“Mbak hanya menantu di rumah ini, makan, minum, tidur gratis … Jadi, tahu diri lah, Mbak!”
Aku menatap wajah Mas Arman beberapa detik tanpa berkata apa pun. Tangannya masih mencengkeram lenganku, seolah aku adalah anak kecil […]
Aku menatap wajah Mas Arman beberapa detik tanpa berkata apa pun. Tangannya masih mencengkeram lenganku, seolah aku adalah anak kecil […]
Tiga hari setelah menemukan kartu hitam itu, Aruna masih menyimpannya di laci meja klinik. Dia tidak menelepon nomor yang tercetak
Perubahan itu datang tidak seperti hujan deras yang tiba-tiba, tetapi seperti embun pagi yang merayap pelan, membasahi segala sesuatu tanpa
“Nala! Jaga mulutmu ya! Kurang ajar sekali kamu bicara begitu sama Mama! Di mana sopan santun kamu sebagai menantu, hah?!”
Pintu kamar baru saja ditutup ketika langkah kaki Reno tergesa meninggalkan ruangan. Dari balik pintu, suara Ibu Sarah masih terdengar
Malam itu Dissa tidak langsung masuk ke dalam kontrakannya. Ia berdiri cukup lama di teras sempit sambil memandangi mobil Angga
Mangkuk sayur lodeh itu masih tergeletak di atas meja ketika pintu rumah kembali sepi. Aku memandang ayam, tempe, dan sayuran
“Tiga,” jawabku pelan. Mas Sabda tidak langsung menanggapi. Tatapannya masih tertuju kepadaku, seolah sedang memastikan bahwa jawabanku bukan sekadar asal
Wisnu berdiri kaku di dekat pagar bambu, napasnya tersengal, sementara Shena masih menggenggam sapu lidi seperti hendak menyerangnya lagi. Wajah
Malam itu hujan turun tanpa suara, hanya meninggalkan embun di kaca jendela kontrakan kecil di pinggiran Kota Bekasi. Namun suara