Seorang Ayah Tunggal Menggendong CEO Miliarder Menembus Hujan Jakarta, Lalu Perempuan Itu Menulis Namanya di Formulir Operasi—Tiga Puluh Menit Kemudian, Orang Kepercayaan Keluarganya Datang Membawa Tawaran Rp6 Miliar agar Ia Mengkhianatinya Sebelum Matahari Terbit

Raka tidak langsung menyentuh foto itu.

Ia hanya menatap wajah Kirana yang tertangkap kamera dari kejauhan. Putrinya mengenakan seragam sekolah, rambutnya dikuncir dua, dan di tangannya ada kantong plastik berisi roti yang mungkin dibelinya sepulang sekolah.

Foto itu seharusnya biasa saja.

Namun di atas meja kantin rumah sakit, di tengah malam, foto tersebut terasa seperti ancaman paling mengerikan yang pernah diterimanya.

“Dari mana kalian dapat ini?”

Pria berjas abu-abu menyandarkan punggungnya.

“Enam miliar rupiah, Pak Raka. Anda bisa pindah rumah malam ini juga. Kirana bisa sekolah di mana pun sampai kuliah. Anda bahkan tidak perlu bekerja lagi.”

Raka mengambil foto itu.

Bukan dokumen transfer.

Hanya foto putrinya.

“Katakan pada orang yang mengirimmu, saya tidak menjual orang yang sedang berjuang hidup.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Semua orang punya harga.”

“Kalau begitu kalian salah menghitung harga saya.”

Raka berbalik.

“Pikirkan sampai pukul enam pagi.”

Langkah Raka berhenti.

“Kenapa pukul enam?”

“Karena setelah itu tawarannya tidak berlaku.”

Raka menoleh.

Pria tersebut sedang menutup tasnya.

Dan saat itulah Raka memahami sesuatu.

Mereka bukan sekadar ingin menjatuhkan Nadira dalam rapat komisaris pukul delapan.

Sesuatu akan terjadi sebelum matahari terbit.

Raka segera kembali ke lantai ruang operasi. Ia tidak menghampiri Surya atau para direktur. Ia masuk ke toilet, mengunci pintu, lalu menelepon Bu Ratih.

“Bu, dengarkan saya. Bawa Kirana masuk ke rumah Ibu. Kunci semua pintu. Jangan izinkan siapa pun masuk.”

“Memangnya ada apa?”

“Nanti saya jelaskan.”

“Ayah?”

Suara kecil Kirana terdengar dari kejauhan.

Raka memejamkan mata.

“Ayah di sini, Sayang.”

“Kenapa belum pulang?”

“Ayah sedang membantu orang sakit.”

Kirana terdiam sebentar.

“Parah?”

“Iya.”

“Kalau begitu Ayah jangan pulang dulu.”

Raka membuka mata.

“Apa?”

“Ibu dulu juga sering bilang orang sakit tidak boleh ditinggal sendirian.”

Kalimat itu menghantam dadanya lebih keras daripada ancaman enam miliar rupiah.

“Ayah sayang Kirana.”

“Aku juga sayang Ayah.”

Setelah telepon ditutup, Raka menatap dirinya di cermin.

Seorang teknisi dengan gaji yang bahkan tidak akan menyentuh satu persen dari uang yang baru ditawarkan kepadanya.

Enam miliar.

Angka itu bisa mengubah hidup mereka.

Tetapi ia tahu ada jenis uang yang tidak pernah benar-benar menjadi milik penerimanya.

Uang yang dibayar dengan rasa takut.

Uang yang membuat seseorang menundukkan kepala seumur hidup.

Ketika Raka keluar, Surya masih berada di lorong.

“Sudah bicara dengan orang saya?”

Raka berhenti.

Jadi benar.

Surya tidak berusaha menyembunyikannya lagi.

“Bapak seharusnya khawatir pada keponakan Bapak.”

“Saya sangat khawatir.”

“Tidak kelihatan.”

Surya menatapnya beberapa detik.

“Kamu tidak mengerti dunia kami, Raka. Nadira memang cerdas, tetapi dia terlalu keras kepala. Perusahaan sebesar Pradana tidak boleh dikendalikan berdasarkan emosi satu orang.”

“Jadi Bapak membuatnya sakit?”

Untuk pertama kalinya, ekspresi Surya berubah.

Hanya sepersekian detik.

Namun Raka melihatnya.

“Jaga ucapanmu.”

“Gelas yang pecah di ruang rapat masih ada di sana.”

Surya mendekat.

“Kamu teknisi. Tetaplah menjadi teknisi.”

Pintu ruang operasi terbuka sebelum Raka sempat menjawab.

Dokter keluar.

“Tindakannya selesai. Perdarahan berhasil ditangani.”

Raka mengembuskan napas yang bahkan tidak disadarinya telah ditahan.

“Apakah beliau sadar?”

“Belum. Beberapa jam ke depan sangat penting.”

Surya segera mendekat.

“Saya ingin melihat keponakan saya.”

“Maaf. Sesuai instruksi pasien, akses sementara dibatasi.”

Wajah Surya mengeras.

Dokter kemudian menoleh kepada Raka.

“Pak Raka, boleh ikut saya?”

Tatapan semua orang kembali tertuju kepadanya.

Di ruang konsultasi, dokter menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan darah Nadira menunjukkan sesuatu yang tidak biasa.

Ada jejak obat antikoagulan dalam kadar tinggi.

Raka mengernyit.

“Obat pengencer darah?”

Dokter mengangguk.

“Benar. Pada dosis tertentu, obat seperti ini dapat meningkatkan risiko perdarahan. Kami belum bisa menyimpulkan apakah itu berkaitan langsung dengan kondisinya. Apakah Anda tahu pasien mengonsumsi obat tersebut?”

“Tidak.”

“Riwayat medis yang kami terima juga tidak mencantumkannya.”

Raka langsung teringat gelas pecah.

Ia mengambil ponsel.

Namun sebelum menelepon polisi, pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Jangan kembali ke kantor.

Pesan kedua muncul.

Kalau ingin anakmu tetap aman.

Raka menatap layar beberapa detik.

Lalu justru menelepon polisi.

Pukul 03.17, dua penyidik datang ke rumah sakit.

Raka menceritakan semuanya.

Foto Kirana.

Tawaran enam miliar.

Gelas di ruang rapat.

Ancaman.

Salah satu penyidik meminta foto dokumen transfer yang diam-diam sempat Raka ambil ketika pria berjas itu meninggalkan meja untuk menerima telepon.

“Jangan beri tahu siapa pun bahwa kami sudah masuk,” kata penyidik bernama Dimas. “Terutama orang-orang di luar.”

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Bersikap seolah Anda masih mempertimbangkan tawaran mereka.”

Raka menelan ludah.

Ia tidak suka rencana itu.

Namun ia lebih tidak suka membayangkan orang yang memotret Kirana masih bebas berkeliaran.

Pukul empat pagi, Nadira dipindahkan ke ICU.

Ia belum sadar.

Surya dan rombongannya mulai gelisah.

Anton terus menelepon seseorang.

Maya Halim justru duduk diam sejak tadi.

Ketika Surya pergi ke ujung koridor, Maya mendekati Raka.

“Pak Raka.”

Raka menatapnya hati-hati.

“Ya?”

“Jangan percaya siapa pun yang datang membawa nama keluarga Pramesti.”

“Termasuk Ibu?”

Maya tersenyum getir.

“Terutama saya.”

Ia menyelipkan kartu akses ke tangan Raka.

“Kartu ini membuka ruang arsip direksi.”

Raka menatap kartu itu.

“Kenapa diberikan kepada saya?”

“Karena tiga bulan lalu Bu Nadira menemukan transaksi mencurigakan senilai hampir dua triliun rupiah dari anak perusahaan kita ke empat vendor alat kesehatan.”

Raka terdiam.

“Vendor palsu?”

“Sebagian besar.”

“Siapa yang menyetujui?”

Maya melihat ke arah Surya.

“Besok pagi Nadira akan membawa bukti itu ke rapat komisaris.”

Kini semuanya masuk akal.

Klausul pengambilalihan.

Operasi.

Tawaran enam miliar.

Mereka tidak hanya ingin menguasai perusahaan.

Mereka ingin menghentikan Nadira berbicara.

“Kenapa Ibu tidak melapor?”

“Karena saya pengecut.”

Suara Maya pecah untuk pertama kalinya.

“Putra saya bekerja di Singapura. Mereka mengirim foto apartemennya dua minggu lalu.”

Raka menatap perempuan itu.

Ternyata ketakutan tidak mengenal jabatan.

“Sekarang Ibu mau membantu?”

Maya mengangguk.

“Karena malam ini mereka hampir membunuh seseorang.”

Pukul 04.42, pria berjas abu-abu kembali menghubungi Raka.

Sudah memutuskan?

Raka mengetik dengan jari gemetar.

Saya setuju.

Balasan datang cepat.

Temui kami pukul 05.30 di ruang rapat rumah sakit lantai enam.

Sendiri.

Raka menunjukkan pesan itu kepada Dimas.

Polisi menyiapkan perekam kecil di balik kerah seragamnya.

“Tugas Bapak hanya membuat mereka bicara,” kata Dimas. “Jangan menuduh. Jangan memancing terlalu agresif.”

“Kalau mereka tahu?”

“Kami ada di dekat situ.”

Itu tidak membuat Raka merasa lebih tenang.

Pukul 05.29, ia membuka pintu ruang rapat.

Surya sudah menunggu.

Anton berdiri di dekat jendela.

Pria berjas abu-abu duduk dengan dokumen yang sama di hadapannya.

“Keputusan yang bijaksana,” kata Surya.

Raka duduk.

“Saya mau memastikan satu hal.”

“Apa?”

“Setelah saya bilang Bu Nadira tidak sadar ketika menandatangani formulir, uang itu langsung masuk?”

Anton mengangguk.

“Setelah pernyataan tertulis ditandatangani.”

“Lalu bagaimana dengan hasil darahnya?”

Ruangan mendadak sunyi.

Surya tidak bergerak.

Anton menoleh terlalu cepat.

Kesalahan kecil.

Namun cukup.

“Hasil darah apa?” tanya Surya.

“Dokter menemukan pengencer darah.”

Raka memperhatikan mereka.

“Kalau polisi memeriksa gelas di kantor bagaimana?”

Pria berjas itu memandang Surya.

Surya mengumpat pelan.

“Kubilang gelas itu harus dibersihkan.”

Anton pucat.

“Pak Surya.”

Terlambat.

Surya baru menyadari kesalahannya.

Tatapannya jatuh pada kerah seragam Raka.

“Bajingan.”

Ia bangkit.

Pintu langsung terbuka.

Dimas dan tiga petugas masuk.

“Tidak ada yang bergerak.”

Anton mundur.

Pria berjas mencoba mengambil tasnya, tetapi polisi lebih cepat.

Surya tidak melawan.

Ia hanya menatap Raka dengan kebencian dingin.

“Kamu pikir sudah menang?”

Raka berdiri.

“Saya cuma teknisi, Pak.”

Ia menatap Surya tepat di mata.

“Saya terbiasa memperbaiki sesuatu yang rusak.”

Matahari mulai muncul di balik gedung Jakarta ketika Surya, Anton, dan pria berjas itu dibawa pergi.

Namun kejutan terbesar belum terjadi.

Pukul 07.21, Nadira membuka mata.

Raka dipanggil masuk.

Perempuan itu terlihat sangat lemah, tetapi tatapannya sudah kembali seperti yang biasa dilihat Raka di layar televisi.

“Jam?”

“Tujuh lewat dua puluh satu.”

“Rapat?”

“Masih tiga puluh sembilan menit.”

Nadira mencoba tersenyum.

“Bagus.”

“Paman Ibu ditangkap.”

Nadira tidak tampak terkejut.

“Anton?”

“Juga.”

Kali ini matanya terpejam sebentar.

Seolah ada bagian dalam dirinya yang tetap berharap dugaannya salah.

“Sudah berapa lama Ibu tahu?”

“Tiga bulan.”

“Kenapa tetap datang ke kantor sendirian malam tadi?”

“Karena aku bodoh.”

Raka tertawa kecil.

Nadira menatapnya.

“Enam miliar?”

Raka terdiam.

“Bagaimana Ibu tahu?”

“Surya selalu menyelesaikan masalah dengan uang.”

“Lumayan besar.”

“Dan kau menolak?”

Raka mengangguk.

“Kenapa?”

Raka berpikir sejenak.

“Karena kalau saya ambil, suatu hari Kirana mungkin hidup nyaman. Tapi saya tidak akan bisa menatap matanya dan mengajarinya menjadi orang baik.”

Nadira memandangnya lama.

Kemudian air mata kecil muncul di sudut matanya.

“Raka.”

“Ya?”

“Ada sesuatu yang belum kuberitahu.”

Nadira meminta perawat mengambil tas pribadinya yang sudah diamankan polisi.

Dari sana ia mengeluarkan sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat dokumen lama.

Nama Raka tercetak di salah satu halaman.

Raka membacanya dua kali.

Tidak mengerti.

“Apa ini?”

“Laporan kecelakaan empat tahun lalu.”

Napas Raka berhenti.

Empat tahun lalu.

Kecelakaan yang menewaskan istrinya.

“Kenapa Ibu punya ini?”

Nadira menarik napas.

“Truk yang menabrak mobil istrimu milik salah satu perusahaan logistik yang dikendalikan Surya.”

Raka tidak bergerak.

“Tidak.”

“Pengemudinya bekerja lebih dari delapan belas jam. Kendaraan itu juga gagal uji rem dua kali. Surya membayar agar laporan internalnya hilang.”

Tangan Raka mulai gemetar.

“Jadi kematian istri saya…”

“Bukan kecelakaan yang tidak bisa dicegah.”

Dunia Raka seperti kehilangan suara.

Empat tahun ia menerima bahwa hidup memang kadang kejam tanpa alasan.

Ternyata ada alasan.

Dan alasan itu memiliki nama.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena aku baru menemukan arsipnya tiga minggu lalu.”

Nadira menatapnya dengan mata merah.

“Aku tidak tahu kau adalah suaminya sampai bagian HR mengirim daftar teknisi yang bekerja malam ini. Aku mengenali alamatmu dari dokumen.”

Raka mundur satu langkah.

“Jadi Ibu tahu siapa saya sebelum saya menemukan Ibu?”

“Ya.”

“Makanya Ibu tahu nama saya.”

Nadira mengangguk.

Raka merasakan kemarahan naik.

“Dan Ibu tetap diam?”

“Aku berencana menemuimu setelah rapat komisaris.”

“Empat tahun, Bu.”

“Aku tahu.”

“Empat tahun anak saya tumbuh tanpa ibunya.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Ibu tidak tahu.”

Suara Raka pecah.

Nadira tidak membela diri.

Tidak memberi alasan.

Ia hanya berkata, “Kau berhak membenciku karena terlambat menemukan kebenaran. Tapi aku tidak akan membeli maafmu.”

Kalimat itu membuat Raka terdiam.

Nadira menunjuk dokumen.

“Semua bukti sudah diserahkan kepada polisi. Bukan karena kau menyelamatkanku. Bukan karena aku berutang nyawa kepadamu. Tapi karena keluargamu berhak mendapatkan kebenaran.”

Raka mengambil dokumen itu.

Pukul delapan pagi, rapat komisaris Pradana Biofarma berlangsung tanpa Surya.

Nadira mengikuti rapat melalui sambungan video dari ICU selama kurang dari sepuluh menit.

Ia membuka seluruh bukti transaksi ilegal.

Maya memberikan kesaksian.

Dua komisaris independen meminta audit forensik.

Dalam hitungan minggu, penyelidikan berkembang menjadi kasus korupsi korporasi dan manipulasi pengadaan yang menyeret belasan orang.

Raka tidak menjadi miliarder.

Ia juga tidak menerima hadiah enam miliar dari Nadira.

Ia menolak ketika perusahaan menawarkan rumah.

Menolak ketika ditawari mobil.

Namun ada satu hal yang akhirnya ia terima.

Beasiswa pendidikan penuh untuk Kirana.

Bukan atas nama Nadira.

Melainkan melalui yayasan keselamatan pekerja yang didirikan perusahaan setelah skandal tersebut.

Namanya Yayasan Laras Adinata.

Nama mendiang istrinya.

Setahun kemudian, pada suatu sore yang kembali diguyur hujan Jakarta, Raka berdiri di depan gedung Pradana Biofarma.

Ia tidak lagi mengenakan seragam teknisi.

Setelah mengikuti pelatihan keselamatan industri, ia kini memimpin divisi baru yang mengawasi keamanan fasilitas dan perlindungan pelapor internal.

Sebuah mobil berhenti.

Nadira turun.

Bekas operasi hampir tidak terlihat di balik rambutnya.

“Kirana bagaimana?”

“Ranking tiga.”

“Turun?”

“Dari ranking tujuh.”

Nadira tertawa.

Mereka berjalan menuju lobi.

“Raka.”

“Ya?”

“Pernah menyesal menolak enam miliar?”

Raka berpikir sejenak.

Kemudian ia melihat pantulan dirinya pada kaca gedung.

Empat tahun lalu, ia kehilangan istrinya.

Setahun lalu, ia hampir kehilangan keyakinannya bahwa orang baik bisa bertahan di dunia yang dikuasai uang.

Sekarang ia tahu jawabannya.

“Pernah.”

Nadira berhenti.

Raka tersenyum.

“Sekitar lima menit.”

Nadira tertawa keras.

Raka ikut tertawa.

Di seberang jalan, Kirana berlari keluar dari mobil Bu Ratih sambil membawa payung.

“Ayah!”

Raka membungkuk dan memeluk putrinya.

“Katanya mau pulang cepat,” protes Kirana.

“Iya. Ayah salah.”

“Roti cokelat?”

Raka membeku.

Nadira menggeleng sambil tertawa.

“Kamu bisa melawan komisaris, menolak enam miliar, dan menjebak penjahat, tapi tetap lupa roti anakmu?”

Raka menghela napas.

“Sepertinya begitu.”

Kirana menarik tangan ayahnya menuju minimarket.

Dan di bawah hujan Jakarta yang dulu membawa malam paling menakutkan dalam hidupnya, Raka akhirnya memahami sesuatu.

Keberanian bukanlah ketika seseorang tidak memiliki sesuatu untuk ditakuti.

Keberanian adalah ketika ia memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk dilindungi, lalu tetap memilih tidak menjual dirinya kepada ketakutan.

Karena pada akhirnya, enam miliar rupiah memang bisa membeli rumah, sekolah, mobil, dan hidup yang nyaman.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa dibeli kembali setelah dijual.

Kemampuan seorang ayah untuk pulang, membuka pintu rumah, dan menatap mata anaknya tanpa rasa malu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang