IBU MERTUA MILIARDER MELEMPARKAN CEK 1 MILIAR RUPIAH AGAR AKU MEMBATALKAN PERNIKAHAN, TAPI AKU JUSTRU MEROBEKNYA KARENA DIA TAK TAHU AKU ADALAH PEMILIK BANK YANG MENOPANG BISNIS KELUARGANYA!

Pukul delapan lewat empat puluh lima menit keesokan paginya, aku berdiri di depan jendela kaca lantai tiga puluh dua gedung Nusantara Capital Bank di kawasan Sudirman, Jakarta.

Seharusnya pada jam seperti ini aku sedang duduk di ruang rias, dikelilingi penata rambut, perias wajah, dan keluarga calon suamiku. Seharusnya gaun putih yang kemarin kulepas kini sudah membalut tubuhku.

Namun pagi itu aku mengenakan setelan kerja berwarna krem, sepatu hak sederhana, dan sebuah jam tangan lama yang kubeli dari gaji pertamaku sebagai pelayan restoran.

Di bawah sana, Jakarta bergerak seperti biasa.

Tidak ada yang tahu bahwa hidupku baru saja berubah arah.

“Bu Kirana, semua komisaris dan direksi sudah menunggu.”

Aku menoleh kepada Pak Surya, direktur utama Nusantara Capital Bank yang usianya hampir dua kali lipat dariku.

“Termasuk tim kredit korporasi?”

“Sudah.”

Aku mengangguk.

Sebelum memasuki ruang rapat, ponselku kembali bergetar.

Arka.

Sudah lebih dari tiga puluh panggilan sejak semalam.

Aku belum menjawab satu pun.

Bukan karena aku membencinya.

Justru karena aku terlalu mencintainya sehingga aku takut mendengar suaranya.

Pintu ruang rapat terbuka.

Belasan orang berdiri ketika aku masuk.

Pemandangan itu masih terasa asing bagiku.

Beberapa tahun lalu, orang-orang berdasi seperti mereka adalah pelanggan yang kulayani dengan membawa nampan. Sekarang mereka berdiri karena aku memasuki ruangan.

“Selamat pagi, Bu Kirana.”

“Selamat pagi. Silakan duduk.”

Aku mengambil tempat di ujung meja.

Di depanku sudah tersedia beberapa dokumen.

Aku membuka berkas paling atas.

BASKORO GROUP.

Total eksposur kredit mencapai beberapa triliun rupiah.

Pak Surya mulai menjelaskan bahwa Baskoro Group sedang mengalami tekanan arus kas akibat beberapa proyek yang terlambat, kenaikan biaya konstruksi, dan kewajiban kepada kontraktor. Mereka mengajukan perpanjangan fasilitas kredit sekaligus tambahan pembiayaan untuk proyek kawasan terpadu baru di Tangerang.

“Kalau tambahan fasilitas ini tidak disetujui?” tanyaku.

Direktur risiko menjawab hati-hati.

“Mereka berpotensi mengalami masalah likuiditas dalam beberapa minggu ke depan.”

Aku menatap angka-angka di hadapanku.

Aneh sekali.

Kemarin seorang perempuan melemparkan cek satu miliar rupiah ke wajahku sambil mengatakan keluarganya memiliki kekuasaan untuk menghancurkan hidupku.

Hari ini, perusahaan keluarganya membutuhkan persetujuan bank yang saham pengendalinya berada di tanganku.

Namun aku tidak merasakan kepuasan.

Aku justru merasa sedih.

“Apakah ada pelanggaran perjanjian kredit?”

“Belum ada pelanggaran material, Bu. Tapi ada beberapa indikator yang perlu diawasi.”

“Apakah secara bisnis permohonan mereka masih layak?”

Ruangan hening sesaat.

“Masih,” jawab Pak Surya. “Dengan syarat restrukturisasi tertentu dan tambahan jaminan.”

Aku menutup berkas.

“Kalau begitu, evaluasi berdasarkan risiko dan kelayakan bisnis. Jangan menghukum sebuah perusahaan karena masalah pribadi pemegang sahamnya dengan saya.”

Beberapa orang tampak terkejut.

Mungkin mereka sudah mendengar kabar tentang rencana pernikahanku dengan Arka. Di kalangan bisnis Jakarta, rahasia jarang bertahan lama.

Aku melanjutkan, “Tetapi jangan beri perlakuan istimewa juga. Semua harus sesuai prosedur.”

Pak Surya tersenyum tipis.

“Pak Wijaya memilih orang yang tepat.”

Kalimat itu membuat tenggorokanku terasa tercekat.

Aku masih sering teringat lelaki tua itu duduk sendirian di sudut restoran.

Aku tidak pernah menyangka kebaikan kecil yang kulakukan tanpa maksud apa pun akan membawaku ke ruangan ini.

Rapat baru berjalan sekitar empat puluh menit ketika pintu tiba-tiba diketuk.

Sekretaris masuk dengan wajah gugup.

“Maaf, Bu Kirana. Ada tamu yang memaksa ingin bertemu.”

“Siapa?”

Belum sempat dia menjawab, terdengar suara dari luar.

“Kirana!”

Aku mengenal suara itu.

Arka.

Dia masuk dengan napas tersengal. Jas pengantin yang dikenakannya belum sempurna. Dasi kupu-kupunya bahkan belum terpasang.

Semua orang di ruang rapat menoleh.

Arka berhenti beberapa langkah dari pintu.

Matanya memandangku, lalu melihat seluruh jajaran direksi yang duduk di sekeliling meja.

“Kirana?”

Wajahnya penuh kebingungan.

“Kamu sedang apa di sini?”

Aku berdiri.

“Bekerja.”

“Bekerja?”

Matanya kemudian jatuh pada papan nama di depanku.

KIRANA ADIPUTRI
PEMEGANG SAHAM PENGENDALI

Wajahnya berubah.

“Apa maksudnya ini?”

Aku meminta semua orang memberi kami waktu beberapa menit.

Setelah ruangan kosong, Arka langsung mendekat.

“Aku mencarimu sejak semalam. Butik bilang kamu pergi. Ibu bilang kamu membatalkan pernikahan karena menerima uang darinya.”

Aku tertawa kecil tanpa rasa lucu.

“Tentu saja itu yang dia katakan.”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Aku menatap lelaki yang kucintai selama lima tahun.

“Ibumu datang bersama Tiara. Dia melemparkan cek satu miliar ke wajahku. Dia menghina keluargaku, asal-usulku, dan mengancam akan membuat kerabatku kehilangan pekerjaan kalau aku tetap menikah denganmu.”

Arka membeku.

“Dia melakukan itu?”

“Ya.”

“Aku tidak tahu.”

“Aku tahu kamu tidak tahu.”

Aku berjalan menuju jendela.

“Tapi ada sesuatu yang juga tidak kamu tahu.”

Kemudian kuceritakan semuanya.

Tentang Pak Wijaya.

Tentang surat wasiat.

Tentang saham bank.

Tentang alasan aku merahasiakannya.

Arka tidak menyela sedikit pun.

Ketika aku selesai, dia duduk perlahan.

“Jadi selama sebulan ini…”

“Aku ingin memastikan siapa yang mencintaiku sebagai Kirana dan siapa yang menghormatiku hanya karena uang.”

Arka menatapku lama.

“Termasuk aku?”

Aku mengangguk.

“Termasuk kamu.”

Wajahnya terluka.

Namun dia tidak marah.

Dia justru menarik napas panjang.

“Kalau begitu aku gagal membuatmu merasa cukup aman untuk mengatakan yang sebenarnya.”

Jawaban itu membuatku terdiam.

Aku mengira dia akan mempertanyakan kenapa aku menyembunyikan kekayaan sebesar itu.

Namun dia justru menyalahkan dirinya sendiri.

“Aku mencarimu bukan karena perusahaan, Kirana. Aku bahkan baru tahu kamu ada di sini setelah melacak lokasi ponsel yang dulu kita aktifkan bersama.”

Dia mengeluarkan ponselnya.

“Kalau kamu tidak mau menikah denganku hari ini, aku terima. Tapi jangan mengambil keputusan karena ibuku.”

Mataku mulai panas.

“Aku tidak takut pada ibumu lagi.”

“Lalu kenapa kamu pergi?”

“Karena aku takut setelah menikah, aku akan terus dipaksa membuktikan bahwa aku pantas menjadi bagian dari keluargamu.”

Arka berdiri.

“Kalau begitu jangan menjadi bagian dari keluargaku.”

Aku menatapnya bingung.

Dia mendekat.

“Biar aku yang membangun keluarga baru bersamamu.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Namun sebelum aku sempat menjawab, pintu ruang rapat kembali terbuka.

Kali ini suara sepatu hak terdengar cepat.

Nyonya Baskoro muncul bersama Tiara dan Pak Baskoro.

Wajah Nyonya Baskoro merah padam.

“Arka!”

Dia langsung menunjukku.

“Perempuan ini sengaja mempermalukan keluarga kita! Dia membatalkan pernikahan lalu menyeretmu ke sini?”

Tiara menatapku sinis.

“Jadi kamu bekerja di bank ini sekarang? Jangan bilang kamu sengaja mencari pekerjaan di sini supaya terlihat hebat.”

Aku belum menjawab ketika Pak Surya masuk dari belakang mereka.

“Nyonya Baskoro, mohon menjaga sikap.”

Perempuan itu mendengus.

“Anda tahu siapa saya?”

“Tentu.”

“Kalau begitu suruh pegawai ini keluar. Saya datang untuk membicarakan fasilitas kredit Baskoro Group.”

Pak Surya terdiam beberapa detik.

Kemudian dia menatapku.

“Maaf, Bu Kirana. Apakah rapat dilanjutkan?”

Wajah Nyonya Baskoro berubah.

“Bu Kirana?”

Pak Surya mengangguk.

“Benar. Ibu Kirana adalah pemegang saham pengendali Nusantara Capital Bank.”

Keheningan yang muncul setelah itu terasa hampir tidak nyata.

Tiara tertawa kecil.

“Jangan bercanda.”

Tidak ada seorang pun ikut tertawa.

Pak Baskoro mengambil dokumen yang tergeletak di meja. Matanya bergerak cepat membaca beberapa halaman.

Kemudian wajahnya pucat.

“Kirana… ini benar?”

Aku mengangguk.

Nyonya Baskoro mundur selangkah.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Karena kamu…”

Dia berhenti.

“Karena saya miskin?”

Wajahnya menegang.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

“Kemarin Anda mengatakan uang dan kekuasaan menentukan siapa yang dihormati dan siapa yang diinjak.”

Dia tidak mampu menjawab.

Aku mengambil sebuah dokumen dari meja.

“Baskoro Group mengajukan tambahan fasilitas kredit. Saya baru saja membahasnya.”

Nyonya Baskoro langsung pucat.

Tiara pun tidak lagi tersenyum.

“Kirana,” kata Pak Baskoro perlahan, “apa pun masalah antara kamu dan istri saya, perusahaan mempekerjakan ribuan orang.”

“Aku tahu.”

Aku mendorong dokumen itu kembali ke tengah meja.

“Karena itulah saya tidak akan membalas penghinaan pribadi dengan menghancurkan perusahaan.”

Mereka menatapku.

“Permohonan Baskoro Group akan dinilai secara profesional. Kalau layak, bank akan menyetujuinya dengan persyaratan yang diperlukan. Kalau tidak layak, bank akan menolaknya. Tidak lebih dan tidak kurang.”

Pak Baskoro menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa malu di wajahnya.

Namun Nyonya Baskoro masih mencoba mempertahankan harga dirinya.

“Jadi sekarang kamu ingin menunjukkan bahwa kamu lebih berkuasa?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Aku mendekatinya.

“Saya hanya ingin menunjukkan perbedaan antara kekuasaan dan martabat.”

Dia terdiam.

“Orang yang punya kekuasaan bisa menghancurkan orang lain. Tapi orang yang punya martabat tidak perlu melakukannya hanya karena dia mampu.”

Mata Nyonya Baskoro berkaca-kaca.

Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang yang dianggapnya berada jauh di bawah dirinya memiliki kesempatan untuk menghancurkannya, tetapi memilih tidak melakukannya.

Tiara tiba-tiba berkata, “Sudahlah, Tante. Kalau Arka mau menikahi perempuan seperti dia, biarkan saja.”

Arka menoleh tajam.

“Perempuan seperti dia?”

Tiara terdiam.

Arka melepaskan jam tangan mahal pemberian ibunya dan meletakkannya di meja.

“Mulai hari ini, jangan atur hidupku lagi, Bu.”

Nyonya Baskoro menatap putranya.

“Kamu memilih dia daripada keluargamu?”

“Aku memilih untuk berhenti membiarkan keluarga menghina orang yang kucintai.”

Kemudian Arka menggenggam tanganku.

“Kalau Kirana masih mau menerimaku.”

Aku menatap tangannya.

Lima tahun.

Begitu banyak kenangan.

Begitu banyak perjuangan.

Namun aku tidak langsung menggenggamnya kembali.

“Aku tidak mau menikah hari ini.”

Wajah Arka jatuh.

Ibunya menahan napas.

Aku melanjutkan, “Aku tidak mau menikah saat kita masih marah, terluka, dan ingin membuktikan sesuatu kepada siapa pun.”

Arka menatapku.

“Kalau begitu kapan?”

Aku tersenyum kecil.

“Kalau kita masih saling memilih setelah semua ini selesai.”

Tiga bulan kemudian, Baskoro Group mendapatkan restrukturisasi kredit setelah memenuhi persyaratan tambahan yang ditetapkan komite kredit secara independen.

Tidak ada perlakuan istimewa.

Tidak ada balas dendam.

Pak Baskoro bahkan mulai melakukan perubahan besar dalam tata kelola perusahaannya.

Sedangkan Nyonya Baskoro tidak pernah menghubungiku selama hampir dua bulan.

Sampai suatu sore, dia datang sendirian ke restoran tempat aku dulu bekerja.

Aku sedang berada di sana untuk menemui beberapa teman lama.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada berlian berlebihan.

Dia hanya mengenakan blus sederhana.

Dia duduk di meja tempat Pak Wijaya dulu biasa duduk.

“Kirana.”

Aku menghampirinya.

Dia mengeluarkan sebuah amplop.

Jantungku sempat berdegup lebih cepat.

Namun ketika kubuka, tidak ada cek.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas.

Tulisan tangannya sedikit gemetar.

Maafkan saya.

Aku menatapnya.

“Kenapa sekarang?”

Air matanya jatuh.

“Karena selama hidup saya mengira kemiskinan adalah hal paling memalukan yang bisa dimiliki seseorang.”

Dia menunduk.

“Ternyata yang lebih memalukan adalah memiliki segalanya tetapi tidak tahu cara menghargai manusia.”

Aku duduk di depannya.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Luka tidak sembuh hanya karena satu kata maaf.

Namun hari itu kami berbicara untuk pertama kalinya sebagai dua manusia, bukan sebagai calon mertua kaya dan gadis miskin yang dianggap tidak pantas.

Enam bulan setelah kejadian di butik, aku akhirnya menikah dengan Arka.

Pernikahan kami tidak digelar di ballroom hotel bintang lima.

Kami memilih taman kecil di luar Jakarta, dihadiri orang-orang yang benar-benar berarti bagi kami.

Aku mengenakan gaun putih sederhana.

Hampir sama sederhana dengan gaun yang pernah kulepas sehari sebelum pernikahan pertama kami.

Ketika aku berjalan menuju Arka, aku melihat Nyonya Baskoro duduk di barisan depan.

Dia menangis.

Bukan karena kehilangan kendali atas putranya.

Melainkan karena akhirnya belajar melepaskannya.

Setelah upacara selesai, dia menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat potongan-potongan cek satu miliar rupiah yang pernah kurobek.

Ternyata dia memungutnya dari lantai butik dan menyimpannya.

“Aku ingin kamu menyimpannya,” katanya.

Aku menggeleng sambil tersenyum.

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

Aku menggenggam tangan Arka.

“Karena saya sudah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.”

Dia menatap kami.

Aku melanjutkan, “Kesempatan untuk mengetahui nilai manusia sebelum mengetahui jumlah kekayaannya.”

Hari itu aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah maupun ruang rapat.

Pak Wijaya tidak mewariskan bank kepadaku karena aku pernah membawakan makanan untuk seorang miliarder.

Dia mewariskannya kepada perempuan yang tetap membawakan makanan hangat ketika mengira lelaki tua di depannya tidak memiliki apa-apa.

Dan mungkin itulah warisan terbesarnya.

Bukan saham.

Bukan gedung tinggi.

Bukan uang triliunan rupiah.

Melainkan sebuah pelajaran sederhana bahwa kekayaan bisa mengubah cara dunia memandang seseorang, tetapi hanya karakter yang menentukan siapa dirinya ketika tidak ada seorang pun yang tahu berapa banyak uang yang dimilikinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang