Hartawan Wijaya masih memeluk Cinta ketika pandangannya jatuh pada pipi kiri cucunya.
Senyum hangat di wajah pria berusia enam puluh tujuh tahun itu perlahan menghilang.
Bekas merah berbentuk telapak tangan masih terlihat jelas.
“Cinta.”
Suara Hartawan berubah rendah.
“Kenapa pipimu?”
Gadis kecil itu refleks menyentuh pipinya.
Maya yang berdiri beberapa langkah di belakang segera mendekat. Dia tahu ayahnya. Hartawan jarang meninggikan suara, tetapi justru ketenangannya adalah hal yang paling ditakuti orang-orang yang mengenalnya.
“Tidak apa-apa, Yah.”
Hartawan menatap Maya.
“Ayah tidak bertanya kepadamu.”
Lalu dia kembali menatap cucunya.
“Siapa yang melakukan ini?”
Cinta terdiam.
Ratusan orang di ballroom seolah ikut menahan napas.
Di seberang ruangan, wajah Siska langsung pucat.
Dimas berdiri kaku di sampingnya.
Cinta menoleh ke arah mereka.
Jari kecilnya terangkat.
“Tante itu.”
Semua kepala mengikuti arah telunjuk Cinta.
Tepat kepada Siska.
Suara bisik-bisik langsung memenuhi ballroom.
Hartawan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.
Dia hanya memandang Siska.
Namun tatapan itu cukup membuat perempuan tersebut mundur satu langkah.
“Pak Hartawan, ini salah paham,” Dimas segera menyela sambil berjalan mendekat. “Anak kecil kadang membesar-besarkan kejadian.”
Maya menatap mantan suaminya seolah baru pertama kali melihat wajahnya.
Bahkan sekarang, setelah semua yang terjadi, Dimas masih memilih menyelamatkan Siska.
Bukan putrinya.
Hartawan mengusap rambut Cinta, lalu menyerahkannya kepada seorang perempuan paruh baya yang datang bersama rombongannya.
“Bawa Cinta ke ruang VIP. Beri dia makan.”
Cinta menggenggam jas kakeknya.
“Kakek jangan marah.”
Hartawan berjongkok.
“Kakek tidak marah kepada Cinta.”
“Jangan pukul Tante Siska.”
Kalimat polos itu membuat Maya tercekat.
Hartawan tersenyum tipis.
“Kakek tidak perlu memukul siapa pun.”
Dia berdiri.
“Orang dewasa punya cara lain untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Cinta akhirnya pergi bersama pengasuh.
Begitu pintu ruang VIP tertutup, Hartawan berjalan menuju panggung.
Pembawa acara yang sejak tadi kebingungan segera memberikan mikrofon kepadanya.
“Selamat malam.”
Ballroom langsung sunyi.
“Malam ini seharusnya kita berbicara tentang pendidikan, pembangunan, dan tanggung jawab sosial perusahaan.”
Hartawan berhenti sebentar.
“Tapi sebelum acara dimulai, saya ingin memperkenalkan seseorang.”
Tangannya terulur ke arah Maya.
“Putri saya.”
Suara gaduh langsung pecah.
Dimas merasa lututnya melemas.
Hartawan melanjutkan.
“Maya Wijaya Kusuma. Anak tunggal saya dan pemegang saham keluarga terbesar kedua setelah saya di Wijaya Utama.”
Kilatan kamera menyambar tanpa henti.
Maya berdiri tegak.
Tidak ada perhiasan mewah di tubuhnya. Tidak ada gaun berkilauan. Dia hanya mengenakan gaun biru tua sederhana yang dibawakan asistennya beberapa jam sebelumnya.
Namun malam itu, tidak seorang pun melihatnya sebagai perempuan miskin.
Ibu Henny mencengkeram tas tangannya.
“Tidak mungkin,” gumamnya.
Siska menoleh kepada Dimas.
“Kamu bilang dia bukan siapa-siapa.”
Dimas tidak menjawab.
Di kepalanya hanya ada satu ingatan.
Enam tahun lalu, ketika Maya datang ke rumah keluarganya dengan dua koper.
Dia mengatakan orang tuanya tinggal jauh dan tidak ingin ikut campur dalam pernikahan mereka.
Dimas tidak pernah bertanya lebih jauh.
Dia menganggap Maya malu karena keluarganya miskin.
Sekarang dia baru menyadari bahwa selama enam tahun, bukan Maya yang tidak memiliki apa-apa.
Maya hanya memilih tidak menunjukkan apa yang dimilikinya.

Hartawan turun dari panggung dan berhenti tepat di depan Dimas.
“Saya pernah ingin bertemu Anda.”
Dimas menelan ludah.
“Saya juga, Pak.”
“Bukan sebagai pengusaha.”
Hartawan menatapnya dingin.
“Sebagai ayah Maya.”
Dimas kehilangan kata-kata.
“Enam tahun lalu saya meminta bertemu dengan laki-laki yang ingin menikahi putri saya. Maya melarang saya.”
Hartawan menoleh kepada putrinya.
“Dia berkata ingin menjalani kehidupan tanpa nama Wijaya. Saya menghormatinya.”
Maya menundukkan kepala.
Hartawan kembali memandang Dimas.
“Ternyata saya salah.”
“Pak, saya bisa menjelaskan.”
“Jelaskan apa?”
Dimas menarik napas.
“Rumah tangga kami memang sedang bermasalah. Tapi masalah pribadi seharusnya tidak dicampur dengan bisnis.”
“Benar.”
Jawaban Hartawan justru membuat Dimas sedikit lega.
Namun kalimat berikutnya menghancurkan harapan itu.
“Karena itulah kredit perusahaan Anda tidak dibekukan akibat perceraian.”
Dimas membeku.
Hartawan mengangkat tangannya.
Pak Bambang datang membawa sebuah tablet.
“Selama dua bulan terakhir, tim risiko kami menemukan sesuatu yang jauh lebih serius.”
Beberapa layar besar ballroom yang sebelumnya menampilkan logo acara berubah.
Muncul rangkaian transaksi.
Nama perusahaan.
Nomor rekening.
Tanggal transfer.
Dimas menatap layar dengan wajah pucat.
Hartawan melanjutkan.
“Nusa Group mengajukan fasilitas kredit lima puluh miliar rupiah dengan menjaminkan pendapatan dari proyek yang nilainya dilebihkan.”
“Itu tidak benar!”
Direktur keuangan Nusa Group yang berdiri di belakang kerumunan justru menundukkan kepala.
Hartawan menunjuk satu transaksi.
“Delapan miliar rupiah dipindahkan melalui perusahaan vendor bernama Sentra Prima Konsultan.”
Siska tiba-tiba menggenggam lengan Dimas.
Maya melihat gerakan itu.
Lalu sesuatu terlintas di pikirannya.
“Siska bekerja di mana sebelum mengenal Dimas?”
Pak Bambang menjawab pelan.
“Sentra Prima Konsultan.”
Semua orang menoleh.
Siska melepaskan tangan Dimas.
“Bukan saya.”
Hartawan tidak melihat Siska.
“Direktur perusahaan tersebut adalah kakak kandung Anda.”
Wajah perempuan itu kehilangan warna.
Dimas menatapnya tajam.
“Kamu bilang perusahaan itu milik temanmu.”
“Dimas, dengarkan aku.”
“Delapan miliar?”
Suara Dimas mulai bergetar.
Siska menarik napas cepat.
“Kamu juga menikmati uangnya!”
Kalimat itu terlontar begitu saja.
Terlambat bagi Siska untuk menariknya kembali.
Beberapa wartawan langsung mengangkat ponsel.
Dimas memegang kepalanya.
Hartawan menyerahkan mikrofon kepada pembawa acara.
“Saya kira penjelasannya cukup.”
Lalu dia berjalan pergi.
Namun Dimas mengejarnya.
“Maya!”
Maya berhenti.
Untuk pertama kalinya malam itu, Dimas tidak memandang Hartawan.
Dia hanya memandang perempuan yang pernah menjadi istrinya.
“Aku salah.”
Maya diam.
“Aku marah. Aku bodoh. Aku terbawa Siska. Tapi kita punya Cinta.”
Maya tersenyum getir.
“Jangan gunakan nama Cinta untuk menyelamatkan dirimu.”
“Aku ayahnya.”
“Ketika dia ditampar, kamu berdiri tiga meter darinya.”
Dimas terdiam.
“Aku melihat wajahnya mencari kamu,” lanjut Maya. “Aku melihat bagaimana dia menunggu ayahnya datang. Kamu tahu apa yang kamu lakukan?”
Mata Maya mulai berkaca-kaca.
“Kamu melihat jam tanganmu.”
Kalimat itu menghantam Dimas lebih keras daripada semua dokumen di layar.
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
Maya mengangguk.
“Tapi bukan berarti aku harus kembali.”
Ibu Henny tiba-tiba mendekat.
“Maya.”
Nada suaranya berubah total.
Tidak ada lagi penghinaan.
“Kita keluarga.”
Maya memandang mantan ibu mertuanya.
Enam tahun penghinaan seolah berputar kembali dalam pikirannya.
Pakaian murah.
Perempuan tidak berguna.
Menantu pembawa sial.
Perempuan miskin.
Maya tersenyum kecil.
“Bu Henny, beberapa jam lalu Anda hendak menampar saya.”
Wajah Henny menegang.
“Saya sedang emosi.”
“Dan sekarang Anda tahu siapa ayah saya.”
Maya mendekat satu langkah.
“Jadi mana yang membuat Anda berubah? Penyesalan atau nama keluarga saya?”
Henny tidak mampu menjawab.
Maya berbalik.
Namun Siska mendadak berteriak.
“Jangan sok suci!”
Semua orang kembali menoleh.
Siska sudah kehilangan kendali.
“Kamu sengaja menyembunyikan identitasmu! Kamu menjebak mereka!”
Maya berhenti.
“Benar. Saya menyembunyikan identitas saya.”
Dia menatap Siska.
“Tapi saya tidak pernah menyuruh Anda tidur dengan suami orang.”
Wajah Siska memerah.
“Saya juga tidak pernah menyuruh Anda menampar anak lima tahun.”
Dua petugas keamanan hotel mendekat.
Siska mundur.
“Jangan sentuh saya!”
Pada saat bersamaan, dua pria berpakaian formal masuk ke ballroom bersama beberapa petugas lain.
Mereka tidak datang untuk Siska.
Mereka menghampiri Dimas.
Salah satu dari mereka menunjukkan identitas dan surat resmi.
Dimas membaca sekilas.
Wajahnya berubah.
Pak Bambang berbisik kepada Maya bahwa laporan transaksi mencurigakan telah ditindaklanjuti otoritas sejak beberapa minggu sebelumnya. Pembekuan dana sore tadi hanyalah langkah mitigasi risiko, bukan perintah Hartawan.
Maya menoleh kepada ayahnya.
“Jadi Ayah tidak menghancurkan perusahaan mereka?”
Hartawan menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu semua yang terjadi sore ini?”
“Mereka menghancurkannya sendiri.”
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah Pondok Indah, Maya mengembuskan napas panjang.
Dia tidak ingin kemenangan yang dibangun dari balas dendam.
Dia hanya ingin berhenti menjadi korban.
Malam itu Dimas tidak langsung ditangkap. Namun dia diminta hadir untuk pemeriksaan terkait sejumlah transaksi dan laporan keuangan perusahaan.
Siska juga dimintai keterangan beberapa hari kemudian.
Dalam waktu tiga bulan, audit independen menemukan berbagai manipulasi laporan proyek.
Nusa Group kehilangan beberapa kontrak besar.
Dimas dicopot sementara dari jabatan direktur utama oleh dewan komisaris.
Hubungannya dengan Siska berakhir bahkan sebelum satu minggu berlalu.
Namun sesuatu yang tidak pernah Maya duga terjadi enam bulan kemudian.
Dimas datang menemui Maya.
Bukan ke rumah Hartawan.
Bukan ke kantor Wijaya Group.
Maya memilih bertemu di sebuah taman kecil di Jakarta Selatan.
Dimas datang sendirian.
Tubuhnya lebih kurus.
Tidak ada jam tangan emas.
Tidak ada mobil mewah.
“Aku tidak datang meminta kamu kembali,” katanya.
Maya menatapnya.
“Aku cuma ingin meminta satu hal.”
“Apa?”
“Kesempatan menjadi ayah Cinta.”
Maya tidak langsung menjawab.
Dimas mengeluarkan sebuah benda dari tasnya.
Boneka kain.
Boneka yang jatuh ketika Siska menampar Cinta.
“Aku mengambilnya dari rumah malam itu.”
Maya menatap boneka tersebut.
“Aku pikir selama ini tugas ayah adalah membayar sekolah, membeli rumah, memberi fasilitas.”
Dimas menunduk.
“Ternyata ketika anakku benar-benar membutuhkan ayahnya, aku malah melihat jam.”
Suara Dimas pecah.
Maya tidak memaafkannya hari itu.
Namun dia juga tidak menutup pintu sepenuhnya.
Dimas harus menjalani proses hukum atas persoalan perusahaan.
Dia juga harus mengikuti konseling keluarga jika ingin mendapatkan hak kunjungan teratur.
Maya menetapkan semua batas dengan tegas.
Bukan untuk menghukum.
Untuk melindungi Cinta.
Setahun kemudian, Maya kembali aktif di perusahaan keluarga.
Namun dia menolak posisi direktur utama yang ditawarkan Hartawan.
Sebaliknya, dia membentuk yayasan perlindungan perempuan dan anak yang menyediakan bantuan hukum serta tempat tinggal sementara bagi korban kekerasan rumah tangga.
Suatu sore, Hartawan menemukan Maya duduk di taman rumah bersama Cinta.
Gelang merah yang dulu selalu dipakai Maya kini disimpan di dalam sebuah kotak kaca kecil.
Cinta menunjuk gelang itu.
“Mama, kenapa dulu Mama pakai itu?”
Maya tersenyum.
“Karena Mama pernah berpikir kalau menjadi kuat berarti mampu bertahan selama mungkin.”
“Terus?”
Maya memandang putrinya.
“Sekarang Mama tahu, kadang menjadi kuat berarti berani pergi.”
Cinta mengangguk meski mungkin belum sepenuhnya memahami.
Hartawan duduk di sebelah cucunya.
Cinta langsung bersandar di lengannya.
“Kakek.”
“Hm?”
“Kalau nanti ada orang jahat sama Cinta, Kakek lindungi Cinta?”
Hartawan hendak menjawab.
Namun Maya lebih dulu berkata.
“Mama akan mengajarimu sesuatu yang lebih penting.”
Cinta menatapnya.
“Mama akan mengajarimu melindungi dirimu sendiri.”
Mata Hartawan bertemu dengan mata putrinya.
Pria tua itu tersenyum.
Enam tahun sebelumnya, Maya meninggalkan rumah ayahnya karena ingin membuktikan bahwa dia mampu hidup tanpa kekuasaan keluarga Wijaya.
Pada akhirnya dia memang membuktikannya.
Namun bukan dengan bertahan dalam pernikahan yang menghancurkannya.
Melainkan dengan menemukan keberanian untuk meninggalkannya.
Dan tamparan yang sore itu dianggap Siska sebagai sesuatu yang sepele ternyata bukan awal kehancuran Maya.
Itu adalah akhir dari ketakutannya.
Sekaligus awal kehidupan baru bagi seorang ibu yang akhirnya memahami bahwa keluarga bukanlah tempat di mana seseorang dipaksa bertahan demi terlihat utuh.
Keluarga adalah tempat di mana seorang anak tidak perlu bertanya apakah dirinya masih dicintai setelah seseorang menyakitinya.
