Pengacara Wijaya tidak langsung melanjutkan ucapannya.
Ia membiarkan keheningan menggantung di halaman rumah itu, sementara lembar-lembar gugatan cerai masih berserakan di lantai teras.
Rendy berdiri dengan wajah pucat.
Siska yang sejak tadi begitu percaya diri kini menatap ke arah gerbang, seolah sedang menghitung apakah masih ada kesempatan untuk pergi sebelum semuanya menjadi lebih buruk.
Nindy justru merasa aneh.
Hatinya memang sakit melihat suaminya berdiri bersama perempuan lain. Namun di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang baru tumbuh di dalam dirinya.
Keberanian.
Selama sebelas tahun, ia selalu menjadi orang yang mengalah.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Nindy tidak ingin mundur.
“Transaksi apa yang Anda maksud?” tanya Rendy akhirnya.
Pengacara Wijaya membuka tas dokumennya.
“Ada beberapa pembayaran dari rekening perusahaan Anda yang ditujukan ke perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki kegiatan usaha nyata. Sebagian dana tersebut berasal dari fasilitas kredit dengan jaminan aset yang tercatat atas nama Nyonya Nindy.”
Rendy langsung menggeleng.
“Itu urusan perusahaan saya. Nindy tidak mengerti bisnis.”
Kalimat itu membuat Nindy hampir tertawa.
Kalimat yang sama telah didengarnya ratusan kali.
Saat ia bertanya tentang laporan keuangan.
Saat ia melihat tagihan yang tiba-tiba membengkak.
Saat ia mempertanyakan mengapa Rendy berkali-kali meminta tanda tangannya pada dokumen yang katanya hanya formalitas.
Nindy mengingat semuanya.
“Ada tanda tangan saya?” tanyanya.
Pengacara Wijaya menatapnya.
“Ada.”
Dada Nindy menegang.
“Tapi saya tidak pernah menandatangani pengajuan pinjaman apa pun.”
“Itulah masalahnya.”
Pengacara Wijaya mengeluarkan satu lembar fotokopi.
Nindy melihat tanda tangan yang menyerupai miliknya.
Sangat mirip.
Tetapi bukan miliknya.
Dania berdiri dekat ibunya tanpa memahami apa yang sedang terjadi. Nindy menunduk sebentar, lalu meminta petugas keamanan membawa kedua anaknya ke dalam mobil milik pengacara.
Rendy segera bergerak.
“Mereka anak saya.”
Nindy mengangkat tangan.
“Jangan.”
Suaranya tidak keras.
Namun Rendy berhenti.
“Jangan gunakan mereka untuk melindungi dirimu.”
Untuk beberapa detik, keduanya saling menatap.
Nindy teringat malam-malam ketika Rendy pulang terlambat dan bahkan tidak tahu bahwa Arka sedang demam.
Ia teringat ulang tahun Dania yang terlewat karena Rendy mengaku sedang bertemu investor.
Dan sekarang laki-laki itu berbicara tentang hak asuh seolah selama ini menjadi ayah yang paling hadir.
Siska tiba-tiba menyambar tasnya.
“Aku tidak mau ikut campur masalah perusahaan.”
Rendy menoleh tajam.
“Maksud kamu apa?”
“Aku tidak tahu soal dokumen ini.”
“Kamu tahu!”
Suara Rendy meninggi.
Siska membeku.
Semua orang langsung menatapnya.
Rendy sadar ia baru saja melakukan kesalahan.
“Aku maksud…”
“Lanjutkan,” ujar Nindy.
Siska memandang Rendy dengan wajah tegang.
“Aku cuma tahu kamu bilang perusahaan akan mendapat suntikan dana.”
Rendy menarik lengannya.
“Diam.”
Siska langsung menepis.
“Jangan sentuh aku.”
Situasi yang beberapa menit sebelumnya terlihat seperti kemenangan pasangan selingkuh itu berubah menjadi pertengkaran terbuka.
Pengacara Wijaya memasukkan kembali dokumen ke dalam map.
“Nyonya Nindy, sebaiknya kita masuk. Ada beberapa hal lain yang perlu Anda ketahui.”
Rendy menghadang pintu.
“Tidak ada yang boleh masuk ke rumah saya tanpa izin.”
Notaris yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
“Pak Rendy, secara hukum, rumah ini bukan milik Anda.”
Wajah Rendy semakin merah.
“Selama sebelas tahun saya tinggal di sini.”
“Status hunian tidak mengubah pemegang hak atas tanah.”
Kalimat itu menghantam Rendy lebih keras daripada bentakan.
Nindy berjalan melewatinya.
Tidak ada satu pun orang yang menghentikan.
Di ruang keluarga, keadaan rumah membuat Nindy tercekat.
Beberapa bingkai foto keluarga sudah diturunkan.
Fotografinya bersama anak-anak diletakkan terbalik di atas meja.
Di dekat sofa terdapat dua kardus berisi barang-barangnya.
Sementara sebuah koper merah milik Siska sudah berada di sudut ruangan.
Nindy menatap koper itu lama.
Jadi mereka memang sudah merencanakan semuanya.
Bukan keputusan mendadak.
Bukan emosi sesaat.
Siska sudah bersiap tinggal di rumahnya bahkan sebelum surat cerai diberikan.
Pengacara Wijaya membuka laptop.
“Ada alasan mengapa Tante Ratna tidak langsung menyerahkan semua informasi tentang aset ini kepada Anda selama beliau masih hidup.”
Nindy menatap layar.
“Mengapa?”
“Karena beliau mencurigai Rendy.”
Rendy yang berdiri di ambang pintu langsung tertawa sinis.
“Perempuan tua itu memang tidak pernah menyukai saya.”
Pengacara Wijaya tidak menanggapinya.
Ia menampilkan beberapa email.
Sebagian berasal dari Tante Ratna.
Nindy membaca salah satunya.
Ratna menulis bahwa ia mulai menyelidiki kondisi keuangan Rendy dua tahun sebelumnya setelah menerima permintaan verifikasi atas sebuah dokumen jaminan.
Pada awalnya, Ratna mengira terjadi kesalahan administrasi.
Namun setelah diperiksa, ia menemukan ada upaya menggunakan rumah tersebut sebagai jaminan pinjaman.
Padahal rumah itu dibeli Ratna bertahun-tahun lalu melalui perusahaan keluarga dan secara khusus disiapkan untuk Nindy.
“Ada tiga percobaan,” jelas pengacara Wijaya.
“Dua gagal. Satu berhasil melalui dokumen yang diduga telah dimanipulasi.”
Nindy menatap Rendy.
“Kamu menjaminkan rumah ini?”

“Untuk perusahaan kita.”
“Perusahaanmu.”
“Nindy, semua yang saya lakukan untuk keluarga.”
Nindy menahan napas.
“Untuk keluarga?”
Ia menunjuk koper Siska.
“Ini keluarga yang kamu maksud?”
Rendy terdiam.
Siska menundukkan wajah.
Pengacara Wijaya melanjutkan.
“Nilai kewajiban yang sedang kami telusuri sekitar Rp31 miliar.”
Nindy hampir tidak percaya.
“Rp31 miliar?”
Rendy buru-buru berkata, “Itu aset produktif. Uangnya diputar.”
Pengacara Wijaya menatapnya datar.
“Sebagian masuk ke rekening pribadi.”
Siska langsung menoleh.
Rendy memucat.
“Sebagian lainnya digunakan untuk membeli dua unit apartemen dan sebuah kendaraan.”
Nindy tiba-tiba teringat sesuatu.
“Mobil putih?”
Tidak ada jawaban.
Ia melihat Siska.
Perempuan itu langsung menghindari pandangannya.
Nindy memahami semuanya.
Mobil yang pernah dibanggakan Siska di media sosial sebagai hadiah atas “kerja keras selama bertahun-tahun”.
Apartemen yang menurut Rendy disewa perusahaan untuk klien asing.
Semua dibeli dari uang yang terkait dengan asetnya.
Siska mulai menangis.
“Aku tidak tahu uangnya dari mana.”
Rendy menatapnya tajam.
“Jangan pura-pura.”
Siska membalas dengan suara gemetar.
“Kamu bilang semua itu bonus perusahaan.”
“Dan kamu percaya begitu saja?”
“Aku percaya kamu!”
Nindy menyaksikan mereka bertengkar tanpa kepuasan sedikit pun.
Yang dirasakannya justru kelelahan.
Sebelas tahun hidupnya dibangun di atas kebohongan yang ternyata jauh lebih besar daripada perselingkuhan.
Rendy kemudian mendekati Nindy.
Nada suaranya berubah.
Lebih lembut.
“Nin.”
Nindy langsung merasa muak mendengar panggilan itu.
“Kita bisa selesaikan ini baik-baik.”
Beberapa menit sebelumnya, laki-laki itu melempar kopernya keluar rumah.
Sekarang ia meminta penyelesaian baik-baik.
“Kamu ingat waktu perusahaan saya baru berdiri?”
Rendy melanjutkan.
“Kamu bilang kamu percaya saya.”
“Saya percaya.”
“Kalau begitu bantu saya sekali lagi.”
Nindy menatap wajahnya lama.
Ada masa ketika ia sangat mencintai laki-laki itu.
Masa ketika mereka tinggal di rumah kontrakan kecil di Tebet dan makan mi instan di lantai karena belum punya meja makan.
Rendy pernah berjanji, jika perusahaannya sukses, Nindy tidak perlu bekerja terlalu keras lagi.
Namun ketika kesuksesan datang, janji itu hilang.
Rendy mulai meremehkan pekerjaan Nindy.
Mulai malu memperkenalkannya kepada relasi bisnis.
Mulai membandingkan penampilan Nindy dengan perempuan lain.
Nindy tersenyum pahit.
“Saya sudah membantu kamu sebelas tahun.”
Rendy menelan ludah.
“Sekarang saya berhenti.”
Malam itu, Rendy dan Siska diminta meninggalkan rumah.
Siska pergi lebih dulu.
Ia bahkan tidak membawa koper merahnya.
Sebelum masuk ke mobil, ia berhenti di depan Nindy.
“Aku benar-benar tidak tahu soal uang itu.”
Nindy tidak menjawab.
“Hubungan kami memang salah,” lanjut Siska. “Tapi Rendy bilang kalian sudah lama ingin berpisah.”
Nindy menatap anting mutiara di telinganya.
“Itu juga dia bilang miliknya?”
Siska menyentuh telinganya spontan.
Wajahnya berubah merah.
Ia melepas kedua anting tersebut dan menyerahkannya kepada Nindy.
Lalu pergi tanpa berkata lagi.
Rendy bertahan lebih lama.
Ia berkali-kali menelepon seseorang.
Kemudian mulai mengirim pesan.
Namun sekitar pukul sembilan malam, dua penyidik datang untuk menyerahkan surat panggilan pemeriksaan terkait laporan dugaan pemalsuan dokumen.
Rendy langsung menuduh Nindy.
“Kamu sudah menyiapkan semua ini.”
Nindy menatapnya lelah.
“Saya bahkan baru tahu pagi tadi.”
“Kamu ingin menghancurkan saya.”
“Tidak.”
Nindy menggeleng.
“Kamu melakukannya sendiri.”
Rendy akhirnya pergi.
Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, Nindy berdiri sendirian di ruang keluarga tanpa mendengar suara langkah suaminya.
Rumah terasa asing.
Namun sekaligus terasa lebih ringan.
Dalam dua minggu berikutnya, kehidupan Nindy berubah dengan sangat cepat.
Tim hukum melakukan audit penuh.
Ditemukan enam rekening perusahaan yang digunakan untuk memindahkan dana secara bertahap.
Beberapa transaksi menggunakan persetujuan digital yang tidak pernah diberikan Nindy.
Lebih mengejutkan lagi, nama Siska hanya muncul pada beberapa transaksi kecil.
Sebagian besar dana ternyata mengalir ke perusahaan milik seorang pria bernama Dimas Hartono.
Sahabat lama Rendy.
Sekaligus direktur keuangan perusahaannya.
Ketika Dimas dipanggil untuk dimintai keterangan, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Ia datang membawa sebuah hard disk.
“Saya ingin bekerja sama.”
Di dalam hard disk itu terdapat salinan email, percakapan, dan laporan keuangan internal selama hampir empat tahun.
Dimas mengaku awalnya ikut membantu menyembunyikan transaksi karena Rendy menjanjikan saham perusahaan.
Namun enam bulan sebelumnya, Rendy berniat menyingkirkannya.
Karena takut dijadikan kambing hitam, Dimas diam-diam menyimpan seluruh bukti.
Salah satu rekaman membuat Nindy sulit bernapas.
Dalam rekaman tersebut terdengar suara Rendy.
“Kalau perceraian selesai, saya akan pegang rumah dan anak-anak. Nindy tidak punya uang untuk melawan.”
Kemudian terdengar suara Dimas.
“Kalau sertifikatnya ternyata masih atas nama dia?”
Rendy tertawa.
“Dia bahkan tidak tahu apa yang pernah dia tandatangani.”
Nindy menghentikan rekaman.
Tangannya dingin.
Jadi gugatan cerai itu bukan hanya karena Siska.
Rendy sengaja memilih waktu ketika ia mengira Nindy tidak memiliki kekuatan finansial.
Ia bahkan sudah merencanakan menggunakan anak-anak sebagai tekanan agar Nindy menyerah terhadap pembagian aset.
Namun Rendy tidak pernah tahu bahwa pada hari yang sama, Tante Ratna telah memberikan Nindy sesuatu yang jauh lebih penting daripada Rp240 miliar.
Perlindungan.
Tiga bulan kemudian, proses hukum berjalan semakin berat bagi Rendy.
Beberapa asetnya dibekukan.
Perusahaannya kehilangan sejumlah klien utama setelah kasus manipulasi keuangan menjadi perhatian mitra bisnis.
Siska mengundurkan diri dan memberikan keterangan kepada penyidik.
Dimas menjadi saksi penting.
Sementara proses perceraian tetap berjalan.
Rendy beberapa kali meminta bertemu Nindy tanpa pengacara.
Semua ditolak.
Hingga suatu sore, Nindy akhirnya melihatnya di ruang mediasi pengadilan.
Rendy tampak jauh lebih kurus.
Tidak ada setelan mahal.
Tidak ada jam mewah yang biasanya sengaja dipamerkan.
Hanya kemeja putih sederhana.
“Aku salah,” katanya.
Nindy diam.
“Aku kehilangan semuanya.”
Nindy menatapnya.
“Tidak semuanya.”
Rendy mengangkat wajah.
“Kamu masih punya kesempatan menjadi ayah yang baik.”
Mata Rendy berkaca-kaca.
“Aku kira kamu akan melarang aku bertemu anak-anak.”
“Saya tidak ingin Dania dan Arka kehilangan ayah hanya karena pernikahan kita gagal.”
Rendy menunduk.
“Tapi hubunganmu dengan mereka tergantung pada apa yang kamu lakukan setelah ini. Bukan pada apa yang kamu katakan hari ini.”
Untuk pertama kalinya, Rendy tidak mencoba membantah.
Perceraian mereka akhirnya diputus beberapa bulan kemudian.
Hak pengasuhan utama diberikan kepada Nindy, sementara Rendy memperoleh jadwal kunjungan dengan ketentuan tertentu.
Kasus pidana dan gugatan perdata terkait transaksi perusahaan tetap berjalan terpisah.
Namun kehidupan Nindy tidak lagi berputar di sekitar Rendy.
Ia menjual sebagian saham gedung perkantoran yang diwarisinya dan menggunakan sebagian hasilnya untuk membentuk yayasan bantuan hukum dan keuangan bagi perempuan yang menjadi korban penyalahgunaan aset dalam rumah tangga.
Rumah di Menteng tidak dijual.
Bukan karena terlalu banyak kenangan.
Justru karena Nindy ingin menciptakan kenangan baru.
Ia mengubah ruang kerja Rendy menjadi perpustakaan kecil.
Kamar tamu menjadi ruang bermain dan belajar.
Sementara koper yang pernah dilempar ke teras disimpannya di gudang.
Setahun kemudian, pada suatu pagi, Nindy menemukan Dania sedang memandangi koper itu.
“Ibu masih simpan?”
Nindy tersenyum.
“Iya.”
“Kenapa?”
Nindy duduk di sebelah putrinya.
“Supaya Ibu ingat sesuatu.”
“Apa?”
Nindy memandang koper tersebut.
Benda itu pernah menjadi simbol penghinaan terbesar dalam hidupnya.
Saat ketika seseorang mencoba mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki tempat untuk pulang.
Namun ternyata justru hari itulah ia menemukan bahwa hidupnya selama ini tidak pernah bergantung pada siapa pun.
“Kadang-kadang,” kata Nindy pelan, “ketika seseorang membuang kita dari tempat yang kita kira milik kita, sebenarnya dia sedang menunjukkan bahwa kita sudah terlalu lama tinggal di tempat yang salah.”
Dania tidak sepenuhnya memahami.
Namun ia memeluk ibunya.
Nindy membalas pelukan itu.
Dari jendela, matahari pagi jatuh ke halaman rumah yang kini terasa berbeda.
Lebih tenang.
Lebih hidup.
Beberapa hari kemudian, sebuah surat datang dari kantor Pengacara Wijaya.
Bukan tentang Rendy.
Bukan tentang kasus perusahaan.
Surat itu berisi salinan terakhir tulisan tangan Tante Ratna yang baru ditemukan di brankas pribadinya.
Nindy membacanya sendirian.
Ratna menulis bahwa ia sengaja tidak pernah memberi tahu Nindy mengenai rumah dan beberapa aset lain karena ingin memastikan keponakannya belajar berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Namun pada bagian terakhir terdapat satu kalimat yang membuat air mata Nindy jatuh.
“Nindy, warisan terbesar yang bisa Tante berikan bukanlah Rp240 miliar, rumah, atau gedung. Warisan terbesar adalah kesempatan bagimu untuk mengetahui bahwa selama ini kamu selalu jauh lebih kuat daripada yang mereka ingin kamu percaya.”
Nindy melipat surat itu perlahan.
Ia menatap foto ibunya dan Tante Ratna di atas meja.
Lalu tersenyum.
Hari ketika Rendy memberikan surat cerai memang menghancurkan sebuah pernikahan.
Namun hari itu tidak menghancurkan hidup Nindy.
Justru untuk pertama kalinya, hari itu mengembalikan hidup tersebut kepada pemiliknya.
