“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan dulu,” kataku sambil berdiri di depan mereka. “Selama aku bekerja, sebenarnya apa yang kalian lakukan pada Santi?”
Dita langsung memalingkan wajah. Aris yang sejak tadi memegang ponsel pura-pura sibuk melihat layar. Hanya Ibu yang masih menatapku seolah pertanyaanku tidak masuk akal.
“Memangnya kenapa?” jawab Ibu. “Santi cuma bantu-bantu pekerjaan rumah. Masa perempuan tinggal di rumah seharian tidak melakukan apa-apa?”
Aku mengepalkan tangan di samping tubuh, tetapi berusaha menjaga suaraku tetap rendah.
“Dia hamil delapan bulan, Bu.”
“Ibu juga pernah hamil.”
“Kehamilannya berisiko.”
“Dokter zaman sekarang terlalu banyak melarang.”
Jawaban itu membuatku terdiam beberapa detik.
Aku tidak percaya perempuan yang membesarkanku bisa berbicara seperti itu tentang cucunya sendiri.
Aku menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.
“Piring di dapur sebanyak itu bekas siapa?”
Dita menjawab dengan wajah masam.
“Kami tadi pesan makanan, terus makan. Ada juga bekas makan siang.”
“Kenapa Santi yang mencuci?”
“Dia kan yang pegang rumah ini,” kata Dita santai. “Kami tamu.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Aku benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Tamu?”
Aku menatap satu per satu wajah mereka.
“Tamu yang sudah tinggal hampir satu bulan, menggunakan listrik, air, makan dari belanjaanku, dan membiarkan perempuan hamil mengurus kalian?”
Wajah Dita langsung berubah.
“Mas, jangan ngomong seolah-olah kami ini benalu.”
Aku menatap Aris.
“Selama tinggal di sini, kamu bantu apa?”
Aris akhirnya meletakkan ponselnya.
“Aku sempat bantu angkat galon.”
“Selain itu?”
Dia diam.
“Cari kerja?”
Wajahnya menegang.
“Itu urusanku.”
“Benar. Tapi selama satu bulan biaya hidupmu menjadi urusanku.”
Ibu mendadak memukul meja.
“Rian, cukup!”
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu sekarang berani menghina keluarga sendiri gara-gara istri?”
Kalimat itu menyakitkan lebih dari yang kuduga.
Bukan karena tuduhannya.
Tetapi karena Ibu benar-benar melihat situasi ini sebagai pertarungan antara keluarga dan istriku.
Padahal bagiku, Santi adalah keluargaku.
Aku membuka amplop yang sejak tadi kubawa.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen.
Aku mengeluarkannya satu per satu, lalu meletakkannya di meja.
“Ini apa?” tanya Dita.
“Dokumen kepemilikan rumah.”
Mereka terdiam.
Aku melanjutkan.
“Tadi sore aku dari kantor notaris. Ada perubahan yang sedang kuproses.”
Ibu menyipitkan mata.
“Perubahan apa?”
“Rumah ini sebelumnya atas namaku. Mulai minggu depan, kepemilikannya akan menjadi atas nama aku dan Santi bersama.”
Dita mendengus.
“Terus?”
“Artinya keputusan siapa yang boleh tinggal di sini juga hak Santi.”
Aku mengambil tiga buah kantong plastik besar dari lemari bawah tangga.
Lalu meletakkannya di depan mereka.
“Kalian punya waktu sampai besok pukul sepuluh pagi untuk berkemas.”
Ruangan mendadak benar-benar sunyi.
Aris berdiri.
“Apa?”
“Kalian pindah.”
Wajah Ibu memerah.
“Kamu mengusir ibumu sendiri?”
“Aku meminta Ibu keluar dari rumah yang sekarang membuat istriku merasa tidak aman.”
Ibu berdiri dengan tubuh gemetar.
“Kurang ajar!”
Dita segera memegang lengannya.
“Bu, sudahlah.”
Namun Ibu menepis tangan Dita.
“Ibu melahirkanmu! Ibu membesarkanmu! Sekarang setelah punya istri, kamu mengusir ibu seperti orang asing?”
Aku merasakan dada sesak.
Kenangan masa kecil melintas cepat.
Ibu yang menyuapiku ketika sakit.
Ibu yang menjahit seragamku.
Ibu yang menjual gelang emas agar aku bisa membayar uang kuliah.
Aku tidak pernah melupakan semua itu.
Justru karena itulah keputusan malam itu terasa sangat berat.
Aku berdiri.

“Aku tidak pernah melupakan semua yang Ibu lakukan untukku.”
Suaraku sedikit bergetar.
“Tapi kebaikan masa lalu tidak memberi siapa pun hak untuk menyakiti orang yang menjadi tanggung jawabku sekarang.”
Ibu terdiam.
Aku menatapnya lurus.
“Kalau tadi aku pulang satu atau dua jam lebih lambat, bagaimana kalau Santi pingsan di dapur? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada bayi kami?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengambil ponsel.
“Kita bisa cari penginapan malam ini. Aku bayarkan tiga malam. Besok aku antar Ibu pulang atau ke tempat saudara.”
Dita langsung menyela.
“Rumah di kampung belum selesai.”
Aku menatapnya.
“Benarkah?”
Wajah Dita mendadak pucat.
Aku menangkap perubahan itu.
“Apa maksudmu?” tanya Ibu.
Aku mengeluarkan satu lembar kertas lain dari amplop.
Sebenarnya dokumen itu bukan bagian dari urusan rumahku.
Sore tadi, ketika berbicara dengan staf kantor mengenai renovasi kecil rumah orang tuaku beberapa tahun lalu, aku secara kebetulan menghubungi Pak Hendra, tetangga lama kami di kampung yang juga bekerja sebagai tukang bangunan.
Aku hanya bertanya kapan renovasi rumah Ibu diperkirakan selesai.
Jawaban Pak Hendra membuatku bingung.
Tidak ada renovasi.
Atap rumah Ibu memang diperbaiki dua bulan lalu, tetapi hanya berlangsung tiga hari.
Rumah itu sudah bisa ditempati sejak lama.
Aku membuka percakapan WhatsApp dan meletakkan ponsel di meja.
“Pak Hendra bilang rumah Ibu tidak sedang direnovasi.”
Wajah Ibu langsung kaku.
Aku menatap Dita.
“Kalian bohong kepadaku.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menunjuk Aris.
“Kenapa?”
Aris mengusap wajahnya.
“Masalahnya nggak sesederhana itu.”
“Jelaskan.”
Dita mulai menangis.
“Kami punya utang.”
Aku mengernyit.
“Utang apa?”
Aris langsung menatap Dita tajam.
“Diam.”
Namun semuanya sudah terlambat.
Dita menutup wajah.
“Utang pinjaman online.”
Aku merasa tengkukku dingin.
“Berapa?”
Tidak ada jawaban.
“Berapa, Dita?”
“Sekitar seratus delapan puluh juta.”
Aku hampir mengira salah dengar.
“Seratus delapan puluh juta?”
Dita menangis semakin keras.
Ternyata Aris menggunakan beberapa aplikasi pinjaman ilegal sejak kehilangan pekerjaan. Awalnya uang itu dipakai untuk menutup cicilan motor. Lalu dipakai lagi untuk membayar utang sebelumnya. Setelah itu jumlahnya membengkak.
Beberapa penagih mulai mendatangi rumah mereka.
Karena takut, Dita dan Aris pindah ke rumah Ibu.
Namun alamat Ibu pun akhirnya diketahui.
Itulah alasan sebenarnya mereka datang ke rumahku.
Mereka berharap bisa bersembunyi beberapa bulan.
Lebih buruk lagi, Ibu mengetahuinya.
“Ibu cuma ingin menolong adikmu,” katanya lirih.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Dengan menjadikan rumahku tempat persembunyian?”
“Ibu tidak punya pilihan.”
“Kenapa tidak bicara kepadaku?”
“Kamu pasti marah.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi lebih baik membohongiku?”
Ibu menunduk.
Kemudian Dita mengatakan sesuatu yang membuat kemarahanku berubah menjadi rasa dingin.
“Mas, sebenarnya… Ibu menyuruh Santi jangan cerita.”
Aku menatap Ibu.
“Apa?”
Dita mengusap air mata.
“Beberapa kali Santi mau telepon Mas waktu kelelahan. Tapi Ibu bilang jangan bikin Mas kepikiran saat kerja.”
Ibu langsung membentak.
“Dita!”
Namun Dita terus berbicara.
“Terus… kemarin Santi sempat bilang perutnya kencang setelah mengepel. Ibu bilang itu biasa.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Mengepel?”
Aku menoleh kepada Ibu.
“Dokter melarang dia melakukan pekerjaan berat.”
Ibu terlihat mulai panik.
“Rian, Ibu tidak tahu separah itu.”
“Karena Ibu tidak pernah mau tahu.”
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari kamar.
Aku langsung berlari.
“Santi?”
Ketika membuka pintu, kulihat istriku berdiri di samping ranjang sambil memegangi perut.
Wajahnya pucat.
“Mas…”
Aku berlari mendekat.
“Ada apa?”
“Perutku sakit.”
Nada suaranya berbeda.
Bukan sekadar mengeluh kelelahan.
Wajahku langsung dingin.
“Sejak kapan?”
“Beberapa menit.”
Kemudian Santi meringis.
Tangannya mencengkeram lenganku kuat-kuat.
“Mas… sakit lagi.”
Aku tidak berpikir panjang.
Aku mengambil tas persalinan yang sudah kami siapkan sejak dua minggu sebelumnya.
“Kita ke rumah sakit sekarang.”
Ibu berdiri di depan pintu kamar.
“Rian, mungkin cuma kontraksi palsu.”
Aku menatapnya.
“Tidak ada yang meminta pendapat Ibu.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Ibu benar-benar terdiam di hadapanku.
Aku membawa Santi ke mobil.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tangannya menggenggam jemariku.
Aku terus berbicara meski tidak tahu apakah kata-kataku bisa menenangkan siapa pun.
“Sebentar lagi sampai.”
Santi mengangguk lemah.
“Mas.”
“Iya?”
“Jangan marah sama Ibu terlalu lama.”
Aku menoleh kepadanya sekilas.
Di saat tubuhnya sendiri kesakitan, dia masih memikirkan orang lain.
Mataku panas.
“Kamu jangan pikirkan itu sekarang.”
Kami tiba di instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan sekitar pukul sebelas malam.
Santi langsung dibawa ke ruang observasi.
Aku menunggu di luar selama hampir satu jam yang terasa seperti satu tahun.
Akhirnya dokter keluar.
“Suaminya?”
Aku langsung berdiri.
“Ya, Dok.”
“Untuk sementara kondisi ibu dan janin stabil.”
Aku hampir kehilangan tenaga karena lega.
“Tapi pasien mengalami kontraksi yang dipicu kelelahan dan dehidrasi ringan. Karena usia kandungannya belum cukup, kami akan melakukan observasi untuk mencegah persalinan prematur.”
Kalimat itu menghantamku.
“Apakah berbahaya?”
“Sekarang stabil. Namun setelah pulang nanti, dia harus benar-benar mengurangi aktivitas.”
Aku mengangguk berkali-kali.
Ketika akhirnya diizinkan masuk, Santi sedang berbaring dengan infus terpasang.
Aku duduk di sampingnya.
“Maaf.”
Santi menatapku bingung.
“Kenapa Mas minta maaf?”
“Seharusnya aku tahu.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Aku membawa mereka ke rumah karena kupikir mereka akan menjagamu.”
Santi menggenggam tanganku.
“Mas juga nggak tahu.”
“Tapi aku suamimu.”
Aku menunduk.
“Aku terlalu sibuk mencari uang untuk menjaga masa depan kalian sampai hampir gagal menjaga kalian hari ini.”
Santi terdiam.
Kemudian dia berkata pelan.
“Kalau Mas mau menjaga kami, jangan cuma marah.”
Aku menatapnya.
“Buat batas yang jelas.”
Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalaku sampai pagi.
Sekitar pukul tujuh, dokter mengizinkan Santi pulang dengan syarat istirahat total selama beberapa hari.
Ketika kami tiba di rumah, sebuah mobil bak terbuka sudah terparkir di depan.
Beberapa koper berada di teras.
Ibu, Dita, dan Aris sudah berkemas.
Tidak ada lagi suara televisi.
Tidak ada bungkus makanan.
Rumah terasa berbeda.
Ibu berdiri ketika melihat Santi turun dari mobil.
Wajahnya langsung berubah pucat.
“Santi…”
Santi tersenyum tipis.
“Kami dari rumah sakit, Bu.”
Ibu menutup mulutnya.
“Astaghfirullah.”
Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, kesombongan di wajahnya runtuh.
“Bagaimana cucu Ibu?”
“Masih aman,” jawabku. “Tapi hampir terjadi persalinan prematur.”
Ibu langsung menangis.
Dia mendekati Santi, tetapi berhenti beberapa langkah darinya.
Seolah tidak yakin dirinya masih pantas menyentuh menantunya.
“Ibu minta maaf.”
Santi tidak menjawab segera.
Kemudian dia berkata lembut.
“Saya memaafkan Ibu. Tapi saya tidak bisa hidup seperti kemarin lagi.”
Ibu mengangguk.
“Aku mengerti.”
Aku membantu memasukkan koper mereka ke mobil.
Aris berdiri diam di sampingku.
“Mas.”
Aku menoleh.
“Aku akan cari kerja.”
Aku tidak menjawab.
Kemudian dia melanjutkan.
“Aku juga akan urus utangku sendiri.”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu sungguh mau berubah, mulai dengan berhenti lari.”
Dia mengangguk.
Aku tidak memberi uang untuk melunasi utang mereka.
Aku hanya membantu menghubungkan Aris dengan seorang teman yang membutuhkan supervisor gudang. Gajinya tidak besar, tetapi cukup sebagai awal.
Aku juga membantu Dita menyusun restrukturisasi pembayaran melalui jalur legal dan melaporkan beberapa penagih ilegal.
Mereka harus bertanggung jawab atas keputusan mereka sendiri.
Dua bulan kemudian, Santi melahirkan seorang bayi laki-laki sehat.
Kami memberinya nama Galang.
Hari kelahirannya menjadi hari pertama Ibu kembali mengunjungi rumah kami setelah malam itu.
Namun kali ini berbeda.
Ibu mengetuk pintu.
Dia tidak langsung masuk.
Ketika aku membukanya, dia membawa satu tas kecil.
“Boleh Ibu masuk?”
Aku menatap Santi.
Santi tersenyum.
“Silakan, Bu.”
Ibu berjalan perlahan menuju bayi kami.
Ketika menggendong Galang, air matanya jatuh.
“Maafkan Nenek ya,” bisiknya.
Hubunganku dengan Ibu tidak langsung kembali seperti dulu.
Butuh waktu.
Ada luka yang tidak selesai hanya dengan satu kata maaf.
Namun sesuatu yang jauh lebih penting akhirnya kami pelajari.
Menjadi anak yang berbakti bukan berarti membiarkan orang tua melakukan apa saja.
Menjadi saudara yang baik bukan berarti menanggung semua kesalahan saudara.
Dan menjadi kepala keluarga bukan sekadar bekerja keras mencari uang.
Terkadang, tugas paling berat justru berdiri di depan orang-orang yang kita cintai dan berkata, cukup.
Setahun setelah malam itu, Aris masih bekerja di gudang yang sama dan sudah melunasi lebih dari separuh utangnya.
Dita mulai berjualan makanan beku dari rumah.
Sementara Ibu tidak pernah lagi datang tanpa mengabari.
Suatu sore, ketika kami sedang duduk di teras, Ibu menatapku sambil menggendong Galang.
“Rian.”
“Ya, Bu?”
“Ibu dulu marah karena merasa kamu memilih istrimu daripada keluarga.”
Aku diam.
Ibu tersenyum kecil.
“Ternyata Ibu salah.”
Dia menatap Santi yang sedang menyiram tanaman.
“Kamu bukan memilih istrimu daripada keluarga.”
Ibu mengusap kepala Galang.
“Kamu sedang menjaga keluargamu.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya melihat Santi menoleh kepadaku dari halaman.
Dia tersenyum.
Dan saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Malam ketika aku mengusir keluargaku bukanlah malam ketika keluargaku hancur.
Justru malam itulah kami semua dipaksa belajar arti keluarga yang sebenarnya.
