Kupikir dia hanya seorang janda miskin yang mengincar hartaku.

Kesadaran kembali kepadaku sedikit demi sedikit.

Bukan lewat cahaya.

Bukan juga lewat suara.

Melainkan lewat aroma antiseptik yang menusuk hidung.

Aku membuka mata perlahan. Langit-langit putih langsung menyambut pandanganku. Sebuah infus tergantung di samping ranjang, sementara alat pengukur tekanan darah masih melilit lenganku.

Aku mencoba bergerak.

Kepalaku langsung berdenyut.

“Jangan bangun dulu.”

Suara itu membuatku menoleh.

Salsabila duduk di kursi dekat ranjang.

Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya pucat. Ada sisa kepanikan yang belum benar-benar hilang dari matanya.

Aku mengernyit.

“Kita di mana?”

“Rumah sakit.”

Aku terdiam beberapa detik.

Potongan ingatan mulai kembali.

Dapur.

Sesak napas.

Pandangan berputar.

Lalu gelap.

“Kamu yang bawa aku?”

Salsabila mengangguk.

“Aku telepon ambulans.”

Aku menatap tangannya.

Entah kenapa baru saat itu aku sadar jari-jarinya sedikit gemetar.

“Kamu panik?”

Dia memalingkan wajah.

“Nggak.”

“Kelihatan.”

“Aku cuma takut kamu kenapa-kenapa.”

Jawabannya terdengar sederhana.

Namun untuk alasan yang tidak kumengerti, dadaku terasa sedikit aneh.

Tak lama kemudian pintu kamar terbuka.

Seorang dokter masuk membawa tablet.

“Sudah sadar, Pak Leon?”

Aku mengangguk.

“Bagaimana kondisi saya?”

Dokter itu menarik kursi.

“Secara umum tidak ada kondisi yang mengancam nyawa. Tekanan darah Anda sempat turun, ditambah kelelahan, stres berat, dan kemungkinan serangan panik.”

Aku menatapnya.

“Serangan panik?”

“Gejalanya sangat mirip. Sesak, jantung berdebar, pusing, kehilangan keseimbangan. Tapi kami juga menemukan Anda belum benar-benar pulih dari cedera sebelumnya.”

Tanganku otomatis menyentuh lengan.

“Jadi saya boleh pulang?”

“Kalau beberapa jam ke depan stabil, boleh. Tapi Anda harus istirahat.”

Dokter kemudian menatap Salsabila.

“Istrinya tadi cukup sigap. Kalau terlambat ditangani, Anda bisa mengalami cedera lain karena jatuh.”

Aku menoleh kepadanya.

Salsabila hanya menunduk.

Setelah dokter pergi, keheningan kembali memenuhi ruangan.

Aku menggeser tubuh sedikit.

“Terima kasih.”

Salsabila mengangkat wajah.

“Apa?”

“Sudah nolong aku.”

Dia menatapku beberapa detik, kemudian tersenyum tipis.

“Bukannya itu tugas istri?”

Entah kenapa kalimat itu justru membuatku merasa malu.

Sejak awal menikah, aku memperlakukannya seperti masalah yang dipaksakan masuk ke dalam hidupku.

Aku bahkan menuduhnya dalam hati sebagai janda miskin yang mungkin hanya menginginkan kekayaan keluarga kami.

Padahal malam ini, ketika tubuhku jatuh, perempuan yang pertama berlari menolongku justru dia.

“Kamu telepon Nenek?”

“Belum.”

“Kenapa?”

Salsabila menatap jam.

“Nenek bilang ada urusan penting. Aku pikir lebih baik menunggu kondisimu stabil dulu.”

Aku mengangguk.

Kemudian pandanganku jatuh pada tas kecil miliknya di atas meja.

Ada sesuatu yang mencuat dari sana.

Sebuah dompet kartu berwarna hitam.

Aku tidak tahu kenapa mataku tertarik.

Mungkin karena ada logo kecil berwarna emas di sudutnya.

Logo yang terasa familiar.

Aku mencoba mengingat.

Sebelum sempat bertanya, ponsel Salsabila berdering.

Dia melihat layar.

Raut wajahnya berubah.

“Aku keluar sebentar.”

“Siapa?”

“Orang kantor.”

Aku mengangkat alis.

“Kantor?”

Dia seperti tersadar telah salah bicara.

“Maksudku… urusan pekerjaan.”

Aku menatapnya.

Selama ini aku bahkan tidak tahu persis apa pekerjaannya.

Yang kutahu dari Nenek, Salsabila pernah menikah, kemudian bercerai, hidup sederhana, dan sekarang bekerja sendiri.

Tidak lebih.

Salsabila keluar dari kamar.

Pintu belum sepenuhnya tertutup ketika aku mendengar suaranya di lorong.

“Ya, Pak. Saya sudah lihat dokumennya.”

Aku spontan menajamkan pendengaran.

“Jangan ambil keputusan sebelum saya datang.”

Diam sejenak.

“Tidak. Saham itu jangan dilepas.”

Aku membeku.

Saham?

“Kalau pihak Singapura tetap memaksa, suruh mereka bicara langsung dengan saya.”

Nada suaranya berubah.

Tidak lagi lembut.

Tidak lagi terdengar seperti perempuan pendiam yang selama ini kulihat di rumah.

Tegas.

Tenang.

Dan terbiasa memberi perintah.

“Saya pemegang keputusan terakhir. Jadi tunggu.”

Telepon berakhir.

Aku cepat-cepat memejamkan mata saat langkahnya kembali mendekat.

Salsabila masuk.

“Kamu tidur?”

Aku membuka mata.

“Nggak.”

Dia duduk lagi.

Aku menatapnya lama.

“Kamu kerja apa?”

Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat sedikit kaku.

“Kenapa tiba-tiba tanya?”

“Karena barusan kamu bicara soal saham dan Singapura.”

Salsabila terdiam.

Aku menunggu.

Dia menarik napas.

“Aku punya usaha.”

“Usaha apa?”

“Beberapa.”

“Beberapa?”

Aku semakin curiga.

Salsabila menatapku lekat-lekat.

“Mas Leon, kamu benar-benar nggak pernah cari tahu tentang aku sebelum menikah?”

Pertanyaan itu langsung menampar harga diriku.

Aku memang tidak pernah mencari tahu.

Bahkan ketika Nenek menyebut namanya, aku hanya melihat beberapa informasi seadanya.

Janda.

Tidak punya keluarga dekat.

Tinggal sendiri.

Penampilan sederhana.

Tidak aktif di media sosial.

Aku langsung menyimpulkan banyak hal.

“Kupikir…” Aku berhenti.

“Kamu pikir aku miskin?”

Aku terdiam.

Salsabila malah tersenyum kecil.

Tidak marah.

Justru itu yang membuatku semakin tidak nyaman.

“Jawab saja.”

“Iya.”

“Aku juga tahu.”

Aku mengernyit.

“Kamu tahu?”

“Kelihatan dari caramu menatapku sejak awal.”

Aku membuang pandangan.

Memalukan.

Salsabila berdiri.

“Kalau kamu sudah agak sehat, kita pulang saja dulu. Aku rasa ada beberapa hal yang memang harus kita bicarakan.”

Beberapa jam kemudian kami meninggalkan rumah sakit.

Salsabila awalnya hendak memesan taksi online.

Namun sebelum dia sempat melakukannya, sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pintu utama.

Aku mengenali mobil itu.

Mercedes-Maybach.

Harga mobil itu bahkan cukup untuk membeli beberapa rumah di kawasan bagus.

Seorang pria berjas keluar dari kursi depan.

Dia berjalan cepat menghampiri kami.

“Bu Salsabila.”

Aku berhenti.

Pria itu menunduk sopan.

“Maaf saya terlambat. Dewan direksi terus mencoba menghubungi Ibu.”

Aku menoleh pada Salsabila.

“Bu?”

Salsabila menghela napas.

“Saya bilang jangan jemput saya.”

“Maaf, Bu. Tapi Pak Adrian khawatir.”

Kemudian pria itu menatapku.

“Ini Pak Leon?”

Aku semakin bingung.

Dia tersenyum profesional.

“Selamat malam, Pak. Saya Reza, sekretaris pribadi Bu Salsabila.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Sekretaris pribadi?

Salsabila memejamkan mata sebentar.

Seolah tahu rahasianya baru saja runtuh.

“Kita pulang dulu,” katanya pelan.

Sepanjang perjalanan, aku tidak mengatakan apa-apa.

Mobil itu terlalu nyaman untuk membuatku merasa tenang.

Aku justru semakin gelisah.

Setelah tiba di rumah, Salsabila menyuruh Reza pulang.

Aku masuk ke ruang keluarga dan langsung berdiri di tengah ruangan.

“Kita bicara sekarang.”

Salsabila meletakkan tasnya.

“Baik.”

“Siapa kamu sebenarnya?”

Dia tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, dia berjalan menuju lemari kecil dekat ruang kerja.

Dari sana dia mengambil sebuah map.

Kemudian menyerahkannya kepadaku.

Aku membuka halaman pertama.

Nama sebuah perusahaan tercetak di sana.

Arunika Global Holdings.

Aku mengenalnya.

Semua orang di dunia bisnis mengenalnya.

Perusahaan investasi yang memiliki saham di sektor properti, kesehatan, logistik, teknologi, dan perhotelan.

Nilai asetnya puluhan triliun.

Aku membalik halaman berikutnya.

Nama pemegang saham mayoritas.

Salsabila Azzahra Wiratama.

Tanganku berhenti.

Aku menatap perempuan di depanku.

“Ini… kamu?”

“Iya.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena otakku menolak menerima kenyataan.

“Kamu pemilik Arunika?”

“Sebagian besar.”

“Sebagian besar?”

“Enam puluh dua persen.”

Aku menutup map dengan keras.

“Kenapa Nenek nggak bilang?”

“Karena aku yang minta.”

“Kenapa?”

Salsabila menatapku lurus.

“Karena aku capek dinilai dari uang.”

Aku terdiam.

Dia duduk di sofa.

“Pernikahan pertamaku hancur karena itu.”

Nada suaranya berubah.

Lebih dingin.

“Mantan suamiku awalnya terlihat baik. Setelah tahu keluargaku punya aset besar, dia mulai berubah. Dia pakai namaku untuk cari investor. Mengambil uang perusahaan tanpa izin. Bahkan mencoba memalsukan tanda tanganku.”

Aku tak menyela.

“Aku bercerai setelah mengetahui dia punya utang hampir dua puluh miliar dan memakai perusahaan sebagai jaminan.”

Aku menelan ludah.

“Jadi kamu sengaja hidup sederhana?”

“Setelah perceraian, iya.”

Dia tersenyum getir.

“Aku pindah dari apartemen. Tidak pakai sopir. Jarang bawa mobil mahal. Bahkan banyak orang kantor nggak tahu aku tinggal di mana.”

“Dan Nenek?”

“Nenek Rana mengenal almarhum ayahku.”

Seketika semuanya mulai masuk akal.

Namun ada satu hal yang masih menggangguku.

“Kenapa menikah denganku?”

Salsabila diam cukup lama.

Aku menunggu.

“Aku awalnya juga menolak.”

Jawaban itu menusuk egoku.

Dia melanjutkan.

“Nenekmu datang menemuiku tiga kali.”

“Tiga kali?”

“Iya.”

“Apa yang dia bilang?”

Salsabila tersenyum tipis.

“Katanya kamu menyebalkan.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Serius?”

“Katanya kamu keras kepala, gampang emosi, kadang sombong, dan terlalu suka menilai orang sebelum mengenalnya.”

Aku mengusap wajah.

Itu terdengar sangat seperti Nenek.

“Tapi dia juga bilang satu hal.”

“Apa?”

“Katanya kamu sebenarnya tidak jahat. Kamu cuma tumbuh terlalu lama tanpa merasa benar-benar disayangi.”

Aku membeku.

Salsabila melanjutkan pelan.

“Nenekmu nggak mencari istri kaya untukmu.”

Dia menatapku.

“Dia mencari orang yang tidak membutuhkan hartamu.”

Kalimat itu menghantam tepat pada kesombonganku.

Selama ini aku justru berpikir Salsabila menikahiku demi uang.

Padahal kekayaannya mungkin bahkan lebih besar dariku.

Aku jatuh terduduk.

“Gila.”

Salsabila tertawa kecil.

“Itu juga reaksiku waktu pertama tahu siapa kamu.”

Aku mengangkat kepala.

“Jadi kamu juga menilaiku?”

“Tentu.”

“Apa?”

“Anak orang kaya yang merasa semua perempuan pasti ingin uangnya.”

Aku menatapnya kesal.

Dia tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kami, suasana terasa sedikit ringan.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Ponselku berdering.

Nomor tak dikenal.

Aku mengangkatnya.

“Halo?”

Beberapa detik tidak ada suara.

Kemudian terdengar suara perempuan.

“Leon.”

Tubuhku langsung kaku.

Aku mengenali suara itu.

Suara yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar.

“Ibu?”

Salsabila yang semula tersenyum langsung berubah serius.

“Akhirnya kamu masih ingat suara ibumu.”

Aku berdiri.

“Ibu sudah keluar?”

“Tadi sore.”

Aku menelan ludah.

Kemudian dia tertawa kecil.

“Kudengar kamu menikah.”

Aku tidak menjawab.

“Hebat sekali. Anak kandungku menikah tanpa memberitahuku.”

“Ibu masih di Jakarta?”

“Besok aku datang.”

Nada suaranya membuat tengkukku dingin.

“Aku ingin melihat perempuan yang berhasil membuat Nenekmu menikahkanmu diam-diam.”

Telepon terputus.

Aku masih memegang ponsel.

Salsabila menatapku.

“Ibumu?”

Aku mengangguk.

“Dia mau datang besok.”

Anehnya, Salsabila tidak terlihat takut.

Dia justru mengambil gelas air dan memberikannya kepadaku.

“Kalau begitu istirahat.”

“Kamu nggak takut?”

“Takut buat apa?”

“Kamu belum kenal dia.”

Salsabila menatapku tenang.

“Mas Leon.”

“Iya?”

“Aku pernah menghadapi suami yang mencuri miliaran dari perusahaanku, investor yang mencoba menjatuhkanku, dan direksi yang ingin mengambil alih perusahaan saat ayahku meninggal.”

Dia meletakkan gelas di tanganku.

“Jadi kalau cuma menghadapi ibu mertua yang galak, sepertinya aku masih sanggup.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian tanpa sadar aku tertawa.

Malam itu untuk pertama kalinya aku tidur tanpa memikirkan amplop bulan madu.

Namun keesokan paginya, suara mobil berhenti di halaman membuatku terbangun.

Ketika turun ke ruang tengah, aku melihat seorang perempuan berdiri membelakangi tangga.

Rambutnya pendek sebahu.

Pakaiannya mahal.

Tatapannya tajam seperti dulu.

Ibuku.

Dia menoleh.

Matanya menelusuri tubuhku.

“Kamu terlihat lemah.”

Aku tidak menjawab.

Kemudian pandangannya beralih kepada Salsabila yang baru keluar dari dapur.

Ibuku tersenyum sinis.

“Jadi ini istrimu?”

Salsabila mendekat.

“Selamat pagi, Bu.”

Ibuku tidak membalas salam.

Dia justru memandang Salsabila dari ujung kepala sampai kaki.

“Biasa saja.”

Aku mengepalkan tangan.

Belum sempat bicara, ibuku kembali berkata,

“Jadi Nenek Rana menikahkan pewaris keluarganya dengan janda?”

“Bu.”

“Diam.”

Dia menatapku tajam.

“Kamu pasti belum tahu kenapa perempuan seperti ini mau menikah denganmu.”

Aku menegang.

Salsabila tetap tenang.

Ibuku mengeluarkan sebuah dokumen.

“Aku sudah cari tahu.”

Dia melemparnya ke meja.

“Dia janda. Tidak punya orang tua. Tidak punya keluarga besar. Riwayat hidupnya hampir kosong.”

Salsabila melihat dokumen itu sekilas.

Kemudian tersenyum.

“Ibu dapat data itu dari mana?”

Ibuku mencibir.

“Kenapa? Takut ketahuan?”

Salsabila menggeleng.

“Bukan.”

Dia mengambil ponselnya.

“Aku cuma ingin tahu siapa yang berani menjual data pribadi palsu kepada Ibu.”

Ibuku tertawa.

“Kamu pikir aku bodoh?”

Salsabila menekan satu nomor.

“Pak Reza.”

Nada suaranya berubah.

“Tolong cek siapa yang menarik data identitas saya tadi malam.”

Dia mendengarkan beberapa detik.

“Kalau berasal dari salah satu perusahaan keamanan data milik Arunika, pecat orang yang membocorkannya. Laporkan juga secara hukum.”

Ibuku langsung diam.

Wajahnya berubah.

“Arunika?”

Salsabila menutup telepon.

Ibuku menatapnya.

Untuk pertama kalinya, aku melihat perempuan yang biasanya penuh percaya diri itu kehilangan kata-kata.

“Kamu…”

Salsabila tersenyum sopan.

“Salsabila Azzahra Wiratama.”

Wajah ibuku semakin pucat.

“Kamu pemilik Arunika Global?”

Salsabila mengangguk.

“Sebagian besar.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku hampir ingin tertawa melihat ekspresi ibuku.

Namun sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.

Ibuku tiba-tiba menoleh kepadaku.

“Kamu tahu siapa ayahnya?”

Aku mengernyit.

“Apa?”

Dia menunjuk Salsabila.

“Ayah perempuan itu adalah orang yang dulu membuat perusahaan keluarga kita hampir bangkrut!”

Aku membeku.

Salsabila tidak bergerak.

Ibuku tertawa dingin.

“Nah. Sekarang semuanya jelas.”

Dia menatapku tajam.

“Pernikahan ini bukan pernikahan.”

Dia kemudian menatap Salsabila.

“Ini balas dendam.”

Dadaku mendadak sesak.

Aku menoleh kepadanya.

“Sabila?”

Dia diam.

“Sabila, jawab.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, kulihat keraguan di wajahnya.

Namun akhirnya dia menarik napas.

“Ayahku memang pernah berselisih bisnis dengan keluargamu.”

Aku merasa darah mengalir cepat ke kepala.

“Kenapa nggak bilang?”

“Karena masalah itu tidak seperti yang ibumu katakan.”

Ibuku mencibir.

“Tentu.”

Salsabila membuka tas.

Mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Aku memang menikah denganmu karena ada alasan.”

Aku membeku.

Ternyata masih ada rahasia lain.

Dia berjalan ke meja kerja, membuka laptop, lalu memasukkan flashdisk itu.

Sebuah dokumen muncul.

Laporan transfer.

Perusahaan cangkang.

Rekening luar negeri.

Nama direktur lama.

Dan satu nama yang membuat tubuhku mati rasa.

Ibuku.

“Ini apa?” tanyaku.

Salsabila menatapku.

“Bukti bahwa ayahku bukan orang yang menghancurkan perusahaan keluargamu.”

Suara Salsabila pelan, tetapi setiap katanya terasa seperti palu.

“Dia justru orang yang menemukan penggelapan dana di perusahaan.”

Ibuku langsung bergerak.

“Tutup laptop itu!”

Aku menatapnya.

Salsabila melanjutkan.

“Dua belas tahun lalu, ayahku menemukan transaksi ilegal. Dana perusahaan dipindahkan melalui beberapa perusahaan fiktif.”

Aku menatap layar.

Nama penerima akhirnya muncul.

Ibuku.

Tanganku dingin.

“Ibu?”

Dia menggeleng cepat.

“Itu fitnah.”

“Bukan.”

Suara lain terdengar dari pintu.

Kami semua menoleh.

Nenek Rana berdiri di sana.

Wajahnya sangat serius.

“Nenek?”

Beliau masuk perlahan.

“Nenek yang memberikan dokumen lama itu kepada Sabila.”

Aku merasa dunia kembali berputar.

“Kenapa?”

Nenek Rana menatapku.

“Karena kamu harus tahu kebenaran sebelum ibumu menggunakanmu lagi.”

Ibuku berteriak.

“Ibu selalu membenciku!”

“Tidak.”

Nenek Rana menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku hanya terlalu lama menutupi kesalahanmu karena kamu anakku.”

Ruangan sunyi.

Kemudian beliau menoleh kepadaku.

“Sabila tidak menikahimu untuk balas dendam.”

Tatapannya melembut.

“Ayahnya meninggal sebelum berhasil membersihkan namanya. Sabila hanya ingin menemukan bukti terakhir.”

Aku menatap istriku.

“Dan kamu menemukannya?”

Salsabila mengangguk.

“Semalam.”

“Semalam?”

“Ketika kamu pingsan, Reza menghubungiku. Mereka menemukan arsip transaksi terakhir dari rekening lama.”

Aku tidak tahu harus marah atau bersyukur.

Semua terlalu banyak.

Ibuku tiba-tiba mengambil tas.

“Kalian semua akan menyesal.”

Dia berbalik menuju pintu.

Aku memanggilnya.

“Bu.”

Dia berhenti.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa takut melihatnya.

Aku berdiri tegak.

“Kalau semua bukti itu benar, Ibu harus mempertanggungjawabkannya.”

Dia menatapku tidak percaya.

“Kamu memilih perempuan itu daripada ibumu?”

Aku melihat Salsabila.

Kemudian kembali menatap perempuan yang melahirkanku.

“Nggak.”

Aku menarik napas.

“Aku memilih yang benar.”

Wajah ibuku berubah.

Beberapa detik kemudian dia pergi tanpa mengatakan apa pun.

Pintu tertutup keras.

Aku berdiri diam.

Nenek Rana menyentuh bahuku.

“Nenek bangga.”

Aku tertawa hambar.

“Jangan dulu, Nek. Kepala Leon masih mau pecah.”

Salsabila tiba-tiba tertawa kecil.

Nenek ikut tersenyum.

Dan anehnya, di tengah kekacauan terbesar dalam hidupku, untuk pertama kalinya rumah itu terasa seperti rumah.

Malam harinya, setelah Nenek pulang, aku duduk di balkon bersama Salsabila.

Amplop pink metalik masih tergeletak di meja.

Aku mengambilnya.

Salsabila melirik.

“Apa?”

Aku membuka amplop.

Dua tiket pesawat.

Reservasi vila.

Aku tersenyum kecil.

“Minggu depan jadi berangkat?”

Dia mengangkat alis.

“Kemarin kamu kelihatan mau bakar tiketnya.”

“Itu kemarin.”

“Sekarang?”

Aku menatap perempuan di sampingku.

Perempuan yang sebelumnya kukira janda miskin pengincar harta.

Perempuan yang ternyata memiliki kekayaan besar, masa lalu rumit, dan keberanian yang mungkin tidak akan pernah kumiliki.

Namun yang paling membuatku malu bukanlah kenyataan bahwa dia jauh lebih kaya dariku.

Melainkan kenyataan bahwa sejak awal aku menilainya dari sesuatu yang sama sekali tidak menentukan siapa dirinya.

“Sekarang aku mau mengenal istriku.”

Salsabila tersenyum.

“Baru sekarang?”

“Agak telat.”

“Parah.”

Aku tertawa.

Kemudian dia mengambil satu tiket dari tanganku.

“Jacuzzi?”

Aku langsung tersedak ludah sendiri.

Salsabila tertawa keras.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, aku tidak merasa sedang terjebak dalam pernikahan yang dipaksakan.

Aku justru merasa sedang berdiri di depan pintu menuju kehidupan yang sama sekali baru.

Mungkin Nenek benar.

Kadang kita tidak membutuhkan seseorang yang datang untuk menyelamatkan hidup kita.

Kita hanya membutuhkan seseorang yang membuat kita cukup berani untuk melihat diri sendiri dengan jujur.

Aku dulu mengira Salsabila menikahiku karena hartaku.

Ternyata akulah yang sejak awal terlalu miskin.

Bukan miskin uang.

Melainkan miskin kepercayaan, miskin keberanian, dan miskin kemampuan untuk melihat seseorang tanpa prasangka.

Dan perempuan yang kukira datang untuk mengambil sesuatu dariku justru menjadi orang pertama yang mengajariku bagaimana menjadi manusia yang lebih utuh.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang