WANITA 71 TAHUN NYARIS TEWAS SAAT BEKERJA SEBAGAI PENGEMUDI OJEK ONLINE DEMI MEMBIAYAI DUA ANAKNYA YANG MANJA, SEBELUM IA MENJUAL RUMAH WARISAN DAN MEMBONGKAR RAHASIA BESAR MEREKA!

Pagi setelah hampir tertabrak truk kontainer, Bu Rahmi pulang ke rumah dengan perasaan yang sama sekali berbeda.

Tubuhnya masih lelah. Lututnya masih sakit. Namun ada ketenangan aneh di wajahnya.

Maya baru saja turun dari SUV putih milik temannya ketika melihat ibunya masuk ke halaman.

“Bu, nanti siang jangan lupa masak sop iga, ya. Teman Maya mau datang.”

Bu Rahmi berhenti sebentar.

Biasanya ia akan langsung menjawab iya.

Namun kali ini ia hanya menatap putrinya.

“Masak sendiri kalau mau.”

Maya berkedip.

“Hah?”

Bu Rahmi tidak menjelaskan apa pun. Ia masuk ke rumah, melepas sepatu, lalu naik ke lantai dua menuju kamar yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah dibuka.

Kamar itu dulunya milik Pak Hendra, suaminya yang meninggal tujuh tahun lalu.

Setelah kematiannya, Bu Rahmi hanya sesekali masuk untuk membersihkan debu.

Di sudut lemari kayu besar terdapat brankas kecil berwarna hitam.

Pak Hendra pernah memberikan kode kepadanya sebelum meninggal.

Bu Rahmi membukanya.

Di dalamnya terdapat sertifikat rumah, beberapa buku tabungan lama, surat-surat perusahaan, dan sebuah map cokelat yang sudah menguning.

Di bagian depan map itu tertulis nama perusahaan milik suaminya.

PT Hendra Karya Sentosa.

Dulu perusahaan itu bergerak di bidang distribusi material bangunan.

Usahanya tidak terlalu besar, tetapi cukup berhasil hingga Pak Hendra bisa membeli rumah di BSD dan menyekolahkan kedua anaknya sampai perguruan tinggi.

Bu Rahmi membuka map itu satu per satu.

Awalnya ia hanya ingin mencari sertifikat rumah.

Namun kemudian matanya berhenti pada sebuah lembar laporan rekening.

Ada transfer sebesar Rp1,8 miliar.

Penerimanya adalah sebuah perusahaan bernama Rendy Digital Nusantara.

Tanggal transfer itu tercatat hanya tiga bulan sebelum Pak Hendra meninggal.

Bu Rahmi mengernyit.

Ia tidak pernah tahu soal uang tersebut.

Tangannya mulai gemetar ketika menemukan surat lain.

Surat itu ditulis tangan oleh Pak Hendra.

“Rahmi, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, berarti mungkin aku sudah tidak sempat menjelaskan semuanya.”

Bu Rahmi duduk di tepi tempat tidur.

Dadanya terasa sesak.

Ia melanjutkan membaca.

“Rendy meminta modal untuk bisnisnya. Aku memberinya Rp1,8 miliar dengan syarat uang itu dianggap bagian warisannya di muka. Dia sudah menandatangani pernyataan bahwa kelak dia tidak akan menuntut rumah atau aset lain milik kita.”

Bu Rahmi menutup mulut.

Air mata langsung memenuhi matanya.

Di bawah surat itu terdapat surat pernyataan bermeterai.

Nama Rendy.

Tanda tangan Rendy.

Dan tanda tangan dua saksi.

Namun itu belum semuanya.

Ada dokumen lain.

Transfer sebesar Rp850 juta kepada Maya.

Diikuti surat serupa.

Bu Rahmi teringat saat Maya membuka salon kecantikan delapan tahun lalu.

Saat itu Maya mengatakan modalnya berasal dari pinjaman bank.

Ternyata bukan.

Pak Hendra yang membiayainya.

Dalam surat berikutnya, suaminya menulis,

“Maya meminta agar kamu tidak diberi tahu karena dia takut kamu menolak. Aku mengalah. Tapi aku memastikan dia menandatangani bahwa uang tersebut adalah bagian warisannya.”

Bu Rahmi memejamkan mata.

Mendadak banyak hal terasa masuk akal.

Beberapa tahun setelah Pak Hendra meninggal, Rendy pernah berkata bahwa ayah mereka hanya meninggalkan rumah dan sedikit tabungan.

Maya juga sering mengeluh bahwa ayahnya “tidak memikirkan masa depan anak-anak.”

Padahal keduanya sudah menerima uang dalam jumlah sangat besar.

Lebih menyakitkan lagi, beberapa dokumen bank menunjukkan bahwa uang Rp1,8 miliar milik Rendy sebenarnya tidak hilang karena bisnis gagal.

Sebagian besar dana itu dipindahkan ke rekening investasi pribadi.

Ada pembelian saham.

Ada deposito.

Ada rekening efek.

Dan terdapat laporan terakhir, sekitar setahun setelah Pak Hendra meninggal, menunjukkan nilai aset Rendy masih lebih dari Rp2,3 miliar.

Bu Rahmi merasa darahnya mendidih.

Selama ini Rendy berpura-pura tidak punya uang.

Ia membiarkan ibunya yang berusia 71 tahun bekerja sebagai pengemudi pesan-antar sampai lewat tengah malam.

Ia makan dari uang ibunya.

Menggunakan listrik yang dibayar ibunya.

Tidur di rumah ibunya.

Sementara ia mungkin masih menyimpan miliaran rupiah.

Bu Rahmi segera menelepon seorang teman lama mendiang suaminya, Pak Surya, yang sekarang bekerja sebagai pengacara.

Siang itu mereka bertemu di sebuah kantor kecil di kawasan Alam Sutera.

Pak Surya membaca semua dokumen dengan sangat teliti.

“Ini kuat, Bu.”

“Artinya?”

“Rumah ini sepenuhnya milik Ibu. Tidak ada kewajiban hukum untuk menyerahkannya kepada Maya atau Rendy.”

Bu Rahmi menatap meja.

“Kalau saya jual?”

“Boleh.”

“Dan uangnya?”

“Milik Ibu.”

Bu Rahmi terdiam cukup lama.

Kemudian ia bertanya,

“Kalau mereka protes?”

Pak Surya melepas kacamatanya.

“Mereka boleh marah. Tapi marah tidak sama dengan punya hak.”

Tiga minggu berikutnya, Bu Rahmi menjalankan rencananya diam-diam.

Bu Lina memasang rumah itu di pasar dengan harga Rp4,9 miliar.

Karena lokasinya bagus dan tanahnya cukup luas, pembeli datang dengan cepat.

Bu Rahmi bahkan sengaja mengatur jadwal survei ketika Maya sedang pergi dan Rendy masih tidur.

Sampai akhirnya seorang pengusaha dari Jakarta sepakat membeli rumah tersebut seharga Rp4,65 miliar.

Transaksi selesai.

Uang masuk ke rekening Bu Rahmi.

Dan saat itulah ia melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan anak-anaknya.

Ia membeli sebuah rumah kecil satu lantai di daerah Ciputat.

Tidak mewah.

Namun cukup nyaman.

Ada dua kamar.

Halaman kecil.

Dan yang paling penting, semua biaya hidupnya bisa ditanggung tanpa harus bekerja sampai tengah malam.

Sisanya ia simpan dalam deposito dan reksa dana berisiko rendah.

Bu Rahmi juga menyisihkan sebagian untuk biaya kesehatan dan masa tuanya.

Baru setelah semuanya selesai, ia mengumpulkan Maya dan Rendy di ruang makan.

Maya datang sambil membawa ponselnya.

Rendy turun dengan kaus dan celana pendek.

“Kenapa, Bu? Cepat ya. Rendy ada meeting online.”

Bu Rahmi hampir tertawa.

Selama tiga tahun, Rendy menggunakan kalimat itu setiap kali ingin menghindari percakapan serius.

Bu Rahmi meletakkan dua amplop di meja.

“Sebelum akhir bulan, kalian harus keluar dari rumah ini.”

Maya menatapnya.

“Apa?”

“Rumah ini sudah dijual.”

Ruangan mendadak sunyi.

Rendy tertawa kecil.

“Bu, jangan bercanda.”

“Saya tidak bercanda.”

Wajah Maya langsung berubah.

“Ibu jual rumah tanpa ngomong sama kami?”

“Iya.”

“Rumah keluarga?”

“Rumah saya.”

Maya berdiri.

“Rumah itu warisan kami!”

Bu Rahmi menatapnya tanpa berkedip.

“Warisan kalian sudah kalian terima.”

Maya membeku.

Rendy yang tadi tampak santai langsung menarik kursi.

“Maksud Ibu apa?”

Bu Rahmi mendorong dua amplop ke arah mereka.

“Silakan buka.”

Maya merobek amplopnya.

Beberapa detik kemudian wajahnya pucat.

Rendy bahkan tidak menyentuh amplopnya.

Ia sudah melihat kopian surat di tangan adiknya.

“Dari mana Ibu dapat ini?”

“Dari brankas Ayah.”

Rendy menelan ludah.

Maya membaca surat itu dua kali.

“Ini sudah lama.”

“Benar.”

“Ayah yang kasih uang itu.”

“Benar.”

Maya mulai gugup.

“Tapi salon Maya bangkrut.”

Bu Rahmi menatapnya.

“Masalahnya bukan salonmu bangkrut atau tidak.”

Suaranya tetap pelan.

“Masalahnya, kalian mengatakan kepada Ibu bahwa Ayah tidak meninggalkan apa-apa untuk kalian.”

Rendy akhirnya membuka amplopnya.

Begitu melihat laporan transfer Rp1,8 miliar, wajahnya berubah.

Bu Rahmi lalu mengeluarkan dokumen lain.

“Saya juga menemukan rekening investasimu.”

Rendy mendongak.

“Rekening apa?”

“Jangan bohong lagi.”

Bu Rahmi meletakkan laporan itu di meja.

“Setahun setelah Ayah meninggal, asetmu masih lebih dari dua miliar.”

Maya menoleh tajam ke kakaknya.

“Mas Rendy punya dua miliar?”

“Diam, May.”

“Selama ini katanya bangkrut!”

Rendy berdiri.

“Itu uang perusahaan.”

“Perusahaan apa?”

Bu Rahmi memotong.

“Perusahaan yang setiap hari pemiliknya bangun jam dua belas siang?”

Rendy terdiam.

Untuk pertama kalinya, Bu Rahmi melihat anak laki-lakinya kehilangan kemampuan untuk membuat alasan.

Akhirnya Rendy berkata pelan,

“Uangnya masih ada sebagian.”

“Berapa?”

Rendy tidak menjawab.

“Berapa?”

“Sekitar satu koma empat.”

Maya memukul meja.

“Satu koma empat miliar?”

Rendy membentak,

“Uang itu investasi!”

Maya tertawa tidak percaya.

“Jadi selama ini Ibu kerja antar makanan sementara Mas punya miliaran?”

Rendy menatap adiknya.

“Jangan sok suci. Kamu juga dapat delapan ratus lima puluh juta!”

Pertengkaran langsung meledak.

Maya menyalahkan Rendy.

Rendy membongkar kebiasaan belanja Maya.

Keduanya berteriak seolah-olah masing-masing adalah korban terbesar.

Bu Rahmi hanya duduk diam.

Beberapa tahun lalu, suara keras seperti itu akan membuatnya menangis.

Sekarang tidak lagi.

Ia akhirnya mengerti sesuatu.

Kedua anaknya tidak benar-benar marah karena kehilangan rumah.

Mereka marah karena kehilangan tempat nyaman untuk hidup tanpa tanggung jawab.

“Sudah.”

Bu Rahmi hanya mengucapkan satu kata.

Anehnya, keduanya langsung diam.

“Saya hampir mati tiga minggu lalu.”

Maya dan Rendy menatapnya.

Bu Rahmi menceritakan kejadian di lampu merah.

Tentang matanya yang tertutup.

Tentang mobil yang bergerak maju.

Tentang truk kontainer yang melintas beberapa sentimeter dari kap mobilnya.

Wajah Maya perlahan berubah.

Rendy menunduk.

“Saat itu,” lanjut Bu Rahmi, “saya sadar kalau saya mati, mungkin kalian sedih beberapa hari.”

Air mata mulai menggenang di mata Maya.

“Tapi setelah itu kalian akan menjual rumah, membagi uang, lalu hidup seperti biasa.”

“Bu…”

“Jangan potong.”

Maya menutup mulut.

“Saya melahirkan kalian. Membesarkan kalian. Menyekolahkan kalian. Ayah kalian bahkan sudah memberikan bagian warisan kalian saat beliau masih hidup.”

Bu Rahmi menarik napas.

“Tapi kalian masih membiarkan ibu kalian bekerja sampai jam satu pagi untuk membayar internet yang kalian gunakan.”

Tidak ada yang menjawab.

Bu Rahmi lalu menatap Maya.

“Dan kamu malu melihat tas kerja Ibu.”

Maya langsung menunduk.

“Itulah saat saya tahu saya sudah salah mendidik kalian.”

Maya menangis.

“Maafin Maya, Bu.”

Bu Rahmi tidak langsung menjawab.

“Maaf tidak mengubah apa pun kalau hidupmu tetap sama.”

Ia kemudian menatap Rendy.

“Kalian punya tiga puluh hari.”

“Setelah itu?”

“Kalian hidup dengan uang kalian sendiri.”

Rendy tampak ingin membantah.

Namun akhirnya ia hanya mengangguk.

Sebulan kemudian, rumah BSD itu resmi diserahkan kepada pemilik baru.

Maya menyewa kamar kecil di apartemen sederhana di Bintaro.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia kembali bekerja penuh waktu sebagai supervisor di sebuah klinik kecantikan.

Rendy pindah ke apartemen studio dan menggunakan sebagian investasinya untuk melunasi utang perusahaannya.

Tidak ada lagi alasan tentang investor misterius.

Tidak ada lagi tidur sampai siang setiap hari.

Sementara Bu Rahmi pindah ke rumah kecilnya di Ciputat.

Ia masih sesekali menerima pesanan makanan.

Namun hanya dua atau tiga jam di pagi hari.

Bukan karena membutuhkan uang.

Ia mengatakan kepada Bu Lina bahwa dirinya justru menikmati bertemu orang-orang.

Suatu sore, sekitar enam bulan setelah pindah, sebuah mobil kecil berhenti di depan rumahnya.

Maya turun membawa kantong buah.

Beberapa menit kemudian Rendy datang dengan sepeda motor.

Bu Rahmi membuka pintu.

Tidak ada sop iga.

Tidak ada paket belanja.

Tidak ada tagihan menumpuk.

Maya masuk ke dapur dan mulai membuat teh sendiri.

Rendy memperbaiki engsel pintu halaman yang rusak.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, mereka datang bukan untuk meminta sesuatu.

Saat hendak pulang, Maya memeluk ibunya.

“Bu.”

“Hm?”

“Rumah yang dulu itu… Maya masih kadang kangen.”

Bu Rahmi tersenyum.

Maya buru-buru berkata,

“Bukan karena harganya.”

“Lalu?”

Maya melihat halaman kecil rumah ibunya.

“Karena Maya baru sadar, selama ini yang bikin rumah itu terasa seperti rumah bukan bangunannya.”

Ia memegang tangan ibunya.

“Tapi Ibu.”

Bu Rahmi terdiam.

Kemudian ia tersenyum tipis.

Malam itu, setelah kedua anaknya pulang, Bu Rahmi membuka buku catatan lama yang selalu dibawanya saat bekerja.

Ia menemukan halaman yang ditulisnya pada malam ketika hampir tertabrak truk.

“Saya tidak akan mati hanya agar mereka bisa terus hidup seolah-olah saya sudah meninggal.”

Bu Rahmi mengambil pena.

Di bawah kalimat itu ia menambahkan satu baris lagi.

“Ternyata berhenti menyelamatkan anak-anak saya adalah cara pertama untuk membuat mereka belajar menyelamatkan diri sendiri.”

Ia menutup buku itu.

Di luar rumah, terdengar suara anak-anak muda yang pulang bekerja, motor berlalu di jalan kecil, dan pedagang nasi goreng mendorong gerobaknya.

Bu Rahmi mematikan lampu ruang tamu sebelum pukul sepuluh malam.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada alarm pukul empat pagi.

Tidak ada pesanan yang harus dikejar.

Tidak ada tagihan milik orang lain yang harus ia pikirkan.

Dan yang paling mengejutkan, rumah kecil itu terasa jauh lebih luas daripada rumah dua lantai yang pernah dimilikinya.

Karena untuk pertama kalinya, Bu Rahmi tinggal di tempat yang tidak dipenuhi tuntutan.

Hanya ketenangan.

Dan hidup yang akhirnya benar-benar menjadi miliknya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang