PENGUSAHA KAYA DATANG MENAGIH TUNGGAKAN SEWA 3 BULAN. NAMUN DI BALIK PINTU….

Arya datang ke unit 4B sore itu untuk menagih tunggakan sewa selama tiga bulan.

Namun ketika dia keluar dari sana hampir satu jam kemudian, amplop berisi Rp630.000 masih berada di tangannya, sementara pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang jauh lebih besar daripada persoalan uang sewa.

Mengapa sarung bantal yang dijahit seorang anak tujuh tahun bisa masuk ke rantai produksi perusahaannya?

Sebelum pergi, Arya berjongkok di depan Cinta.

“Cinta, ibumu dirawat di mana?”

Anak itu tampak ragu beberapa detik.

“Rumah Sakit Taruma. Kamar kelas tiga.”

“Siapa yang mengantarmu pulang kalau kamu menjenguk Ibu?”

“Saya naik bus sendiri.”

Arya menahan napas.

“Kamu tinggal sendiri di sini?”

Cinta mengangguk.

“Kadang Bu Sari sebelah kasih nasi.”

Arya berdiri perlahan.

Hari itu untuk pertama kalinya dia merasa malu pada gedung yang selama enam tahun tercatat atas namanya.

Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon asistennya.

“Dimas.”

“Ya, Pak?”

“Batalkan makan malam saya.”

“Tapi Pak, malam ini ada pertemuan dengan investor Singapura.”

“Batalkan.”

Dimas terdiam.

“Lalu hubungi Rumah Sakit Taruma. Cari pasien bernama Maya Lestari.”

“Baik, Pak.”

“Dan satu lagi. Jangan beri tahu siapa pun di kantor kalau saya sedang menyelidiki sesuatu.”

Nada suara Arya membuat Dimas langsung memahami bahwa masalah itu serius.

Setelah menutup telepon, Arya mengambil kursi plastik dan duduk tidak jauh dari mesin jahit.

Cinta menatapnya bingung.

“Om belum pulang?”

“Belum.”

“Kenapa?”

Arya melihat dua puluh lembar sarung bantal yang belum selesai.

“Karena kamu juga belum berhenti bekerja.”

Cinta menunduk.

“Ibu bilang kita tidak boleh punya utang.”

Kalimat sederhana itu terasa seperti tamparan.

Arya memegang amplop kusut tadi.

“Ibumu benar. Tapi orang dewasa juga punya kewajiban untuk tidak membiarkan anak kecil bekerja sampai terluka.”

Cinta tidak menjawab.

Tak lama kemudian, Dimas mengirimkan informasi.

Maya Lestari, 32 tahun.

Dirawat selama dua minggu karena komplikasi infeksi paru-paru dan anemia berat.

Biaya pengobatan belum sepenuhnya terjamin BPJS karena ada beberapa obat tambahan dan pemeriksaan yang harus dibayar sendiri.

Arya membaca pesan itu dua kali.

Kemudian pesan kedua masuk.

Ada sesuatu yang membuat wajahnya langsung mengeras.

Maya ternyata pernah bekerja sebagai penjahit di sebuah perusahaan vendor tekstil bernama PT Karya Sandang Nusantara.

Vendor tersebut memasok perlengkapan kamar untuk jaringan hotel milik Pratama Hospitality, anak perusahaan Grup Pratama.

Perusahaannya sendiri.

Malam itu Arya membawa Cinta ke rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, anak itu duduk diam di kursi belakang mobil mewah Arya.

Tangannya menggenggam kantong plastik berisi dua roti.

Cinta bahkan tidak berani menyentuh tombol apa pun di dalam mobil.

Ketika mereka tiba, Maya sedang tidur dengan selang infus menempel di tangannya.

Wajahnya pucat dan tubuhnya sangat kurus.

Saat terbangun dan melihat Cinta berdiri bersama seorang pria asing, Maya langsung panik.

“Cinta!”

Dia mencoba bangun.

“Ada apa? Siapa Bapak?”

Cinta buru-buru mendekat.

“Bu, ini pemilik kontrakan.”

Wajah Maya seketika berubah.

Dia menatap Arya dengan rasa takut.

“Pak, saya minta waktu. Saya pasti bayar. Tolong jangan usir anak saya.”

Arya tidak menjawab.

Dia meletakkan amplop berisi Rp630.000 di atas meja.

“Ini uang Ibu?”

Maya menundukkan wajah.

“Iya.”

“Cinta bilang Ibu menyuruhnya memberikan uang itu kepada saya.”

Mata Maya mulai berkaca-kaca.

“Itu tabungan terakhir kami.”

Arya menarik kursi.

“Saya tidak datang ke sini untuk menagih sekarang.”

Maya terlihat bingung.

“Saya ingin bertanya tentang sarung bantal yang Cinta jahit.”

Tubuh Maya langsung menegang.

Arya memperhatikannya.

“Ibu kenal Ratna?”

Tidak ada jawaban.

“Maya.”

Perempuan itu menggenggam selimut.

“Tolong jangan bawa masalah ini ke perusahaan.”

“Kenapa?”

“Karena saya sudah pernah mencoba.”

Maya menarik napas panjang.

Setahun sebelumnya, dia bekerja di bagian produksi PT Karya Sandang Nusantara.

Perusahaan itu mendapatkan pesanan puluhan ribu sarung bantal, seprai, dan perlengkapan hotel dari Grup Pratama.

Secara resmi, semua barang seharusnya diproduksi oleh pekerja yang terdaftar.

Namun kenyataannya berbeda.

Sebagian besar pekerjaan dialihkan ke rumah-rumah warga.

Para pekerja dibayar sangat murah.

Vendor mendapatkan pembayaran Rp46.000 untuk satu sarung bantal tertentu.

Namun pekerja rumahan hanya menerima Rp12.000.

Selisihnya dibagi melalui berbagai perusahaan perantara.

“Ratna yang mengatur?” tanya Arya.

Maya menggeleng.

“Bu Ratna hanya salah satu orangnya.”

“Siapa lagi?”

Maya tampak ketakutan.

“Saya tidak tahu semua nama.”

“Kenapa Ibu berhenti bekerja?”

Maya menatap Cinta.

“Karena saya menemukan dokumen pembayaran.”

Suasana kamar mendadak terasa lebih dingin.

Maya pernah melihat faktur yang menunjukkan jumlah produksi hampir dua kali lebih besar daripada barang yang benar-benar dikirim.

Perusahaan Arya membayar berdasarkan angka di faktur.

Sementara sebagian uang dialihkan ke rekening beberapa perusahaan kecil.

Maya sempat memotret dokumen-dokumen tersebut.

Ketika manajemen mengetahui tindakannya, dia langsung diberhentikan.

Tak lama kemudian, namanya masuk daftar hitam beberapa pabrik konveksi.

Tidak ada yang mau mempekerjakannya.

“Kenapa tidak melapor ke polisi?”

Maya tertawa kecil, pahit.

“Saya pernah mencoba bicara dengan orang di kantor pusat Grup Pratama.”

Arya terdiam.

“Dengan siapa?”

“Bagian pengadaan.”

“Namanya?”

Maya memandangnya lama.

“Bima Wiratama.”

Arya seperti kehilangan udara.

Bima bukan pegawai biasa.

Dia adalah direktur pengadaan Grup Pratama.

Teman Arya sejak kuliah.

Orang yang selama bertahun-tahun duduk di sebelahnya dalam hampir setiap rapat direksi.

“Bapak kenal dia?”

Arya tidak langsung menjawab.

“Sangat kenal.”

Malam itu juga Arya memerintahkan Dimas mengumpulkan seluruh dokumen transaksi PT Karya Sandang Nusantara selama lima tahun terakhir.

Namun dia melarang tim audit internal diberi tahu.

Hanya tiga orang yang dipercaya.

Arya sadar satu kesalahan kecil dapat membuat bukti menghilang.

Dua hari kemudian, mereka menemukan kejanggalan pertama.

Harga barang dinaikkan 30 hingga 65 persen.

Ada lima perusahaan perantara.

Tiga di antaranya ternyata memiliki alamat yang sama.

Dan salah satu pemiliknya adalah adik ipar Ratna.

Namun jejak uang tidak berhenti di sana.

Sebagian dana akhirnya masuk ke sebuah perusahaan konsultasi bernama Arunika Advisory.

Pemilik mayoritas perusahaan tersebut adalah kakak Bima.

Kerugian Grup Pratama diperkirakan mencapai Rp38 miliar.

Arya menatap laporan itu sampai tengah malam.

Yang membuatnya paling marah bukan hanya uang yang dicuri.

Di balik setiap angka terdapat orang-orang seperti Maya dan Cinta.

Sementara dia duduk di ruang rapat ber-AC membahas pertumbuhan laba, seorang anak tujuh tahun menjahit sarung bantal untuk hotel mewah miliknya.

Hari berikutnya Arya mengadakan rapat direksi mendadak.

Bima datang seperti biasa.

Setelan abu-abu mahal.

Jam tangan Swiss.

Senyum tenang.

“Ada apa sampai mendadak begini?”

Arya tidak menjawab.

Dia menyalakan layar besar.

Foto pertama yang muncul adalah sarung bantal dengan logo Pratama Hospitality.

Kemudian muncul foto tangan kecil Cinta yang penuh bekas tusukan.

Ruangan menjadi sunyi.

“Barang ini ditemukan di sebuah rumah susun milik perusahaan kita.”

Bima mengernyit.

“Saya tidak mengerti maksudmu.”

Arya mengganti slide.

Faktur.

Rekening.

Nama perusahaan.

Transfer bank.

Wajah Bima perlahan kehilangan warna.

“Sudah cukup.”

Arya meletakkan satu map di meja.

“Rp38 miliar.”

Bima mencoba tertawa.

“Kamu percaya dokumen mentah seperti ini?”

“Tidak.”

Arya menatapnya.

“Makanya tadi pagi saya sudah menyerahkan salinannya ke polisi dan auditor eksternal.”

Bima langsung berdiri.

“Kamu gila?”

“Yang gila adalah menjadikan anak kecil sebagai bagian dari rantai produksi perusahaan.”

Bima memukul meja.

“Saya tidak pernah menyuruh anak kecil bekerja!”

“Namun kamu membangun sistem yang membuat itu mungkin.”

Beberapa direktur saling berpandangan.

Ratna yang juga dipanggil ke ruangan itu mulai menangis.

Dia akhirnya mengaku.

Selama bertahun-tahun vendor sengaja menekan biaya tenaga kerja dengan memakai pekerja rumahan.

Tidak ada pengecekan usia.

Tidak ada standar keselamatan.

Tidak ada perlindungan.

Namun kemudian Ratna mengatakan sesuatu yang tidak diduga Arya.

“Saya sebenarnya pernah mengirim laporan.”

Arya mengerutkan kening.

“Ke siapa?”

“Ke kantor Pak Arya.”

Ruangan mendadak hening.

“Apa?”

“Dua tahun lalu.”

Ratna mengeluarkan fotokopi email.

Subjeknya jelas.

LAPORAN PENYALAHGUNAAN VENDOR DAN TENAGA KERJA INFORMAL.

Alamat penerimanya adalah sekretariat direktur utama.

Arya membaca tanggalnya.

Dia berada di Tokyo pada minggu itu.

Email tersebut diteruskan ke Bima karena menyangkut pengadaan.

Dan setelah itu, kasusnya dinyatakan selesai.

Arya perlahan duduk.

Dia tiba-tiba memahami sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Dia memang tidak mencuri uang.

Dia memang tidak menyuruh anak-anak bekerja.

Namun selama bertahun-tahun dia membangun perusahaan dengan sistem yang membuat semua masalah berhenti di meja bawahannya.

Dia tidak pernah melihat sendiri.

Tidak pernah bertanya.

Tidak pernah datang.

Baginya, rusun itu cuma aset.

Vendor cuma angka.

Pekerja cuma biaya.

Dan jarak itulah yang dimanfaatkan orang-orang seperti Bima.

Dua bulan kemudian, kasus tersebut resmi masuk proses hukum.

Bima dan beberapa orang lainnya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan korupsi internal, manipulasi transaksi, dan pelanggaran ketenagakerjaan.

Puluhan kontrak vendor dihentikan.

Arya membentuk unit independen untuk mengawasi rantai pasok.

Semua pekerja rumahan didata.

Pembayaran langsung diterapkan agar tidak ada lagi rantai perantara yang mengambil keuntungan berlebihan.

Namun perubahan terbesar justru terjadi di tempat yang paling sederhana.

Rumah susun Tanah Abang direnovasi.

Bukan untuk menaikkan harga sewa.

Arya memerintahkan perbaikan atap, saluran air, tangga, listrik, serta fasilitas kesehatan kecil.

Penghuni berpenghasilan rendah mendapatkan skema sewa baru berdasarkan kemampuan.

Ketika direktur keuangan mempertanyakan keputusan itu, Arya hanya menjawab,

“Selama enam tahun gedung itu menghasilkan uang untuk kita. Sekarang biarkan gedung itu menghasilkan kehidupan yang lebih layak untuk mereka.”

Maya akhirnya pulih.

Arya menawarkan pekerjaan kepadanya di divisi pengawasan vendor.

Maya sempat menolak karena merasa pendidikannya tidak cukup.

Namun Arya mengatakan,

“Saya punya terlalu banyak orang bergelar tinggi yang tidak melihat apa-apa. Saya butuh orang yang tahu apa yang harus dilihat.”

Maya akhirnya menerima.

Sementara Cinta kembali bersekolah.

Mesin jahit tua di unit 4B tidak pernah lagi digunakan untuk mengejar dua puluh sarung bantal sehari.

Beberapa bulan kemudian, Arya datang kembali ke rusun itu.

Kali ini tidak membawa surat tunggakan.

Dia membawa sebuah kotak kecil.

Cinta membuka pintu.

Wajahnya sudah jauh lebih cerah.

Tubuhnya masih kecil, tetapi lingkaran hitam di bawah matanya sudah menghilang.

“Om Arya!”

Arya tersenyum.

“Aku punya sesuatu.”

Dia menyerahkan kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah mesin jahit mini untuk anak-anak, aman dan hanya bisa digunakan untuk belajar membuat kerajinan sederhana.

Cinta menatapnya.

“Buat saya?”

Arya mengangguk.

“Tapi bukan untuk bekerja.”

“Untuk apa?”

“Untuk belajar. Kalau memang kamu suka menjahit.”

Cinta tersenyum.

Untuk pertama kalinya Arya melihat senyum anak-anak yang seharusnya sudah dia lihat pada hari pertama mereka bertemu.

Namun sebelum Arya pergi, Cinta berlari masuk ke kamar.

Dia kembali membawa sesuatu.

Sebuah sarung bantal kecil.

Jahitannya tidak sempurna.

Di bagian tengah terdapat huruf A yang dibuat dari potongan kain biru.

“Ini buat Om.”

Arya menerimanya.

“Berapa harganya?”

Cinta langsung tertawa.

“Tidak dijual.”

Arya ikut tersenyum.

Namun kemudian Cinta berkata pelan,

“Ibu bilang kalau waktu itu Om tidak datang nagih sewa, mungkin semua ini nggak akan ketahuan.”

Arya menatap pintu unit 4B.

Pintu itu sudah dicat ulang.

Tidak lagi lapuk.

Namun dia masih mengingat jelas bagaimana rasanya berdiri di depan pintu tersebut beberapa bulan lalu.

Dia datang dengan perasaan kesal karena seseorang berutang Rp18 juta kepadanya.

Namun di balik pintu itu dia menemukan bahwa perusahaannya sendiri telah berutang jauh lebih besar kepada banyak orang.

Bukan sekadar uang.

Melainkan perhatian.

Keadilan.

Dan tanggung jawab.

Arya mengusap kepala Cinta.

“Bukan Om yang menyelamatkan kalian.”

Cinta mengernyit.

“Terus siapa?”

Arya melihat tangan kecil Cinta.

Bekas luka tusukan jarum sudah hampir hilang.

“Kamu.”

Cinta tertawa karena mengira Arya sedang bercanda.

Namun Arya sama sekali tidak bercanda.

Sebab jika hari itu Cinta tidak membuka pintu, mungkin dia akan tetap menjadi pengusaha yang mengenal setiap angka dalam laporan keuangan, tetapi tidak pernah benar-benar mengenal manusia yang berada di balik angka tersebut.

Beberapa tahun kemudian, di ruang utama kantor pusat Grup Pratama, sebuah sarung bantal kecil dengan huruf A masih tersimpan di dalam bingkai kaca.

Tidak ada yang tahu mengapa benda sederhana itu dipajang di antara berbagai penghargaan bisnis perusahaan.

Ketika seorang direktur baru pernah bertanya apa artinya, Arya hanya menjawab,

“Itu pengingat.”

“Pengingat tentang apa, Pak?”

Arya menatap sarung bantal tersebut cukup lama.

Kemudian dia berkata,

“Bahwa masalah terbesar sering kali tidak terlihat dari ruang rapat.”

Dan sejak hari itu, setiap kali sebuah laporan menyebut kata biaya, aset, vendor, atau tunggakan, Arya selalu mengingat satu pintu kayu di lantai empat Tanah Abang.

Karena di sanalah dia belajar bahwa angka memang bisa menjelaskan bisnis.

Tetapi hanya ketika seseorang berani membuka pintu dan melihat ke dalam, dia benar-benar bisa memahami manusia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang