Aku baru saja keluar dari kantor pertanahan ketika telepon dari Rina kembali masuk.
“Pulang sekarang, Mira,” katanya. “Petugas sudah datang. Jangan bilang kami tidak memberimu kesempatan.”
Aku berdiri di bawah terik matahari Bandung sambil menggenggam map berisi salinan dokumen yang baru saja diberikan Pak Arman. Beberapa menit sebelumnya aku masih takut kehilangan rumah. Sekarang rasa takut itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.
“Petugas dari mana?” tanyaku.
“Kelurahan. Ada juga orang yang akan mengukur tanah. Pokoknya pulang saja.”
Telepon ditutup.
Siska yang berdiri di sampingku menatap wajahku.
“Kita ke sana?”
Aku mengangguk.
Pak Arman sebenarnya sudah mengingatkanku agar tidak melakukan tindakan apa pun berdasarkan salinan dokumen sebelum pemeriksaan resmi selesai. Namun ia juga memberikan bukti penerimaan surat keberatanku terhadap proses balik nama tanah. Pengajuan atas nama Bu Ratih untuk sementara harus diverifikasi karena aku membantah pernah menandatangani persetujuan ahli waris.
Yang lebih penting, akta jual beli lama antara Ayah dan saudara-saudaranya ternyata tercatat dalam arsip pertanahan.
Termasuk transaksi dengan Bu Ratih.
Dalam perjalanan pulang, aku membaca salinannya berulang kali.
Hampir dua puluh tahun lalu, ketika Kakek masih hidup, Ayah membeli bagian tanah Bu Ratih karena bibiku membutuhkan uang untuk melunasi utang usaha suaminya. Transaksi itu dilakukan resmi. Ada tanda tangan, saksi, nomor akta, bahkan bukti pembayaran.
Entah mengapa, setelah Kakek meninggal, batas fisik tanah tidak pernah benar-benar disesuaikan.
Ayah juga tidak pernah mempermasalahkannya.
Mungkin karena mereka saudara.
Kesalahan Ayah adalah mengira hubungan keluarga akan selalu lebih kuat daripada selembar sertifikat.
Ketika mobil Siska memasuki gang rumahku, aku langsung melihat kerumunan orang.
Rina berdiri di depan pagar bersama Dedi dan Bu Ratih. Ada Pak Ridwan, dua pegawai kelurahan, seorang pria membawa alat ukur, dan beberapa tetangga yang menonton dari kejauhan.
Naya tidak ikut. Aku sengaja menitipkannya di rumah Siska.
Aku tidak mau dia melihat keributan ini lagi.
Begitu aku turun dari mobil, Rina tersenyum.
“Akhirnya datang juga.”
Aku berjalan mendekat.
Salah seorang pegawai kelurahan memperkenalkan diri sebagai Pak Hendra.
“Bu Mira, kami datang karena ada laporan sengketa batas tanah. Tapi saya perlu meluruskan, kami tidak datang untuk mengosongkan rumah.”
Aku langsung menoleh kepada Rina.
Wajahnya berubah.
“Tadi kamu bilang petugas datang untuk mengosongkan rumahku.”
“Aku bilang masalah rumahmu akan diselesaikan hari ini.”
“Tidak. Kamu bilang mengosongkan.”
Dedi maju.
“Sudahlah. Jangan bermain kata-kata.”
Pak Hendra mengangkat tangan.
“Tidak ada pengosongan hari ini. Kelurahan tidak punya kewenangan melakukan itu.”
Beberapa tetangga mulai berbisik.
Untuk pertama kalinya, senyum Rina hilang.
Pria yang membawa alat ukur kemudian meminta kami menunjukkan dokumen masing-masing.
Dedi menyerahkan peta pembagian keluarga yang kemarin mereka tunjukkan kepada Pak Ridwan.
Aku menyerahkan salinan akta jual beli.
Bu Ratih langsung berubah pucat.
Ia bahkan belum membaca isinya.
Sepertinya ia mengenali bentuk dokumen itu.
“Dari mana kamu dapat itu?” tanyanya.
“Arsip resmi.”
Bu Ratih menatapku tajam.
“Itu dokumen lama.”
“Memang.”
“Sudah tidak berlaku.”
Aku menoleh kepada petugas pengukur.
“Benarkah?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
“Kami harus memeriksa dokumen asli dan riwayat bidangnya. Tapi sebuah akta tidak otomatis kehilangan kekuatan hanya karena sudah lama.”
Bu Ratih mendadak gelisah.
Rina merebut salinan dari tangan ibunya.
Ia membaca beberapa baris pertama.
“Ibu pernah menjual tanah ke Om Hadi?”
Bu Ratih diam.
“Ibu?”
“Itu dulu.”
“Berapa luasnya?”
“Rina, jangan sekarang.”
Namun aku menjawab.
“Seratus delapan puluh empat meter persegi.”
Rina menatapku.
Rumah besar mereka berdiri di atas lahan yang bentuknya memanjang. Jika peta lama yang diperlihatkan Pak Arman benar, sekitar sepertiga bangunan tambahan di sisi rumah mereka masuk ke bagian yang pernah dijual Bu Ratih kepada Ayah.
Termasuk tiga kamar penginapan baru yang baru selesai direnovasi.
Wajah Dedi langsung menegang.
“Tidak mungkin.”
Aku membuka lembar peta.
“Makanya kita ukur.”
Dedi berusaha mengambilnya, tetapi aku mundur.
“Jangan sentuh dokumenku.”
Pengukuran hari itu tidak menghasilkan keputusan final karena petugas memerlukan data resmi tambahan. Namun satu hal langsung terlihat.
Patok lama yang selama ini digunakan keluarga Rina bukan patok bidang resmi.
Itu hanya penanda yang dipasang keluarga bertahun-tahun lalu.
Pak Hendra akhirnya meminta kedua pihak menghentikan seluruh pembangunan dan pembongkaran sampai status batas tanah jelas.
“Termasuk rumah Mira?” tanya Rina.
“Termasuk bangunan Anda,” jawab Pak Hendra.
Dedi langsung protes.
“Kami sedang renovasi penginapan. Kalau berhenti, kami rugi.”
Pak Hendra menatap lubang besar di dinding rumahku.
“Bu Mira juga sudah rugi.”
Malam itu aku kembali ke rumah hanya untuk mengambil pakaian.
Aku belum berani membawa Naya pulang karena kamar mandi belum bisa digunakan dan sebagian dinding masih terbuka.
Ketika aku sedang memasukkan pakaian ke tas, Bu Ratih datang sendirian.
Ia berdiri di pintu.
“Mira.”
Aku tidak menjawab.

“Kita bicara baik-baik.”
Aku berhenti melipat pakaian.
“Waktu kamar mandi saya dihancurkan, Bibi tidak ingin bicara baik-baik.”
Bu Ratih masuk perlahan.
“Kamu tidak tahu cerita sebenarnya.”
“Kalau begitu ceritakan.”
Ia terdiam cukup lama.
Akhirnya ia duduk di kursi ruang tengah.
“Memang benar aku pernah menjual bagian tanah itu kepada ayahmu.”
“Kenapa selama ini Bibi bilang tanah belakang rumahku milik Bibi?”
“Karena setelah ayahmu membeli tanah itu, kami tetap menggunakan sebagian lahannya. Hadi tidak pernah mempermasalahkannya.”
“Ayah tidak mempermasalahkan bukan berarti Bibi boleh mengambilnya kembali.”
Bu Ratih menunduk.
“Waktu itu aku sedang kesulitan. Ayahmu membantu.”
“Dengan membeli tanah Bibi.”
Ia mengangguk pelan.
Untuk sesaat, aku melihat perempuan tua yang berbeda dari sosok yang kemarin berdiri menyaksikan rumahku dihancurkan.
Namun rasa iba itu hilang ketika aku teringat dokumen di kantor pertanahan.
“Ada satu hal lagi.”
Bu Ratih mengangkat kepala.
“Kenapa ada tanda tangan saya dalam surat persetujuan balik nama?”
Wajahnya langsung kaku.
“Aku tidak tahu.”
“Berkasnya diserahkan Dedi.”
“Tanyakan kepada Dedi.”
“Fotokopi KTP dan KK saya diminta Rina tiga bulan lalu.”
Bu Ratih berdiri.
“Mira, jangan membuat masalah ini lebih besar.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Rumah saya dibongkar. Anak saya diteror. Tanda tangan saya diduga dipalsukan. Tapi saya yang membuat masalah menjadi besar?”
“Apa yang kamu mau?”
Pertanyaan itu membuatku diam.
Dua hari sebelumnya, mungkin aku akan menjawab bahwa aku hanya ingin mereka berhenti menggangguku.
Sekarang tidak lagi.
“Saya ingin semuanya diperiksa.”
Bu Ratih menatapku lama.
“Kalau kamu membawa ini ke polisi, Rina bisa ikut terseret.”
“Kalau Rina tidak melakukan apa-apa, dia tidak perlu takut.”
“Itu sepupumu.”
“Naya juga keluarga Bibi.”
Bu Ratih tidak bisa menjawab.
Aku melanjutkan, “Tapi saat dia ketakutan sendirian di kamar sementara rumahnya dihancurkan, tidak ada seorang pun dari kalian yang mengingat bahwa dia keluarga.”
Bu Ratih pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Keesokan harinya aku membuat laporan resmi mengenai dugaan pemalsuan dokumen dan perusakan rumah. Aku menyerahkan foto kerusakan, rekaman kamera rumah tetangga, salinan percakapan dengan Rina, serta dokumen dari kantor pertanahan.
Aku juga menghubungi pengacara bernama Aditya yang direkomendasikan Siska.
Setelah mempelajari berkas, ia mengatakan sesuatu yang membuatku semakin yakin untuk tidak mundur.
“Jangan melihat ini hanya sebagai sengketa kamar mandi.”
“Kenapa?”
“Karena kalau riwayat tanahnya benar, masalah terbesar justru ada pada bangunan keluarga Bu Ratih.”
Beberapa minggu berikutnya menjadi periode paling melelahkan dalam hidupku.
Aku bekerja pagi sampai sore, mengurus Naya, bolak-balik kantor pertanahan, bertemu penyidik, dan tidur di rumah Siska.
Sementara itu, usaha penginapan Dedi mulai terganggu karena pembangunan dihentikan.
Rina mengirim pesan hampir setiap hari.
Kadang mengancam.
Kadang memohon.
Kadang menawarkan perdamaian.
Awalnya mereka menawarkan memperbaiki kamar mandi.
Aku menolak.
Kemudian mereka menawarkan tiga puluh juta rupiah.
Aku tetap menolak.
Seminggu kemudian Dedi datang membawa proposal baru.
Ia menawarkan membeli rumahku dengan harga hampir dua kali lipat dari tawaran sebelumnya.
Aku menatap angka di kertas.
Dulu, angka itu mungkin akan membuatku tergoda.
Sekarang aku hanya mendorong proposal itu kembali.
“Saya tidak menjual rumah.”
Dedi mengepalkan rahang.
“Kamu mau apa sebenarnya?”
“Kepastian hukum.”
“Kita keluarga.”
Kalimat itu membuatku tersenyum getir.
“Kalian selalu ingat kita keluarga setelah kalian membutuhkan sesuatu.”
Dedi pergi dengan wajah merah.
Sebulan kemudian hasil pemeriksaan batas bidang keluar.
Aku datang ke kantor pengacara Aditya bersama Siska.
Aditya meletakkan peta hasil pengukuran di meja.
“Dugaan kita benar.”
Aku menahan napas.
Bagian rumahku yang mereka bongkar seluruhnya berada di dalam bidang yang secara historis menjadi hak Ayah.
Tidak satu sentimeter pun kamar mandi itu masuk ke tanah Bu Ratih.
Namun ada temuan lain.
Bangunan utama Bu Ratih memang sebagian besar berdiri di bidang yang masih menjadi hak keluarganya.
Tetapi bangunan tambahan yang dibangun Dedi beberapa tahun terakhir melewati batas.
Tiga kamar penginapan, gudang, sebagian dapur komersial, dan area parkir belakang berada di atas bidang yang telah dibeli Ayah.
Totalnya lebih dari seratus meter persegi.
Aku menatap peta itu tanpa bicara.
“Apakah mereka harus membongkarnya?” tanyaku.
“Tidak otomatis,” kata Aditya. “Ada proses hukum. Kita bisa meminta pengembalian batas, kompensasi, perjanjian penggunaan, atau penyelesaian lain. Tapi posisi tawar mereka sekarang sangat berbeda.”
Aku teringat kalimat Bu Ratih.
Kalau begitu, buktikan saja nanti.
Sekarang bukti itu ada.
Namun kejutan terbesar justru muncul ketika penyelidikan dokumen balik nama berkembang.
Dedi akhirnya mengakui bahwa tanda tanganku memang bukan dibuat olehku.
Menurut keterangannya, ia mendapatkan contoh tanda tanganku dari salinan dokumen lama.
Tetapi ia bersikeras bahwa Rina dan Bu Ratih tidak tahu.
Rina mengatakan sebaliknya.
Ia mengaku hanya memberikan KTP dan KK kepadanya karena suaminya mengatakan semua ahli waris sudah setuju.
Mereka mulai saling menyalahkan.
Rumah tangga yang selama ini terlihat begitu kompak saat menekanku mendadak retak ketika masing-masing harus mempertanggungjawabkan tindakannya sendiri.
Suatu sore Rina datang menemuiku.
Ia terlihat jauh berbeda. Tidak ada pakaian mahal atau riasan tebal. Matanya sembap.
“Dedi pergi dari rumah,” katanya.
Aku diam.
“Dia membawa sebagian uang usaha.”
Aku masih tidak menjawab.
“Mira, aku tahu aku salah.”
“Kamu menyuruh tukang menghancurkan rumahku.”
“Aku marah karena kamu tidak mau menjual.”
“Itu bukan alasan.”
“Aku tahu.”
Rina menangis.
“Aku pikir tanah itu memang milik Ibu. Dedi bilang kalau kita membuatmu tertekan, akhirnya kamu akan menyerah.”
“Dan Naya?”
Rina menunduk.
“Aku tidak bermaksud membuat dia takut.”
“Tapi kamu melakukannya.”
Ia mengusap wajah.
“Kalau kamu menuntut pengosongan bangunan kami, Ibu bisa kehilangan hampir semua sumber penghasilannya.”
Aku menatap sepupuku lama.
Inilah saat yang selama berminggu-minggu kubayangkan.
Aku bisa membalas.
Aku bisa memaksa mereka membongkar kamar-kamar penginapan.
Aku bisa melihat mereka merasakan ketakutan yang sama seperti ketika aku melihat dinding rumahku berlubang.
Namun anehnya, ketika kesempatan itu benar-benar berada di depanku, aku tidak merasa puas.
Aku hanya lelah.
“Aku tidak ingin rumah kalian,” kataku.
Rina mengangkat wajah.
“Tapi aku juga tidak akan membiarkan kalian mengambil milikku.”
Beberapa bulan kemudian kami mencapai penyelesaian.
Bu Ratih mengakui batas tanah berdasarkan hasil pengukuran resmi. Bagian bangunan mereka yang melewati batas tidak langsung dibongkar. Sebagai gantinya, dibuat perjanjian penggunaan lahan dengan kompensasi yang jelas sampai renovasi berikutnya, ketika bangunan tersebut wajib disesuaikan dengan batas resmi.
Biaya perbaikan rumahku ditanggung penuh.
Dinding dibangun kembali.
Kamar mandi diperbaiki.
Dapur yang dihancurkan diganti.
Ponsel Naya juga diganti.
Aku tidak meminta sesuatu yang bukan hakku.
Tetapi aku memastikan tidak ada lagi ruang untuk mereka mengganggu kami.
Proses hukum terhadap dugaan pemalsuan dokumen berjalan terpisah. Aku tidak mencabut keteranganku hanya karena kami keluarga.
Aku belajar bahwa memaafkan seseorang tidak sama dengan menghapus konsekuensi perbuatannya.
Enam bulan setelah hari ketika kamar mandiku dihancurkan, aku akhirnya duduk di teras rumah bersama Naya.
Rumah itu terlihat hampir sama seperti sebelumnya.
Hanya pagar samping yang sekarang lebih tinggi.
Batas tanah juga sudah memiliki patok resmi.
Naya sedang mengerjakan PR ketika tiba-tiba bertanya, “Bu, kenapa Kakek tidak pernah bilang tanah kita sampai ke sebelah?”
Aku tersenyum.
“Mungkin Kakekmu tidak pernah mengira keluarga akan bertengkar soal tanah.”
“Kalau Kakek tahu, pasti sedih.”
Aku mengangguk.
“Mungkin.”
Beberapa hari sebelumnya, saat membereskan lemari lama milik Ayah, aku menemukan sebuah amplop cokelat.
Di dalamnya terdapat fotokopi akta jual beli yang sama.
Namun ada satu lembar kertas lain.
Tulisan tangan Ayah.
Surat itu ditujukan kepadaku.
Aku membacanya lagi malam itu.
Ayah menjelaskan bahwa tanah yang dibelinya dari Bu Ratih memang sengaja tidak pernah ia ambil secara fisik karena saat itu keluarga bibiku sedang kesulitan. Ia membiarkan mereka menggunakan lahan tersebut selama diperlukan.
Namun ada satu kalimat yang membuatku menangis.
Ayah menulis bahwa jika suatu hari terjadi masalah, aku tidak boleh menggunakan dokumen itu untuk merampas rumah siapa pun.
Gunakan hanya untuk mempertahankan rumahmu sendiri.
Aku akhirnya mengerti.
Dokumen yang hampir membuat Bu Ratih kehilangan sebagian rumahnya ternyata sejak awal tidak pernah dimaksudkan Ayah sebagai senjata.
Itu adalah perlindungan.
Batas antara kebaikan dan kelemahan.
Antara membantu keluarga dan membiarkan diri sendiri diinjak.
Aku menyimpan surat itu kembali.
Dari rumah sebelah terdengar suara pekerja. Bu Ratih sedang membongkar sendiri sebagian tembok penginapannya agar sesuai dengan batas tanah baru.
Aku tidak merasa menang.
Aku juga tidak merasa kalah.
Aku hanya merasa akhirnya bebas.
Naya kemudian memanggilku dari teras.
“Ibu, kamar mandinya bocor lagi!”
Aku menutup mata beberapa detik sebelum tertawa.
“Yang benar saja, Naya.”
“Serius!”
Aku masuk sambil masih tertawa.
Enam bulan lalu, sebuah kamar mandi yang dihancurkan hampir memecah seluruh keluarga kami.
Sekarang masalah terbesar di rumah itu hanyalah keran yang bocor.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, itu terasa seperti masalah yang sangat indah untuk dimiliki.
