Aku mematikan layar ponsel dan memasukkannya kembali ke saku.
Di belakangku, Dilara masih berdiri sambil memegang tali tas kecilnya dengan kedua tangan. Ia tampak asing di tengah lobi hotel yang dipenuhi orang-orang berpakaian rapi. Sesekali matanya bergerak mengamati lampu kristal di langit-langit, lantai marmer yang mengilap, serta petugas hotel yang berjalan cepat sambil membawa koper tamu.
“Mas Kaizan?”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Tadi Mas tersenyum sendiri.”
Aku hampir tertawa.
“Tidak ada apa-apa.”
Dilara mengangguk, lalu kembali diam.
Aku menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Ayo. Kita pulang.”
Ia tidak tahu bahwa rumah yang kumaksud bukan rumah kontrakan kecil seperti yang mungkin dibayangkannya.
Ia juga belum tahu bahwa sejak kendaraan kami meninggalkan hotel, hidupnya akan berubah jauh lebih besar daripada hidupku sendiri.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil memasuki sebuah kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan.
Dilara yang sejak tadi duduk tenang mulai tampak gelisah.
“Mas, kita mau ke rumah siapa?”
“Rumahku.”
Ia menoleh cepat.
“Tapi katanya rumah Mas sederhana.”
“Memang.”
Mobil berhenti di depan gerbang hitam besar yang dijaga dua petugas keamanan.
Gerbang terbuka perlahan.
Di baliknya terbentang halaman luas dengan taman yang terawat, kolam kecil, dan sebuah rumah tiga lantai berdesain modern.
Dilara tidak berkata apa-apa.
Wajahnya benar-benar membeku.
Ketika mobil berhenti di teras, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menghampiri dan membukakan pintu.
“Selamat datang kembali, Pak Kaizan.”
Aku turun.
“Terima kasih, Pak Surya.”
Dilara masih belum bergerak.
Aku membuka pintunya dari luar.
“Turun.”
Ia menatapku dengan bingung.
“Mas… ini rumah siapa sebenarnya?”
“Rumahku.”
“Tapi…”
Aku menahan senyum.
“Masuk dulu.”
Di ruang utama, beberapa orang staf sudah menunggu. Mereka membungkukkan kepala ketika melihatku.
“Selamat datang kembali, Pak.”
Dilara makin pucat.
Aku melihat jari-jarinya mencengkeram kain bajunya.
“Mas Kaizan sebenarnya siapa?”
Aku menjawab dengan tenang.
“Namaku tetap Kaizan.”
“Itu bukan yang saya tanyakan.”
Aku terdiam.
Ada keberanian kecil dalam suaranya sekarang.
Aku menyukainya.
Aku berjalan ke sofa dan duduk.
“Duduklah.”
Dilara duduk di ujung sofa lain, kaku seperti seseorang yang sedang menunggu vonis.
“Aku memang pernah bekerja di luar negeri,” kataku.
“Tapi bukan sebagai buruh migran seperti yang diketahui keluargamu.”
Dilara menatapku tanpa berkedip.
“Aku menangani investasi dan pengembangan bisnis. Beberapa tahun terakhir aku membangun perusahaan dari sana.”
“Perusahaan?”
Aku mengangguk.
“Arkana Group.”
Wajah Dilara berubah.
Bahkan orang yang tidak terlalu mengikuti dunia bisnis pernah mendengar nama itu.
Arkana Group memiliki jaringan properti, hotel, logistik, dan konstruksi di beberapa kota besar.
“Jadi…” suaranya hampir tak terdengar, “Mas pemilik Arkana Group?”
“Sebagian besar sahamnya milikku.”
Dilara langsung berdiri.
“Saya mau pulang.”
Aku mengernyit.
“Kenapa?”
“Saya tidak bisa tinggal di sini.”
“Dila.”
“Saya tidak pantas.”
Kalimat itu membuat ekspresiku mengeras.
“Jangan katakan itu lagi.”
Ia menggeleng cepat.
“Kita terlalu berbeda, Mas. Saya cuma perempuan desa. Pendidikan saya tidak tinggi. Saya bahkan tidak tahu cara bicara dengan orang-orang seperti mereka.”
Ia melirik para staf yang berdiri jauh di dekat lorong.
“Kalau keluarga Mas tahu saya…”
“Dila.”
Aku memotongnya.
“Kamu istriku.”
Ia terdiam.
“Bukan pegawai. Bukan pembantu. Bukan orang yang harus meminta izin untuk dianggap pantas berada di rumah ini.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku melanjutkan, “Aku tidak peduli kamu berasal dari mana.”
Untuk sesaat aku ingin mengatakan bahwa sejak awal pernikahan kami memang bermula dari keadaan yang tidak biasa.
Aku pergi ke desa itu untuk sebuah urusan tanah perkebunan yang akan dibeli salah satu anak perusahaan Arkana.
Namun setelah melihat bagaimana keluarga Dilara memperlakukannya, sesuatu mendorongku mengambil keputusan yang bahkan tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Menikahinya.
Awalnya mungkin hanya rasa kasihan.
Sekarang aku mulai sadar perasaanku telah berubah.
Ponselku bergetar.
Nama Reza muncul di layar.
Orang kepercayaanku.
Aku mengangkat telepon.

“Ya.”
“Pak, besok pukul sepuluh pagi Pak Armand bersama Bu Selina akan datang ke kantor.”
Aku melirik Dilara.
Armand.
Sahabat yang kulihat dalam foto hotel.
Selina.
Perempuan yang selama dua tahun terakhir dijodohkan keluargaku denganku.
“Mereka mau apa?”
“Presentasi final proyek Sentra Bay. Mereka sedang mengejar kontrak utama.”
Aku tersenyum tipis.
“Biarkan mereka datang.”
“Baik, Pak.”
“Dan jangan beri tahu siapa pun bahwa aku sudah kembali.”
Reza terdiam sebentar.
“Baik.”
Keesokan paginya, aku datang ke kantor pusat Arkana lebih awal.
Dilara tidak ikut.
Aku meminta Mbak Rini, kepala pengurus rumah, menemaninya membeli beberapa kebutuhan.
Sekitar pukul sepuluh kurang lima menit, monitor di ruang kerjaku menampilkan gambar dari kamera ruang rapat.
Armand masuk lebih dulu.
Setelan jas mahal.
Jam tangan mencolok.
Wajah penuh percaya diri.
Selina berjalan di sampingnya dengan blazer putih dan tas bermerek.
Mereka tampak seperti pasangan sempurna.
Aku duduk diam sambil memperhatikan.
“Pak Armand terlihat sangat optimistis,” kata Reza.
“Harus.”
Aku menyandarkan tubuh.
“Dia mengira proyek itu sudah menjadi miliknya.”
Beberapa menit kemudian aku masuk ke ruang rapat.
Armand yang sedang berbicara langsung berhenti.
Wajahnya berubah.
“Kaizan?”
Selina berdiri begitu cepat hingga hampir menjatuhkan gelas.
“Kamu… sudah pulang?”
Aku menarik kursi di ujung meja.
“Duduk.”
Tidak satu pun dari mereka bergerak.
Armand mencoba tertawa.
“Bro, kamu bikin kaget saja. Katanya kamu baru pulang minggu depan.”
“Rencana berubah.”
Selina memaksakan senyum.
“Kamu kenal orang-orang di sini?”
Aku menatapnya.
“Lumayan.”
Reza masuk membawa beberapa dokumen dan berdiri di sampingku.
“Pak Kaizan, seluruh direksi sudah siap.”
Armand menatap Reza.
Kemudian menatapku.
“Pak?”
Aku membuka map di depanku.
“Silakan lanjutkan presentasinya.”
Armand terlihat mulai memahami sesuatu.
“Kaizan… jangan bilang…”
“Arkana milikku.”
Ruangan langsung terasa sunyi.
Wajah Selina kehilangan warna.
Aku melanjutkan, “Perusahaan tempatmu bekerja juga mendapatkan hampir enam puluh persen kontrak dari Arkana selama empat tahun terakhir.”
Armand menelan ludah.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Karena aku ingin tahu bagaimana orang memperlakukanku ketika mereka mengira aku tidak punya apa-apa.”
Aku menatap Selina.
“Khususnya orang-orang yang katanya ingin menjadi keluarga.”
Selina buru-buru mendekat.
“Kaizan, dengarkan dulu. Kalau ini tentang aku dan Armand…”
Aku mengangkat satu tangan.
“Tidak perlu.”
Reza meletakkan amplop di atas meja.
Foto-foto.
Catatan transaksi.
Reservasi hotel.
Pesan.
Bukti perjalanan.
Semuanya.
Armand menggeleng.
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tertawa pendek.
“Kalimat itu terlalu klasik.”
Selina mulai menangis.
“Aku cuma… kesepian. Kamu pergi bertahun-tahun. Kita bahkan belum benar-benar menikah.”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Kita belum menikah.”
Ia terdiam.
“Karena aku sudah menikah dengan orang lain.”
Mata Selina membesar.
“Apa?”
Armand pun membeku.
Aku tidak memberi mereka waktu.
“Dan mengenai proyek Sentra Bay, perusahaanmu didiskualifikasi.”
Armand langsung berdiri.
“Kaizan!”
“Duduk.”
“Jangan campur masalah pribadi dengan bisnis!”
“Aku tidak mencampurnya.”
Aku mendorong satu dokumen ke arahnya.
“Ada penggelembungan harga material sebelas persen. Tiga vendor fiktif. Pembayaran konsultasi ke rekening perusahaan milik saudaramu. Semua sudah diaudit.”
Armand terdiam total.
Wajahnya berubah dari marah menjadi takut.
“Aku tidak akan menjatuhkanmu hanya karena kamu tidur dengan calon istriku,” kataku.
“Aku menjatuhkanmu karena kamu mencuri dari perusahaanku.”
Selina mundur.
“Kaizan…”
Aku menatapnya.
“Untukmu, tidak ada yang perlu kulakukan.”
Ia terlihat bingung.
Aku tersenyum.
“Kamu sudah memilih sendiri.”
Mereka pergi dari ruang rapat hampir satu jam kemudian.
Armand tidak lagi berjalan tegak.
Selina bahkan tidak berani menatapku.
Namun yang tidak kuketahui, masalah sebenarnya justru menungguku di rumah.
Ketika aku tiba sore itu, rumah terasa terlalu sunyi.
“Mbak Rini?”
Wanita itu keluar dari dapur dengan wajah gelisah.
“Pak… Bu Dilara pergi.”
Aku langsung berhenti.
“Apa?”
“Beliau meninggalkan surat.”
Dadaku seketika terasa kosong.
Aku mengambil kertas yang diberikan Mbak Rini.
Tulisan tangan Dilara kecil dan rapi.
Mas Kaizan, terima kasih sudah membawa saya keluar dari kehidupan yang selama ini membuat saya merasa tidak berarti. Tapi saya tahu pernikahan kita terjadi terlalu cepat. Saya takut suatu hari Mas sadar bahwa saya bukan perempuan yang seharusnya berdiri di samping Mas. Saya tidak ingin menjadi beban. Saya sudah mengambil sedikit pakaian saja. Uang dan semua barang pemberian Mas saya tinggalkan. Maaf.
Aku meremas surat itu.
Untuk pertama kalinya setelah melihat pengkhianatan Selina, aku benar-benar merasa takut kehilangan seseorang.
“Cari dia.”
Semua orang langsung bergerak.
Teleponnya tidak aktif.
Terminal diperiksa.
Stasiun diperiksa.
Aku hampir memerintahkan tim keamanan mencari ke seluruh Jakarta ketika Pak Surya datang.
“Pak.”
“Apa?”
“Saya rasa saya tahu beliau ke mana.”
Kami menemukannya hampir satu jam kemudian.
Bukan di terminal.
Bukan di stasiun.
Dilara berada di sebuah rumah sakit pemerintah.
Ia duduk di kursi lorong sambil memegang map administrasi.
Aku berjalan cepat mendekatinya.
“Dilara!”
Ia tersentak.
“Mas?”
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Wajahnya panik.
Aku melihat nama pasien pada map.
Rahmawati.
Nama ibu angkatnya.
“Siapa yang sakit?”
Dilara menunduk.
“Ibu.”
“Keluarga yang membuatmu tidur di dapur itu?”
Ia diam.
“Kenapa kamu masih datang?”
Air matanya jatuh.
“Karena bagaimanapun beliau yang membesarkan saya.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Kenapa tidak bilang?”
“Saya tidak ingin merepotkan Mas.”
Kalimat yang sama.
Lagi.
Aku duduk di sampingnya.
“Berapa biaya operasinya?”
Dilara langsung menggeleng.
“Jangan.”
“Berapa?”
“Mas, jangan.”
Aku melihat lembar administrasi.
Operasi jantung.
Jumlahnya besar untuk keluarga mereka.
Namun bukan itu yang membuatku membeku.
Di bagian hubungan keluarga tertulis satu catatan.
Pasien bukan ibu kandung.
Aku menatap Dilara.
“Kamu tahu?”
Wajahnya berubah.
“Apa?”
Aku menyerahkan lembar itu.
Dilara membaca.
Tangannya mulai gemetar.
Saat itulah seorang laki-laki tua dari desa muncul dari ujung lorong.
Pak Rahman, tetangga keluarga Dilara.
Ia melihat kami dan langsung berhenti.
“Dila… kamu sudah tahu?”
Dilara berdiri.
“Tahu apa?”
Pak Rahman menatapku lalu kembali menatap Dilara.
“Ibumu… bukan ibu kandungmu.”
Dilara seperti kehilangan napas.
Ternyata dua puluh empat tahun lalu, Dilara ditemukan masih bayi setelah kecelakaan mobil di jalur Puncak.
Orang tua angkatnya mengambil dan membesarkannya.
Namun beberapa tahun kemudian mereka mengetahui identitas keluarga kandung Dilara.
Mereka tidak pernah memberitahunya.
Karena keluarga kandung itu kaya.
Sangat kaya.
Dan setiap tahun ada uang yang dikirim untuk biaya hidup dan pendidikan Dilara melalui seorang perantara.
Uang yang tak pernah sampai kepadanya.
Aku langsung menghubungi Reza.
Satu jam kemudian semuanya menjadi lebih gila.
Nama ibu kandung Dilara adalah Aisyah Mahendra.
Putri dari pendiri Mahendra Foundation.
Keluarga yang selama dua puluh tahun terakhir mencari seorang cucu perempuan yang hilang setelah kecelakaan.
Nama bayi itu tercatat sebagai Alira Mahendra.
Dilara ternyata bukan gadis miskin tanpa siapa-siapa.
Ia adalah pewaris salah satu yayasan pendidikan terbesar di Indonesia.
Namun kejutan terakhir justru terjadi tiga hari kemudian.
Seorang perempuan berusia hampir tujuh puluh tahun datang ke rumahku.
Begitu melihat Dilara, ia langsung menangis.
“Nak…”
Dilara berdiri kaku.
Perempuan itu mendekat dan menyentuh pipinya dengan tangan gemetar.
“Kamu punya mata ibumu.”
Dilara menangis tanpa suara.
Aku berdiri beberapa meter dari mereka.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Dilara tidak menunduk.
Tidak meminta maaf.
Tidak menyembunyikan tangannya.
Beberapa bulan kemudian, identitasnya dikonfirmasi melalui tes DNA.
Keluarga angkatnya diperiksa terkait penyalahgunaan dana yang seharusnya digunakan untuk Dilara.
Namun Dilara meminta satu hal.
Ia tidak ingin mereka dipenjara jika uang itu bisa dikembalikan dan kasusnya dapat diselesaikan secara hukum tanpa menghancurkan masa depan adik-adik angkatnya.
“Kenapa masih memikirkan mereka?” tanyaku suatu malam.
Dilara tersenyum kecil.
“Karena kalau saya membalas semua luka dengan luka, berarti saya tidak jauh berbeda.”
Aku menatapnya lama.
“Lalu bagaimana denganku?”
“Maksud Mas?”
“Aku membatalkan kontrak Armand.”
“Itu karena dia korupsi.”
“Benar.”
“Kalau hanya karena dia merebut calon istri Mas, mungkin saya akan marah.”
Aku tertawa.
Dilara ikut tertawa.
Itulah pertama kalinya aku mendengar tawa lepasnya.
Setahun setelah kepulanganku ke Jakarta, Dilara berdiri di panggung sebuah sekolah baru milik Mahendra Foundation.
Sekolah itu dibangun khusus untuk anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Di depan ratusan murid, ia berkata sesuatu yang sampai sekarang tidak pernah kulupakan.
“Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa seseorang harus berguna dulu agar pantas diperlakukan baik. Ternyata saya salah. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa kaya keluarganya, seberapa tinggi pendidikannya, atau seberapa banyak yang bisa ia berikan kepada orang lain.”
Ia menoleh ke arahku.
“Kadang hidup mempertemukan kita dengan orang yang menunjukkan bahwa kita layak dihargai bahkan sebelum kita sendiri mempercayainya.”
Aku tersenyum.
Dulu aku pulang ke Jakarta dengan niat membuka kebohongan orang-orang yang mengkhianatiku.
Aku pikir kepuasan terbesar adalah melihat Armand kehilangan pekerjaannya dan Selina menyadari apa yang telah ia sia-siakan.
Ternyata aku salah.
Beberapa bulan kemudian aku mendengar Armand harus menjual apartemennya setelah perusahaannya terseret penyelidikan.
Selina menikah dengan pengusaha lain, lalu bercerai kurang dari setahun kemudian.
Aku tidak merasakan apa pun ketika mendengar kabar itu.
Karena balas dendam terbaik ternyata bukan melihat mereka hancur.
Balas dendam terbaik adalah ketika hidupku menjadi terlalu baik sampai aku tidak lagi peduli bagaimana hidup mereka berakhir.
Malam setelah peresmian sekolah itu, aku berdiri di balkon rumah bersama Dilara.
Ia tidak lagi memakai cadar di hadapanku.
Angin malam memainkan beberapa helai rambut di dekat wajahnya.
“Mas.”
“Hm?”
“Dulu kenapa Mas menikahi saya?”
Aku terdiam sejenak.
“Awalnya karena aku ingin membawamu keluar dari rumah itu.”
“Kasihan?”
“Mungkin.”
Ia mencubit lenganku.
Aku tertawa.
“Tapi sekarang berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
Aku menatap perempuan yang dulu menganggap sofa hotel terlalu mewah untuknya.
Perempuan yang ternyata memiliki harta jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan, tetapi tetap memilih menghabiskan waktunya mengurus sekolah gratis.
“Aku dulu pulang untuk mengetahui siapa yang tetap tinggal ketika mereka mengira aku miskin.”
Aku menggenggam tangannya.
“Ternyata aku justru menemukan seseorang yang membuatku sadar bahwa kekayaan paling mahal bukan perusahaan, hotel, atau proyek.”
Dilara tersenyum.
“Terus apa?”
Aku mengangkat tangannya dan mengecup jemarinya yang dulu penuh kapalan.
“Pulang ke rumah dan tahu ada seseorang yang menunggumu karena dirimu, bukan karena apa yang kamu punya.”
Matanya berkaca-kaca.
Kali ini ia tidak menunduk.
Dan aku akhirnya memahami sesuatu.
Perjalanan pulangku memang membuat orang-orang yang mengkhianatiku menyesal.
Namun kejutan terbesar bukanlah ketika mereka mengetahui bahwa pria miskin yang mereka remehkan ternyata seorang pemilik perusahaan.
Kejutan terbesar adalah kenyataan bahwa ketika aku sibuk menguji ketulusan semua orang, hidup justru mempertemukanku dengan seorang perempuan yang sepanjang hidupnya tidak pernah meminta apa pun.
Perempuan yang ternyata bukan membutuhkan kekayaanku.
Akulah yang membutuhkan hatinya.
