Malam itu, Alya Permata tidak pernah menyangka bahwa sebuah tas bayi kecil berwarna krem akan menjadi awal terbongkarnya rahasia yang selama delapan bulan disembunyikan suaminya.
Semuanya bermula ketika Bu Ratna kembali datang ke rumah dengan membawa keputusan yang sudah dibuat sepihak.
“Besok Mbak Sari ikut saya ke rumah Niken. Dia mulai membantu Niken sampai melahirkan,” katanya sambil duduk santai di ruang keluarga.
Alya yang sedang menggendong putrinya langsung menoleh.
“Besok?”
“Iya. Tidak perlu menunggu lama. Niken sudah semakin besar kandungannya. Dia butuh bantuan lebih banyak daripada kamu sekarang.”
Kalimat itu membuat dada Alya terasa sesak.
Bukan hanya karena Bu Ratna ingin membawa pergi Mbak Sari. Tetapi karena cara perempuan itu berbicara seolah semua yang ada di rumah ini adalah miliknya.
“Ma, kontrak Mbak Sari masih dua puluh hari lagi,” kata Alya pelan.
Bu Ratna menghela napas panjang.
“Kamu masih menghitung hari kerja? Dia kan bisa membantu keluarga sendiri.”
Alya menggenggam selimut kecil putrinya lebih erat.
“Bukan begitu, Ma. Saya membayar jasanya untuk membantu pemulihan saya setelah operasi. Saya masih belum bisa bergerak bebas.”
Bu Ratna menatapnya dengan wajah tidak senang.
“Kamu terlalu bergantung. Dulu ibu-ibu melahirkan tanpa perawat seperti ini juga bisa.”
Sebelum Alya sempat menjawab, Bima pulang kerja.
Seperti yang sudah terjadi beberapa kali sebelumnya, Bu Ratna langsung mengubah nada bicaranya.
“Bima, Mama kasihan lihat Niken. Dia sendirian. Padahal di sini ada Mbak Sari yang menganggur setelah Alya mulai kuat.”
Alya hampir tertawa mendengar kalimat itu.
Menganggur?
Mbak Sari bahkan setiap malam masih bangun tiga sampai empat kali membantu menenangkan bayi, mencatat jadwal menyusui, membersihkan alat pompa ASI, dan memastikan Alya minum obat tepat waktu.
Namun Bima hanya mengusap wajahnya.
“Mungkin memang lebih baik begitu, Ly.”
Alya menatap suaminya lama.
“Bima, kamu serius?”
“Aku cuma berpikir keluarga juga harus saling membantu.”
“Keluarga?” Alya tersenyum pahit. “Ketika aku kesakitan setelah operasi, siapa yang membantu aku bangun dari tempat tidur? Ketika bayi kita menangis jam dua pagi, siapa yang bangun?”
Bima terdiam.
Karena dia tahu jawabannya.
Mbak Sari yang melakukannya.
Bukan dirinya.
Namun sebelum percakapan itu menjadi pertengkaran, Bu Ratna berdiri.
“Sudahlah. Jangan dibuat rumit. Besok pagi saya jemput Mbak Sari.”
Malam itu Alya tidak bisa tidur.
Ia memandang wajah kecil putrinya yang tertidur di sampingnya.
Delapan bulan ia mempersiapkan semuanya. Dari membeli perlengkapan bayi, menabung biaya persalinan tambahan, hingga menyewa perawat nifas karena ia tahu tidak ada orang lain yang benar-benar bisa diandalkan.
Namun sekarang, saat tubuhnya masih membutuhkan bantuan, seseorang ingin mengambil satu-satunya orang yang membuatnya bisa bertahan.
Keesokan paginya, ketika Mbak Sari sedang memasukkan pakaian ke dalam tas kecilnya, Alya melihat sesuatu jatuh dari kantong samping tas bayi.
Sebuah kertas kecil terlipat.
Awalnya Alya mengira itu hanya catatan jadwal bayi.
Namun ketika dibuka, wajahnya langsung berubah.
Di dalamnya tertulis beberapa baris tangan.
“Transfer tahap pertama sudah masuk. Pastikan Alya tidak curiga sampai bayi lahir. Setelah itu perawat harus dipindahkan agar akses ke dokumen tidak terbuka.”
Tangan Alya mulai gemetar.
Ia membaca ulang kalimat itu berkali-kali.
Ada nama di bagian bawah.
Bima.
Suaminya.
“Alya?”
Suara Mbak Sari membuatnya tersentak.
“Mbak… ini apa?”
Wajah Mbak Sari langsung pucat.
“Saya tidak tahu kertas itu ada di situ.”
Alya menatapnya.
“Mbak Sari, jelaskan kepada saya.”
Perawat itu menarik napas panjang.
“Sebenarnya saya sudah curiga sejak minggu pertama.”
Mbak Sari duduk perlahan.
“Waktu saya datang ke rumah ini, Pak Bima yang pertama kali menghubungi agensi. Dia meminta agar saya ditempatkan di sini.”
Alya mengernyit.
“Bima?”

“Iya. Awalnya saya pikir itu karena dia ingin membantu istrinya. Tapi ada satu hal yang aneh.”
“Apa?”
“Dia beberapa kali meminta saya mencatat barang-barang tertentu yang ada di kamar bayi.”
Alya merasakan dingin menjalar di tubuhnya.
“Kenapa?”
“Saya tidak tahu. Saya pikir mungkin untuk administrasi. Tapi setelah Bu Ratna mulai sering mengambil barang-barang Mbak Alya, saya mulai menyimpan catatan sendiri.”
Mbak Sari membuka buku kecil dari dalam tasnya.
Di sana terdapat daftar lengkap.
Tanggal.
Barang yang diambil.
Jumlahnya.
Bahkan beberapa percakapan yang dianggap mencurigakan.
Alya membaca satu per satu.
Kotak vitamin.
Susu khusus ibu menyusui.
Obat pemulihan.
Perlengkapan bayi.
Semuanya dicatat.
Tetapi yang paling membuat Alya terdiam adalah satu halaman terakhir.
Ada catatan tentang percakapan antara Bu Ratna dan Bima.
“Mama, jangan sampai Alya tahu dulu. Setelah Niken melahirkan, kita atur semuanya.”
Alya menutup buku itu.
“Apa maksudnya atur semuanya?”
Mbak Sari menatapnya dengan ragu.
“Saya tidak tahu, Mbak. Tapi saya rasa ada sesuatu yang lebih besar.”
Hari itu Alya tidak langsung bertanya kepada Bima.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia memilih diam.
Bukan karena takut.
Tetapi karena ia ingin tahu seberapa jauh suaminya berbohong.
Malamnya, ketika Bima mandi, Alya membuka laci meja kerjanya.
Ia tidak pernah menyentuh barang-barang pribadi suaminya.
Namun kali ini berbeda.
Di dalam sebuah map cokelat, ia menemukan beberapa dokumen.
Surat pinjaman.
Bukti transfer.
Dan sebuah perjanjian.
Nama penerimanya membuat jantung Alya berhenti sejenak.
Niken.
Ternyata selama beberapa bulan terakhir, Bima diam-diam membantu biaya renovasi rumah adiknya.
Jumlahnya hampir Rp80 juta.
Uang itu bukan dari tabungan pribadinya.
Tetapi dari rekening bersama mereka.
Rekening yang selama ini Alya isi dari hasil pekerjaannya.
Alya duduk di lantai.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Selama ini ia berpikir masalahnya hanya tentang ibu mertua yang terlalu ikut campur.
Ternyata lebih dari itu.
Suaminya sendiri yang membuka pintu untuk semua ini.
Keesokan paginya, Alya meminta Bima duduk di ruang tamu.
Bu Ratna dan Niken juga ada di sana.
“Aku ingin bicara tentang sesuatu,” kata Alya.
Bima melihat wajah istrinya dan langsung merasa ada yang tidak beres.
Alya meletakkan kertas catatan di meja.
Ruangan langsung sunyi.
Bu Ratna mengambil kertas itu.
Wajahnya berubah.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Jadi Mama tahu?”
Tidak ada jawaban.
Alya menatap Bima.
“Delapan bulan, Bim. Delapan bulan kamu menyembunyikan ini?”
Bima menunduk.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa? Bahwa uangku dipakai untuk membantu keluarga kamu tanpa izin?”
“Aku hanya ingin membantu Niken.”
“Dengan mengambil hakku dan anakmu?”
Bu Ratna langsung menyela.
“Jangan bicara seperti itu. Niken juga keluarga.”
Alya menatapnya.
“Saya juga keluarga, Ma. Tapi kenapa setiap kali ada kebutuhan keluarga, saya yang harus mengalah?”
Niken yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Kak Alya, aku tidak tahu soal uang itu.”
Alya menoleh kepadanya.
Untuk pertama kalinya ia melihat Niken bukan sebagai orang yang mengambil sesuatu darinya, tetapi sebagai seseorang yang juga mungkin tidak tahu seluruh kebenaran.
Bima mengusap wajahnya.
“Aku takut kamu marah.”
“Tentu aku marah, Bima. Bukan karena uangnya saja. Tapi karena kamu memutuskan semuanya sendiri.”
Kalimat itu membuat Bima terdiam.
Karena itulah masalah sebenarnya.
Bukan perawat.
Bukan kamar.
Bukan barang bayi.
Tetapi rasa tidak dihargai.
Beberapa hari kemudian, Bu Ratna akhirnya mengakui bahwa rencana memindahkan Mbak Sari memang dibuat bersama Bima.
Mereka ingin Mbak Sari membantu Niken karena biaya perawat untuknya terlalu mahal.
Mereka berpikir Alya sudah cukup kuat.
Namun mereka lupa satu hal.
Seorang ibu yang baru menjalani operasi caesar tidak hanya membutuhkan seseorang untuk menggendong bayi.
Ia membutuhkan seseorang yang peduli pada rasa sakitnya.
Mbak Sari tetap menyelesaikan kontraknya di rumah Alya sampai hari terakhir.
Ketika hari kepulangannya tiba, ia memberikan buku catatan kecil itu kepada Alya.
“Simpan ini, Mbak. Bukan untuk mengingat keburukan mereka. Tapi untuk mengingat bahwa saat semua orang sibuk memikirkan kebutuhan mereka sendiri, Mbak tetap berhak menjaga diri.”
Beberapa bulan kemudian, hubungan Alya dan Bima perlahan diperbaiki.
Bukan karena masalah itu dilupakan.
Tetapi karena Bima akhirnya belajar bahwa menjadi suami bukan hanya tentang mencari uang dan pulang ke rumah.
Menjadi suami berarti berdiri di sisi istrinya ketika istrinya sedang paling membutuhkan dukungan.
Sedangkan Bu Ratna dan Niken akhirnya meminta maaf kepada Alya.
Namun bagi Alya, kejadian itu memberikan pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.
Kadang rahasia terbesar tidak tersembunyi di tempat yang jauh.
Kadang rahasia itu berada di rumah sendiri, di antara orang-orang yang kita percaya.
Dan terkadang, sebuah catatan kecil di dalam tas bayi bisa membuka kebenaran yang mengubah seluruh hidup seseorang.
