MERTUAKU YANG KEJAM MEMBUANG ABU JENAZAH AYAHKU KE TOILET KARENA DIANGGAP MEMBAWA SIAL!

Maya tidak menunggu sampai siang.

Pukul 08.40 WIB, setelah memastikan ibunya berada di kamar bersama seorang perawat panggilan, ia meninggalkan rumah di BSD City dengan membawa guci kosong milik ayahnya di kursi penumpang.

Rendy mencoba menghentikannya di dekat pintu garasi.

“Kamu mau ke mana?”

“Bank.”

Rendy menyandarkan tubuh ke pintu mobil.

“Kalau ini soal warisan, kita bisa bicarakan baik-baik.”

Maya menatapnya beberapa detik.

Kurang dari satu jam sebelumnya, pria itu masih menahan kedua tangannya ketika abu ayahnya dibuang ke toilet.

Sekarang suaranya terdengar lembut.

“Menarik,” kata Maya pelan. “Tadi kamu tidak tertarik membicarakan apa pun baik-baik.”

Wajah Rendy mengeras.

“Maya, jangan berlebihan.”

Maya menyalakan mesin.

“Menjauh dari mobil saya.”

“Saya suamimu.”

“Untuk sementara.”

Rendy membeku.

Maya menjalankan mobil tanpa menoleh lagi.

Safe deposit box milik Pak Handoko berada di sebuah bank swasta di Bandung. Pak Heru, pengacara keluarga yang sudah mengenal ayah Maya lebih dari dua puluh tahun, menunggunya di ruang konsultasi.

Begitu Maya masuk, pria berusia enam puluhan itu berdiri.

Wajahnya tampak lebih tua daripada yang Maya ingat.

“Turut berduka, Maya.”

Maya hanya mengangguk.

Jika seseorang mengucapkan kalimat itu kemarin, mungkin ia akan menangis.

Hari ini rasanya air matanya telah habis.

Pak Heru meletakkan sebuah kotak logam abu-abu di atas meja.

“Bapakmu meninggalkan instruksi tertulis. Kotak ini hanya boleh dibuka jika beliau meninggal atau jika beliau menyatakan sendiri bahwa nyawanya terancam.”

Maya langsung menatapnya.

“Nyawanya terancam?”

Pak Heru tidak menjawab.

Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat dengan tulisan tangan Pak Handoko.

Untuk Maya.

Tangan Maya mulai gemetar.

Ia membuka amplop itu.

Di dalamnya hanya ada satu lembar surat.

Maya, kalau kamu membaca ini, berarti Papa sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri. Papa minta maaf karena selama ini diam. Papa tidak ingin menghancurkan rumah tanggamu sebelum punya bukti yang cukup. Tapi kalau sesuatu terjadi pada Papa, jangan percaya bahwa semuanya adalah kebetulan.

Napas Maya tercekat.

Ia melanjutkan membaca.

Perusahaan keluarga Rendy tidak dibangun dari nol seperti yang selalu mereka ceritakan. Dua puluh dua tahun lalu, ayah Rendy, almarhum Surya Atmaja, adalah rekan bisnis Papa. Kami mendirikan PT Arunika Sentosa bersama.

Maya berhenti.

Nama itu dikenalnya.

Arunika Sentosa adalah perusahaan induk milik keluarga Rendy, perusahaan properti dan logistik yang sekarang bernilai ratusan miliar rupiah.

Selama ini Sandra selalu membanggakan bahwa perusahaan tersebut merupakan warisan suaminya.

Maya membaca lebih cepat.

Papa memiliki empat puluh persen saham. Tetapi ketika perusahaan mulai berkembang, Surya memalsukan dokumen pengalihan saham dengan bantuan seorang notaris. Papa kehilangan seluruh kepemilikan dalam satu malam.

Maya mendongak.

“Pak Heru…”

Pengacara itu mengangguk perlahan.

“Saya tahu sebagian.”

“Kenapa Papa tidak pernah menuntut?”

“Karena saat itu ibumu sedang hamil anak kedua.”

Maya terdiam.

Ia pernah memiliki adik.

Bayi laki-laki yang meninggal beberapa jam setelah dilahirkan.

Pak Heru melanjutkan.

“Surya mengancam akan menghancurkan usaha kecil keluargamu, menciptakan utang palsu, bahkan menyeret ayahmu ke perkara pidana. Bapakmu memilih mundur.”

Maya kembali melihat isi kotak.

Ada salinan akta perusahaan lama.

Catatan transfer bank.

Fotokopi sertifikat saham.

Rekaman percakapan dalam sebuah flashdisk.

Dan sebuah map merah dengan tulisan besar.

ASLI.

Di dalamnya terdapat dokumen pengakuan utang yang ditandatangani Surya dua puluh tahun lalu.

Angkanya membuat Maya terpaku.

Nilai kepemilikan Pak Handoko, termasuk dividen yang tidak pernah dibayarkan, setelah dihitung berdasarkan valuasi perusahaan saat ini, mencapai lebih dari seratus delapan puluh miliar rupiah.

Namun itu bukan bagian yang paling mengejutkan.

Pak Heru mengeluarkan map terakhir.

“Ini ditemukan ayahmu enam bulan lalu.”

Maya membukanya.

Isinya laporan audit internal Arunika Sentosa.

Beberapa transaksi diberi tanda merah.

Perusahaan cangkang.

Invoice palsu.

Pembelian tanah menggunakan harga yang dimanipulasi.

Transfer ke rekening pribadi.

Dan nama yang muncul berkali-kali adalah Rendy Atmaja.

Suaminya.

Maya merasa ruangan itu mendadak terlalu sempit.

“Dari mana Papa mendapatkan ini?”

“Seseorang dari bagian keuangan Arunika menghubunginya. Orang itu tahu sejarah perusahaan. Dia juga tahu Rendy sedang menggunakan perusahaan untuk menutup utang pribadi.”

“Utang apa?”

Pak Heru mendorong dokumen lain ke arahnya.

Pinjaman investasi.

Perdagangan spekulatif.

Jaminan aset perusahaan.

Totalnya hampir enam puluh miliar rupiah.

Maya teringat semua “rapat investor” yang selalu dijadikan alasan Rendy.

Semua perjalanan bisnis.

Semua malam ketika pria itu pulang menjelang pagi.

“Jadi transaksi miliaran yang mereka katakan sedang mereka tutup…”

“Mungkin refinancing untuk menutup lubang lama.”

Maya tertawa kecil.

Tidak ada kegembiraan dalam suara itu.

Sandra membuang abu ayahnya karena takut membawa sial pada bisnis mereka.

Padahal bisnis itu sendiri sudah berdiri di atas kebohongan selama puluhan tahun.

Maya lalu menemukan sebuah benda terakhir di dasar kotak.

Kartu memori.

Di atasnya terdapat stiker bertuliskan 18 AGUSTUS.

Empat hari sebelum kebakaran.

Pak Heru memasukkannya ke laptop.

Sebuah rekaman suara terdengar.

Suara Pak Handoko.

“Saya tahu Anda mengambil uang perusahaan, Rendy.”

Maya berhenti bernapas.

Kemudian terdengar suara lain.

Suara suaminya.

“Bapak salah paham.”

“Saya punya bukti.”

Hening beberapa detik.

Rendy kembali berbicara.

“Apa yang Bapak inginkan?”

“Kembalikan uang itu dan akui kepemilikan saham saya. Saya tidak akan membiarkan kamu menghancurkan hidup Maya ketika semuanya terbongkar.”

Lalu suara kursi bergeser keras.

Rendy terdengar lebih dekat.

“Bapak seharusnya tidak ikut campur.”

Rekaman berhenti.

Maya merasakan ujung jarinya membeku.

“Papa bertemu Rendy empat hari sebelum kebakaran.”

Pak Heru mengangguk.

“Dan sepertinya pertemuan itu tidak berjalan baik.”

Maya langsung berdiri.

“Kita ke polisi.”

Siang itu, penyelidikan kebakaran rumah Pak Handoko yang semula dianggap sebagai kecelakaan mulai berubah arah.

Tim penyidik kembali memeriksa lokasi.

Hasil sementara sebelumnya memang menunjukkan kebakaran bermula dari area belakang rumah.

Namun setelah penyelidikan ulang, ditemukan sesuatu yang aneh.

Salah satu sambungan regulator gas di dapur ternyata sengaja dilonggarkan.

Lebih mengejutkan lagi, kamera CCTV rumah tetangga merekam sebuah mobil hitam berhenti sekitar dua ratus meter dari rumah Pak Handoko pada pukul 01.36 WIB.

Mobil itu berada di sana selama sembilan belas menit.

Nomor pelatnya tidak terlihat jelas.

Namun model dan warnanya sama dengan mobil yang biasa digunakan Rendy.

Maya tidak langsung pulang.

Ia meminta ibunya dijemput oleh sepupunya dan dibawa ke apartemen sementara di Jakarta.

Kemudian ia menelepon notaris.

Setelah itu pengacara perceraian.

Terakhir, bagian keamanan kompleks rumahnya.

Ketika Maya tiba di BSD menjelang malam, Sandra sedang duduk di ruang keluarga bersama dua kerabatnya.

Rendy berdiri dekat jendela sambil menelepon seseorang.

Begitu melihat Maya, Sandra tersenyum tipis.

“Sudah selesai dramanya?”

Maya meletakkan tas di atas meja.

“Belum.”

Rendy menutup telepon.

“Apa yang kamu lakukan di bank?”

“Menemukan milik ayah saya.”

Sandra mendengus.

“Kalau cuma uang warisan, jangan bertingkah seolah dunia akan kiamat.”

Maya mengeluarkan satu lembar fotokopi dokumen.

Ia meletakkannya di depan Sandra.

Wanita itu awalnya masih tersenyum.

Lalu warna wajahnya berubah.

Nama Surya Atmaja terlihat jelas di bawah tanda tangan pengakuan kepemilikan saham Pak Handoko.

Sandra meraih kertas itu.

“Ini palsu.”

“Ada dokumen asli.”

“Mustahil.”

“Ada arsip bank. Ada pencatatan modal awal. Ada saksi. Ada audit forensik yang sudah mulai dilakukan.”

Sandra menoleh cepat kepada Rendy.

Untuk pertama kalinya Maya melihat ketakutan yang nyata di wajah ibu mertuanya.

Rendy berjalan mendekat.

“Maya, dengarkan aku.”

Maya mundur satu langkah.

“Jangan sentuh saya.”

“Mungkin papamu memang pernah berbisnis dengan Papa, tapi itu urusan generasi mereka.”

“Benar.”

Maya mengeluarkan dokumen kedua.

“Tapi yang ini urusan generasi kita.”

Rendy mengambilnya.

Ia langsung pucat.

Laporan transaksi perusahaan.

Nama rekening.

Nilai transfer.

Tanggal.

Semuanya ada.

Sandra berdiri.

“Rendy, apa ini?”

Rendy tidak menjawab.

“Rendy!”

“Diam, Ma!”

Bentakan itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Sandra menatap putranya tidak percaya.

Rendy kemudian menoleh kepada Maya.

“Kita bisa menyelesaikan ini.”

“Kita?”

“Maya, aku suamimu. Kalau perusahaan jatuh, nama kita juga ikut rusak.”

Maya hampir tidak percaya apa yang didengarnya.

“Ketika ayah saya meninggal, kamu bilang jangan libatkan kamu.”

Rendy mengatupkan rahang.

“Sekarang perusahaanmu terancam, tiba-tiba kita menjadi satu keluarga?”

Sandra mencoba mengambil alih.

“Kamu pikir dengan menyerahkan dokumen itu ke polisi kamu akan menang? Perusahaan ini mempekerjakan ratusan orang.”

Maya menatapnya.

“Jangan sembunyikan keserakahan di belakang nasib karyawan.”

“Kamu ingin membalas dendam hanya karena masalah abu?”

Kalimat itu membuat Maya terdiam.

Sandra seolah baru sadar bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang salah.

Maya berjalan mendekatinya.

“Bagi Ibu, mungkin itu cuma abu.”

Suaranya tetap rendah.

“Tapi bagi Mama saya, itu satu-satunya yang tersisa dari lelaki yang hidup bersamanya selama tiga puluh lima tahun.”

Sandra membuang muka.

Maya melanjutkan.

“Dan bahkan seandainya Ibu tidak melakukan itu, dokumen ini tetap akan saya serahkan.”

Rendy memandang Maya tajam.

“Kamu sudah menyerahkannya?”

Maya tidak menjawab.

Suara bel rumah tiba-tiba terdengar.

Kemudian terdengar suara petugas keamanan.

Di luar pagar berdiri beberapa orang penyidik.

Wajah Rendy berubah.

“Kamu gila.”

Maya justru tersenyum tipis.

“Tidak.”

Ia menatap jam dinding.

“Saya hanya terlambat menyadari saya tinggal bersama siapa.”

Penyidikan berlangsung selama berbulan-bulan.

Rendy akhirnya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penggelapan dana perusahaan dan manipulasi laporan keuangan.

Namun mengenai kebakaran, bukti terhadapnya belum cukup.

Mobil yang terlihat di CCTV ternyata bukan mobil Rendy.

Melainkan kendaraan milik salah satu pegawai lama Arunika.

Maya sempat mengira orang itu disuruh Rendy.

Ternyata kebenarannya jauh lebih rumit.

Pegawai tersebut bernama Dimas.

Ia adalah kepala akuntansi yang pertama kali memberikan dokumen kepada Pak Handoko.

Malam sebelum kebakaran, Dimas datang diam-diam karena hendak menyerahkan bukti tambahan.

Ia pergi sebelum kebakaran terjadi.

Lalu polisi menemukan rekaman dari kamera dasbor mobilnya.

Pada pukul 01.58 WIB, ketika ia meninggalkan kawasan itu, sebuah sepeda motor melewatinya menuju rumah Pak Handoko.

Pengendaranya memakai jaket pengemudi daring.

Nomor kendaraan berhasil diperjelas.

Polisi menemukan pengendaranya dua minggu kemudian.

Pria itu mengaku dibayar untuk masuk ke halaman belakang dan melonggarkan sambungan gas.

Siapa yang membayar?

Bukan Rendy.

Sandra.

Ketika penyidik menunjukkan bukti transfer, wanita itu tetap menyangkal.

Sampai sebuah pesan suara ditemukan di ponsel pengendara tersebut.

“Tidak perlu melukai siapa pun. Saya cuma mau bikin orang tua itu takut dan berhenti mengganggu bisnis keluarga saya.”

Suara Sandra terdengar jelas.

Ia mengaku hanya ingin menyebabkan kebocoran kecil agar Pak Handoko panik.

Ia mengklaim tidak pernah berniat membakar rumah.

Namun kebocoran gas bertemu percikan listrik dari kulkas tua.

Api menyebar dalam hitungan menit.

Pak Handoko meninggal.

Sandra akhirnya ditahan.

Hari ketika polisi membawanya keluar, Maya berdiri beberapa meter dari gerbang rumah.

Sandra berhenti di depannya.

Tidak ada lagi pakaian mewah.

Tidak ada lagi tatapan angkuh.

“Kamu puas sekarang?”

Maya menggeleng.

“Tidak.”

“Karena saya akan masuk penjara?”

“Karena Papa saya tetap tidak kembali.”

Sandra menelan ludah.

Untuk pertama kalinya ia tidak memiliki jawaban.

Enam bulan kemudian, pengadilan perdata mengakui hak kepemilikan Pak Handoko berdasarkan dokumen lama dan rangkaian bukti keuangan.

Setelah restrukturisasi dan penyelesaian hukum, sebagian besar aset yang semula dikuasai keluarga Atmaja dibekukan.

Maya tidak mengambil alih perusahaan.

Ia menjual hak ekonominya kepada investor baru dengan syarat seluruh pekerja tetap dipertahankan.

Sebagian uang diberikan kepada ibunya.

Sebagian digunakan untuk mendirikan yayasan bantuan hukum bagi keluarga korban kejahatan finansial.

Sisanya disimpan Maya tanpa banyak perubahan dalam hidupnya.

Rumah di BSD dijual.

Ia membeli rumah yang lebih kecil di Bandung, dekat tempat tinggal ibunya.

Suatu sore, hampir setahun setelah kebakaran, Maya dan Dewi pergi ke sebuah bukit di Lembang.

Mereka membawa sebuah kotak kayu kecil.

Di dalamnya bukan abu Pak Handoko.

Abu itu sudah hilang selamanya.

Kotak tersebut berisi segenggam tanah dari halaman rumah lama mereka yang berhasil diambil sebelum bangunan dibersihkan.

Dewi memegangnya dengan kedua tangan.

“Mama dulu berpikir kalau abu Papa hilang, berarti kita kehilangan Papa untuk kedua kalinya.”

Maya menatap hamparan kota di kejauhan.

“Sekarang?”

Dewi tersenyum kecil.

“Orang tidak tinggal di dalam guci.”

Ia menyentuh dadanya.

“Mereka tinggal di sini.”

Maya akhirnya menangis.

Bukan seperti hari kebakaran.

Bukan pula seperti pagi ketika abu ayahnya dibuang.

Tangis itu terasa lebih tenang.

Seolah sesuatu yang selama berbulan-bulan terikat di dalam dadanya akhirnya dilepaskan.

Sebelum pulang, Maya membuka surat terakhir Pak Handoko sekali lagi.

Ada satu kalimat yang dulu tidak terlalu diperhatikannya.

Jangan gunakan bukti ini untuk membalas dendam. Gunakan hanya jika kebenaran memang harus diselamatkan.

Maya menatap ibunya.

Barulah ia memahami sesuatu.

Sandra pernah percaya abu orang mati dapat membawa sial.

Rendy percaya uang dapat melindungi keluarganya dari segala akibat.

Keduanya salah.

Yang menghancurkan keluarga mereka bukan abu Pak Handoko.

Bukan pula Maya.

Melainkan kebohongan yang mereka pelihara sendiri selama bertahun-tahun.

Dan pada akhirnya, Pak Handoko tidak perlu bangkit dari kematian untuk membalas siapa pun.

Ia hanya meninggalkan kebenaran.

Ternyata itu sudah lebih dari cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang