Tanganku gemetar menahan amarah dan rasa penasaran.
Selama tiga tahun, aku menuruti semua permintaannya. Selama tiga tahun, aku mencoba menjadi istri yang pengertian. Tapi malam itu, kesabaranku habis.
Aku membuka pintu kamar perlahan dan mengintip ke lorong.
Dave sudah berjalan menuju kamar ibunya di ujung rumah sambil membawa sebuah tas kecil berwarna hitam yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Jantungku berdegup kencang.

Aku menunggu beberapa detik, lalu diam-diam mengikutinya.
Lampu lorong sengaja dimatikan. Hanya cahaya remang dari bawah pintu kamar Ibu Rosa yang terlihat.
Aku mendekat tanpa suara.
Pintu kamar itu tidak tertutup rapat.
Dengan napas tertahan, aku mengintip melalui celah sempit.
Dan saat itulah, seluruh duniaku runtuh.
Ibu Rosa tidak sedang tidur.
Beliau duduk di tepi ranjang dengan tubuh gemetar hebat. Kedua tangannya mencengkeram selimut erat-erat. Wajahnya pucat, matanya kosong dipenuhi ketakutan.
Sementara Dave berlutut di depannya.
Dengan tangan yang sangat terampil, ia memasangkan alat pengukur oksigen ke jari ibunya, memeriksa tekanan darah, lalu menyuntikkan obat ke selang infus kecil yang tersembunyi di balik lengan baju panjang Ibu Rosa.
Aku menutup mulutku.
Infus?
Obat?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Saat itulah aku mendengar suara Ibu Rosa yang sangat pelan.
“Dav… Mama minta maaf. Gara-gara Mama, Jasmine jadi membencimu.”
Dave tersenyum tipis, meski matanya merah.
“Jangan pikirkan itu, Ma.”
“Tapi Mama tidak mau kalian bercerai karena Mama.”
“Aku sudah janji pada Papa.”
Aku membeku.
Janji?
Dave menghela napas panjang sebelum melanjutkan.
“Tiga tahun lalu, sebelum Papa meninggal, beliau memegang tangan aku dan memohon satu hal.”
Suara Dave mulai bergetar.
“‘Tolong jaga Mama. Kanker stadium empatnya sudah menyebar ke otak. Dokter bilang Mama akan mengalami serangan panik dan kehilangan orientasi setiap malam. Jangan biarkan dia sendirian.'”
Kakiku terasa lemas.
Kanker?
Stadium empat?
Aku sama sekali tidak tahu.
Dave melanjutkan dengan suara lirih.
“Mama yang meminta agar Jasmine tidak diberi tahu. Mama takut Jas akan merasa kasihan lalu mengorbankan masa mudanya untuk merawat Mama.”
Air mata Ibu Rosa mengalir.
“Aku ingin kalian punya kehidupan normal. Aku ingin jadi ibu mertua yang baik, bukan beban.”
Dave menggenggam tangan ibunya erat.
“Dokter bilang kondisi Mama makin buruk. Serangan paniknya semakin sering. Kalau Mama bangun sendirian di malam hari, Mama bisa jatuh, kejang, atau lupa di mana Mama berada.”
Aku terduduk di lantai lorong.
Tiga tahun.
Tiga tahun aku memandang wanita itu sebagai musuh.
Tiga tahun aku bersikap dingin, kasar, bahkan berharap Dave berhenti peduli padanya.
Padahal setiap malam, suamiku bukan meninggalkanku.
Dia sedang menjaga ibunya agar tetap hidup.
Aku tidak sanggup lagi menahan tangis.
Pintu yang setengah terbuka itu terdorong pelan oleh tanganku.
Dave menoleh.
Wajahnya langsung pucat.
“Jasmine…”
Aku melangkah masuk, lalu berlutut di hadapan Ibu Rosa.
Tangisku pecah sejadi-jadinya.
“Maafkan saya, Bu… Maafkan saya…”
Aku menggenggam tangan kurusnya yang terasa dingin.
“Saya sudah berpikir buruk tentang Ibu. Saya memperlakukan Ibu dengan tidak baik. Saya benar-benar minta maaf.”
Ibu Rosa ikut menangis.
Dengan tangan gemetar, beliau mengusap kepalaku.
“Tidak, Nak. Kamu tidak salah. Kami yang menyembunyikan semuanya darimu.”
Aku menggeleng kuat-kuat.
“Tidak. Saya yang egois.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun menikah, kami bertiga menangis bersama.
Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami arti cinta.
Cinta bukan hanya tentang diprioritaskan.
Terkadang, cinta adalah tentang memahami pengorbanan yang tidak pernah diceritakan.
Sejak malam itu, aku mengambil cuti dari pekerjaanku selama beberapa minggu.
Aku belajar cara mengganti infus, mencatat jadwal obat, dan menemani Ibu Rosa menjalani kemoterapi.
Setiap malam, kami bergantian menjaga beliau.
Kadang Dave tidur di kamar ibunya, kadang aku yang menemani.
Dan setiap kali rasa bersalah itu datang, Ibu Rosa selalu menggenggam tanganku sambil berkata,
“Terima kasih sudah mencintai anakku.”
Enam bulan kemudian, kondisi Ibu Rosa menurun drastis.
Pada suatu dini hari, beliau memanggil kami berdua.
Dengan napas yang lemah, beliau tersenyum.
“Dave, Jasmine… jangan menangis saat Mama pergi.”
Beliau menatapku lama.
“Jasmine, maaf karena Mama mengambil banyak waktu suamimu.”
Aku menggenggam tangannya erat sambil menangis.
“Tidak, Bu. Justru terima kasih karena telah membesarkan pria sebaik Dave.”
Senyum Ibu Rosa melebar.
Lalu, untuk terakhir kalinya, beliau memejamkan mata.
Dengan tenang.
Dengan putranya di sisi kanan.
Dan menantunya di sisi kiri.
Setelah pemakaman selesai, Dave menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
“Itu surat dari Mama. Dia menulisnya setahun lalu.”
Dengan tangan bergetar, aku membuka surat itu.
“Jasmine, jika kamu membaca surat ini, berarti Mama sudah pergi.”
“Terima kasih karena akhirnya kamu memahami alasan Dave.”
“Mama tahu kamu wanita yang baik. Maaf karena Mama sempat membuatmu merasa sendirian.”
“Sekarang, kembalikan tiga tahun yang hilang itu. Pergilah berlibur, tertawalah bersama, dan bangun keluarga kecil yang bahagia.”
“Dan jika suatu hari nanti kamu memiliki anak, ceritakan pada mereka bahwa ayah mereka adalah pria yang selalu menepati janji.”
Aku memeluk surat itu erat-erat.
Di sampingku, Dave menangis dalam diam.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan kami, malam itu kami tidur bersama.
Bukan karena tak ada lagi seseorang yang memisahkan kami.
Melainkan karena akhirnya, tak ada lagi rahasia di antara kami.
