Malam itu seharusnya menjadi akhir dari perjalanan panjang Arya Wicaksana dari Shanghai. Namun ketika ia berlutut di atas karpet kamar anak-anaknya, menggenggam tangan Dimas dan Bayu sementara Raka bersandar di bahunya, Arya merasa perjalanan sesungguhnya justru baru dimulai.
Setelah doa selesai, tidak seorang pun langsung berdiri.
Bayu masih memeluk leher ayahnya erat-erat, seolah takut Arya akan kembali menghilang begitu ia melepaskan tangan. Raka menyeka matanya sambil tersenyum malu. Dimas, yang selama dua tahun terakhir selalu berusaha terlihat kuat, justru menundukkan kepala.
Arya mengusap rambut putra sulungnya.
“Kamu kenapa?”
Dimas menggeleng.
“Enggak apa-apa.”
“Papa tahu wajahmu kalau sedang menyembunyikan sesuatu.”
Anak delapan tahun itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbisik, “Besok Papa pergi lagi?”
Pertanyaan sederhana itu menusuk Arya tepat di tempat yang paling sakit.
Biasanya ia akan menjawab bahwa pekerjaannya penting. Bahwa semua yang dilakukannya adalah demi masa depan mereka. Bahwa suatu hari nanti anak-anak akan mengerti.
Namun malam itu ia tidak sanggup mengucapkan alasan yang sama.
Arya menggeleng.
“Besok Papa di rumah.”
Dimas mengangkat wajah.
“Lusa?”
“Di rumah.”
“Minggu depan?”
Arya menarik napas.
“Papa belum tahu. Tapi mulai sekarang, kalau Papa harus pergi, Papa akan bilang langsung kepada kalian. Bukan lewat Mbak Sari, bukan lewat sekretaris Papa.”
Dimas memandangnya seolah sedang mencoba memastikan apakah janji itu benar.
“Janji?”
“Janji.”
Dimas mengulurkan kelingkingnya.
Arya tertegun sesaat sebelum mengaitkan kelingking mereka.
Laras menyaksikan dari dekat pintu. Senyum kecil muncul di wajahnya, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang tidak dapat dibaca Arya.
Malam semakin larut ketika ketiga anak akhirnya tertidur. Arya turun ke lantai bawah dan menemukan Laras sedang merapikan beberapa buku cerita di ruang keluarga.
“Kita perlu bicara,” katanya.
Laras berhenti.
“Apakah saya melakukan kesalahan, Pak?”
“Justru sebaliknya.”
Arya duduk di sofa.
“Duduklah.”
Laras ragu sebelum mengambil kursi di seberangnya.
Arya memperhatikannya beberapa saat.
“Bagaimana kamu melakukannya?”
“Melakukan apa?”
“Membuat mereka berubah.”
Laras tersenyum tipis.
“Saya tidak mengubah mereka.”
Jawaban itu membuat Arya mengernyit.
“Mereka jelas berbeda.”
“Mereka tidak pernah menjadi anak nakal, Pak Arya.”
Arya terdiam.
“Mereka hanya anak-anak yang kehilangan ibu dan merasa ayah mereka ikut pergi.”
Kalimat itu terdengar lembut, tetapi menghantam jauh lebih keras daripada teguran.
Arya menunduk.
Tidak ada investor yang berani berbicara kepadanya seperti itu. Bahkan para direktur perusahaannya selalu memilih kata-kata paling aman ketika menyampaikan kesalahan.
Namun perempuan yang baru bekerja empat minggu di rumahnya justru mengatakan sesuatu yang selama ini tidak berani diucapkan siapa pun.
Laras melanjutkan, “Dimas marah karena dia takut. Raka sulit makan karena dulu ibunya sering menemaninya. Bayu takut gelap karena malam kecelakaan itu dia terbangun dan mendengar orang-orang menangis.”
Arya mengangkat kepala cepat.
“Kamu tahu soal malam itu?”
“Mereka yang bercerita.”
“Mereka tidak pernah menceritakannya kepadaku.”
“Karena Bapak tidak pernah bertanya.”
Sunyi memenuhi ruangan.
Arya memandang jendela besar yang menghadap taman. Kabut Puncak menempel di kaca seperti tirai putih.
Ia merasa malu.

Selama dua tahun ia membayar psikolog, pengasuh, guru privat, bahkan mendesain ulang kamar anak-anak. Namun ia tidak pernah benar-benar duduk dan bertanya apa yang mereka rasakan.
“Kenapa kamu peduli sebanyak ini?” tanyanya akhirnya.
Wajah Laras berubah.
Untuk pertama kalinya sejak Arya mengenalnya, ketenangan perempuan itu retak.
“Saya pernah kehilangan seseorang juga.”
“Siapa?”
Laras menatap kedua tangannya.
“Anak saya.”
Arya membeku.
Laras menarik napas panjang.
“Namanya Nara. Dia meninggal tiga tahun lalu karena demam berdarah. Umurnya lima tahun.”
Arya tidak tahu harus berkata apa.
“Saat itu saya masih mengajar di TK di Solo. Saya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mengira demamnya biasa. Ketika saya membawanya ke rumah sakit, kondisinya sudah berat.”
Suara Laras mulai bergetar.
“Sejak Nara meninggal, saya berhenti mengajar. Pernikahan saya juga tidak bertahan. Suami saya menyalahkan saya. Saya menyalahkan diri sendiri. Semua hancur.”
Air mata mengalir perlahan di pipinya.
“Itulah sebabnya ketika saya melihat anak-anak Bapak, saya tahu mereka bukan membutuhkan orang yang mengatur jadwal mereka. Mereka membutuhkan seseorang yang mau tinggal ketika mereka sedang marah.”
Arya menundukkan kepala.
Sekarang ia mengerti.
Laras tidak sekadar bekerja.
Perempuan itu sedang menyembuhkan luka anak-anaknya sambil mencoba berdamai dengan lukanya sendiri.
Namun percakapan mereka terputus ketika terdengar suara langkah dari tangga.
Dimas berdiri di sana.
Wajahnya pucat.
“Kak Laras mau pergi?”
Laras buru-buru menghapus air matanya.
“Tidak. Kakak cuma bicara sama Papa.”
Dimas turun beberapa anak tangga.
“Tapi tadi Kak Laras bilang anak Kakak meninggal.”
Arya dan Laras saling pandang.
Ternyata Dimas mendengar semuanya.
Anak itu berjalan mendekati Laras, lalu melakukan sesuatu yang membuat keduanya terpaku.
Ia memeluk Laras.
“Kak Laras jangan sedih. Kalau Kak Nara ada di surga, mungkin dia sama Mama.”
Laras menutup mulutnya.
Tangisnya pecah.
Arya berdiri, tetapi tidak mendekat. Ia membiarkan momen itu menjadi milik mereka.
Keesokan paginya, vila yang biasanya sunyi berubah gaduh.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Arya sarapan bersama ketiga anaknya.
Raka memaksanya mencicipi bolu cokelat yang dibuat malam sebelumnya.
“Enak?”
Arya mengunyah dengan ekspresi serius.
“Sepertinya ada kulit telur.”
Raka membelalak.
“Serius?”
Arya tertawa.
“Enggak.”
Raka memukul lengan ayahnya sambil tertawa keras.
Bayu meminta Arya mengantarnya melihat bunga mawar. Dimas menunjukkan rumah kayu kecil yang sedang dibuatnya di taman.
Arya membatalkan tiga rapat daring pagi itu.
Sekretarisnya, Kevin, menelepon empat kali.
Pada panggilan kelima, Arya mengangkat.
“Pak, direksi menunggu. Presentasi akuisisi dimulai dua puluh menit lagi.”
“Pindahkan ke sore.”
“Tapi investor Singapura sudah bergabung.”
Arya memandang Bayu yang sedang mencoba menangkap kupu-kupu.
“Kalau mereka serius ingin berbisnis dengan kita, mereka bisa menunggu empat jam.”
Kevin terdiam.
“Baik, Pak.”
Arya mematikan telepon.
Namun perubahan itu ternyata tidak disambut semua orang.
Tiga hari kemudian, ibunya, Ratih Wicaksana, datang dari Jakarta.
Ratih adalah perempuan berusia enam puluh tiga tahun yang terbiasa mengatur keluarga sebesar ia mengatur yayasan miliknya.
Begitu melihat Laras duduk bersama anak-anak di ruang keluarga, wajahnya langsung berubah.
“Arya.”
“Iya, Ma?”
“Kita bicara.”
Mereka masuk ke ruang kerja.
Ratih menutup pintu.
“Kamu terlalu dekat dengan pengasuh itu.”
Arya menghela napas.
“Dia punya nama. Laras.”
“Mama tahu.”
“Lalu?”
Ratih meletakkan sebuah map di meja.
“Mama minta orang mencari tahu latar belakangnya.”
Wajah Arya mengeras.
“Mama menyelidiki pegawaiku tanpa izin?”
“Mama melindungi cucu-cucu Mama.”
Arya membuka map itu.
Ada dokumen tentang Laras. Riwayat pekerjaan, pernikahan, kematian anaknya, hingga utang yang pernah dimiliki mantan suaminya.
“Perempuan seperti ini bisa saja punya tujuan lain,” kata Ratih. “Kamu kaya, duda, punya tiga anak. Jangan naif.”
Arya menutup map keras.
“Cukup.”
“Mama hanya mengingatkan.”
“Selama dua tahun Mama melihat cucu-cucu Mama menderita. Sekarang ketika seseorang berhasil membuat mereka tersenyum, yang Mama pikirkan justru rekening bankku?”
Ratih terdiam.
Tetapi masalah sebenarnya muncul malam berikutnya.
Laras menghilang.
Kamarnya kosong.
Lemari terbuka.
Sebagian pakaiannya sudah tidak ada.
Di atas meja terdapat sebuah amplop putih.
Arya membukanya dengan tangan gemetar.
Di dalamnya hanya ada surat pendek.
Laras mengundurkan diri.
Ia menulis bahwa keberadaannya telah menimbulkan ketidaknyamanan dalam keluarga Wicaksana. Ia tidak ingin anak-anak menjadi korban konflik baru.
Arya langsung memahami siapa penyebabnya.
Ia turun ke ruang tamu dengan wajah penuh amarah.
“Mama bicara apa kepada Laras?”
Ratih yang sedang minum teh terdiam.
“Apa maksudmu?”
“Dia pergi.”
Ratih meletakkan cangkir.
“Mama hanya menjelaskan batas posisinya.”
Arya mengepalkan tangan.
Sebelum ia sempat mengatakan apa pun, terdengar teriakan dari lantai atas.
“Papa!”
Dimas berlari turun.
“Kak Laras enggak ada!”
Raka muncul di belakangnya sambil menangis.
Bayu menyusul dengan wajah panik.
Dalam hitungan menit, rumah yang selama beberapa minggu mulai dipenuhi tawa kembali menjadi kacau.
Bayu menangis histeris.
“Semua orang pergi! Mama pergi! Kak Laras pergi! Papa nanti pergi juga!”
Arya merasa darahnya berhenti mengalir.
Ia berlutut dan memeluk anak bungsunya.
“Papa tidak pergi.”
“Bohong!”
Bayu mendorongnya.
“Kak Laras bilang orang yang sayang enggak pergi diam-diam!”
Kalimat itu membuat Arya bangkit.
Ia mengambil kunci mobil.
“Arya, kamu mau ke mana?” tanya Ratih.
“Membawa pulang seseorang yang seharusnya tidak pernah Mama usir.”
Hujan turun deras ketika Arya mengemudi meninggalkan vila.
Ia menelepon Laras berkali-kali.
Tidak dijawab.
Akhirnya Kevin berhasil melacak kendaraan yang dipesankan Laras menuju Terminal Baranangsiang.
Arya tiba dua puluh menit kemudian.
Ia berlari di antara orang-orang sambil masih mengenakan kemeja rumah.
Dan di dekat pintu keberangkatan menuju Solo, ia melihat Laras.
Perempuan itu membawa koper kecil.
“Laras!”
Laras menoleh.
Wajahnya terkejut.
“Pak Arya?”
Arya berhenti di depannya, terengah-engah.
“Kamu tidak boleh pergi seperti ini.”
“Saya sudah menjelaskan lewat surat.”
“Aku tidak membutuhkan surat.”
“Pak Arya, saya tidak ingin menimbulkan masalah.”
“Kamu bukan masalahnya.”
Laras terdiam.
Arya menatapnya.
“Selama dua tahun aku berpikir rumahku hancur karena istriku meninggal. Ternyata bukan hanya itu. Rumah ini hancur karena aku berhenti menjadi bagian darinya.”
Matanya memerah.
“Kamu membuatku melihat itu.”
Laras menggenggam pegangan koper.
“Anak-anak membutuhkan Bapak sekarang. Itu sudah cukup.”
“Tidak.”
Arya menggeleng.
“Mereka juga membutuhkanmu.”
Laras hendak menjawab, tetapi Arya melanjutkan.
“Dan aku tidak memintamu kembali karena aku membutuhkan pengasuh.”
Laras menatapnya.
“Aku meminta kamu kembali karena rumah itu menjadi hidup ketika kamu ada.”
Keheningan menggantung di antara mereka.
Arya tidak mengatakan cinta.
Belum.
Ia tahu ada luka yang tidak boleh dipaksa sembuh hanya karena seseorang sedang kesepian.
Akhirnya Laras bertanya pelan, “Ibu Ratih?”
“Itu rumahku. Anak-anak itu anakku. Keputusan tentang siapa yang boleh tinggal bersama kami adalah keputusanku.”
Laras menunduk.
“Kalau saya kembali, saya tetap ingin bekerja secara profesional.”
Arya tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
“Baik.”
“Dan jangan membatalkan pekerjaan hanya untuk terlihat seperti ayah yang baik.”
Senyum Arya melebar.
“Baik.”
“Anak-anak membutuhkan ayah yang hadir, bukan ayah yang kehilangan pekerjaannya.”
Arya tertawa.
“Baik, Bu Guru.”
Mereka kembali ke vila hampir tengah malam.
Begitu mobil berhenti, pintu utama terbuka.
Dimas, Raka, dan Bayu berlari keluar tanpa alas kaki.
“Kak Laras!”
Ketiganya memeluk Laras.
Ratih berdiri di ambang pintu.
Beberapa detik kemudian, perempuan tua itu berjalan mendekat.
Arya bersiap menghadapi pertengkaran.
Namun Ratih justru menatap Laras.
“Saya minta maaf.”
Semua terdiam.
Ratih memandang cucu-cucunya.
“Saya terlalu takut kehilangan mereka sampai lupa bahwa ketakutan kadang membuat kita menyakiti orang yang justru sedang menolong.”
Laras mengangguk pelan.
“Saya mengerti, Bu.”
Enam bulan kemudian, banyak hal berubah.
Arya masih menjadi pengusaha sibuk. Ia masih terbang ke luar negeri dan memimpin perusahaan. Namun ia menetapkan aturan baru yang bahkan direksinya tidak boleh melanggar.
Setiap Jumat sore ia harus pulang.
Setiap perjalanan bisnis memiliki batas waktu.
Dan setiap malam ketika berada di luar kota, ia melakukan panggilan video dengan anak-anak.
Taman mawar di belakang vila kembali berbunga.
Suatu sore, Arya menemukan Laras berdiri di sana sambil memegang sebuah bunga putih.
“Hari ini ulang tahun Nara,” katanya.
Arya berdiri di sampingnya.
“Aku ingat.”
Laras tersenyum.
Mereka menanam satu mawar putih baru di tengah taman.
Dimas memasang papan kecil bertuliskan nama Nara.
Raka membawa air.
Bayu meletakkan batu berbentuk hati di samping tanaman itu.
Laras menangis.
Namun kali ini tangisnya berbeda.
Bukan tangisan seseorang yang tenggelam dalam masa lalu.
Melainkan tangisan seseorang yang akhirnya berani mengingat tanpa merasa hancur.
Setahun setelah malam kepulangan Arya dari Shanghai, lima orang kembali berlutut di karpet biru yang sama.
Namun ada satu hal berbeda.
Laras tidak lagi mengenakan seragam pengasuh.
Di jari manisnya terpasang cincin sederhana.
Arya duduk di sampingnya.
Dimas memimpin doa.
“Terima kasih, ya Allah, karena dulu Papa pulang lebih cepat.”
Raka menyambung, “Kalau Papa enggak pulang cepat, mungkin Papa enggak lihat kita doa.”
Bayu mengangkat tangan.
“Dan mungkin Papa enggak jatuh cinta sama Kak Laras.”
Semua tertawa.
Laras menutupi wajahnya karena malu.
Arya menarik Bayu ke dalam pelukan.
Tetapi Dimas belum selesai.
Anak itu menatap ayahnya.
“Papa masih ingat janji kelingking kita?”
Arya mengangguk.
“Tentu.”
“Papa ternyata benar.”
“Tentang apa?”
“Papa pulang.”
Arya terdiam.
Barulah ia memahami maksud putranya.
Pulang ternyata bukan sekadar kembali ke sebuah vila mewah di Puncak.
Pulang adalah ketika seseorang berhenti melarikan diri dari kehilangan.
Pulang adalah ketika seorang ayah memilih mendengarkan sebelum terlambat.
Pulang adalah ketika orang-orang yang pernah hancur menemukan keberanian untuk membangun keluarga sekali lagi.
Arya menggenggam tangan Laras sambil memandang ketiga putranya.
Bertahun-tahun ia membangun gedung tinggi, hotel mewah, dan kawasan bernilai triliunan rupiah. Namanya tercetak pada kontrak-kontrak besar dan terpampang dalam berbagai pemberitaan bisnis.
Namun pencapaian terbesarnya ternyata tidak pernah berdiri di atas sebidang tanah mahal.
Pencapaian itu berada di ruangan sederhana ini.
Tiga anak yang kembali tertawa.
Seorang perempuan yang kembali berani mencintai.
Dan seorang pria yang akhirnya memahami bahwa kekayaan terbesar bukanlah memiliki tempat untuk kembali.
Melainkan memiliki orang-orang yang membuat kita ingin selalu pulang.
