Pagi berikutnya, Maya terbangun bukan karena alarm, melainkan karena suara notifikasi ponselnya yang bergetar berkali-kali di atas meja.
Semalaman ia hampir tidak tidur.
Ancaman Ibu Ratna terus terbayang di kepalanya. Tali tebal, botol racun rumput, dan yang paling menyakitkan, wajah Aris yang hanya berdiri diam ketika ibunya mengancam akan menghancurkan hidup Maya.
Pukul 07.12, sebuah pesan masuk dari Hendra.
“Mbak Maya, jangan berangkat ke kantor dulu. Ada seseorang yang ingin bertemu. Ini berkaitan dengan Eyang Ratmi.”
Maya langsung duduk.
Nama itu membuat dadanya berdesir.
Eyang Ratmi adalah nenek dari pihak ibunya, perempuan yang membesarkan Maya setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan ketika Maya masih kuliah. Eyang Ratmi juga orang yang memberikan sebagian warisan yang kemudian Maya gunakan untuk membeli rumah di BSD tersebut.
Setengah jam kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di depan rumah.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun turun membawa map kulit cokelat. Maya mengenalnya sebagai Pak Surya, notaris yang dahulu mengurus beberapa dokumen milik Eyang Ratmi.
Mereka bertemu di sebuah kedai kopi tidak jauh dari kompleks.
Hendra sudah menunggu.
Tanpa banyak basa-basi, Pak Surya mengeluarkan amplop besar bersegel.
“Eyang Ratmi meninggalkan dokumen tambahan yang baru boleh diserahkan apabila muncul sengketa atas rumah ini,” katanya.
Maya mengernyit.
“Mengapa saya tidak pernah tahu?”
“Karena beliau sengaja merahasiakannya.”
Pak Surya membuka map.
Di dalamnya terdapat surat wasiat, akta lama, bukti transfer, dan beberapa lembar surat pernyataan.
Maya membaca halaman pertama.
Tangannya langsung berhenti.
Ternyata uang warisan yang diterimanya bertahun-tahun lalu bukan sekadar hadiah biasa.
Eyang Ratmi sengaja memberikan uang itu untuk membeli properti yang harus menjadi harta pribadi Maya dan tidak boleh dialihkan kepada pasangan, keluarga pasangan, ataupun pihak lain melalui tekanan.
Namun, bukan itu yang membuat Maya terpukul.
Pak Surya mengeluarkan dokumen berikutnya.
Sebuah surat pengakuan utang.
Nama yang tercantum sebagai pihak peminjam membuat Maya membeku.
Ratna Rahardjo.
“Ibu Ratna?”
Pak Surya mengangguk.
Tujuh tahun lalu, jauh sebelum Maya menikah dengan Aris, Ratna ternyata pernah meminjam uang sebesar delapan ratus lima puluh juta rupiah dari Eyang Ratmi untuk menyelamatkan usaha tekstil keluarga Rahardjo yang hampir bangkrut.
Pinjaman itu tidak pernah dilunasi.
Setelah Eyang Ratmi meninggal, hak penagihan atas utang tersebut diwariskan kepada Maya.
Maya menutup mulut.
“Tapi selama ini Ibu Ratna selalu mengatakan keluarganya tidak pernah menerima bantuan dari keluarga saya.”
“Ada yang lebih penting,” kata Hendra.
Ia menggeser beberapa lembar kertas.
Ternyata Aris mengetahui utang tersebut.
Bahkan tiga tahun lalu, tanpa sepengetahuan Maya, Aris pernah menemui Pak Surya dan mencoba meminta agar surat pengakuan utang itu dianggap selesai.
Permintaan itu ditolak.
Maya menatap dokumen tersebut lama sekali.
Jadi Aris tahu.
Selama bertahun-tahun.
Suaminya tahu ibunya berutang ratusan juta kepada keluarga Maya, tetapi tetap membiarkan Ratna bersikap seolah Maya adalah orang luar yang menumpang dalam keluarga Rahardjo.
“Kenapa Aris melakukan itu?”
Pak Surya menarik napas.
“Karena ada jaminan dalam perjanjian.”
Maya menoleh.
“Jaminan?”
“Sebidang tanah dan bangunan milik keluarga Rahardjo di Bogor.”
Maya terdiam.
Itulah rumah yang selama ini selalu dibanggakan Ibu Ratna sebagai rumah keluarga yang kelak diwariskan kepada Aris dan Bima.
Jika utang itu ditagih melalui jalur hukum dan jaminannya dieksekusi, keluarga Rahardjo dapat kehilangan aset tersebut.
Hendra lalu membuka laptop.
“Tadi malam saya juga memeriksa informasi mengenai rencana kuitansi renovasi yang Mbak ceritakan.”
Ia memutar layar.
Ada salinan percakapan, dokumen rancangan, dan sejumlah transaksi mencurigakan.
Oknum yang dihubungi Aris ternyata bukan sekadar diminta membuat kuitansi palsu.
Aris juga sedang berusaha mendapatkan pinjaman sebesar satu koma dua miliar rupiah.
Maya merasa tengkuknya dingin.
“Untuk apa?”
Hendra tidak langsung menjawab.
Ia membuka dokumen berikutnya.
Nama pemohon pinjaman adalah Aris Rahardjo.
Namun dalam rancangan pengajuan, rumah Maya dicantumkan sebagai aset keluarga yang akan digunakan untuk meyakinkan calon pemberi dana.
Maya tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena akhirnya semuanya terasa masuk akal.
Rumah itu bukan hanya diincar untuk Bima.
Mereka membutuhkan rumah tersebut untuk menutup masalah keuangan yang jauh lebih besar.
“Jadi pernikahan Bima?”
“Sebagian uang pinjaman direncanakan untuk itu,” jawab Hendra. “Sisanya untuk menutup utang keluarga dan investasi yang gagal.”
Pukul sepuluh pagi, Maya pulang.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Ibu Ratna sedang sarapan bersama Bima dan Sheila.
Begitu melihat Maya, Ratna tersenyum puas.
“Jangan lupa pukul enam.”
Maya hanya menjawab, “Saya ingat.”
Sheila tampak sangat bersemangat.
Ia bahkan sudah membawa katalog furnitur.

“Aku sudah pilih warna kamar utama,” katanya kepada Bima tanpa merasa perlu merendahkan suara.
Maya berjalan melewati mereka.
Untuk pertama kalinya, perkataan itu tidak lagi membuatnya marah.
Ia justru merasa iba.
Mereka sedang merayakan kemenangan yang belum pernah mereka miliki.
Menjelang sore, sebuah meja panjang disiapkan di ruang keluarga.
Ibu Ratna mengenakan pakaian terbaiknya. Bima dan Sheila duduk berdampingan. Aris terlihat gelisah.
Pukul 17.55, bel rumah berbunyi.
Bima berdiri dengan senyum lebar.
“Mungkin notarisnya.”
Benar.
Tetapi bukan notaris yang mereka harapkan.
Pak Surya masuk bersama Hendra dan dua orang staf.
Senyum Bima menghilang.
Ibu Ratna langsung berdiri.
“Siapa mereka?”
Maya turun dari tangga membawa sebuah map.
“Orang-orang yang akan memastikan tidak ada kesalahpahaman.”
Ratna menatap tajam.
“Mana surat pengalihan rumahnya?”
Maya meletakkan map di meja.
“Tadi malam Ibu memberi saya dua pilihan. Menyerahkan rumah ini atau menerima akibat dari ancaman Ibu.”
Wajah Aris berubah.
“Maya, jangan mulai membuat keributan.”
Maya menatapnya.
“Justru hari ini saya ingin mengakhirinya.”
Ia mengeluarkan ponselnya.
Sebuah rekaman suara terdengar.
Suara Ratna memenuhi ruangan.
“Kalau tidak, orang-orang akan menemukan saya sudah tidak bernyawa di balkon lantai dua.”
Ratna langsung pucat.
“Kamu merekam saya?”
“Sistem keamanan rumah merekam suara di ruang makan.”
Bima berdiri.
“Kak Maya, ini masalah keluarga!”
“Benar. Sampai kalian menjadikannya ancaman.”
Hendra kemudian meletakkan sebuah surat di depan Ratna.
“Ini pemberitahuan resmi. Semua bentuk tekanan, intimidasi, ancaman, serta dugaan pemalsuan dokumen sudah kami dokumentasikan.”
Ratna mulai gemetar.
Aris justru maju.
“Pemalsuan apa?”
Maya memandang suaminya.
“Kuitansi renovasi satu koma delapan miliar rupiah.”
Wajah Aris kehilangan warna.
Ruangan langsung sunyi.
“Dari mana kamu tahu?”
Pertanyaan itu keluar begitu cepat hingga Aris sendiri tampaknya baru menyadari kesalahannya.
Maya tersenyum pahit.
“Jadi memang benar.”
Sheila perlahan melepaskan tangannya dari lengan Bima.
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
“Tidak ada apa-apa,” bentak Bima.
Namun Pak Surya mengeluarkan dokumen lain.
“Kalau begitu, mari kita bicara tentang utang delapan ratus lima puluh juta rupiah.”
Ratna mendadak terduduk.
Bima menatap ibunya.
“Utang apa?”
Pak Surya menjelaskan semuanya.
Pinjaman tujuh tahun lalu.
Jaminan rumah keluarga di Bogor.
Hak penagihan yang sekarang berada di tangan Maya.
Bima berdiri dengan wajah merah.
“Ibu bilang rumah Bogor bebas utang!”
Ratna tidak menjawab.
“IBU!”
“Diam!”
Ratna membentaknya.
Tetapi Sheila sudah berdiri.
Ia menatap Bima dengan wajah yang benar-benar berbeda.
“Jadi rumah Bogor yang katanya akan dijual untuk modal usaha kita ternyata dijaminkan?”
Bima panik.
“Sheila, dengar dulu.”
“Dan rumah ini juga bukan milik keluargamu?”
Tidak ada yang menjawab.
Sheila tertawa pendek.
Selama berbulan-bulan Bima ternyata mengatakan kepada keluarga Sheila bahwa rumah mewah di BSD tersebut merupakan aset keluarga Rahardjo yang akan diberikan kepadanya setelah menikah.
Bahkan foto rumah itu sudah diperlihatkan kepada calon mertuanya.
“Jadi selama ini kamu bohong?”
“Sheila…”
Perempuan itu mengambil tasnya.
“Pernikahan kita bulan depan dibatalkan.”
Ratna berdiri panik.
“Jangan gegabah, Sheila. Semua ini bisa diselesaikan!”
Namun Sheila sudah berjalan menuju pintu.
Bima mengejarnya.
Pintu depan tertutup keras.
Pukul enam lewat tujuh menit, keluarga yang beberapa menit sebelumnya merasa akan memperoleh sebuah rumah mulai runtuh satu demi satu.
Tetapi Maya belum selesai.
Ia menatap Aris.
“Ada satu dokumen lagi.”
Aris menggeleng.
“Maya, cukup.”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya suara Maya bergetar.
“Lima tahun saya menjadi istrimu. Saya membayar kebutuhan rumah. Saya merawat orang tuamu. Saya membantu adikmu. Dan setiap kali saya keberatan, kamu membuat saya merasa egois.”
Aris menunduk.
“Kamu tahu tentang utang ibumu kepada Eyang.”
Aris diam.
“Kamu tahu sejak sebelum kita menikah, bukan?”
Ratna tiba-tiba menyela.
“Aris melakukan itu untuk melindungi keluarganya!”
Maya menoleh kepadanya.
“Dan siapa yang melindungi saya?”
Tak seorang pun menjawab.
Maya mengeluarkan sebuah amplop.
Aris menatapnya.
“Apa itu?”
“Permohonan cerai yang akan diajukan pengacara saya.”
Aris seperti kehilangan tenaga.
“Maya…”
“Rumah ini tidak akan saya serahkan. Saya juga tidak akan menuntut uang yang selama ini saya keluarkan untuk keluarga kalian.”
Ratna menghela napas lega terlalu cepat.
“Tetapi utang kepada Eyang tetap akan diproses sesuai hukum.”
Ratna membeku lagi.
“Kamu mau mengambil rumah kami?”
Maya menggeleng.
“Saya tidak ingin mengambil rumah siapa pun. Saya hanya berhenti membiarkan orang lain mengambil milik saya.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Ratna tiba-tiba menangis.
Untuk pertama kalinya, tangisnya tidak terdengar seperti kemarahan.
“Maya, Ibu salah. Kita bisa bicara baik-baik.”
Maya menatap perempuan itu lama.
“Semalam saya ingin bicara baik-baik. Ibu menaruh tali dan racun di depan saya.”
Ratna tidak mampu menjawab.
Dalam tiga minggu berikutnya, semuanya berubah.
Bima dan Sheila benar-benar batal menikah.
Oknum yang menawarkan pembuatan kuitansi palsu dilaporkan dan Aris dipanggil untuk memberikan keterangan terkait dokumen-dokumen yang sudah disiapkan.
Aris akhirnya keluar dari rumah Maya.
Ratna dan suaminya juga pindah.
Namun Maya tidak langsung mengeksekusi rumah Bogor.
Melalui Hendra, ia menawarkan penyelesaian utang secara bertahap dengan syarat keluarga Rahardjo berhenti menghubunginya di luar urusan hukum.
Bima terpaksa menjual mobil dan mulai bekerja tetap.
Ratna yang selama bertahun-tahun merasa harga dirinya ditentukan oleh rumah, pesta, dan pandangan orang lain akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar masalah keluarganya berasal dari kebiasaan mempertahankan penampilan dengan uang yang tidak mereka miliki.
Enam bulan kemudian, perceraian Maya dan Aris selesai.
Pada suatu sore, Maya berdiri sendirian di balkon lantai dua.
Tempat yang pernah digunakan Ratna dalam ancamannya.
Rumah itu terasa berbeda.
Lebih sunyi, tetapi tidak kosong.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya bisa bernapas tanpa takut seseorang akan meminta uang, memaksanya merasa bersalah, atau mengatakan bahwa hasil kerja kerasnya adalah kewajiban untuk keluarga lain.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Pak Surya.
Ada satu dokumen terakhir milik Eyang Ratmi yang belum pernah Maya baca.
Sebuah surat pribadi.
Maya membuka hasil pindaiannya.
Tulisan tangan Eyang masih sama seperti yang ia ingat.
“Maya, kalau suatu hari ada orang yang memintamu membuktikan cinta dengan menyerahkan sesuatu yang kamu bangun dengan susah payah, jangan buru-buru menyebutnya keluarga. Orang yang mencintaimu mungkin membutuhkan bantuanmu, tetapi mereka tidak akan membutuhkan kehancuranmu.”
Mata Maya berkaca-kaca.
Di bagian bawah terdapat satu kalimat tambahan.
“Rumah yang sebenarnya ingin Eyang wariskan kepadamu bukan bangunan, tetapi keberanian untuk tetap menjadi pemilik hidupmu sendiri.”
Maya tersenyum sambil menangis.
Barulah ia memahami mengapa surat wasiat itu dibuat begitu rumit.
Eyang Ratmi mungkin tidak pernah tahu siapa yang kelak akan menikahi Maya.
Tidak pernah mengenal Aris, Ratna, atau Bima.
Tetapi perempuan tua itu memahami satu hal yang baru dipahami Maya setelah kehilangan lima tahun hidupnya.
Ancaman paling berbahaya tidak selalu datang dari musuh.
Kadang-kadang ia datang dari orang yang duduk di meja makan kita sendiri, memanggil kita keluarga, lalu perlahan mengajarkan bahwa cinta berarti selalu mengalah.
Malam itu Maya mengganti kunci rumah untuk terakhir kalinya.
Bukan karena takut mereka akan kembali.
Melainkan karena akhirnya ia mengerti bahwa menutup sebuah pintu tidak selalu berarti kehilangan keluarga.
Kadang-kadang, itulah satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali diri sendiri.
