SUAMIKU MENGHILANG HANYA BEBERAPA JAM SETELAH MALAM PERTAMA PERNIKAHAN KAMI…

Aku tidak langsung naik ke lantai dua.

Setidaknya, tidak malam itu.

Aku masih berdiri di ruang tengah dengan ponsel di tangan, berusaha mengatur napas sambil terus menatap tangga.

Kamar yang selalu dikunci.

Sejak pertama kali datang ke rumah keluarga Arga dua tahun lalu, aku memang sudah memperhatikan kamar itu.

Letaknya paling ujung di lantai dua, berseberangan dengan ruang kerja ayah Arga. Pintunya terbuat dari kayu gelap, tanpa hiasan apa pun, tetapi selalu terkunci.

Pertama kali aku bertanya, Arga bilang kamar itu gudang.

Beberapa bulan kemudian, ibu mertuaku mengatakan kamar tersebut adalah ruang penyimpanan dokumen keluarga.

Adik Arga pernah mengatakan bahwa kamar itu dulu milik nenek mereka.

Jawaban yang berbeda-beda.

Saat itu aku tidak terlalu memikirkannya.

Sekarang, semuanya terasa seperti peringatan yang selama ini kuabaikan.

Aku kembali menatap layar ponsel.

“Arga, apa yang ada di dalam kamar itu?”

Pesanku terkirim.

Tidak ada jawaban.

Aku mencoba menelepon.

Nomornya kembali tidak aktif.

“Laras?”

Aku tersentak.

Ibu mertuaku berdiri di pintu dapur.

Entah sejak kapan dia memperhatikanku.

“Ada apa?” tanyanya.

Aku buru-buru mematikan layar ponsel.

“Tidak apa-apa, Bu.”

Tatapannya turun ke tanganku.

“Siapa yang mengirim pesan?”

Jantungku serasa jatuh.

Aku tersenyum sebisanya.

“Teman.”

Untuk beberapa detik, dia hanya memandangku.

Lalu tersenyum tipis.

“Sudah malam. Sebaiknya kamu tidur.”

Aku mengangguk.

Namun ketika aku berjalan melewatinya menuju kamar tamu, dia tiba-tiba berkata,

“Laras.”

Aku berhenti.

“Jangan naik ke lantai dua malam-malam.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Lantainya licin setelah dibersihkan.”

Dia kembali masuk ke dapur seolah tidak mengatakan sesuatu yang aneh.

Aku berdiri beberapa detik tanpa bergerak.

Semakin jelas bagiku bahwa pesan Arga bukan lelucon.

Malam itu aku mengunci pintu kamar dari dalam.

Aku tidak tidur.

Setiap suara di rumah membuatku terkejut.

Suara langkah.

Pintu dibuka.

Air mengalir.

Bahkan suara pendingin ruangan terasa seperti bisikan.

Sekitar pukul dua pagi, aku mendengar langkah kaki di lorong.

Pelan.

Berhenti tepat di depan kamarku.

Aku menahan napas.

Bayangan seseorang tampak dari celah bawah pintu.

Orang itu berdiri cukup lama.

Kemudian terdengar suara gagang pintu ditekan perlahan.

Sekali.

Dua kali.

Aku mundur sambil menutup mulut.

Karena pintu terkunci, orang itu akhirnya pergi.

Aku tidak tahu siapa.

Pagi harinya, aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Saat sarapan, ayah mertua membaca berita dari tablet.

Adik Arga, Dimas, sibuk dengan ponselnya.

Ibu mertua menuangkan teh.

Tidak seorang pun membicarakan Arga.

Seolah kehilangannya bukan sesuatu yang penting.

Aku akhirnya berkata,

“Menurutku kita harus lapor polisi.”

Sendok ibu mertua berhenti di udara.

Ayah Arga mengangkat kepala.

“Tidak perlu.”

“Sudah tiga hari.”

“Arga bukan anak kecil.”

“Tapi ponselnya mati. Dompet dan mobilnya masih ada.”

Ayah mertua menatapku lama.

“Dia pernah melakukan hal yang sama.”

Aku mengerutkan kening.

“Kapan?”

Tidak ada jawaban.

Dimas tiba-tiba berdiri.

“Aku sudah selesai.”

Dia hendak pergi.

“Dimas.”

Dia berhenti.

“Kak Arga pernah menghilang seperti ini sebelumnya?”

Wajahnya berubah.

Hanya sesaat.

Tetapi aku melihatnya.

Ketakutan.

Sebelum dia sempat menjawab, ibu mertua berkata,

“Sudah, Laras. Jangan memojokkan Dimas.”

Aku menatap satu per satu wajah mereka.

Saat itulah aku mengambil keputusan.

Aku harus masuk ke kamar itu.

Siang hari, aku menunggu sampai rumah relatif sepi.

Ayah mertua pergi ke kantor.

Dimas keluar.

Ibu mertua menghadiri pertemuan sosial di kompleks.

Aku sendirian.

Aku naik ke lantai dua.

Setiap anak tangga terasa berat.

Ketika sampai di ujung lorong, aku berhenti di depan pintu kayu gelap.

Aku mencoba gagangnya.

Terkunci.

Aku mulai mencari kunci di laci-laci ruang kerja.

Tidak ada.

Lalu aku teringat sesuatu.

Semalam, ayah mertua keluar dari kamar sebelum naik ke lantai dua.

Aku pernah melihatnya membawa gantungan kunci kecil berwarna hitam.

Aku turun ke kamar utama.

Pintunya tidak dikunci.

Aku merasa bersalah saat mulai memeriksa laci.

Tetapi rasa takut mengalahkan semuanya.

Di dalam laci meja samping tempat tidur, di bawah beberapa obat dan buku catatan, aku menemukan sebuah kunci kecil dengan gantungan hitam.

Tanganku langsung dingin.

Aku membawanya ke lantai dua.

Kunci itu cocok.

Klik.

Pintu terbuka.

Bau lembap bercampur aroma kertas tua menyambutku.

Ruangan itu bukan gudang.

Bukan juga kamar nenek.

Ruangan tersebut lebih mirip arsip pribadi.

Ada beberapa lemari besi kecil, rak penuh map, serta sebuah meja dengan komputer lama.

Tetapi yang membuatku terpaku adalah dinding sebelah kiri.

Penuh foto.

Foto Arga.

Puluhan.

Mungkin ratusan.

Sebagian diambil diam-diam.

Arga sedang berjalan.

Arga duduk di kafe.

Arga masuk ke mobil.

Arga berbicara dengan seseorang.

Dan di antara foto-foto itu…

Ada fotoku.

Aku mendekat dengan napas tidak teratur.

Foto saat aku keluar kantor.

Foto saat berbelanja.

Foto ketika aku sedang bertemu sahabatku.

Bahkan ada foto ketika aku dan Arga pertama kali makan malam bersama dua tahun lalu.

Seseorang telah memantau kami.

Sejak awal.

“Ya Tuhan…”

Di atas meja terdapat sebuah map bertuliskan nama Arga.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada fotokopi dokumen medis.

Laporan laboratorium.

Catatan psikolog.

Surat kepolisian.

Aku membaca satu per satu dengan tangan gemetar.

Lalu aku menemukan nama seseorang.

Rendra Mahesa.

Aku tidak mengenalnya.

Namun foto di dokumen identitas itu membuat lututku hampir lemas.

Wajahnya sangat mirip Arga.

Bukan mirip seperti saudara.

Melainkan hampir identik.

Aku membalik lembar berikutnya.

“Rendra Mahesa, saudara kembar Arga Mahendra.”

Aku membeku.

Arga tidak pernah mengatakan bahwa dia memiliki saudara kembar.

Dalam dokumen berikutnya tertulis bahwa Rendra pernah menjalani perawatan kejiwaan karena gangguan perilaku dan kecenderungan kekerasan.

Ada laporan penyerangan.

Pemalsuan identitas.

Ancaman terhadap anggota keluarga.

Lalu sebuah catatan delapan tahun lalu.

Rendra dinyatakan meninggal dalam kecelakaan mobil.

Aku menelan ludah.

Kalau dia sudah meninggal, kenapa seluruh ruangan dipenuhi dokumen tentang dirinya?

Aku membuka map lain.

Di dalamnya terdapat koran lama tentang kecelakaan tersebut.

Mobil terbakar di daerah Kaliurang.

Korban tidak dapat dikenali secara langsung.

Identifikasi dilakukan berdasarkan barang pribadi.

Tidak ada pemeriksaan DNA.

Aku merasa mual.

Kemudian aku menemukan sebuah amplop putih.

Di bagian depan tertulis dengan tulisan tangan Arga.

“Untuk Laras, kalau sesuatu terjadi padaku.”

Aku hampir menjatuhkannya.

Aku membuka amplop itu.

Laras,

Kalau kamu membaca ini, berarti aku gagal menyelesaikannya sebelum kita menikah.

Aku tidak pernah tahu bagaimana menjelaskan semuanya kepadamu tanpa membuatmu takut.

Aku punya saudara kembar bernama Rendra.

Keluargaku mengatakan dia meninggal delapan tahun lalu.

Tapi tiga bulan lalu aku menemukan bukti bahwa dia masih hidup.

Aku melihatnya sendiri.

Dia sudah kembali ke Yogyakarta.

Dan seseorang di rumah membantu menyembunyikannya.

Aku berhenti membaca.

Suara detak jantungku memenuhi telinga.

Aku melanjutkan.

Rendra membenciku sejak kecil karena merasa Ayah selalu memilihku.

Dia pernah menggunakan identitasku untuk melakukan beberapa hal buruk.

Itulah alasan keluarga menutup semua informasi tentang dirinya.

Aku takut dia kembali untuk mengambil hidupku sekali lagi.

Aku ingin membatalkan pernikahan sementara sampai masalah ini selesai, tetapi aku terlalu pengecut untuk membuatmu kecewa.

Maafkan aku.

Jika aku menghilang, jangan percaya siapa pun sebelum kamu tahu siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu.

Aku menutup mulut.

Siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu.

Kalimat itu terasa janggal.

Aku membaca ulang bagian terakhir.

Tiba-tiba terdengar suara pintu rumah dibuka dari bawah.

Aku tersentak.

Seseorang pulang.

Aku buru-buru memasukkan surat ke tas.

Saat hendak keluar, pandanganku jatuh pada monitor komputer.

Ada kamera pengawas yang terhubung ke beberapa bagian rumah.

Ruang tengah.

Garasi.

Taman belakang.

Lantai dua.

Kemudian sebuah kamera menampilkan ruangan kecil yang tidak kukenal.

Ada kasur.

Kursi.

Dinding beton.

Seperti ruang bawah tanah.

Dan seseorang duduk di kursi dengan tangan terikat.

Aku mendekat.

Darahku seakan berhenti mengalir.

Itu Arga.

Dia hidup.

Wajahnya memar.

Kepalanya tertunduk.

Aku langsung menangis.

“Arga…”

Suara langkah terdengar di lorong.

Aku panik.

Pintu kamar terbuka.

Dimas berdiri di sana.

Wajahnya pucat.

“Kak Laras?”

Aku mundur.

“Jangan mendekat!”

Dimas mengangkat kedua tangan.

“Kak, dengar dulu.”

“Arga ada di mana?”

Tatapan Dimas langsung beralih ke monitor.

Dia tampak terpukul.

“Kakak menemukan kamera itu…”

“Di mana dia?”

Dimas menutup pintu cepat-cepat.

“Kalau Ibu tahu Kakak masuk ke sini, kita berdua dalam bahaya.”

Aku menatapnya.

“Ibumu?”

Dimas mengangguk.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

“Orang yang membantu Rendra adalah Ibu.”

Aku merasa dunia berputar.

Dimas menjelaskan dengan suara tergesa-gesa.

Rendra memang tidak meninggal delapan tahun lalu.

Ibu mertua memalsukan kematiannya karena tidak tega melihat anaknya dipenjara setelah serangkaian tindakan kekerasan.

Rendra dibawa keluar kota untuk menjalani perawatan secara diam-diam.

Ayah mertua mengira anaknya benar-benar meninggal.

Hanya ibu dan Dimas yang mengetahui kebenaran.

“Tapi aku masih kecil,” kata Dimas. “Aku dipaksa diam.”

“Tiga bulan lalu?”

“Rendra kabur dari tempat perawatan.”

“Dan ibumu membawanya pulang?”

Dimas mengangguk.

“Ibu bilang Rendra sudah berubah. Tapi Kak Arga menemukan semuanya.”

“Lalu siapa yang menculik Arga?”

Dimas tidak menjawab.

Wajahnya mengatakan cukup banyak.

“Ibumu?”

“Bukan.”

Suara lain terdengar dari belakang kami.

“Dimas benar.”

Aku membeku.

Seorang pria berdiri di pintu.

Wajah Arga.

Tubuh Arga.

Suara Arga.

Aku menatapnya dengan air mata langsung memenuhi mata.

“Arga?”

Dimas justru mundur ketakutan.

“Jangan dekat-dekat, Kak.”

Pria itu tersenyum.

Seketika aku mengerti.

Itu bukan suamiku.

“Rendra.”

Senyumnya melebar.

“Pintar.”

Aku mundur.

Rendra menutup pintu.

“Arga benar-benar memilih perempuan yang pintar.”

“Di mana suamiku?”

“Masih hidup.”

“Kenapa kau melakukan ini?”

Wajahnya berubah.

“Aku hanya ingin apa yang seharusnya menjadi milikku.”

“Termasuk identitasnya?”

“Termasuk semuanya.”

Dimas perlahan bergerak menuju meja.

Rendra melihatnya.

“Jangan.”

Dimas berhenti.

Rendra mengeluarkan pisau kecil dari saku.

Aku menahan napas.

“Delapan tahun aku hidup seperti orang mati,” katanya. “Tidak punya nama. Tidak punya keluarga. Tidak punya masa depan. Sementara Arga menjalani hidup yang seharusnya bisa menjadi milikku.”

“Itu bukan salah Arga.”

“Semua orang selalu bilang begitu.”

Tangannya bergetar.

Aku sadar emosinya tidak stabil.

Aku harus membuatnya terus bicara.

“Kenapa Arga mengirim pesan kepadaku?”

Rendra tertawa pelan.

“Karena dia sempat mengambil ponselnya saat aku lengah.”

“Jadi dia tahu aku tinggal di rumah ini.”

“Tentu.”

“Kenapa dia menyuruhku melihat kamar ini?”

Rendra menatap dinding foto.

“Mungkin dia berharap kamu cukup pintar untuk menyelamatkannya.”

Aku menatap Dimas.

Dia menggerakkan matanya ke arah meja.

Ada tombol kecil di bawah komputer.

Aku tidak tahu fungsinya.

Tapi aku harus mencoba.

Aku maju satu langkah.

Rendra mengangkat pisau.

“Jangan.”

“Aku cuma ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kalau kau ingin mengambil hidup Arga, kenapa tidak langsung membunuhnya?”

Wajah Rendra menegang.

“Karena aku perlu dia.”

“Untuk apa?”

“Sidik jari. Tanda tangan. Akses rekening. Beberapa hal tidak bisa diganti hanya dengan wajah.”

Aku merasa muak.

“Dan setelah selesai?”

Dia tersenyum.

Aku tidak membutuhkan jawaban.

Saat perhatian Rendra tertuju kepadaku, Dimas menekan tombol di bawah meja.

Alarm keras langsung berbunyi di seluruh rumah.

Rendra berteriak.

“Apa yang kau lakukan?”

Dimas melempar kursi ke arahnya.

Aku berlari keluar.

Kami bertiga berlari menuruni tangga.

Rendra mengejar.

Ketika sampai di ruang tengah, ibu mertua baru masuk dari pintu depan.

Dia membeku melihat kami.

“Rendra?”

Pria itu berhenti.

“Ibu, matikan alarm!”

Wajah ibu mertua pucat.

Aku menatapnya dengan kemarahan yang sulit dijelaskan.

“Di mana Arga?”

Dia mulai menangis.

“Laras…”

“Di mana suamiku?”

Dimas menunjuk ke arah dapur.

“Ada pintu menuju ruang bawah tanah di gudang belakang.”

Aku berlari.

Ibu mertua mencoba menahanku.

“Jangan!”

Tetapi Dimas menghalanginya.

Aku menemukan pintu besi di belakang rak makanan.

Tangga turun ke sebuah ruangan gelap.

Aku berlari menuruni tangga.

“Arga!”

“Laras?”

Suara lemah itu terdengar dari ujung ruangan.

Aku hampir jatuh.

Arga benar-benar ada di sana.

Tangannya terikat.

Wajahnya penuh luka.

Aku memeluknya begitu tali berhasil kulepaskan.

Dia menangis.

“Aku pikir aku tidak akan melihatmu lagi.”

Suara sirene terdengar dari luar rumah.

Ternyata tombol yang ditekan Dimas bukan hanya alarm.

Tombol itu terhubung langsung dengan layanan keamanan kompleks.

Tetangga dan petugas keamanan datang.

Polisi menyusul tidak lama kemudian.

Rendra mencoba melarikan diri lewat pintu belakang, tetapi berhasil ditangkap.

Yang paling menghancurkan adalah ketika polisi juga membawa ibu mertua.

Dia tidak pernah berniat membunuh Arga.

Namun dia telah membantu Rendra bersembunyi, memalsukan dokumen, dan menahan Arga ketika putranya sendiri mencoba melapor.

Beberapa minggu setelah semuanya selesai, aku duduk bersama Arga di teras rumah kontrakan kecil kami.

Kami tidak kembali tinggal bersama keluarganya.

Arga belum sepenuhnya pulih.

Bukan hanya luka di tubuhnya.

Ada luka lain yang jauh lebih dalam.

“Aku seharusnya memberitahumu sejak awal,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kenapa tidak?”

“Aku takut kehilanganmu.”

Aku menghela napas.

“Dan karena kamu tidak memberitahuku, aku hampir kehilanganmu.”

Dia menunduk.

Aku menggenggam tangannya.

Pernikahan kami tidak dimulai seperti cerita bahagia yang kubayangkan.

Malam pertama kami diikuti kehilangan, kebohongan, dan rahasia keluarga yang terkubur bertahun-tahun.

Tetapi ada satu hal yang akhirnya kupahami.

Kadang-kadang bahaya terbesar bukan datang dari orang asing.

Melainkan dari cinta yang berubah menjadi pembenaran.

Ibu Arga mencintai Rendra sampai dia tidak lagi bisa membedakan antara menyelamatkan anaknya dan membiarkan anaknya menghancurkan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, saat kasus Rendra mulai disidangkan, Dimas datang menemui kami.

Dia membawa sebuah kotak kecil.

“Aku menemukan ini saat polisi mengosongkan kamar rahasia.”

Di dalamnya ada sebuah ponsel lama.

Ponsel milik Rendra.

Polisi sudah memeriksanya.

Namun ada satu rekaman suara yang belum pernah kami dengar.

Dimas menekan tombol putar.

Suara Rendra terdengar.

“Aku sudah masuk ke rumah. Arga mulai curiga. Setelah pernikahan, aku akan mengambil tempatnya.”

Lalu terdengar suara perempuan.

Suara ibu mertua.

Aku menahan napas.

Tetapi kalimat berikutnya membuat Arga berdiri dari kursi.

Karena perempuan itu berkata,

“Jangan sakiti Arga. Aku hanya ingin kalian bertukar tempat untuk beberapa hari sampai dokumen warisan selesai.”

Kami saling menatap.

Warisan?

Dimas terlihat sama bingungnya.

Rekaman berlanjut.

Rendra tertawa.

“Kalau Ayah tahu bahwa sebenarnya aku anak sulung, semua saham utama akan jatuh kepadaku.”

Suara ibu menjawab pelan.

“Tidak ada yang boleh tahu.”

Arga membeku.

Aku melihat wajahnya kehilangan warna.

“Anak sulung?”

Dimas berbisik.

Saat itulah Arga mengatakan sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya.

“Dalam akta kelahiranku, aku selalu tercatat lahir dua belas menit lebih dulu.”

Kami kembali mendengarkan rekaman.

Suara ibu mertua terdengar sekali lagi.

“Selama tiga puluh tahun, semua orang percaya Arga lahir lebih dulu. Biarkan tetap begitu sampai Ayah kalian meninggal.”

Rekaman berhenti.

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menatap Arga.

Ternyata penculikan itu bukan hanya karena kebencian seorang saudara kembar.

Di balik semua kebohongan, ada rahasia lain yang bahkan Arga tidak pernah tahu.

Rendra adalah anak pertama.

Dan selama tiga puluh tahun, ibu mereka sengaja mengubah urutan kelahiran kedua anaknya demi menentukan siapa yang kelak mewarisi kendali perusahaan keluarga.

Aku menggenggam tangan Arga.

Dia menatap kosong ke depan.

Ironisnya, setelah semua yang terjadi, ayah Arga akhirnya mengubah seluruh surat wasiatnya.

Bukan untuk Arga.

Bukan untuk Rendra.

Bukan pula untuk Dimas.

Sebagian besar saham perusahaan dialihkan ke sebuah yayasan pendidikan dan kesehatan jiwa.

Saat ditanya alasannya, dia hanya berkata,

“Kalau harta membuat keluargaku saling menghancurkan, berarti harta itu tidak pantas diwariskan kepada siapa pun.”

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan kami, aku melihat Arga tersenyum tanpa beban.

Dia menggenggam tanganku.

“Kita mulai dari awal?”

Aku mengangguk.

“Dari nol.”

Dia tersenyum lebih lebar.

“Tak masalah.”

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

Karena setelah melalui semua itu, aku akhirnya mengerti bahwa kehidupan baru yang kami impikan memang benar-benar datang.

Hanya saja, bukan dalam bentuk rumah besar, perusahaan keluarga, atau warisan.

Melainkan dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.

Dua orang yang memilih berhenti hidup di bawah bayang-bayang rahasia keluarga.

Dan mulai membangun sesuatu yang benar-benar milik mereka sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang