Tiga minggu setelah Hendra menandatangani seluruh dokumen di hadapan notaris, dia menikahi Elsa.
Aku datang ke akad itu.
Bukan sebagai perempuan yang kalah.
Aku mengenakan gaun sederhana berwarna krem, membawa Shifa, Nadia, dan Mika, lalu duduk di barisan keluarga dengan senyum tenang yang membuat beberapa orang justru terlihat lebih gugup daripada aku.
Perutku yang sudah sangat besar membuatku harus beberapa kali mengubah posisi duduk.
Elsa tampak cantik.
Usianya dua puluh enam tahun, hampir sebelas tahun lebih muda dariku. Gaun putih gading membungkus tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya dirias lembut, tetapi matanya beberapa kali melirik ke arahku.
Aku tahu tatapan itu.
Tatapan seorang perempuan yang sedang memastikan apakah perempuan lain sudah benar-benar kalah.
Saat akad selesai, Elsa menghampiriku.
“Terima kasih, Mbak Hana.”
Tangannya menggenggam tanganku.
Aku tersenyum.
“Untuk apa?”
“Karena sudah menerima saya.”
Ada sedikit getaran dalam suaranya.
Aku menatap cincin di jarinya, lalu wajah Hendra yang berdiri beberapa meter di belakangnya.
“Selamat datang di keluarga kami.”
Elsa tersenyum lega.
Dia tidak tahu bahwa bagiku, kata keluarga tidak lagi berarti Hendra.
Keluargaku adalah anak-anak.
Hendra hanya seorang laki-laki yang kebetulan masih terikat tanggung jawab kepada mereka.
Dua hari setelah pernikahan, Elsa pindah ke rumah kami.
Bukan karena aku mengundangnya.
Hendra yang mengusulkan.
“Biar semuanya lebih mudah,” katanya. “Aku tidak perlu bolak-balik.”
Aku langsung menyetujuinya.
Elsa bahkan tampak heran.
“Kamu tidak keberatan?” tanya Hendra.
“Kenapa harus keberatan?”
Aku mengusap perutku sambil tersenyum.
“Rumah ini cukup besar.”
Yang tidak mereka sadari adalah rumah itu sekarang secara hukum bukan lagi milik Hendra.
Nama pemiliknya adalah aku dan ketiga anak kami.
Itulah sebabnya, pada malam pertama Elsa tinggal bersama kami, aku mengetuk pintu kamar tamu yang kini ditempatinya.
Dia baru selesai menata koper.
“Elsa.”
“Iya, Mbak?”
Aku menyerahkan selembar kertas kepadanya.
Dia membacanya perlahan.
Wajahnya berubah.
“Ini apa?”
“Jadwal rumah.”
“Jadwal?”
Aku mengangguk.
“Di rumah ini tidak ada pembantu tetap.”
Sebenarnya dulu aku memang mempekerjakan seorang asisten rumah tangga paruh waktu.
Namun sebulan sebelum pernikahan Hendra, perempuan itu berhenti karena harus pulang ke kampung merawat ibunya.
Aku sengaja tidak mencari pengganti.
“Jadi selama aku hamil besar begini, pekerjaan rumah kita bagi.”
Elsa menatap daftar itu.
Membersihkan ruang tamu.
Menyapu.
Mengepel.
Mencuci piring setelah makan malam.
Membantu menyiapkan sarapan.
Merapikan kamar yang dia tempati sendiri.
“Kenapa nama saya banyak sekali?” tanyanya.
“Karena aku sedang hamil sembilan bulan.”
Aku menunjuk perutku.
“Dan aku mengurus tiga anak.”
Dia terdiam.
“Aku tetap masak untuk semuanya. Tetap mengurus kebutuhan anak-anak. Tapi aku tidak mungkin mengerjakan semua pekerjaan fisik.”
Elsa mengerutkan bibir.
“Mbak Hana, saya kira nanti Mas Hendra akan mempekerjakan pembantu.”
“Silakan bicarakan dengannya.”
Malam itu juga dia mengadu.
Aku mendengarnya dari kamar.
“Mas, aku datang ke sini sebagai istrimu, bukan pembantu.”
Suara Hendra terdengar menenangkan.
“Bukan begitu maksud Hana. Dia sedang hamil besar.”
“Tapi aku harus menyapu, mengepel, cuci piring…”
“Ya cuma sementara.”
“Kenapa Mbak Hana tidak mengerjakan sebagian?”
“Dia bisa melahirkan kapan saja, Elsa.”
Hening.
Kemudian terdengar suara Elsa yang lebih pelan.
“Kalau begitu sewa pembantu.”
Hendra terdiam cukup lama.
Aku tahu alasannya.
Keuangan Hendra tidak selonggar yang Elsa bayangkan.
Pernikahan mereka menghabiskan banyak uang.
Sesuai perjanjian denganku, jumlah yang sama harus dimasukkan Hendra ke rekening dana darurat keluarga.
Belum lagi biaya rumah tangga, cicilan mobil, sekolah anak-anak, tabungan pendidikan, dan biaya pemeriksaan kehamilanku.
Hendra yang selama ini terlihat seperti laki-laki mapan mendadak harus menghitung setiap pengeluaran.
“Bulan depan kita cari,” katanya akhirnya.
Bulan depan tidak pernah datang.
Minggu pertama, Elsa masih mencoba tersenyum.
Minggu kedua, dia mulai mengeluh.
Minggu ketiga, topengnya mulai lepas.
Suatu pagi aku menemukannya berdiri di dapur dengan wajah kusut.
Tumpukan piring masih ada di wastafel.
“Elsa.”
Dia menoleh tajam.
“Apa?”
“Piring semalam belum dicuci.”
“Aku capek.”
“Aku juga.”
“Aku bukan pembantu.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Dan aku bukan pembantumu.”
Dia terdiam.
“Aku tidak pernah menyuruhmu mencuci pakaian anak-anak. Tidak pernah menyuruhmu memasak. Tidak pernah meminta kamu membersihkan kamarku. Kita cuma membagi pekerjaan rumah yang sama-sama kita tinggali.”

Wajahnya memerah.
“Mbak Hana sengaja melakukan ini karena benci aku, kan?”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau aku membencimu, aku bisa melarangmu menginjakkan kaki di rumah ini.”
Dia terpaku.
“Rumah ini milikku dan anak-anak.”
Kalimat itu membuat Elsa membeku.
Rupanya Hendra belum memberitahunya.
“Mas Hendra bilang ini rumahnya.”
“Dulu.”
Aku mengambil segelas air.
“Sekarang sertifikatnya atas namaku dan anak-anak.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan nyata di mata Elsa.
Malam itu mereka bertengkar besar.
“Apa maksudnya rumah sudah bukan milik Mas?”
Suara Elsa terdengar sampai lantai bawah.
“Kecilkan suara.”
“Jawab aku!”
“Itu cuma pengamanan untuk anak-anak.”
“Kamu tidak pernah bilang!”
“Kenapa aku harus bilang?”
“Karena aku istrimu!”
“Aku menikahimu, bukan berarti semua asetku otomatis menjadi milikmu.”
Aku duduk di ruang tengah sambil menemani Shifa membaca buku.
Anak sulungku menatap tangga.
“Bunda.”
“Hm?”
“Ayah berantem lagi?”
Aku mengusap rambutnya.
“Tidak usah didengarkan.”
Shifa menutup bukunya.
“Bunda sedih?”
Pertanyaan itu menusuk jauh lebih dalam daripada teriakan dari lantai atas.
Aku memandang wajahnya.
“Pernah.”
“Sekarang?”
Aku tersenyum.
“Sekarang Bunda sibuk memastikan kalian baik-baik saja.”
Shifa memelukku.
Malam itu aku menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Bukan karena Hendra.
Karena aku sadar, anakku yang baru berumur sepuluh tahun sudah belajar membaca kesedihan yang berusaha kusembunyikan.
Dua minggu kemudian, aku melahirkan.
Seorang bayi perempuan.
Hendra terlihat sedikit kecewa ketika dokter menyebut jenis kelaminnya.
Aku melihatnya.
Sangat jelas.
Namun ketika bayi kecil itu diletakkan di dadaku, aku justru merasa seperti menerima kekuatan baru.
Empat anak perempuan.
Empat alasan untuk bertahan.
Aku memberi nama bayi itu Amira.
Setelah aku pulang dari rumah sakit, kehidupan di rumah berubah drastis.
Aku harus menyusui setiap dua sampai tiga jam.
Tubuhku belum pulih.
Luka persalinan masih terasa.
Dan Elsa mulai semakin sering kehilangan kesabaran.
Suatu pagi Amira menangis keras sementara aku sedang membantu Nadia minum obat.
Elsa keluar dari kamar.
“Bisa tidak bayinya dibuat diam?”
Tanganku berhenti.
Shifa yang sedang sarapan langsung menatapnya.
Aku berdiri perlahan.
“Apa katamu?”
“Aku kurang tidur semalaman.”
“Amira bayi.”
“Aku tahu.”
“Kalau tangis bayi mengganggumu, kamar lain masih ada.”
Elsa tertawa pendek.
“Kenapa selalu aku yang harus mengalah?”
Sebelum aku menjawab, Hendra muncul.
“Ada apa lagi?”
Elsa langsung mengadu.
“Aku tidak tahan tinggal seperti ini, Mas.”
“Pelankan suaramu.”
“Aku capek! Setiap hari rumah berisik, anak-anak ada di mana-mana, bayi menangis terus, aku disuruh mengerjakan ini itu. Kamu bilang setelah menikah hidupku akan lebih nyaman.”
Aku menatap Hendra.
Kalimat terakhir itu menarik.
Jadi itu yang dia janjikan.
Kenyamanan.
Hendra menarik tangan Elsa ke kamar.
Namun sudah terlambat.
Aku sudah mendengar semuanya.
Tiga hari kemudian, aku menemukan bukti yang membuat seluruh permainan berubah.
Saat sedang mencari dokumen asuransi di ruang kerja Hendra, aku menemukan sebuah kuitansi apartemen.
Pembayaran uang muka.
Atas nama Elsa.
Nilainya cukup besar.
Tanggal transaksi dua bulan sebelum pernikahan mereka.
Aku mengambil foto dokumen itu.
Malamnya, setelah anak-anak tidur, aku memanggil Hendra.
“Mas.”
Dia terlihat lelah.
“Apa lagi?”
Aku meletakkan salinan kuitansi di meja.
Wajahnya langsung pucat.
“Ini apa?”
Hendra tidak menjawab.
“Uang muka apartemen?”
“Hana, aku bisa jelaskan.”
“Pakai uang dari mana?”
“Itu uang pribadiku.”
Aku tersenyum.
“Masalahnya bukan uang siapa.”
Aku mengeluarkan dokumen perjanjian yang ditandatanganinya.
“Masalahnya kamu menyembunyikan kewajiban finansial baru sebelum menandatangani perjanjian aset dan dana keluarga.”
Rahang Hendra menegang.
“Aku tidak mencuri uang anak-anak.”
“Belum.”
“Hana!”
Aku tetap tenang.
“Kamu janji akan membelikan Elsa apartemen?”
Diamnya adalah jawaban.
“Apa lagi yang kamu janjikan?”
“Hana, jangan mulai.”
“Mobil?”
Dia mengalihkan pandangan.
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena akhirnya semuanya masuk akal.
Elsa tidak menikahi kehidupan yang sedang dia jalani.
Dia menikahi kehidupan yang dijanjikan Hendra.
Apartemen.
Mobil.
Kenyamanan.
Mungkin uang belanja besar.
Seorang laki-laki sukses yang bisa memenuhi semua keinginannya.
Sedangkan Hendra menikahi gambaran perempuan muda yang memujanya tanpa banyak tuntutan emosional.
Keduanya sedang jatuh cinta pada kebohongan masing-masing.
Aku hanya mempercepat saat kebohongan itu bertemu kenyataan.
“Kamu harus mengatakan semuanya kepada Elsa.”
“Hana…”
“Malam ini.”
“Ini urusanku dengannya.”
“Benar.”
Aku berdiri.
“Tapi kalau kamu memakai dana yang seharusnya memenuhi kewajiban kepada anak-anak untuk menepati janji itu, maka itu menjadi urusanku.”
Pertengkaran mereka malam itu jauh lebih buruk daripada sebelumnya.
Elsa menangis.
Hendra membentak.
Pintu dibanting.
Keesokan paginya Elsa tidak keluar kamar sampai siang.
Ketika akhirnya dia muncul, matanya bengkak.
Aku sedang memotong buah di dapur.
“Mbak Hana.”
Aku menoleh.
“Ya?”
Dia berdiri beberapa langkah dariku.
“Sejak awal Mbak tahu?”
“Tahu apa?”
“Bahwa Mas Hendra tidak akan bisa memberikan semua yang dia janjikan.”
Aku meletakkan pisau.
“Tidak.”
Dia tertawa getir.
“Tapi Mbak membuat semua syarat itu supaya dia tidak bisa memberikannya.”
Aku menatapnya lama.
“Aku membuat syarat itu supaya anak-anakku tidak kehilangan hak mereka hanya karena ayahnya sedang jatuh cinta.”
Elsa menggigit bibir.
“Aku bukan perempuan jahat.”
“Aku tidak pernah bilang kamu jahat.”
“Tapi Mbak memperlakukanku seperti pembantu.”
Aku menghela napas.
“Elsa, selama tiga bulan tinggal di sini, siapa yang memasak makananmu?”
Dia diam.
“Siapa yang membayar listrik yang kamu gunakan? Air? Internet? Bahan makanan?”
Masih diam.
“Siapa yang membersihkan kamar mandimu ketika aku akhirnya memanggil jasa kebersihan dua kali seminggu?”
Dia menunduk.
“Kamu menyapu, mengepel, dan mencuci piring. Itu tidak membuatmu menjadi pembantu. Itu membuatmu menjadi orang dewasa yang tinggal di sebuah rumah.”
Air mata mulai mengalir di pipinya.
“Aku kira setelah menikah…”
“Kamu akan menjadi ratu?”
Dia mengangkat wajah.
Aku tidak mengejeknya.
Suaraku justru lembut.
“Aku juga pernah percaya pada janji Hendra.”
Elsa terlihat terkejut.
Aku melanjutkan.
“Dulu, ketika kami baru menikah, dia berjanji aku tidak akan pernah menangis karena dia. Dia berjanji kalau suatu hari berhasil, semua perjuangan kami akan terbayar.”
Aku tersenyum pahit.
“Aku menemaninya ketika motornya bahkan sering mogok. Aku menjual gelang pemberian ibuku untuk membantu modal usaha pertamanya. Aku melahirkan anak-anaknya. Aku meninggalkan pekerjaan karena dia bilang keluarga lebih membutuhkan waktuku.”
Elsa menangis tanpa suara.
“Jadi jangan kira kamu satu-satunya perempuan yang pernah percaya kepadanya.”
Hari itu menjadi pertama kalinya kami berbicara bukan sebagai istri pertama dan istri kedua.
Melainkan sebagai dua perempuan yang akhirnya sadar mereka telah mendengar versi berbeda dari laki-laki yang sama.
Seminggu kemudian, kejutan terbesar datang.
Elsa mengetuk pintu kamarku malam-malam.
“Mbak.”
“Ada apa?”
“Aku mau pergi.”
Aku menatap koper di belakangnya.
“Hendra tahu?”
Dia menggeleng.
“Kenapa?”
Elsa menyerahkan ponselnya.
Di layar terdapat percakapan Hendra dengan seorang perempuan bernama Rika.
Pesannya tidak perlu kubaca terlalu jauh.
Aku sudah memahami polanya.
Perhatian.
Rayuan.
Keluhan tentang istri.
Janji bahwa dia sedang terjebak dalam kehidupan yang tidak bahagia.
Aku tertawa kecil.
Elsa menatapku bingung.
“Mbak kok tertawa?”
“Karena ternyata kita berdua sama-sama terlalu percaya diri.”
“Apa maksudnya?”
“Aku dulu berpikir kamu menggantikan aku.”
Aku mengembalikan ponselnya.
“Kamu mungkin berpikir kamu berhasil merebut Hendra dariku.”
Aku menggeleng.
“Ternyata tidak ada yang merebut siapa pun. Laki-laki seperti Hendra memang selalu sedang mencari pintu berikutnya.”
Elsa menangis.
“Aku bodoh.”
“Kamu membuat pilihan yang buruk.”
Aku menatapnya.
“Tapi itu tidak berarti kamu harus menghabiskan seluruh hidupmu untuk mempertahankannya.”
Elsa pergi malam itu.
Bukan ke apartemen yang dijanjikan Hendra.
Apartemen itu akhirnya batal dibeli karena cicilannya tidak sanggup dilanjutkan.
Dia kembali ke rumah bibinya di Bogor.
Ketika Hendra pulang dan mengetahui Elsa pergi, dia mengamuk.
“Kamu yang menyuruh dia pergi!”
Aku sedang menyusui Amira.
Aku bahkan tidak berdiri.
“Tidak.”
“Kamu pasti mempengaruhinya!”
“Dia menemukan chat kamu dengan Rika.”
Wajah Hendra langsung berubah.
Aku hampir merasa kasihan.
Hampir.
“Kamu memeriksa ponselku?”
“Bukan aku.”
Dia terdiam.
“Elsa.”
Untuk beberapa detik Hendra terlihat seperti seseorang yang baru sadar dinding di sekelilingnya runtuh.
Kemudian, seperti biasa, dia mencari orang lain untuk disalahkan.
“Semua ini terjadi sejak kamu membuat perjanjian gila itu!”
Aku mengangkat wajah.
“Tidak, Mas.”
Suaraku tenang.
“Semua ini terjadi sejak kamu menganggap kesetiaan perempuan sebagai sesuatu yang bisa kamu miliki tanpa harus kamu jaga.”
Dia mengepalkan tangan.
“Aku suamimu.”
“Benar.”
Aku mengambil sebuah map dari meja samping ranjang.
“Tapi tidak lama lagi.”
Wajahnya membeku.
Aku menyerahkan map itu.
Permohonan cerai.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Hendra benar-benar kehilangan kata-kata.
“Kamu… mau cerai?”
“Iya.”
“Tapi kamu menerima pernikahanku dengan Elsa.”
“Aku menerima supaya sebelum pergi, aku punya waktu memastikan anak-anak aman.”
Dia menatapku seperti baru melihat orang asing.
Aku tersenyum.
“Kamu kira aku mengizinkanmu menikah lagi karena aku takut kehilanganmu?”
Aku menggeleng.
“Aku melakukannya karena saat itu aku belum siap meninggalkan pernikahan ini tanpa perlindungan apa pun.”
Wajah Hendra memucat.
Rumah sudah atas namaku dan anak-anak.
Dana pendidikan terkunci.
Dana darurat tersedia.
Seluruh tanggung jawab finansialnya tercatat secara resmi.
Baru sekarang dia memahami mengapa aku begitu tenang.
Bukan karena aku telah memaafkannya.
Aku sedang menyiapkan pintu keluar.
“Hana, pikirkan anak-anak.”
Kalimat itu membuatku tertawa untuk pertama kalinya dengan tulus.
“Aku melakukan semua ini justru karena memikirkan mereka.”
“Kita bisa memperbaiki semuanya.”
“Kamu bisa memperbaiki dirimu.”
Aku menggendong Amira lebih erat.
“Tapi aku tidak berkewajiban menunggu.”
Enam bulan setelah perceraian kami resmi, hidupku tidak langsung menjadi sempurna.
Aku masih sering kelelahan.
Masih ada malam ketika empat anak sakit hampir bersamaan.
Masih ada hari ketika aku menangis diam-diam di kamar mandi karena merasa seluruh beban dunia berada di pundakku.
Namun perlahan aku kembali bekerja.
Dulu sebelum menikah, aku pernah mengelola katering kecil bersama sahabatku.
Aku menghubunginya lagi.
Kami memulai dari dapur rumah.
Sepuluh kotak makan siang.
Lalu tiga puluh.
Seratus.
Setahun kemudian, kami menyewa dapur produksi sendiri.
Shifa sering membantu menempelkan label.
Nadia suka menggambar desain menu.
Mika paling senang menghitung pesanan meskipun hitungannya masih sering salah.
Sedangkan Amira tumbuh menjadi bayi yang setiap hari disambut tiga kakak perempuan yang berebut menggendongnya.
Suatu sore, dua tahun setelah semuanya berakhir, aku sedang berdiri di depan dapur produksi ketika sebuah mobil berhenti.
Hendra turun.
Wajahnya tampak jauh lebih tua.
Hubungannya dengan Elsa sudah resmi berakhir beberapa bulan setelah Elsa pergi.
Rika pun ternyata tidak pernah benar-benar ingin menikah dengannya.
Perusahaannya juga mengalami masalah setelah salah satu investasinya gagal.
Dia masih membayar kewajiban untuk anak-anak.
Bukan karena kemurahan hatinya.
Karena semuanya sudah tertulis jelas secara hukum.
“Hana.”
Aku menatapnya.
“Ada apa?”
“Aku cuma mau lihat anak-anak.”
“Mereka di dalam. Silakan.”
Dia tidak langsung masuk.
“Usahamu besar sekarang.”
“Lumayan.”
Dia tersenyum kecil.
“Aku dengar kamu mau buka cabang kedua.”
Aku mengangguk.
Hendra menunduk.
“Aku salah.”
Aku diam.
“Aku kehilangan semuanya.”
Aku menatap laki-laki yang dulu begitu kutakuti akan meninggalkanku.
Aneh.
Sekarang melihatnya berdiri di depanku tidak menimbulkan apa pun.
Tidak cinta.
Tidak benci.
Hanya jarak.
“Kamu tidak kehilangan semuanya, Mas.”
Dia mengangkat wajah.
“Kamu masih punya empat anak perempuan.”
Matanya berkaca-kaca.
“Asalkan kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan menjadi ayah mereka.”
Hendra mengangguk perlahan.
Kemudian dia masuk menemui anak-anak.
Aku tetap berdiri di luar.
Angin sore menyentuh wajahku.
Saat itulah Shifa keluar membawa sebuah kotak makanan.
“Bunda.”
“Ya?”
Dia menyerahkannya kepadaku.
Di tutup kotak itu ada stiker baru yang dia desain sendiri.
Nama usaha katering kami tercetak besar.
Di bawahnya terdapat slogan yang membuatku terdiam.
Rumah bukan tempat seseorang berkuasa.
Rumah adalah tempat semua orang merasa aman.
Aku menatap Shifa.
“Kamu yang bikin?”
Dia tersenyum bangga.
“Iya. Bagus enggak?”
Aku memeluknya.
“Bagus sekali.”
Baru saat itu aku menyadari sesuatu.
Selama ini aku mengira balasan terbaik kepada Hendra adalah membuatnya merasakan kehilangan.
Membuat Elsa sadar dirinya tertipu.
Membuat semua janji palsu mereka runtuh satu per satu.
Ternyata aku salah.
Balasan terbaik bukan melihat orang yang menyakitiku hancur.
Balasan terbaik adalah menyadari bahwa hidupku tidak ikut hancur bersama mereka.
Aku masih memiliki rumah.
Anak-anak.
Pekerjaan.
Harga diri.
Dan masa depan yang kubangun dengan tanganku sendiri.
Hendra pernah mengira menikahi perempuan lain adalah bukti bahwa dia memiliki pilihan.
Namun pada akhirnya, justru aku yang menemukan pilihan terbesar dalam hidupku.
Pilihan untuk berhenti menunggu seseorang berubah.
Pilihan untuk tidak mengajarkan anak-anakku bahwa cinta berarti bertahan terhadap penghinaan.
Dan pilihan untuk berjalan pergi ketika sebuah hubungan sudah tidak lagi menjadi rumah.
Aku menatap ke dalam bangunan tempat empat putriku sedang tertawa bersama.
Kemudian aku tersenyum.
Dulu Hendra membawa Elsa masuk ke rumah kami dan mengira permainan telah dimenangkan.
Dia tidak pernah tahu bahwa pada malam dia menandatangani perlindungan masa depan anak-anaknya, aku sebenarnya sudah mulai membangun kehidupan yang tidak lagi membutuhkan dirinya.
Dan itulah balasan yang tidak pernah mereka bayangkan.
