katering.”

Untuk pertama kalinya setelah Bima pergi, Maya tertawa.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung beberapa hari.

Pada suatu sore, sebuah sedan abu-abu berhenti di depan rumah.

Bima turun.

Maya yang sedang memotong sayuran di teras langsung membeku.

Suaminya terlihat lebih kurus, tetapi wajahnya masih membawa keyakinan yang sama seperti dulu.

“Maya.”

Maya tidak menjawab.

Bima berjalan mendekat.

“Aku mau bicara.”

“Kita tidak punya apa pun untuk dibicarakan.”

“Aku salah.”

Maya hampir tertawa.

“Aku panik,” lanjut Bima. “Utangku banyak. Aku pikir kalau kita jual tanah ini, semuanya selesai.”

“Jadi kamu mengambil tabungan dan kabur?”

“Aku akan kembalikan.”

“Kapan? Setelah aku melahirkan sendirian?”

Bima terdiam.

Lalu matanya bergerak ke rumah kecil di belakang.

Ia melihat SUV hitam.

Wajahnya berubah.

“Hendra Wijaya ada di sini?”

Maya langsung menyadari sesuatu.

“Kamu kenal dia?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Hendra muncul dari arah kebun.

Begitu melihatnya, Bima langsung pucat.

“Pak Hendra.”

Hendra berjalan mendekat.

“Bima Satrio.”

Maya melihat mereka bergantian.

“Kalian memang saling kenal.”

Bima menelan ludah.

Hendra menyerahkan sebuah map kepada Maya.

“Kemarin tim hukum saya selesai menelusuri rekening bersama kalian.”

Bima langsung maju.

“Jangan dengarkan dia.”

Maya membuka map.

Di dalamnya terdapat catatan transfer.

Selama lebih dari setahun, Bima ternyata memindahkan uang sedikit demi sedikit dari rekening mereka ke perusahaan milik pamannya.

Termasuk uang yang Maya kira digunakan untuk membayar cicilan mobil.

“Bima…”

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan.”

Bima tidak mampu.

Hendra kemudian berkata, “Pamannya sedang diperiksa atas dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen dari beberapa proyek lama.”

Bima menatap Hendra dengan kebencian.

“Karena Anda, keluarga saya hancur.”

“Bukan karena saya.”

Hendra tetap tenang.

“Karena apa yang mereka lakukan.”

Bima berbalik kepada Maya.

“Aku cuma ingin menyelamatkan kita.”

“Kita?”

Maya mengangkat surat yang tiga minggu lalu ditinggalkan Bima.

Ia sengaja menyimpannya.

“Ini caramu menyelamatkan kita?”

Bima terlihat malu sesaat.

Kemudian wajahnya berubah keras.

“Kalau kamu tidak keras kepala soal tanah ini, semuanya tidak akan terjadi.”

Kalimat itu seperti pisau terakhir yang memotong sisa perasaan Maya.

Ia tidak menangis.

Tidak marah.

Hanya terasa sangat tenang.

“Pergi.”

“Maya.”

“Pergi sebelum aku telepon polisi.”

Bima menatap perut Maya.

“Itu anakku.”

“Dan karena itu kamu tetap punya kewajiban sebagai ayah. Tapi tidak berarti kamu boleh masuk kembali ke hidupku seolah tidak terjadi apa-apa.”

Bima berdiri beberapa detik.

Lalu pergi.

Sebelum masuk mobil, ia menoleh kepada Hendra.

Tatapannya mengandung ancaman.

Dua malam kemudian, gudang terbakar.

Maya terbangun karena mencium asap.

Api sudah menjilat bagian belakang bangunan kayu tempat pupuk dan alat perkebunan disimpan.

“Hendra!”

Mereka berlari keluar.

Warga sekitar datang membawa ember dan selang.

Api berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke rumah.

Namun pintu gudang hangus.

Di dekat pagar belakang ditemukan botol plastik berbau bensin.

Polisi datang pagi itu.

Kamera pengawas rumah warga merekam sebuah sepeda motor berhenti di dekat kebun pada tengah malam.

Pengendaranya memakai helm tertutup.

Namun nomor plat terlihat.

Motor tersebut terdaftar atas nama seorang karyawan perusahaan Surya.

Tiga hari kemudian, Surya ditangkap.

Bima ikut diperiksa.

Dari pemeriksaan itulah terbuka fakta yang jauh lebih besar.

Tujuh tahun lalu, setelah kecelakaan yang menewaskan Arya, Surya sengaja menyembunyikan laporan keselamatan proyek karena khawatir perusahaan terkena tuntutan.

Ia memalsukan dokumen kompensasi.

Ia juga menemukan catatan Arya tentang potensi nilai tanah keluarga Sastro.

Bertahun-tahun kemudian, Surya meminta Bima mendekati Maya.

Bukan kebetulan.

Bima bertemu Maya karena memang diperkenalkan oleh seseorang yang mengenal keluarga mereka.

Awalnya Bima hanya diminta mencari informasi tentang status tanah.

Namun kemudian mereka benar-benar berpacaran.

Dan menikah.

Maya membaca berita acara pemeriksaan dengan tangan dingin.

“Jadi seluruh pernikahanku…”

Hendra yang duduk di seberangnya langsung berkata, “Tidak ada dokumen yang bisa membuktikan semua perasaan Bima palsu.”

Maya tertawa pahit.

“Apakah itu seharusnya membuat saya merasa lebih baik?”

“Tidak.”

Maya menatap keluar jendela.

Mawar merah milik ibunya bergoyang tertiup angin.

Beberapa bulan berikutnya berubah menjadi masa yang paling berat sekaligus paling jernih dalam hidup Maya.

Ia mengajukan gugatan cerai.

Melalui proses hukum, sebagian besar uang tabungan berhasil dilacak dan dibekukan.

Surya dijerat beberapa tuduhan.

Nama Arya akhirnya dicatat secara resmi sebagai korban kecelakaan proyek.

Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, keluarga mereka memperoleh penjelasan yang sebenarnya.

Hendra juga menyerahkan kompensasi yang seharusnya diterima keluarga Maya.

Namun Maya menolak tambahan uang pribadi yang ia tawarkan.

“Saya tidak ingin dibayar karena kehilangan kakak saya.”

“Itu bukan maksud saya.”

“Saya tahu.”

Maya tersenyum.

“Karena itu saya tetap menolak.”

Hendra mengangguk.

Ia tidak pernah menawarkan lagi.

Sebagai gantinya, Maya meminta sesuatu yang lain.

“Bantu saya mengembangkan kebun ini.”

Hendra terkejut.

“Sebagai investasi?”

“Sebagai mitra. Saya tetap pemilik mayoritas.”

Hendra tersenyum.

“Baik.”

Setahun kemudian, kebun tua keluarga Sastro berubah.

Bukan menjadi vila mewah.

Bukan pula kompleks komersial seperti yang dulu diinginkan Bima.

Maya mengubah sebagian lahan menjadi kebun teh edukasi dan kedai kecil yang menjual hasil warga sekitar.

Gudang lama dibangun ulang menjadi ruang pelatihan pertanian.

Mawar milik Rahma tetap dipertahankan.

Di salah satu sudut kebun berdiri sebuah papan sederhana.

Kebun Arya.

Tidak ada patung.

Tidak ada monumen besar.

Hanya nama.

Dan satu kalimat kecil.

Untuk mereka yang menolong tanpa sempat pulang.

Suatu pagi, Maya duduk di teras sambil menggendong putrinya yang berusia hampir satu tahun.

Hendra sedang membantu pekerja memasang papan petunjuk baru ketika seorang kurir datang membawa paket kecil.

Tidak ada nama pengirim.

Maya membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah dompet tua.

Dompet milik Arya.

Jantung Maya berdebar.

Ia membuka salah satu bagian yang sudah hampir robek.

Ada foto keluarga mereka.

Dan di belakang foto itu terdapat secarik kertas yang dilipat sangat kecil.

Tulisan Arya.

Maya membacanya perlahan.

Kalau aku benar-benar tidak pulang suatu hari nanti, jangan biarkan Ibu dan Maya menunggu selamanya.

Katakan pada mereka aku tidak pernah berniat meninggalkan rumah.

Aku cuma ingin memastikan suatu hari tempat itu tetap menjadi milik mereka.

Maya mengangkat wajah.

“Hendra.”

Pria itu menghampiri.

Maya menunjukkan dompet tersebut.

Wajah Hendra berubah.

“Ini dari mana?”

“Anda tidak mengirimnya?”

Hendra menggeleng.

Penyelidikan kemudian menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga.

Dompet Arya ternyata disimpan oleh satu-satunya pekerja lain yang selamat dari longsor malam itu.

Namanya Darto.

Selama bertahun-tahun ia hidup berpindah-pindah sebagai pekerja proyek dan tidak pernah tahu bahwa keluarga Arya belum menerima barang-barang tersebut.

Setelah melihat berita kasus Surya di televisi, ia mencari alamat Maya dan mengirimkannya.

Di dasar dompet terdapat satu benda kecil lagi.

Kunci.

Kunci loker lokasi proyek.

Dengan bantuan polisi, loker lama itu ditemukan di gudang perusahaan yang sudah lama ditutup.

Isinya hanya beberapa buku catatan Arya.

Namun dari sanalah muncul kejutan terakhir.

Arya ternyata telah mencatat pelanggaran keselamatan proyek selama berbulan-bulan.

Ia berniat melaporkannya.

Catatan itu menjadi bukti tambahan yang membuat kasus Surya semakin kuat.

Maya duduk lama setelah membaca halaman terakhir.

Tulisan kakaknya berhenti di tengah kalimat.

Besok aku harus bicara dengan Pak Hendra. Kalau perusahaan mau maju, mereka harus tahu orang seperti Surya tidak boleh dibiarkan mengurus keselamatan pekerja.

Maya menatap Hendra.

Pria itu tidak sanggup berkata apa-apa.

Maya menutup buku tersebut.

“Ternyata Arya bukan hanya menyelamatkan hidup Anda malam itu.”

Hendra menunduk.

“Dia menyelamatkannya dua kali.”

Beberapa saat kemudian, terdengar suara anak Maya tertawa dari dalam rumah.

Maya menoleh.

Cahaya pagi masuk melalui jendela lama yang kini sudah diperbaiki.

Rumah itu masih sama.

Dindingnya masih menyimpan retakan kecil.

Lantainya masih berderit.

Deretan mawar merah masih tumbuh di sisi halaman.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tempat itu tidak lagi terasa seperti rumah yang ditinggalkan.

Maya akhirnya mengerti sesuatu.

Orang yang pergi tidak selalu meninggalkan kita.

Kadang-kadang, justru mereka yang tetap hidup tetapi memilih mengkhianati kepercayaanlah yang benar-benar pergi.

Sedangkan mereka yang mencintai kita dengan tulus bisa tetap tinggal dalam hal-hal kecil.

Dalam tulisan tangan di selembar surat.

Dalam sebuah medali tua.

Dalam kebun yang tidak jadi dijual.

Dan dalam keberanian untuk membangun kembali kehidupan dari tempat yang pernah hampir dirampas.

Maya menggenggam medali Arya lalu tersenyum kecil.

Setelah tujuh tahun, kakaknya akhirnya menemukan jalan pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang