Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Pelan, nyaris berbisik, tetapi cukup untuk membuat Rafael membeku di tempatnya.

“Apa benar Dr. Rafael Monteverde sudah menikah?”

Langkahku terhenti di lorong Rumah Sakit St. Victoria ketika mendengar pertanyaan itu dari meja perawat. Pagi itu rumah sakit begitu sibuk. Bunyi roda ranjang pasien bersahutan dengan suara monitor jantung dan langkah para dokter yang bergegas menuju ruang operasi.

“Tidak mungkin. Rafael? Dokter paling dingin di rumah sakit ini?” sahut seorang perawat sambil tertawa kecil. “Dia bahkan tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan.”

“Aku serius. Kemarin waktu dia mengganti jas dokternya, aku melihat bekas cincin di jarinya.”

“Kalau memang dia sudah menikah, pasti istrinya bukan orang rumah sakit. Kalau orang sini, gosipnya pasti sudah menyebar sejak lama.”

Tanpa sadar, jemariku menyentuh jari manisku sendiri.

Di sana masih ada bekas tipis cincin yang sudah tiga bulan terakhir hanya kupakai saat berada di apartemen.

Tiga bulan.

Sudah tiga bulan aku menjadi istri Rafael Monteverde, tetapi di seluruh rumah sakit ini, tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya.

Namaku Lia Soriano. Usia dua puluh empat tahun. Mahasiswa tingkat akhir program riset medis yang bekerja sama dengan universitas ternama di Jakarta. Sedangkan Rafael adalah kepala departemen bedah saraf St. Victoria, dosen tamu, sekaligus dokter yang namanya sering muncul di berbagai jurnal internasional.

Di mata semua orang, Rafael adalah sosok sempurna. Cerdas, tenang, dan hampir mustahil ditebak perasaannya.

Di mataku, dia adalah suamiku yang selalu menyiapkan sarapan sebelum aku bangun, tetapi berpura-pura tidak mengenalku ketika kami bertemu di rumah sakit.

Pernikahan kami bukan karena cinta.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan.

Keluargaku dan keluarganya sudah lama saling mengenal. Setelah beberapa kali dipertemukan, orang tua kami sepakat menjodohkan kami. Pada pertemuan pertama di sebuah hotel di kawasan Sudirman, Rafael hampir tidak berbicara sama sekali.

“Apa kamu benar-benar ingin menikah?” tanyaku waktu itu.

Dia hanya mengangkat wajah dari secangkir kopi hitamnya.

“Bisa dicoba.”

Hanya itu.

Bukan jawaban yang romantis. Bukan pula jawaban yang membuat seorang perempuan merasa dipilih.

Namun, entah kenapa aku menerimanya.

Beberapa hari sebelum pernikahan sipil kami, Rafael mengajukan satu syarat.

“Kita rahasiakan dulu pernikahan ini.”

Aku menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Aku masih mahasiswa. Dia adalah dokter terkenal. Aku tidak ingin dianggap memanfaatkan namanya.

Awalnya, semuanya terasa mudah.

Sampai aku mulai menyadari hal-hal kecil yang membuatku bingung.

Suatu malam, aku mengeluh bahwa susu oat favoritku sulit ditemukan. Keesokan harinya, kulkas kami penuh dengan merek yang sama.

Ketika tanganku kering karena terlalu sering mencuci tangan di laboratorium, tiba-tiba ada krim tangan di meja belajarku.

Saat aku mengeluh sakit perut akibat terlalu banyak minum kopi, Rafael diam-diam meninggalkan semangkuk bubur hangat lengkap dengan catatan kecil.

Makan sebelum minum kopi.

Tidak ada nama.

Tetapi aku tahu itu darinya.

Rafael tidak pernah pandai mengungkapkan perasaan lewat kata-kata. Dia selalu memilih diam.

Dan mungkin justru karena itu, sikapnya di rumah sakit terasa semakin menyakitkan.

Pagi itu, setelah bertemu Profesor Amado, dosen pembimbingku, aku berdiri berdua dengan Rafael di lorong. Profesor itu baru saja memperkenalkanku secara formal seolah kami belum pernah bertemu sebelumnya.

“Kalau ada pertanyaan soal penelitian saraf, kamu bisa berdiskusi dengan Dr. Monteverde.”

Aku tersenyum tipis.

“Selamat pagi, Dokter.”

“Pagi.”

Nada suaranya datar.

Seolah pagi tadi dia bukan orang yang memasak bubur untukku.

Seolah semalam kami tidak duduk berdua di balkon apartemen sambil membicarakan pekerjaanku.

Dia berbalik pergi begitu saja.

Rasanya seperti ditinggalkan oleh orang asing.

“Aku mencari kamu dari tadi.”

Suara lain memecah lamunanku.

Marco Villanueva, dokter residen senior yang dulu satu kampus denganku, berlari kecil sambil membawa dua gelas minuman.

“Aku lewat kafe dan ingat ini favoritmu.”

Belum sempat aku menerimanya, sebuah tangan dingin tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku.

Aku menoleh.

Rafael berdiri di sampingku.

“Lia, ikut saya ke ruangan. Ada yang harus dibicarakan soal proposal penelitianmu.”

Tanpa menunggu jawaban, dia menarikku menjauh.

Di dalam lift, aku menatap punggungnya dengan kesal.

“Kalau memang tidak mau orang tahu kita menikah, jangan bersikap seolah-olah kamu cemburu.”

Rafael tidak menjawab.

Baru ketika pintu lift tertutup, aku melihat telinganya memerah.

Aku hampir tertawa.

Dokter yang ditakuti para residen itu ternyata bisa gugup hanya karena segelas minuman.

Namun, malam itu semuanya berubah.

Sesampainya di apartemen kami di kawasan pusat Jakarta, aku akhirnya meluapkan semua perasaanku.

“Tiga bulan, Rafael. Di rumah aku istrimu, tapi di rumah sakit aku bukan siapa-siapa.”

Dia berdiri diam.

“Apa kamu malu punya istri sepertiku?”

Wajah Rafael berubah untuk pertama kalinya.

“Jangan bilang begitu.”

“Kalau bukan begitu, lalu apa?”

Dia baru saja membuka mulut ketika ponselnya berbunyi.

Nama yang muncul di layar membuatku terdiam.

Dr. Katrina Lim.

Dokter bedah jantung paling terkenal di rumah sakit sekaligus putri salah satu pemilik yayasan.

Sebelum Rafael sempat mengambil ponselnya, mataku menangkap pesan yang muncul.

Raf, kamu tidak bisa menyembunyikannya selamanya. Kalau istrimu tahu alasan sebenarnya kamu menikahinya, dia akan meninggalkanmu.

Tubuhku mendadak dingin.

Dengan tangan gemetar, aku membuka percakapan mereka.

Lalu aku melihat foto itu.

Foto diriku tujuh tahun lalu, berdiri di depan unit gawat darurat dengan seragam sekolah yang berlumuran darah.

Aku mengenali hari itu.

Hari ketika seorang pria asing meninggal di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan.

“Kenapa kamu menyimpan fotoku?”

Rafael menatapku lama.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak kami menikah, dia menceritakan semuanya.

Tujuh tahun sebelumnya, ayah Rafael mengalami pendarahan otak. Malam itu adalah malam terakhir ayahnya hidup.

Setelah operasi gagal, Rafael yang masih menjadi mahasiswa kedokteran keluar dari ruang operasi dan melihat seorang gadis SMA duduk sendirian di lorong rumah sakit sambil menggenggam tangan pasien yang bahkan bukan keluarganya.

Gadis itu adalah aku.

“Aku tidak tahu siapa namamu,” katanya pelan.

“Tapi malam itu aku melihat seseorang menangisi orang asing. Dan aku sadar, menjadi dokter bukan hanya soal menyelamatkan nyawa.”

Sejak saat itu, Rafael diam-diam mencariku.

Dia meminta bantuan Katrina untuk menemukan identitasku. Bertahun-tahun berlalu sampai akhirnya dia mengetahui bahwa gadis dalam foto itu kini menjadi mahasiswa riset medis.

Lalu keluarga kami mempertemukan kami.

“Aku menerima perjodohan itu karena aku mengenalmu,” katanya.

Aku menatapnya tanpa mampu berkata apa-apa.

“Tapi aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku takut kamu berpikir aku menikahimu hanya karena rasa terima kasih.”

Malam itu kami berbicara sampai larut.

Aku mulai memahami bahwa di balik sikap dinginnya, Rafael hanyalah pria yang tidak pernah belajar menunjukkan perasaan.

Keesokan paginya, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.

Di lobi rumah sakit yang ramai, Marco kembali menghampiriku sambil membawa minuman.

Sebelum aku sempat menolak, Rafael berhenti berjalan.

Dia menoleh ke arah semua orang.

Lalu, tanpa ragu, menggenggam tanganku.

Bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.

“Sekalian saya luruskan satu hal,” katanya tenang.

Jantungku berdetak kencang.

“Lia Soriano adalah istri saya.”

Seluruh lobi mendadak hening.

Seorang perawat menjatuhkan map. Seorang residen hampir tersedak kopi. Marco membeku sambil memegang gelas di tangannya.

Aku sendiri tidak bisa berkata apa-apa.

Hari itu, kabar tentang pernikahan kami menyebar ke seluruh rumah sakit.

Dalam hitungan jam, semua orang mengetahuinya.

Sebagian terkejut.

Sebagian iri.

Sebagian lagi mulai berbisik bahwa aku pasti menikahi Rafael demi status dan masa depan.

Aku berusaha mengabaikannya.

Namun, rupanya badai yang sesungguhnya baru akan dimulai.

Dua minggu kemudian, dewan rumah sakit mengadakan rapat mendadak.

Salah satu anggota dewan menuduh Rafael menyalahgunakan posisinya karena menikah dengan mahasiswa yang terlibat dalam proyek penelitian rumah sakit.

Aku dipanggil.

Rafael dipanggil.

Bahkan namaku mulai muncul di media sosial.

Mahasiswa ambisius menikahi dokter terkenal demi karier.

Aku membaca komentar-komentar itu sendirian di laboratorium hingga larut malam.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku mempertanyakan semuanya.

Mungkin memang lebih baik jika kami tidak bersama.

Mungkin sejak awal, pernikahan ini adalah kesalahan.

Malam itu aku pulang lebih awal.

Apartemen gelap.

Di atas meja ruang makan, ada map cokelat milik Rafael.

Aku tidak berniat membukanya.

Tetapi sebuah dokumen terjatuh ketika aku memindahkannya.

Aku membeku.

Itu adalah surat pengunduran diri Rafael dari jabatan kepala departemen.

Tanggalnya tiga hari sebelumnya.

Tanganku gemetar ketika membaca bagian terakhir.

Saya mengundurkan diri demi menghindari konflik kepentingan dan melindungi reputasi istri saya.

Pintu apartemen terbuka.

Rafael masuk dengan wajah lelah.

“Apa ini?”

Dia terdiam sesaat.

“Aku sudah memutuskannya.”

“Kamu gila?”

“Aku tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan hidupmu.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kariermu dibangun bertahun-tahun.”

“Aku bisa membangun karier baru.”

“Dan kalau suatu hari nanti aku pergi?”

Rafael tersenyum tipis.

“Kalau itu terjadi, setidaknya aku tidak akan menyesal karena pernah memilihmu.”

Untuk pertama kalinya, aku menangis di depannya.

Bukan karena sedih.

Bukan karena marah.

Melainkan karena akhirnya aku mengerti.

Selama ini aku selalu berpikir bahwa Rafael tidak pernah memperjuangkan pernikahan kami.

Padahal kenyataannya, dia memperjuangkannya sendirian dalam diam.

Keesokan harinya, sebelum surat pengunduran dirinya diproses, sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Direktur rumah sakit mengumumkan hasil audit internal.

Ternyata bukan Rafael yang melanggar aturan.

Seseorang sengaja menyebarkan isu tentang hubungan kami untuk menjatuhkannya.

Orang itu adalah salah satu dokter senior yang selama bertahun-tahun bersaing memperebutkan posisi kepala departemen.

Bukti percakapan, dokumen palsu, dan rekaman rapat ditemukan.

Kasus itu segera ditutup.

Nama Rafael dibersihkan.

Namun, yang paling mengejutkan bukanlah itu.

Malamnya, ketika kami duduk di balkon apartemen, Rafael menyerahkan sebuah kotak kecil kepadaku.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Di dalamnya ada cincin baru.

Aku menatapnya bingung.

“Bukankah kita sudah menikah?”

“Kita memang sudah menikah.”

Dia menarik napas panjang, sesuatu yang jarang kulihat.

“Dulu aku menikahimu karena terlalu takut kehilangan kesempatan.”

Dia menggenggam tanganku.

“Tapi sekarang, aku ingin melakukannya lagi dengan benar.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, Rafael Monteverde yang dingin dan selalu tenang terlihat gugup.

“Aku tidak pandai bicara.”

Aku tertawa kecil sambil menghapus air mata.

“Itu sudah jelas.”

Dia ikut tersenyum.

“Kalau begitu, izinkan aku belajar.”

Angin malam Jakarta berembus pelan.

Lampu-lampu gedung memantulkan cahaya di matanya.

Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah kupahami.

Cinta tidak selalu datang dengan kata-kata besar atau pengakuan yang dramatis.

Kadang, cinta hadir dalam semangkuk bubur hangat saat perutmu sakit.

Dalam tangan dingin yang diam-diam menggenggam tanganmu ketika dunia mulai meragukanmu.

Dan kadang, cinta adalah seseorang yang telah mencarimu selama tujuh tahun, lalu tetap memilihmu setiap hari, bahkan setelah akhirnya berhasil menemukanmu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang