Jangan gila dulu, Aris. Aku ingin kamu hidup lama untuk menikmati neraka yang kamu ciptakan sendiri!
Kalung perak itu baru beberapa menit berada di tempat sampah ketika ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dimas, kepala divisi […]
Kalung perak itu baru beberapa menit berada di tempat sampah ketika ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dimas, kepala divisi […]
Perutku sudah bernyanyi lebih merdu daripada penyanyi dangdut semalam ketika suara motor berhenti di depan rumah. Aku yang sedang berdiri
Wajah Alvino masih terbayang di kepalaku bahkan ketika aku sudah berdiri di depan nurse station, membolak-balik status pasien dengan tangan
“Kalau kamu keluar dari rumah ini sekarang, maka kamu jangan pernah kembali lagi. Dan jangan harap aku akan mencarimu.” Suara
Maya mencabut cincin pertunangan di jarinya dengan perlahan. Gerakan kecil itu membuat Dion akhirnya bergerak. “Maya, jangan gila. Kita tinggal
Kalimat terakhir Bu Ratna membuat udara pagi di Taman Bungkul seolah berhenti bergerak. Aris menatap perempuan tua di hadapannya tanpa
Rian mencoba tersenyum, tetapi senyum itu justru membuat Maya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar
Hujan deras malam itu bukan hanya meninggalkan lumpur di jalan antara Bogor dan Puncak. Ia meninggalkan sebuah rekaman yang kemudian
Malam pertama setelah kembali ke rumah orang tuaku di Yogyakarta, aku hampir tidak bisa tidur. Suara jangkrik dari kebun belakang
Seminggu setelah lamaran itu, Tiara masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Nadia dan Sarah berebut seserahan seolah barang-barang mewah itu