SUAMIKU BERSUMPAH PUTRI KAMI HANYA PURA-PURA SAKIT, SAMPAI HASIL USG MEMBUKTIKAN DIA SUDAH MENGETAHUI KEBENARANNYA SEJAK LIMA MINGGU LALU

Aku menatap Alya begitu lama sampai wajah putriku terlihat kabur oleh air mata yang mulai memenuhi mataku.

“Apa maksudmu, semua orang bakal tahu apa yang sebenarnya terjadi?”

Alya tidak langsung menjawab.

Tangannya masih mencengkeram ujung bajuku. Jemarinya gemetar.

Dokter Hendra berdiri dari kursinya.

“Alya, kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan penyebab sakitmu, kamu harus menceritakannya. Kami perlu tahu supaya bisa memberikan penanganan yang tepat.”

Alya menatap dokter, lalu menatapku.

“Ayah bilang kista itu mungkin gara-gara obat.”

“Obat apa?”

Bibir Alya bergetar.

“Obat yang Ayah kasih.”

Aku merasa tengkukku mendadak dingin.

“Sejak kapan Ayah kasih kamu obat?”

“Sekitar tiga bulan lalu.”

Aku mencoba mengingat.

Tiga bulan lalu Alya memang pernah mengatakan menstruasinya tidak teratur. Waktu itu aku berniat membawanya ke dokter kandungan remaja, tetapi Arif mengatakan masalah seperti itu biasa terjadi pada anak seusianya.

“Ayah bilang itu vitamin hormon,” lanjut Alya. “Katanya supaya haid Alya teratur.”

Dokter Hendra langsung bertanya, “Obatnya masih ada?”

Alya mengangguk.

“Di rumah.”

“Ada fotonya?”

Alya terdiam sejenak, kemudian mengambil ponselnya.

Dia membuka galeri.

Setelah beberapa kali menggeser layar, dia memperlihatkan sebuah foto botol kecil tanpa kemasan asli. Hanya ada stiker putih dengan tulisan dosis yang tampaknya dibuat sendiri.

Dokter Hendra memperbesar gambar itu.

“Aku tidak bisa memastikan hanya dari foto,” katanya, “tapi ini jelas bukan cara pemberian obat yang seharusnya dilakukan tanpa pemeriksaan dan resep yang jelas.”

Aku hampir tidak bisa mendengar kalimat berikutnya karena kepalaku dipenuhi satu pertanyaan.

Kenapa?

Kenapa Arif memberikan obat kepada anak kami secara diam-diam?

Aku menggenggam bahu Alya.

“Kenapa kamu mau minum?”

“Ayah bilang Ibu bakal panik kalau tahu.”

Kalimat itu terasa seperti pisau.

Selama ini Arif bukan hanya menyembunyikan sesuatu dariku.

Dia menggunakan sifatku yang mudah khawatir untuk membuat Alya ikut merahasiakannya.

“Bu,” kata Alya sambil menangis, “Alya pikir Ayah cuma mau bantu.”

Aku memeluknya.

“Sekarang kita ke rumah sakit.”

Kali ini aku tidak peduli apa pun yang dikatakan Arif.

Dokter Hendra menghubungi rumah sakit rujukan dan menjelaskan kondisi Alya. Kurang dari satu jam kemudian, kami sudah berada di IGD sebuah rumah sakit di Surabaya.

Pemeriksaan berlangsung cepat.

Dokter spesialis mengatakan massa di ovarium kanan Alya berukuran hampir sembilan sentimeter. Yang paling mereka khawatirkan adalah torsio ovarium, kondisi ketika ovarium terpelintir dan aliran darah terganggu.

“Kalau memang sudah terjadi torsio, operasi mungkin diperlukan segera,” kata dokter.

Aku langsung menandatangani semua formulir.

Ponselku terus bergetar.

Arif.

Aku mematikannya.

Menjelang magrib, rasa sakit Alya tiba-tiba memburuk.

Dia menjerit sambil memegang perut.

Perawat berlari masuk.

Dokter datang beberapa menit kemudian.

Keputusan operasi dibuat malam itu juga.

Aku berdiri di depan pintu ruang operasi ketika akhirnya Arif muncul.

Kemejanya kusut. Wajahnya penuh keringat.

“Alya mana?”

“Dioperasi.”

Wajah Arif langsung berubah.

“Kamu tanda tangan?”

“Iya.”

“Kamu gila?”

Aku sampai tidak percaya mendengarnya.

“Anak kita sedang dioperasi dan itu yang kamu tanyakan?”

Arif mendekat.

“Kamu enggak tahu akibatnya.”

“Apa akibatnya, Rif?”

Dia melihat ke kanan dan kiri koridor.

Kemudian suaranya mengecil.

“Kita bicara di rumah.”

“Tidak.”

“Rina.”

“Enam belas tahun aku selalu bicara sama kamu di rumah. Sekarang bicara di sini.”

Rahangnya mengeras.

Aku mengeluarkan ponsel Alya dan memperlihatkan foto obat itu.

“Apa ini?”

Wajah Arif kehilangan warna.

Hanya sepersekian detik.

Tapi aku melihatnya.

“Vitamin.”

“Vitamin apa?”

“Vitamin biasa.”

“Dokter bilang obat seperti ini tidak boleh diberikan tanpa resep yang jelas.”

Arif mencoba merebut ponsel itu.

Aku mundur.

“Jangan sentuh.”

Beberapa orang di koridor mulai memperhatikan kami.

Arif menurunkan suaranya.

“Kamu mau bikin malu keluarga?”

Saat itulah sesuatu dalam diriku seperti patah.

“Yang terbaring di ruang operasi itu anakmu. Kamu masih memikirkan malu?”

Arif tidak menjawab.

Dua jam kemudian dokter keluar.

Operasi berhasil.

Ovarium kanan Alya memang mengalami torsio. Untungnya, dokter masih bisa mempertahankan jaringan yang dianggap viable setelah aliran darah dipulihkan. Massa tersebut juga diangkat dan dikirim untuk pemeriksaan patologi.

Aku hampir jatuh karena lega.

Namun dokter belum selesai.

“Kami juga menemukan beberapa hal yang perlu diperiksa lebih lanjut.”

Arif yang berdiri beberapa meter dariku langsung menegang.

“Apa, Dok?”

Dokter menatap kami bergantian.

“Hasil laboratorium menunjukkan ada ketidakseimbangan hormon yang cukup tidak biasa untuk pasien seusianya. Kami perlu mengetahui semua obat atau suplemen yang dikonsumsi Alya beberapa bulan terakhir.”

Aku langsung menunjuk Arif.

“Dia yang memberinya obat.”

Arif menatapku tajam.

“Jangan asal ngomong.”

“Alya sendiri yang bilang.”

Dokter meminta kami tenang.

Aku memberikan foto obat kepada dokter.

Arif mendadak berkata, “Itu bukan dari saya.”

Aku menatapnya.

Tadi dia mengatakan itu vitamin.

Sekarang dia mengatakan bukan darinya.

Kebohongannya mulai bertabrakan satu sama lain.

Dokter meminta botol asli dibawa ke rumah sakit.

Aku pulang sendirian malam itu untuk mengambilnya.

Arif ingin ikut.

Aku menolak.

Begitu tiba di rumah, aku langsung menuju kamar Alya.

Botol itu tidak ada.

Aku mencari di meja.

Laci.

Tas sekolah.

Lemari.

Tidak ada.

Lalu aku teringat satu kebiasaan Alya sejak kecil.

Kalau memiliki sesuatu yang sangat penting, dia menyimpannya di dalam kotak kamera.

Aku membuka lemari dan mengambil tas kamera kecilnya.

Di dalamnya memang ada botol tersebut.

Tapi bukan hanya itu.

Ada amplop cokelat.

Aku membukanya.

Tanganku langsung gemetar.

Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan Alya lima minggu lalu.

Ada hasil USG.

Ada catatan dokter.

Ada rekomendasi rujukan segera.

Dan ada satu lembar formulir yang membuatku berhenti bernapas.

Persetujuan penolakan rujukan.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan Arif.

Dia bukan hanya mengetahui kondisi Alya.

Dia secara resmi menolak membawanya ke rumah sakit.

Aku memotret semua dokumen itu.

Kemudian mataku menangkap sesuatu di belakang amplop.

Sebuah kartu nama.

Nama yang tertulis di sana tidak kukenal.

Dr. Bagus Mahendra.

Di bawah namanya tertulis sebuah klinik kesehatan reproduksi.

Di belakang kartu, ada tulisan tangan.

“Hubungi kalau efek obat muncul. Jangan ke RS umum.”

Aku duduk di lantai.

Efek obat.

Berarti Arif tahu obat itu berisiko.

Aku langsung menelepon nomor tersebut.

Tidak aktif.

Keesokan paginya aku membawa semuanya ke rumah sakit.

Arif belum datang.

Dokter meminta bagian farmasi membantu mengidentifikasi obat berdasarkan bentuk tablet dan foto kemasan yang ditemukan di tas Alya.

Hasil awal membuat suasana ruangan berubah.

Obat itu bukan vitamin.

Itu merupakan preparat hormonal yang seharusnya digunakan di bawah pengawasan dokter untuk kondisi tertentu.

Aku hampir muntah mendengarnya.

“Tapi kenapa diberikan kepada Alya?”

Dokter tidak mau berspekulasi.

Jawabannya justru datang dari orang yang tidak pernah kuduga.

Sekitar pukul sebelas, seorang perempuan datang mencariku.

Usianya sekitar empat puluh tahun.

Dia memperkenalkan diri sebagai Siska.

“Aku dulu bagian administrasi bengkel suami Ibu.”

Aku mengenalnya samar-samar.

Siska bekerja di bengkel kami beberapa tahun lalu sebelum tiba-tiba mengundurkan diri.

“Ada apa?”

Dia terlihat sangat gugup.

“Saya dengar Alya masuk rumah sakit.”

“Dari siapa?”

“Anak saya satu sekolah dengan Alya.”

Dia menyerahkan sebuah flashdisk.

“Saya seharusnya memberikan ini sejak dulu.”

Aku tidak menerimanya.

“Apa isinya?”

Siska menelan ludah.

“Catatan pembelian obat dan transfer.”

Aku menatapnya.

“Transfer siapa?”

“Pak Arif.”

Siska kemudian menceritakan sesuatu yang membuat seluruh hidupku selama enam belas tahun terasa seperti sebuah panggung.

Bengkel Arif ternyata memiliki utang besar.

Bukan karena bisnis sepi.

Arif menggunakan uang perusahaan untuk investasi ilegal melalui seorang kenalannya.

Kerugiannya mencapai ratusan juta rupiah.

Ketika ayahku meninggal, kepemilikan bengkel sebenarnya diwariskan sebagian kepadaku dan sebagian kepada Alya melalui sebuah skema yang dibuat ayah.

Aku tidak pernah memahami detailnya karena selama ini Arif mengurus semuanya.

Tetapi Arif tidak bisa menjual aset utama bengkel tanpa persetujuanku.

Dan ada satu masalah lain.

Ketika Alya berusia tujuh belas tahun beberapa bulan lagi, sebagian kepemilikan yang dititipkan atas namanya akan mulai membutuhkan persetujuan Alya untuk transaksi tertentu.

“Terus hubungannya dengan obat apa?”

Siska menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Pak Arif sedang menyiapkan dokumen untuk menyatakan Alya punya gangguan kesehatan yang membuatnya tidak mampu mengambil keputusan sendiri.”

Aku merasa darahku berhenti mengalir.

“Apa?”

“Dia butuh rekam medis.”

Aku berdiri.

“Kamu bilang dia sengaja bikin anakku sakit?”

“Saya enggak tahu sejauh itu.”

Siska menangis.

“Tapi saya pernah lihat pesan Pak Arif dengan dokter itu. Awalnya obat diberikan untuk membuat hasil pemeriksaan hormon Alya terlihat abnormal. Katanya cuma sementara.”

Aku tidak mampu bergerak.

“Tapi Alya kemudian benar-benar sakit.”

Siska mengangguk.

“Pak Arif panik. Dokter itu menyuruh menghentikan obat. Tapi waktu USG menemukan massa, Pak Arif takut kalau Alya dirujuk, riwayat obatnya akan diperiksa.”

Sekarang semuanya masuk akal.

Kenapa Arif mengatakan Alya berpura-pura.

Kenapa dia melarangku membawa Alya ke rumah sakit.

Kenapa dia memaksaku membawanya pulang dari klinik.

Dia bukan takut pada biaya.

Dia takut pada pertanyaan.

Aku membawa flashdisk itu kepada polisi.

Aku juga menghubungi pengacara yang dulu menangani warisan ayahku.

Dan dari sanalah kejutan terbesar muncul.

Pengacara bernama Pak Surya membuka sebuah berkas lama.

“Bu Rina mungkin tidak pernah diberi tahu detailnya.”

“Apa?”

“Almarhum ayah Ibu sebenarnya sudah mencurigai Pak Arif sejak lama.”

Aku terpaku.

Pak Surya menunjukkan surat yang dibuat ayahku beberapa bulan sebelum meninggal.

Ayah telah menempatkan bagian kepemilikan bengkel milik Alya dalam perlindungan khusus.

Arif tidak pernah memiliki hak atas bagian itu.

Bahkan sebagai ayah kandung.

“Ayah saya tahu?”

“Beliau bilang suatu hari mungkin akan ada orang yang mencoba memakai hubungan keluarga untuk mengambil apa yang menjadi hak Alya.”

Air mataku jatuh.

Tiba-tiba aku teringat kalimat ayah bertahun-tahun lalu.

“Orang yang paling berbahaya bukan orang yang terang-terangan mengambil milikmu, Rin. Tapi orang yang membuatmu percaya bahwa menyerahkannya adalah keputusanmu sendiri.”

Aku baru memahami maksudnya sekarang.

Penyelidikan berlangsung selama beberapa minggu.

Dokter Bagus akhirnya ditemukan.

Dari pemeriksaan ponsel dan transaksi keuangan, polisi menemukan komunikasi yang menguatkan dugaan bahwa Arif berusaha merekayasa dokumentasi kesehatan Alya untuk mendukung proses hukum terkait pengelolaan aset.

Namun ada satu hal yang membuat semuanya semakin pahit.

Dokter menjelaskan bahwa massa ovarium Alya tidak bisa langsung disimpulkan disebabkan obat tersebut.

Kista dan torsio bisa terjadi karena berbagai faktor.

Artinya, Arif mungkin tidak menciptakan penyakit Alya.

Tapi dia tahu Alya sakit.

Dia tahu kondisinya berbahaya.

Dan dia tetap menunda pertolongan demi menyembunyikan perbuatannya sendiri.

Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.

Sebulan setelah operasi, hasil patologi keluar.

Massanya jinak.

Aku menangis hampir sepuluh menit ketika dokter mengatakan kata itu.

Jinak.

Satu kata sederhana yang terasa seperti dunia dikembalikan kepadaku.

Alya mulai pulih.

Dia kembali sekolah secara bertahap.

Suatu sore, aku melihat kamera kecilnya kembali tergantung di leher.

Kami berjalan di Taman Bungkul ketika dia tiba-tiba memotretku.

“Jelek enggak?”

Dia melihat hasil fotonya.

“Lumayan.”

Aku tertawa.

Sudah lama aku tidak mendengar diriku sendiri tertawa seperti itu.

Kemudian Alya duduk di bangku.

“Bu.”

“Hm?”

“Alya masih sayang Ayah.”

Aku duduk di sampingnya.

Aku tidak marah.

Aku juga tidak mengatakan bahwa dia tidak boleh.

“Enggak apa-apa.”

Dia menatapku.

“Serius?”

“Orang bisa sayang sama seseorang dan tetap mengakui bahwa orang itu melakukan sesuatu yang salah.”

Matanya mulai basah.

“Alya takut Ibu kecewa.”

Aku menggenggam tangannya.

“Alya enggak perlu memilih antara sayang sama Ayah atau sayang sama Ibu.”

Dia menyandarkan kepala di bahuku.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum terhadap Arif masih berjalan.

Bengkel hampir kehilangan beberapa aset karena utang, tetapi bagian yang diwariskan ayah untukku dan Alya berhasil diamankan.

Aku mengambil satu keputusan yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan.

Aku menjual bagian aset yang secara hukum memang boleh kujual, melunasi kewajiban yang sah, lalu menutup bengkel lama.

Di tempat yang lebih kecil, aku membuka usaha katering sendiri.

Aku menamainya Dapur Alya.

Pada hari pertama pembukaan, Alya menggantung sebuah foto besar di dinding.

Foto itu diambilnya di Taman Bungkul.

Aku sedang tertawa sambil menutup wajah karena tidak siap difoto.

Di bawah foto itu, Alya menempelkan secarik kertas.

Aku membacanya sambil menahan air mata.

“Ibu pernah mengira mencintai keluarga berarti mempertahankan semuanya. Padahal kadang, mencintai keluarga berarti berani menyelamatkan orang yang masih bisa diselamatkan.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kamu nulis ini?”

Alya tersenyum.

“Bagus enggak?”

Aku memeluknya.

Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira rumah kami aman karena tidak pernah ada suara piring pecah, tidak ada pintu dibanting, dan tidak ada pertengkaran besar.

Ternyata kehancuran tidak selalu datang dengan suara keras.

Kadang ia datang melalui kebohongan kecil yang diulang setiap hari.

Melalui seorang anak yang diminta diam.

Melalui seorang ibu yang dibuat meragukan nalurinya sendiri.

Dan melalui seorang suami yang terus berkata semuanya baik-baik saja karena kebenaran akan menghancurkan rencana yang sedang disusunnya.

Arif hampir kehilangan putrinya karena ingin mempertahankan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi miliknya.

Sedangkan aku hampir kehilangan Alya karena terlalu lama mempercayai orang lain dibandingkan rasa takut dalam hatiku sendiri.

Sejak hari itu, setiap kali Alya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, aku mendengarkan.

Bukan karena seorang ibu selalu benar.

Tetapi karena anak yang meminta pertolongan tidak seharusnya dipaksa membuktikan rasa sakitnya terlebih dahulu agar dipercaya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang