Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Arief Prakoso, kepala tim akuisisi lahan dari sebuah perusahaan energi nasional yang sedang mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga surya terpadu di wilayah Wonogiri.
Bu Ratna memandangnya dengan tatapan bingung.
“Maaf, Pak. Saya kurang mengerti.”
Arief membuka peta besar di atas meja kayu depan rumah.
Di atasnya terdapat garis-garis warna yang membelah beberapa kawasan perbukitan.
“Tanah Ibu berada tepat di jalur utama proyek kami.”
Bu Ratna menatap titik merah yang ditunjuk Arief.
“Itu tanah saya?”
“Betul.”
“Semua?”
“Sebagian besar.”
Bu Ratna semakin tidak memahami arah pembicaraan itu.
Arief lalu mengeluarkan lembar penilaian dari sebuah map hitam.
“Perusahaan kami sudah melakukan kajian lokasi selama hampir satu tahun. Selain akses jalan yang strategis, lahan Ibu juga memiliki kontur yang sesuai dan berada dekat jaringan transmisi baru.”
Ia berhenti sebentar.
“Kami datang karena perusahaan bermaksud membeli tanah Ibu.”
Bu Ratna refleks memeluk sertifikat di dadanya.
“Tanah ini tidak saya jual, Pak.”
Arief tidak terkejut.
“Kami memahami kalau Ibu perlu waktu.”
“Saya tidak perlu waktu. Tanah ini peninggalan keluarga.”
Arief mengangguk sopan.
“Kami juga tidak akan memaksa.”
Ia kemudian menyodorkan dokumen penawaran.
“Tapi Ibu tetap berhak mengetahui nilainya.”
Bu Ratna menerima lembar itu dengan ragu.
Matanya bergerak perlahan membaca angka di bagian bawah halaman.
Ia terdiam.
Dibacanya sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
“Ini salah ketik, Pak?”
“Tidak.”
Bu Ratna menatap Arief.
“Delapan belas miliar?”
Arief mengangguk.
“Rp18 miliar untuk keseluruhan bidang yang kami butuhkan.”
Bu Ratna merasa napasnya tertahan.
Selama hidup, angka terbesar yang pernah ada dalam tabungannya bahkan belum pernah menyentuh dua puluh juta rupiah.
Sekarang seorang pria asing berdiri di halaman rumahnya sambil mengatakan tanah yang selama ini hanya dianggap ladang jagung biasa memiliki nilai delapan belas miliar rupiah.
Bu Ratna tertawa kecil.
Bukan karena bahagia.
Karena tidak percaya.
“Tanah seperti ini?”
Arief tersenyum tipis.
“Nilai tanah tidak selalu ditentukan dari apa yang tumbuh di atasnya, Bu. Kadang ditentukan oleh lokasi dan kebutuhan di masa depan.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa Bu Ratna langsung teringat Rian.
Anaknya yang menilai manusia dari pakaian, mobil, dan alamat rumah.
Anaknya yang malu memiliki ibu petani.
Arief kemudian menunjuk rumah kayu Bu Ratna.
“Rumah ini tidak termasuk area proyek. Ibu tetap bisa tinggal di sini.”
“Kalau saya setuju, kapan dibayar?”
“Setelah proses verifikasi dokumen, pengukuran ulang, dan penandatanganan. Sekitar tiga sampai empat minggu.”
Bu Ratna menatap surat tunggakan yang masih tertempel di pintu.
Arief mengikuti arah pandangannya.
“Apakah ada masalah dengan status tanah?”
Bu Ratna menggeleng cepat.
“Bukan status. Hanya tunggakan.”
“Berapa?”
“Rp96 juta.”
Arief mengangguk.
“Selama belum masuk pelelangan final, masih ada waktu untuk menyelesaikannya.”
Malam itu Bu Ratna tidak tidur.
Ia duduk sendirian di ruang tengah sambil menyalakan lampu kecil.
Di atas meja ada tiga benda.
Surat tunggakan.
Penawaran Rp18 miliar.
Dan uang Rp200 ribu dari Rian.
Bu Ratna memandang uang tersebut paling lama.
Uang itu terasa lebih berat daripada seluruh berkas di meja.
Pagi harinya, Bu Ratna pergi ke kantor pemerintah daerah untuk memastikan seluruh dokumen.
Ternyata penawaran Arief benar.
Proyek tersebut nyata.
Nilai penawaran juga sesuai dengan hasil appraisal independen.
Namun Bu Ratna belum langsung menandatangani.
Ia meminta bantuan Pak Darto, pensiunan pegawai bank yang tinggal dua rumah dari tempatnya, untuk memeriksa semuanya.
“Saya takut dibohongi,” kata Bu Ratna.
Pak Darto tertawa kecil.
“Kalau ini bohong, yang bohong terlalu niat, Bu.”
Setelah seluruh dokumen dipastikan aman, Bu Ratna akhirnya setuju menjual sebagian besar lahan.
Ia mempertahankan sekitar satu setengah hektare di sekitar rumah dan kebun kecil yang paling dekat dengan makam suaminya.
“Kenapa tidak sekalian semua?” tanya Arief.
Bu Ratna menatap pohon mangga tua di dekat belakang rumah.
“Kalau semua dijual, nanti saya tidak tahu harus pulang ke mana.”
Tiga minggu kemudian, uang muka pertama masuk ke rekening.
Bu Ratna datang ke bank dengan mengenakan kebaya sederhana yang biasa dipakainya menghadiri pengajian.
Petugas bank memintanya duduk di ruang khusus.
Ketika saldo ditampilkan di layar, tangan Bu Ratna dingin.
Ia meminta petugas membaca angkanya.
Bukan karena ia tidak bisa membaca.
Ia hanya takut salah melihat.
Setelah transaksi selesai sepenuhnya, jumlah bersih yang diterima Bu Ratna setelah biaya dan kewajiban lain masih lebih dari Rp17 miliar.
Hal pertama yang ia lakukan bukan membeli mobil.
Bukan merenovasi rumah.
Bukan membeli perhiasan.
Ia melunasi tunggakan Rp96 juta.
Setelah itu, ia memasukkan Rp1.840.000 dari kaleng biskuit ke rekening yang sama.
Petugas bank heran.
“Bu, uang segitu dibanding saldo Ibu sekarang sangat kecil.”
Bu Ratna tersenyum.
“Justru itu uang paling besar artinya.”
“Itu tabungan lama?”
“Untuk anak saya.”
Petugas itu hanya mengangguk.
Bu Ratna pulang menggunakan angkot.
Tetangga-tetangganya tidak mengetahui apa pun.
Selama hampir dua bulan, hidupnya tidak banyak berubah.
Ia tetap bangun pukul lima pagi.
Tetap menyiram cabai.
Tetap memberi makan ayam.
Tetap menjual sayuran setiap Selasa dan Jumat.
Namun diam-diam ia membeli sebidang tanah kecil dekat pasar dan mulai membangun enam kios sederhana.
Empat kios akan disewakan.
Dua lainnya ia rencanakan untuk kelompok ibu-ibu desa yang selama ini bekerja serabutan.
Pak Darto sempat bertanya, “Kenapa tidak pindah ke kota saja?”
Bu Ratna menjawab, “Kalau semua orang yang punya uang pindah ke kota, siapa yang memperbaiki desa?”
Sementara itu, kehidupan Rian di Surabaya mulai bergerak ke arah yang berbeda.
Pernikahannya dengan Nadia tinggal dua bulan.
Pak Surya sudah menyiapkan pesta besar di sebuah hotel mewah.
Rian semakin sibuk menjaga citra di depan keluarga calon istrinya.
Ia mengatakan ayahnya meninggal ketika dirinya kecil.
Tentang ibunya, Rian bahkan membuat cerita lebih lengkap.
Ia mengatakan ibunya meninggal karena sakit saat ia duduk di bangku SMP.
Nadia beberapa kali merasa kasihan.
“Kamu kuat banget bisa tumbuh tanpa orang tua.”
Rian hanya tersenyum.

“Aku sudah terbiasa mandiri.”
Suatu sore, Pak Surya mengundang Rian makan malam.
Di tengah pembicaraan soal pernikahan, Pak Surya tiba-tiba menanyakan sesuatu.
“Kamu asalnya dari Wonogiri, kan?”
Jantung Rian berdetak sedikit lebih cepat.
“Iya, Pak.”
“Daerah mana?”
“Sukamaju.”
Pak Surya mengangkat alis.
“Sukamaju?”
Rian mengangguk.
“Kenapa, Pak?”
Pak Surya tersenyum.
“Perusahaan teman saya baru saja mendapatkan proyek besar di sana.”
Rian mencoba tetap tenang.
“Proyek apa?”
“Energi.”
Pak Surya mengambil ponselnya.
“Katanya ada seorang ibu petani yang menjual tanah cukup luas. Nilainya lumayan fantastis untuk wilayah desa.”
Rian tertawa kecil.
“Paling pemilik tanah lama, Pak.”
“Namanya Ratna.”
Sendok di tangan Rian berhenti.
Nadia yang duduk di sebelahnya menoleh.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Pak Surya masih melihat layar.
“Ratna Wulandari. Luas tanah sekitar dua belas hektare.”
Wajah Rian mulai pucat.
Pak Surya melanjutkan tanpa menyadari perubahan itu.
“Nilai transaksinya sekitar delapan belas miliar.”
Kali ini gelas di tangan Rian hampir terlepas.
Nadia langsung menatapnya.
“Rian?”
Rian meneguk air.
“Kebetulan saja namanya sama.”
Namun setelah pulang, ia langsung menghubungi salah satu teman masa kecilnya di desa.
“Ada penjualan tanah besar di Sukamaju?”
Temannya tertawa.
“Kamu baru tahu?”
“Tanah siapa?”
“Tanah ibumu.”
Rian membeku.
“Berapa?”
“Orang desa bilang belasan miliar. Ada yang bilang delapan belas.”
Rian langsung menutup telepon.
Malam itu ia tidak bisa tidur.
Ia membuka kembali percakapan terakhir dengan ibunya.
Tidak banyak.
Pesan-pesan lama semuanya dari Bu Ratna.
Sudah makan belum?
Jangan sering pulang malam.
Ibu kirim sambal lewat bus.
Kalau capek jangan dipaksa.
Pesan terakhir dikirim dua hari setelah pertemuan mereka di trotoar.
Ibu sudah sampai rumah. Terima kasih tiketnya.
Rian tidak pernah membalas.
Pagi berikutnya ia menelepon Bu Ratna.
Tidak diangkat.
Ia menelepon lagi.
Tidak diangkat.
Menjelang siang, ia akhirnya nekat berangkat ke Wonogiri.
Namun sebelum sampai desa, sebuah masalah yang jauh lebih besar datang.
Nadia meneleponnya.
Suaranya dingin.
“Kamu sekarang di mana?”
“Perjalanan kerja.”
“Ke Wonogiri?”
Rian terdiam.
Nadia melanjutkan.
“Papa baru menelepon Pak Arief.”
Darah Rian seperti turun ke kaki.
“Ternyata Bu Ratna yang menjual tanah itu benar-benar ibumu.”
“Nadia, aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa?”
Suara Nadia mulai bergetar.
“Kamu bilang ibumu sudah meninggal.”
“Nad…”
“Kamu bikin aku berkali-kali datang ke makam orang tuaku dan bilang kamu iri karena tidak punya ibu. Padahal ibumu masih hidup.”
Rian memejamkan mata.
“Aku cuma takut keluargamu tidak menerima aku.”
“Karena ibumu petani?”
Rian tidak menjawab.
Nadia tertawa getir.
“Jadi selama ini bukan kamu yang malu miskin.”
“Bukan begitu.”
“Kamu malu pada orang yang membesarkanmu.”
Telepon terputus.
Beberapa menit kemudian, pesan masuk.
Pernikahan kita ditunda.
Rian memacu mobilnya lebih cepat menuju desa.
Ketika akhirnya tiba di rumah Bu Ratna, ia langsung terkejut.
Rumah kayu itu masih sama.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada pagar baru.
Tidak ada perubahan mencolok.
Bu Ratna sedang duduk di teras sambil membersihkan kacang panjang.
Ketika melihat sedan putih masuk ke halaman, tangannya berhenti.
Rian keluar.
“Bu.”
Bu Ratna kembali membersihkan sayuran.
“Tumben.”
Rian mendekat.
“Aku baru dengar soal tanah.”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Oh.”
“Benar terjual delapan belas miliar?”
“Benar.”
Rian menelan ludah.
“Kenapa Ibu tidak bilang?”
Bu Ratna mengangkat wajah.
“Kamu tidak bertanya.”
Rian terdiam.
“Aku kan anak Ibu.”
“Waktu Ibu datang ke Surabaya, kamu bilang Ibu orang desa.”
Kalimat itu langsung menusuk.
Rian duduk di kursi kayu.
“Aku salah.”
Bu Ratna tidak menjawab.
“Nadia tahu semuanya.”
“Bagus.”
Rian menatap ibunya tidak percaya.
“Bagus?”
“Biar dia tahu siapa calon suaminya sebelum menikah.”
Rian berdiri.
“Ibu sengaja cerita?”
“Tidak.”
“Lalu bagaimana keluarga Nadia tahu?”
“Dunia itu kecil.”
Rian mulai panik.
“Nadia mau membatalkan pernikahan.”
Bu Ratna menatapnya lama.
“Lalu kamu datang ke sini karena kehilangan Nadia atau karena tahu Ibu punya uang?”
Pertanyaan itu membuat Rian pucat.
“Aku datang untuk minta maaf.”
“Kalau tanah itu tetap mau dilelang karena utang Rp96 juta, apakah kamu akan datang?”
Rian membuka mulut.
Tidak ada suara.
Bu Ratna mengangguk kecil.
“Nah.”
Rian menunduk.
Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa tidak ada jawaban yang bisa menyelamatkan dirinya.
Ia benar-benar datang setelah mengetahui ibunya kaya.
Bahkan selama perjalanan, sebagian pikirannya sempat menghitung.
Kalau uang delapan belas miliar diwariskan kepadanya, masa depannya aman.
Kesadaran itu membuat dirinya sendiri muak.
Bu Ratna berdiri dan membawa keranjang sayur masuk ke rumah.
Rian mengejarnya.
“Bu.”
Ia memegang lengan ibunya.
Bu Ratna melepaskannya perlahan.
“Jangan.”
Rian tiba-tiba berlutut di lantai.
“Bu, maaf.”
Bu Ratna berhenti.
“Aku malu.”
“Apa?”
“Aku malu sama diriku sendiri.”
Air mata Rian mulai jatuh.
“Aku pikir kalau aku terlihat berasal dari keluarga kaya, orang akan lebih menghargai aku. Aku pikir kalau keluarga Nadia tahu Ibu petani, mereka akan memandangku rendah.”
Bu Ratna menatapnya.
“Jadi kamu memilih memandang rendah Ibu duluan?”
Rian menangis semakin keras.
“Iya.”
Bu Ratna menarik napas panjang.
“Aku membiayai sekolahmu bukan supaya kamu menjadi kaya.”
Rian menunduk.
“Aku menyuruhmu sekolah supaya pikiranmu lebih luas daripada ladang ini.”
Suara Bu Ratna mulai bergetar.
“Ternyata setelah sekolah tinggi, pikiranmu justru lebih sempit.”
Rian memegang kaki ibunya.
“Ampuni aku.”
Bu Ratna mundur satu langkah.
“Berdiri.”
Rian tidak bergerak.
“Ibu bilang berdiri.”
Rian akhirnya bangkit perlahan.
Bu Ratna menatap anak tunggalnya.
“Ibu maafkan kamu.”
Rian langsung menangis lega.
“Tapi jangan senang dulu.”
Ia terdiam.
“Maaf bukan berarti semua kembali seperti dulu.”
Wajah Rian kembali tegang.
“Kamu harus memperbaiki kebohonganmu sendiri.”
“Aku akan bicara dengan Nadia.”
“Bukan cuma Nadia.”
Bu Ratna masuk ke kamar lalu membawa sebuah map.
Ia menyerahkannya kepada Rian.
Di dalamnya ada dokumen pendirian yayasan pendidikan.
Rian membaca nama di halaman pertama.
Yayasan Suharto Ratna.
Nama kedua orang tuanya.
“Apa ini?”
“Sebagian besar uang tanah sudah Ibu tempatkan di deposito, kios desa, dan yayasan.”
Rian terdiam.
“Yayasan ini akan memberikan beasiswa untuk anak petani yang ingin kuliah.”
Rian menatap ibunya.
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Supaya mereka tidak perlu menjual sapi seperti Ibu dulu.”
“Lalu uang Ibu?”
“Ibu cukup.”
Rian segera berkata, “Aku tidak minta uang.”
Bu Ratna menatapnya.
“Bagus.”
Sore itu Rian kembali ke Surabaya.
Keesokan harinya, ia menemui Nadia dan Pak Surya.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada cerita palsu.
Ia mengakui semuanya.
Ia mengatakan ibunya masih hidup.
Ia seorang petani.
Ia mengakui bahwa dirinya berbohong karena takut dianggap tidak selevel.
Pak Surya menatapnya lama.
“Kamu tahu apa kesalahan terbesarmu?”
Rian menunduk.
“Berbohong?”
“Bukan.”
Pak Surya menggeleng.
“Kamu mengira saya menilai calon menantu dari pekerjaan orang tuanya.”
Rian diam.
“Saya juga anak petani.”
Rian mengangkat kepala.
Pak Surya tersenyum hambar.
“Ayah saya dulu buruh tani di Lamongan. Saya kuliah pakai beasiswa.”
Rian benar-benar kehilangan kata.
“Kamu bahkan tidak pernah memberi kami kesempatan mengenal ibumu.”
Pernikahan tetap ditunda.
Nadia membutuhkan waktu.
Rian menerimanya.
Selama beberapa bulan berikutnya, ia mulai rutin pulang ke Wonogiri.
Bukan untuk membicarakan warisan.
Ia membantu Bu Ratna mengurus kios.
Ia mengantar dokumen yayasan.
Ia bahkan ikut menyeleksi penerima beasiswa pertama.
Suatu Jumat sore, seorang anak SMA datang membawa ibunya.
Ibunya mengenakan pakaian sederhana dan sandal yang masih terkena lumpur.
Anak itu terlihat malu.
Ia beberapa kali meminta ibunya menunggu di luar ruangan.
Rian melihat semuanya.
Ia memanggil anak itu.
“Mas.”
Anak itu menoleh.
“Jangan suruh ibumu menunggu di luar.”
Anak tersebut tampak bingung.
Rian tersenyum tipis.
“Percaya sama saya. Ada penyesalan yang terlalu mahal kalau baru disadari setelah kita dewasa.”
Dari kejauhan, Bu Ratna mendengar kalimat itu.
Ia tidak berkata apa-apa.
Ia hanya kembali memasukkan jagung manis ke dalam tas kain tua yang sama.
Sebelum Rian pulang ke Surabaya, Bu Ratna menyerahkan tas itu kepadanya.
“Buat di jalan.”
Rian menerima tas tersebut dengan kedua tangan.
Tidak ada lagi wajah jijik.
Tidak ada lagi gerakan membersihkan jari ke celana.
Ia membuka sedikit kain penutupnya.
Aroma jagung hangat bercampur sambal rawit langsung keluar.
Rian menahan air mata.
“Terima kasih, Bu.”
Bu Ratna mengangguk.
Sedan putih itu kemudian bergerak meninggalkan halaman.
Di kursi penumpang depan, tas kain kusam itu diletakkan dengan hati-hati.
Bukan di bagasi.
Bukan di lantai.
Melainkan di tempat yang mudah dijangkau.
Karena akhirnya Rian memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh gedung tinggi, setelan mahal, atau pergaulan dengan orang kaya.
Tanah senilai delapan belas miliar memang mampu mengubah kehidupan Bu Ratna.
Namun bukan uang itu yang membuat seorang ibu menjadi berharga.
Bu Ratna sudah berharga jauh sebelum siapa pun mengetahui harga tanahnya.
Hanya saja, dibutuhkan kehilangan harga diri yang sangat besar bagi Rian untuk akhirnya menyadarinya.
