Amanda menatap angka Rp480 miliar yang tercetak di atas dokumen itu berulang kali, seolah berharap matanya sedang salah membaca.
Namun angka tersebut tidak berubah.
Di bagian bawah halaman, terdapat tanda tangan Richard lengkap dengan cap digital perusahaan.
Nicholas membuka beberapa lembar berikutnya.
Transfer kedua sebesar Rp125 miliar.
Transfer ketiga Rp210 miliar.
Semuanya dikirim ke perusahaan berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan.
Alamat kantor mereka ternyata palsu.
“Total sementara yang kutemukan hampir satu triliun rupiah,” kata Nicholas.
Amanda langsung menatapnya.
“Hampir satu triliun?”
Nicholas mengangguk.
“Dan semuanya keluar dari Mahendra Tech dalam waktu dua tahun terakhir.”
Amanda masih sulit memahami mengapa Nicholas membawa semua itu kepadanya.
“Kalau benar adikmu mencuri uang perusahaan, kenapa kamu tidak langsung melapor ke polisi?”
Nicholas tersenyum hambar.
“Karena Richard tidak melakukannya sendirian.”
Dia mengeluarkan sebuah foto dari dalam map.
Foto itu memperlihatkan Richard sedang duduk di sebuah restoran bersama Keysha dan seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun.
Amanda mengenal pria itu dari berbagai berita ekonomi.
Surya Valerie.
Ayah Keysha.
Pemilik Valerie Capital.
Nicholas menunjuk foto tersebut.
“Dua tahun lalu, perusahaan keluarga kami mengalami masalah arus kas. Ayahku mulai sakit dan menyerahkan banyak keputusan kepada Richard. Saat itulah keluarga Valerie masuk.”
Amanda mulai memahami arah pembicaraan itu.
“Pernikahan mereka bagian dari bisnis?”
“Lebih buruk.”
Nicholas mengeluarkan salinan sebuah perjanjian.
Jika Richard menikahi Keysha, Valerie Capital akan menyuntikkan dana besar ke Mahendra Tech dan mengambil sejumlah saham strategis.
Namun terdapat klausul tambahan.
Apabila kondisi keuangan Mahendra Tech jatuh di bawah batas tertentu sebelum penggabungan perusahaan selesai, keluarga Valerie mendapatkan hak membeli saham pengendali dengan harga sangat rendah.
Amanda membaca kalimat itu dua kali.
“Jadi…”
“Mereka sengaja membuat perusahaan terlihat seolah-olah sedang membutuhkan penyelamatan.”
Amanda menatap Nicholas.
“Dan Richard membantu mereka?”
Nicholas mengangguk pelan.
“Dia mengalihkan uang perusahaan ke perusahaan cangkang. Setelah harga saham turun dan keluarga Valerie masuk sebagai penyelamat, mereka berencana mengembalikan sebagian dana melalui jalur lain.”
Amanda merasa tengkuknya dingin.
“Itu penipuan.”
“Itu pencurian.”
Suara Nicholas berubah tegas.
“Dan kalau skema ini berhasil, ribuan karyawan bisa kehilangan pekerjaan sementara Richard dan keluarga Valerie mendapatkan kendali penuh.”
Hujan mulai turun lagi di luar rumah.
Amanda menarik napas panjang.
“Tapi semua ini tidak menjelaskan kenapa kamu datang kepadaku.”
Untuk pertama kalinya, Nicholas tampak ragu.
Dia menutup map.
“Karena ada sesuatu yang lebih besar.”
Tatapannya turun ke perut Amanda.
“Richard sedang mencari sesuatu yang pernah kau simpan.”
Amanda langsung waspada.
“Apa?”
“Laptop lama.”
Amanda terdiam.
Beberapa bulan sebelumnya, Richard memang pernah memberikan sebuah laptop kepadanya.
Laptop itu sering digunakan ketika Richard bekerja di rumah kontrakan Amanda.
Suatu malam, laptop tersebut rusak dan Richard meminta Amanda menyimpannya sementara karena ada dokumen pribadi di dalamnya.
Setelah itu Richard tidak pernah mengambilnya lagi.
“Aku masih punya laptop itu,” kata Amanda.
Wajah Nicholas langsung berubah.
“Di mana?”
“Di kamar.”
Nicholas berdiri.
“Tolong jangan menyalakannya dengan internet terhubung.”
Ayah Amanda yang sejak tadi mendengarkan percakapan dari ruang tengah segera mengambil laptop tersebut.
Perangkat itu tampak biasa.
Laptop hitam dengan beberapa goresan di bagian penutup.
Nicholas mengeluarkan sebuah flashdisk dan menjalankan sebuah program.
Beberapa menit kemudian, layar dipenuhi folder-folder tersembunyi.
Amanda semakin tegang.
Salah satu folder diberi nama PROJECT V.
Nicholas membuka folder itu.
Puluhan dokumen muncul.
Daftar perusahaan cangkang.
Rekening luar negeri.
Dokumen internal dewan direksi.
Rekaman percakapan.
Dan sebuah file yang membuat Nicholas mendadak berhenti bernapas.
“Tidak mungkin…”
Amanda mendekat.
“Apa?”
Nicholas membuka dokumen tersebut.
Itu merupakan rancangan surat wasiat almarhum kakek Richard.
Di dalamnya terdapat peraturan mengenai kepemilikan saham keluarga Mahendra.
Saham keluarga hanya boleh diwariskan kepada keturunan langsung yang diakui secara hukum.
Namun terdapat satu klausul khusus.
Apabila seorang pewaris terbukti melakukan tindak pidana keuangan terhadap perusahaan keluarga, hak suaranya dapat dicabut dan sahamnya dialihkan kepada pewaris keluarga berikutnya.
Amanda membaca halaman berikutnya.
Nama Nicholas tertera sebagai pewaris utama.
Richard berada di urutan kedua.

Tetapi Nicholas telah secara resmi melepaskan hak pengelolaan perusahaan ketika pergi beberapa tahun lalu.
“Kalau kamu mundur, berarti Richard sekarang pemegang kendali?” tanya Amanda.
“Ya.”
Nicholas menatap layar.
“Tapi hak kepemilikanku tidak pernah hilang sepenuhnya. Aku hanya menyerahkan hak operasional.”
Amanda mengerutkan dahi.
“Richard tahu?”
Nicholas tertawa pendek.
“Sekarang aku mengerti kenapa dia sangat ingin aku tetap jauh dari Jakarta.”
Tiba-tiba Nicholas membuka sebuah file audio.
Suara Richard terdengar jelas.
“Amanda sedang hamil. Itu bisa menjadi masalah.”
Kemudian suara Keysha terdengar.
“Masalah apa? Suruh dia pergi.”
Richard menjawab pelan.
“Kalau anak itu lahir dan keluarga tahu…”
Rekaman berhenti.
Amanda merasa seluruh darah dalam tubuhnya turun ke kaki.
“Apa maksudnya?”
Nicholas menatapnya lama.
Kemudian membuka sebuah dokumen lain.
Dokumen laboratorium.
Tes DNA prenatal.
Nama Amanda tercantum di sana.
Amanda langsung berdiri.
“Aku tidak pernah melakukan tes DNA.”
“Aku tahu.”
Nicholas membaca hasilnya.
Wajahnya semakin pucat.
“Amanda…”
“Apa?”
Nicholas memutar laptop ke arahnya.
Hasil tes itu menyatakan probabilitas hubungan biologis antara janin Amanda dan Richard sebesar 0 persen.
Amanda menatap angka tersebut dengan napas memburu.
“Ini bohong.”
Nicholas tidak menjawab.
Amanda berdiri semakin cepat hingga kursinya bergeser.
“Richard adalah ayah anakku. Aku tidak pernah bersama pria lain.”
“Aku percaya.”
“Kalau begitu kenapa…”
Nicholas kembali membuka data mentah laboratorium.
Di sana terdapat nomor identifikasi sampel.
Kemudian dia membuka sebuah dokumen lain.
Wajahnya berubah lagi.
“Amanda.”
Nada suaranya kini terdengar hampir tidak percaya.
“Sampel pembandingnya bukan milik Richard.”
Amanda membeku.
“Lalu milik siapa?”
Nicholas menelan ludah.
“Milikku.”
Ruangan mendadak sunyi.
Amanda menatap Nicholas seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
“Kamu gila?”
Nicholas segera menggeleng.
“Aku bahkan belum pernah bertemu denganmu sebelum malam ini.”
“Lalu kenapa sampelmu…”
Nicholas berdiri dan mondar-mandir.
Kemudian dia berhenti.
“Aku tahu.”
Dia mengambil teleponnya.
“Aku tahu apa yang mereka lakukan.”
Nicholas menjelaskan bahwa beberapa tahun lalu dirinya pernah menjalani pemeriksaan medis lengkap ketika hendak mendonorkan sumsum tulang untuk ayahnya.
Data biologis seluruh anggota keluarga disimpan di sebuah laboratorium swasta yang bekerja sama dengan keluarga Mahendra.
“Richard mengambil sampelku dan menggunakannya sebagai pembanding,” katanya.
“Kenapa?”
“Untuk menciptakan dokumen palsu yang menunjukkan bahwa anakmu bukan anaknya.”
Amanda memegang perutnya.
Ancaman dalam surat pengacara mendadak terasa jauh lebih mengerikan.
Mereka bukan hanya berniat menuduhnya tidak stabil.
Mereka sedang menyiapkan bukti palsu bahwa Amanda mengandung anak pria lain.
Nicholas kembali membuka folder itu.
Kemudian mereka menemukan file terakhir.
Sebuah presentasi internal.
Judulnya berbunyi:
AMANDA EXIT STRATEGY.
Amanda merasa mual.
Di dalamnya terdapat rancangan strategi hukum lengkap.
Tahap pertama, memberikan kompensasi.
Tahap kedua, menekan Amanda meninggalkan Indonesia.
Tahap ketiga, apabila menolak, menyebarkan hasil DNA palsu.
Tahap keempat, apabila Amanda melawan secara publik, menuduhnya melakukan pemerasan terhadap keluarga Mahendra.
Nama Keysha tercantum sebagai salah satu orang yang menyetujui rencana tersebut.
Namun nama terakhir membuat Nicholas terdiam.
Chairman Mahendra Group.
Hendrawan Mahendra.
Ayah Richard.
Tiga hari kemudian, pesta pertunangan Richard dan Keysha digelar.
Hotel bintang lima itu dipenuhi pengusaha, politisi, selebritas, dan wartawan.
Keysha mengenakan gaun putih berkilau.
Richard berdiri di sampingnya dengan senyum sempurna.
Di atas panggung, Hendrawan Mahendra mengangkat gelas sampanye.
“Hari ini bukan hanya penyatuan dua keluarga.”
Para tamu bertepuk tangan.
“Ini adalah awal masa depan baru Mahendra Group.”
Namun tepat ketika Richard hendak memasangkan cincin ke jari Keysha, pintu ballroom terbuka.
Semua kepala menoleh.
Amanda berjalan masuk.
Gaun hamil sederhana berwarna biru tua membungkus tubuhnya.
Di belakangnya berjalan Nicholas bersama dua pengacara dan beberapa orang dari lembaga investigasi keuangan.
Wajah Richard langsung pucat.
“Amanda?”
Keysha membeku.
Nicholas melangkah ke depan.
“Lanjutkan acaranya.”
Suasana menjadi sunyi.
“Aku hanya ingin memberikan hadiah pertunangan.”
Richard turun dari panggung.
“Kau tidak diundang.”
Amanda tersenyum tipis.
“Lucu. Tiga hari lalu keluargamu justru mengirimkan undangan kepadaku.”
Beberapa wartawan mulai mengangkat kamera.
Hendrawan berusaha mengambil alih keadaan.
“Nicholas, jangan membuat keributan.”
Nicholas menatap ayahnya.
“Ayah seharusnya mengatakan itu kepada Richard ketika dia mencuri hampir satu triliun rupiah dari perusahaan.”
Ruangan langsung gempar.
Richard kehilangan warna wajah.
“Itu fitnah.”
Nicholas mengangkat sebuah flashdisk.
“Semua transaksi ada di sini.”
Kemudian Amanda mengeluarkan dokumen lain.
“Termasuk rencana kalian menghancurkan reputasiku.”
Keysha langsung memotong.
“Dia perempuan gila! Dia hanya mengincar uang Richard!”
Amanda menoleh kepadanya.
“Kalau aku mengincar uang, aku tidak akan merobek cek satu miliar rupiah yang kalian kirim.”
Seorang wartawan berseru.
“Cek apa?”
Richard mulai panik.
Dia mendekati Amanda.
“Kita bicara di luar.”
Amanda mundur satu langkah.
“Tidak.”
Richard berbisik.
“Pikirkan anak kita.”
Amanda menatapnya tanpa emosi.
“Justru karena aku memikirkan anak kita, aku datang.”
Beberapa petugas kemudian masuk ke ballroom.
Mereka menyerahkan surat kepada Richard dan Hendrawan.
Penyelidikan resmi telah dimulai.
Namun kejutan terbesar terjadi ketika salah satu pengacara Nicholas membuka dokumen kepemilikan perusahaan.
Berdasarkan klausul keluarga, hak suara Richard dibekukan selama investigasi.
Nicholas secara otomatis kembali menjadi pemegang kendali sementara Mahendra Tech.
Richard menatap kakaknya dengan marah.
“Kau merencanakan semuanya?”
Nicholas menggeleng.
“Tidak.”
Dia menunjuk Amanda.
“Kalian yang merencanakannya sendiri.”
Dua bulan kemudian, skandal Mahendra Tech menjadi salah satu kasus bisnis terbesar tahun itu.
Beberapa perusahaan cangkang berhasil dilacak.
Dana ratusan miliar dibekukan.
Richard dan Hendrawan menjadi tersangka dalam kasus manipulasi laporan keuangan dan penggelapan dana.
Keysha serta ayahnya juga diperiksa karena diduga terlibat dalam skema pengambilalihan perusahaan.
Namun Amanda menolak semua tawaran wawancara eksklusif.
Dia kembali ke Bogor.
Fokusnya hanya satu.
Melahirkan anaknya dengan tenang.
Pada sebuah pagi di bulan berikutnya, seorang bayi perempuan lahir dengan sehat.
Amanda menamainya Alya.
Richard tidak hadir.
Nicholas datang beberapa jam setelah persalinan.
Dia hanya berdiri di dekat pintu kamar sambil membawa bunga.
“Aku tidak tahu apakah aku pantas datang.”
Amanda tersenyum lemah.
“Kamu membantu menyelamatkan hidup kami.”
Nicholas memandang bayi kecil di pelukan Amanda.
Kemudian dia menyerahkan sebuah amplop.
Amanda membukanya.
Di dalamnya terdapat dokumen pendirian sebuah yayasan.
Namanya Yayasan Alya.
Nicholas menjelaskan bahwa sebagian saham pribadinya di Mahendra Tech telah dimasukkan ke yayasan tersebut.
Keuntungan yayasan akan digunakan untuk membantu korban intimidasi hukum dari perusahaan besar serta memberikan bantuan hukum kepada ibu tunggal.
Amanda langsung menutup amplop.
“Aku tidak bisa menerima ini.”
“Bukan untukmu.”
Nicholas tersenyum kecil.
“Untuk orang-orang yang suatu hari mungkin mengalami apa yang hampir terjadi padamu.”
Amanda terdiam.
Beberapa bulan kemudian, pengadilan akhirnya memerintahkan tes DNA resmi terhadap Richard.
Hasilnya keluar.
Richard adalah ayah biologis Alya dengan probabilitas lebih dari 99,9 persen.
Untuk pertama kalinya sejak seluruh kekacauan itu dimulai, Amanda tertawa ketika membaca hasil tersebut.
Bukan karena dia membutuhkannya.
Tetapi karena dokumen palsu yang dulu dirancang untuk menghancurkannya kini menjadi salah satu bukti tambahan dalam kasus pemalsuan terhadap Richard.
Satu tahun berlalu.
Mahendra Tech berhasil bangkit di bawah kepemimpinan baru.
Nicholas membentuk dewan profesional dan mengurangi dominasi keluarga dalam perusahaan.
Amanda tidak pernah kembali kepada Richard.
Dia juga tidak mengambil satu rupiah pun dari kekayaan keluarga Mahendra selain hak hukum Alya sebagai anak.
Suatu sore, Amanda membawa Alya berjalan-jalan di taman.
Anak kecil itu tertawa sambil mencoba mengejar gelembung sabun yang ditiup seorang pedagang.
Nicholas duduk di bangku taman beberapa meter dari mereka.
Amanda berjalan mendekat.
“Aku masih sering memikirkan malam ketika kamu datang membawa map itu.”
Nicholas tersenyum.
“Aku juga.”
Amanda memandang putrinya.
“Kalau kamu terlambat tiga hari saja, mungkin aku sudah menandatangani perjanjian itu.”
Nicholas menggeleng.
“Kau tidak akan menandatanganinya.”
“Kenapa yakin?”
“Karena perempuan yang merobek cek satu miliar rupiah demi anaknya bukan tipe orang yang mudah dibeli.”
Amanda tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hidup terasa sederhana.
Tidak ada kamera.
Tidak ada keluarga konglomerat.
Tidak ada ancaman pengacara.
Hanya seorang ibu, seorang anak, dan kehidupan baru yang perlahan dibangun kembali.
Amanda pernah mengira hari ketika melihat Richard mengumumkan pernikahannya di televisi adalah hari terburuk dalam hidupnya.
Ternyata dia salah.
Hari itu justru menyelamatkannya.
Karena seandainya Richard tidak mengkhianatinya secara terbuka, Amanda mungkin tetap menikah dengan seorang pria yang diam-diam sedang membangun penjara untuknya.
Dan terkadang, pengkhianatan yang paling menyakitkan bukanlah akhir dari kehidupan.
Ia hanya pintu keras yang menutup satu dunia agar kita akhirnya berani berjalan menuju dunia yang lebih baik.
