SAAT ACARA KELUARGA, KAKAK IPARKU MENGHINA ANAK-ANAK ADOPSIKU DAN MENAMPARKU. MALAM ITU, DIA BARU TAHU SIAPA YANG SELAMA INI MEMBAYAR CICILAN RUMAH DAN BIAYA SEKOLAH ANAKNYA!

Dua puluh menit setelah meninggalkan rumah Ibu Lastri, Hendra memarkir mobil di bahu jalan yang cukup sepi.

Tangannya masih menggenggam kemudi.

Bekas tamparan Kartika masih terasa panas di pipinya, tetapi itu bukan hal yang membuat dadanya sesak.

Dari kaca spion, dia melihat Nadia dan Tasya duduk berdempetan di kursi belakang.

Tasya masih menangis tanpa suara.

Nadia memeluk adiknya sambil sesekali mengusap rambutnya.

Arini yang duduk di samping Hendra tidak berkata apa-apa sejak mereka meninggalkan rumah keluarganya.

Matanya merah.

Tangannya gemetar.

“Mas…”

Hendra menoleh.

“Aku minta maaf.”

Hendra menggeleng pelan.

“Kamu tidak perlu minta maaf atas perbuatan kakakmu.”

“Tapi selama ini aku yang memintamu membantu mereka.”

Arini menunduk.

“Aku pikir suatu hari Kak Kartika akan berubah. Aku pikir kalau keadaan mereka membaik, dia akan lebih rendah hati.”

Hendra tersenyum pahit.

“Orang yang tidak pernah tahu siapa yang menolongnya sering merasa semua yang dia punya memang haknya.”

Arini terdiam.

Hendra kemudian mengambil ponselnya.

Dia mencari sebuah nama di daftar kontak.

Pak Surya.

Seorang staf senior bagian keuangan di perusahaannya yang selama beberapa tahun mengurus pembayaran rutin untuk keluarga Kartika.

Telepon tersambung.

“Selamat sore, Pak Hendra.”

“Pak Surya, mulai malam ini hentikan seluruh pembayaran atas nama keluarga Kartika Pranoto.”

Di sebelahnya, Arini menoleh cepat.

Hendra melanjutkan dengan suara datar.

“Cicilan rumah, uang sekolah Kevin, premi kendaraan, dan semua transfer rutin lainnya.”

Pak Surya terdiam beberapa detik.

“Baik, Pak. Termasuk cicilan bulan depan?”

“Semua.”

“Baik.”

Hendra hendak menutup telepon, tetapi kemudian teringat sesuatu.

“Dan kirimkan seluruh rekap transaksi selama empat tahun terakhir ke email saya.”

“Siap, Pak.”

Telepon berakhir.

Arini menatap suaminya.

“Mas… rumah Kak Kartika masih punya tunggakan besar.”

“Aku tahu.”

“Kalau pembayaran berhenti…”

“Rumah itu bisa ditarik bank.”

Arini menutup mata.

Hendra menatap lurus ke depan.

“Aku tidak mengambil apa pun dari mereka, Rin. Aku hanya berhenti memberikan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi kewajibanku.”

Kalimat itu membuat Arini diam.

Dari kursi belakang terdengar suara kecil.

“Ayah…”

Hendra segera menoleh.

Tasya menatapnya dengan mata sembap.

“Kalau aku bukan anak kandung Ayah… apa suatu hari Ayah akan ninggalin aku?”

Pertanyaan itu menghantam Hendra jauh lebih keras daripada tamparan Kartika.

Dia membuka sabuk pengaman, turun dari mobil, lalu membuka pintu belakang.

Hendra berjongkok di depan kedua putrinya.

“Nadia. Tasya. Lihat Ayah.”

Keduanya menatapnya.

“Darah bisa membuat orang memiliki hubungan biologis. Tapi keluarga tidak hanya dibangun dengan darah.”

Dia menggenggam tangan Tasya.

“Keluarga dibangun dengan siapa yang tetap tinggal ketika kamu takut, siapa yang memelukmu ketika kamu sedih, dan siapa yang memilih mencintaimu setiap hari.”

Air mata Tasya jatuh lagi.

Hendra tersenyum.

“Ayah memilih kalian. Dan Ayah akan terus memilih kalian.”

Nadia langsung memeluk lehernya.

Tasya ikut memeluk dari sisi lain.

Arini menutup mulut sambil menangis.

Sementara itu, di Bandung, Kartika masih menjadi pusat pembicaraan keluarga.

Namun bukan karena dirinya merasa bersalah.

Sebaliknya, dia justru kesal karena menurutnya Hendra telah “merusak acara”.

“Lihat saja,” katanya sambil membereskan meja dengan kasar. “Besok juga dia pasti datang lagi. Orang seperti Hendra cuma bisa menggertak.”

Doni, suaminya, tampak tidak nyaman.

“Sudahlah, Tik. Tadi kamu keterlaluan.”

Kartika menatapnya tajam.

“Keterlaluan bagaimana? Aku cuma mengatakan kenyataan.”

“Kamu menghina anak kecil.”

“Aku tidak suka mereka bertingkah seolah-olah mereka sama dengan Kevin.”

Doni menarik napas panjang.

“Aku juga tidak setuju Kevin ngomong seperti itu.”

Kartika mencibir.

“Kevin belajar jujur.”

Ibu Lastri yang sejak tadi duduk di ruang tengah akhirnya tidak tahan.

“Kartika.”

Nada suaranya membuat semua orang menoleh.

Perempuan berusia 72 tahun itu berdiri perlahan.

“Kalau yang kamu sebut jujur adalah menghina dua anak kecil sampai menangis, Ibu malu punya anak seperti kamu.”

Kartika membeku.

“Ibu membela Hendra?”

“Ibu membela yang benar.”

Kartika tertawa pendek.

“Semua orang sekarang sok membela Hendra. Padahal dia itu apa? Tukang komputer yang hidupnya juga biasa-biasa saja.”

Doni menunduk.

Entah kenapa, perkataan itu justru membuatnya semakin gelisah.

Sekitar pukul delapan malam, ketika Kartika dan Doni sudah pulang ke rumah mereka, telepon Doni berdering.

Nomor bank.

Doni mengangkatnya.

Setelah mendengar penjelasan selama kurang dari satu menit, wajahnya langsung berubah.

“Apa?”

Kartika yang sedang melepas perhiasan menoleh.

Doni berdiri dari sofa.

“Pak, bukannya pembayaran dilakukan otomatis setiap bulan?”

Dia mendengarkan lagi.

“Tidak, jangan dulu kirim surat penagihan. Saya akan cek.”

Telepon ditutup.

“Ada apa?” tanya Kartika.

Doni menatap istrinya.

“Pembayaran cicilan rumah bulan depan dibatalkan.”

Kartika mengernyit.

“Ya tinggal transfer lagi.”

“Kita tidak punya uang sebanyak itu.”

Kartika mulai kesal.

“Telepon Arini.”

Doni belum sempat menjawab ketika ponselnya kembali berdering.

Kali ini dari bagian administrasi sekolah Kevin.

Pembayaran semester berikutnya yang sebelumnya dijadwalkan melalui pihak ketiga telah dibatalkan.

Sekolah meminta pelunasan dalam dua minggu.

Wajah Doni semakin pucat.

Belum selesai sampai di sana.

Sebuah notifikasi masuk ke email.

Premi asuransi mobil mereka tidak lagi dibayarkan melalui rekening sponsor.

Kartika berdiri.

“Ini pasti Arini.”

Dia langsung menelepon adiknya.

Arini mengangkat setelah dering ketiga.

“Kamu sengaja menghentikan semua pembayaran?” Kartika langsung membentak.

Arini diam sebentar.

“Kak, selama ini Kakak sebenarnya tahu uang itu berasal dari siapa?”

“Ya dari kamu.”

“Bukan.”

Kartika terdiam.

“Apa?”

“Uang itu bukan dariku.”

Arini menatap Hendra yang sedang menemani Nadia dan Tasya makan malam di meja ruang keluarga.

“Selama empat tahun terakhir, Mas Hendra yang membayar semuanya.”

Kartika merasa seolah-olah tidak mendengar dengan benar.

“Jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

“Mana mungkin? Hendra dapat uang dari mana?”

Arini menarik napas.

“Kakak tidak pernah benar-benar tahu siapa suamiku karena Kakak terlalu sibuk meremehkannya.”

Telepon langsung terputus.

Kartika menatap layar ponselnya.

“Apa katanya?” tanya Doni.

Kartika tidak menjawab.

Dia membuka aplikasi perbankan dan mulai mencari transaksi lama yang tersimpan.

Selama bertahun-tahun memang ada pembayaran rutin melalui sebuah perusahaan bernama Digital Sentinel Nusantara.

Nama itu terasa asing.

Doni yang melihat dari belakang tiba-tiba membeku.

“Tunggu.”

“Apa?”

Doni merebut ponselnya.

“Digital Sentinel Nusantara?”

“Iya. Kenapa?”

Doni menatap Kartika dengan wajah yang semakin pucat.

“Kamu benar-benar tidak tahu perusahaan ini?”

Kartika menggeleng.

Doni duduk perlahan.

“Perusahaan keamanan siber. Salah satu klien perusahaan tempatku dulu bekerja pernah pakai jasa mereka.”

Dia menelan ludah.

“Nilai kontraknya miliaran.”

Kartika mulai merasa tidak nyaman.

“Terus apa hubungannya sama Hendra?”

Doni langsung membuka laptop.

Dia mengetik nama perusahaan itu.

Beberapa detik kemudian sebuah halaman resmi terbuka.

Foto seorang pria mengenakan jas gelap muncul di bagian profil direksi.

Kartika membeku.

Nama di bawah foto itu sangat jelas.

Hendra Wijaya.

Founder and Chief Executive Officer.

Tidak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa detik.

Kartika duduk perlahan.

“Ini… Hendra?”

Doni tertawa kecil tanpa rasa lucu.

“Jadi selama ini orang yang kamu sebut tukang servis komputer itu pemilik perusahaan ini.”

Kartika menatap layar.

Di bawah profil Hendra terdapat informasi mengenai kantor pusat di Jakarta, beberapa cabang regional, dan klien dari sektor perbankan serta perusahaan nasional.

Tangannya mulai dingin.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Doni.

Pria itu terlihat semakin gelisah.

“Kamu bilang tadi Hendra meminta rekap transaksi?”

Kartika menoleh.

“Aku tidak tahu.”

Doni berdiri lalu berjalan mondar-mandir.

“Kalau dia benar-benar membuka semua dokumen lama… kita punya masalah.”

“Maksudmu?”

Doni berhenti.

Wajahnya pucat.

“Ada sesuatu yang selama ini tidak pernah aku ceritakan.”

Kartika menatap suaminya.

Empat tahun sebelumnya, Doni memang kehilangan pekerjaan karena kasus manipulasi laporan keuangan.

Namun kenyataannya lebih buruk daripada yang diketahui keluarga.

Doni tidak hanya memalsukan laporan.

Dia pernah memindahkan sejumlah uang perusahaan melalui vendor palsu.

Kasus itu hampir dibawa ke polisi.

Tetapi perusahaan memilih penyelesaian internal karena sebagian dana berhasil dikembalikan.

“Sebagian uang yang aku pakai waktu itu masuk ke rekening untuk membayar utang kita,” katanya lirih.

Kartika membelalakkan mata.

“Kamu bilang semuanya sudah selesai.”

“Aku kira selesai.”

“Apa hubungannya dengan Hendra?”

Doni menatap layar laptop.

“Salah satu perusahaan yang melakukan audit forensik digital waktu kasus itu terjadi… Digital Sentinel Nusantara.”

Dunia Kartika seperti berhenti.

“Jadi Hendra tahu?”

“Aku tidak tahu.”

Yang sebenarnya terjadi adalah Hendra memang tahu.

Empat tahun lalu, ketika tim perusahaannya membantu audit investigasi, nama Doni muncul dalam laporan.

Namun Hendra tidak pernah turun langsung dalam kasus tersebut.

Dia baru mengetahui keterlibatan Doni beberapa bulan kemudian setelah Arini meminta bantuan keuangan untuk keluarga kakaknya.

Saat itu Hendra memeriksa latar belakang masalah untuk memastikan uang yang dia berikan tidak digunakan menutupi tindakan kriminal.

Dia menemukan semuanya.

Namun karena perusahaan Doni telah memilih penyelesaian tanpa jalur pidana dan Doni terlihat menyesal, Hendra tidak pernah mengungkitnya.

Sebaliknya, dia malah membantu.

Bukan untuk Doni.

Melainkan agar Kevin tidak kehilangan sekolah dan keluarga itu tidak kehilangan tempat tinggal.

Malam itu, pukul sepuluh lewat tiga puluh, bel rumah Hendra berbunyi.

Arini membukanya.

Kartika dan Doni berdiri di depan pintu.

Tidak ada lagi kesombongan di wajah Kartika.

Matanya merah.

“Hendra ada?”

Hendra keluar dari ruang keluarga.

Kartika menatap bekas kemerahan tipis di pipi pria yang beberapa jam sebelumnya dia tampar.

Untuk pertama kalinya, dia tidak mampu menatap mata Hendra lebih dari beberapa detik.

“Kami perlu bicara.”

Hendra mempersilakan mereka masuk.

Mereka duduk di ruang tamu.

Kartika langsung berkata, “Aku sudah tahu soal perusahaanmu.”

Hendra mengangguk.

“Aku juga tahu soal semua pembayaran.”

Hendra tetap diam.

Kartika menarik napas.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena bantuan yang diberikan untuk menjaga harga diri seseorang tidak membutuhkan pengumuman.”

Kartika menunduk.

“Kalau begitu kenapa sekarang semuanya dihentikan?”

Hendra menatapnya.

“Karena uangku tidak akan lagi digunakan untuk membiayai seseorang yang mengajarkan anaknya bahwa dua putriku lebih rendah hanya karena mereka diadopsi.”

Kartika mengangkat wajah.

“Aku memang salah. Tapi Kevin tidak tahu apa-apa. Jangan libatkan sekolahnya.”

Hendra terdiam.

Doni yang sejak tadi gemetar akhirnya ikut bicara.

“Hendra… soal masa laluku…”

“Aku tahu.”

Doni membeku.

Kartika menoleh tajam kepada suaminya.

Hendra melanjutkan.

“Aku sudah tahu sejak empat tahun lalu.”

“Kenapa… kenapa kamu tidak pernah melaporkanku?”

“Karena kasusmu sudah diselesaikan perusahaanmu. Dan aku tidak punya kepentingan menghancurkan hidupmu.”

Doni menundukkan kepala.

“Bahkan setelah itu kamu membantu kami?”

“Arini meminta tolong. Dan Kevin tidak bersalah atas kesalahan ayahnya.”

Kalimat itu membuat ruang tamu menjadi sunyi.

Ironinya begitu telanjang.

Hendra, yang selama bertahun-tahun tidak menghukum Kevin atas dosa orang tuanya, justru harus menyaksikan Kartika menghukum Nadia dan Tasya atas sesuatu yang bahkan bukan kesalahan mereka.

Kartika akhirnya menangis.

Bukan tangisan dramatis.

Dia hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku keterlaluan.”

Hendra tidak menjawab.

“Aku minta maaf.”

“Bukan kepadaku dulu.”

Kartika menurunkan tangan.

Hendra menunjuk ke arah kamar kedua putrinya.

“Kamu menghina anak-anak yang bahkan belum cukup umur untuk memahami kenapa orang dewasa bisa sekejam itu.”

Kartika menatap lorong.

Beberapa menit kemudian, Nadia dan Tasya keluar ditemani Arini.

Ketika melihat Kartika, Tasya refleks berdiri lebih dekat dengan ibunya.

Gerakan kecil itu membuat Kartika semakin terpukul.

Dia berjongkok.

“Nadia… Tasya…”

Tidak ada jawaban.

“Tante salah.”

Suaranya bergetar.

“Tante mengatakan hal yang sangat jahat kepada kalian.”

Tasya menggenggam tangan Nadia.

Kartika menangis.

“Kalian tidak melakukan kesalahan apa pun. Tante yang salah.”

Nadia menatapnya lama.

Kemudian anak berusia sepuluh tahun itu berkata pelan, “Tante jangan ajarin Kevin benci kami lagi.”

Kartika menutup mulut.

“Iya.”

Dia mengangguk berkali-kali.

“Iya. Tante janji.”

Hendra akhirnya mengambil keputusan.

Dia tidak mengaktifkan kembali seluruh bantuan.

Cicilan rumah tetap menjadi tanggung jawab Kartika dan Doni.

Premi mobil juga mereka bayar sendiri.

Namun biaya sekolah Kevin tetap Hendra lunasi sampai akhir tahun ajaran.

Ketika Arini bertanya alasannya, Hendra hanya berkata, “Aku tidak mau menjadi seperti mereka. Kevin harus belajar bertanggung jawab, tapi dia tidak perlu kehilangan pendidikan karena kesalahan orang tuanya.”

Beberapa bulan kemudian, banyak hal berubah.

Kartika menjual mobil mewahnya dan menggantinya dengan kendaraan yang lebih sederhana.

Dia mulai bekerja kembali sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan distribusi.

Doni menerima pekerjaan dengan gaji jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Mereka terpaksa mengatur ulang seluruh gaya hidup.

Tidak mudah.

Namun untuk pertama kalinya, mereka benar-benar hidup dari uang mereka sendiri.

Perubahan paling besar justru terlihat pada Kevin.

Suatu sore ketika keluarga kembali berkumpul di rumah Ibu Lastri, Kevin mendekati Tasya sambil membawa kotak kecil.

“Aku mau minta maaf.”

Tasya memandangnya.

Kevin membuka kotak itu.

Di dalamnya ada gelang sederhana yang dibuat dari manik-manik warna-warni.

“Aku bikin sendiri.”

“Kenapa?”

Kevin menunduk.

“Karena Mama bilang aku salah. Tapi bukan cuma karena Mama bilang. Aku juga tahu sekarang kalau waktu itu aku jahat.”

Tasya menerima gelang tersebut.

Lalu tersenyum kecil.

“Kita masih sepupu?”

Kevin mengangguk.

“Iya.”

Nadia yang berdiri di samping mereka ikut tersenyum.

Dari kejauhan, Hendra memperhatikan ketiga anak itu.

Ibu Lastri berdiri di sampingnya.

“Hen.”

“Ya, Bu?”

“Terima kasih karena waktu itu kamu tidak membalas tamparan Kartika.”

Hendra tersenyum tipis.

“Kalau saya membalas, mungkin dia hanya akan ingat rasa sakit di wajahnya.”

Dia memandang Kartika yang sedang membantu Arini menata makanan.

“Tapi karena saya memilih pergi, dia akhirnya belajar sesuatu yang lebih sakit dari tamparan.”

“Apa?”

Hendra terdiam sebentar.

“Mengetahui bahwa orang yang selama ini dia rendahkan justru orang yang diam-diam menjaga keluarganya agar tidak jatuh.”

Ibu Lastri mengangguk.

Namun ada satu hal yang tidak pernah diketahui Kartika.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, Hendra sebenarnya telah melunasi sisa pokok kredit rumah mereka.

Bukan sebagai hadiah.

Bukan pula karena dia berubah pikiran.

Rumah tersebut diam-diam dibeli melalui perusahaan pengelola aset milik Hendra setelah bank menawarkan restrukturisasi.

Secara hukum, Kartika dan Doni tetap membayar cicilan setiap bulan, tetapi uang mereka kini masuk ke perusahaan Hendra.

Arini baru mengetahuinya setahun kemudian.

“Kok Mas masih bantu mereka?”

Hendra hanya tersenyum.

“Aku tidak sedang membantu Kartika.”

“Lalu?”

Hendra melihat Kevin yang sedang bermain bersama Nadia dan Tasya di halaman.

“Aku sedang memastikan tiga anak itu tidak perlu menanggung harga dari kesalahan orang dewasa.”

Arini terdiam.

Saat itulah dia memahami sesuatu tentang suaminya.

Hendra mungkin bisa menghentikan bantuan dalam satu telepon.

Dia juga punya cukup bukti untuk mempermalukan Doni dan cukup uang untuk membuat Kartika merasa kecil.

Namun kekuasaan terbesar yang dimiliki seseorang ternyata bukan kemampuan untuk membalas orang yang menyakitinya.

Melainkan kemampuan untuk menentukan siapa dirinya setelah disakiti.

Dan Hendra memilih tetap menjadi ayah yang ingin dicontoh oleh kedua putrinya.

Karena pada akhirnya, darah memang bisa menjelaskan dari mana seseorang berasal.

Tetapi hanya kasih sayang, pilihan, dan kesetiaan yang menentukan siapa yang benar-benar layak disebut keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang