Gagang pintu itu kembali bergerak keras.
Sekali.
Dua kali.
Lalu terdengar suara Arman dari luar, kali ini bukan lagi suara seorang suami yang cemas menunggu istrinya.
Nada suaranya berubah menjadi tajam.
“Dokter Rina, buka pintunya. Saya tahu Pak Hadi ada di sana.”
Pak Hadi.
Nama itu menghantam kepalaku seperti benda keras.
Aku menatap Dokter Rina dengan napas tertahan.
Pak Hadi adalah kakak kandung almarhum ayahku.
Pamanku.
Orang yang menghilang dari kehidupan keluarga kami hampir empat tahun lalu setelah bertengkar hebat dengan ibuku.
Setidaknya, itulah cerita yang selalu kudengar.
“Kok Arman tahu Paman Hadi ada di sini?” bisikku.
Dokter Rina tidak sempat menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki lain dari balik ruangan kecil di belakang lemari penyimpanan.
“Karena dia sudah lama tahu saya masih hidup.”
Aku membeku.
Pintu kecil itu terbuka.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun keluar perlahan dengan tubuh yang jauh lebih kurus daripada yang kuingat. Rambutnya hampir seluruhnya memutih. Ada bekas luka panjang di dekat pelipis kirinya.
Namun aku tetap mengenal matanya.
“Paman?”
Suaraku pecah.
Pak Hadi berdiri beberapa meter di depanku.
“Maafkan Paman, Alya.”
Aku mundur selangkah.
Di luar, Arman kembali menggedor pintu.
“Pak Hadi! Jangan coba-coba isi kepala istri saya dengan kebohongan!”
Pak Hadi menatap pintu dengan rahang mengeras.
Kemudian ia melihat ke arah map cokelat yang terjatuh di lantai.
“Sudah waktunya kamu tahu semuanya.”
Aku memungut map itu dengan tangan gemetar.
Dokter Rina tidak lagi menahanku.
Halaman pertama berisi hasil pemeriksaan dari sebuah klinik fertilitas di Jakarta. Tanggalnya hampir tiga tahun lalu, hanya beberapa bulan setelah aku menikah.
Namaku tertulis di sana.
Di bawahnya ada kesimpulan medis yang membuatku harus membaca dua kali.
Tidak ditemukan gangguan fungsi reproduksi yang menghambat kehamilan.
Aku menatap Dokter Rina.
“Ini… hasil pemeriksaanku?”
Ia mengangguk.
“Tapi aku tidak pernah menjalani pemeriksaan seperti ini.”
“Pernah,” jawabnya pelan. “Hanya saja waktu itu Anda diberi tahu bahwa pemeriksaan tersebut adalah pemeriksaan kesehatan rutin setelah menikah.”
Ingatan lama mendadak muncul.
Beberapa bulan setelah menikah, Arman memang pernah membawaku ke sebuah klinik dengan alasan pemeriksaan kesehatan karena aku sering pusing dan mudah lelah.
Aku menjalani tes darah, USG, dan beberapa pemeriksaan lain.
Setelah itu Arman mengatakan hasilnya kurang baik.
Dia tidak pernah memberiku dokumennya.
“Lalu kenapa Arman bilang aku mandul?”
Pak Hadi menjawab dengan suara berat.
“Karena yang bermasalah bukan kamu.”
Tanganku berhenti membalik halaman.
Aku menemukan lembar berikutnya.
Nama Arman tercetak di bagian atas.
Hasil analisis sperma.
Di bawahnya terdapat diagnosis yang tak perlu kupahami sebagai dokter untuk mengetahui maknanya.
Azoospermia non-obstruktif.
Dokter Rina menunjuk hasil tersebut.
“Jumlah sel sperma suami Anda waktu itu nol. Setelah pemeriksaan lanjutan, dokter menyimpulkan kemungkinan memiliki anak biologis secara alami sangat kecil.”
Dunia di sekelilingku seakan menjadi sunyi.
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Kenyataan bahwa Arman mungkin tidak bisa memiliki anak biologis.
Atau kenyataan bahwa selama hampir tiga tahun dia membiarkanku menanggung seluruh rasa malu sendirian.
Aku teringat tatapan ibu mertuaku.
Sindiran para kerabat.
Malam-malam ketika aku menangis di kamar mandi.
Obat herbal yang kupaksa minum.
Vitamin.
Doa.
Rasa bersalah.
Semua itu dibangun di atas sebuah kebohongan.
“Kenapa dia melakukan itu?”
Pak Hadi menghela napas.
“Karena dia takut keluarganya tahu.”
Aku tertawa pendek, tetapi rasanya seperti menangis.
“Jadi dia memilih menghancurkan aku supaya harga dirinya tetap utuh?”
Tidak seorang pun menjawab.
Dari luar, suara Arman kembali terdengar.
“Alya! Jangan percaya mereka!”
Aku menoleh tajam ke pintu.
“Kalau begitu masuk dan jelaskan!”
Ruangan mendadak sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak datang, Arman tidak menjawab.
Aku kembali menatap map.
Masih ada beberapa dokumen lagi.
Sebuah formulir persetujuan tindakan medis.
Sebuah kuitansi.
Dan satu dokumen yang membuat tanganku berhenti.
Dokumen penyimpanan embrio.
Aku membaca baris demi baris dengan jantung berdebar semakin cepat.
Nama pasien perempuan adalah namaku.
Namun bagian pasangan laki-laki tidak mencantumkan nama Arman.
Kolom tersebut berbunyi donor anonim.
“Apa ini?”
Dokter Rina menarik kursi dan duduk di hadapanku.
“Alya, beberapa minggu setelah pemeriksaan kesuburan itu, suami Anda datang kembali ke klinik tanpa Anda.”
“Untuk apa?”
“Dia ingin tahu kemungkinan tetap mendapatkan keturunan.”
“Dengan donor?”
Dokter Rina mengangguk.
Aku menatap layar USG.

“Jadi bayi ini…”
“Bukan.”
Dokter Rina segera memotong.
“Kehamilan Anda sekarang bukan hasil program tersebut.”
Aku tertegun.
“Lalu kenapa dokumen ini ada di sini?”
Pak Hadi mengambil napas panjang.
“Karena program itu tidak pernah dilaksanakan.”
Aku semakin bingung.
Pak Hadi menunjuk tanda tangan di bagian bawah formulir.
“Lihat tanda tangan persetujuan pasien.”
Aku memperhatikannya.
Sekilas terlihat seperti tanda tanganku.
Namun ada sesuatu yang salah.
Huruf A di awal namaku melengkung ke arah yang berbeda.
Aku mengenal tanda tanganku sendiri.
“Itu palsu.”
Pak Hadi mengangguk.
“Paman juga berpikir begitu.”
Aku menatap mereka bergantian.
“Arman memalsukan tanda tanganku?”
“Bukan hanya itu,” kata Pak Hadi. “Dia hampir melakukan prosedur fertilitas menggunakan tubuhmu tanpa persetujuanmu.”
Lututku terasa lemas.
Aku duduk di tepi ranjang pemeriksaan.
“Kenapa Paman tahu semua ini?”
Pak Hadi diam cukup lama.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari saku bajunya.
“Karena Paman bekerja sebagai konsultan keuangan untuk perusahaan keluarga Arman.”
Aku mengangkat kepala.
Aku tahu Pak Hadi pernah bekerja di bidang audit, tetapi tidak pernah tahu ia berhubungan dengan keluarga suamiku.
“Empat tahun lalu,” lanjutnya, “Paman menemukan pembayaran mencurigakan dari perusahaan mereka ke sebuah klinik, dokter, dan beberapa rekening pribadi. Saat Paman mencari tahu lebih jauh, Paman menemukan banyak dokumen yang sengaja disembunyikan.”
“Dokumen apa?”
“Pemalsuan rekam medis, suap, manipulasi laporan pajak, dan pembelian data pasien.”
Aku menatap pintu.
Jantungku semakin berdebar.
“Arman terlibat?”
“Bukan hanya terlibat. Sebagian transaksi dilakukan atas persetujuannya.”
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras.
Pintu hampir terbuka.
Dokter Rina segera berdiri.
“Kita tidak punya banyak waktu.”
“Kenapa Paman selama ini menghilang?”
Pertanyaan itu keluar dengan nada lebih keras daripada yang kuinginkan.
Pak Hadi menatapku penuh penyesalan.
“Paman tidak menghilang.”
Ia menyentuh bekas luka di pelipisnya.
“Paman hampir dibunuh.”
Aku kehilangan kata-kata.
“Tiga tahun lalu mobil Paman ditabrak dari belakang di Tol Cipularang. Polisi menyebutnya kecelakaan. Tapi dua hari sebelumnya, Paman menerima ancaman agar berhenti menyelidiki transaksi keluarga Arman.”
“Kenapa Ibu bilang Paman pergi setelah bertengkar dengannya?”
“Karena itu cerita yang Paman minta Ibumu sampaikan.”
Mataku mulai panas.
“Ibu tahu?”
“Sebagian.”
“Kenapa semua orang terus menyembunyikan sesuatu dariku?”
Pak Hadi mendekat.
“Karena waktu itu kamu baru menikah. Ibumu takut kalau kamu tahu semuanya, Arman akan melakukan sesuatu kepadamu.”
Aku menatap map di tanganku.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun aku tidur di samping seorang laki-laki yang mungkin tidak pernah kukenal.
“Tapi satu hal belum dijelaskan.”
Aku menatap Dokter Rina.
“Tadi Dokter bilang aku harus tahu siapa ayah bayi ini.”
Dokter Rina terlihat ragu.
Aku berdiri.
“Jawab saya.”
Ia perlahan menggeleng.
“Saya tidak mengatakan bahwa ayah bayi ini bukan suami Anda.”
“Tapi hasil Arman bilang dia hampir tidak mungkin punya anak.”
“Hampir tidak mungkin bukan berarti mutlak tidak mungkin.”
“Jadi bayi ini bisa saja anak Arman?”
Dokter Rina menghela napas.
“Secara biologis, sangat kecil. Tetapi bukan itu yang membuat saya khawatir.”
“Lalu apa?”
Ia menatap hasil USG.
“Usia kehamilan Anda sekitar sebelas minggu.”
Aku menghitung cepat.
Sebelas minggu.
Aku merasa kepalaku mendadak ringan.
Sebelas minggu lalu Arman berada di Singapura hampir tiga minggu karena urusan bisnis.
Dan sebelum keberangkatannya, kami sedang bertengkar.
Kami bahkan tidak tidur bersama selama hampir satu bulan.
Aku menutup mulut.
“Tidak mungkin.”
Dokter Rina berbicara hati-hati.
“Karena itu saya bertanya sekali lagi. Apakah dalam tiga bulan terakhir Anda pernah menjalani tindakan medis, mengalami kehilangan kesadaran, atau dirawat?”
Pertanyaan itu langsung membangkitkan satu ingatan.
Dua belas minggu lalu.
Aku pernah pingsan saat menghadiri acara keluarga Arman di Bandung.
Aku dibawa ke klinik milik seorang kenalan ibu mertuaku.
Katanya tekanan darahku turun.
Aku diberi obat penenang karena mengalami serangan panik.
Saat bangun, Arman sudah berada di sampingku.
Dokter mengatakan aku hanya mengalami kelelahan.
Tubuhku mulai gemetar.
“Dok… jangan bilang…”
Dokter Rina menunduk.
“Saya belum bisa memastikan tanpa pemeriksaan tambahan.”
Air mata mulai mengalir di pipiku.
“Apakah seseorang melakukan sesuatu padaku saat aku tidak sadar?”
“Belum tentu.”
Pak Hadi mengepalkan tangan.
“Tapi sangat mungkin.”
Aku hampir jatuh kalau tidak berpegangan pada meja.
Dari luar, tiba-tiba terdengar suara logam.
Arman sepertinya sedang mencoba membuka kunci dengan bantuan seseorang.
Dokter Rina segera mengambil ponselnya.
“Saya sudah menghubungi keamanan rumah sakit.”
Pak Hadi menggeleng.
“Bukan keamanan. Polisi.”
Ia mengangkat ponselnya.
“Saya sudah menelepon mereka sebelum masuk.”
Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki ramai dari koridor.
Suara Arman berubah panik.
“Apa-apaan ini? Saya cuma mau menemui istri saya!”
Lalu terdengar suara laki-laki lain.
“Pak Arman Pradipta?”
“Ya.”
“Kami dari kepolisian. Kami perlu Anda ikut dengan kami untuk dimintai keterangan.”
Aku menatap Pak Hadi.
Ia mengangguk kecil.
“Bukti yang Paman kumpulkan sudah diserahkan pagi ini.”
Suasana di luar menjadi gaduh.
Arman berteriak memanggil namaku.
“Alya! Mereka memfitnah aku!”
Aku berjalan menuju pintu.
Dokter Rina mencoba menahanku, tetapi aku menggeleng.
“Buka.”
Pintu dibuka.
Arman berdiri di lorong dengan dua petugas di sampingnya.
Begitu melihatku, ekspresinya berubah.
“Alya, dengarkan aku.”
Aku menatap laki-laki yang hampir tiga tahun kupanggil suami.
Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat asing.
“Kenapa kamu bilang aku tidak bisa hamil?”
Arman terdiam.
Aku mengangkat lembar hasil pemeriksaan.
“Kenapa?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan sekarang.”
Orang-orang di lorong menoleh ke arah kami.
Arman mengusap wajah.
“Ibu memaksaku.”
Aku tertawa getir.
“Tentu. Selalu ibumu.”
“Alya…”
“Apakah kamu memalsukan tanda tanganku?”
Wajahnya langsung pucat.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Dan malam di Bandung?”
Arman menatapku.
Matanya berubah.
Bukan sedih.
Takut.
“Apa yang terjadi padaku malam itu?”
“Aku tidak tahu apa yang mereka katakan kepadamu.”
“Mereka belum mengatakan apa pun.”
Aku mendekat.
“Jadi kenapa kamu takut?”
Arman membungkam.
Petugas memegang lengannya.
Saat mereka hendak membawanya pergi, Arman tiba-tiba berkata,
“Aku melakukan semua itu karena aku tidak mau kehilangan kamu.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Dengan membuatku percaya aku rusak?”
“Aku tahu kalau kamu tahu aku tidak bisa punya anak, kamu mungkin akan meninggalkanku.”
“Jadi kamu memilih menghancurkan harga diriku supaya aku tetap tinggal?”
“Aku mencintaimu.”
“Jangan sebut itu cinta.”
Suara itu keluar begitu tenang hingga aku sendiri terkejut.
“Cinta tidak membuat seseorang meragukan tubuhnya sendiri selama bertahun-tahun.”
Arman menunduk.
Kemudian ia dibawa pergi.
Namun sebelum berbelok di ujung lorong, dia menoleh dan berkata,
“Alya, bayi itu anakku.”
Aku menahan napas.
Pak Hadi yang berdiri di belakangku langsung berkata,
“Jangan percaya apa pun darinya sebelum hasil tes keluar.”
Dua minggu berikutnya menjadi masa terpanjang dalam hidupku.
Polisi menyelidiki klinik tempat aku dirawat di Bandung.
Beberapa rekaman CCTV telah dihapus.
Namun catatan obat dan jadwal ruang tindakan masih tersimpan di server pusat.
Namaku tercatat berada di salah satu ruang prosedur hampir empat puluh menit.
Tanpa persetujuan tertulis.
Tanpa keluarga kandung mendampingiku.
Dokter yang bertugas saat itu awalnya menyangkal.
Sampai polisi menemukan transfer sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah dari perusahaan keluarga Arman dua hari sebelum aku dirawat.
Ibu mertuaku juga diperiksa.
Untuk pertama kalinya, perempuan yang selama ini selalu menatapku seolah aku tidak cukup baik duduk di hadapanku dengan mata sembap.
“Alya, Ibu hanya ingin keluarga ini punya penerus.”
Aku tidak menjawab.
Ia mencoba menggenggam tanganku.
Aku menariknya.
“Dengan menjadikan tubuh saya alat?”
Ia menangis.
“Ibu tidak menyangka semuanya akan sejauh ini.”
“Tapi Ibu tahu.”
Ia terdiam.
Itu cukup.
Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan genetik prenatal yang dilakukan secara legal dan dengan persetujuanku keluar.
Dokter Rina memintaku datang bersama orang yang kupercaya.
Aku membawa ibuku.
Tanganku gemetar ketika amplop dibuka.
Dokter Rina membaca hasilnya perlahan.
Kemudian ia menatapku.
“Janin ini tidak memiliki hubungan biologis dengan Arman.”
Ibuku langsung menutup mulut.
Aku sendiri hanya duduk diam.
Entah kenapa aku sudah menduga.
“Tapi… donor siapa?”
Dokter Rina tampak bingung.
“Itulah bagian yang aneh.”
Ia menyerahkan dokumennya.
“Ada kecocokan genetik yang sangat tinggi dengan seseorang yang tercatat dalam basis data keluarga Anda.”
Aku menatapnya.
“Apa maksudnya?”
Pintu ruangan terbuka.
Pak Hadi masuk.
Wajahnya pucat.
Di tangannya ada hasil pemeriksaan lain.
“Alya…”
Aku berdiri.
“Paman tahu siapa?”
Ia tidak langsung menjawab.
Air matanya justru jatuh.
“Donornya adalah Dimas.”
Aku seperti kehilangan suara.
Dimas.
Adikku.
Adikku yang meninggal lima tahun lalu akibat kecelakaan motor.
“Itu tidak mungkin.”
“Jaringan reproduksi Dimas pernah disimpan saat dia menjalani pengobatan sebelum meninggal,” kata Pak Hadi.
Aku teringat.
Setahun sebelum kecelakaannya, Dimas pernah menjalani operasi dan terapi karena tumor jinak yang berisiko memengaruhi kesuburan.
Dokter memang menyarankan penyimpanan sperma.
Namun bagaimana mungkin sampel itu digunakan padaku?
Pak Hadi menyerahkan dokumen terakhir.
Di sana terdapat nama bank sperma.
Nomor sampel.
Tanda tangan pemindahan.
Dan nama perusahaan yang membayar seluruh prosedur.
Perusahaan milik keluarga Arman.
Aku merasa mual.
Ibu mertuaku rupanya pernah mengetahui bahwa sampel Dimas tersimpan karena keluarga kami mengurus administrasi melalui rumah sakit yang sama dengan klinik fertilitas mereka.
Setelah gagal mendapatkan donor yang dianggap “cocok secara garis keluarga”, ia membeli akses secara ilegal melalui perantara.
Tujuannya sederhana dan mengerikan.
Jika anak itu memiliki sebagian karakteristik genetik keluargaku, mereka berharap tidak ada yang curiga saat kelak melihat kemiripan wajah.
Arman mengetahui rencana itu.
Dan membiarkannya terjadi.
Aku keluar dari rumah sakit sore itu dengan langkah yang terasa berbeda.
Bayi di dalam kandunganku bukan anak Arman.
Bukan pula anak seorang donor asing.
Secara biologis, bayi itu adalah anak dari adikku sendiri.
Sebuah kenyataan yang begitu aneh dan menyakitkan hingga selama berhari-hari aku tidak tahu apakah aku harus menangis atau marah.
Namun satu hal menjadi sangat jelas.
Bayi ini tidak bersalah.
Aku pun tidak.
Beberapa bulan kemudian, pernikahanku dengan Arman resmi berakhir.
Kasus pidana terhadap Arman, ibunya, dokter, dan beberapa pihak klinik terus berjalan.
Pak Hadi akhirnya pulang ke keluarga kami setelah bertahun-tahun hidup berpindah-pindah.
Dan untuk pertama kalinya, ibuku menceritakan seluruh kebenaran yang selama ini ia sembunyikan demi melindungiku.
Saat usia kehamilanku memasuki delapan bulan, aku datang ke makam Dimas.
Aku duduk di samping nisannya sambil mengusap perutku yang besar.
“Aku masih marah,” bisikku.
Angin sore berembus pelan.
“Aku marah karena mereka mengambil sesuatu darimu tanpa izin. Mereka juga mengambil hakku untuk memilih.”
Air mataku jatuh.
“Tapi anak ini tidak akan tumbuh sebagai bukti kejahatan mereka.”
Aku tersenyum kecil sambil merasakan tendangan dari dalam perut.
“Dia akan tumbuh sebagai dirinya sendiri.”
Tiga minggu kemudian, seorang bayi perempuan lahir dengan selamat.
Aku memberinya nama Nadira.
Bukan nama yang berkaitan dengan Arman.
Bukan pula nama yang sengaja menyerupai Dimas.
Aku ingin dia tumbuh tanpa memikul cerita orang dewasa yang terjadi sebelum kelahirannya.
Saat perawat meletakkannya di dadaku, aku menatap wajah kecilnya lama sekali.
Selama hampir tiga tahun aku dibuat percaya bahwa tubuhku gagal.
Bahwa aku tidak cukup sebagai perempuan.
Bahwa aku harus meminta maaf karena tidak mampu memberikan keturunan.
Namun bayi kecil yang sedang tidur di dadaku mengajarkanku satu hal yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi seorang ibu.
Kadang-kadang kebohongan paling kejam bukanlah ketika seseorang menyembunyikan kebenaran dari kita.
Melainkan ketika seseorang membuat kita membenci diri sendiri agar kita tidak pernah berpikir untuk mempertanyakan kebohongan mereka.
Aku mengecup kening Nadira.
Lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika melihat bayanganku sendiri di jendela rumah sakit, aku tidak lagi melihat perempuan yang gagal memberikan keturunan.
Aku melihat seorang perempuan yang akhirnya merebut kembali hidupnya.
Dan di samping tempat tidur, di dalam tas yang dibawa Pak Hadi, masih tersimpan map cokelat tua yang pernah jatuh di ruang USG hari itu.
Map yang semula kukira berisi rahasia tentang kehamilanku.
Ternyata isinya adalah bukti bahwa sejak awal, yang bermasalah tidak pernah tubuhku.
Yang sakit adalah kebohongan orang-orang yang mengaku mencintaiku.
