suamiku usir aku dan anak tengah malam demi model cantik dan sebut aku lusuh tak berguna tapi lima tahun kemudian aku kembali sebagai pemilik brand yang kuasai nasib agensinya

Aku menatap foto usang itu tanpa berkedip. Foto itu diambil sekitar tiga puluh tahun lalu. Seorang perempuan muda sedang menggendong bayi perempuan di depan sebuah rumah sederhana di Yogyakarta. Di sampingnya berdiri seorang pria yang wajahnya sangat kukenal.

Ayahku.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Di balik foto itu tertulis dengan tinta yang mulai pudar.

Untuk Ratmi. Terima kasih sudah membesarkan putriku seperti anakmu sendiri. Suatu hari nanti, jika Laras sudah cukup kuat, berikan surat ini kepadanya.

Tanganku langsung meraih surat yang terlipat rapi.

Tulisan tangan di dalamnya membuat mataku basah.

Laras, jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah lama tiada. Maaf karena meninggalkanmu. Aku mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Sebelum meninggal, aku menitipkanmu kepada sahabatku, Ratmi. Dia berjanji akan membesarkanmu sebagai anak sendiri. Aku meminta satu hal. Jangan pernah membenci hidupmu. Di dalam laci rumah lama kita ada dokumen yang menjadi hakmu. Jika suatu hari kamu menemukannya, gunakanlah untuk membangun masa depanmu, bukan untuk membalas dendam.

Aku menjatuhkan surat itu.

Ratmi?

Ibu Bima?

Aku bukan menantu yang baru dikenalnya.

Aku adalah anak yang pernah diasuhnya.

Pikiranku kacau.

Sore itu juga aku menghubungi nomor Bu Ratmi.

“Ibu harus menjelaskan semuanya.”

Suara di ujung telepon terdengar lelah.

“Datanglah besok pagi ke rumah lama di Yogyakarta.”

Aku berangkat bersama Bian.

Rumah itu kecil, tua, dan dipenuhi debu.

Bu Ratmi duduk di ruang tamu sambil memegang album foto.

Air matanya mengalir sejak melihatku.

“Maafkan Ibu.”

Aku tidak menjawab.

“Ibu memang pernah membesarkanmu selama dua tahun. Setelah itu pamanmu mengambilmu kembali karena merasa sudah mampu merawatmu. Kamu masih terlalu kecil untuk mengingat.”

Aku memejamkan mata.

Pantas saja.

Sejak kecil aku sering merasa wajah Bu Ratmi tidak asing.

Ia membuka sebuah laci tua.

Di dalamnya ada map biru.

“Ayah kandungmu adalah perancang busana yang sangat berbakat. Sebelum meninggal, dia memiliki hak cipta atas puluhan desain. Waktu itu tidak ada yang percaya desain itu akan bernilai. Semua orang menganggapnya hanya gambar.”

Aku membuka map itu.

Puluhan sketsa.

Semuanya memiliki ciri khas yang selama ini tanpa sadar selalu muncul dalam koleksiku.

Air mataku jatuh.

Selama ini aku mengira itu murni gayaku sendiri.

Ternyata darah ayahku mengalir dalam setiap rancangan.

Bu Ratmi tersenyum pahit.

“Ayahmu juga meninggalkan saham kecil di sebuah perusahaan tekstil yang sekarang menjadi salah satu pemasok kain terbesar di Asia.”

Aku menatapnya.

“Kenapa baru sekarang?”

“Ibu takut keluargamu memanfaatkan semuanya.”

Aku terdiam lama.

Untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu, kemarahanku perlahan berubah menjadi rasa kehilangan.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Ponselku berbunyi.

Direktur hukum AETHELGARD menelepon.

“Madam, Bima mengajukan gugatan.”

“Gugatan apa?”

“Dia mengklaim akuisisi dilakukan melalui tekanan psikologis dan manipulasi informasi.”

Aku tertawa kecil.

“Dia masih belum belajar.”

Sidang digelar dua bulan kemudian di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Media memenuhi halaman.

Bima datang mengenakan jas hitam.

Wajahnya jauh lebih tua dibanding lima tahun lalu.

Sella tidak terlihat.

Saat sidang dimulai, pengacara Bima berbicara panjang lebar.

Mereka mencoba membangun narasi bahwa aku sengaja mempermalukan Bima di depan publik untuk menjatuhkan harga saham perusahaannya.

Aku hanya mendengarkan.

Ketika hakim mempersilakan pihakku berbicara, aku berdiri.

“Aku tidak pernah memaksa siapa pun menjual saham.”

Aku menunjukkan dokumen.

“Seluruh transaksi dilakukan melalui kreditur yang telah menyita saham perusahaan akibat utang yang gagal dibayar.”

Hakim mengangguk.

Pengacaraku kemudian memutar rekaman rapat direksi.

Di dalam rekaman itu terdengar jelas Bima menginstruksikan bawahannya memalsukan laporan keuangan demi menarik investor.

Ruang sidang langsung gaduh.

Wajah Bima memucat.

Namun kejutan belum selesai.

Seorang perempuan masuk sebagai saksi.

Sella.

Semua wartawan langsung mengarahkan kamera.

Ia mengenakan pakaian sederhana.

Tidak lagi seperti model glamor yang dulu menghina diriku.

Hakim bertanya.

“Apakah Saudari bersedia memberikan kesaksian?”

Sella mengangguk pelan.

“Saya bersedia.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Saya yang menyerahkan amplop kepada Bu Laras.”

Ia menarik napas panjang.

“Saya memang bersalah karena menjalin hubungan dengan Bima ketika dia masih menikah.”

Air matanya mengalir.

“Tapi saya juga korban.”

Semua orang saling berpandangan.

“Bima menggunakan uang perusahaan untuk mempertahankan citra hidup mewah. Dia memaksa saya berpura-pura menjadi pasangan sempurna di depan investor.”

Ia menyerahkan flashdisk.

“Semua bukti ada di sini.”

Bima berdiri sambil berteriak.

“Jangan percaya dia!”

Hakim mengetukkan palu.

“Tenang.”

Isi flashdisk diputar.

Video demi video muncul.

Ada percakapan tentang suap.

Ada transfer ilegal.

Ada ancaman kepada model yang ingin keluar dari agensi.

Semua terdokumentasi.

Aku melihat Bima.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendirian.

Sidang ditunda.

Seminggu kemudian putusan keluar.

Gugatan Bima ditolak seluruhnya.

Penyelidikan pidana terhadap dugaan penggelapan dan pemalsuan laporan keuangan resmi dimulai.

Saham Bima Management kembali anjlok.

Aku mengambil keputusan yang mengejutkan semua orang.

Aku tidak membubarkan agensi itu.

Sebaliknya, aku mengganti seluruh direksi.

Aku membuka program pelatihan bagi model muda dengan aturan yang jauh lebih manusiawi.

Tidak ada lagi kontrak yang menjerat.

Tidak ada lagi eksploitasi.

Beberapa bulan kemudian, sebuah acara amal digelar di Jakarta Convention Center.

AETHELGARD menjadi sponsor utama.

Aku mengajak Bian hadir.

Kini usianya dua belas tahun.

Ia berdiri di sampingku dengan percaya diri.

“Mama.”

“Ya?”

“Aku bangga sama Mama.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kamu alasan Mama bertahan.”

Di tengah acara, seseorang memanggil namaku.

Aku menoleh.

Bima.

Ia mengenakan seragam petugas kebersihan sebuah perusahaan outsourcing.

Tubuhnya jauh lebih kurus.

Matanya penuh penyesalan.

“Laras.”

Aku mendekat.

Ia menundukkan kepala.

“Aku tidak datang meminta uang.”

Aku diam.

“Aku hanya ingin minta maaf sekali lagi.”

Ia menarik napas panjang.

“Setiap malam aku masih ingat hujan itu.”

Aku menatapnya tanpa kebencian.

“Bagus.”

Ia mengangkat wajah.

“Aku berharap suatu hari kamu memaafkanku.”

Aku menggeleng pelan.

“Memaafkan bukan berarti mengembalikan hidup yang dulu.”

Ia tersenyum pahit.

“Aku tahu.”

Lalu ia berjalan pergi sambil mendorong troli berisi kantong sampah.

Aku memperhatikannya hingga menghilang di balik lorong.

Bian memegang tanganku.

“Kasihan ya, Ma.”

Aku mengusap rambutnya.

“Kasihan bukan berarti kita harus kembali kepada orang yang pernah menghancurkan kita.”

Beberapa hari kemudian aku menerima kabar.

Bu Ratmi meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya.

Sebelum dimakamkan, pengacaranya menyerahkan sebuah surat terakhir.

Laras.

Terima kasih karena tidak membalas kebencian dengan kebencian yang lebih besar.

Ibu selalu menyesal tidak mampu menghentikan Bima malam itu.

Jagalah Bian agar tumbuh menjadi laki-laki yang menghormati perempuan.

Aku menangis untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun.

Di pemakaman, aku meletakkan setangkai bunga putih.

“Aku sudah memaafkan Ibu.”

Enam bulan kemudian, AETHELGARD resmi membuka kantor pusat Asia di Jakarta.

Ribuan pelamar datang.

Di dinding lobi terpampang sebuah kalimat besar.

Jangan pernah menilai nilai seseorang dari penampilannya saat sedang berjuang.

Pada hari peresmian, wartawan bertanya kepadaku.

“Madam Elara, apa rahasia kesuksesan Anda?”

Aku tersenyum.

“Dulu seseorang pernah mengatakan aku lusuh, tidak berguna, dan hanya pantas menjadi pembantu.”

Semua kamera mengarah kepadaku.

“Aku tidak membuktikan bahwa dia salah. Aku hanya membuktikan bahwa pendapat orang lain tidak pernah menentukan masa depan kita.”

Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan.

Aku menggenggam tangan Bian.

Di balik kaca gedung, langit Jakarta cerah tanpa hujan.

Aku sadar, kemenangan terbesar bukanlah melihat orang yang pernah menyakitiku jatuh.

Kemenangan terbesar adalah ketika aku mampu membangun kehidupan yang begitu indah, sampai masa lalu tidak lagi memiliki kuasa untuk melukaiku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang