Kartika Sari
Kartika membaca pesan dari pengacaranya untuk ketiga kalinya.
Semakin lama ia menatap layar, semakin dingin udara pagi terasa.
Nama Dimas muncul dalam beberapa dokumen pengajuan kredit usaha. Nama Bu Endang tercatat sebagai saksi dalam dua transaksi. Tetapi yang membuat napas Kartika tertahan adalah tiga lembar surat kuasa dengan tanda tangannya sendiri.
Atau lebih tepatnya, tanda tangan yang dibuat menyerupai miliknya.
Salah satu surat itu memberikan kewenangan kepada Dimas untuk menjaminkan sebuah rumah di Bekasi. Surat kedua digunakan dalam pengajuan pinjaman perusahaan senilai hampir dua belas miliar rupiah. Surat ketiga jauh lebih berbahaya.
Dokumen itu mengaitkan Kartika dengan sebuah perusahaan pemasok perangkat komunikasi bernama PT Garuda Mitra Teknologi.
Kartika mengenal nama perusahaan itu.
Tiga bulan sebelumnya, unit yang kini dipimpinnya pernah menerima laporan awal mengenai dugaan penyalahgunaan pengadaan perangkat komunikasi terenkripsi di beberapa instansi.
Penyelidikan tersebut belum masuk tahap terbuka.
Hanya segelintir orang yang mengetahui.
Jantung Kartika berdetak keras.
Ia segera menelepon pengacaranya, Arif Mahendra.
“Pak Arif, jangan hubungi Dimas. Jangan kirim surat apa pun ke rumah. Saya ingin semua dokumen diamankan terlebih dahulu.”
“Bu Kartika, ada hal lain yang harus Ibu tahu.”
“Apa?”
“Dana dari perusahaan suami Ibu beberapa kali masuk ke rekening perusahaan pemasok itu. Jumlahnya terpecah-pecah. Tidak besar dalam sekali transaksi, tapi kalau dijumlahkan sekitar empat miliar.”
Kartika memejamkan mata.
“Dan?”
“Ada satu rekening penampung lain. Rekening itu menggunakan identitas seseorang yang sudah meninggal dua tahun lalu.”
Kartika langsung membuka mata.
“Siapa?”
Arif menyebut sebuah nama.
Kartika mengenalnya.
Pak Hendra.
Ayah Dimas.
Pria itu meninggal karena serangan jantung hampir dua tahun sebelumnya.
Untuk pertama kalinya malam itu Kartika benar-benar memahami apa yang sedang ia hadapi.
Ini bukan sekadar perselingkuhan finansial.
Bukan sekadar suami yang memalsukan tanda tangan istrinya untuk memperoleh pinjaman.
Dimas telah menggunakan identitas orang mati, perusahaan cangkang, dan nama Kartika sebagai perisai.
Jika penyelidikan pengadaan itu berkembang, jejak transaksi akan dibuat seolah-olah mengarah kepada Kartika.
Seorang perwira yang baru saja diangkat menjadi Kolonel.
Seorang pemimpin unit intelijen strategis.
Posisinya akan membuat tuduhan itu jauh lebih menghancurkan.
Pukul enam lewat sepuluh menit, suara pintu kamar terbuka.
Dimas muncul sambil menguap.
Ketika melihat Kartika duduk di ruang kerja dengan kepala gundul, pria itu tersenyum tipis.
“Sudah siap bicara soal pengunduran diri?”
Kartika menutup laptop.
“Sudah.”
Dimas tampak puas.
“Bagus. Ibu pasti senang.”
“Jam sembilan nanti kita bicara bersama.”
“Kenapa harus jam sembilan?”
“Saya ingin mendengar langsung dari kalian berdua bagaimana kalian membayangkan kehidupan kita setelah saya keluar dari TNI.”
Dimas tertawa kecil.
“Nah, begitu dong. Akhirnya kamu berpikir seperti istri.”
Kartika menatapnya beberapa detik.
Ia bahkan tidak merasa marah lagi.
Yang ada hanya rasa asing.
Bagaimana mungkin dirinya tinggal bersama lelaki ini selama sebelas tahun tanpa pernah benar-benar mengetahui siapa orang yang tidur di sampingnya?
Dimas kembali ke kamar.
Kartika mengambil ponselnya.
Ia mengirim dua pesan.
Satu kepada Arif.
Satu lagi kepada Brigadir Jenderal Rahmat, atasannya.
Pesannya singkat.
“Saya menemukan indikasi penyalahgunaan identitas pribadi yang mungkin berkaitan dengan perkara pengadaan yang sedang dipantau unit. Saya memohon pertemuan tertutup pagi ini.”
Balasan datang tiga menit kemudian.
“08.00. Datang langsung. Jangan bawa dokumen melalui jaringan biasa.”
Kartika berdiri.
Di dapur, Bu Endang sedang membuat teh seperti tidak terjadi apa-apa.
Perempuan itu bahkan bersenandung.
Ketika Kartika melewatinya, Bu Endang melirik kepala gundul menantunya.
“Begitu lebih baik.”
Kartika berhenti.
“Menurut Ibu?”
“Biar kamu ingat bahwa kamu bukan perempuan istimewa hanya karena punya pangkat.”
Kartika tersenyum kecil.
“Saya tidak pernah merasa istimewa karena pangkat, Bu.”
“Bagus.”
“Saya hanya belajar bahwa setiap tindakan ada akibatnya.”
Bu Endang tidak menangkap arti kalimat itu.
Ia melambaikan tangan dengan santai.
“Pergilah. Setelah itu pulang cepat. Kita bicara soal surat pengunduran diri.”
Kartika meninggalkan rumah pukul tujuh.
Ia mengenakan pakaian dinas dengan kepala gundul tanpa berusaha menutupinya.
Di kantor, beberapa personel menatap terkejut.
Tidak seorang pun berani bertanya.
Brigjen Rahmat berdiri ketika Kartika memasuki ruangannya.
Tatapan pria berusia lima puluhan itu langsung tertuju pada luka di kepala Kartika.
“Apa yang terjadi?”
“Masalah rumah tangga, Jenderal.”
“Masalah rumah tangga tidak membuat kepala seorang perwira penuh luka seperti itu.”
Kartika meletakkan sebuah flash drive di meja.
“Karena itu mungkin bukan sekadar masalah rumah tangga.”
Selama hampir empat puluh menit, Kartika menjelaskan semuanya.
Pemalsuan tanda tangan.
Pinjaman perusahaan.
Transaksi ke PT Garuda Mitra Teknologi.
Rekening menggunakan identitas almarhum mertuanya.
Serta tekanan agar ia segera mengundurkan diri.
Rahmat tidak menyela.
Namun ekspresinya semakin serius.
Setelah Kartika selesai, ia memanggil dua pejabat internal.
Pemeriksaan awal dilakukan tanpa menyebarkan informasi keluar ruangan.
Hasilnya membuat suasana berubah drastis.
PT Garuda Mitra Teknologi memang sudah berada dalam radar penyelidikan.
Perusahaan tersebut diduga menjadi penghubung antara beberapa vendor dan kelompok yang melakukan penggelembungan nilai kontrak.
Namun selama ini penyidik belum mengetahui siapa yang mengendalikan aliran dana dari belakang.
Nama Dimas memberikan jalur baru.
“Kolonel Kartika,” ujar Rahmat akhirnya, “mulai sekarang Anda tidak boleh melakukan kontak mengenai perkara ini dengan suami Anda tanpa koordinasi.”

Kartika mengangguk.
“Ada satu masalah.”
“Apa?”
“Mereka menunggu saya pulang jam sembilan.”
Rahmat menatap jam.
Pukul delapan lewat lima puluh.
Kartika melanjutkan, “Dan mereka yakin saya akan mengundurkan diri hari ini.”
Rahmat memahami maksudnya.
“Biarkan mereka tetap yakin.”
Ketika Kartika tiba kembali di rumah, Dimas dan Bu Endang sudah duduk di ruang keluarga.
Di atas meja terdapat kopi, beberapa kue, dan selembar kertas kosong.
Bu Endang bahkan telah menyiapkan pena.
“Nah,” katanya ceria. “Tulis suratnya sekarang.”
Kartika duduk.
Dimas menyilangkan kaki.
“Setelah ini semuanya akan lebih sederhana. Kamu bisa bantu showroom. Ibu juga sudah bilang, nanti kalau bisnis berkembang kita pindah ke rumah yang lebih besar.”
Kartika melihat sekeliling rumah.
Rumah yang uang mukanya ia bayar.
Rumah yang cicilannya sebagian besar berasal dari rekeningnya.
Rumah yang ternyata sudah berusaha dijaminkan Dimas menggunakan surat kuasa palsu.
“Rumah lebih besar?” tanyanya.
Dimas tersenyum.
“Kita sedang punya beberapa peluang bisnis.”
“Dengan PT Garuda Mitra Teknologi?”
Wajah Dimas membeku.
Hanya sesaat.
Namun cukup.
Bu Endang menoleh cepat kepada anaknya.
Kartika menangkap semuanya.
“Kamu bicara apa?” tanya Dimas.
“Perusahaan itu bukannya partner showroom?”
“Tidak.”
“Menarik.”
Kartika mengambil sebuah map dari tas.
Ia mengeluarkan salinan surat kuasa palsu dan meletakkannya di meja.
Dimas pucat.
Bu Endang langsung berdiri.
“Dari mana kamu dapat ini?”
Kartika memandangnya.
“Ibu mengenalnya?”
Bu Endang kehilangan kata-kata.
Kesalahan pertama mereka.
Dimas segera meraih dokumen itu.
Kartika menariknya kembali.
“Jangan sentuh.”
Nada suaranya berubah.
Bukan lagi suara seorang istri yang dipermalukan di rumah sendiri.
Melainkan suara seorang komandan.
Dimas berdiri.
“Kamu menyelidiki aku?”
“Seharusnya saya bertanya, mengapa suami saya memalsukan tanda tangan saya.”
“Itu hanya untuk bisnis.”
“Dua belas miliar disebut hanya?”
“Aku mau mengembalikannya!”
“Dengan uang dari proyek pengadaan?”
Dimas menendang meja kecil hingga bergeser.
“Jangan sok tahu!”
Bu Endang berusaha menyela.
“Kar, dengarkan dulu. Dimas melakukan semua ini demi keluarga.”
Kartika menatap ibu mertuanya.
“Memakai identitas suami Ibu yang sudah meninggal juga demi keluarga?”
Wajah Bu Endang langsung putih.
Sekarang Kartika tahu.
Perempuan itu terlibat jauh lebih dalam daripada yang ia perkirakan.
Bu Endang duduk perlahan.
“Dimas bilang itu cuma sementara.”
“Ibu tahu?”
Air mata mulai menggenang di mata perempuan itu.
“Ibu cuma tanda tangan sebagai saksi.”
“Kapan?”
Bu Endang tidak menjawab.
Dimas membentak.
“Ibu, diam!”
Kartika menoleh.
Reaksi itu lebih berharga daripada pengakuan.
“Jadi Ibu memang tahu.”
Dimas berjalan mendekati Kartika.
“Kamu mau apa?”
Kartika berdiri.
“Saya ingin kalian mengatakan semuanya.”
“Kalau tidak?”
Kartika mengangkat ponselnya.
“Percakapan ini sedang direkam.”
Dimas langsung merampas ponsel itu.
Ia membantingnya ke lantai.
Layar pecah.
Namun Kartika tidak bergerak.
Dimas tertawa kasar.
“Rekamannya sudah habis.”
Kartika menatap ponsel yang rusak.
“Sayang sekali kamu masih berpikir saya menggunakan satu perangkat.”
Dimas terdiam.
Dari saku dalam seragamnya terdengar suara kecil.
Perangkat perekam lain masih aktif.
Panik menguasai wajah Dimas.
Ia maju, tetapi sebelum tangannya sempat menyentuh Kartika, bel rumah berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian terdengar ketukan keras.
Dimas berhenti.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Ketukan kembali terdengar.
Kartika berjalan menuju pintu.
Dimas mencoba menahannya.
“Jangan buka.”
Kartika membuka pintu.
Di luar berdiri beberapa petugas berpakaian sipil bersama Arif.
Dua kendaraan berhenti di depan rumah.
Wajah Dimas seketika kehilangan warna.
Salah satu petugas menunjukkan surat.
“Saudara Dimas Prakoso?”
Dimas mundur.
“Ini salah paham.”
Petugas masuk.
“Kami membawa surat perintah penggeledahan terkait dugaan pemalsuan dokumen, pencucian uang, dan tindak pidana ekonomi yang sedang diperiksa.”
Bu Endang mulai menangis.
“Kar, tolong. Kita keluarga.”
Kartika menoleh kepadanya.
Untuk pertama kalinya Bu Endang memanggilnya dengan nada memohon.
Perempuan yang beberapa jam sebelumnya menggunduli rambutnya ketika tidur kini gemetar ketakutan.
“Semalam Ibu juga bilang kita keluarga,” jawab Kartika pelan.
“Karena Ibu emosi.”
“Ibu menyalakan alat cukur, masuk ke kamar saya, mencukur kepala saya saat tidur, lalu meminta saya keluar dari pekerjaan agar kejahatan kalian lebih mudah disembunyikan.”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Bu Endang tidak mampu menjawab.
Penggeledahan berlangsung hampir dua jam.
Dari lemari kerja Dimas ditemukan stempel beberapa perusahaan, fotokopi identitas Kartika, buku rekening atas nama orang lain, serta sebuah laptop yang ternyata berisi puluhan dokumen manipulasi.
Namun kejutan terbesar ditemukan di showroom.
Petugas menemukan server kecil tersembunyi di ruangan belakang.
Di dalamnya terdapat catatan transfer, daftar perusahaan cangkang, dan komunikasi antara Dimas dengan seorang pejabat pengadaan.
Nilai total transaksi mencapai lebih dari tiga puluh miliar rupiah.
Showroom mobil bekas itu selama ini hanya kedok untuk memutar uang.
Lebih mengejutkan lagi, Dimas ternyata sengaja mendorong Kartika terus membantu modal perusahaan.
Dengan begitu, ia bisa mencampurkan uang sah milik Kartika ke dalam aliran dana ilegal.
Ketika Kartika naik pangkat menjadi Kolonel dan memperoleh akses yang lebih sensitif, Dimas mulai panik.
Karier Kartika justru meningkatkan risiko penyelidikan.
Maka ia merancang jalan keluar.
Kartika harus mengundurkan diri.
Jika menolak, dokumen palsu yang sudah disiapkan akan dibocorkan seolah Kartika menerima bagian dari transaksi pengadaan.
Dan jika penyelidikan datang lebih cepat, Dimas berniat menyalahkan semuanya kepada istrinya.
Sore harinya, Dimas dibawa untuk pemeriksaan.
Sebelum masuk kendaraan, ia menoleh kepada Kartika.
“Kamu menghancurkan keluargamu sendiri.”
Kartika berdiri di teras.
Tidak ada air mata.
“Keluarga tidak dibangun dengan memalsukan tanda tangan orang yang kita cintai.”
“Aku melakukan ini supaya kita kaya!”
“Kita sudah hidup cukup.”
“Cukup menurutmu!”
Kalimat itu membuat Kartika akhirnya mengerti.
Selama bertahun-tahun, ia mengira Dimas hanya buruk dalam mengelola uang.
Ternyata suaminya tidak pernah merasa cukup.
Rumah tidak cukup.
Mobil tidak cukup.
Showroom tidak cukup.
Istri seorang perwira tidak cukup.
Ia ingin kekuasaan, uang, dan status tanpa mau membayar harga dengan kerja keras.
Tiga bulan kemudian, proses hukum berjalan.
Beberapa aset Dimas disita karena terbukti berasal dari transaksi bermasalah.
Showroom ditutup.
Mobil mewah yang selama ini selalu dibanggakan Bu Endang juga ikut disita.
Namun rumah yang mereka tinggali tidak masuk penyitaan.
Pemeriksaan membuktikan sebagian besar pembayaran berasal dari pendapatan sah Kartika sebelum transaksi ilegal terjadi.
Ironinya, rumah yang selama ini dianggap Dimas sebagai simbol keberhasilannya secara hukum justru memiliki posisi kepemilikan terkuat di tangan Kartika.
Bu Endang datang menemui Kartika beberapa hari setelah diperiksa sebagai saksi sekaligus tersangka dalam pemalsuan dokumen tertentu.
Perempuan itu tampak jauh lebih tua.
Tidak ada lagi gelang emas besar di tangannya.
Tidak ada tas mahal.
Tidak ada suara keras.
“Ibu mau minta maaf.”
Kartika diam.
“Kalau waktu bisa diputar, Ibu tidak akan melakukan itu pada rambutmu.”
Kartika menatapnya lama.
“Masalahnya bukan rambut saya.”
Bu Endang menunduk.
“Lalu apa?”
“Pada malam itu, Ibu merasa tubuh saya adalah sesuatu yang boleh Ibu kendalikan. Dimas merasa karier saya boleh dia tentukan. Kalian berdua merasa nama saya boleh dipakai untuk menyelamatkan diri.”
Air mata Bu Endang jatuh.
Kartika melanjutkan dengan suara tenang.
“Rambut saya akan tumbuh lagi. Tetapi kepercayaan tidak.”
Setelah perempuan itu pergi, Kartika berdiri di depan cermin.
Rambutnya mulai tumbuh beberapa milimeter.
Luka di kepalanya sudah menghilang.
Di atas meja terletak sebuah surat.
Bukan surat pengunduran diri.
Melainkan surat keputusan yang mengonfirmasi dirinya tetap memimpin unit dengan catatan bahwa ia telah dinyatakan tidak terlibat dalam seluruh transaksi Dimas setelah pemeriksaan internal selesai.
Namun ada satu hal yang tidak diketahui Dimas sampai kasusnya mulai disidangkan.
Kartika sebenarnya memiliki kesempatan mengambil cuti panjang setelah kejadian tersebut.
Atasannya bahkan menyarankannya.
Kartika menolak.
Ia justru meminta satu hal.
Ia ingin ikut mengembangkan mekanisme baru untuk mendeteksi penyalahgunaan identitas personel dan keluarga mereka dalam transaksi keuangan berisiko.
Enam bulan kemudian, mekanisme tersebut menemukan tiga jaringan serupa.
Puluhan miliar rupiah berhasil ditelusuri.
Beberapa nama besar ikut terseret.
Suatu pagi, saat Kartika bersiap menghadiri rapat, ia melihat pantulannya di kaca.
Rambutnya kini tumbuh pendek dan rapi.
Ia menyentuhnya pelan.
Dulu ia selalu mempertahankan rambut panjang karena Dimas menyukainya.
Sekarang ia memilih membiarkannya pendek.
Bukan karena trauma.
Bukan karena ingin mengingat malam itu.
Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, Kartika menyadari sesuatu yang sangat sederhana.
Ia tidak membutuhkan izin siapa pun untuk menentukan seperti apa dirinya.
Sebelum keluar rumah, Kartika mengambil baret dan memasangnya di kepala.
Pangkat Kolonel tersemat di pundaknya.
Di halaman, matahari pagi menyinari rumah yang kini sunyi.
Semua kemewahan yang dulu dibanggakan Dimas telah hilang.
Mobilnya hilang.
Showroomnya hilang.
Rekeningnya dibekukan.
Nama baik yang dibangun dengan kebohongan runtuh dalam hitungan minggu.
Namun Kartika tidak merasa menang karena melihat mereka kehilangan segalanya.
Kemenangan sesungguhnya terjadi jauh lebih awal.
Tepat pada malam ketika seseorang mencoba merampas kendali atas tubuhnya, lalu ia mengambil alat cukur itu kembali dan menyelesaikan sendiri apa yang mereka mulai.
Karena pada malam itulah Kartika berhenti meminta dunia menghormatinya.
Ia mulai menetapkan batas yang membuat orang lain tidak punya pilihan selain menghormatinya.
